Itachi membuka pintu apartement Sasuke dan mengajak Deidara untuk masuk. Mengacuhkan raut wajah gelisah Deidara, ia berjalan ke arah kamar Sasuke. Meski ia agak ragu, tapi ia juga tidak mungkin melewatkan kesempatan yang ada. Ia harus segera mengatakan tentang perasaannya agar tidak kalah cepat Dengan Hidan.

"Masuklah, Dei!" seru Itachi mempersilahkan Deidara untuk masuk ke dalam kamar Sasuke.

Deidara hanya menurut. Ia nampak bingung ketika tidak mendapati Sasuke di kamarnya. Bukankah Sasuke tengah sakit? Jelas-jelas tujuannya datang ke apartement Sasuke adalah untuk menjenguk Sasuke. Ia menoleh ke belakang, mencoba meminta penjelasn Itachi. Namun bukannya mendengar penjelasan Itachi, ia malah merasakan tubuhnya di dorong Itachi hingga terjatuh ke ranjang empuk Sasuke. Ia semakin bingung dengan tingkah Itachi.

"Maaf, Dei!" seru Itachi sembari membalik tubuh Deidara hingga telentang.

Deidara masih tidak mengerti dengan maksud perkataan Itachi, hingga ketika Itachi mencoba menciumnya dengan kasar. Ia baru menyadari jika posisinya sedang tidak baik. Dengan sisa tenaganya ia berusaha mendorong tubuh Itachi.

"Apa maksud semua ini?"

"Aku mencintaimu, Dei?"

"Cinta?" Deidara menghapus saliva yang menetes di sudut bibirnya, "Cinta itu bukan seperti ini, Chi?"

Namun Itachi tidak mau mendengarkan Deidara. Ia berpikir jika dapat meniduri Deidara maka ia bisa mendapatkan Deidara. Ia berusaha untuk menidurkan Deidara kembali, menciumnya dengan kasar hingga tubuh mereka jatuh ke atas kasur empuk itu.

Deidara tidak tinggal diam. Ia bukan wanita. Ia bukan pemuda yang lemah. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera mengarahkan lututnya ke selangkangan Itachi dan menendang dengan keras milik Itachi hingga pemuda itu melepaskan ciumannya dan sibuk kesakitan. Dengan nafas yang terengah-engah Deidara beranjak pergi dari kamar Sasuke. Setelah hari ini ia tidak berharap bertemu Itach lagii.

.

.

.

Naruto Fanfiction

Present

Naruto shippuden © Masashi Kishimoto

Tears © Ran Hime

Twitter: ranhimeuchiha

M rated

Drama, Hurt/Comfort

SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei

Guest: Uzumaki Kyuubi

AU, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.

.

.

.

Chapter 16

.

Itachi berlari di sepanjang koridor rumah sakit. Ia mendapatkan kabar jika Deidara tengah dirawat akibat tidak sadarkan diri setelah mendapatkan pelecehan seksual. Ia menarik nafasnya sebelum membuka pintu di depannya. Baru juga ia berjanji akan menjaga Deidara lebih baik, tapi ia telah kecolongan. Hingga menyebabkan Deidara harus mengalami kejadian itu lagi.

Itachi berjalan mendekati ranjang Deidara. Di sana, di samping ranjang Deidara, Itachi dapat melihat orang yang mungkin telah menolong Deidara. Itachi menahan nafas ketika melihat wajah Deidara sedikit lebam, mengingatkan akan kejadian hari itu di apartemen Sasuke.

"Bagaimana keadaannya?" tanyanya ketika ia telah sampai di samping Deidara.

Pria itu beranjak dari kursinya. Sedangkan iris ularnya masih menatap wajah Deidara yang sedang tertidur. Ia berbalik ke arah Itachi dan memperkenalkan dirinya sebelum menjawab pertanyaan Itachi.

"Soal lukanya, ada baiknya anda bertanya kepada dokter. Saya tidak bisa menjelaskan hal yang berhubungan dengan area privasinya," Orochimaru tersenyum, "sepertinya ia mengalami dehidrasi."

