Sasuke melangkah memasuki kamarnya. Hari ini benar-benar melelahkan. Rasanya ia ingin tertawa. Sejak kapan Uchiha Sasuke pergi ke kampus untuk kuliah? Ah, tentu saja sejak ia mengucap ikrar pernikahan bersama bocah ingusan macam Namikaze bungsu.

Sasuke mengernyit melihat Naruto yang tengah gelisah dalam tidurnya. Semenjak hari pernikahan itu, Sasuke memutuskan untuk tidur sekamar dengan Naruto. Walau awalnya Deidara menentang keras, namun pada akhirnya kakak iparnya itu terpaksa mengiyakan setelah dibujuk oleh Sai.

Sasuke berhenti di samping ranjangnya. Diperhatikannya tubuh suaminya yang nampak kedinginan dan menggigil. Sasuke mengambil remote penghangat ruangan dan menaikkan suhu ruangan. Sudah tahu musim dingin, tapi bocah itu malah membiarkan suhu ruangan rendah.

Sasuke menyelimuti tubuh Naruto. Dan perlahan tubuh kurus itu berhenti menggeliat. Sasuke mengambil kursi dan duduk tempatnya tadi. Ia mengulurkan tangannya lalu membelai perut buncit Naruto dengan lembut. Ia tersenyum merasakan gerakan dari dalam seolah menendang jemarinya. Ia berfikir jika anaknya enggan untuk ia sentuh.

"Jangan nakal, ne!" ucapnya pelan, "Papa tahu, Papa salah. Tapi jangan buat Ayahmu kesakitan," ia menghela nafas, "lihat tubuhnya makin kurus. Cepat lahir dan Papa akan semakin mencintaimu," lanjutnya lalu meletakkan kepalanya di pinggir ranjang dengan tangan yang masih mengelus perut Naruto.

.

Naruto Fanfiction

Present

Naruto Shippuden © Masashi Kishimoto

Tears © Ran Hime

M Rated

Drama, Hurt/comfort

Sasunaru, ItaDei Sligh SaiNaru, SasoDei

AU, OOC, Yaoi, M-Preg, Alur maju dan mundur

.

Chapter 11

.

Naruto menggeliat dan perlahan menguap. Merasakan adanya seseorang di sampingnya, ia menoleh dan menemukan wajah Sasuke yang terlihat berbeda ketika tidur. Naruto terkejut. Jujur saja, hampir tiga minggu menikah dan tidur sekamar, selama ini Sasuke selalu tidur di sofa. Bukan seranjang dengan dirinya seperti ini.

Naruto menoleh ke arah jam dinding. Di sana nampak menunjukkan pukul tujuh malam. Ternyata cukup lama juga ia tertidur. Naruto berusaha untuk bangun, namun perutnya membuat dia kesusahan. Perasaannya kembali gelisah. Ia menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang. Mencoba meraih ponselnya di meja nakas. Ia butuh kakaknya sekarang juga.

BRAKK

Naruto menahan nafas. Ia menutup mata ketika mendapati ponselnya jatuh ke lantai dan gagal ia raih. Naruto kian gelisah. Ia sungguh membutuhkan Deidara, atau setidaknya Sai. Sedikit takut ia menoleh ke samping memastikan Sasuke tidak terganggu dengan suara itu.

Mungkin Uchiha bungsu itu benar-benar lelah hari ini. Ingin rasanya Naruto menangis dalam keadaan seperti ini. Naruto meremas selimut yang menutupi tubuhnya dan juga Sasuke. Menggeliat dan menggigit bibirnya untuk menahan sesuatu yang memberontak ingin keluar.

Merasa ada gerakan dari selimutnya, Sasuke terbangun. Ia mengusap kedua matanya lantas mendudukkan dirinya. Ia menoleh kesamping dan mendapati wajah gelisah Naruto.

"Kau kenapa, Bocah?" serunya sedikit khawatir. Takut-takut kalau bocah pirang itu melahirkan sebelum waktu yang sudah diprediksikan.

Naruto menggeleng. Kedua tangannya semakin erat mencengkeram selimut.

Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Membuat Naruto memejamkan mata.

"Hei!" seru Sasuke sembari menyentuh pipi Naruto.

