From Now, Tomorrow and Forever
Naruto © Masashi Kishimoto
Permen Caca and Karikazuka proudly present
NaruHina Fanfiction
AU
Enjoy for the Fiction!
.
.
.
Bagaimana caranya supaya aku bisa lebih akrab denganmu, Naruto-kun?
.
.
.
Pagi ini, bukan pagi yang biasa.
Bangun tidur, mikirin Naruto. Gosok gigi, bayangin Naruto. Mandi, mikirin cara supaya bisa ngobrol akrab dengan Naruto waktu di sekolah nanti. Sampai ganti baju pun, Hinata bahkan memadukan semuanya sambil berharap Naruto suka dengan penampilannya hari ini.
Dengan wajah yang berseri-seri, Hinata menatap gambaran dirinya di cermin. Seragam hari nampak lebih manis dari pada hari-hari yang biasanya. Mungkinkah karena dia menganggap dirinya bersiap-siap demi Naruto hari ini?
Mimpikah ia semalam? Dia berpacaran dengan Naruto? Ya ampun! Bagaikan mimpi yang mustahil jadi kenyataan.
"Nee-chan, kenapa terlihat ceria sekali pagi ini?" tanya Hanabi yang tiba-tiba tanpa Hinata sadari sudah ada di belakangnya. Hinata memutar tubuhnya dan melihat Hanabi masih dalam balutan baju tidurnya.
"Oh, ternyata Bear sudah bangun. Tumben sekali pagi-pagi begini," celetuk Hinata lalu menyentilkan jarinya ke hidung Hanabi. Ia tersenyum lembut pada adiknya itu.
"Ugh … Berhenti memanggilku Bear! Aku ini sudah besar." Hanabi bersungut seraya mengerucutkan bibirnya masam dan disambut dengan tawa kecil Hinata.
"Kau baru sepuluh tahun, dan kau memang masih kecil," ujar Hinata sembari mengambil tas sekolahnya berwarna ungu, lalu menepuk pucuk kepala Hanabi—yang tingginya hanya sebatas pinggangnya, "cepat mandi sana. Nanti kau terlambat dan Nee-chan sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu."
Mata Hanabi yang sayu karena mengantuk mendadak melebar penuh semangat. "Omelet dengan sosis panggang?"
Hinata mengangguk. Hanabi secepat kilat bergegas mandi setelah mengetahui jawaban Hinata. Gadis bermata keperakan itu tertawa geli melihat tingkah polos adiknya. Hinata pun menuruni tangga dan ingin pamit pada papanya itu.
Setelah menuruni tangga, dia berbelok ke kiri—ke tempat kamar papanya. Hinata pun terheran, kenapa pintu kamar papanya tidak tertutup rapat. Akhirnya dengan gerakan pelan, dia membuka pintu itu dan lagi-lagi menemukan papanya tertidur di meja kerja. Tidak tega mengganggu papanya yang sepertinya kelelahan tersebut, akhirnya dia kembali menutup pintu dan tidak jadi berpamitan dengan papanya.
"Nee-chaaaaan!"
Ups. Sepertinya Hinata harus bergegas pergi.
"Nee-chaaan bohoong! Kenapa sarapannya sayur, sih?" Hanabi berlari dengan langkah-langkah dua kali lebih lebar dari yang mampu dicapainya untuk mencari-cari kakaknya dan menemukan pintu depan sudah terbuka lebar.
.
.
"NARUTOOO! BANGUUNN!" suara Kushina menggelegar pagi itu. Mengalahkan petir yang menyambar kabel listrik rumah Hokage minggu lalu. Namun nyatanya, Naruto malah makin menarik selimutnya, hendak kembali tidur dan memilih terbuai dalam mimpi.
"NAARUUTOO! MAU TIDUR SAMPAI JAM BERAPA?!"