Itachi terus saja menatap wajah Deidara. Siapa yang berani menyentuh orang yang ia cintai? Mengingat sifat ramah Deidara, tidak mungkin jika ia mempunyai musuh.

"Polisi sedang menyelidiki kasus ini." Orochimaru mengambil mantelnya di sandaran kursi dan memakainya, "maaf, saya harus pergi," ujarnya membungkuk lalu melangkah pergi dari kamar Deidara.

Itachi terduduk di kursi. Ia sudah lalai. Untuk kesekian kalinya ia merasa telah membuat Deidara tersakiti. Andai saja ia tidak membuat Deidara berpikir macam-macam, pasti kejadian ini tidak akan terjadi.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Sasuke nampak senang ketika ia melihat Naruto tengah mengerjap. Ia tidak peduli jika wajah stoicnya pudar. Bagaimana bisa ia memasang wajah dingin, sementara Naruto telah melewati masa kritisnya dan telah sadar? Ia tidak henti mengecup punggung tangan Naruto. Dari penuturan Kabuto, Naruto hanya butuh waktu beberapa hari untuk mulai terbiasa menggerakkan tubuh kakunya yang sejenak istirahat itu. Sasuke mengusap kening Naruto dengan lembut.

"Kau ingin sesuatu?" tanyanya ketika ia melihat bola mata Naruto bergerak gelisah.

Sasuke mengikuti arah pandang Naruto yang tertuju pada gelas di atas meja. Ia pun meraih gelas tersebut lalu membantu Naruto untuk meminumkannya. Ia membaringkan Naruto kembali setelah bocah itu telah selesai minum.

"Dei-nii!" serunya lirih untuk pertama kali setelah sadar dari koma.

Sasuke tersenyum maklum. Ia sadar jika Naruto terlalu dekat dengan Deidara ketimbang orang lain. Jadi wajar saja, jika Deidara lah yang pertama kali ia panggil setelah sadar.

"Dei-nii ada dirumah." Jawabnya bohong. Tidak mungkin ia mengatakan jika Deidara tidak diketahui keberadaanya, " sedang menjaga Yuki."

"Yuki?" ujar Naruto sembari menatap Sasuke.

"Iya! Putra kita." Sasuke tersenyum.

Naruto menatap perutnya yang kini telah kembali rata. Ia memegang perutnya mencoba menyakini jika bayinya benar-benar telah lahir. Tidak lama setelah itu ia menatap Sasuke dan berujar, "Benarkah kita akan bercerai?"

Sasuke terkejut mendengar itu. Ia bahkan lupa dengan perjanjian itu. Haruskah perceraian itu terjadi sementara ia mulai menyukai bocah yang hampir sebulan ini menjadi suaminya?

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Tinggal memutar knop pintu, Deidara bisa keluar dari tempat memuakkan itu. Namun belum juga ia memutar knop pintu apartement Sasuke, Itachi telah lebih dulu meraih bahu Deidara dan melayangkan pukulannya di wajah Deidara ketika pemuda itu menoleh ke belakang. Itachi meraih kemeja Deidara dan memukul perut Deidara hingga Deidara terbatuk dan memeluk perutnya. Kini Itachi marah, marah karena miliknya di tendang Deidara dengan kasar.

Itachi mengangkat tubuh Deidara di bahunya. Tidak ada perlawanan, karena Deidara masih mencoba menahan sakit di perutnya. Ia memuntahkan cairan bening ketika merasakan perutnya seperti teraduk. Baru ketika tubuhnya dilempar kembali ke ranjang, ia mencoba melawan pemuda yang ia anggap sahabat tersebut.

Ia menatap horror Itachi ketika pemuda itu melepas sabuknya. Ada apa dengan Itachi? Pemuda itu bilang cinta, tapi Itachi malah hampir membunuhnya. Ia hendak bangkit namun Itachi telah lebih dulu mendorongnya ke ranjang hingga ia telungkap. Deidara menjerit ketika punggungnya terasa nyeri akibat cambukan Itachi. Pemuda Uchiha itu sungguh sudah gila, ketika mencabuknya berulang kali hingga berakhir dengan menyetubuhinya tanpa lelah.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

"Dei, maukah kau menemaniku menjenguk Sasuke di Apartemen-nya?" ujar Itachi sedikit gugup.

