Sasuke memandang putranya di ruang observasi. Bayi mungil mirip dirinya itu dengan terpaksa harus masuk ke inkubator. Selain karena belum waktunya lahir, kondisi bayi itu memang sedikit lemah.
Sasuke menarik nafas. Kenapa jadi seperti ini di saat ia mulai bisa menerima Naruto? Ataukah ini hukuman untuknya? Harusnya ia bersyukur karena bayinya lahir dengan selamat. Namun mengingat kondisi Naruto saat ini, ingin rasanya ia menjerit. Dari penuturan Kabuto, ada pendarahan ketika sedang menjalani operasi. Itu yang menyebabkan Naruto belumlah sadar sampai saat ini. Apalagi ditambah gegar otak akibat Naruto kecelakaan dulu, besar kemungkinan bocah itu mengalami koma.
Sasuke tidak bisa menuntut rumah sakit ataupun Kabuto. Karena kenyataannya ia telah menandatangi sura perjanjian dimana ia bersedia menerima hasil apapun dari operasi nanti. Dan itu, kehilangan salah satu dari Naruto atau bayinya.
Puas memandangi Yuki, Sasuke berbalik dan berjalan menuju kamar inap Naruto. Ia duduk di kursi yang ada di samping ranjang Naruto. Menggenggam jemari kecil bocah 14 tahun tersebut.
"Aku tidak berharap seperti ini!" serunya lirih.
Ia mengusap jemari itu, berharap Naruto mau siuman, "Kau berarti untukku. Aku sudah memilihmu, maksudku bukan bearti Yuki tidak penting," Sasuke menghela nafas, "Kau juga berarti, sama seperti ketika aku mulai mencintai putra kita. Kumohon, jangan seperti ini."
Sasuke menggangkat wajahnya, menatap wajah Naruto yang nampak pucat. Ia tersenyum. Mengarahkan sebelah tangannya yang bebas untuk mengusap air yang keluar dari sudut mata Naruto. Ia tahu Naruto mendengar ucapannya.
"Cepat bangun karena kami menunggumu."
Tiba-tiba saja Naruto membuka mata. Pandangannya kosong dan bola matanya tidak bergerak sedikitpun.
Sasuke tersenyum senang. Ia bangkit lalu bergegas menemui Kabuto. Naruto telah membuka mata. Semoga saja ini pertanda baik.
.
.
.
Naruto Fanfiction
Present
Naruto shippuden © Masashi Kishimoto
Tears © Ran Hime
Twitter: ranhimeuchiha
M rated
Drama, Hurt/Comfort
SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei
Guest: Uzumaki Kyuubi
AU, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.
.
.
.
Chapter 13
.
Deidara menatap salju yang berjatuhan dari balik jendela. Matanya menerawang mencoba mengingat bagaimana ia bisa mendapatkan cincin perak di jari manis kanannya. Apa yang ia lupakan? Pertanyaan itu kian berkecamuk dalam pikirannya. Ada apa dengan salju-salju itu?
Dengan pandangan yang masih sulit diartikan, ia mengalihkan pandangannya ke pemuda raven di sampingnya. Pemuda itu nampak serius mengemasi barang-barang milik Deidara. Setelah seminggu ia berada di rumah sakit, akhirnya ia diperbolehkan pulang.
"Apa kita akan menikah?"
Itachi menghentikan gerakan tangannya. Pertanyaan itu membuatnya ragu. Apakah ia dan Deidara akan menikah, sedangkan ia yakin pemuda yang amat dicintainya itu tidak mencintainya sedikitpun. Namun ia tidak bisa mengecewakan Deidara. Pemuda itu membutuhkan dirinya setelah Sasori meninggalkan Deidara untuk selamanya. Biarlah untuk sekali saja ia berkorban, walau pada akhirnya ia yang akan terluka.
