Pemuda Uchiha itu nampak tidak percaya. Ia segera merengkuh tubuh Deidara, ketika telah sampai di tempat Sasori.

"Dei!" serunya cemas ketika melihat pandangan Deidara kosong.

Tangan pucat Deidara yang berlumuran darah Sasori perlahan terulur menyentuh pipi Itachi. Wajahnya nampak kosong tanpa ekspresi.

"Aku mencintaimu juga, Danna!" dan semua pun menjadi gelap di pandangan Deidara.

Itachi terdiam. Tangan kanannya menggegam tangan Deidara yang ada di pipinya. Cincin perak itu berlumuran darah. Itachi pun baru menyadari jika perasaannya selalu membuat Deidara terluka. Masihkah bisa ia mendapatkan Deidara setelah hari ini? Sedangkan do'anya agar Sasori mati telah terwujud dengan mengorbankan kebahagiaan Deidara.

Air mata Itachi terjatuh ke wajah Deidara bersama salju pertama yang turun di negara HI.

.

.

.

Naruto Fanfiction

Present

Naruto Shippuden © Masashi Kishimoto

Tears © Ran Hime

Twitter: ranhimeuchiha

M Rated

Drama, Hurt/comfort

Sasunaru, ItaDei Sligh SaiNaru, SasoDei

AU, OOC, Yaoi, M-Preg, Alur maju dan mundur

.

Chapter 12

.

Itachi duduk di bangku tunggu yang terjejer di depan ruang operasi. Wajahnya tertunduk dengan bibir yang tidak kunjung usai memanjatkan do'a untuk deidara dan Sasori. Untuk pertama kalinya ia berharap pemuda Akasuna itu bisa baik-baik saja. Ia tidak ingin lagi melihat Deidara nampak menyedihkan.

Meski tiga puluh menit telah berlalu, namun Itachi tidak beranjak sedetikpun dari tempatnya. Entah itu untuk mencari minum atau hanya untuk sekedar mengganti pakaiannya yang penuh darah Sasori. Ia melirik ke samping, wanita tua Akasuna di sebelahnya sama menampakkan kecemasan di wajahnya.

Chiyo amat terpukul ketika mengetahui cucu satu-satunya mengalami kecelakaan dan kini dalam keadaan kritis. Chiyo tidak tahu harus bagaimana jika ia harus kehilangan cucu yang amat ia sayangi. Ia hanyalah wanita tua yang berharap banyak pada cucunya, agar bisa merawatnya kelak ketika ia sudah tidak sanggup bergerak.

Pintu operasi terbuka dan nampaklah Shizune keluar dengan ekspresi yang sulit ditebak. Itachi dan Chiyo segera berdiri lalu mendekati Shizune.

"Bagaimana, dok?"

Shizune menggeleng, membuat Chiyo hampir jatuh pingsan jika saja Itachi tidak lebih dulu merengkuh tubuh tua itu. Itachi dapat mendengar gumaman lirih dari Chiyo. Ia dapat merasakan kesedihan yang tengah dirasakan Chiyo.

"Maaf!" seru Shizune mulai angkat bicara, "seharusnya lukanya tidak terlalu parah. Tapi akibat menghantam aspal, Sasori kehilangan banyak darah. Jika saja ia lebih awal dibawa ke sini, mungkin-"

"Lalu bagaimana dengan Deidara?"

Itachi lebih membutuhkan informasi tentang pujaan hatinya ketimbang rivalnya. Walau itu terdengar kejam, karena ia nampak tidak merasa kehilangan Sasori ketika dinyatakan meninggal.

"Kita hanya bisa tahu keadaannya setelah siuman. Secaa fisik ia baik-baik saja, tapi secara mental," Shizune terdiam sejenak, "saya tidak yakin, ia baik-baik saja."

Itachi terdiam. Hal yang paling ia takutkan adalah melihat Deidara ketika pemuda itu menganggap dirinya Sasori. Itu terlalu kejam sebagai balasan atas do'anya.