"A-aku ..." Naruto membuka matanya. Menemukan bola mata onix Sasuke. Membuat detak jantungnya tiba-tiba tidak beraturan, "aku ingin pipis!" lirihnya hampir berbisik.

Ingin rasanya Sasuke tertawa terbahak ketika mendengar pernyataan itu. Bungsu Namikaze itu memang aneh. Sasuke pikir ada apa, tapi ternyata ...

Sasuke tersenyum lalu beranjak dari ranjang. Ia memutar langkah ke sisi ranjang seberang.

"Lain kali kau bisa membangunkanku." ujarnya ketika ia melihat ponsel Naruto yang tergeletak di lantai. Sasuke yakin jika Naruto tadi hendak menghubungi kakaknya.

Sasuke membungkuk dan mengambil ponsel tersebut dan menaruhnya di meja. Ia kemudian mendekati Naruto dan membopongnya ke kamar mandi untuk buang air kecil.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

Sai mengernyit menyaksikan Deidara tengah menjelaskan niatnya untuk keluar dari kediaman Uchiha. Sedangkan Fugaku hanya menghela nafas mendengarnya. Ia juga tidak punya hak untuk melarang Deidara. Lagipula kasihan jika Deidara harus bolak balik dari Konoha ke Suna dan sebaliknya. Memang lebih baik jika Deidara pindah ke apartemen yang letaknya lebih dekat dengan AAS.

"Kenapa kau tidak tinggal di tempat Sasori?" tanya Fugaku. Fugaku pernah mendengar dari Sai, jika selama ini Deidara dan Naruto tinggal di YPA milik Akasuna Chiyo.

Deidara menggeleng, "Aku tidak bisa terus-terusan merepotkan mereka, Paman."

"Lalu bagaimana dengan Naruto?" setelah menjadi pendengar, akhirnya Sai mengeluarkan suaranya.

Deidara terdiam. Bagaimana dengan adiknya? Rasanya sulit membujuk Naruto untuk tetap tinggal tanpa dirinya. Namun membawa serta adiknya pun tidaklah mungkin. Naruto adalah tanggung jawab Sasuke.

"Aku akan bicara dengannya besok." Deidara tersenyum mengakhiri percakapannya dengan dua Uchiha di depannya.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

Naruto merengut. Bibirnya bergetar menahan isakan setiap kali mendengar kalimat demi kalimat dari kakaknya. Matanya semakin memerah setiap kali Deidara mengucap kata maaf. Tega-teganya sang kakak berniat meninggalkan dirinya sendiri. Bukankah Deidara telah berjanji untuk selalu bersama dirinya. Namun nyatanya? Deidara tega membiarkan dirinya sendiri di Konoha.

"Dei-nii bilang akan selalu bersamaku?" lirih Naruto, sebisa mungkin ia mencoba agar tidak menangis.

"Hanya untuk sementara. Setelah kau melahirkan, kakak akan menjemputmu."

Namun Naruto enggan untuk mengerti. Ia tetap bersikeras agar Deidara menemani dirinya sampai melahirkan, baru setelah itu mereka bisa ke Suna.

"Kakak akan sering menjengukmu. Kakak janji!"

Lagi Naruto menggeleng. Ia berpikir jika Deidara memang sudah tak mau merawatnya.

Sejak awal Deidara memang ingin meninggalkan dirinya. Naruto mulai meyakini jika alasan dia harus menikah dengan Sasuke bukan untuk Fugaku, melainkan Deidara sudah tidak mau lagi direpotkan olehnya.

"Dei-nii pergi saja. Tidak usah menemuiku lagi," ujar Naruto menaikkan suaranya. Ia bangkit dari sofa lalu melenggang menuju kamarnya, "Dei-nii memang sudah tidak peduli pada Naru. DEI-NII PERGI SAJA."

BLAM

Naruto menutup pintu kamarnya dengan kasar. Ia benci kakaknya sekarang. Semua memang tidak ada yang peduli pada dirinya. Tidak orang tuanya, tidak orang itu, bahkan tidak juga Deidara. Semua memang tidak mengharapkan kehadirannya.

Satu isakan lolos dari bibir Deidara. Sejujurnya ia tidak berniat membuat Naruto sekecewa itu. Ia butuh tempat menenangkan diri, tempat dimana ia bisa jauh dari Itachi.

"Maafkan kakak, Naru!"

