From Now, Tomorrow and Forever

Naruto © Masashi Kishimoto

Permen Caca and Karikazuka proudly present

NaruHina Fanfiction

AU

Enjoy for the Fiction!

.

.

.

Aku suka, suka suka.

Jadi, apakah aku boleh masuk ke dalam hatimu, Naruto-kun?

.

.

.

Dibandingkan sebuah puding custard yang menawan, Hinata lebih menyukai jeli kenyal berasa jeruk. Jeli yang padat sekaligus lembut di lidahnya itu bisa membuat dirinya mengecap perasanya berkali-kali.

Puding custard memang enak, tapi terlalu mewah baginya. Jeli jeruklah yang simpel, namun menggoda hatinya untuk mengambil semua yang ada di dalam lemari esnya.

Tapi tidak untuk sekarang. Ia memang ingin makan jeli, tapi ini bukan saat yang tepat.

Naruto, Naruto meng-SMS dirinya!

Demi Tuhan, apakah ini mimpi? Ini nyata, kan? SMS itu nyata, kan?

Hinata yang sudah berbaring nyaman di atas tempat tidurnya meraih ponsel yang tengah tergeletak di samping bantalnya.

Aku Naruto Uzumaki. Aku diberi nomor sama temanmu. Kita kenalan? :3

Hinata memajukan wajahnya di depan layar ponsel itu sambil membesarkan matanya. Takut-takut ia salah baca atau apa.

"Aku ... Naruto U-Uzumaki," gumamnya sambil terus membaca pesan singkat yang ada di depan matanya. Ia melanjutkan dengan suara terbata dan nada yang kaget bercampur bahagia,

"A-aku diberi nomor sama temanmu ... Kita ... Ke-Kenalan?"

Sungguh tiga kalimat yang membuat Hinata ingin segera berteriak di atas ranjangnya dan berputar indah di atas sana. Sayangnya ia takut dimarahi papa. Papanya pasti marah kalau dia melakukan hal itu.

Jadi ia cuma bisa mengatupkan matanya rapat-rapat sambil menggigit bantal yang ada di tangannya untuk meredam rasa senangnya yang tak terkira. Masa bodoh dengan les merangkai bunga yang sudah terlambat setengah jam lebih dari tadi.

Dengan tangan bergetar ia membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh pujaan hatinya dengan wajah memerah sempurna.

To: xxxx-xxxxxx

Naruto Uzumaki? Tentu boleh... :D

Tunggu dulu. Kok rasanya SMS-nya genit ya?

Hinata segera menghapus SMS yang hendak ia kirimkan dan menggantinya dengan ketikan yang baru. Jangan sampai Naruto menganggapnya perempuan genit hanya karena SMS.

To: xxxx-xxxxxx

Naruto-kun, ya? Boleh, kok... :D

Kali ini Hinata memandangi SMS yang ia ketikkan beberapa lama. Sepertinya yang kali ini malah seperti sok akrab. Jadi Hinata menghapusnya lagi dan mengetik yang baru.

To: xxxc-xxxxxx

Naruto Uzumaki? Boleh... Salam kenal... :)

.

.

.

Hinata memeluk tas sekolahnya di depan dadanya dengan wajah memerah. Hari ini, hari ini ia masuk sekolah dan pastinya bertemu dengan Naruto.

Kemarin memang sih, dia dengan Naruto sudah SMS macam-macam. Sudah saling tanya kelas, hobi dan klub yang diikuti.

TAPI 'KAN YA, MALUUUU!

Hinata tidak tahu apa yang akan ia katakan nanti jika sudah bertatap muka dengan Naruto. Duuuuh, bisa pingsan dia karena kehabisan napas.

Bagaimana tidak? Naruto itu cowok ter-kece yang pernah ia lihat! Memang sih, ada Sasuke yang juga ganteng. Tapi Naruto beda! Naruto ini ganteng campur kece bagi Hinata.

Bisa lihat? Naruto punya kulit seseksi orang-orang di pantai yang suka berselancar dengan papan luncurnya, punya mata sebiru lautan antartika, punya senyum secerah mentari. Hinata yakin Naruto sering olah raga hingga bentuk tubuhnya tinggi tegap nan atletis yang berbalut seragam sekolah.