Ck. Memangnya sekarang jam berapa, sih? Naruto mendumel dalam hati. Diliriknya jam dinding yang tergantung. Jarum kecilnya ke angka tujuh, jarum panjangnya ke angka satu. Otak Naruto pun mulai mencerna dalam hitungan tiga … dua … satu!
"HUUUAAAA! SUDAH JAM TUJUH!"
Segera dia sambar handuknya di tiang penggantung—yang ditarik paksa dan nyaris terkoyak—kemudian masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual paginya dengan kecepatan kilat.
.
.
.
Naruto segera memarkirkan sepedanya dan berlari ke gerbang sekolah. Dilihatnya siluet tubuh semampai Hinata yang sedang berjalan memunggunginya. Bergegas, dihampirinya gadis yang baru saja menjadi pacarnya itu.
"Hinata!"
Merasa dipanggil, gadis berambut indigo panjang itu segera berhenti dan menoleh ke belakang dengan gerakan yang cukup dramatis dan anggun.
Deg!
Na-Naruto-kun?!
"Hinata—uhuk—uhuk—Tungguu!" Naruto nyaris kehabisan napas akibat berlari ketika sampai di tempat Hinata. Namun, bukannya berhenti berlari, dia malah menarik tangan Hinata ke dalam sekolah.
"A-ada apa, Uzu—Naruto-san?" Ugh, Hinata menggigit bibir bawahnya gugup. Pipinya memerah. Nyaris saja memanggilnya 'Uzumaki' lagi. Meski bisa dibilang status mereka sudah jadi sepasang kekasih, tapi status itu terlalu ... 'Baru' baginya dan dia jadi bingung harus bersikap bagaimana.
Naruto menolehkan kepalanya dan melempar pandang heran terhadap gadis yang ternyata hanya setinggi dagunya. Pas sekali, Hinata sangat pas jika sejajar dengan Naruto. Bagaikan pangeran dan sang puteri di negeri dongeng.
"Kok bertanya 'ada apa' sih? Kita ini terlambat lho?" Mata biru langit Naruto berpendar heran menatapi Hinata.
Kali ini, gantian Hinata yang memandang Naruto heran, dengan tambahan ekspresi malu-malu juga sih.
"E-eh? Bu-bukannya sekarang baru pukul setengah tujuh?" ucap Hinata meragukan kebenaran waktu yang ada di rumahnya. Ia mengedarkan pandangannya guna mencari jam lainnya yang lebih meyakinkan.
"Hah?!" Naruto tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dipindainya lingkungan sekitarnya dan sekolah memang masih sepi. Tiba-tiba saja bayangan ibunya menyambangi memorinya.
Ibu.
Ibu.
'Ini pasti kerjaan Ibu yang mempercepat jam! Grrr!' batin Naruto. Mana dia belum sarapan lagi. Kantin sekolah? Belum dibuka pastinya.
Oh, jadilah dia seorang siswa tampan berambut kuning yang sedang kehabisan tenaga dan kelaparan berat. Dramatis sekali.
Kruyuuuk!
Perut Naruto tiba-tiba berbunyi keras, mengalahkan bel masuk sekolah yang terkenal kerasnya. Wajah Naruto sedikit memerah malu dan dia melempar cengiran gugup pada Hinata.
"Na-Naruto-san belum sarapan,kah?" tanya Hinata pelan. Cengiran Naruto bertambah lebar dan itu sudah cukup jadi jawaban. Gadis itu segera merogoh tasnya dan mengeluarkan kotak bekal makanannya. Ragu-ragu, dia mengulurkannya pada Naruto. "Na-Naruto-san, makanlah ini dulu untuk sarapan."
Naruto mendorong pelan bekal itu. "Itu 'kan bekalmu, Hinata. Lagi pula, aku juga tidak begitu lapar—"
Kruyuuk!
"Uhuk-uhuk!" Sekarang, wajah Naruto tambah memerah karena ketahuan berbohong. Mulut bisa bohong, tapi soal lapar, perut gak bisa bohong. Bahkan batuk yang dibuat-buatnya tidak bisa membuat wajahnya tebal.
