Kuroko no Basket © Tadoshi Fujimaki

WARNING!

OOC, GAJE, ALAY, EYD NGAWUR

.

Author lagi punya banyak ide. Jadi bisa langsung dapat 2. Huehehe… yang ini paling panjang kayaknya. Terinspirasi dari lagu Ostnya 5 cm/sec. Keren banget anime itu.

.

KRIIINNGGGG….

Bunyi alarm itu benar-benar membuat Aomine kesal. Ia mengambil alarm itu dan segera mematikannya. Ia kembali menutup diri dengan selimut tebal. Ia sangat mengantuk. Lagipula hari ini ia kan tidak bekerja? Apa ada hal yang lebih penting selain….

"Mati aku!"

Aomine segera bangkit dari tidurnya dan segera pergi kekamar mandi. Bagaimana mungkin ia lupa hal yang maha penting ini? Ingin rasanya ia memukul kepalanya dengan sikat gigi. Begitu selesai membersihkan diri, ia mengganti pakaian dengan celana hitam panjang, kemeja putih, dasi hitam dan jas hitam. Ia lalu mengambil handphonenya dan melihat isi pesannya. Sudah dipastikan penuh dengan sms dari ibunya dan… Momoi. Ah, sudahlah, ia harus bergegas!

"Ah, bodoh!" Aomine berbalik, setelah tadi menginjakkan kaki diluar apartemen, untuk kembali mengambil benda maha penting.

"jika cincin ini tertinggal, aku akan dibunuh bibi!" bibi yang dimaksud oleh Aomine ini adalah ibu Momoi. Beruntung Aomine memiliki kaki yang panjang, sehingga ia bisa sampai ke lantai 1, dari lantai 7 dengan cepat, untuk mengambil motornya dan melaju kencang menuju gedung tempat diselenggarakannya pernikahan.

Momoi hanya bisa duduk diam dengan gelisah. Dasar ganguro! Bisa-bisanya ia terlambat? Apa aku perlu membangunkannya setiap hari? Lagi pula, sudah 4 tahun berlalu dan ia belum juga bisa mandiri? Momoi mengomel sembari meremas kertas yang ada ditangannya.

"uwahhh… si pengantin cantik juga, ssu!" celetuk ceria dari Kise menghiasi hari Momoi yang suram. Ia lalu tersenyum melihat satu persatu temannya masuk. Kise, Murasakibara, Midorima, Akashi, Sakurai dan tentu saja…

"Tetsu-kun!" Momoi segera berlari dan memeluk Kuroko.

"Momoi-san, hilangkan kebiasaan burukmu ini, kau akan menikah…" ujar Kuroko dengan kalemnya. Momoi melepaskan pelukannya.

"tapi, Tetsu-kun… kau tahu kan, Aomine telat? Kau harus memarahinya ya!" pinta Momoi.

"tenang saja Momoi-san, Akashi-kun ada disini, Aomine-kun pasti mati begitu sampai disini!" ujar Kuroko. Akashi mengangguk, Murasakibara bertepuk tangan, Midorima hanya menggelengkan kepala, Sakurai meminta maaf dan Kise terkejut.

"Apa, ssu? Bagaimana mungkin kau membunuh Aominecchi?" pertanyaan itu sontak membuat seisi ruangan penuh dengan tawa. Momoi begitu senang bisa bertemu dengan teman SMP dan SMA-nya ini.

"maaf, tapi Momoi, aku sampai tidak percaya kau menikah dengannya…" ujar Sakurai. Semua terdiam.

"yah, aku sendiri tidak mengerti, Sakurai-kun." Jawab Momoi.

"kau harus bahagia, Momoi. Aomine itu memang bodoh, nanodayo!" ujar Midorima.

"padahal ia yang mengatakan padaku untuk mendahului, tapi malah ia yang tidak mengatakannya padamu…" ujar Akashi sambil mengasah pisau. Yang lain memandang dengan penuh ke-horor-an.

Dan akhirnya Aomine tiba dengan tergesa-gesa. Ia merutuki dirinya yang sering cuek pada keadaan. Hal penting begini, bagaimana mungkin bisa ia lupakan? Ibunya datang menghampirinya.

"anak ini, kau membuat nyonya Momoi khawatir… cepat pergi sana! Aduh… dasimu…." Ibu Aomine memperbaiki dasi anak tunggalnya yang sudah tidak bisa dibilang rapi lagi.