Blush!

Cukup, wajah Hinata jadi merah sekarang. Gadis itu segera menepuk-nepukkan pipinya dan berjalan pelan-pelan memasuki koridor sekolahnya.

Antara pengen ketemu Naruto dan gak pengen ketemu Naruto, nih.

Saat gadis manis itu sedang sibuk dengan fantasinya, orang yang sejak tadi—kemarin maksudnya—ia pikirkan berjalan mendekat ke arahnya. Mata Hinata membelalak sekilas dan ia memelankan langkahnya seketika.

'Na-Naruto-kun!' teriak Hinata dalam hati ketika Naruto makin mendekat. Lelaki itu sedang bercanda-canda dengan Sasuke, yang jelas-jelas sama sekali tidak menanggapi candaannya.

Diam-diam Hinata mem-blacklist Sasuke karena sudah tega mengabaikan Naruto tercintanya. Jahat sekali lelaki es itu.

Saat itu, koridor sedang ramai dengan murid-murid yang enak-enak berbincang, berjalan dan makan-makan snack di pojokan. Naruto dan Hinata jadi terasa begitu jauh. Seperti ada dinding kasat mata yang membatasi mereka.

Saat itu, saat Hinata melirik diam-diam Naruto yang makin mendekat ke arahnya dan Naruto yang masih saja mencoba mengajak Sasuke bicara entah apa topiknya, hanya terlewatkan begitu saja.

Lelaki itu bahkan tidak menoleh maupun menyadari keberadaan Hinata yang hanya beberapa jengkal dari pucuk lengannya. Ia terus berjalan dan itu membuat Hinata kecewa.

Gadis itu menggingit bibir menahan rasa sedihnya. "Benar juga, kita 'kan cuma kenal lewat SMS ..." batin Hinata galau. Dengan bibir yang masih setia ia gigit, gadis itu melangkah maju, membawa kekecewaan dan sedih yang menimpa dirinya.

"Eh?"

Hinata berhenti seketika saat mendengar sebuah suara terkejut dari arah belakang. Jelas-jelas itu suara Naruto. Gadis itu termakan rasa penasaran dan akhirnya menoleh.

Di sana ia langsung disuguhi wajah surprise Naruto plus sebuah telunjuk yang mengacung padanya. Hinata mendadak berdebar-debar.

"Hinata, ya?" panggil Naruto sambil melambaikan tangan singkat pada Hinata yang tengah memeluk erat tas sekolahnya. "Manis," celetuknya dengan cengiran lima jari andalannya.

Deg Deg Deg

'A-apa y-yang Na-Naruto-kun bi-bilang tadiiiiiii?!' inner Hinata berteriak jejeritan di dalam tubuhnya. Wajahnya memerah sempurna kala itu.

"Duluan, ya!" kata Naruto sambil tersenyum riang, sebelum Hinata sempat mencerna semua kata-kata yang dilontarkan Naruto pada dirinya. Batinnya meloncat-loncat gembira tiada terkira.

"Woy, denger itu? Naruto bilang Hinata manis!" celetuk Kiba yang muncul begitu saja dari kelas yang tidak jauh dari sana. Lelaki itu awalnya ingin jajan ke kantin tapi kegiatannya terhenti saat mendengar ucapan Naruto. "Cieeee, tanda-tanda niiih!"

"Cieeeeeee!"

"Suiiit suiiiiit!"

"Ihir ihiiiir!"

"Woy apaan coba!" Naruto mengelak dengan wajah kesal. Namun tak bisa dielakkan, semburat tipis merah muda bertengger manis di pipinya. Lelaki itu sekilas melirik Hinata yang masih berdiri mematung di tengah koridor dengan wajah salah tingkah.

Sayangnya Hinata tidak jauh beda dengannya. Gadis itu seluruh wajahnya berwarna merah menyala dan bibirnya terbuka sedikit. Gadis itu malah lebih parah.

.

.

.

