"Dei!" ujarnya bangkit lalu memeluk Deidara. Itachi begitu senang sampai tidak dapat berkata apa-apa. Akhirnya Tuhan mengabulkan do'anya agar bisa bersama Deidara kembali. Ia memeluk erat Deidara dan tidak ingin melepaskan pemuda itu.

"Kenapa kamar ini semakin gelap!"

Itachi terdiam mendengar kalimat itu. Bola matanya bergerak gelisah menatap jendela di depannya. Hujan salju telah berhenti sejak semalam. Bahkan cuaca di luar sana terlihat terang, cahayanya hingga masuk ke dalam ruangan yang mereka tempati. Lalu kenapa Deidara bilang jika kamar tempatnya di rawat menjadi gelap.

"Dei!"

Namun tidak ada jawaban. Itachi semakin cemas karena tidak ada jawaban dari Deidara. Tidak mungkin jika Deidara kembali kritis. Karena dokter bilang, jika Deidara mampu melewati masa kritisnya, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Dei!"

Itachi terkejut melihat tubuh lemas Deidara. Wajah yang pucat dengan mata tertutup.

.

.

.

Naruto Fanfiction

Present

Naruto shippuden © Masashi Kishimoto

Tears © Ran Hime

Twitter: ranhimeuchiha

M rated

Drama, Hurt/Comfort

SasuNaru, ItaDei sligh SaiNaru, SasoDei

Guest: Uzumaki Kyuubi

AU, OOC, Yaoi, Mpreg. Alur maju dan mundur, Typo.

.

.

.

Chapter 18 – Final Chapter

.

Ingin rasanya Itachi menenggelamkan wajahnya di bak mandi saat ini juga ketika Deidara tidak juga berhenti menertawakan dirinya. Bagaimana ia bisa beranggapan jika Deidara benar-benar meninggal setelah membuatnya panik dan mencari dokter yang menangani Deidara, hanya karena dokter itu tidak juga datang ke kamar Deidara setelah ia menekan tombol darurat. Ia bahkan nyaris berteriak meluapkan emosinya yang sedang kalut.

Namun nyatanya Deidara baik-baik saja, hanya pingsan karena pemuda itu belum cukup kuat untuk bangun. Ingin rasanya ia melenyapkan adiknya yang ikut tertawa dengan Deidara sembari bercerita tentang kejadian memalukan itu. Bahkan ia tidak yakin jika selama ini Sasuke bisa tertawa seperti itu.

"Berhentilah tertawa, Dei! Kau bisa ba-"

Uhuk uhuk

Bahkan kalimatnya belum selesai ia ucapkan dan Deidara sudah batuk lebih dulu. Benarkan yang ia bilang? Itachi bangkit dari kursi dan meraih gelas yang ada di meja samping ranjang Deidara. Dengan sabar ia membantu Deidara untuk minum sambil mengelus punggung Deidara.

"Habis aku tidak percaya jika kau sampai bisa sepanik itu." Deidara berusaha meredakan tawanya.

"Sudahlah, kau istirahat lagi." Ujarnya membaringkan Deidara, "kau masih butuh istirahat." Ia menatap Sasuke, "Dan kau-" tunjuknya kepada Sasuke, "cepat pergi." Usirnya dengan sadis. Padahal Sasuke juga lah yang membantu kakaknya mencari dokter tersebut. "Iya iya!" ujar Sasuke sambil berdiri. Ia melangkah melangkah keluar meninggalkan kedua kakaknya tersebut.

.

.

Kyuubi nampak ragu untuk membuka pintu di depannya. Ia tidak yakin bisa mengajak Deidara berbicara sementara dirinya tidak pernah cocok dengan Deidara dalam segala hal. Kyuubi menghela nafasnya meyakinkan jika ia pasti bisa meyakinkan Deidara untuk bisa membawa Naruto dan juga kakak tirinya itu. Ia hendak memegang knop pintu di depannya, namun tangannya terhenti ketika pintu di depannya terbuka lebih dulu. Ia dapat melihat Sasuke dengan wajah datar andalannya.

"Masuklah!"

Kyuubi terdiam sejenak. Perasaan ragu kembali datang. Ia bahkan jarang berbicara dengan orang dan lebih memilih tindakan. Tapi ia juga sadar jika ia tidak mungkin akan menyelesaikan masalah yang meyangkut adiknya dengan kekerasaan.

Kyuubi dapat melihat senyum tipis di kedua sudut bibir Sasuke sebelum pemuda Uchiha itu melangkah menjauh dari dirinya.

Perlahan namun pasti Kyuubi melangkah ke dalam kamar Deidara. Hari ini juga ia harus menyelesaikan semuanya. Jika ia tidak dapat mendapatkan hak asuh Naruto, langkah akhir yang harus ia lakukan adalah dengan menerima Deidara sebagai kakak tirinya. Dengan begitu ia tidak akan lagi kehilangan adiknya.