Deidara mengerutkan keningnya, "Kenapa dengan Sasuke?"

"Ia pingsan!" ucapnya berbohong.

.

"Kau mau apa?"

"Tentu saja bercinta denganmu." Ujar pemuda beriris onik tersebut sembari membuka kait celanya, "aku sudah lama menyukaimu."

.

"Tanpa kau paksa, mungkin aku akan melakukannya. Tapi bukan sekarang. Bukan seperti ini. Karena aku juga menyukaimu."

.

"Berhentilah dari pekerjaan ini"

"Tapi kenapa?"

"Aku mencintaimu, Dei!"

.

"Maukah kau menikah denganku?"

.

Itachi nampak khawatir ketika sudut mata Deidara nampak mengeluarkan air. Pikirannya menerawang, mencoba menerka apa yang sedang Deidara alami di alam bawah sadarnya hingga Deidara menangis. Ia mengusap air mata tersebut dan memperhatikan wajah Deidara. Perlahan wajah khawatirnya menghilang ketika ia melihat Deidara perlahan membuka matanya. Ia berdiri dan mencondongkan tubuhnya mendekati Deidara.

"Dei!"

"Danna?"

Itachi tersenyum kecut. Sampai kapan ia akan dipanggil dengan pangggilan itu. Ia menghela nafas, menyakinkan bahwa itulah yang terbaik untuk Deidara.

"DANNAAA…" teriak Deidara sembari bangkit. Air matanya kembali mengalir ketika ingatannya tengah memperlihatkan tubuh Sasori yang terpental dan berakhir di dalam dekapannya. Deidara menatap sekelilingnya lalu memperhatikan baju yang tengah ia pakai.

"Dei!"

Deidara masih tidak menyahut panggilan Itachi. Pikirannya sibuk mencerna apa yang sedang terjadi kepada dirinya. Ingatannya kembali berputar, membuat Deidara meremas rambutnya dan memasang wajah kesakitan.

"DANNAAA …." Teriaknya histeris.

Itachi segera memeluk Deidara. Menyakinkan bahwa semua tidak seburuk yang Deidara duga. Mencoba menenangkan Deidara walau ia yakin hal itu tidak akan berhasil dan Deidara semakin memberontak dalam pelukan Itachi.

"Kau brengsek!" umpat Deidara.

Itachi masih tidak peduli akan umpatan Deidara, karena kenyataannya ia memang brengsek. Ia semakin memeluk Deidara dengan erat walau ia sedikit kewalahan.

"Kau brengsek, Chi!" serunya untuk pertama kalinya ia menyebut nama Itachi setelah ia tidak lagi mengucapkan nama Itachi hampir sembilan bulan, "DANNAAA …."

"Maaf, Dei!"

Deidara semakin histeris. Ia merontah dan memukul Itachi dalam pelukan pemuda Uchiha itu. Air matanya terus saja terjatuh ketika ia menyadari Sasori tidak mungkin bersamanya lagi. Bahkan ia ingat jika detak jantung Sasori berhenti sore itu juga setelah melamar dirinya. Deidara terisak ketika menyadari jika kejadian hari itu bukanlah mimpi. Sasori telah meninggal.

"Dei!" Itachi sedikit khawatir ketika tidak ada lagi gerakan dari Deidara. Itachi semakin panik ketika Deidara kembali pingsan dalam pelukannya. Mengingatkan ia pada kejadian sore itu. Itachi segera membaringkan tubuh Deidara ke ranjang dan ia segera menekan tombol darurat yang ada di samping ranjang Deidara.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Kyuubi meremas kertas di depannya. Ia tidak mungkin membiarkan Naruto dalam asuhan Deidara. Pemuda itu tidak berhak atas adiknya sekalipun mereka adalah saudara seayah. Ia yang berhak atas Naruto karena ia lebih bisa menjamin kehidupan adiknya lebih layak dan tentunya lebih baik ketimbang Deidara. Namun nyatanya …

"Pengadilan tidak mau menerima surat pengajuan darimu. Mereka berpikir jika hak asuh Naruto sudah menjadi hak Deidara." Ujar Nawaki mulai khawatir dengan diamnya Kyuubi, "seandainya kau mengajukan banding ketika itu, mungkin Naruto masih bisa kau dapatkan."

