Sasuke terbatuk merasakan nyeri di perutnya. Jangan bercanda! Yang ia tahu kakak Naruto hanyalah Deidara. Ia tersenyum ketika mengingat dulu pernah berada di posisi ini dengan Deidara sebagai lawannya. Sasuke bangkit lalu hendak memukul Kyuubi lagi namun Kyuubi telah lebih dulu menendang perut Sasuke, hingga pemuda itu terdorong ke belakang.
"Memperkosa adik yang paling kusayangi! Kau pantas mati!" ujarnya berjalan ke arah Sasuke yang mulai batuk darah, "jangan kau pikir aku selemah Deidara hingga tidak mampu membunuhmu. Aku bukan Deidara yang masih menggunakan hati dalam bertindak."
"Siapa kau?" seru Sasuke sembari mencoba untuk bangkit.
Kyuubi memiringkan kepalanya sambil berjalan ke arah Sasuke, "Sudah kubilang aku adalah kakak Naruto."
"Kau bohong …"
"Dia memang bohong!" seru seseorang di ambang pintu, hingga membuat Kyuubi menyeringai ketika suara itu menghantam gendang telinganya setelah empat tahun tidak pernah lagi didengarnya.
.
.
.
Naruto Fanfiction
Present
Naruto shippuden © Masashi Kishimoto
Tears © Ran Hime
Twitter: ranhimeuchiha
M rated
Drama, Hurt/Comfort
SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei
Guest: Uzumaki Kyuubi
AU, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.
.
.
.
Chapter 15
.
Deidara memarkirkan mobil Itachi di depan sebuah club malam. Ia tidak cukup yakin untuk kembali memasuki tempat laknat yang seperti tempat dimana ia pernah menjual dirinya demi sang adik. Tapi mengingat Itachi dan malam pertama mereka, Deidara tidak punya pilihan selain berkunjung ke tempat itu dan melupakan sejenak masalahnya.
Deidara mengernyit heran ketika melihat sebungkus rokok di dashboard mobil Itachi. Dipandangnya kotak persegi panjang itu, hingga akhirnya ia menyambar rokok tersebut dan membawanya masuk ke dalam klub malam yang ada di depannya. Sejak kapan Itachi merokok lagi? Bahkan yang ia ingat Itachi telah berhenti merokok sejak kelas tiga SMA. Lalu rokok siapa yang ada di mobil Itachi itu?
Deidara tidak yakin jika benda itu milik teman Itachi. Suaminya bukan orang yang suka mobilnya dinaiki sembarang orang bahkan itu teman akrabnya sekalipun. Lagipula Itachi bukan orang yang bisa mempunyai teman akrab. Pemuda Uchiha itu tipe orang yang enggan bersosialisasi selama ia mengenal pemuda itu.
"Berikan aku vodka!" serunya kepada bartender di depannya. Untuk apa ia kembali memikirkan soal Itachi. Tujuannya kesini adalah untuk menenangkan diri. Bukan malah menambah pikiran tentang Itachi.
Deidara terdiam sejenak sembari memegang gelasnya. Ia menoleh ke sekeliling ketika merasa sedang diperhatikan. Entah hanya perasaannya saja atau memang ada yang sedang diam-diam memperhatikan dirinya. Ia menggeleng tidak ambil pusing. Di angkatnya gelas tersebut lalu ia menghabiskan isinya dalam sekali teguk.
"Dei … kau kah itu?" seru seseorang mendekati Deidara.
Pemuda blonde itu menoleh ke sampingnya dan menemukan mantan bos-nya ketika ia bekerja di klub malam di Suna. Ia tersenyum lalu mempersilahkan mantan bos-nya tersebut untuk duduk di sampingnya.
"Orochimaru-san!"
"Kenapa kau ada di sini?" Orochimaru menatap Deidara penuh selidik. Bukannya pemuda itu sudah mendapatkan pekerjaan yang mapan? Tidak mungkin jika dia hendak melakukan lagi pekerjaannya dulu.
"Aku hanya butuh tempat menenangkan diri." Deidara tersenyum, "lalu apa yang Orochimaru-san lakukan di sini?"
"Ini klub malamku. Aku baru membukanya minggu lalu."