Itachi menegakkan badannya, lantas berjalan mendekati ranjang Deidara. Ia tersenyum menatap pemuda blonde itu. Diraihnya tangan Deidara yang tersemat cincin perak di salah satu jemarinya tersebut.
"Tentu saja!" serunya dengan nada getir, "tapi setelah kita menjenguk Naruto." Lanjutnya lalu melepaskan tangan Deidara. Itachi meraih ransel di lantai yang akan ia bawa pulang bersama Deidara ke Konoha.
Deidara kembali menatap butiran salju dari balik jendela. Ia berpikir jika ia kejam. Meninggalkan adiknya sendirian di Konoha. Tidak menemani sang adik ketika adiknya sangat membutuhkan dirinya. Masih pantaskah ia disebut kakak?
Deidara memejamkan matanya. Kenapa masalah demi masalah muncul begitu saja. Apalagi yang harus ia lalui setelah ini? Kedatangan saudara tirinya kah? Semoga tidak! Ia tidak berharap bertatap muka dengan pemuda itu. Tidak pernah sekalipun terlintas dipikirannya untuk kembali bertatap muka dengan pecundang itu, setelah bertahun-tahun hidup sebagai gelandangan.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
Tidak ada yang berubah dari keadaan Naruto. Ia hanya membuka mata tapi tidak bangun. Bocah itu sungguh-sungguh ingin menghukum dirinya. Bukan ini yang Sasuke harapkan. Katakan ia selalu egois! Tapi tolong jangan katakan ia kejam. Ia sudah memilih Naruto, namun bocah itu malah tega membuatnya menjadi seperti ini.
Sasuke meremas rambutnya. Matanya nampak memerah. Akhir-akhir ini ia jarang tidur. Semenjak putranya sudah bisa dibawa pulang, Sasuke lebih menyibukkan dirinya untuk sang putra.
"Kau tahu, Yuki sudah bisa membuka mata. Warna bola matanya mirip bola matamu. Ia tampan seperti aku," ucap sasuke dengan menahan rasa sakit di dadanya. Haruskah hukuman untuknya seberat ini, "kondisi Ayah semakin membaik semenjak kehadiran Yuki. Tapi ia akan lebih sehat lagi jika kau mau bangun." Sasuke mengusap pipinya yang tiba-tiba basah.
Sasuke tertawa getir ketika untuk kesekian kalinya air matanya kembali terjatuh. Untuk hari ini dan seterusnya, hal yang ia inginkan adalah kelengkapan keluarganya. Suatu hal yang selama ini selalu ia abaikan. Sesuatu yang selama ini tidaklah berarti untuknya asal ada kebebasan.
"Bangunlah, Naruto!" Sasuke menggenggam jari-jari Naruto, "Kau boleh tidak berbicara padaku, tapi bukan yang seperti ini."
Sasuke kembali tertawa kecil. Ada yang sakit di bagian hatinya yang lain. selama ia hidup, tidak pernah sekalipun ia memikirkan tentang keluarga. Bahkan ketika ia tumbuh besar tanpa seorang ibu, ia tidaklah pernah protes. Tapi sekarang? Ingin rasanya ia berdiam diri di Gereja dan menyampaikan protesnya kepada Tuhan. Namun ia sadar, Tuhan tengah memperingati dirinya agar tidak lagi mengabaikan keluarganya.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
Pemuda itu melempar ponselnya. Ia lelah jika harus berdiam diri atas semua yang terjadi. Empat tahun, itu tidaklah sebentar dan ia tega membiarkan adik satu-satunya menderita bersama anak orang yang telah merebut ibunya. Ia benci kenyataan yang ada. Ia benci ketika ia tidaklah bisa berbuat apa-apa untuk bisa membuat adiknya aman.
"Aku sudah mencoba mengambil adikmu. Tapi melihat kondisinya, itu tidaklah memungkinkan."