Sudah lima jam berlalu sejak kejadian tadi pagi, Hinata masih belum bisa menghilangkan semburat merah di kedua belah pipi tembemnya. Sepanjang pelajaran tidak ia ikuti sepenuh hati karena terlalu terpaku pada hal lain.

'Naruto-kun, di-dia bilang a-aku manis ...' gumam Hinata dalam hati. Saat itu, pipinya memerah lagi.

Untung gurunya bukan tipe segalak Orochi-sensei, jadi Hinata aman. Sensei yang satu ini lebih memilih menghabiskan jam mengajarnya dengan membaca buku oranye yang entah apa isinya.

'Naruto-kun ...' batin Hinata membayangkan wajah Naruto yang tersenyum ceria sambil melambaikan tangan padanya. Ingin rasanya Hinata meleleh saat itu juga di bangkunya.

"Hyuuga-san, saya persilahkan maju."

"Hinata-chan, ayo maju ke pelaminan bersamaku."

'Na-Naruto-kun, di-dia dia ...' Hinata tak mampu berkata-kata. Suaranya tercekat antara kaget sekaligus haru.

"Hyuuga-san."

"Hinata-chan."

"I-iya ..." Hinata menjawab dengan terbata-bata.

"Hyuuga-san! Berdiri dan kerjakan soal di depan."

Uh-oh.

Ternyata sedari tadi yang bicara padanya bukan Naruto, tapi Kakashi-sensei. Hinata berdiri dengan tergagap-gagap diiringi tatapan kawan-kawan sekelasnya yang sedikit geli. Bisa-bisanya dia berkhayal Naruto melamarnya di tengah siang bolong seperti ini.

Maluuuuuu! Mau ditaruh ke mana mukanya ini?

"Ayo, kerjakan soal ini," perintah guru Kakashi sambil mengetuk papan tulis dengan spidol besar di tangannya. Ia memberikan spidol yang lain kepada Hinata.

Gadis berambut panjang itu menelan ludah. Dia bisa gak, ya?

Tangannya yang putih gemetaran menuju permukaan papan tulis yang putih. Soal fisika di depannya ini termasuk tipe pelajaran yang sukar dipahami.

"Bagaimana? Tidak bisa?" tanya Kakashi santai. Ada nada mencemooh yang tertangkap oleh telinga Hinata saat guru itu bertanya padanya.

Gadis cantik berambut panjang itu menggeleng pelan dan menarik napas. Dia gak mau gitu aja dianggap rendah sama gurunya, walau ia sendiri tahu kalau ia salah karena sudah melamun di kelas.

"A-aku akan berusaha." Hinata melirik sekilas gurunya dengan siratan semangat di sana. 'Demi Naruto-kun,' batinnya bersemangat.

He-hey Hinata, gak nyambung. Apa hubungannya coba?

.

.

.

Sulaman terkutuk! rapal Sakura. Kenapa tugas kesenian itu harus menyulam, sih? Jelas, itu bukan keahliannya. Gegara tugasnya yang terlambat dikumpul, dia harus menyelesaikannya hari itu juga di ruang guru—menyebalkan, karena hal itu membuatnya terlambat pulang dan bertemu … Naruto, di kelasnya.

"Oh. Uh. Hai, Naruto," rikuh Sakura. Dia menggaruk-garuk leher belakangnya resah. Bertemu dalam keadaan berdua—bel pulang sekolah sudah berdentang sedari dua jam tadi —bukan hal yang diinginkannya saat ini.

"Hai," balas Naruto singkat.

Sakura berlagak cuek—menutupi kekecewaannya atas respons datar Naruto—dengan melanjutkan pencarian handphone-nya yang sempat tertinggal di bawah laci.

"Mau pulang bareng?" tawar Naruto memecahkan kesunyian yang mengukung mereka. Sakura segera menegapkan badannya dan melihat Naruto. Pemuda yang ditatap tersenyum, lalu berjalan melewati Sakura. Gadis beriris hijau cemerlang itu termangu melihat pemuda itu menghilang di balik pintu.

Dia itu serius ngajak pulang atau gak, sih? Batin Sakura bertanya-tanya.

Pertanyaannya terjawab.

