Itachi memalingkan wajahnya. Berusaha mencari kata yang tepat untuk menyampaikan kabar tentang esok sore. Tapi ia ragu, tidak tahu bagaimana caranya. Tidakkah ia kejam jika mengajak menikah Deidara besok sore, sedangkan adik iparnya tengah sakit.
"Aku berpikir jika besok kita akan menikah." Ujarnya pelan lalu tertawa hambar, "tapi aku terlihat kejam karena mengajakmu menikah di saat Naruto sedang sakit." Ia menunduk semakin dalam.
Deidara terdiam mendengar ucapan Itachi. Deidara tahu, Pernikahan itu adalah mimpinya sejak dulu. Dan Itachi mencoba mewujudkan hal itu. Deidara bergeser mendekati Itachi. Diraihnya wajah Itachi hingga menghadap ke arahnya. Deidara menangkup wajah Itachi.
"Pernahkah kau berpikir, aku telah lama menunggu kalimat itu? Kau tidak jahat. Tapi aku yang jahat karena menerima lamaranmu untuk menikah besok."
Itachi hampir melotot tidak percaya ketika bibir lembut Deidara menyapa bibirnya.
.
.
.
Naruto Fanfiction
Present
Naruto shippuden © Masashi Kishimoto
Tears © Ran Hime
Twitter: ranhimeuchiha
M rated
Drama, Hurt/Comfort
SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei
Guest: Uzumaki Kyuubi
AU, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.
.
.
.
Chapter 14
.
Jika pada pernikahan Naruto diiringi dengan guguran daun maple di sekeliling Gereja, maka pada pernikahan Deidara, salju-salju putih masih setia berjatuhan mengiringi setiap prosesi pernikahan yang sedang terjadi. Pemuda itu tersenyum dalam setiap langkah menuju altar bersama Fugaku. Ia selalu terlihat tampan dalam setiap penampilannya. Tepuk tangan terdengar ketika janji sakral untuk hidup bersama selamanya itu telah terucap. Deidara tak mampu menyembunyikan rona malu di pipinya ketika satu ciuman lembut mendarat di bibirnya. Akankah semua ini bertahan selamanya? Itachi meragukannya.
Cepat atau lambat ingatan Deidara akan pulih. Walau membutuhkan waktu, tapi kemungkinan untuk itu begitu besar. Ia bukan orang kejam yang akan membiarkan Deidara gila, jika membiarkan ingatan Deidara seperti itu terus. Ia akan membantu dokter untuk memulihkan ingatan Deidara yang telah kacau itu, walau ia harus kehilangan Deidara pada akhirnya.
Pengantin baru itu berjalan ke luar Gereja. Di depan, mobil untuk pengantin telah siap untuk membawa mereka berbulan madu. Perasaan resah kembali merayapi hati Itachi. Bisakah ia menyentuh Deidara? Apakah ingatan hari itu akan tiba-tiba datang ketika ia memulai malam pertama bersama Deidara?
"Kau nampak pucat? Kau sakit?"
Deidara memasang wajah khawatir. Sepuluh menit yang lalu mereka telah meninggalkan Gereja dan semua yang hadir dalam pernikahannya. Deidara meraih wajah Itachi yang tengah menengadah.
"Kau kenapa, Danna!"
Itachi menggeleng. Kepalanya bersandar pada sandaran kursi penumpang. Sampai kapan Deidara akan memanggilnya Danna. Ia Uchiha Itachi, bukan Akasuna Sasori. Tidakkah Deidara ingat namanya?
"Aku hanya lelah. Biarkan aku istirahat sebentar."
Deidara melengos. Ia bergeser menjauhi Itachi. Pikirannya perlahan kacau. Apakah Itachi menyesal telah menikah dengannya? Ataukah masih ada pemuda itu di hatinya? Lalu kenapa Itachi melamarnya hari itu? Deidara terdiam, menikmati pemandangan sore kota Konoha. Semua tidak pernah berubah. Seolah waktu setia menjaga agar kota itu tetap seperti dulu. Deidara memejamkan matanya. Apakah waktu juga telah menjaga perasaan Uchiha Itachi terhadap seorang Uzumaki.
Ada yang sakit di hati Deidara. Ingin rasanya ia tertawa keras-keras. Namun bukan suara tawa yang keluar, namun suara isakan yang entah kenapa malah membuat hatinya kian sakit.
Itachi membuka mata perlahan ketika mendengar suara isakan yang keluar dari bibir Deidara. Ia bergeser mendekati Deidara dan meraih tubuh dalam balutan jas putih itu.
"Kau menangis?"
Deidara menggeleng, namun suara dari bibirnya mengatakan sebaliknya.
"Maaf, bukan maksud mengacuhkanmu. Tapi aku memang lelah."