"Dei!" seru Kyuubi membuat Itachi menoleh ke arah pintu.

Deidara yang baru saja memejamkan matanya kembali membuka matanya. Suara itu? Ia bahkan tidak akan pernah lupa dengan suara bocah yang selalu meneriaki ayahnya dulu. Ia tidak akan pernah lupa dengan suara yang selalu membuat ayahnya hampir menjatuhkan air matanya.

Dengan bantuan Itachi, Deidara mencoba bangun. Ia duduk di atas ranjang dengan bersandar di tumpukan bantal yang Itachi susun tadi. Ia menatap nyalang pemuda di depannya. Sampai mati sekalipun ia tidak akan membiarkan pemuda itu memisahakan dirinya dengan Naruto.

"Untuk apa kau ke sini?"

Kyuubi berjalan mendekati ranjang Deidara. Ia tersenyum walau agak ia paksakan. Iris rubahnya memperhatikan tubuh Deidara yang memang tak kalah kurus dari sang adik.

"Aku hanya ingin berbicara mengenai Naruto dan kita."

"Kita?" Deidara membeo, "sejak kapan kau dan aku bisa menjadi kita, heh!"

"Sejak aku sadar jika kita adalah keluarga."

Emosi Deidara naik. Keluarga? Bahkan Kyuubi tidak cukup peduli dengan nasib saudaranya ketika mereka harus terusir dari rumah mereka. Bahkan kyuubi tidak peduli ketika Deidara harus pindah ke Konoha dan meninggalkan Uzushio. Bahkan Kyuubi tidak peduli sedikitpun ketika mereka bertemu di paradise. Masihkan dia bisa disebut sebagai saudara?

"Jangan bicara ngaco, tuan Uzumaki!"

"Dei, aku telah berbicara dengan Naruto dan dia setuju kita seperti dulu."

"Seperti apa?"

Kyuubi mengepalkan kedua tanggannya. Ia tidak cukup sabar menghadapi Deidara. bahkan dulu mereka selalu berakhir dengan berkelahi ketika mereka bertengkar. Kyuubi mencoba menahan amarahnya. Bagaimanapun ia juga merasa bersalah akan tindakannya yang menyebabkan kakak tirinya itu menjadi seorang gigolo.

"Seperti ketika ayah dan ibu masih ada." Ujar kyuubi menatap Deidara lembut, "seperti ketika kita bertengkar karena aku membentak ayah. Aku ingin kita bisa seperti dulu lagi. Aku minta maaf!"

Pandangan Deidara mulai mengabur ketika begitu banyak air yang menutupi pandangannya. Kenapa ia tidak bisa membenci lebih pemuda yang ada di depannya. Kenapa ia begitu mudah luluh hanya karena kalimat-kalimat yang membuat hatinya sesak? Ataukah ia terlalu baik untuk menghukum orang lain? tetapi ia juga bukan Tuhan yang mempunyai banyak kata maaf untuk semua orang yang ada di dunia.

"Dei!" seru Itachi khawatir ketika tidak ada gerakan ataupun suara dari Deidara.

"Kau mudah sekali mengatakan itu." Deidara tertawa ketika air matanya jatuh perlahan, "kau tidak tahu apa yang aku rasakan ketika mengetahui ibu yang kusayangi bukanlah orang yang melahirkanku. Kau tidak tahu perasaanku ketika adik yang kusayangi bukanlah adik kandungku. Kau tidak tahu bukan? Bagaimana rasanya ketika orang yang kau hormati hampir menangis karena terus disakiti anak yang ia besarkan layaknya anak kandungnya?"

Kyuubi terdiam. Ia memang tidak tahu apa yang Deidara rasakan. Karena memang selama ini ia tidak peduli. Kenyataannya ia tidak suka ketika posisi ayahnya digantikan oleh orang lain. Bahkan ia tidak pernah tahu perasaan Deidara, karena ia tumbuh dengan kedua orang tua yang lengkap sampai umur 6 tahun. Dia bukan Deidara yang harus menjadi yatim ketika masihlah belum bisa mengingat wajah ibunya, berbeda dengan dirinya.

"Bukankah aku sudah minta maaf!"

"MAAF! Bagaimana bisa kau memberi maaf kepada orang yang kau anggap saudaramu sendiri, sementara dia tidak peduli ketika tubuhnya dinikmati secara bersama-sama di depan matamu."

Kyuubi terbelalak kaget. Sungguh ia sudah melupakan peristiwa di paradise waktu itu.

"Per-gi! KUBILANG PERGI!" teriak Deidara membuat Itachi terkejut.

Pemuda Uchiha itu terdiam dengan tangan terkepal. Kalimat Deidara kian berdenging di telinganya. Matanya memerah marah menatap Kyuubi. Tanpa berpikir lagi ia pun menerjang Kyuubi dan melayangkan pukulannya.