Kalimat itu menguap begitu saja. Manik rubah tajamnya menatap jendela yang mulai basah karena salju. Ia harus turun tangan. Ia tidak akan membiarkan orang lain mengurus adiknya. Bahkan pemuda Namikaze itu tidak dapat merawat adiknya dengan cukup baik. Ingin rasanya ia tertawa. Lihatlah hasilnya sekarang. Selama ini yang ia lakukan hanyalah untuk adiknya. Tapi sang adik tega menolak kehadirannya. Apa salahnya? Ia hanya ingin tetap berada di atas agar adiknya tetap hidup dengan baik. Tapi sang adik menganggapnya pengkhianat hanya karena ia lebih memilih marga ayah kandungnya.
Sampai kapanpun ia akan tetap membenci saudara tirinya. Ia beranggapan jika penolakan adiknya karena pengaruh pemuda itu. Ia tertawa miris. Bahkan adiknya tetaplah mencintai pemuda itu ketika pemuda itu tidak dapat memberikan dirinya kehidupan yang layak. Adiknya tetap berada di samping pemuda itu ketika mereka harus hidup sebagai gelandangan. Bahkan adiknya tidak membenci pemuda itu ketika adiknya harus mendapatkan pelecehan.
"Kau baik-baik saja?" seru Nawaki ketika tidak ada satu kata pun dari pemuda yang ada di hadapannya.
Namun ia tetap tidak menjawab. Pikirannya melayang kembali ke masa lalu. Sejak pertemuan pertamanya dengan Namikaze lima belas tahun yang lalu, ia sudah tidak suka dengan mereka. Ia tidak suka jika ayahnya harus tergantikan dengan orang lain. namun ibunya tidak mau tahu. Wanita itu terlalu tergila-gila dengan duda yang masih terlihat muda teman sewaktu kuliah. Ia tidak membenci keputusan ibunya untuk jatuh cinta lagi. Tapi ia benci ketika ibunya menikah lagi.
"Kyuu …"
Uzumaki Kyuubi tetap diam. Ia tidak pernah berpikir jika hidupnya sekarang akan seperti ini. Ia bukan pengkhianat ketika dirinya menyandang marga itu. Itu marga ayahnya dan sampai kapan pun marganya tidak akan berubah menjadi Namikaze. Ia bukan pengkhianat ketika ia lebih memilih Uzumaki setelah ibunya meninggal. Namun sang adik berpikir lain. Adiknya beranggapan kalau dirinya tega ikut dengan orang-orang yang mengambil harta keluarganya. Demi Tuhan, rumah itu memang milik Uzumaki dan Namikaze itu tidak punya hak atas kekayaan ibunya. Namun adiknya berpikir lain. Adiknya membenci dirinya setelah tahu jika dirinya ikut orang-orang yang tega mengusir keturunan Namikaze tersebut.
"Uzumaki Naruto!" serunya lirih.
"Kyuu …"
Kyuubi tahu apa yang ingin disampaikan pamannya. Ia tahu adiknya bukanlah seayah dengan dirinya. Ia tahu sampai kapanpun adiknya tidak akan bisa menyandang marga yang sama dengan dirinya. Dan ia benci itu. Ia benci harus mengakui jika Naruto adalah anak dari orang yang ia sebut sebagai perebut ibunya. Dan ia benci ketika harus menyebut nama adiknya, Namikaze Naruto.
"Aku harus mengambilnya bagaiman pun caranya."
"Waktu telah banyak berubah Kyuu. Deidara tidak sendirian. Bahkan adikmu bukan lagi Namikaze. Ia adalah tanggung jawab Uchiha."
Namun Kyuubi tidak mau tahu. Pernikahan mereka tidaklah sah. Adiknya masih di bawah umur. Adiknya masih terlalu kecil untuk menerima semua ini. Dan ia bersumpah, pemuda Uchiha itu akan ia bunuh.
"Di rumah sakit mana adikku berada?"