"iya iya…" Aomine segera masuk kegedung dan meminta maaf kepada semua orang yang ada disana. Ayah Momoi segera pergi keruangan Momoi. Aomine bisa melihat sahabatnya duduk dibarisan depan. Kuroko yang menatapnya dengan datar namun penuh makna, Midorima yang tampak cuek tapi sebenarnya kesal, Kise yang wajahnya jelas-jelas tampak kesal, Murasakibara yang terus mengunyah permen namun memandangnya dengan lekat, Sakurai yang menatapnya kasihan dan Akashi yang menodongkan gunting padanya. Hari ini, adalah hari yang melelahkan.

"pengantin perempuan datang…"

Begitu pintu dibuka, Momoi masuk dan digandeng oleh ayahnya. Sementara music mengalun merdu, mereka berjalan dengan pelan. Aomine melihat kejadian itu dengan hanya bisa terdiam. Ia memegang erat kotak kecil berisi cincin. Dan entah kenapa, ingatan 6 bulan yang lalu, kembali berputar.

…..

Angin berhembus dengan lembut dimalam selasa itu. Aomine sesekali memantulkan bola basket dan memasukkannya kedalam ring dengan mudahnya. Kemampuannya tidak sedikit pun berkurang meski sudah bertahun-tahun tidak bertanding.

"Aomine-kun… kau memang hebat…" suara Momoi terdengar. Aomine segera menoleh. Ia lupa hari ini Momoi pulang dari London. Menyelesaikan kuliahnya. "lama tak bertemu…"

"ya, lama tak bertemu…" jawaban Aomine itu mengembalikan keheningan malam. Mereka berdua hanya terdiam selama kurang lebih 5 menit.

"apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Momoi lagi. Aomine hanya terdiam. Ia tahu, mungkin Momoi sulit untuk mengatakan hal itu padanya. Ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Ia begitu bingung. Kenyataan yang memisahkan mereka selama 4 tahun itu memang agak menjengkelkan. Aomine sendiri tidak percaya bahwa hal seperti ini akan terjadi.

"Aku akan menikah bulan Mei nanti…" ujar Momoi akhirnya. "Kau sudah tahu kan? Imayoshi-senpai memintamu untuk…"

"aku sudah tahu. Kalau hanya ingin mengatakan itu, kau boleh pergi…" ujar Aomine. Ia tidak ingin mendengar apapun lagi. Ia sudah tahu hal itu beberapa minggu yang lalu dari Kuroko. Kenapa ia harus mengetahuinya dari orang lain? Ini lebih menyakitkan.

"Daiki-chan…" panggilan itu membuat Aomine tertegun. "padahal aku berharap kau yang mengatakannya padaku."

"selamat ya…"

"aku sangat senang melihat kalian."

"ya ampun, Momoi. Kau cantik sekali!"

Berbagai komentar meluncur dari mulut sahabat Momoi. Mereka tampak tersenyum bahagia dan Momoi hanya menjawab terima kasih sambil tersenyum dan sesekali menimpali pertanyaan mereka. Imayoshi yang sedari tadi berada disampingnya, pergi menuju Aomine yang sedang duduk sendiri sambil memainkan handphonenya. Kalau saja Imayoshi tahu, Aomine tidak melakukan apa-apa.

"Aomine, terima kasih kau sudah mau membawakan cincinnya." ujar Imayoshi.

"hem? Ya, tidak masalah." Jawab Aomine. Ia bingung harus mengatakan apa pada orang yang ada dihadapannya ini.

"Momoi, maksudku, Satsuki sangat cantik hari ini kan?" Tanya Imayoshi. Aomine tertegun dengan cara Imayoshi memanggil Momoi. Ia tidak suka. Hanya ia yang boleh memanggil Momoi dengan nama kecilnya. Tapi, sudahlah. Imayoshi sudah menjadi suami Momoi.

"hem… lebih baik dari biasanya…" jawabnya.

"hahaha… kau itu memang tidak bisa jujur ya." Celetuk Imayoshi. Ya, itu benar. Aomine tidak bisa jujur. Ia tidak bisa jujur pada perasaannya sendiri dan itu membuatnya kesal setengah mati.

"tapi aku iri padamu, Aomine." Ujar Imayoshi lagi. Aomine memandang Imayoshi heran. "Kau sudah bersama Momoi sejak kecil, kan? Aku ingin sekali memiliki kenangan yang kau miliki. Kau sangat beruntung, Aomine." Perkataan Imayoshi itu kontan membuat Aomine terdiam. Ia tidak beruntung sama sekali. Lagipula semua kenangan itu sudah tidak berguna lagi. Itu hanya kenangan. Hanya kenangan saja.

"…"

"…"

"…"

"ya, aku sangat beruntung…"

….

Words : 973

….

- THE END -

Karena gak semua cerita cinta berakhir bahagia. Apalagi yang LDR, kayak saya. Tetsuuuuu… #plak. Saya nyesek ini. Syumpeh T.T