"Bagaimana bisa kau membiarkan saudaramu diperlakukan seperti itu, heh!" Itachi tidak mampu lagi meredam amarahnya. Kyuubi benar-benar membuatnya kehilangan kontrol. Ia terus memukul pemuda Uzumaki itu, tidak peduli jika dulu ia begitu mencintai Kyuubi. Bahkan Kyuubi lebih brengsek dari pada dirinya.

Kyuubi tidak membalas sedikitpun. Ia tidak peduli jika harga dirinya jatuh karena dipukuli Itachi.

"Arrgggg!"

Itachi menghentikan pukulannya dan segera berlari ke arah Deidara. Astaga, ada apa lagi ini. Ia mencoba menyadarkan Deidara yang kembali pingsan. Ia hampir frustasi karena kondisi Deidara yang tidak menentu.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Itachi dapat bernafas lega. Akan tetapi dia cukup khawatir dengan kondisi Deidara yang seperti ini. Ia menatap wajah pucat Deidara, matanya tidak juga berhenti menangis. Kenapa semua harus seperti ini? Disaat Deidara telah menerima dirinya, Kyuubi datang menghancurkan segalanya.

"Pergilah, Chi!" ujar Deidara lirih, "Aku bukan yang terbaik untukmu. Semua tidak seperti yang kau bayangkan. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Tapi bukan aku."

Itachi menggeleng sembari mengusap pipi Deidara. Baru juga tadi pagi mereka tertawa bersama, tapi Deidara kembali seperti ini. Kenapa air mata pemuda itu tidak juga habis. Seberapa banyak air mata Deidara hingga pemuda itu terus saja menangis?

"Aku sudah mengatakan padamu, jika kau lebih baik dari semua orang yang pernah aku sukai. Kau adalah segalanya, Dei! Mengertilah!"

"Bahkan ketika aku telah tidur dengan saudaraku sendiri? Itu menjijikkam!"

"Tidak ada yang menjijikkan! Kau terpaksa melakukannya. Jika aku tahu keberadaanmu lebih awal, maka aku tidak akan membiarkan kau bekerja di tempat seperti itu." Itachi bangkit dari kursi lalu mengecup kening Deidara, "aku akan menyuruhmu duduk di rumah sambil menungguku pulang dari kerja,"

"Kau konyol!" Deidara tertawa mengejek di sela tangisannya.

Itachi tersenyum. Setidaknya Deidara sudah bisa tertawa lagi setelah sadar tadi.

"Aniki!"

Itachi menoleh ke arah pintu. Adiknya tengah mendorong Naruto di atas kursi roda yang tengah berjalan ke arah dirinya.

"Dei-nii!' seru Naruto ketika ia telah sampai di ranjang Deidara. Ia nampak cemas ketika melihat kondisi kakaknya, "Dei-nii tidak apa-apa kan?" tanyanya sembari menggenggam tangan Deidara.

Deidara tersenyum melihat adiknya. Ia mengangguk, mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. Deidara menelusuri tubuh Naruto, dan membuatnya terkejut ketika melihat perut Naruto yang tidak lagi besar.

"Naruto, sejak kapan kau-"

Naruto tersenyum, ia melihat Itachi dan Sasuke secara bergantian lalu kembali menatap Deidara, "Apa Itachi-nii belum bilang jika aku sudah melahirkan?"

Deidara menggeleng, ia mengerucutkan bibirnya memandang Itachi sebal. Bagaimana bisa ia tidak diberitahu jika adiknya sudah melahirkan. Ia merasa kejam karena tidak ada di samping adiknya ketika sang adik melahirkan.

"Maaf, Naru! Kakak tidak bisa menemanimu di saat kau sedang butuh kakak." Lirih Deidara.

Naruto tersenyum, tangannya menyentuh pipi Deidara lembut, "Dei-nii jangan sedih! Aku tidak apa-apa, ada Sasu-nii yang menemani Naru!" raut Naruto berubah sedih ketika melihat kakaknya sedih.

Deidara meraih tangan Naruto yang ada di pipinya lalu menggenggamnya, "kakak tidak sedih, justru kakak senang karena kau baik-baik saja."

Itachi dan Sasuke terdiam melihat Naruto dan Deidara seperti itu. Ada baiknya Deidara tidak mengetahui jika Naruto sempat koma, bathin keduanya.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Kyuubi menatap tajam ke arah pemuda yang kini telah terlentang di lantai salah satu ruangan V.I.P di Paradise. Mata rubahnya tidak henti menyaksikan para rekan bisnisnya yang sedang menikmati tubuh 'primadona' klub Paradise. Sesekali ia menyesap minumannya tanpa mengalihkan pandangannya dari pertunjukan di depannya. Tidak disangka saudara tirinya begitu menjijikkan menjual diri demi uang.

"Hikss sakit."