"Usahamu semakin sukses saja."
Orochimaru tertawa kecil, "Jangan minum terlalu banyak," serunya ketika Deidara telah menghabiskan gelas keempatnya, "aku tahu kau masih berduka soal Sasori. Tapi bukan bearti kau juga tidak lagi memperhatikan kesehatanmu."
"Orochimaru-san bicara apa?" ujar Deidara setelah meneguk gelas kelimanya, "aku malah bahagia karena aku telah menikah dengan Itachi."
Orochimaru hampir saja tersedak ketika mendengar kalimat Deidara. Ia tidak salah dengar, bukan? Sejak kapan Deidara bahagia dengan Itachi. Yang ia tahu, Deidara amat menyayangi Sasori. Tidak mungkin jika Deidara bisa dengan mudah merelakan Sasori. Atau Deidara sengaja ingin melupakan Sasori agar kesedihannya tidak terlalu terasa.
"Kau mabuk!" seru Orochomaru lalu mengambil gelas Deidara, "Sejak kapan kau berhubungan baik dengan Itachi! Bahkan sampai menikah," jeda Orochimaru, "kau bahkan membenci Itachi dan adiknya karena membuatmu menjadi gigolo." Lanjutnya lalu beranjak dari duduknya. "kau jangan banyak minum. Disini tidak aman bagimu yang selalu diminati banyak pelangganku. Aku pergi dulu. Aku turut berduka atas kepergian Sasori."
Orochimaru melangkahkan kakinya ke dalam. Ke ruangan dimana ia selalu menghabiskan waktu ketika sedang berkunjung ke klub malamnya yang ada di Konoha.
Deidara meremas rambutnya. Sebenarnya ada apa dengan ingatannya. Ia merasa baik-baik saja, akan tetapi di satu sisi ia merasa ada sesuatu yang hilang dari penggalan ingatannya. Deidara menatap rokok yang ada di depannya. Mungkin dengan menghisap nikotin itu, ia bisa merasa sedikit lebih baik.
"Kau punya korek api?" tanyanya kepada pemuda di depannya yang langsung mendapat gelengan dari pemuda tersebut.
Baru saja Deidara mengumpat karena tidak mendapatkan benda yang dicarinya, tiba-tiba di depannya sebuah tangan menyodorkan korek api tersebut. Deidara menatap korek api itu dan menelusuri tangan yang berada di depannya. Ia menoleh ke samping dan menemukan pemuda yang amat tidak ia sukai.
"Butuh korek api?"
"Tidak! Terima kasih!" seru Deidara agak ketus. Dari sekian banyak pengunjung Paradise K kenapa ia harus bertemu dengan pemuda menyebalkan itu.
Deidara mengumpat tidak jelas ketika pemuda yang diharapkan pergi itu malah duduk di sampingnya. Tidakkah pemuda itu tahu kalau Deidara amat tidak suka dengan pemuda itu. Onik penuh nafsunya seolah mengingatkan kepada seseorang yang ia lupa siapa.
"Kupikir kau benar-benar berhenti menjadi primadona di Paradise. Ternyata kau dipindah ke Konoha." Ujar pemuda itu sembari meminta alcohol kepada Bartender di depannya.
"Aku memang sudah berhenti dan jangan ganggu aku."
Pemuda itu tertawa, "kau tidak berubah. Tetap ketus seperti dulu." Ia mendekatkan kepalanya ke bibir Deidara, "bagaimana jika kita bermalam dan aku akan membayarmu dua kali lipat."
"Brengsek kau Tobi!" seru Deidara geram. Tangannya reflek mengiramkan sisa vodka di gelasnya, "kau pikir aku ke sini mau menjual diri, heh! Berhenti menginginkanku karena aku tidak suka." Deidara menaruh gelasnya lalu beranjak pergi dari Paradise K.
Tobi tertawa terbahak lalu menyeringai, "Kau memang selalu menolakku. Bagaimana jika sedikit paksaan." Ujar Tobi lirih. Ia membayar minumannya lalu beranjak menyusul Deidara.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
"Uchiha Itachi!" seru Kyuubi menebak orang yang ada di belakangnya. Ia berbalik lalu menatap Itachi meremehkan, "adik dan kakak sama-sama menjijikkan. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi … " Kyuubi menjeda perkataannya, "… Mengikutkan adikku dalam hal yang menjijikkan seperti itu adalah masalah bagiku."