Ia merasakan tepukan di bahunya. Ia menoleh dan mendapati senyuman di wajah Sasori yang seolah mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

Deidara memperhatikan ruangan apartement barunya. Ternyata Sasori bisa mengerti dirinya. Buktinya pemuda Aksuna itu benar-benar mencarikan apartement yang seperti ia ucapkan. Tidak terlalu mewah, namun nyaman untuk ia tinggali. Bahkan letaknya pun tidak terlalu jauh dari Konoha atau pun dari AAS.

Deidara menyibak tirai jendela satu-satunya di apartement tersebut. Di balik jendela kaca itu, pemandangan di luar nampak indah dari lantai 10.

Deidara merenung sembari menatap langit sore Suna. Pikirannya kini tertuju kepada adik satu-satunya yang kini marah kepadanya. Seandainya saja ia bisa membawa Naruto, pasti ia tidak akan meninggalkan adiknya.

Tanpa sadar Deidara mengusap air di pipinya. Rasanya semakin hari hidupnya semakin berat. Jauh dari apa yang Sai katakan. Karena Itachi tidak bersedia menjauhi dirinya. Dan kini malah membuat hidupnya jauh dari kata tenang.

"Dei!" seru Sasori membuyarkan lamunan kekasihnya.

Deidara mengeratkan pelukan Sasori di perutnya. Setidaknya masih ada Sasori yang bisa membuatnya nyaman.

"Minggu depan kau ada acara?" Sasori meletakkan dagunya ke pundak Deidara dengan mata yang fokus ke depan.

"Minggu depan?"

"Malam Natal!"

"Kurasa tidak ada. Aku akan ke Konoha ketika Natal," ujar Deidara sambil melepaskan pelukan Sasori. Ia memutar badannya hingga menghadap Sasori.

"Aku ingin mengajakmu makan malam."

Deidara menyentuh kedua pipi Sasori lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Sasori, "kenapa harus menunggu minggu depan, sedangkan malam ini saja ada waktu untukmu," bisiknya membuat Sasori tersenyum.

"Dasar!" Sasori mengacak rambut Deidara, "minggu depan akan menjadi hari yang takkan terlupakan untukmu dan aku perlu menyiapkan sesuatu."

Deidara mengerucutkan bibirnya tidak suka. Ia dan Sasori bukan lagi remaja, mengapa pula perlu hal seperti itu hanya untuk makan malam. Apa bedanya malam ini dan minggu depan.

Sasori kembali tersenyum melihat tingkah pemuda di depannya, "Aku punya kejutan untukmu, makanya aku bilang minggu depan."

"Iya ... Iya, aku mengerti."

Deidara kembali berbalik. Ia dapat merasakan tangan Sasori kembali melingkar di perutnya. Kebersamaan seperti ini, apakah akan berakhir? Ia harap tidak. Ia selalu berdo'a semoga Sasori akan selalu menemani dirinya. Hari ini atau pun besok. Semoga saja Itachi takkan pernah mengusik kebersamaanya bersama Sasori.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

Sudah seminggu semenjak Deidara memutuskan untuk meninggalkan Naruto di Konoha. Dan seminggu pula hari-hari Sasuke semakin berat. Dimulai dari tugas-tugas kuliah yang semakin banyak, lalu membantu Itachi di perusahaan karena Sai menemani sang ayah berobat ke luar negeri, sampai mengurusi suaminya yang mogok makan karena merasa sang kakak tidak lagi peduli pada dirinya.

Sasuke mengacak rambutnya frustasi. Ia melihat bubur di meja di samping tempat tidur Naruto tidak terjamah lagi. Bocah itu selalu menatap kosong ke depan dengan kedua mata yang sembab. Wajahnya kian pucat dan tubuhnya lemas. Jika tidak tertidur, maka bocah itu akan menangis. Sasuke sungguh bingung harus bagaimana. Sebelumnya ada Sai yang membujuk Naruto untuk makan, tapi sekarang ... Jangankan menerima suapan dari sasuke, merespon ucapannya saja tidak.

Sasuke meraih kursi lalu duduk di samping ranjang Naruto. Ia meraih tangan Naruto, berusaha agar mendapatkan respon dari suaminya itu.