Bahkan Kyuubi tetap diam ketika Deidara mengucapkan kalimat kesakitan akibat dibobol bertiga sekaligus. Tidak ada rasa kasihan sedikitpun. Ia tidak akan peduli sekalipun Deidara akan mati akibat hal itu.

"Katakan dimana adikku dan mereka akan berhenti."

Namun pemuda pirang itu terlalu keras kepala. Sudah tersiksa seperti itu tapi tetap saja enggan membuka mulut. Kyuubi melempar gelas di tangannya. Kesadarannya hampir hilang akibat mabuk. Ia mengusir rekan kerjanya yang sedang asyik mrnggenjot lubang Deidara. Kyuubi melepas dasinya menyusul jasnya yang lebih dulu teronggok di sofa. Dengan perlahan ia membuka satu persatu kancing bajunya. Lalu mulai menindih Deidara.

"Kau memang brengsek."

Kyuubi tidak menggubris perkataan Deidara. Ia telah mengeluarkan uang banyak hanya untuk pelacur yang tidak ia sangka adalah saudara tirinya. Lalu apa salahnya jika ia juga menikmati tubuh telanjang di depannya. Kyuubi meraih dagu Deidara dan mendaratkan ciuman kasar di bibir bengkak itu. Tangan kirinya mencoba melepas kait celananya dan membebaskan miliknya yang terasa sesak sejak para rekan bisnisnya bermain dengan gigilo kebanggaan Paradise itu.

Kyuubi bernafas lega, membuat Deidara berteriak kesakitan ketika Kyuubi melesakkan miliknya dengan kasar. Dalam keadaan mabuk itu ia menggagahi saudara tirinya sampai pingsan.

Kyuubi melempar benda apapun yang ada di jangkauannya. Ia berada di ambang batas kesabarannya. Ia bahkan tidak memperdulikan Nawaki yang berteriak mencoba menenangkan dirinya. kyuubi telah kalah. Sampai kapanpun ia tidak akan bisa lagi mendapatkan Naruto. Ditambah lagi tindakan gilanya ketika ia mabuk kala itu. Ia berteriak mencoba mengeluarkan isi hatinya.

"Sekarang siapa yang menjijikkan." Nawaki meraih kursi yang tadi di tendang Kyuubi. Dengan santai ia duduk di atasnya, "bagaimana bisa kau meniduri saudaramu sendiri. Bahkan ketika kau mengaku jika kau adalah normal."

"Aku memang normal." Sela Kyuubi dengan nada dingin.

"Semabuk apapun pria normal, ia tetap bisa membedakan mana wanita dan mana laki-laki. Bahkan ia tidak akan tergoda kepada percintaan sesama jenis, sekalipun permainan mereka sangat hebat."

"Diamlah paman! Kau membuatku semakin frustasi."

Kyuubi meremas rambutnya. Ia hanya ingin mendapatkan Naruto. Tapi mengapa malah harus menjadi seperti ini. Apakah sampai akhir kisah ini ia tetap tidak bisa mendapatkan Naruto?

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Setelah satu minggu di rawat di rumah sakit, akhirnya Deidara bisa pulang bersamaan dengan keluarnya Naruto dari rumah sakit. Rasanya Naruto sudah tidak sabar untuk melihat bagaimana wajah putranya. Dari penuturan Sasuke, ia mendengar jika putranya sangat tampan dan bermata biru seperti dirinya.

Naruto berlari ke dalam rumah ketika mobil yang ia tumpangi telah berhenti di halaman kediaman Uchiha. Ia tidak menggubris pekikan Sasuke yang masih mengkhawatirkan kondisinya. Naruto terus berlari menaiki tangga dan menuju kamar Sasuke, kamar di mana ia pernah menghabiskan malamnya bersama Sasuke sesudah menikah. Ia mengatur nafasnya setelah membuka pintu berwarna cokelat tersebut. Iris birunya menelusuri ruangan yang cukup besar itu. Namun apa yang ia cari tidak ia temukan. Bibirnya mengerucut tanda sebal.

"Sudah ku bilang, jangan berlari," seru Sasuke setelah ia berhasil menyusul Naruto, "kau bahkan tidak tahu dimana Yuki."

Naruto berbalik, menatap sebal suaminya. Kenapa dari awal ia tidak diberi tahu?

"Ayo ke kamar sebelah!" seru Sasuke lalu melangkah ke kamar sebelahnya dan di ikuti oleh Naruto.

Sasuke sengaja menempatkan tempat tidur Yuki di samping kamarnya agar perawat yang merawat Yuki bisa dengan leluasa dalam merawat putranya

Dengan perlahan Naruto berjalan ke arah Box bayi putranya. Ia dapat melihat putra kecilnya tengah tertidur pulas. Wajahnya sungguh tampan seperti sang ayah. Naruto ingin menggendongnya, namun ia takut itu bisa mengganggu tidurnya. Dengan berat hati ia pun menuruti perkataan Sasuke agar ia istirahat.

.

.