Kyuubi tetap diam, tidak berniat menyahut perkataan Nawaki. Dulu … ketika itu? Kyuubi ingin sekali mengumpat atas perkataan pamannya itu. Dulu … siapa dirinya? hanya bocah yang beranjak dewasa dan tidak mempunyai kekuasan apa-apa untuk mengambil Naruto. Ia belum cukup dewasa untuk menjalankan kekuasaan yang akhirnya ia dapatkan sekarang. Kenapa harus dulu? Kenapa sekarang ia tidak bisa mendapatkan adiknya? Ia memang membenci Namikaze, namun tidak termasuk adiknya.

"Berhentilah menyakiti perasaan Naruto, Kyuu! Kau tidak harus membawanya hanya untuk mendapatkan kasih sayangnya." Nawaki terdiam sejenak, "Kau bisa mencoba untuk menyayanginya tanpa harus dia bersamamu."

Kyuubi masih terdiam. Benarkah selama ini ia menyakiti perasaan Naruto? Ia hanya ingin Naruto tidak membencinya dan menyayangi dirinya seperti halnya Naruto menyayangi Deidara. Tidak adil jika ia dibenci sementara Deidara begitu beruntung mendapatkan kasih sayang dari Naruto. Ia dan Deidara sama-sama kakaknya. Ia juga ingin dipanggil kakak dan dipeluk.

"Dia juga membutuhkanmu, namun dia tidak suka jika kau terus berseteru dengan Deidara. Yang ia butuhkan adalah keluarga yang harmonis seperti saat kedua orang tuanya masih hidup."

Haruskah ia berdamai dengan Deidara agar naruto tidak lagi membencinya? Haruskah ia berhenti membenci Deidara agar Naruto bisa bahagia? Haruskah ia menerima saran Nawaki agar Naruto mau memanggilnya kakak? Kyuubi memejamkan matanya.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

"Tidak akan ada perceraian!" ujar Sasuke. Oniknya menatap dalam shapire Naruto. Ia sudah memikirkan hal itu sebelum kelahiran Yuki. Ia tidak akan menceraikan Naruto apapun yang akan terjadi. Ia terlanjur mulai menyukai Naruto. Ia terlanjur menyayangi Naruto. Ia tidak akan menceraikan Naruto demi putranya.

"Yuki butuh ibu?" seru Naruto lirih.

"Kau ibunya. Kau yang melahirkannya."

"Aku-"

Sasuke terdiam. Ia tahu apa yang Naruto maksudkan. Bocah itu masih menyukai wanita. Bocah itu bukan gay seperti dirinya. Bahkan mungkin saja ia masih mengagumi gadis-gadis cantik di sekolahannya dulu. Sasuke mencoba mengerti akan hal itu. Namun mengingat kejadian di penginapan hari itu, Naruto bisa saja menjadi gay sepenuhnya seperti dirinya.

"Aku tahu Naruto." Sasuke berkata setelah Naruto tidak mampu melanjutkan kalimatnya, "Tapi, tidak bisakah kita mencoba untuk membenahi pernikahan kita. Tidak apa-apa Yuki punya dua ayah. Ia akan bahagia selama kita memperhatikannya dengan baik."

"Bukankah Sasu-nii benci Naru?" mata Naruto mulai berkaca-kaca, takut jika kalimat itu membuat Sasuke marah.

Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto dan mengecup kening Naruto sejenak. Ia menegakkan kembali tubuhnya, "Aku telah berubah pikiran," Sasuke tersenyum, "aku pikir aku mulai menyukaimu, jadi-" Sasuke menjeda kalimatnya sebentar, "-bisakah kita tidak lagi membahas soal perceraian?"