Beberapa saat kemudian, kepala kuning menyembul dari balik pintu. "Mau gak?" Naruto mengulang tawarannya lagi. Tidak ingin membuat menunggu, Sakura segera bergegas menghampiri Naruto.

"Umm, ne, Naruto?" panggil Sakura ragu-ragu. Berusaha memulai verba dalam perjalanan mereka menuju parkiran sekolah.

"Hmm?"

"Kenapa baru pulang sesore ini?"

"Ugh … salahkan saja adik kelas yang memaksa diajarkan judo olehku. Tapi mereka tidak serius latihannya!" Naruto mulai mengeluarkan uneg-unegnya. "Kau tahu? Suaraku hampir putus—uhuk uhuk uhuk!" Bagian terakhir, Naruto terbatuk-batuk layaknya seorang kakek-kakek.

Sakura tertawa. Setidaknya, sikap Naruto kali ini membuatnya nyaman. "Uh, kasian sekali kau. Kupikir kau didetensi lagi," ledek Sakura.

"Hahahahaha. Sudah jadi kebiasaanku, ya?" tutur Naruto. Mereka tertawa lagi. Selain suara tawa, eufoni natural dari lingkungan sekitar mereka turut menyertai.

Pembicaraan yang hangat itu terhenti pada satu titik; Naruto terdiam dan matanya menatap lurus Sakura. Sakura terhenyak menyadari ekspesi Naruto. Dia hapal—raut muka itu akan muncul jika … jika Naruto ingin mengatakan sesuatu yang serius.

"Sakura…." Naruto memberi jeda sejenak. "Aku mengerti jika kau berusaha bersikap seolah tidak ada apa-apa di antara kita. Aku … tahu jawabannya. Tapi, biar bagaimana pun, aku tetap ingin … memastikannya dengan mendengar langsung darimu."

Alis Sakura berjengit. "Maaf?" tanyanya bingung. Apa yang dibicarakan Naruto? Soal apa ini?

Naruto menghela napas berat—mencoba untuk bersabar. "Intinya, yang ingin kutanyakan kenapa … kenapa waktu itu kau tidak datang sa—"

"Uwaa. Ternyata ada Naruto dan Sakura di sini!" sergah Sai terlihat riang. Memotong ucapan Naruto. Malangnya, sapaannya itu dibalas dengan dua kepalan tangan yang mendarat di kepalanya. Sikap Sai yang tidak pandai membaca situasi cukup menyebalkan bagi mereka.

"Baka! Kau membuatku jantungan!" seru Sakura. Sai meringis mengelus-ngelus kepalanya.

"Aku … salah lagi, ya?" kata Sai memelas.

"Astaga, Sai … buku apa lagi yang kali ini kau baca?" tanya Naruto malas. Tidak menunjukan keheranan atas sikap Sai yang OOC barusan (menyapa riang? Bukan Sai banget, gitu lho!)

Kok bisa Naruto tidak terkejut? Iyalah, Naruto hapal banget kalau Sai tiba-tiba bersikap aneh.

Dulu, Sai adalah makhluk anti sosial dan dia berniat merubah sikapnya itu. Naruto dan Sakura tahu, bahwa Sai sampai belajar di perpustakaan.

Tapi yah, usahanya gagal semua. Gagal? Iyalah, dia saja salah baca buku.

Pertama, Naruto ingat, bagaimana suatu ketika di sore hari, Sai duduk di sampingnya dengan celananya yang sudah terlipat hingga lutut. Kemudian dia menyilangkan kaki. Matanya mengerling nakal, tutur bicaranya lembut. Jari jemarinya menari di pundak Naruto, di dadanya … pahanya.

Efeknya, selama seminggu lebih Naruto menghindari Sai—bahkan sampai sembunyi di tong sampah pun pernah. Dia takut, kalau kalau Si Mayat Hidup itu mempunyai kelainan orientasi seks.

Owala, setelah selidik punya selidik, Sai membaca buku bertajuk Flirting? Dijamin mulus semulus Tol!—yang ternyata buku itu di dedikasikan untuk para wanita yang ingin menggaet pria kaya raya.

