Kuroko no Basket © Tadoshi Fujimaki
WARNING!
OOC, GAJE, ALAY, EYD NGAWUR
….
Maaf ya, kalau ada yang nunggu lama. Author lagi stress, maklum, kurikulum baru! #plak. Siapa yang nunggu si tajir Akashi, angkat tangan!
….
Akashi hanya bisa diam sambil terus menusuri jalan kecil di taman itu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada orang yang akan ia temui hari ini. Ah, sebenarnya ia sudah tahu mau mengatakan apa, tapi ia tidak percaya akan mengatakan hal itu. Seorang Akashi, mengatakan hal seperti… ah, kau pun tidak akan mengerti perasaan seorang Akashi.
"tuan, bukankah hal itu mudah… katakan saja…"
Kata-kata pelayannya itu membuatnya tampak seperti orang bodoh. Kata-kata itu memang mudah untuk disampaikan, tapi maknanya itu begitu berat bagi Akashi. Bukan berat juga sih kalau mau dikatakan, tapi ia terlalu malu untuk menyampaikannya.
"untuk apa kau malu mengatakan hal itu? Itu bukan hal yang memalukan."
Bahkan Kuroko juga ikut menasehatinya dan itu membuatnya malu. Kuroko mendengarkan setiap kali Akashi menceritakan kegalauannya untuk mengatakan hal itu pada seseorang itu, dan Kuroko selalu mengatakan hal yang sama. Akashi tahu, apa yang dikatakan oleh Kuroko itu benar, tapi ia masih tidak yakin.
"Karena itulah kau susah dapat jodoh, nanodayo. Supaya kau tidak sial lagi, kau bisa memberikannya boneka kelinci bulan depan… itu Lucky Item untuk Aries…nanodayo (clek)"
Saran gila Midorima itu ia dengarkan dengan baik. Meskipun ia merasa Midorima sedikit kurang ajar dengan mengatakan bahwa ia termasuk lelaki yang susah dapat jodoh. Padahal kenyataannya ia termasuk lelaki yang akan menjadi incaran perempuan matre. Meskipun ia akui, ia tetap juga membeli boneka kelinci untuk orang itu. Demi apa, seorang Akashi percaya pada hal seperti itu?
"kalau kau menanyakan hal itu padaku, kau membuatku jadi malu, ssu. Yang terpenting jangan berbohong pada perasaanmu, ssu."
Akashi kembali berdesah pelan sambil menghentikan langkahnya. Ia perlu ketenangan. Ia memejamkan mata sejenak dan membiarkan angin menyisir rambut merahnya yang sudah sedikit memanjang. Begitu ia merasa lebih baik, ia kembali berjalan. Ehm, sampai mana tadi? Oh iya, komentar Kise. Komentar Kise itu sedikit membuatnya ingin menggunting Kise. Lagipula untuk apa dia jadi malu-malu begitu didepan Akashi? Hanya bagian terakhir yang membuatnya mengangguk. Kise lumayan pintar juga untuk anak yang berambut pirang.
"Sei-kun!"
Suara itu membuatnya tersadar dari semua lamunannya. Seseorang itu duduk dikursi sambil melambaikan tangannya pada Akashi dan tersenyum dengan riangnya. Akashi bisa membayangkan seandainya bisa orang itu pasti berlari kearahnya. Tidak ada keraguan dari itu. Tapi melihat dari wajahnya yang masih sedikit pucat, Akashi yakin bahwa orang itu tidak mungkin melakukannya. Akashi hanya bisa tersenyum dan berjalan lebih cepat untuk menghampirinya.
"kau terlambat 15 menit."
"maaf, tadi ada sedikit urusan…" jawab Akashi asal. Padahal keterlambatannya hanya karena ia melamun dalam perjalanan. Ia tidak mau orang itu tahu betapa bingungnya ia untuk mengatakan hal itu padanya.
"mentang-mentang sudah bekerja, kau jadi banyak urusan!"
"orang yang sudah bekerja kan memang banyak kerjaan!"
"hehe… benar juga…"
Tawa orang itu menenangkan hati Akashi. Sudah 3 tahun ia tidak mendengar tawa itu. Sudah 3 tahun ia tidak melihat senyuman itu. Dan sudah 3 tahun ia menahan rindu pada orang itu. Ia ingin saja memeluknya, namun itu tidak mungkin dilakukan, kan?
"aku pikir 3 tahun untuk tidur itu cukup untuk membuatmu sedikit waras."
"apa maksudmu, heh?"
Sedikit menggodanya tidak masalah, kan? Akashi kembali tersenyum begitu melihat orang itu menggembungkan pipinya. Persis Momoi ketika sedang kesal. Namun, orang itu lebih manis lagi, bagi Akashi. Akashi lalu duduk disamping orang itu.
"ehm… ada yang ingin kukatakan…"
"apa?"
Oke, bukankah ini saat yang kau tunggu-tunggu Akashi? Inilah saatnya. Jangan membuatmu memendamnya lagi. Hal seperti ini jarang-jarang kau temui. Katakan saja dan semua akan selesai. Apapun yang dijawab oleh orang itu bukan masalah bagimu kan? Tapi mungkin memang pada dasarnya kau itu egois sehingga kau sangat ingin memaksa jawaban orang itu adalah 'iya'.
"ehm…"
Waktu terasa lambat pada Akashi. Ia hanya bisa memainkan boneka yang ada ditangannya. Sesekali daun yang berguguran singgah dan duduk disampingnya. Tapi itu sama sekali tidak bisa membuatnya tenang dan bertekad untuk mengatakan hal itu pada orang itu. Bukankah tadi ia sudah…
"terserah saja. Tapi menurutku, katakan saja sebelum orang lain mengatakannya. Kau akan menyesal…"
Ah, baiklah Daiki, jika itu maumu! Aku akan mengatakannya! Kau tidak perlu memerintahku. Pikir Akashi, ia lalu memberikan boneka itu pada orang itu.
"wah, lucu sekali. Terima kasih, untukku kan?"
Pertanyaan orang itu membuatnya mengangguk. Melihat senyumannya membuat Akashi memperkuat tekad untuk melindungi senyuman itu.
"Hanabi, maukah kau menikah denganku?"
….
Words : 695
…..
- THE END -
…
Jadi, ceritanya Hanabi itu koma selama 3 tahun. Bayangin mameeennn 3 tahun! Akashi, setia banget kamu, nak! Hiks. Akashi saat ini sedang kuliah sambil kerja. Maklum, anak pewaris perusahaan tuh gitu.