Naruto mengerjap sedikit bingung dengan ulah Sasuke. Ia tidak percaya jika di depannya adalah Sasuke. Yang ia tahu Sasuke tidak selembut itu.

"Sasu-nii tidak akan menyiksa Naru, kan?"

"Tidak!"

"Sasu-ni tidak akan- emm-" Naruto nampak berpikir sejenak, pipinya merona memerah ketika sulit mengatakan apa yang ada di pikirannya, "-emmm itu. Sasu-nii tidak akan mengulangi yang waktu itu, kan?"

Sasuke mengernyit bingung. Tidak mengerti dengan maksud perkataan Naruto.

"Tidak akan mengulangi yang waktu di penginapan, kan?"

Sasuke seperti tertohok. Ia tidak mungkin berkata tidak, tapi juga tidak berkata iya. Ia bingung harus menjawab apa. Ia menelan ludahnya sebelum menatap wajah Naruto.

"Kita sudah menikah, Naru!"

Raut wajah Naruto berubah. Sedikit membuat Sasuke kebingungan dengan tangis Naruto yang pecah, "Hiks … Sasu-nii memang benci Naru. Makanya Sasu-nii mau menyakiti Naruto lagi."

Sasuke menepuk jidatnya lalu menghela nafasnya. Bocah tetaplah bocah! Tidakkah Naruto pernah menontot film biru, hingga hal senikmat itu disebut penyiksaan?

"Kita akan bermain lembut."

Ingin rasanya Sasuke membenturkan jidatnya ke dinding saat itu juga. Bagaimana bisa ia diminta untuk tidak menyentuh Naruto sedangkan mereka sudah menikah? Percuma ia menikah dengan Naruto kalau ia harus bermain dengan para mainannya di luaran sana. Ia menutup wajahnya dengan sebelah tangannya. Kenapa ia bisa menikahi bocah ingusan yang belum mengerti apa-apa?

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Deidara mengerjapkan matanya berulang kali, hingga telah terbiasa dengan bias sinar lampu di kamar inapnya. Ia masih berpikir jika ia pingsan akibat kejadian yang merenggut nyawa Sasori. Ia tidak ingat akan pernikahannya. Ia tidak ingat jika adiknya telah melahirkan dan kini telah koma. Ia tidak ingat jika ia datang ke bar dan berakhir pelecehan di gang sempit hari itu. Yang ia ingat, sore itu Sasori melamarnya.

Deidara membangunkan tubuhnya dan memegang kepalanya yang terasa berat. Ia menatap sekeliling ruangan dan menemukan jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Ia merasakan pusing di kepalanya, akibat terlalu lama tertidur. Deidara menuruni ranjangnya dan berjalan ke arah Itachi yang sedang tertidur di sofa di samping pintu. Diraihnya mantel hitam milik Itachi yang tersampir di kepala sofa lalu memakainya asal. Ia memperhatikan wajah lelah Itachi yang sedang tertidur. Ia benci pemuda di depannya itu. Ia menelusuri badan Itachi yang tengah meringkuk – tidur dengan posisi miring. Hingga ditemukan olehnya barang milik Itachi yang sedang ia cari.

Deidara mengulurkan tangannya dan meraih dompet Itachi yang ada di saku celana belakang secara perlahan. Ia membuka dan matanya hampir tidak percaya ketika ia melihat foto wajah dirinya terpampang di sana. Kalimat Itachi pun kembali terngiang.

"Aku sudah lama menyukaimu."

Namun Deidara menggeleng. Itachi tidak mencintai dirinya. Itachi hanya mencintai tubuhnya. Dengan tangan bergetar Deidara mengambil beberapa uang yang Itachi punya. Pagi ini juga ia harus ke Suna dan memastikan tentang keadaan Sasori. Kereta pertama akan berangkat jam lima pagi, jadi ia masih mempunyai waktu untuk ke Stasiun. Ia menaruh dompet Itachi ke atas meja dan memasukkan uang Itachi yang ia ambil ke dalam saku mantel milik Itachi. Setelah itu ia melangkah keluar dari kamarnya, meninggalkan Itachi yang masih nyenyak dalam tidurnya.