"Makanlah bocah! Ini juga untuk anak kita." sebisa mungkin Sasuke berbicara lembut, tidak ingin menambah bebannya yang harus menyaksikan Naruto menjerit.

"Ayah dan ibu sayang Tuhan," untuk pertama kalinya Naruto berbicara sejak seminggu yang lalu.

Sasuke mengernyit tidak mengerti. Namun ia tetap diam dan menyimak ucapan Naruto. Sudah bagus bocah itu tidak lagi takut kepada dirinya.

"Karena itu mereka ikut Tuhan," lanjutnya, "'dia' sayang uang, makanya 'dia' ikut mereka," Naruto terdiam sejenak, "Dei-nii sayang Sasori niisan, makanya Dei-nii sudah tidak sayang Naru."

Sasuke tetap diam dan menunggu Naruto menyelesaikan kalimatnya.

"Sasu-nii sayang bayi ini, ambil saja? Naru tidak akan merepotkan orang-orang lagi setelah ia lahir."

Sasuke tercekat mendengar kalimat itu. Apa maksud bocah itu. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit di ulu hatinya. Bocah itu tidak bermaksud pergi, kan? Sasuke bangkit dari kursi lalu duduk di tepi ranjang Naruto. Ia meraih tubuh Naruto dan memeluknya. Semua terjadi begitu saja, bahkan Sasuke tidak habis pikir kenapa ia bertindak seperti itu. Sasuke masih diam, sedangkan Naruto tidak memberontak seperti biasanya. Dan itu membuat Sasuke semakin mengeratkan pelukannya.

"Jika Tuhan tidak sayang Naru, Naru tidak akan ikut siapa-siapa."

"Kau bicara apa, Bocah?"

"Sasu-nii hanya sayang sama Yuki!"

"Yuki?" tanya Saruke tidak mengerti.

"Bayi ini!" responnya sambil menyentuh perutnya.

Sasuke tersenyum tipis, ternyata bocah itu sudah punya nama lebih dulu untuk anak mereka. Sehingga Sasuke tidak perlu repot-repot untuk mencari nama.

"Ambil saja! Naru mau hidup tenang setelah ini. Tidak akan ada yang mengganggu Naru lagi."

Sasuke semakin pusing dengan kalimat-kalimat Naruto. Sebenarnya bocah itu mau mengatakan apa? Kenapa ia tidak bisa menangkap isi dari perkataan Naruto.

Tiba-tiba Sasuke terkejut ketika mendengar pekikan dari bibir Naruto. Ia kelipungan dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

"Pe-perut Naru sakit, hiks." dan lagi isakan kembali keluar dari bibir Naruto.

Sasuke kalang kabut dibuat bingung oleh sikap Naruto. Ia mengeratkan pelukannya berharap Naruto sedikit tenang. Namun semua itu sia-sia. Ia melihat kalender di meja di sampingnya. Tanggal 24 Desember, tidak mungkin Naruto hendak melahirkan. Kabuto bilang, akhir bulan Naruto kemungkinan akan melahirkan.

Tanpa pikir panjang, Sasuke turun dari ranjang, ia mengangkat tubuh Naruto dan membopongnya.

Sesampainya di depan rumah, Sasuke menyuruh pembantunya untuk membukakan pintu mobil depan untuk Naruto. Ia menempatkan tubuh Naruto di jok depan. Sedangkan ia duduk di kursi kemudi dan melajukan mobil menuju rumah sakit.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

Deidara menyisir rambutnya lalu mengikatnya longgar di belakang. Ia tersenyum melihat wajahnya di cermin. Sebisa mungkin ia berpenampilan sedikit berbeda dari biasanya, karena sore ini Sasori akan mengajaknya ke suatu tempat. Dan berharap hari ini akan menjadi hari yang tidak akan pernah ia lupakan. Semoga saja ucapan Sasori kemarin bukan hanya candaan.

Deidara beranjak dari kamarnya ketika mendengar suara bel. Ia menoleh ke arah jam dinding. Ternyata Sasori datang lebih awal dari waktu janjian mereka. Deidara nampak bahagia. Tanpa ragu ia meraih knop pintu lalu membukanya.

"Danna, ka-"

"Dei!"