Deidara memperhatikan sekeliling kamar Itachi. Kamar pemuda itu telah kembali bersih dan rapi, bahkan photo pernikahan mereka telah kembali terpasang di tempat semula. Ada rasa tidak enak ketika dirinya pernah merobek photo tersebut. Seharusnya ia tahu jika Itachi begitu tulus mencintainya. Bukan seharusnya? Akan tetapi ia telah mengetahui hal tersebut, hanya saja ia tidak bisa menerima kenyataan atas kejadian di apartement Sasuke. Ia kecewa akan sikap Itachi hari itu. Ia tidak percaya Itachi mampu melakukan tindakan seperti itu.

"Teringat lagi?" Tanya Itachi sembari duduk di samping Deidara. Sebelah tangannya ia topang di atas kasur, "maaf membuatmu terluka!"

"Berapa kali lagi aku harus bilang jika aku telah memaafkanmu."

Mereka pun kembali terdiam ketika mengingat masa-masa sulit hari itu. Seandainya saja Itachi tidak melakukan hal bodoh setahun yang lalu, masihkan bisa ia akan seperti ini bersama Deidara.

.

.

Entah siapa yang memulai, mereka telah membuat hawa di kamar putranya perlahan panas. Bahkan mereka mengabaikan jika tengah berada di kamar putra semata wayangnya. Sasuke kian menuntaskan hasrat yang ia tahan selama beberapa bulan ini. Rasanya sungguh manis jika tanpa paksaan. Walau ia dapat melihat air mata yang mengalir dari sudut mata Naruto, namun ia yakin jika bocah dibawahnya juga menikmati malam keduanya.

"Sakit?"

Naruto hanya mengangguk di sela desahannya. Tidak menyangka rasa itu berbeda dari beberapa bulan yang lalu ketika pertama kali Sasuke menidurinya. Desahan Naruto kian keras sementara Sasuke melenguh ketika dirinya telah mencapai kenikmatan.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

7 tahun kemudian

Deidara terbangun dari tidurnya. Ia berdecak kesal merasakan pinggangnya begitu linu ketika mencoba untuk duduk. Ia sudah memperingatkan suaminya agar tidak macam-macam, namun nyatanya keriput mesum itu malah menghabiskan semalaman dengan 'olah raga'. Deidara menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, ketika ingat hari ini ada pesta penyambutan untuk Sasuke yang telah bergabung dengan perusahaan Uchiha. Dimana ia bisa menyimpan wajahnya ketika seluruh tamu memperhatikan cara berjalannya yang aneh itu.

'Uchiha sialan,' runtuknya dalam hati.

"Bangun!" serunya sembari menggoyangkan bahu Itachi. Namun pemuda itu tidak bergerak sedikitpun, membuat Deidara semakin kesal.

Diraihnya selimut yang berada di bawah kakinya dan menutupi separuh badannya. Tepat ketika ia berusaha beranjak dari ranjang, tangan pucat Itachi meraih pinggangnya dan membuat Deidara jatuh ke pelukan Itachi.

"Mau kemana, baby?" seru Itachi sembari membuka mata. Ia bangun lalu menghempaskan tubuh Deidara ke atas ranjang. Ia menyibak selimut yang tidak berdosa itu dan membuangnya ke lantai. Kembali memulai aktivitasnya yang baru berhenti beberapa jam yang lalu.

"Hen-aah-tikan brengsek!"

Namun Itachi tidak peduli, ia terus saja memanjankan miliknya sembari menciumi dada Deidara. Hingga kemudian tawa cekikikan seseorang membuat aktivitas mereka berhenti. Dengan perlahan keduanya menoleh ke arah pintu kamarnya. Pandangan mereka menatap horror bocah 7 tahun yang sedang tertawa itu.

"UCHIHA BASTARD" teriak Deidara mendorong Itachi hingga terjengkang ke belakang. Ia meringis sakit ketika milik Itachi keluar dari rektumnya dengan kasar. Ia melempar bantal ke arah sosok di pintu dan dibalas dengan tawa mesum.

.

.

Naruto terus saja menggerutu ketika tidak menemukan putra sementara wayangnya. Dimana lagi ia harus mencari Yuki. Ini sudah hampir jam Sembilan siang dan sebentar lagi ia dan yang lainnya sudah mesti berada di Suna. Belum lagi kedua kakaknya yang juga belum menampakkan batang hidungnya. Ia menghela nafas. Tidak habis pikir kenapa semua orang seolah tidak ada yang peduli dengan pesta tersebut sementara pesta itu untuk menyambut suami dan kakak iparnya.

"Yuki!" seru Naruto ketika menemukan Yuki tengah menutup pintu kamar kakaknya dengan tawa kecil, "Papa dari tadi mencarimu, cepat mandi. Kita harus segera berangkat."

Yuki hanya mengagguk dan terus tersenyum. Naruto mengerutkan keningnya ketika melihat tingkah aneh putranya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi.