Tangis Deidara pecah. Ia sesenggukan di dalam dekapan Itachi dan membuat pemuda Uchiha itu bingung.
"Aku min-"
"Kau masih menyukai Kyuubi, kan?" ujar Deidara membuat Itachi terkejut.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Sasuke meraih jemari Naruto. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Bocah itu tetap pada posisinya. Dan Sasuke tidak suka itu. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali mengajak Naruto berkomunikasi. Ia yakin hal tersebut bisa menjaga agar Naruto tetap bertahan.
"Kau tahu, pada akhirnya kakak kita menikah," serunya sembari meraih tangan naruto. Mengelus cincin pernikahan mereka yang masih melekat di jari manis kanan Naruto, " tidakkah kau ingin mengucapkan selamat kepada mereka?"
Sasuke mencoba untuk sabar. Ia selalu bercerita tentang apa yang ia lalui setiap harimya. Walau ia sadar hal itu tidaklah dapat mengubah pendirian bocah itu. Naruto tetap tertidur seolah enggan untuk bertemu dengannya lagi.
Bagi Sasuke tidak apa-apa jika Naruto memang tidak mau lagi bertemu dengan dirinya. Tapi Naruto juga harus tahu jika putra mereka sangat menbutuhkan Naruto. Tidakkah bocah itu tahu, putranya selalu menangis setiap kali bangun. Putranya butuh kasih sayang Naruto, meskipun ia sadar yang Yuki butuhkan adalah seorang ibu. Naruto yang mengandung dan melahirkan Yuki. Tidak bisakah jika Naruto diibaratkan ibu, meskipun bocah itu adalah laki-laki?
Sasuke menghela nafas. Ini adalah hari kesepuluh Naruto koma. Tidak ada perkembangan yang membahagiakan atau sedikit yang bisa membuatnya lega akan kondisi Naruto. Tidak ada, mungkin karena Naruto sendiri enggan untuk bangun. Kabuto sudah menjelaskan jika sampai waktu sebulan kondisi Naruto tidak ada perubahan sedikitpun, maka dokter itu angkat tangan untuk menangani Naruto.
"Bangunlah, Naruto! Kami membutuhkanmu. Sangat membutuhkanmu."
Sasuke meletakkan tangan naruto kembali ke samping tubuhnya. Sasuke akan selalu setia menjaga suaminya walau pada akhirnya ia harus siap kehilangan Naruto kapan saja.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Itachi dan Deidara berjalan ke dalam kediaman Uchiha. Dari awal Itachi yang menginginkan semua itu. Ia tidak bisa pergi bulan madu sedangkan adiknya tengah sakit. Ia tidak mungkin bersenang-senang walau seharusnya ia telah menghabiskan waktu bulan madu seperti yang ia impikan dulu. Tidak masalah walau itu tidak dapat terwujud. Toh, nanti ia dan Deidara bisa pergi bulan madu setelah Naruto sembuh.
Itachi menghela nafas. Perasaan itu kembali muncul ketika ia dan Deidara telah sampai di kamar mereka. Bisakah ia menyentuh Deidara?
"Kau aneh dari tadi? Kau sakit?" tanya Deidara sembari melepas jasnya.
Itachi menggeleng. Ia menatap Deidara yang tengah melepas dasinya asal lalu meletakkannya di atas meja. Ia terpaku menyaksikan Deidara yang tengah melepas kemeja putihnya. Tubuh itu … tubuh yang pernah ia kecup dulu. Masihkah rasanya sama seperti dulu, sementara tubuh itu telah banyak yang menikmati. Punggung itu … punggung yang pernah ia lukis dengan sabuknya, kini telah kembali bersih.
Itachi menelan ludahnya. Perlahan ia berjalan ke arah sofa dan duduk di atasnya. Ia memijat keningnya yang berdenyut sakit. Ia ragu untuk menyentuh Deidara. Ia kejam. Bahkan Sasori yang begitu tulus mencintai pemuda itu saja belum pernah menyentuh Deidara sekali pun. Lalu dirinya?
Deidara menghentikan gerak tangannya untuk membuka kait celananya ketika tidak ada suara dari Itachi. Ia berbalik lalu mendapati Itachi tengah menutup mata. Tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Membuat Deidara mengernyit bingung. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan Itachi? Ataukah Itachi memang hanya mempermainkan dirinya dan tidak berniat menyentuh dirinya? hatinya berdenyut sakit, hingga tanpa sadar ia meraih kemejanya kembali. Memakainya asal lalu melenggang pergi dari kamarnya.
"Dei!" seru Itachi ketika ia membuka mata dan menemukan Deidara tengah berjalan cepat menjauhi dirinya, "kau mau kemana?" lanjutnya sembari bangkit lalu berjalan mengejar Deidara.