Kedua, hari di mana Sai memuji muji Naruto. Di mana dia mentraktir Naruto, di mana pula lengannya merangkul mesra pundak Naruto. Saat di mana suasana perlahan sunyi dan tegang, Sai mendekatkan wajahnya pada Naruto hingga mereka berjarak sejengkal—

WUT? Apa? Kenapa kalian melotot begitu? Jangan pikirkan yang macam-macam dulu. Cerita ini tidak akan berbelok menjadi shonen-ai kok. Mereka tidak berciuman, karena Sai sudah tepar duluan sebelum hal maknyos itu terjadi.

Yup! Kali ini, Sai membaca buku tentang bagaimana caranya cowok pedekate dengan cewek. Naruto sweatdrop saat mengetahui hal itu. Memangnya dia ini cewek apa?

Secara, tiap hari dia berkaca dan gak ada mirip-miripnya dengan cewek. Rambut? Ditata spike, rahang wajah tegas, dan dia punya kulit seeksotis Syakh Rukh Khan, kok! (kata Mamanya tersayang; Kushina, yang lagi tergila-gila dengan film sajian Bollywood)

Chal Chaiyya Chaiyya Chaiyya Chaiyya~

"Betul. Buku apa lagi yang kali ini kau baca, Sai?" timpal Sakura.

"Aku tidak membaca buku, kok," terang Sai.

"Lalu?"

"Aku di ajari oleh Lee-san."

Oh. My. God.

Sakura berjanji, besok dia akan menyembur Lee karena mengajarkan Sai dengan tidak benar.

(Tentu saja, berada di sekitar Naruto dan Lee saja sudah membuatnya frustrasi—akibat mereka suka "berteriak". Apa jadinya jika Sai menjadi bagian dari bangsa orang bar bar seperti Lee dan Naruto? Oh, hell.)

.

.

.

From: Naruto Uzumaki

Malam Hinata. Lagi apa? :)

.

From: Naruto Uzumaki

Aku lagi ngasih makan hamster Konohamaru nih. Hinata mau? :D

.

From: Naruto Uzumaki

Oke. Sepulang sekolah nanti ketemuan di aula ya

.

Tenten menyengir membaca isi folder sms di ponselnya Hinata. Selagi sang pemilik ponsel sedang membeli minuman, Tenten menggunakan kesempatan ini. Dari pada tidak ngapa-ngapain kan? Kiba yang sedang duduk bersila di sebelahnya sibuk dengan game PSP-nya.

"Gak sopan membongkar privasi orang, Tante Ekstrim," sindir Kiba tajam. Tenten mendelik pada Kiba tak suka.

"Apaan sih? Aku hanya ingin memastikan bagaimana perkembangan hubungan Naruto dengan Hinachan!" Tenten membela diri. Kiba mengendikkan bahunya, kemudian melanjutkan permainannya yang sempat terhenti.

Dasar cewek!

"Go-gomenasai, Tenten-nee, Kiba-nii sudah membuat menunggu lama," ucap Hinata sekonyong-konyong membuat Tenten hampir saja menjatuhkan ponsel Hinata. Segera, dia tutup folder sms yang sedang dibukanya sebelum menyerahkan ponsel tersebut pada pemiliknya.

"A-ah, Hina-chan sudah datang." Tenten berlagak pilon di depan Hinata. Kiba melirik dan diam-diam geli melihat ekspresi Tenten yang nyaris saja tertangkap basah. Kiba menyimpan PSP-nya dan memasang wajah malas.

"Yuk, pulang. Bosan," ajak Kiba kepada dua orang gadis yang berdiam diri di tempat. Kiba melangkah duluan, kemudian disusul oleh Tenten yang sedang mengapit lengan Hinata.

"Apa ada yang sudah menonton berita hari ini?"—Seperti biasa, Tenten selalu memulai topik pembicaraan. Hinata menanggapi dengan sedikit argumen, Kiba kadang menanggapi dengan leluconnya yang membuat tawa mereka berderai. Sebuah kebiasaan yang tidak menimbulkan kata bosan bagi mereka.

Dari kejauhan, Kiba melihat Naruto baru saja keluar dari gedung gym dan terlihat kehausan. Mendadak, seolah kesurupan sesuatu, dia menyeringai licik ketika melihat Hinata. Gadis yang ditatap merasa jantungnya berdebar merasakan firasat buruk.