"Ada apa dengan Yuki? Kenapa tersenyum? Apa paman memberimu hadiah?" Tanya Sasuke ketika melihat putranya tersenyum. Ia mendekati Naruto sembari berusaha memakai dasi.

Mengerti dengan maksud Sasuke, Naruto segera mengambil alih dasi tersebut dan membantu Sasuke memakaikan dasinya.

"Paman lagi main 'kuda-kudaan lagi' tapi hari ini lebih cepat."

Sasuke dan Naruto mematung ketika mendengar kalimat ambigu putranya. Beberapa saat ketika mereka mengerti maksud dari perkataan Yuki, mereka pun berteriak bersamaan:

"UCHIHA BASTARD. KUNCI PINTUNYA KALAU LAGI 'BERMAIN'. KALIAN MENGOTORI OTAK YUKI."

Mengabaikan nafas tersengal kedua orang tuanya, Yuki pun melenggang pergi sambil berucap, "seperti kalian tidak saja."

Naruto mendengus menahan amarah, "NAMIKAZE YUKI!"

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

Itachi mengelus pipinya yang sedikit ngilu. Deidara memukul wajahnya habis-habisan setelah keponakannya memergoki mereka berdua sedang asyik 'olah raga'. Untung saja pipinya tidak lebam. Ia terus memperhatikan Deidara yang berjalan lebih dulu di depannya. Ia memang begitu beruntung, mendapatkan surga dan neraka sekaligus.

"Paamaan!" seru Yuki ketika melihat Kyuubi yang juga kebetulan baru datang. Yuki berlari ke arah pamannya dan dihadiahi sebuah gendongan.

"Keponakan paman makin berat nich?"

Yuki hanya nyengir.

Kyuubi melirik Deidara yang Nampak acuh. Tujuh tahun berlalu namun semua tidak berubah. Deidara tetap tidak menyapanya, apalagi semenjak Kyuubi menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan Uchiha yang dipegang Itachi. Sampai kapan kakak tirinya bersikap seperti itu.

.

.

Acara pun dimulai ketika orang penting dalam terselenggaranya pesta tersebut telah datang. Tepuk tangan mulai terdengar manakala Uchiha Fugaku memulai pidatonya. Ia sangat bangga kepada putra-putrannya yang telah berusaha keras agar perusahaan keluarganya tetap berada di atas.

"Mulai minggu depan, saya akan mulai membantu dalam perusahaan. Mohon bimbingannya!" seru Sasuke lantas ia membungkuk hormat.

Tepuk tangan kembali terdengar.

Di saat para undangan menikmati pesta meriah itu, Deidara memilih menyendiri di sudut ruangan. Jujur saja, bokongnya masih sakit sehingga ia tidak dapat berjalan dengan bebas. Ia kembali meruntuki tindakan Itachi. Sudah tahu ada acara penting, namun Itachi malah mengerjai tubuhnya.

Matanya bergerak mengikuti tingkah laku dua orang yang sedang bercengkrama di depannya, sesekali tertawa dan membuat Deidara semakin kesal. Pikirannya melayang. Mungkinkah dua orang tersebut memang ada hubungan khusus? Bagaimana pun suaminya pernah jatuh hati dengan rubah liar itu.

.

.

"Kepalaku pusing!"

Sasuke merasa cemas melihat wajah Naruto yang Nampak pucat itu. Ia segera memapah Naruto keluar dari ruangan tersebut lalu mencari kamar yang masih kosong di hotel tersebut. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuh Naruto ke atas ranjang.

Tanpa menunggu waktu, ia menghubungi Kabuto, dokter yang selalu menangani Nauto.

"Kenapa bisa seperti ini?" Sasuke meraih tangan Naruto.

"Mana aku tahu?" seru Naruto kesal. Kepalanya sungguh pusing dan perutnya begitu sakit. Rasanya ia tidak salah makan tadi. Ia hanya mencicipi sedikit makanan yang dihidangkan.

Sasuke menatap pintu kamar ketika seseorang masuk dengan membawa tas jinjing.

Kabuto tersenyum ketika Sasuke memandangnya. Ia berjalan mendekati kedua pasangan tersebut. Ia dapat melihat wajah pucat Naruto. Tanpa basa-basi ia segera memeriksa Naruto.

Kabuto tersenyum lalu menatap Sasuke, "Sepertinya akan ada Uchiha kecil lagi," serunya membuat Sasuke tersenyum. Senang karena Naruto tidak akan bertingkah sok keren ketika masuk kampus nanti.

Namun berbeda dengan Naruto. Ia Syok! Sebentar lagi, ia mesti masuk kuliah. Bagaimana bisa itu terjadi? Dan lagi, merawat satu Uchiha kecil saja rasanya penuh dengan kesabaran. Apalagi harus ada lagi Uchiha kecil yang mungkin bisa semesum Uchiha yang lainnya. Pikiran Naruto kian melayang kemana-mana, sementara kepalanya makin pusing.