.

Deidara menggosok kedua tangannya untuk mengurangi rasa dingin. Stasiun masih nampak sepi dari para penumpang yang akan menggunakan kereta. Ia menegakkan tubuhnya dan menyandarkan tubuh ringkihnya di sandaran kursi penunggu di stasiun. Padahal ia sudah memperkirakan jika kereta akan berangkat ketika ia telah sampai di stasiun, namun nyatanya ia masih harus menunggu kereta datang.

Deidara memperhatikan salju-salju yang turun di depannya. Jika ingatannya tidak salah, maka hari ini adalah hari natal. Bolehkah ia berdo'a dan memohon jika Sasori menyambutnya ketika ia telah sampai di Suna nanti?

Deidara beranjak dari duduknya ketika ia mendengar deru suara kereta yang mulai memasuki stasiun. Dengan perlahan ia mulai naik ke dalam kereta dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Berapa lama ia harus menempuh perjalanan dengan menggunakan kereta? Andai saja ia tidak bermasalah ketika menaiki bus, pasti ia kan memilih bus agar ia tidak terlalu lama menghabiskan waktunya di perjalanan.

Deidara menatap jari manis kirinya, nampak cincin perak tersemat di sana. Ia ingin menangis. Sasori tega kepada dirinya? mengatakan cinta, melamarnya, lalu meninggalkan dirinya sebelum sempat mengucap ikrar pernikahan. Tidakkah itu terlihat kejam. Perlahan air matanya terjatuh. Ia mengusapnya pelan dan mulai mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Salju tidak lagi terlihat ketika kereta meninggalkan kota Konoha.

.

.

.

To be Continue…

.

Seseorang yang amnesia, tidak akan mengingat kejadian yang ia alami selama ia amnesia setelah ingatannya kembali. Itu yang saya tahu. Jadi Deidara tidak ingat jika ia telah menikah dengan Itachi, bahkan Deidara berpikir jika ia terbangun ketika Natal.

Balasan review:

funny bunny blaster: iya Naruto sudah sadar kok, dan Deidara juga sudah kembali ingatannya ^_^

driccha: ini sudah dilanjut

Mizury23: ini sudah saya lanjut

Guest: iya, ini sudah di update

RaFa LLight S.N: kalau hubungan mereka baik mungkin fic ini tidak aka nada heheehe

Itu Dei sudah sadar kok

Angel Muaffi: semoga chap ini bisa menjawab pertanyaan dari Angel-san, hehehe

queenymalf: ini Naruto sudah sadar kok

Yuura Shiraku: Fugaku dan Sai lagi liburan, sementara mereka tidak akan nongol di fic ini, hehehe

B-Rabbit Ai: Jawabannya ada di chapter ini. Semoga bisa mengobati rasa penasaran Rabbit-san

rylietha. kashiva: Kepolisian, kan Orochimaru tidak punya no. Itachi

Ahn Ryuuki: bagaimana lagi, kan untuk mengakhiri Tears, biar happy ending. hehehe

Inez Arimasen: Akhirnya Nez, kaudatang juga. Lamaa aku menunggumu di fic ku

Untuk Kyuubi straigt atau tidak biarlah menjadi rahasianya sendiri hehehe #ditendang.

kazekageashainuzukaasharoyani: iya, ini sudah lanjut

yassir2374: tinggal 3 chapter kok, dan saya masih mencoba menulis endingnya. Saya juga berharap ff ini cepat selesai, hehehe

akara katsuki: Naruto sudah sadar kok n_n

hanazawa kay: Itu Naruto sudah sadar

dwi2: Nanti bisa di lihat di endingnya, hhehe

RisaSano: Kupikir giliran Itachi yang menderita

Saya masih belum menulis chap akhir. Saya masih bingung menentukan. Sad atau happy ending.

Axa Ganger: Ini sudah dilanjut. Makasih atas reviewnya.

Vianycka Hime: Tidak adil rasanya jika Naruto saja yang menderita, hehehe

uzumakinamikazehaki: ini sudah lanjut