Itachi tetap diam, namun matanya menatap Kyuubi dengan benci. Ia benci kepada pemuda itu bukan karena ia pernah ditolak dulu. Tapi ia benci kepada Kyuubi karena pemuda itu telah menghinanya. Tidak ada yang salah dengan rasa sayang, walau cintanya adalah dosa. Tapi bukan bearti Kyuubi harus menghina dirinya karena ia gay.
"Tidakkah kau berkaca dan melihat bagaimana menjijikkan dirimu lebih dari aku!" seru Itachi. Langkahnya menggema di ruang inap Naruto. Ia berjalan dengan langkah mantap dan berhenti ketika ia berada tepat di hadapan Kyuubi.
"Huh!" Kyuubi meremehkan dengan tersenyum mengejek.
"Lebih menjijikkan ketika kau membiarkan saudara-saudaramu hidup menderita, sementara kau hidup lebih dari berkecukupan."
"Kau!" Kyuubi geram. Jarinya menunjuk wajah Itachi.
"Tidak ada yang salah dengan cinta, tuan Uzumaki Kyuubi." Itachi meraih tangan Kyuubi yang ada di depan wajahnya, "yang salah adalah membiarkan saudaranya hidup sebagai gelandangan." Lanjutnya lalu menghempas begitu saja tangan orang yang pernah ia sukai dulu.
Cinta bisa berubah. Dan cinta bisa menjadi benci. Itulah yang dirasakan Itachi saat ini kepada pemuda di depannya. Dari dulu Kyuubi tidak pernah berubah. Angkuh dan sombong. Suka bertindak seenaknya. Dan ia yakin, Kyuubi hendak mengambil adiknya.
"Jangan harap kau bisa menyentuh Namikaze lagi."
"Benarkah?" Kyuubi menyeringai, "kita lihat saja di pengadilan. Siapa yang akan berhak mendapatkan Naruto." Lanjutnya lalu berjalan ke arah pintu. Meninggalkan Itachi yang mematung di tempatnya tadi.
Sementara itu Sasuke nampak tidak mengerti dengan kakaknya dan juga pemuda yang mengaku sebagai kakak Naruto tersebut. Sasuke mencoba meraih kursi yang ia duduki tadi dan merebahkan tubuhnya di sana. Perutnya serasa nyeri. Bahkan ia merasakan sakit di dadanya. Ternyata pemuda bernama Kyuubi itu lebih kuat ketimbang Deidara. Sasuke batuk-batuk hingga darah nampak keluar dari sudut bibirmya.
"Kau tidak apa-apa, Sasuke?" Itachi mendekati adiknya dan menyodorkan segelas air yang ia ambil dari meja di samping ranjang Naruto.
"Ya!" jawabnya setelah meneguk air tersebut, "Siapa Kyuubi, Aniki?"
Itachi terdiam. Haruskah Sasuke tahu mengenai Uzumaki Kyuubi?
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Deidara berjalan gontai keluar dari Paradise K. Ia terus berjalan meninggalkan mobil Itachi di parkiran klub malam tersebut. Tidak mungkin ia mengemudi dalam keadaan setengah mabuk. Bisa-bisa ia menabrakkan mobilnya di pembatas jalan karena frustasi dan menjadikan Itachi seorang duda. Mengingat Itachi, Deidara tersenyum sinis, pasti suaminya itu tengah tidur sambil memeluk photo pemuda brengsek itu. Untuk apa pernikahan itu terjadi jika Itachi saja tidak mencintainya dengan tulus.
Deidara terus saja merancau tidak jelas. Ia kesal kepada Itachi. Ia pusing dengan ingatannya yang hanya setengah-setengah itu. Dan mood-nya bertambah buruk ketika ia dipertemukan kembali dengan Tobi sialan yang selalu ingin menikmati tubuhnya ketika ia bekerja di Paradise. Deidara tertawa lagi seperti orang yang tidak waras. Tobi bodoh itu tidak akan pernah bisa menyentuh dirinya. Tanpa ia tahu jika pemuda yang ia anggap bodoh itu tengah mengikuti dirinya.