"Ku pikir kau perlu waktu untuk memikirkan dia."
"Apa maksudmu, Dei!" Itachi segera meraih lengan Deidara hingga pemuda itu menghadap Itachi.
"Kita memang sudah menikah. Tidakkah kau berpikir bagaimana perasaanku diacuhkan di malam pertama." Ucap Deidara menohok hati Itachi, "aku tahu kau masih mencintai dia, seharusnya kau tidak harus melamarku."
"Dei!"
"Kenapa tidak kau lamar dia saja."
"Dei!"
"AKU MUAK!"
Itachi terkejut mendengar teriakan Deidara. Tanpa sadar ia melepas tangan Deidara dan membiarkan Deidara melangkah meninggalkan dia sendiri di depan kamarnya. Pemuda itu salah sangka. Itachi tidak lagi mencinta orang itu. Itachi takut melukai Deiadra, jika ia menyentuh Deidara malam ini. Tapi pemuda Namikaze itu berpikir lain.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
"Katakan dimana ruangan Namikaze Naruto!" seru pemuda berambut orange itu dengan geram. Ia hanya ingin menemui adiknya, namun resepsionis di depannya enggan memberitahukan dimana adiknya dirawat. Apa salahnya, ia hanya ingin menjenguk adiknya, tapi perempuan di depannya tetap diam dengan alasan pasien itu hanya boleh di jenguk oleh keluarganya saja.
"Aku kakaknya!"
"Maaf, tuan! Tapi Deidara-san tidak dapat mengijinkan anda untuk berkunjung."
Kyuubi menggeram marah. Sungguh Deidara mencari gara-gara dengannya. Kyuubi melangkahkan kakinya ke dalam. Siapa Deidara? Pemuda itu tidak berhak akan adiknya. Ia yang berhak. Dan ia yang akan membawa adiknya setelah kelalaian yang Deidara sebabkan. Ia tidak akan membiarkan adiknya semakin tersakiti karena berada dalam tangan Deidara.
Kyuubi mengumpat marah. Bagaimana bisa ia membiarkan adiknya berakhir menyedihkan seperti ini. Hidup sebagai gelandangan, di perkosa, lalu hamil dan sekarang malah koma. Ia bersumpah akan meghabisi Sasuke jika ia bertemu pemuda itu. Ia tidak akan peduli karena telah berurusan dengan Uchiha. Pasti petinggi Uchiha tidak akan ambil pusing jika mereka kehilangan Uchiha yang tidak berguna itu.
Kyuubi meraih knop pintu di depannya. Ia membuka perlahan pintu itu dan dapat melihat kondisi adiknya yang menyedihkan itu. Ia mengepalkan tangannya lalu menyeringai. Ternyata Tuhan merestui niatnya tersebut.
"Uchiha-Sasuke!" serunya membuat Sasuke menoleh ke belakang.
Sasuke mengernyit tidak mengerti dan Kyuubi tahu bahwa pemuda di depannya tengah bertanya siapa dirinya.
Kyuubi tersenyum mengejek dan berjalan mendekati Sasuke ketika pemuda itu telah berdiri.
"Inikah bajingan yang telah membuat adikku menderita?"
Kyuubi tersenyum meremehkan membuat Sasuke semakin bingung dibuatnya.
.
.
"Inikah bajingan yang telah membuat adikku menderita?"
Sasuke menatap pemuda yang kini semakin mendekat ke arahnya. Ia memperhatikan pemuda berambut orange itu. Pernahkah ia bertemu dengan pemuda itu sebelumnya? Ia bahkan tidak mengenal pemuda itu dan bagaimana bisa ia dituduh telah membuat adiknya menderita.
"Maaf! Anda siapa?" serunya sembari menatap wajah di depannya.
Bukannya menjawab, pemuda itu malah tersenyum menyeringai, "Oh … ada baiknya kau memang mengingat namaku sebelum aku mengirimmu ke neraka."
"Namaku Uzumaki Kyuubi!"
Buaaggh
Seiring terdengar salam perkenalan itu, tubuh Sasuke jatuh ke lantai dengan pipi yang serasa nyeri. Sasuke mengusap pipinya. Apa-apaan pemuda itu! Baru saja berkenalan tapi ia sudah diberi pukulan di pipi kanannya. Apa maunya? Bahkan Sasuke merasa tidak pernah berurusan dengan pemuda bernama Kyuubi itu. Akan tetapi …
"Kuperingatkan padamu, Bocah!" seru Kyuubi sembari meraih kerah kemeja yang Sasuke kenakan, "Berhenti membuat adikku menderita atau aku tidak akan segan-segan membunuhmu."
