Deidara melangkah turun dari kendaraan umum yang membawanya dari stasiun Suna menuju YPA. Ia mengeratkan mantel milik Itachi yang ia pakai, ketika rintik hujan mulai turun. Ia mempercepat langkahnya agar tidak terlalu basah terkena air hujan. Hal yang terlintas dipikirannya saat telah sampai di Suna adalah ia harus menemui nenek Sasori. Ia yakin jika hanya Chiyo yang tidak akan tega membohongi dirinya.

Deidara berlari sepanjang koridor YPA. Tidak dipedulikan olehnya tatapan bingung milik anak-anak kecil yang sedang bermain di sepanjang koridor. Ia terus berlari hingga ketika ia telah sampai di depan sebuah pintu bercat cokelat di depannya. Ia berhenti sejenak, mengatur nafasnya. Dengan perlahan tangannya meraih knop pintu di depannya dan memutarnya. Ia membuka pintu itu hingga terlihatlah wanita tua yang sedang menyaksikah hujan musim dingin. Dengan perlahan, kaki Deidara melangkah ke dalam mendekati Chiyo

Langkah kaki Deidara menggema di dalam ruangan pimpinan YPA itu, membuat Chiyo mengernyit ketika seseorang masuk tanpa permisi. Ia membalikkan badannya, dan membuat dia semakin bingung.

"Dei … kau kah itu?"

.

.

.

Naruto Fanfiction

Present

Naruto shippuden © Masashi Kishimoto

Tears © Ran Hime

Twitter: ranhimeuchiha

M rated

Drama, Hurt/Comfort

SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei

Guest: Uzumaki Kyuubi

AU, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.

.

.

.

Chapter 17

.

Itachi mengerjapkan matanya berulang kali sebelum menggeliat. Ia membuka mata perlahan lalu mendudukkan tubuhnya di sofa yang ia tiduri semalam. Itachi memijat tengkuknya. Tubuhnya serasa sakit akibat tidur di sofa sempit itu. Itachi berdiri dan memandang ranjang dimana Deidara tengah berbaring. Namun matanya memicing ketika tidak didapati olehnya Deidara di sana. Sedikit panik ia berjalan cepat menuju kamar mandi, berharap Deidara di sana.

Itachi membuka pintu kamar mandi perlahan dan mendapati tempat itu kosong. Ia meremas rambutnya frustasi. Sampai kapan Deidara seperti ini? Sampai kapan Deidara suka bermain kucing-kucingan seperti ini? Sedikit cemas, ia berlari keluar dari kamar inap Deidara.

Itachi meraih ponselnya dan segera menghubungi Sasuke. Ia berharap Deidara ada di tempat Sasuke dan sedang mengunjungi Naruto. Itachi mengumpat ketika Sasuke tidak juga mengangkat telvonnya. Itachi terus berusaha menghubungi adiknya tersebut hingga dari seberang sana suara barithon adiknya menjawab.

"Apa Deidara ada di sana?" tanyanya tanpa basa basi.

Itachi langsung menutup sambungan telponnya setelah Sasuke mengatakan jika Deidara tidak ada di tempat Sasuke. Itachi mempercepat larinya keluar dari rumah sakit. Kenapa Deidara selalu membuatnya khawatir? Kenapa Deidara selalu membuatnya panik?

Itachi berhenti di depan gedung rumah sakit. Ia mengatur nafasnya sembari mengamati sekeliling, berharap akan menemukan Deidara di sana. Namun pemuda blonde itu tidak terlihat sama sekali.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

"Nenek Chiyo…" Deidara berlari ke arah Chiyo dan menghambur ke dalam pelukan Chiyo. Ia ingin bertanya tentang Sasori, namun ia tidak dapat menahan tangisnya. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Bahkan Deidara hanya dapat merasakan Chiyo tengah menenangkan dirinya dari balik punggung. Ia mengusap air matanya yang tidak berhenti keluar.

"Dei … kau sendiri?" Deidara hanya diam dengan bahu yang bergetar. Untuk saat ini, biarlah ia terlihat cengeng, "Mana Itachi? Kau datang bersama suamimu, kan?"

Deidara berhenti terisak walau air matanya masih keluar. Ia melepaskan pelukannya dan menatap mata tua yang ada di depannya. Menghiraukan wajah bertanya nenek kekasihnya.