Tobi menelusuri sekeliling di depannya dengan matanya. Mencari tempat yang pas untuk bercinta malam ini. Arah kiri, sepertinya kurang cocok karena hanya ada pertokoan yang sudah tutup. Dan di depannya terlihat kedai mie ramen yang sudah sepi. Tobi menyeringai ketika arah kanannya, nampak gang sempit dan gelap. Pasti akan menjadi pengalaman yang berbeda, jika bercinta di tempat seperti itu. Tobi pun mempercepat langkahnya mendekati Deidara.
Deidara meronta, mencoba melepaskan dirinya ketika dengan kasar Tobi menyeretnya menuju gang sempit di samping kanannya. Ia mengumpat dan merancau tidak jelas. Mengutuki Tobi yang selalu membuatnya tidak nyaman selama ia bekerja di tempat Orochimaru. Deidara meringis sakit ketika tubuhnya dihempaskan ke tanah dengan kasar. Ia berbalik dan menatap wajah tidak jelas Tobi karena tidak adanya cahaya di gang sempit itu. Kepalanya berdenyut sakit. Sepotong memori tidak jelas serasa menghantam pikirannya.
"Kau mau apa?"
"Kau mau apa?"
"Tentu saja bercinta denganmu." Ujar pemuda beriris onik tersebut sembari membuka kait celananya, "aku sudah lama menyukaimu. Tapi kau selalu acuh sok jual mahal."
"Tentu saja bercinta denganmu." Ujar pemuda beriris onik tersebut sembari membuka kait celananya, "aku sudah lama menyukaimu.
Deidara memegang kepalanya yang kian berdenyut sakit ketika mendengar ucapan Tobi. Ia meruntuki kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melawan Tobi. Harusnya ia menuruti ucapan Orichimaru agar tidak minum terlalu banyak dan mabuk. Ia meremas rambutnya berusaha menahan sakit kepalanya, ketika suara tobi terus berdengung di telinganya. Ada apa dengan kalimat itu. Ia berusaha menahan sakit kepalanya hingga tidak menghiraukan Tobi lagi.
Sejujurnya Tobi agak sakit hati lantaran Deidara terus saja menolak dirinya walau ia berani membayar mahal. Dan itu merupakan penghinaan bagi dirinya yang selalu dinanti para penghibur di klub milik Orochimaru. Tobi menurunkan celananya bersama dalamannya hingga sampai ke lutut. Ingin rasanya ia tertawa melihat kondisi Deidara. Primadona Paradise yang berharga mahal, malam ini juga akan bercinta dengannya tanpa bayaran dan gratis. Ia tersenyum mengejek sambil menurunkan badannya dan mendekati Deidara yang masih memegangi kepalanya.
Dengan tidak sabaran ia meraih celana kain Deidara dan menurunkannya. Ia menidurkan Deidara dan menarik kasar celana dalam pemuda blonde itu. Masih tidak ada perlawanan karena pemuda itu nampak masih sibuk dengan suara yang kian bedengung di telinganya. Membuat Tobi mudah menggagahinya. Tobi memulai aksinya. Ia menindih Deidara, mencium dengan brutal dan sesekali beralih ke leher putih bersih itu.
"Berhentilah dari pekerjaan ini"
"Aku mencintaimu, Dei!"
"Maukah kau menikah denganku?"
Deidara mengerang dan mendesah membuat Tobi semakin bernafsu untuk segera melepas hasratnya. Deidara mecoba melawan rasa sakit di kepalanya hingga ia sadar jika ia dalam keadaan yang kurang baik. ia mendorong dada Tobi, berharap pemuda itu mau melepaskan dirinya. Ia lelah. Ia tidak punya tenaga lagi karena kondisinya yang sedikit mabuk.
"Berhenti memberontak. Atau aku akan bermain kasar!"
"Berhenti memberontak. Atau aku akan bermain kasar!"
Lagi-lagi kalimat itu membuat jantung Deidara berdetak cepat. Ada apa sebenarnya dengan kalimat itu. Deidara makin keras mendorong kepala Tobi lalu menggigit lengan Tobi.