Nawaki menghela nafas. Kyuubi tidak berubah sedikit pun. Pantas saja Deidara amat membenci Kyuubi yang tidak pernah menaruh hormat kepada ayahnya.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
Itachi memarkirkan mobilnya di halaman kediaman Uchiha, setelah ia sampai di rumah yang seminggu ini telah ia tinggalkan. Setelah mengantar Deidara ke rumah sakit, ia memutuskan untuk pulang. Sore ini juga ia harus mendengarkan keputusan ayahnya akan niatnya untuk menikah dengan Deidara. Ia tidak mau menunggu lagi. Semakin cepat, maka semua akan semakin baik untuk Deidara.
Itachi melangkah ke dalam rumahnya dan menuju ruang keluarga. Di sana, di salah satu sofa, ayah dan kakaknya telah menunggu dirinya. Ia berdiam diri sejenak di ambang pintu sebelum akhirnya ia melangkah mendekati ayah dan kakaknya. Duduk di salah satu sofa yang berseberangan dengan tempat yang diduduki ayah dan kakaknya.
.
.
Sai menatap sendu adik kesayangannya. Itachi yang dulu telah kembali. Itachi yang dingin dan enggan untuk berekspresi. Ia tidak menyangka jika Deidara begitu berpengaruh dalam kehidupan adiknya. Seperti pemuda itu, pemuda yang tega meninggalkan adiknya 7 tahun yang lalu.
Masih jelas di ingatan Sai ketika ia menemui Itachi di rumah sakit setelah kepulangannya bersama sang ayah dari luar negeri. Adiknya tampak kacau dan kebingungan. Ingin ia marah karena Itachi ikut andil dalam kematian sahabatnya. Namun ia tidak bisa marah. Adiknya jelas yang paling terluka akibat kejadian hari itu. Adiknya lebih memerlukan rasa simpati dan perhatian dari pada kemarahan.
Bahkan Sai ingat dengan jelas, bibir adiknya begitu bergetar ketika Itachi menggumamkan kalimat 'aku membunuh Sasori' dengan menunjukkan bajunya yang berganti warna dengan darah Sasori. Namun ia terlalu sedih ketimbang syok ketika melihat mata adiknya yang amat terluka hari itu. Dua hari di rumah sakit, namun mengganti pakaian saja tidak dilakukan Itachi dengan alasan tidak bisa meninggalkan Deidara.
"Ayah sudah berbicara dengan Pastur Jiraiya!" seru Fugaku membuat Sai kembali dari lamunannya. Ia menatap adiknya yang tengah menunduk.
"Kalian harus menunggu sampai musim semi."
"Ayah!" seru Itachi lirih.
Sai cukup tahu tentang arti panggilan itu. Itachi tidak mau menunggu. Iatchi ingin minggu ini juga pernikahan itu dilaksanakan. Uchiha sulung itu masih menatap adiknya. Bukankah musim semi dua bulan lagi. Dan waktu itu tidaklah lama. Mengapa adiknya tetap ngotot untuk menikah dalam waktu dekat? Sasori sudah tiada dan tidak akan ada yang menghalangi Itachi untuk bersama Deidara. Tidak juga ayahnya yang sangat amat menyayangi Deidara.
"Ini demi kebahagian kalian nanti, Chi." Sai mulai ikut bicara. Dari dulu, keluarga Uchiha selalu percaya perkataan dari Pastur Jiraiya dalam banyak hal dan itu termasuk hari baik untuk menikah. Dan Jiraiya selalu melarang keluarga Uchiha untuk melangsungkan pernikahan ketika musim dingin.
"Aku hanya perlu menikah dengan Deidara. Tidak ada undangan dan tidak ada pesta." Itachi tetap ngotot. Entah kenapa perasaan itu kian kuat. Perasaan akan kehilangan Deidara jika ia tidak cepat-cepat menikahi Deidara. Tapi, benarkah perasaan itu?