"Dei?"

"Apa maksud perkataan nenek?" Deidara menatap Chiyo meminta penjelasan "aku ke sini untuk melihat Sasori. Lagi pula sejak kapan aku menikah dengan Itachi?"

Chiyo menghela nafas. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan kepada Deidara. Ia senang dengan keadaan Deidara yang telah mengingat lagi semuanya. Tapi ia sedih ketika Deidara harus kehilangan kenangan pernikahannya dengan Itachi.

Perlahan Chiyo menjelaskan semuanya. Tentang apa yang terjadi selama Deidara kehilangan ingatan setelah kecelakaan Sasori. Ia mengerti tentang perasaan Deidara. Sekejam apapun kenyataan yang Deidara ketahui, namun itulah yang terbaik bagi Deidara.

"Dei!" Chiyo menatap khawatir Deidara. Ia ikut menurunkan badannya untuk kembali memeluk Deidara yang tengah bersimpuh di lantai sesaat mendengarkan cerita dari dirinya.

"Ini yang terbaik bagimu. Itachi pemuda yang baik," Chiyo mengalihkan pandangannya dari Deidara, "ia pasti bisa menjagamu seperti Sasori selalu menjagamu. Ia pasti bisa mencintaimu setulus Sasori mencintaimu."

Deiadara hanya terdiam. Kenapa semua harus seperti ini. Chiyo tidak tahu apa-apa tentang Itachi. Nenek tua itu tidak tahu seberapa menderita Deidara karena Itachi. Dan Chiyo tidak tahu jika Itachi ikut andil dalam kecelakaan Sasori. Tanpa Deidara sadari, jika Chiyo mampu menerima kematian cucunya karena kecelakaan.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Kyuubi berhenti di depan pintu kamar inap Naruto. Demi Naruto, ia akan berdamai dengan Deidara. Demi Naruto, ia akan mencoba untuk tidak membenci Namikaze, karena bagaimana pun adiknya adalah putra dari Minato bersama ibunya. Dengan perlahan ia membuka pintu di depannya dan masuk.

"Naruto!" seru Kyuubi membulatkan matanya.

.

.

"Naruto!" Tubuh Naruto bergetar ketika ia mendengar suara yang lama tidak pernah lagi ia dengar. Ia menoleh ke arah pintu dan ternyata dugaannya benar. Kakak yang telah lama tidak ia lihat kini berjalan ke arah Naruto. Ia menggeser tubuhnya mendekati Sasuke. Ia meremas tangan Sasuke, takut jika ia dipaksa lagi untuk ikut kakaknya itu.

"Per-gi!" ujarnya terbata, "aku tidak mau bertemu denganmu," ia menaikkan nada suaranya, "Sasu-nii … suruh orang itu pergi. Dia mau memisahkan aku dengan Dei-nii."

Sasuke memeluk tubuh Naruto, berusaha menenangkan bocah itu. Ia tidak mungkin mengusir Kyuubi, sementara Kyuubi juga ingin memeluk adiknya.

"Tenanglah, Naruto! Kakakmu hanya ingin bertemu denganmu."

"Tapi orang itu yang membuat Dei-nii menderita."

Kyuubi menelan ludahnya paksa. Setelah empat tahun berlalu, haruskah adiknya tetap membencinya seperti itu. Ia menatap Sasuke, seolah meminta waktu untuk berbicara berdua dengan adiknya.

"Aku akan memberikan waktu untuk kau dan kakakmu berbicara!" seru Sasuke sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Naruto.

"Sasu-nii di sini saja!"

"Aku akan menunggu di luar, kalau kau butuh aku, aku pasti datang." Ia tersenyum kepada Naruto hingga bocah itu mau melepaskan tangan Sasuke. Setelah itu Sasuke berjalan keluar dari kamar.

Kyuubi berjalan ke arah samping ranjang Naruto, setelah Sasuke tidak lagi terlihat di pintu. Ia ingin sekali memeluk Naruto, tapi ia takut mendapatkan penolakan. Ia menatap adiknya yang menunduk sembari meremas selimutnya. Ia meraih kursi lalu mendudukkan tubuhnya di sana.