Plakk
Tobi menampar keras pipi Deidara. Kesabarannya sudah habis. Percuma mempersiapkan Deidara. Pemuda itu memang tidak bisa diajak lembut. Tobi meraih kedua kaki Deidara lalu menaruhnya di bahunya. Ia yakin Deidara tidak akan bisa bergerak karena celananya yang ada di lututnya. Ia medorong ke dua tangan Deidara dan menciumnya brutal. Mendorong dengan kasar miliknya yang sudah siap sempurna itu tanpa kasihan. Sekali hentakan dan membuat Deidara berteriak kesakitan bersama air matanya yang terjatuh
Tobi tertawa di sela semangatnya menikmati lubang mmilik Deidara. Akhirnya, setelah berbulan-bulan ia menahan hasratnya untuk Deidara, ia akan bisa menghabiskan malam bercinta di tempat yang tidak kalah menyenangkan di tempat sempit dan gelap. Tobi kian mendoronng miliknya tanpa peduli jika Deidara tidak menikmati sama sekali permainan itu.
"Kenapa kau tidak mendesah, heh! Bukankah kau selalu senang memanjakan milik laki-laki brengsek di luaran sana." Ujarnya di sela menikmati pijatan dari lubang Deidara.
Deidara hanya mengernyit menahan sakit. Ia tidak suka dengan Tobi. Makanya ia tidak bisa mendesah. Tidakkah Tobi mengerti itu.
"Jika kau tidak cukup puas. Kau hanya perlu memuaskan aku saja." Ucapnya lalu kembali tertawa.
Tobi memandang wajah Deidara yang agak kurang jelas itu. Tidak ada ciuman. Tidak ada peralihan rasa sakit. Yang terpenting ia bisa mendapatkan kesenangan. Ia menghentakkan miliknya dengan brutal. Mencari kepuasan yang lebih, yang belum pernah ia rasakan. Ia terus menggenjot Deidara hingga ia mendapatkan klimaksnya.
"Kau hebat!"
Pandangan Deidara mulai mengabur. Akankah mimpi buruk dalam hidupnya berakhir..
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Sasuke menyandarkan bahunya di sandaran kursi. Ia tidak menyangka jika Naruto harus mengalami nasib seperti itu. Harusnya Naruto adalah bocah paling bahagia di dunia ini. Namun takdir berkata lain. Hidupnya berubah ketika kedua orang tuanya meninggal. Hartanya harus jatuh ke tangan Uzumaki sementara Naruto adalah putra dari Namikaze Minato seperti halnya Deidara. Dengan kata lain ia harus pergi dari kediaman Uzumaki.
Tidakkah itu kejam? Naruto juga putra dari Kushina. Hanya karena ibunya seorang menantu Uzumaki, bukan bearti Naruto tidak di terima di keluarga Uzumaki, bukan? Tapi para petinggi sialan itu telah menentukan segalanya, jika Naruto adalah tanggung jawab Deidara bukan Kyuubi.
Sasuke menatap wajah Naruto yang masih seperti hari-hari kemarin. Ia merasa bersalah karena menambah penderitaan di dalam hidup bocah itu. Masihkah ia bisa di sebut mempunyai hati? Sasuke meraih tangan Naruto, menidurkan kepalanya di samping tubuh Naruto. Dengan lembut ia mengusapkan jemari Naruto di wajahnya.
"Jika kau mau benar-benar bangun, aku berjanji akan menjagamu." Serunya lirih, "Bukankah kita sudah resmi menikah. Dan itu bearti kau adalah tanggung jawabku. Kau tidak suka ikut Kyuubi, bukan? Aku akan mempertahankanmu agar Kyuubi tidak mengambilmu."
Sasuke tersenyum merasakan halusnya telapak tangan Naruto. Pikirannya menerawang. Membayangkan bagaimana jika keluarganya benar-benar lengkap.
"Tapi kau harus bangun agar Kyuubi tidak bisa membawamu."