"TIDAAAK" teriaknya frustasi mengakhiri kisah yang penuh perjuangan dan air mata ini.

.

.

.

END

.

.

Tamat. Ini beneran tamat. Maaf kalau ada kekurangan. Saya berpikir, lebih baik saya akhiri dengan seperti ini dari pada menggantung tanpa kejelasan. Saya benar-benar minta maaf, jika selama ini sering mengecewakan. Saya berterima kasih atas dukungannya selama ini. Akhir kata, sampai jumpa di ff saya yang lainnya.

.

.

Thank's to Reviewer:

Guest, hanazawa kay, kkhukhukhukhudattebayo, kimura_shiba, Queenymalf, uzumakinamikazehaki, Vianycka Hime, kazekageashainuzukaasharoyani, Mii_Soshiru, sanaki chan, oka, dwi2, RisaSano, Arum Junnie, hatakehanahungry, laila_r_mubarok, Dewi15, yassir2374, driccha, RaFaLLight S_N, Misa-Kun_May_Micha007, Gunchan CacuNalu Polepel, Ahn Ryuuki, MoodMaker, MJ, Kujyou SasoDei-Qy, devilojoshi, Reita, Angel Muaffi, Cho Ah Jung As Mizury23, collitha, ana_karina_12576, mifta cinya, rylietha_kashiva, akara katsuki, anita_indah_777, Zen Ikkika, gici love sasunaru, ca kun, himeko laura dervish cielo, Rin Miharu-Uzu

han gege, Cappuccino 'Kappu san, Dobe Hilang, nasusay, rama_yuliansyah_5, Farenheit July, Subaru Abe, dame dame no ko dame ku chan, Akasuna no Akemi, gothiclolita89, aiska hime-chan, Yuura Shiraku, B-Rabbit Ai, dwi_yuliani_562, alta0sapphire, Ilma, Himawari Wia, ryu, niixz_valerie_5, sakuranatsu90, Kim anna shinotsuke, My beauty jeje, jie, 0706, AQua Schiffer, Mrs_ EvilGameGyu, Akira Veronica Lianis, TheBrownEyes'129, jieichiai, Princess Love Naru Is Nay, Yuzuru Nao, sheren, kinana, widi orihara, Ciel-Kky30, Infaramona, My Name Is Kuzumaki, mayucchi

YukiIcePrincess, AyuClouds69, ElfRyeosom498, Yurika46, Hanyoung Kim, Otueku, zaladevita, one D piece, Qeem, miira, Uchiha enji, onxyshapierblue, azurradeva, funny bunny blaster, Inez Arimasen, Dark de_ay, ratihh, D-chan, UCHIHA yunaHitssugaya, Dinda Clyne, Maudy kim, Nadine yumi, yuna, LNaruSasu, A-Drei, Fujoshi sasunaru forefer, Naara yukii, Momon the fujoshi, megajewels2312, Ciput, ttixz bebe, Kim eun seob, Temeiki Ryu, meyy-chaan, michi93, miszshanty05, SuChan, cahya_tingting, trisna, Nisa RedSapphire, chika, shikakukouki777, mori m, mii-chan07, haruna aoi, Sakura, czacza, Namikazevi, miao-chan2, Nine, Calico Neko, Jesslyn Rikaharu, Dark kitsune, citra nanodayo, iqyuzuchan14, YukiMiku, 989seohye, FUJOYers Always Forever, Armelle Eira, Icha Clalu Bhgia, YuukiMiku, Yue_Lawliet, nurulbotti, dizZylish1, pathetichilla, ruenniiuzumaki, cha_e_sho, botol pasir, Fu, Akita Neru, kuroko-chan, Anna_dee, TheFujoshiGeneration, Son Sazanami, Kutoka Mekuto, nicckendwi, Haru-QiRin, Oguri Miruku, Namy Alice, Qhia503, nise-kun, Akasuna no tazune, neko-tan, Mimi-chan Yaoi Lovers, Kutoka Mekuto, meyy-chaan, Tia Hanasaki, aku, Zaky UzuMo, iztha dark neko, nise-kun, VIP, Ayuni Yukinojo, Augesteca, devilluke ryu shin, chika, PoeChin, Vz, 84RIni, kagurra amaya

Thank's to Favorite:

Cappuccino 'Kappu san, My Name Is Kuzumaki, Sora asagi, kagurra amaya, kkhukhukhukhudattebayo, mayucchi, PoeChin, Misa-Kun_May_Micha007, Phoenix Emperor NippleJae, nise-kun, Meraina Neterya Potter-Snape, Infaramona, iztha dark neko, himeko laura dervish cielo, devilojoshi, Farenheit July, Mimi-chan Yaoi Lovers, UkeYesung xD, mbaby jjyong, rama_yuliansyah_5, laila_r_mubarok, nasusay, LemonTea07, Kutoka Mekuto, Subaru Abe, Ciel-Kky30, Ritsu ayumu