.

ooO~Ran Hime~Ooo

.

Sasuke tidak juga memberi jawaban. Ia berpikir jika ini pasti lelucon. Ia tidak mungkin memilih antara bayinya dan Naruto. Demi Tuhan, ia memang egois. Sasuke memilih dua-duanya untuk selamat. Namun sayang sekali, Kabuto tidak dapat berbuat banyak untuk Naruto.

Dari awal kehamilan Naruto, Kabuto sudah menjelaskan kepada Deidara jika suatu hari Naruto harus memilih antara dirinya atau bayinya. Dan Naruto maupun Deidara telah menyetujui hal tersebut.

"Kau harus memilih, Sasuke!"

Sasuke mendongak, menatap Kabuto frustasi. Ia adalah Uchiha Sasuke. Apapun keinginannya harus ia dapatkan. Namun kenyataannya Tuhan lebih berkuasa, dan Sasuke tidak mampu melawan kehendaknya.

"Kenapa tidak melakukan persalinan dengan normal?" Sasuke hampir saja berteriak.

"Jangan konyol, Sasuke!" Kabuto tetap mencoba untuk sabar, "bagaimana Naruto melahirkan secara normal! Mulut rahim saja ia tidak punya."

"Kenapa resikonya bisa sampai seperti itu?"

"Itu hanya kemungkinan. Dan semua juga tergantung pada kondisi Naruto."

Pada akhirnya Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa. Mau tidak mau, ia pun menandatangani surat perjanjian untuk operasi Naruto. Ia lebih memilih Naruto walau harus kehilangan bayi yang sudah ia tunggu semenjak sebulan yang lalu. Semoga saja kakak dan ayahnya tidak membunuh dirinya, ketika mereka pulang dan mengetahui hal ini.

.

ooO~Ran Hime~Ooo

.

Itachi menggenggam jemari Deidara yang mulai bergerak. Hal pertama yang mesti ia pastikan setelah Deidara siuman adalah bagaimana reaksi Deidara. Ia dapat melihat Deidara membuka mata dengan lenguhan yang sedikit lemah.

Itachi sedikit cemas ketika pandangan mata Deidara nampak kalut.

"DANNA!" teriak Deidara dengan cepat bangun dari posisi tidurnya. Matanya cemas sesaat lalu berganti khawatir ketika melihat Itachi di sampingnya. Ia menarik tangannya dan membuat Itachi terkejut.

"Danna!" serunya sembari memeluk Itachi, "aku-aku membunuh Sasori," lanjutnya dengan nada kalut, "ia datang ke apartement lalu dia ... Dia-" Deidara tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Tentang hal itu, "dia mengejarku, lalu kau datang dan dia tertabrak. Aku membunuhnya." Deidara berbicara dengan nafas tersengal.

Mendengar hal itu, Itachi menahan nafas sejenak. Ia memejamkan matanya dan mengeratkan pelukan Deidara. Ternyata Tuhan tidak mengabulkan do'anya. Inikah hukuman dari Tuhan untuk dirinya?

"Semua akan baik-baik saja!" bisik Itachi, "sebaiknya kau istirahat lagi."

Deidara mengangguk lalu melepaskan pelukannya. Ia kembali merebahkan tubuhnya dan menutup mata.

.

.

Itachi menatap Shizune dengan pandangan yang sulit diartikan. Penjelasan dari dokter tersebut seolah menguap begitu. Sebegitu traumakah Deidara, hingga ia tidak mampu menerima semua yang terjadi?

"Ia mengalami amnesia, Itachi-san!"

"Tapi ia masih mengingat siapa dirinya."

Itachi masih memungkiri jika ada yang tidak beres dengan ingatan Deidara.

"Anda salah jika menganggap amnesia adalah kehilangan ingatan seluruhnya karena benturan," Shizune menghela nafas, "amnesia dissosiasi cendurung terjadi karena rasa trauma."

Itachi masih terdiam menyimak penjelasan Shizune.