Sasuke terdiam lagi. Kali ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari jari-jari Naruto. Ia mengangkat kepalanya pelan dan menatap tangan Naruto. Ia berharap sentuhan tadi bukan hanya imajinasinya. Sasuke terperangan lalu tersenyum. Kebahagiannya benar-benar tidak bisa ia lukiskan kala menatap jemari Naruto yang mulai bergerak. Dengan tidak sabaran ia menekan tombol darurat yang ada di dinding di samping ranjang.
"Tuhan … semoga suamiku benar-benar sadar," do'anya penuh harap.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Orochimaru baru saja keluar dari klub malamnya ketika waktu telah menunjukkan jam 5 pagi. Niat awalnya adalah kembali ke Suna. Namun langkahnya terhenti ketika ia melihat masih ada satu mobil yang terparkir di depan klub miliknya. Ia memanggil salah satu anak buahnya dan bertanya siapa pemilik mobil hitam tersebut. Namun anak buahnya menggeleng tidak tahu.
Orochimaru hanya berpesan untuk menjaga mobil itu sampai ada yang mengambilnya nanti. Lagi-lagi langkahnya terhenti ketika akan masuk ke dalam mobilnya. Ia memperhatikan mobil polisi yang terparkir tidak jauh dari klub miliknya. Dan lagi ia harus memanggil anak buahnya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di gang sempit itu.
"Seorang warga menemukan pemuda yang tengah pingsan," ucap Juugo.
"Pemuda?" Entah kenapa Orochimaru sedikit tertarik dengan hal itu.
"Sepertinya pemuda itu telah mengalami pelecehan. Karena yang saya dengar ia setengah telanjang," jelas Juugo membuat Orochimaru menggelengkan kepalanya. Melakukan pelecehan di tempat yang tidak jauh dari tempat hiburan. Yang benar saja. Ataukah pelakunya sangat miskin hingga tidak berani masuk klub miliknya.
"Tuan!" seru Juugo agak ragu. Ia menatap Orochimaru sejenak dan melanjutkan kalimatnya, "Pemuda itu mempunyai ciri-ciri seperti tamu Anda tadi malam. Berambut pirang dan memakai kemeja putih."
"APA?"
Tanpa mendengar lebih lanjut penjelasan Juugo, Orochimaru berlari ke arah kerumunan orang banyak yang tengah menyaksikan para polisi mengurusi korban yang ia duga adalah Deidara. Ia membatalkan niatnya untuk pulang ke Suna dan lebih memilih untuk melihat apakah pemuda itu adalah Deidara. Ia mempercepat larinya, berharap orang itu bukanlah Deidara. Namun kenyataan berkata lain. Ia mundur beberapa langkah ketika telah sampai di gang sempit itu dan melihat korban itu.
"Dei!" lirihnya sambil menatap tubuh Deidara yang nampak menyedihkan. Tanpa sadar ia berjalan ke arah Deidara. Menerobos para polisi yang mencoba mencegah langkahnya. Ia merengkuh tubuh Deidara dan mencoba menyadarkan pemuda itu namun hasilnya nihil.
"Kenapa kalian hanya diam?" teriak Orochimaru sedikit marah, "cepat panggil ambulans, brengsek. Kau tidak lihat kondisi sepupuku." Lanjutnya asal bicara agar polisi di depannya cepat bertindak dan tidak hanya diam menonton.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Semenjak kepulangan dari rumah sakit, Kyuubi semakin uring-uringan. Ia mengumpat tidak jelas ketika ia mengingat kalimat demi kalimat yang Itachi lontarkan. Ia tidak menjijikkan. Ia tidak kejam. Karena pada kenyataannya, Deidaralah yang membawa Naruto hidup dalam kesengsaraan. Seharusnya Deidaralah yang patut disalahkan, tapi kenapa semua orang seolah memojokkan dirinya. Tanpa ia sadari jika ia lah yang salah.
Jika saja Kyuubi tidak terlalu benci dengan Deidara, mungkin adik sematawayangnya tidak akan menjauh darinya. Jika saja sejak awal ia memberikan Deidara tempat tinggal, mungkin ia tidak akan kehilangan adiknya.. mungkin Naruto tidak harus mengenal penderitaan di Konoha. Akan tetapi Kyuubi terlalu keras kepala. Masihkah ia pantas menyalahkan Deidara?