Tubuh Deidara membeku menatap sosok di depannya. Bisa-bisanya pemuda itu menemukan dirinya. Deidara hendak menutup pintu, namun ia kalah cepat dengan Itachi yang telah lebih dulu menahan pintu agar tidak tertutup. Mereka saling mendorong, hingga Deidara kalah dan mundur beberapa langkah. Sialnya lagi kakinya harus tersandung sofa di belakangnya yang membuat tubuhnya jatuh ke belakang dan terletang di sofa tersebut. Semoga Itachi tidak macam-macam, doa'nya ketika melihat Itachi berjalan ke arahnya dengan sorot mata yang berbeda.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

Sasuke mengumpat beberapa kali. Kenapa rasanya lampu merah begitu lama. Ia menoleh ke arah Naruto yang duduk di sebelahnya. Bocah itu terlihat hampir pingsan. Ia makin bingung, lampu hijau tak juga menyala.

Lelah menunggu, akhirnya Sasuke turun dari mobil. Ia berjalan ke pintu sebelah dan membukanya. Walau agak kesulitan, pada akhirnya ia dapat mengeluarkan Naruto dari mobil. Ia tidak bisa menunggu lampu merah dan juga kemacetan yang terjadi. Tanpa pikir panjang, ia membopong Naruto menuju rumah sakit. Ia yakin rumah sakit terdekat tidak jauh lagi.

"Tetaplah sadar, Bocah!" serunya sembari menatap wajah pucat Naruto. Hal yang paling ia harapkan adalah bisa melihat bayinya atau pun suaminya.

Dengan langkah tergopoh, ia masih dapat mendengar Naruto merintih dengan lemah. Astaga, mengapa rumah sakit di depannya terasa jauh. Sasuke menatap kembali wajah Naruto. Ia terkejut melihat butiran putih jatuh di wajah Naruto. Ia pun berhenti sejenak lalu menengadah, menatap langit sore Konoha yang menebarkan salju pertama musim dingin.

Sasuke tersenyum, inikah alasan Naruto menamakan calon bayi mereka Yuki? Anaknya akan lahir di waktu salju pertama turun.

Seperti tanpa beban, Sasuke kembali melangkah menuju rumah sakit.

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

Deidara terus berlari meninggalkan apartemennya. Menghindari kejaran Itachi yang ada di belakangnya. Tidak dipedulikan olehnya orang-orang yang menatapnya aneh, karena berlari dengan kondisi mengenaskan. Rambut berantakan dan kemeja sobek di bagaian pundaknya.

Ia terus berlari di sepanjang jalan. Ia menambah kecepatan larinya ketika nampak Itachi hampir menyusulnya. Ia semakin panik. Nafasnya mulai terengah. Matanya bergerak liar mencari jalan yang bisa menyembunyikan dirinya dari Itachi.

"DEIII!"

.

ooO~Ran Hime~Ooo.

.

Sasori tersenyum menatap salju pertama yang turun. Ia membayangkan makan malam kali ini akan begitu romantis, ketika ia melamar Deidara nanti. Namun senyumnya pudar ketika melihat orang yang akan dijemputnya tengah berlari seperti kebingungan. Bunga di tangannya yang baru ia beli jatuh begitu saja, ketika melihat kondisi Deidara dan juga Itachi yang jauh ada di belakang Deidara.

"DEIII!"

Tanpa sadar Sasori berlari mengejar mereka. Menyeberang tanpa peduli dengan lalu lintas. Yang ada di pikirannya hanya ingin segera menyelamatkan Deidara.

Deidara menoleh ke samping dan melihat Sasori tengah menyeberang untuk menemui dirinya. Ia ingin berlari ke arah Sasori. Tapi ia tidak punya pilihan untuk itu. Itachi semakin dekat dengannya.

"DEII!"

Lagi Sasori berteriak dan Deidara nampak tidak peduli. Ia takut Sasori melihat kondisinya.

BRAKK

Deidara berhenti ketika mendengar suara hantaman di belakangnya. Ia berbalik dan mendapati tubuh Sasori yang terpental akibat terhantam sebuah truk.

"DANNAAA!" pekik Deidara tetahan.

Seolah waktu terhenti. Teriakan Deidara tertelan suara pekikan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu. Tanpa sadar ia berlari ke arah Sasori dengan air mata yang hampir tumpah. Tuhan, akankah berakhir kebersamaan yang Deidara inginkan?