"Besok sore, Pastur Jiraiya bisa menikahkan kalian." Fugaku tidak mampu lagi membujuk anak kesayangannya. Itachi bukan Sasuke. Pemuda itu memang berbeda dengan kedua putranya. Itachi jarang meminta, namun sekali berharap haruslah dituruti.
"Bersiap-siaplah dan ajak Deidara untuk membeli cincin."
Itachi tersenyum lalu berdiri, "Tidak usah, dia sudah memilih cincinnya sendiri. Aku permisi dulu," serunya lalu melangkah ke arah pintu. Yang perlu ia lakukan hanya mengambil dua stel baju pengantin pria di butik Uchiha dan membeli cincin untuknya.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
Deidara menatap bangunan di depannya. Rumah sakit di mana ia dulu selalu mengantar ibu dan adiknya untuk cek up. Seandainya saja kedua orang tuanya tidak meninggal dalam kecelakaan, mungkin hidupnya tidak akan sesulit ini. Rancangan masa depan yang pernah ia susun dulu, pastilah tidak berhamburan kembali seperti pazzle yang belum tersusun. Tidak akan ada Konoha dan keluarganya selalu bahagia di Uzushio. Namun semua tidak dapat diprediksi dan ia harus kembali hidup di Konoha sebagai orang yang tidak berguna. Membiarkan sang adik terluka oleh keadaan.
Deidara melangkahkan kakinya ke dalam. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang nampak ramai. Kenapa harus seperti ini? Ia selalu yakin jika Tuhan tidaklah kejam. Tapi kenapa hidupnya seberat ini? Kesalahan apa yang ia lakukan di kehidupan lampau, hingga di kehidupan sekarang ia harus selalu menjalani hidup yang berat.
Dulu, Deidara hanyalah bocah tujuh tahun yang berharap bisa bertemu ibunya. Namun sang ayah selalu mengatakan sambil tersenyum jika ibunya masih punya tugas di surga. Ibunya belum bisa pulang. Dan ia selalu setia menunggu sang ibu. Hingga hari itu, ayahnya pulang membawa perempuan cantik berambut merah. Ayahnya mengatakan jika ibunya sudah selesai dalam tugas dan sekarang bisa menemani Deidara. Ia begitu senang akan hal itu. Ia tidak bertanya lebih lanjut ketika bocah seusianya juga ikut tinggal serumah. Ia cukup menerima dengan baik bocah yang katanya adalah saudaranya yang selama ini ikut ibunya. Ia bahagia walau bocah berambut orange itu terlihat tidak menyukainya.
Perlahan waktu menjelaskan semua. Ia pemuda tangguh yang mulai beranjak dewasa. Ia mulai mengerti tentang keluarga yang selama ini bersamanya. Ibunya telah tiada sejak lama. Sejak ia masihlah terlalu kecil untuk tahu arti hidup. Perempuan yang dipanggilnya ibu bukanlah orang yang melahirkannya. Perempuan itu mantan kekasih ayahnya ketika duduk di bangku kuliah. Dan pemuda yang selalu ia anggap adik itu hanyalah saudara tiri. Ia tetap tidak mempermasalahkan itu. Ia sudah bahagia dengan hidupnya. Terlanjur mencintai ibunya yang telah melahirkan adik kecil untuknya. Harta satu-satunya peninggalan sang ayah. Walau pemuda berambut orange itu tetap tidak suka dirinya.
Deidara menghela nafas sebelum membuka pintu di depannya. Tidak lama setelahnya, ia menemukan punggung yang terbalut mantel berwarna cokelat tengah menemani adiknya, setelah ia membuka pintu. Perlahan ia berjalan mendekati Sasuke. Disentuhnya bahu yang nampak bergetar itu, setelah ia berada di samping adik iparnya. Haruskah ia marah untuk kesekian kalinya kepada pemuda itu?