Hinata tak dapat menahan dirinya mengikik geli. "Ma-makan saja dulu, Naruto-san." Hinata kembali menyodorkan kotak bekalnya pada Naruto. Pelan, diambilnya kotak bekal itu dari Hinata.
"Terima kasih, Hinata …." Naruto tersenyum dan mengacak rambut gadis itu pelan. "Kau juga, temani aku makan di atap sekolah, ya!"
Wajah Hinata memerah karena kepalanya tersentuh sebuah benda hangat dan besar. Ia mengangguk malu-malu. Akhirnya, ia pun berjalan bersisian dengan Naruto tercintanya menuju atap sekolah.
Aiiiiiiih, makan bersama Narutooooooooooooo! Wajah Hinata makin memerah malu menyadari hal itu. Ini kali pertama ia bisa makan bersama-sama dengan Naruto yang selalu ia sukai.
"Hinata, coba kamu panggil aku," titah Naruto membuyarkan bayangan-bayangan Hinata tentang makan puding bersama sambil suap-suapan. Hinata berjengit pelan dan mengangkat alis bingung.
"Umm, Naruto-san?"
Naruto terbahak. "Kan sudah kukatakan jangan memanggilku dengan embel-embel 'san' Hinata. Coba sekali lagi panggil aku."
BLUSH!
GAK BISA, MANA BISA DIA BILANG HAL SEPERTI ITUUUUUUUUUUU?!
Hinata menyentuh kedua pipinya yang memerah bagai buah tomat yang masak. Tidak, tidak. Ia tidak bisa mengucapkannya! Membayangkannya saja membuat dirinya malu setengah mati.
"A-ano ..." Hinata memutar-mutar kedua telunjuknya ragu-ragu. Wajah merahnya belum teratasi sepenuhnya.
"Ayo doooong," pinta Naruto memohon. Ia memegangi lengan seragam Hinata sambil bergaya merengek. Membuat Hinata Mau tidak mau mengalah pada lelaki itu.
"Na—Na—" Bibir Hinata bergetar, tidak kuat menahan malu.
Mata biru Naruto berbinar menunggu namanya selesai disebut. Antusias tidak bisa terelakkan dari raut wajah itu.
"Na—Na—Naruto—Naruto—" Hinata menutup matanya rapat dan membuka suara lirih, "—kun ..."
"Lagi! Lagi!"
"Na—Naruto-kun…."
Naruto tersenyum girang. Entah kenapa dia menyukai cara Hinata memanggilnya. Kemudian, dia meraih dagu Hinata agar gadis itu bersitatap dengannya. "Gitu dong, panggil pacar 'kan harus mesraaaa!"
Pipi Hinata sontak memerah dan Naruto tergelak melihatnya. "Aku memanggilmu Hinata-chan. Lebih lucu dan imut, sih. Boleh, kan?"
.
.
Aku di sini, hanya bisa menatap punggungmu.
Sebait kalimat melankolis melayang di pikiran Sakura saat menatap punggung pemuda berkulit tan. Mata hijau itu menebar sendu yang dalam. Namun belum selesai ia memuaskan keinginannya, tiba-tiba matanya di tutup oleh sebuah tangan.
"Berhentilah, Lee."
"Ah, kenapa Sakura selalu tahu, sih?" ujar Lee melepaskan tangannya dari mata Sakura dan berputar-putar sebal. Baru saja ia berpikiran kalau Sakura baklana kaget dan berteriak-teriak kebingungan, tapi malah sebaliknya.
"Tak ada yang berbuat usil begitu selain dirimu," jawab Sakura seadanya. Lee cekikikan.
"Bagaimana kalau hari ini sepotong waffle?"
"Tidak. Terima kasih, aku ingin cepat pulang hari ini," tolak Sakura halus. Lee sedikit kecewa, tapi langsung menutupinya dengan cengiran lebar.