"Kakak merindukanmu, Naruto!"

Tidak ada jawaban, Naruto hanya diam meremas selimutnya.

"Tidakkah kau ingin memeluk kakak? Sudah lama kakak mencarimu, namun Dei-"

"Jangan menyalahkan Dei-nii terus. Dei-nii sayang Naru."

Kyuubi merasa tertohok mendengar kalimat Naruto. Ia bukan ingin bilang Deidara salah. Ia hanya ingin bilang jika Deidara telah membawanya pindah ke Konoha.

Kyuubi bangkit dari kursi lalu memberanikan dirinya untuk duduk di tepi ranjang Naruto seperti yang sasuke lakukan. Ia meraih puncak kepala Naruto dan mengelusnya perlahan. Ia tersenyum ketika tidak ada perlawanan dari Naruto.

"Aniki tidak pernah membenci Dei-nii," katanya masih dengan mengelus puncak kepala Naruto, "harusnya kau tahu, kakak ikut mereka karena kakak ingin kau juga bisa ikut suatu hari nanti."

"Aku tidak mau pergi jika Dei-nii tidak ikut."

"Kau tidak mendengarkan penjelasan kakak dulu, makanya kau tidak tahu jika kakak juga ingin kita tinggal bertiga, seperti keluarga."

"Kau bilang Dei-nii bukan kakakmu?"

"Bukan begitu Naruto?"

Kyuubi dapat merasakan tubuh adiknya bergetar. Tanpa sadar ia memeluk tubuh ringkih adiknya. Ingin rasanya ia tertawa miris ketika merasakan tubuh adiknya begitu kurus. Padahal kalau ia tidak salah ingat, dulu Naruto begitu gemuk. Tapi sekarang? Ia ingin menyalahkan Deidara, namun ketika ia teringat perkataan Nawaki, rasanya ia lah yang salah. Seandainya saja, ia tetap mempertahankan Naruto dan tidak egois, pasti adiknya masih gemuk seperti dulu.

"Kakak dan Dei-nii memang bukan saudara kandung, makanya kakak bilang Dei-nii bukan kakakku." Kyuubi terdiam sebentar, "kakak datang untuk menjemputmu-"

"Naru tidak mau berpisah dengan Dei-nii." Potong Naruro cepat. Ia menggeleng dalam pelukan Kyuubi lalu meronta, "kau pergi saja. Aku cuma butuh Dei-nii."

"Dengar kan, kakak!" Kyuubi memegang kedua bahu Naruto ketika pandangan mereka bertemu, "kakak juga menjemput Dei-nii agar kita bertiga bisa seperti dulu. Kakak mengaku salah karena membuat Dei-nii seperti itu. Kakak tidak ingin kau membenciku terus. Apapun akan kakak lakukan agar kau tidak marah, agar Dei-nii tidak lagi harus bekerja keras untukmu."

"Kau menghina Dei-nii. Walau harus tinggal di jalanan, tapi Dei-nii masih bisa memberi Naru makan."

Kyuu menatap Naruto dalam. Adiknya memang keras kepala seperti halnya ia dan ibunya. ia menarik nafas sejenak, mengingat setiap perkataan Nawaki. Ia harus menahan emosinya.

"Kakak tidak menghina Dei-nii. Tapi kakak hanya ingin Dei-nii istirahat. Biar kakak yang menggantikan Dei-nii. Kakak juga sayang dengan Dei-nii seperti kau menyayangi Dei-nii."

"Kau bohong!" lirih Narito mulai bergetar. Ia kembali meremas selimut yang menutupi tubuh bawahnya, "kau bohong! Kau tidak pernah sayang Dei-nii."

"Harus dengan apa kakak membuktikannya, Naruto. Kakak lelah jika harus bertengkar dengan Dei-nii. Pasti ayah dan ibu juga menderita di sana melihat kita seperti ini." Kyuubi kembali memeluk Naruto.

"Kau yang memulainya."

"Iya, kakak yang salah, karena itu kakak minta maaf. Kakak akan mencoba menjadi adik yang baik untuk Dei-nii. Kakak tidak akan lagi bertengkar dengan Dei-nii asal kau mau memaafkan kakak."