Mungkin untuk kali ini ia tidak akan marah kepada Sasuke. Dari penuturan Sai ketika mengunjungi dirinya di rumah sakit, adiknya koma karena banyak hal. Ada pendarahan dan juga gegar otak ringan akibat kecelakaan delapan bulan yang lalu. Di sini yang terluka dan merasa sedih bukan hanya dirinya akan tetapi juga Saseke. Betapa menyedihkannya pemuda angkuh dan sombong itu sekarang. Tidak lagi pergi ke kampus dan selalu menemani Naruto.
"Sasuke!" seru Deidara.
Namun pemuda yang tengah duduk di depannya tidak juga menoleh atau sekedar berbicara. Tangan pucatnya menggenggam erat jemari Naruto.
"Pulanglah! Kau butuh istirahat!"
Tetap saja tidak ada jawaban. Sebegitu sedihkan Uchiha bungsu itu? Bukankah Sasuke tidak pernah sekalipun mencintai adiknya, lalu kenapa ia terlihat yang paling terluka?
"Dia tidak mau bangun!" seru Sasuke lirih. Tangannya menyentuh tangan kiri Deidara yang ada di pundaknya setelah melepaskan tangan Naruto, "aku sudah bilang padanya agar ia mau bangun. Ia tidak pernah merepotkan aku."
"Sasuke!" Dengan tangan kanannya yang bebas, Deidara meremas tangan Sasuke yang tengah menyentuh tangan kirinya. Dan perlahan ia mendengar isakan lirih dari bibir Sasuke.
"Pulanglah! Aku yang akan menjaganya. Kau juga butuh istirahat." Deidara menghela nafas sejenak, "Naruto pasti sadar, tapi bukan sekarang . Bukan ketika suaminya terlihat menyedihkan." Deidara menelan ludahnya yang terasa menyangkut di tenggorokannya. Entah kenapa ia malah seolah menyetujui adiknya untuk bersama Sasuke, "Naruto pasti bangun, ketika suaminya benar-benar mampu membuktikan jika ia mampu menjadi suami yang bertanggung jawab.
"Dei-nii!"
Dan tangis Deidara pun pecah. Hatinya merasa sakit ketika mendengar untuk pertama kalinya Sasuke memanggilnya kakak. Andai saja sejak awal tidak perlu ada pemaksaan, pasti semua ini juga tidak akan pernah terjadi.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
Suasana di pemakaman kota Suna tidaklah pernah berubah. Sejak seminggu yang lalu hanya nenek tua itu yang selalu setia datang ke tempat itu. Meletakkan bunga lili putih di atas pusara makam cucunya. Ia tidak lagi sesedih seperti pertama kali ketika mendengar kabar bahwa cucunya telah meninggalkan dirinya sendiri untuk selamanya. Walau satu-satunya keluarganya telah meninggalkan dirinya, namun ia sadar ia tidak sendiri di dunia ini. Masih ada pemuda itu, pemuda yang berjanji akan berusaha untuk menjaganya menggantikan Sasori.
Ia tersenyum, mungkin cucunya telah tenang di surga. Walau di hati kecilnya sedikit tidak rela karena sang cucu lebih dulu menghadap Tuhan, namun ia tidaklah boleh egois. Semua sudah menjadi kehendak Tuhan.
"Nek!" seru Sai sembari menatap pungggung yang masih tegap itu walau pemiliknya tidak lagi muda.
Chiyo berbalik, menatap Sai dengan senyuman yang masih melekat dikedua sudut bibirnya. Ia berjalan mendekati Sai, "Aku sudah selesai berdo'a!" serunya lalu melangkah bersama Sai menuju parkiran.
"Jadi, kapan mereka akan menikah?"
Sai menelan ludah paksa. Seharusnya perempuan tua di sampingnya akan membenci kabar yang ia sampaikan. Namun ternyata tidak. Chiyo malah bahagia jika ternyata telah ada yang menggantikan cucunya untuk menjaga Deidara. Ia akan selalu berdo'a untuk kebahagian Deidara.