Sasuke menatap tajam pemuda di depannya lalu melayangkan pukulan telak ke wajah Kyuubi, "Brengsek!" umpatnya marah, "Aku tidak kenal adikmu dan kau berkata seolah aku mengenal adikmu."
Kyuubi mengusap sudut bibirnya yang berdarah lalu tertawa keras. Tangannya semakin mencengkeram kerah baju Sasuke. Matanya menatap marah Sasuke.
"Bocah yang ada di ranjang itu adikku. Namikaze Naruto adalah adikku, brengsek!" ujarnya lalu melayangkan kembali pukulan ke perut Sasuke.
Sasuke terbatuk merasakan nyeri di perutnya. Jangan bercanda! Yang ia tahu kakak Naruto hanyalah Deidara. Ia tersenyum ketika mengingat dulu pernah berada di posisi ini dengan Deidara sebagai lawannya. Sasuke bangkit lalu hendak memukul Kyuubi lagi namun Kyuubi telah lebih dulu menendang perut Sasuke, hingga pemuda itu terdorong ke belakang.
"Memperkosa adik yang paling kusayangi! Kau pantas mati!" ujarnya berjalan ke arah Sasuke yang mulai batuk darah, "jangan kau pikir aku selemah Deidara hingga tidak mampu membunuhmu. Aku bukan Deidara yang masih menggunakan hati dalam bertindak."
"Siapa kau?" seru Sasuke sembari mencoba untuk bangkit.
Kyuubi memiringkan kepalanya sambil berjalan ke arah Sasuke, "Sudah kubilang aku adalah kakak Naruto."
"Kau bohong …"
"Dia memang bohong!" seru seseorang di ambang pintu, hingga membuat Kyuubi menyeringai ketika suara itu menghantam gendang telinganya setelah empat tahun tidak pernah lagi didengarnya.
.
.
.
To be Continue…
.
Update lebih cepat karena besok saya mulai ada kerjaan lagi. ada yang salah paham tentang hubungan Deidara dan Naruto. Mereka bukan Saudara tiri. Yang saudara tiri itu antara Deidara dan Kyuubi, sedangkan Naruto itu adalah adik kandung keduanya. Kushina, Ibunya Kyuubi menikah dengan Minato, ayahnya Deidara dan mempunyai anak Naruto.
.
Balasan review:
driccha: ini sudah dilanjut
ratihh: sudah dilanjut, kok :)
RaFa LLight S.N: Kyuubi tidak akan bisa merebut Naruto, hehehe. Ntar dua-duanya pasti sadar kok
yassir2374: enaknya dikasih pasangan siapa? 0_0
Lihat nanti saja kalau sudah waktunya, hehehe
Ini sudah saya lanjutin kok
Angel Muaffi: tidak terlalu ribet koko, ntar tidak selesai-selesai kalau makin ribet.
Pair ItaKyuu Cuma selingan saja.
Makasih
etinprawati: ini sudah lanjut
D-chan: sampai 18 kok. Maaf ya kalau makin membosankan, mau saya tamat chapter ini, tapi kok rasanya agak aneh, hehehe
oka: makasih Oka san sudah berkenan memberi review
Ini sudah saya update kok
kazekageashainuzukaasharoyani: adik kandung, Cuma beda ibu. Kalau Naru kan seibu dengan Kyuubi
Mii .Soshiru: tidak janji buat ada lemon. Sudah saya coba buat memasukkan lemon SasuNaru tapi tidak bisa. Malah ItaDei yang bisa masuk, hehehe
Queenymalf : pasti nanti bangun, kok
gici love sasunaru: Dei bukan kakak tiri Naru, hanya saudara seayah beda ibu
UCHIHA yunaHitssugaya: boleh saja kok kalau saya memang lebih tua dari kamu, hehehe
fatayahn: nanti pasti kejawab kok, tidak asyik kalau saya jawab sekarang
Zen Ikkika: Naru komanya membuka mata tapi pandangnnya kosong. Ya.. seperti disalah satu film Bollywood, hehe
dwi2: Kyuu merasa kalau ayahnya Dei sudah merebut ibunya Kyuu.
RisaSano: pasti hidupnya berakhir bahagia kok. Ini kan Hurt bukan angst, hehehe
kimura .shiba: kalau mendengar mungkin bisa, kalau melihat tidak bisa
Axa Alisson Ganger: ini sudah lanjut
Dinda Clyne: ini sudah saya lanjut
Vianycka Hime: Kyuu hanya Guest.
hanazawa kay: walau perannya dingin, Sasu pernah menagis juga kan di anime, hehehe. Saya harap tidak terlalu OOC
gothiclolita89: belum, saya baru buat soalnya
Saya usahakan, ya ^_^
Makasih atas review
See you…