Naruto terisak mendengar kalimat Kyuubi. Andai saja, kakaknya berkata seperti itu sejak dulu, pasti ia dan Deidara tidak harus semenderita ini. Kenapa kakaknya harus datang terlambat?

"Kyuu-nii!" ujarnya lirih dan masih dapat didengar oleh Kyuubi.

Kyuubi tersenyum ketika pelukannya dibalas oleh Naruto. Namun ia sadar jika semua belumlah usai sebelum ia bertemu Deidara.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Deidara berjalan gontai menuju kamar Itachi. Ia mengacuhkan setiap pelayan yang menunduk hormat ketika berpapasan dengannya. Pikirannya kosong. Tubuhnya lelah setelah menangis berjam-jam di makam Sasori. Bahkan ia tidak peduli tubuhnya telah basah kuyup. Ia masih tidak percaya jika ia harus berpisah dengan Sasori secepat itu.

Dengan sisa tenaga yang masih Deidara punya, ia melangkah memasuki kamar Itachi. Ia ingin memastikan jika apa yang nenek Chiyo katakan hanyalah kebohongan. Namun sebuah Photo pernikahan berukuran besar yang terpajang di kamar Itachi menjawab semuanya. Deidara tidak percaya akan hal itu, walau amat jelas Photo itu nampak bukan seperti rekayasa. Deidara menggeleng, tanpa ia sadari langkahnya mundur dan ia jatuh terduduk di atas lantai.

Deidara berteriak sekuat yang ia bisa. Ia meyakini jika ia tidak pernah menikah dengan Itachi. Tidak dan mungkin tidak akan pernah. Ia menghapus air matanya dan berjalan kembali ke arah pigura yang terpajang itu. Ia meraih pigura itu dan membantingnya ke lantai hingga pecah. Semua itu bohong. Ia menjerit lagi, berpikir jika suaranya akan habis dan mati. Ia hanya ingin bertemu Sasori. Seseorang yang ia anggap lebih baik dari malaikat.

'Tuhan … bisakah aku bersama Sasori di kehidupan lain?"

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Itachi memijat tengkuknya yang lelah. Seharian ia mencari Deidara, namun hasilnya mengecewakan. Ia hampir putus asa ketika ia tidak juga menemukan Deidara di YPA. Deidara telah lebih dulu pergi sebelum ia sampai, bahkan di makam sasori, ia juga tidak menemukan Deidara. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas. Hal yang harus ia lakukan adalah mengganti bajunya yang basah karena terkena hujan di Suna, lalu melanjutkan lagi pencarian Deidara. Ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan mengigat tubuh Deidara masih belumlah sembuh.

"Maaf, tuan muda!" ujar salah satu pelayan di kediaman Uchiha, membuat langkah Itachi terhenti. Ia nampak khawatir menatap Itachi, "tuan muda Deidara sedari tadi berteriak di kamar anda."

Tanpa menjawab, Itachi segera berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Ia tidak tahu harus senang atau khawatir ketika ia menemukan Deidara tengah berbaring di ranjang kamarnya. Ia memperhatikan keadaanya kamarnya yang berantakan. Bahkan ia ingin tertawa melihat photo pernikahannya telah hancur di sobek Deidara. Masihkan ia bisa berharap Deidara akan selalu untuknya, sekarang ataupun di kehidupan mendatang?

Itachi melangkah mendekati Deidara dan duduk di lantai. Bersandar pada ranjangnya, membelakangi Deidara. Tidak ada suara apapun dari Deidara, walau ia yakin orang yang dicintainya itu habis menangis dan menyadari kedatangnnya.

"Kau pasti semakin muak denganku, bukan?" Itachi mengawali pembicaraan, "maka dari itu aku tidak akan menampakkan wajahku agar kau tidak semakin membenciku."

Tidak ada sahutan. Itachi melanjutkan kalimatnya, "Sore itu kau terbangun lalu memanggilku Danna. Kupikir ada baiknya untuk kesehatanmu, aku mengikuti semua apa yang ada diingatanmu. Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Aku tidak bermaksud untuk memanfaatkan ingatanmu."

Itachi kembali terdiam. Jujur saja ia tidak terbiasa berbicara panjang lebar seperti ini. Tapi dia harus menjelaskan segalanya kepada Deidara. Setelah itu ia tidak peduli dengan keputusan Deidara.