"Besok sore." Sai terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya lagi, " Nenek akan datang, kan?"
"Tentu saja. Ia juga cucuku, bukan?"
Dan lagi, ada rasa sakit di hati Sai ketika Chiyo mengucapkan hal itu. Semoga setelah kejadian hari itu, kehidupan semuanya akan lebih baik.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
Setelah mengambil keperluan untuk pernikahannya dengan Deidara, Itachi kembali ke rumah sakit. Ia berencana untuk menemani Deidara menginap di rumah sakit. Langkahnya semakin ia percepat, ketika ia melihat arlogi di tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia terlalu bersemangat di butik, hingga lupa waktu. Semoga saja Deidara belumlah tidur dan ia bisa menyampaikan kabar bahagia. Namun kenyataannya…
Itachi membuka kamar inap Naruto. Di sana, di kursi di samping tempat tidur Naruto, ia melihat Deidara tengah tertidur dengan nyenyak. Itachi tersenyum. Sudah lama, bahkan ia tidak pernah ingat kapan ia bisa melihat Deidara tertidur pulas seperti itu.
"Tanpa kau paksa, mungkin aku akan melakukannya. Tapi bukan sekarang. Bukan seperti ini. Karena aku juga menyukaimu."
Tiba-tiba perasaan bersalah itu kembali muncul ketika kalimat Deidara terngiang kembali di telinganya. Ia bodoh karena tidak pernah menyadari perasaan Deidara yang ternyata juga suka kepada dirinya. ia bodoh karena tidak mau menunggu lebih sabar, hingga menuruti apa yang Sasuke katakan. Dan ia terlalu cemburu, karena Hidan mampu menunjukkan rasa sukanya kepada Deidara secara gamblang. Dan kini ia menyadari betapa pengecutnya seorang Uchiha Itachi.
Perlahan Itachi mendekati Deidara. Ia merengkuh tubuh Deidara dan membopongnya menuju sofa. Akan lebih nyenyak lagi jika pemuda Namikaze itu tidur di sofa. Dengan pelan, ia membaringkan tubuh Deidara ke sofa empuk itu, dan ia mengambil duduk di sampingnya. Ditatapnya dengan lembut wajah yang kelihatan lelah. Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh helaian rambut yang ada di kening Deidara. Perasaan bersalah kembali muncul. Tidakkah egois kembali dirinya? Setelah membuat luka Deidara semakin menganga, kini ia mencoba menutupi luka itu dengan kebohongan agar ia tetap berada di samping Deidara.
"Engg.." Deidara mengerjapkan matanya. Merasa terganggu dengan jemari Itachi, "Danna!" serunya ketika mendapati senyum Itachi di depannya.
"Maaf! Membuatmu terbangun."
Deidara berusaha untuk membangunkan tubuh letihnya, "Tidak! Aku memang sudah terlalu lama tertidur."
Iatchi memalingkan wajahnya. Berusaha mencari kata yang tepat untuk menyampaikan kabar tentang esok sore. Tapi ia ragu, tidak tahu bagaimana caranya. Tidakkah ia kejam jika mengajak menikah Deidara besok sore, sedangkan adik iparnya tengah sakit.
"Aku berpikir jika besok kita akan menikah." Ujarnya pelan lalu tertawa hambar, "tapi aku terlihat kejam karena mengajakmu menikah di saat Naruto sedang sakit." Ia menunduk semakin dalam.
Deidara terdiam mendengar ucapan Itachi. Deidara tahu, pernikahan itu adalah mimpinya sejak dulu. Dan Itachi mencoba mewujudkan hal itu. Deidara bergeser mendekati Itachi. Diraihnya wajah Itachi hingga menghadap ke arahnya. Deidara menangkup wajah Itachi.