"Na-nande? Kiba-nii?" Hinata tersentak ketika Kiba langsung menarik tangannya menuju tempat latihan Naruto. Tenten pun ikut-ikutan mendorong Hinata. Seolah tahu dan mengerti apa yang dilakukan Kiba.

Hinata tidak habis pikir, bagaimana mungkin dua orang sahabatnya; Kiba dan Tenten—yang sangat bertolak belakang namun bisa menjadi sama dalam waktu tertentu? Misalnya dalam hal mengerjainya?

"Oii, Naruto!" Kiba memanggil pemuda yang sedang mengelap wajahnya dari keringat. Pemuda yang berkulit tan itu melambai dan menyengir lebar—sekejap, berubah mengernyit ketika melihat seorang gadis bermarga "Hyuuga" diseret-seret oleh Kiba dan Tenten.

Ketika sudah sampai ke tempat Naruto, Kiba sedikit berbasa-basi pada Naruto dan mereka berkelakar riang.

"Eh, Kiba. Kebetulan kau ke sini. Belikan aku minum dong." Naruto memohon—lebih tepatnya memerintah Kiba. Kiba tersenyum dan melirik Hinata.

Tenten mengerti kode itu, berbisik kepada Hinata yang sedang berdiri gelisah. "Kasih dia minum tuh."

Hinata menatap botol di tangannya yang masih bersegel. "Sendiri?"bisiknya.

"Ya iyalah." Tenten menahan tawanya ketika melihat raut wajah Hinata yang memerah. Kemudian gadis keturunan China itu mendorong Hinata agar maju—mau tak mau, kaki Hinata bergerak terpaksa.

"Eh, Hinata. Tumben tidak ngumpet lagi di toilet saat berpapasan denganku," kata Naruto jahil—mengingatkan Hinata akan kejadian beberapa waktu lalu. Memperkuat semburat merah di pipi chuuby-nya.

"Good luck ya," bisik Tenten memberi semangat pada Hinata; menepuk bahunya kemudian menatap Kiba. "Yuk, Kiba. Kita pergi, tinggalin mereka berdua."

"E-eh, tu-tunggu!" Hinata gelagapan ketika sahabatnya itu akan meninggalkannya dengan Naruto. "A-aku—"

"Ah, ya!" Kiba sengaja tak membiarkan Hinata menyelesaikan kata-katanya. Irish coklatnya menatap Naruto, lalu berkata dengan wajah polos. "Hinata ingin memberimu minum. Dan katanya dia ingin ditinggalin berduaan denganmu, Nar."

What the heck? Hinata melongo mendengar ucapan Kiba yang sama sekali tidak sesuai kenyataan.

Tenten dan Kiba melangkah menjauhi mereka. Setelah dirasa cukup jauh, meledaklah tawa mereka berdua.

"Idemu cemerlang, Kiba. Meski kita agak kejam padanya. Besok kurasa Hinata akan mencubit kita keras-keras, hahaha." Tenten memukul bahu Kiba yang masih tertawa sembari memegang perutnya.

"Tidak apa, toh kalau begitu mah dia tidak akan berkembang."

"Betul juga. Hinata sekali-sekali memang perlu dibantu."

.

.

Sekarang, Hinata sedang duduk dipinggiran bangku penonton. Sesekali dia mengalih pandang dari buku yang dibacanya—memandang Naruto yang sedang mengajarkan juniornya tentang Judo. Kemudian tersenyum.

"Hinata mau menungguku?"

Karena perkataan Naruto itu, makanya dia terdampar di sini. Yah, semenjak insiden "botol minum" itu hubungannya dengan Naruto berjalan lebih natural, lebih santai—dia harus sedikit banyaknya berterima kasih pada Kiba dan Tenten, meski kedua orang itu selalu nyaris membuatnya gila—tetap saja, mereka adalah sahabat yang disayangi Hinata.

Hinata membalik lembaran lebaran buku. Pensil mekaniknya mengetuk-ngetuk pelipir berkomat kamit dan dia menghembuskan napas lelah.