"Lalu kita pun menikah karena kau berpikir jika kita telah bertunangan." Itachi menunduk mengusap air matanya yang tiba-tiba terjatuh, "di malam pertama kita, aku tidak berani menyentuhmu, karena aku takut kau terluka lagi, tapi kau beranggapan lain. kau pergi meninggalkan malam pertama kita, lalu aku menemukanmu di rumah sakit karena kecelakaan."

Tetap tidak ada satu kalimat pun yang terucap dari bibir Deidara. Ia lelah akan hidupnya. Jika boleh memilih, ia ingin mati saja. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk ke akhirat. Kenapa malaikat maut begitu lama dalam menjemputnya. Kesadarannya mulai menepis. Ia yakin jika ia telah kehilangan banyak darah akibat pergelangan tangannya yang tersayat.

"Danna!" ujarnya lirih dengan isakan, namun Itachi masih bisa mendengarnya.

"Kau ingin aku jadi Sasori? aku akan melakukannya asal kau tidak lagi membenciku. Aku bisa memotong rambutku dan mengecatnya. Aku akan memakai lens seperi iris Sasori agar kau bisa tetap bahagia dan beranggapan bahwa Sasori masih hidup. Ku mohon Dei, jangan seperti ini. Bukan hanya aku yang membutuhkanmu, tapi Naruto juga."

Air mata Deidara mengalir. Kenapa ia begitu mudah melupakan keberadaan adiknya yang selalu membutuhkan dirinya. Deidara menutup mata. Ia rasa ia tidak bisa mundur sementara nafasnya mulai berat.

Awalnya Itachi berpikir jika Deidara tidak mau berbicara dengan dirinya, namun pikirannya berubah ketika tidak ada lagi suara isak tangis dari bibir Deidara. Ia bangun lalu berbalik menatap tubuh kurus Deidara. Matannya memicing melihat wajah pucat Deidara. Ia membungkuk dan memegang bahu Deidara.

"Dei!" serunya semakin khawatir karena Deidara tidak bereaksi sama sekali. Ia meraih tangan kanan Deidara. Betapa terkejutnya ia ketika melihat bedcover berwarna biru miliknya berubah warna. Ia semakin panik dan membopong tubuh Deidara. Ia harus membawa Deidara ke rumah sakit.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Sasuke merasa bosan ketika harus menunggu di luar kamar Naruto. Ia pun memutuskan untuk pergi ke kantin rumah sakit. Di saat musim dingin seperti ini, rasanya akan enak jika ia menikmati kopi panas. Niat awalnya memang pergi ke kantin, namun langkahnya terhenti ketika ia melihat kakaknya tengah mendorong ranjang dorong bersama beberapa perawat. Ia mempercepat langkahnya menuju Itachi. Ia pun dapat melihat wajah pucat Deidara. Walau ia pernah membenci Deidara, akan tetapi ia tidak berharap terjadi hal yang buruk kepada kakak iparnya itu.

"Aniki!" ujarnya ketika mereka menunggu Deidara di bangku penunggu di depan ruang ICU.

Itachi tetap menunduk. Ia tidak berharap Sasuke memandang wajah menyedihkannya, "Ingatannya telah kembali," ujarnya menjelaskan rasa penasaran Sasuke, "lalu dia melihat photo pernikahan kami, setelah itu ia mencoba bunuh diri."

Sasuke memegang bahu kakaknya. Ia mencoba meyakinkan kakaknya jika semua akan baik-baik saja. Jika akhir kisahnya saja bahagia, tidak menutup kemungkinan jika akhir perseteruan kakaknya dengan Deidara akan bahagia juga.

"Deidara kuat, ia pasti bisa melewati masa kritisnya." Serunya sambil tersenyum. Untuk saat ini, saling menyemangati adalah hal yang terpenting. Apalagi ia tidak mungkin terus-terus menambah beban ayahnya yang sedang berobat di luar negeri bersama kakak pertamanya.

"Iya! Semoga saja!"