"Pernahkah kau berpikir, aku telah lama menunggu kalimat itu? Kau tidak jahat. Tapi aku yang jahat karena menerima lamaranmu untuk menikah besok."
Itachi hampir melotot tidak percaya ketika bibir lembut Deidara menyapa bibirnya.
.
.
.
To be Continue…
.
Maaf lama update-nya. Saya agak sibuk akhir-akhir ini. Tapi tenang saja, saya tidak hiatus kok. Dan lagi saya berencana akan menamatkan ff ini secepat mungkin.
ada yang bertanya alamat blog saya. Ini alamatnya, ranhime-ran . blogspot . com . hapus spasinya jika berkenan untuk berkunjung. Tapi maaf masih berantakan, karena saya membuat blog itu hanya untuk berjaga-jaga jika ada masalah dengan ffn. Tapi semoga saja ffn tidak akan bermasalah.
.
Balasan review:
Zen Ikkika: ini sudah dilanjut :)
kkhukhukhukhudattebayo: belum, masih ada satu masalah lagi yang harus diselesaikan :)
Kim anna shinotsuke: terima kasih sudah suka ff ini. Sebenarnya saya juga suka ff anda. Hanya saja saya trauma member review. Jadinya saya tidak berani review, hehe. Maaf ya
Dwi yuliani: ini sudah saya lanjutkan. Semoga tidak mengecewakan
Maudy kim: salam kenal juga. Itachi sudah menyesal kok. Soal Naruto masih menunggu dia sadar dari komanya.
Nadine yumi: ini sudah lanjut
My beauty jeje: tidak saya hapus kok. Ini sudah saya lanjut
Oka: semoga chap ini lebih seru dari yang kemarin. Selamat membaca :)
anita. indah. 777: tidak saya hapus kok. Ini sudah saya lanjutkan
kimura. shiba: hehe, takut yang baca bosan kalau pakai alur lambat.
RisaSano: biar Sasuke agak ngerti kalau keluarga itu berharga, makanya Naruto dibuat seperti itu. hehe
Aiska: kalo panjang entar jadi bosan yang baca. hehe, OC saya memang cowok. Agak aneh kalo dibuat cewe
Yuna: sudah terselamatkan. Saya bersyukur untuk itu. Blog saya sudah saya tulis di a/n
Mii. Soshiru: hehe saya tidak janji untuk itu. Tapi nanti saya carikan chapter yang bias diselipin itu.
gici love sasunaru: iya, tinggal beberapa chapter terus tamat.
Axa Alisson Ganger: ini sudah lanjut
LNaruSasu: udah saya cantumin di a/n
yassir2374: akhirnya ada juga yang menyadari itu. Saya benar-benar minta maaf untuk itu. Waktu itu saya baru balik dari hiatus dan tidak menyadari itu. Baru setelah chapter itu dipublish saya baru sadar setelah membacanya dari awal. Anggap saja mereka orang yang berbeda. hehe
hanazawa kay: sudah saya tulis di a/n
Angel Muaffi: sudah saya tulis di a/n kok
RaFa LLight S.N: ada tidaknya saya belum tahu. Nanti saya usahakan buat nyelipin romance bua t SasuNaru-nya. Tapi saya tidak janji
kazekageashainuzukaasharoyani: sudah di Tbc in kan.. hee
fatayahn: sudah saya cantumkan di a/n
A-Drei: ada di a/n . ffn tidak jadi dihapus kok. Post saja ff-nya. Biar ffn tambah ramai
mifta. cinya: sudah saya balas lewat PM kok
uzumakinamikazehaki: ini sudah dilanjut
Vianycka Hime: ini sudah lanjut kok
sakuranatsu90: sudah saya tulis di atas
gothiclolita89: sudah lewat PM :)
.
Terima kasih atas revie-nya, follow dan fav ff ini.
Semoga saya tetep bias melanjutkan ff ini
See you…