Kyuubi meraih ponselnya lalu menghubungi Nawaki.
"Paman, atur segalanya untuk merebut Naruto." Katanya tanpa basa-basi lalu menutup telvonnya kembali tanpa menunggu Nawaki berbicara lebih lanjut.
Ia tidak akan membiarkan adiknya hidup dengan orang-orang menjijikkan itu.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Orochimaru menatap tubuh Deidara yang tengah tertidur di ranjang rumah sakit. Sebenarnya siapa yang melakukan hal tersebut kepada Deidara. Orochimaru sedikit menyesal karena meninggalkan Deidara sendiri dalam keadaan mabuk. Harusnya ia menemani Deidara atau setidaknya mengantar pemuda itu pulang. Teringat kata pulang, Orochimaru jadi berpikir tentang keadaan Deidara. Kemana ia bisa menghubungi orang terdekat pemuda tersebut, sementara itu ia tidak tahu dimana Deidara tinggal selama Deidara di Konoha.
"Orochimaru-san bicara apa?" ujar Deidara setelah meneguk gelas kelimanya, "aku malah bahagia karena aku telah menikah dengan Itachi."
Itachi… bukankah Deidara semalam mengatakan jika ia telah menikah dengan Itachi. Tapi bagaimana caranya agar bisa menghubungi Pemuda Uchiha itu, sementara ia tidak mempunyai nomor ponsel Itachi. Orochimaru menghela nafas. Sepertinya ia harus menunda kepulangannya ke Suna.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Sudah hampir dua jam Itachi memutari tempat sekitar rumahnya, berharap ia menemukan Deidara. Tapi pemuda itu tidak nampak sama sekali. Sebenarnya kemana Deidara? Pikiran Itachi semakin kalut. Suaminya tidak pulang semalaman. Bagaimana ia tidak cemas jika mengingat kondisi Deidara kurang baik. Seharusnya ia tidak membuat Deidara marah semalam. Hingga pemuda itu pergi dan tidak kunjung kembali.
Itachi sudah mencari Deidara di tempat Naruto. Namun bukannya menemukan Deidara, ia malah dipertemukan dengan Kyuubi. Kemana lagi ia harus mencari Deidara? Tidak mungkin jika Deidara pergi ke Suna. Ingatannya belum kembali sepenuhnya.
Itachi tersentak ketika ponselnya berbunyi. Ia meraih ponsel tersebut di saku celananya. Ia nampak heran ketika nomor tidak ia kenal tertera di layar ponselnya.
"Iya, Saya Itachi!" jawabnya sopan, ketika dari seberang sana seorang laki-laki menanyakan namanya. Ia mendengarkan dengan seksama penjelasan demi penjelasan dari seberang jika orang tersebut menemukan Deidara.
Itachi nampak terkejut ketika ia mendengar jika Deidara dalam keadaan tidak sadar. Setelah telvon ditutup, ia segera melajukan mobilnya dengan cepat, menuju rumah sakit yang ada di kota Konoha bagian utara. Ada apa lagi ini? Tidak bisakah Deidara hidup tenang sesaat?
.
.
.
To be Continue …
.
Maaf jika penjelasan saya di fanfic ini kurang jelas. Itachi bukan mantannya Kyuubi karena Kyuubi menolak cintanya Itachi dengan alasan Kyuubi straight. Dan masalah ingatan Deidara. Di ingatan Deidara itu tidak ada Sasori yang ada hanya Danna, dan Deidara berpikir jika Danna adalah panggilan untuk Itachi. Ia ingat jika ia pernah bekerja di klub Orochimaru tapi yang ia ingat penyebabnya adalah setelah ia terusir oleh Uzumaki. Ingatan Deidara hanya setengah-setengah, jadi sebagaian ada yang hilang secara acak. Itachi, Deidara dan Kyuubi satu asrama ketika berada di SMP dan SMA, itu sebabnya kenapa Sasuke tidak mengenal Kyuubi. Kyuubi tidak pernah ke rumah Itachi, makanya Sasuke tidak mengetahui Kyuubi.
Maaf saya tidak dapat membalas review kalian. Tapi saya berterima kasih atas review dari kalian. Semoga chapter ini tidak terlalu pendek.
See you …