"Yosh, kalau begitu kapan-kapan saja. Semangat masa muda, yeah!" lantangnya kuat dan membuat Sakura mencubit lengannya untuk menghentikan pemuda itu bertingkah konyol. Apalagi berpuluh pasang mata melempar pandang ke arah mereka berdiri.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya, Lee!" Sakura berpamitan dan berlarian mengejar bus yang baru saja berhenti di halte. Kakinya segera menanjak ke dalam bus dan segera memindai isinya mencari posisi bangku yang ternyaman. Dan dia memilih bagian belakang.
Ia suka bagian belakang bus, membuat angin dapat menyapa wajahnya dan sinar matahari tidak terlalu terik. Kursi belakang juga dekat dengan pintu keluar.
Di samping kursinya ada seorang laki-laki yang tengah menghadap jendela. Tak peduli, Sakura mengambil handphone-nya di dalam saku dan memainkan game legendaris—ular-ularan.
Asyik-asyiknya memainkan permainan legendaris yang tiada habisnya itu, Sakura menyadari ada yang salah dengan penumpang yang duduk di sebelahnya. Berkali-kali kepala penumpang itu menyender di bahunya, terangkat, lalu menyender lagi dengan begitu pas nya.
Berusaha memaklumi, Sakura biarkan saja. Toh, orang di sebelahnya itu juga tidak sampai sedetik hinggap di bahunya dan kemudian bangkit kembali. Sakura mulai sibuk dengan ularnya yang mendadak jadi ular super panjang.
Sedikit lagi ... Sedikit lagi ...
Sakura hampir saja akan berteriak kegirangan saat ularnya akan mencapai makanan terakhir untuk membuka level selanjutnya yang lebih sukar lagi. Sayangnya sebuah kepala menyender mantap di bahunya dan berlama-lama di sana.
You Lose!
Game Over
KURANG AJAR! Sakura ingin sekali membanting handphone miliknya tapi ia berpikir dua kali dan lebih waras untuk lebih tenang.
Sakura melirik ke bahu kanannya malas. Siapa ini? Seragamnya sama dengan seragam siswa di sekolahnya.
"Hoi, mas ..." panggil Sakura mencoba untuk membangunkan dengan cara yang sopan. Permainan ular legendarisnya sudah kalah dan harus mengulang dari level awal lagi membuatnya kesal, apalagi ditambah dengan lelaki yang menyender dengan nikmatnya di bahunya yang seksi ini.
"Mas ..." panggil Sakura sekali lagi. Kali ini sambil menoyor-noyor ringan pelipis lelaki itu. Kalau dilihat-lihat wajah lelaki ini kenapa bersih bersinar sekali, ya? Menandingi wajah perempuan.
Bersih bersinar, sunlight!
Lelaki yang berwajah tampan—mau gak mau Sakura mengakui kalau lelaki itu tampan—itu bergeming. Sama sekali tidak bergerak maupun bergeser.
Pelipis Sakura berkedut. Sudah cukup dia bersabar, kalau lelaki tampan yang seenak dengkulnya tidur di bahunya ini tidak bisa dibangunkan dengan cara sopan, berarti perlu jalan kekerasan ...
Dan apa itu yang terbit di celah bibir tipis itu? ILER? Ya TUHAN!
"MAS BANGUUUUN!" teriak Sakura dengan reflek meninju pipi lelaki yang hingga di bahunya agar segera menjauhkan iler nista itu dari seragamnya yang suci. Sebenarnya ia tidak bermaksud juga terlalu keras meninju, tapi kelepasan jadi keras.
Lelaki yang dibangunkan dari tidurnya mendadak terkejut dan kepalanya nyaris terbentur kaca jendela yang setengah terbuka. Ia mengusap wajahnya dan menyemprot dengan tajam, "Gila kau! Ngajak ribut?"