Uzumaki 'Muku' Zoldyck, Qhia503, virgi_t_andini, LonelyPetals, hanazawa kay, Satsuki Naruhi, dyodokyung, Kyuuto Karen, Ryuujin Shinkami Ashura, Mrs_ EvilGameGyu, Cho Asuka GameKyu, pathetichilla, Kitty-Boem98, ChientzNimea2Wind, Yue_Lawliet, Icha Clalu Bhgia, TheBrownEyes'129, Akira Veronica Lianis, Kujyou SasoDei-Qy, dame dame no ko dame ku chan, SimbaRella, iqyuzuchan14, Deyerraa, gothiclolita89, niixz_valerie_5, reikha, Maru Glendive Diamond, collitha, togawa rizu, Queenymalf, sanaki chan, SparkCLoud0324, Cho Ah Jung As Mizury23

Yoruichi Regino, Deep'O'world, Mii_Soshiru, Vianycka Hime, mii-chan07, shikakukouki777, shuki00, uzumakinamikazehaki, Pytha Melody si OtakuFujo, sakuranatsu90, Setsuko Hinata, aliensparkdobi, trisna, Dewi15, gici love sasunaru, Reikai Eran, depdeph, titin_suhayah, RisaSano, megajewels2312, Angel Muaffi, chy karin, kazekageashainuzukaasharoyani, Ahn Ryuuki, anis_ladyroseuchiha, Viviandra Phanthom, anara17, kitsune Vizzie, yassir2374, Be Nuddish, RevmeMaki, Blukang Blarak, Rizura-chan, ellexleene, rylietha_kashiva, Inez Arimasen, Tomoyo to Kudo, Yuura Shiraku, anes dobe-chan, ai73, AKAshi Kirigaya Uzumaki Uchiha, Zara Zahra, ana_karina.12576, kitsune Riku11, nyi_saripah, alta0sapphire, afifah_kulkasnyachangmin, eizan_ki, ai_hikaru1, one D piece, melmichaelis, kotakpensil, lhya_liblbi, LibyunLady, Hanyoung Kim, ayuhztao, yukiko senju, cha_e_sho, AyuClouds69, ParkHyunHa, YukiIcePrincess, Siti257

Thank's to Follow:

Infaramona, Lee Min Ah, Sora asagi, kkhukhukhukhudattebayo, laila_r_mubarok, mayucchi, KyouyaxCloud, Misa-Kun_May _ Micha007, rarisa, hatakehanahungry, widi orihara, devilojoshi, kimura_shiba, Mimi-chan Yaoi Lovers, UkeYesung xD, yonaelf, nasusay, LemonTea07, Kutoka Mekuto

Ritsu ayumu, norfatimah96, Qhia503, kimhyena, Haru-QiRin, Ryuuki Ukara, virgi_t_andini, hanazawa kay, Mitsuki Ota, gloinemask, dyodokyung, Anna_dee, Kyuuto Karen, littletaeminho, PIGLATYPUS, Mrs_EvilGameGyu, Cho Asuka GameKyu, pathetichilla, dizZylish1, Yue_Lawliet, Icha Clalu Bhgia, Naito Kagami, TheBrownEyes'129, Akira Veronica Lianis, niixz_valerie_5, Anaatha Namikaze, Mii_Soshiru, dame dame no ko dame ku chan, michi93, iqyuzuchan14, driccha, Yamashita Miko, Rhanie89, wildapolaris, gdtop, reikha, Maru Glendive Diamond, collitha, togawa rizu, sanaki chan, SparkCLoud0324, haruna aoi

Frea Hime Fujoshi, Yoruichi Regino, Vianycka Hime, Xiaooo, onxyshapierblue, shikakukouki777, shuki00, Pytha Melody si OtakuFujo, Setsuko Hinata, aliensparkdobi, dwi2, trisna, Temeiki Ryu, Reikai Eran, A-Drei, titin_suhayah, RisaSano, kazekageashainuzukaasharoyani, Ahn Ryuuki, ChukheNalu 4ev, anis_ladyroseuchiha, yassir2374, anara17, Yuu si fujoshi, kitsune Vizzie, erikafujo, Angeljeremy, RevmeMaki, Rotten ApplePine, Blukang Blarak, Rizura-chan, ellexleene, stekyung, azurradeva, B-Rabbit Ai, Yuura Shiraku, anes dobe-chan, Oh Dhan Mi, AKAshi Kirigaya Uzumaki Uchiha, Dewi15, Zara Zahra, kitsune Riku11, nyi_saripah, alta0sapphire, eizan_ki, one D piece, melmichaelis, lhya_liblbi, Hanyoung Kim, marsamariana, manyulz, wawatvxq, Renica, yukiko senju, cha_e_sho, AyuClouds69, ParkHyunHa, YukiIcePrincess, Siti257