"Bosan ya, menungguku?"tanya Naruto sambil menyapu bagian leher dan wajahnya dari keringat dengan handuk kecil dan berjalan mendekati Hinata.

"Eeem, tidak," bantah Hinata. Naruto kemudian duduk di sampingnya dan sedikit mencondongkan badannya; penasaran buku apa yang dibaca si gadis.

"Kimia? Ouch." Naruto merasakan kepalanya mulai sakit saat melihat deretan huruf serta tanda epsilon yang tercetak. Dia benar-benar tidak suka pelajaran eksak.

Hinata mengikik. "Iya … sebentar lagi aku akan mengikuti olimpiade." Hinata menarik napas lelah. Kemudian dia mengemas buku-bukunya. Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepala Naruto saat melihat wajah Hinata yang tidak bersemangat dan penuh beban.

"Kamu mau coba Judo, gak?" tawar Naruto.

"Eh?"

"Hinata gak suka gerak badan?"

"Ti-tidak, hanya saja aku tidak pandai olahraga." Hinata mengaku kikuk.

"Kuajari, deh." Naruto tersenyum meyakinkan. "Ganti bajumu di ruangan itu. Di loker banyak."

.

"Oke." Naruto mulai memberi instruksi ketika Hinata selesai mengganti bajunya dan rambutnya di kuncir satu. "Pertama, akan kuajari dulu ritsurei*1)."

Naruto menghadap Hinata. Kemudian membungkukkan badannya sekitar tigapuluh derajat dengan tangan yang ada di pahanya. Hinata dengan kikuk mengikutinya. "Selanjutnya adalah okuri eri jime*2)."

"Se-serangan ya?" tebak Hinata.

Naruto tersenyum. "Nah, coba kau tinju aku. Cepat, dan satu gerakan lurus." Naruto menunjuk dadanya. Hinata memerah menyadari Naruto berdada bidang. Terlihat dari belahan baju judo-nya yang terbuka.

Hinata mengumpulkan tenaganya dan melepaskannya dalam satu gerak lurus. "Hiat!" Namun dengan mudah Naruto menepisnya, lalu memegang lengannya dan berpindah ke belakang secepat kilat—satu tangannya yang masih bebas mengalungi leher Hinata.

"Ini yang kumaksud okuri eri jime*2)," ucap Naruto di dekat telinga Hinata, bahkan bibir pemuda itu sempat bergesekan dengan daun telinganya. Hinata semakin memerah dengan posisi mereka ini. "Dalam judo, tidak ada teknik menyerang. Yang ada hanya bantingan."

"Ba-bantingan?" Hinata merasa takut. "Kya!" dia terpekik kecil ketika kakinya hilang keseimbangan karena dijegal dari belakang. Dia jatuh dan punggungnya mendarat di tatami berwarna biru. Tidak terasa sakit karena Naruto juga menahan lengannya—membuat pemuda itu nyaris menindih Hinata.

"Barusan itu, namanya o soto gari*3)." Naruto terkekeh di atas Hinata yang sudah memerah sempurna di bawahnya. "kau memang jarang berolahraga. Refleksmu lambat." Dan dia pun berguling ke samping. Tertawa terbahak, Hinata mengerjap sebentar sebelum ikut tertawa kecil—dan tawa mereka menggaung di aula yang sepi.

"Nah, sudah merasa ringan, kan?" Naruto menatap Hinata di sampingnya. "Kau harus semangat untuk olimpiade itu, oke?" Naruto mengacungkan kelingkingnya pada Hinata, dan gadis itu tanpa ragu menautkan kelingkingnya. Hatinya terasa hangat.

Terima kasih sudah menyemangatiku, Naruto-kun.

.

.

.

"Ting tong, pesanan datang!" ujar Sakura riang sambil meletakkan nampan dengan tiga gelas minuman dan beberapa potong kue di atas meja.

"Terima kasih, Sakura," ucap Sasame yang tidak segan-segan mengambil sepotong kue coklat dan menjejalkannya ke dalam mulutnya. Lee dan Sai melakukan hal yang sama dengannya. Mereka hari ini sedang mengerjakan tugas kelompok kimia tentang air konsumsi.