"Danna!"

Deidara nampak panik. Direngkuhnya tubuh Sasori yang berlumuran darah itu.

Dengan terbatuk-batuk Sasori memasukkan tangan kanannya ke saku celananya. Dari balik saku tersebut, ia mengeluarkan kotak beludru yang berisi sebuah cincin perak. Ia tersenyum dan meraih tangan kanan Deidara.

"Maukah kau menikah denganku, Dei?" Sasori menyematkan cincin tersebut ke jari manis Deidara.

"A-aku mau, Danna! Asal kau bertahan!"

Air mata Deidara perlahan menetes dan jatuh ke wajah Sasori. Ia tidak cukup kuat menerima kenyataan ini.

Namun Sasori menggeleng, membuat Deidara semakin terisak.

"Aku mencintaimu, Dei!" perlahan Sasori menutup mata. Ia tersenyum. Kedua tangannya masih dalam genggaman Deidara.

"DANNA!" Deidara menjatuhkan tubuhnya di perut Sasori. Ia terisak dengan gumaman yang kian tidak jelas.

Sedangkan Itachi ...

Pemuda Uchiha itu nampak tidak percaya. Ia segera merengkuh tubuh Deidara, ketika telah sampai di tempat Sasori.

"Dei!" serunya cemas ketika melihat pandangan Deidara kosong.

Tangan pucat Deidara yang berlumuran darah Sasori perlahan terulur menyentuh pipi Itachi. Wajahnya nampak kosong tanpa ekspresi.

"Aku mencintaimu juga, Danna!" dan semua pun menjadi gelap di pandangan Deidara.

Itachi terdiam. Tangan kanannya menggegam tangan Deidara yang ada di pipinya. Cincin perak itu berlumuran darah. Itachi pun baru menyadari jika perasaannya selalu membuat Deidara terluka. Masihkah bisa ia mendapatkan Deidara setelah hari ini? Sedangkan do'anya agar Sasori mati telah terwujud dengan mengorbankan kebahagiaan Deidara.

Air mata Itachi terjatuh ke wajah Deidara bersama salju pertama yang turun di negara HI.

.

.

.

To be Continue

.

Semoga cerita ini tidak semakin seperti senetron, hehehe. Mungkin banyak yang kecewa karena makin hari makin pendek tiap chapternya. Tapi jujur saja, saya lebih kecewa karena laptop saya tidak juga selesai dan melebihi waktu yang sudah dijanjikan. Dari pada saya vakum lagi, saya berpikir melanjutkan fic ini walau dengan chapter pendek. Mengetik melalu note hape tidak secepat waktu mengetik lewap laptaop. Maaf ya kalau tidak bisa memberikan chapter yang panjang. Tapi saya berterima kasih karena sudah mau memberikan review.

Balasan Review:

Kim eun seob : Boleh juga saran Senpai. Tapi maaf untuk Sasori dia terpaksa harus mati. Hehe

Kim anna shinotsuke : Untuk Kyuubi, saya minta maaf. Mungkin agak sulit kalau dia masuk sebagai main cast. Kalau sekedar guest, mungkin bisa. Maaf ya.

My beauty jeje : Saya pakai OC saya biasanya, Senpai. Nanti saya lihat dulu, sepertinya sama seperti yang Senpai maksud.

Reita: Pasti lanjut kok ini fic. Sebentar lagi juga tamat. Makasih sudah mau nuggu fic ini update.

Oka : Salam kenal oka. Ini sudah kerasa belum romance sama angst-nya?

Guest 1 : Maaf ya kalau pendek. Semoga ini sudah panjang.

SuChan : Ini sudah panjang, belum? Kalo Dei bisa nerima Itachi kayaknya masih sulit, hehehe.

Guest 2 : Semoga ini sudah panjang.

Guest 3 : Ini sudah lanjut. Jangan panggil Senpai, saya masih author baru soalnya.

Jie : Romantisnya nanti mungkin kalau udah mau tamat, hehehe

Nisa RedSapphire : Maaf, kalau Chapternya selalu pendek.

0706 : Maklum Uchiha kan memang begitu, hehehe

Chika : Makasih ya. Nanti juga ada Romance nya ItaDei, kok.

.

Sekali lagi terima kasih masih mau membaca Fic ini.

See you…

n_n