"Mungkin karena Deidara tidak mampu menerima semua ini, ingatannya pun berusaha memanipulasi kenyataan. Berpikir jika orang yang ia sayangi masih hidup. Dan itu adalah anda."

Itachi meremas rambutnya frustasi. Mengapa harus seperti ini jadinya. Sebegitu sangat terlukakah Deidara dengan kejadian itu. Hingga ia berusaha menghapus kenyataan yang ia tahu.

.

ooO~Ran Hime~Ooo

.

Sasuke memandang putranya di ruang observasi. Bayi mungil mirip dirinya itu dengan terpaksa harus masuk ke inkubator. Selain karena belum waktunya lahir, kondisi bayi itu memang sedikit lemah.

Sasuke menarik nafas. Kenapa jadi seperti ini di saat ia mulai bisa menerima Naruto? Ataukah ini hukuman untuknya? Harusnya ia bersyukur karena bayinya lahir dengan selamat. Namun mengingat kondisi Naruto saat ini, ingin rasanya ia menjerit. Dari penuturan Kabuto, ada pendarahan ketika sedang menjalani operasi. Itu yang menyebabkan Naruto belumlah sadar sampai saat ini. Apalagi ditambah gegar otak akibat Naruto kecelakaan dulu, besar kemungkinan bocah itu mengalami koma.

Sasuke tidak bisa menuntut rumah sakit ataupun Kabuto. Karena kenyataannya ia telah menandatangi sura perjanjian dimana ia bersedia menerima hasil apapun dari operasi nanti. Dan itu, kehilangan salah satu dari Naruto atau bayinya.

Puas memandangi Yuki, Sasuke berbalik dan berjalan menuju kamar inap Naruto. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Naruto. Menggenggam jemari kecil bocah 14 tahun tersebut.

"Aku tidak berharap seperti ini!" serunya lirih.

Ia mengusap jemari itu, berharap Naruto mau siuman, "Kau berarti untukku. Aku sudah memilihmu, maksudku bukan bearti Yuki tidak penting," Sasuke menghela nafas, "Kau juga berarti, sama seperti ketika aku mulai mencintai putra kita. Kumohon, jangan seperti ini."

Sasuke menggangkat wajahnya, menatap wajah Naruto yang nampak pucat. Ia tersenyum. Mengarahkan sebelah tangannya yang bebas untuk mengusap air yang keluar dari sudut mata Naruto. Ia tahu Naruto mendengar ucapannya.

"Cepat bangun karena kami menunggumu."

Tiba-tiba saja Naruto membuka mata. Pandangannya kosong dan bola matanya tidak bergerak sedikitpun.

Sasuke tersenyum senang. Ia bangkit lalu bergegas menemui Kabuto. Naruto telah membuka mata. Semoga saja ini pertanda baik.

.

.

.

To be Continue

.

Jika ffn benar-benar dihapus mungkin saya akan melanjutkan fic-fic yang belum selesai di blog saya.

Dan saya minta maaf karena saya tidak dapat membalas review kalian. Sebagai gantinya saya akan menjawab beberapa pertanyaan yang ada di review.

.

Fic ini sampai chapter berapa?

Saya masih belum tahu, tapi kemungkinan tidak sampai 20 chapter.

Siapa yang jadi pasangan Sai?

Sai chara pendukung, jadi tidak ada pasangannya.

Bagaimana caranya supaya Dei naksir Itachi lagi?

Itu yang jadi tantangan buat Itachi.

Ini g angst, kan?

Tidak! Sesedih apapun konfliknya, nanti tetap balik ke genre aslinya, Hurt/Comfort.

Kapan ada romance-nya SasuNaru?

Kemungkinan tidak akan ada, hehe. Ini genre-nya drama.

Anaknya SasuNaru cowok/cewek?

Cowok. Cirinya seperti yang diminta salah satu reader, yang kebetulan memang sudah menjadi oc di fic saya yang satunya.

.

.

Sekali lagi saya minta maaf karena tidak bisa membalas review kalian.

See you ...