"Naruto aku lihat jarang bersama dengan kalian, Sakura, Lee. Apa ada sesuatu di antara kalian?" tiba-tiba, Sai melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin Sakura maupun Lee bahas.

Sasame merasa sentakan pada dirinya. Benar juga ya, trio itu kan biasanya selalu bersama-sama. Mata Sasame sewarna coklat kayu menatap Sakura serta Lee dengan tatapan menuntut.

Sakura tertawa—seolah ada yang lucu dalam pertanyaan Sai. "Tidak ada apa-apa di antara kami, benar kan, Lee?" Sakura menatap Lee yang duduk di sampingnya. Berharap pemuda itu membantunya.

"Memang tidak," kata Lee pungkas. Sakura tersenyum dan mulai melipat lengan bajunya.

"Yosh! Ayo kita kerjakan PR ini habis-habisan!" seru Sakura. Kemudian dia mulai menulis sesuatu di kertas. Namun, dia tidak fokus dengan apa yang dia tulis.

Memang tidak ada apa-apa kok di antara kami. Tapi … kenapa kami berjarak?

Usaha yang bagus—komentar Lee dalam hati. Berkata dengan nada semangat, lalu menunduk dalam untuk menulis—untuk menyembunyikan raut mukamu yang berubah kuyu. Meski Lee tidak dapat melihat wajah Sakura saat ini, namun dia tahu saat melihat bahu gadis itu—bahu itu, terlihat rapuh.

Gomenne, Sakura.

.

.

.

Sudahlah, tembak saja dia!

Perkataan Kiba itu terngiang-ngiang di telinganya—pemuda pecinta anjing itu mendesaknya. Naruto menghela napas dan berharap ini cara yang benar. Dia tidak ingin terus terngiang dalam masa lalu. Dia pun mulai mengetik sesuatu dalam ponselnya.

To : Hinata Hyuga

Hinata

Sent.

Beberapa saat kemudian, ponselnya berbunyi.

From : Hinata Hyuga

Iya?

.

To : Hinata Hyuga

Aku tahu ini rasanya terlalu cepat, tapi apakah Hinata mau menjadi pacarku?

Naruto menghela napas. Harusnya dia mengetik beberapa kata lagi—tapi yah, dia tidak begitu pandai dalam menyusun kata-kata yang romantis. Akhirnya dia menunggu balasan pesan singkatnya.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Kring!

From : Hinata Hyuga

Naruto-kun serius? Kenapa?

.

To : Hinata Hyuga

Iya. Kenapa ya? Aku merasa nyaman di dekat Hinata. Jadi bagaimana?

Sent.

Naruto merebahkan dirinya di tempat tidur. Dia merasa gelisah menunggu SMS kembali masuk ke ponselnya. Namun benda itu tidak berdering sampai satu jam ke depan.

Kring!

From : Hinata Hyuga

Ummm, kita coba dulu ya, Naruto-kun :)

.

.

To Be Continue

.

Keterangan;

1) Salam hormat dalam Judo.

2) Teknik mengunci lawan.

3) Teknik bantingan jegal kaki dari belakang.

.

Special thanks:

yuki NHL-lovers, Nanako Nijino, Ritard. , Gyuururu-kun, Hoshi no Nimarmine, mendokusai144, TaskForce142, Fanlhewandh Hyuuzumaki, celanadalammulepas, aam tempe, scorpion vx, K, , Paris Violette, Intn t, Uchiha Shige, fathiyah, amexki chan, zae-hime, , Narunaru, Chooteisha Yori

and also for Siders (Silent Readers)

.

A/N : Maaf untuk keterlambatan update, karena file-nya sempat hilang dan Caca terpaksa mengebut mengerjakan lanjutannya. Maaf untuk Karikazuka karena aku kelamaan update nya. Hehehehehe #kicked.

Gomenne, belum sempat kasih balesan review, Caca lagi sakit kepala soalnya. Tapi di chap depan deh bakalan ada balesan review-nya

Yosh. Terimakasih sudah membaca fanfic collab kami. Mind to review?

.