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Sasuke kembali ke kamar Naruto setelah ia meninggalkan kakaknya bersama Deidara. Ia dapat melihat Naruto tertidur lagi setelah pertemuan dengan kakaknya yang lain. sasuke berjalan mendekati Naruto lalu duduk di kursi yang biasa ia gunakan ketika menunggu Naruto. Ia tersenyum melihat Naruto tengah lelap dalam tidurnya. Padahal ia tidak begitu lama meninggalkan bocah itu. Naruto memang masih butuh banyak waktu untuk istirahat.

Ia teringat akan Deidara. Ia ragu apakah ia harus menyampaikan keadaan Deidara kepada Naruto atau tidak. Ia takut jika berita tentang Deidara akan membuat keadaan Naruto menjadi kurang baik kembali. Ia memandang lagi wajah Naruto. Mungkin sebaiknya ia memang memberitahukan keadaan Deidara. Tapi nanti, setelah Naruto bangun.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Cobaan satu persatu menimpa kehidupannya hanya karena satu kesalahan. Andai saja ia bisa memutar waktu, pasti Itachi akan memanfaatkan waktunya dengan baik. Ia tidak akan mencoba hal yang berakibat buruk pada kehidupannya nanti. Namun sayang, semua tidak bisa berputar mundur.

Deidara masih tertidur setelah berhasil melewati masa kritisnya. Itachi bersyukur karena ternyata Tuhan tidak mengambil Deidara. Mungkinkah itu artinya Tuhan mempercayakan Deidara untuk ia jaga. Ia memperhatikan Deidara. Lebam di wajahnya sedikit memudar. Ia sedikit menggeram marah ketika ia mengingat hal yang menimpa Deidara. Polisi terlalu lamban dalam menangani kasus tersebut. Apalagi ia yakin jika Deidara tidak akan mengingat kejadian itu setelah ingatannya kembali. Tapi ia juga bersyukur akan hal itu, karena dengan itu kenangan buruk itu tidak akan menghantui Deidara.

"Danna?" serunya lirih membuat Itachi kembali cemberut.

Ia tidak marah jika Deidara tidak akan bisa melupakan sasori, tapi tidak bisakah jika ia juga berada di hati Deidara. Karena ia yakin, jauh di lubuk hati Deidara, masih ada cinta untuknya.

Itachi bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke arah meja yang ada di dekat ranjang Deidara, memandang pisau buah yang ada di samping tumpukan buah pemberian Sasuke. Ia memandang pisau tajam itu. Berpikir jika dengan memotong rambutnya akan membuat Deidara percaya jika ia memang benar-benar mencintai Deidara.

Itachi meraih rambutnya lalu melayangkan pisau itu untuk memotong rambutnya, namun gerakan tangannya terhenti ketika suara seseorang yang membuat ia sedikit kaget.

"Apa yang kau lakukan."

.

.

Deidara mengerang sakit. Kepalanya terasa pusing akibat kekurangan darah. Bahkan pandangannya sedikit mengabur ketika ia menatap ke sekeliling. Sempat berpikir jika ia telah mati. Namun pikiran itu ia tepis karena ia masih bisa merasakan pusing dan sakit. Deidara mencoba bangkit dari duduknya. Matanya mengerjap berulang kali sampai ia dapat melihat dengan jelas,. Ia mengernyit ketika melihat sosok berambut panjamg tengah mengarahkan pisau ke rambut yang dipegang oleh orang tersebut.

"Apa yang kau lakukan?" serunya membuat Itachi sedikit terkejut.

Deidara dapat melihat ekspresi datar wajah Itachi ketika pemuda itu berbalik dan pandangan mereka bertemu. Deidara mencoba bangkit dari ranjangnya dan berjalan gontai mendekati Itachi.

"Kau tidak akan bisa menjadi Sasori. Apapun yang kau lakukan tidak akan bisa membuatmu menjadi Sasori," ujarnya dingin. Deidara berusaha meraih pisau dari tangan Itachi, namun Itachi tidak membiarkan hal itu. Deidara terus mencoba agar mendapatkan pisau itu namun Itachi mencegahnya. Pemuda itu tidak akan membiarkan Deidara bertindak bodoh lagi.

"Berikan pisaunya!" seru Deidara sedikit geram. Kepalanya kembali berkunang-kunang akibat terlalu lama berdiri. Namun Itachi tidak membiarkan dirinya mendapatkan pisau itu.

Sret

Deidara terkejut melihat pisau itu menggores pipi mulus di depannya. Tanpa sadar ia melepaskan pisau yang telah ada di genggamannya. Dengan pandangan nanar ia menyentuh pipi Itachi yang terluka. Dengan badan yang bergetar ia melihat tangannya terkena darah Itachi. Ia mundur beberapa langkah hingga terjatuh terduduk di ranjangnya. Ia terus saja memandangi jarinya yang nampak merah tersebut.

Itachi menyentuh pipinya yang sedikit perih itu, lalu menatap darah yang menempel di jarinya. Ia megalihkan pandangannya ke arah Deidara. Ia dapat melihat tubuh gemetar Deidara. Deidara menunduk dengan kedua tangannya yang menutupi wajahnya lalu perlahan terisak. Itachi berjalan mendekati Deidara dan bersimpuh di depan Deidara.

"Dei!" serunya sembari memegang kedua lutut Deidara yang bergetar, "maafkan aku." Untuk kesekian kalinya ia mengucapkan kalimat itu, walau ia sadari kalimat itu tidak akan bisa mengembalikan Sasori ke dunia.

"Kenapa?" tanya Deidara. Ia membuka tangannya lalu memandang ke bawah. Ia dapat melihat ekspresi wajah Itachi yang seolah meminta maaf, "kenapa kau lakukan hal itu?" lanjutnya dengan suara parau.

"Aku tidak ingin melihatmu seperti ini." Itachi meraih tangan Deidara dan menggenggam tangan tersebut, "aku hanya ingin melihat wajah ceriamu yang dulu. Melihat Deidara yang kuat dan tidak takut akan kepahitan hidup." Itachi menegakkan badannya, meraih pipi mulus Deidara lalu menghapus air mata Deidara dengan lembut, "aku ingin kau menjadi pemuda tangguh yang selalu aku cintai."

"Kau tidak pantas bersamaku. Aku bahkan seorang mantan gigolo." Deidara mengerjapkan matanya perlahan.

Itachi menggeleng pelan. "Maaf, aku telah membuatmu menderita selama ini."

"Berhentilah meminta maaf!" Deidara mencoba tertawa, namun tangis yang malah keluar, "kau seperti bukan Uchiha Itachi saja!"

"Dei!"

"Aku masih mencintai Sasori!"

"Tak apa!"

"Kau hanya akan sakit hati!"

"Asal kau mau memaafkanku dan luka hatimu bisa sembuh!"

"Semua butuh waktu."

"Aku akan menunggu!"

"Kau keras kepala!"

"Tapi aku mencintaimu!"

"Aku juga masih mencintaimu!"

Mata Itachi terbelalak ketika mendengar kalimat terakhir Deidara.

"Dei!" ujarnya bangkit lalu memeluk Deidara. Itachi begitu senang sampai tidak dapat berkata apa-apa. Akhirnya Tuhan mengabulkan do'anya agar bisa bersama Deidara kembali. Ia memeluk erat Deidara dan tidak ingin melepaskan pemuda itu.

"Kenapa kamar ini semakin gelap!"

Itachi terdiam mendengar kalimat itu. Bola matanya bergerak gelisah menatap jendela di depannya. Hujan salju telah berhenti sejak semalam. Bahkan cuaca di luar sana terlihat terang, cahayanya hingga masuk ke dalam ruangan yang mereka tempati. Lalu kenapa Deidara bilang jika kamar tempatnya di rawat menjadi gelap.

"Dei!"

Namun tidak ada jawaban. Itachi semakin cemas karena tidak ada jawaban dari Deidara. Tidak mungkin jika Deidara kembali kritis. Karena dokter bilang, jika Deidara mampu melewati masa kritisnya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Dei!"

Itachi terkejut melihat tubuh lemas Deidara. Wajah yang pucat dengan mata tertutup.

.

.

.

To be Continue…

.

Saya minta maaf karena tidak dapat membalas Review kalian. Dan saya juga minta maaf karena untuk chap akhirnya, saya tidak bisa update dengan cepat karena saya sibuk dengan urusan duta. Saya mohon pengertiannya agar tidak meminta untuk update cepat. Sekali lagi saya minta maaf yang sebesar-besarnya.

See You...