Sakura malah makin marah diberi wajah dan sikap menantang seperti itu. "Eh, kamu yang ngajak ribut! Ngapain juga nemplok-nemplok di bahu orang, pake mau ngiler lagi! Tahu gak, seragam ini baru tahu! Nanti bau sama ilermu!" balas Sakura sengit.
"..."
"Sapa namamu, pengen ribut? Ayo!" Giliran Sakura yang menantang balik lelaki di hadapannya. Mata hijaunya mendadak terlihat menyala-nyala bagai bara api dan rambut erah mudanya berubah menjadi ular ...
... Ular pink?
Beberapa orang bahkan sampai menoleh ke arah mereka. Ada sebagian murid sekolah yang sama bahkan bereaksi yang tidak biasa. Maksudnya tidak seperti orang yang biasanya melihat keributan.
"Sasuke-kuuuun~! Iie! Siapa diaaa?!"
"Siapa dia, Sasukeeeee?"
"Perempuan galak itu tipe-tipenya Sasuke ya?"
Lelaki yang bernama Sasuke itu mengedutkan alisnya saat menangkap kalimat terakhir seorang lelaki dari kelasnya. Ia mendecih dalam hati sambil membatin, 'Amit-amit.' Lagian, perempuan ini cerewet sekali. Banyak omong.
Bukan salah dia juga 'kan kalau dia itu gampang mengantuk? Apalagi kalau sudah duduk anteng, angin melambai-lambai dan posisi yang nyaman—bahu perempuan pink ini enak juga—untuk bersandar. Mantap deh, tidak perlu sepuluh detik, lelaki tampan itu akan tertidur tenang.
Ssst! Tapi ini rahasia, ya! Jangan bilang siapa-siapa.
Sasuke sendiri mati-matian menyembunyikan 'penyakit ngantuk'nya itu dengan tidur dengan wajah keren di kelas. Entah sambil dengerin musik atau duduk bertopang dagu sambil pura-pura dengerin pelajaran dan sebagainya.
Yang pasti, Sasuke itu suka banget ketiduran kalau sudah duduk, kena angin apalagi ada sandaran yang empuk.
"Berisik," balas lelaki di hadapannya itu dengan wajah datar, walau bercampur dengan ekpresi aneh yang tidak bisa Sakura baca maksudnya. Tapi bagi Sasuke itu adalah wajah yang sebulan sekali tidak bakal pernah keluar kalau bukan kejadian yang penting.
"Apa katamu? Berisik? Iya, aku berisik. Kenapa? Ada masalah dengan itu? Mama papaku aja gak protes, ngapain cowok ileran mau protes? Hah?" sembur Sakura tanpa jeda. Beberapa orang yang duduk di depan mereka bahkan sampai bertanya-tanya pada mereka—sayangnya mereka lebih sibuk berargumentasi.
"Hoy ..." Sasuke berusaha mengehentikan argumen monolog yang dilakukan gadis berambut pink di hadapannya yang menurutnya sangat tidak penting. Ada yang lebih penting dari itu.
"Apaan, jangan bikin orang kesel, deh! Gak tahu aku lagi bete gara-gara kalah main game—itu juga karena kamu tadi—"
"Hoy," potong lelaki itu lagi, tidak sabaran. Ia habis pikir, berapa ratus perempuan bahkan rela melakukan apa saja untuk bisa menjadi sandaran kepalanya, tapi malah perempuan satu ini marah-marah, pakai galak pula.
"Jangan potong-potong perkataanku seenaknya! Dasar cowok tukang ngiler di bus! Kamu gak tahu seberapa sebelnya aku—"
"Hoy!" Sasuke kehilangan kesabaran.
Belum Sasuke selesai mengutarakan maksud 'hoy-hoy' nya, Sakura sudah menghadiahinya dengan satu cubitan manis di lengan atasnya dan segera gadis itu kabur sambil mengomel macam-macam.
"Hoy hoy! Namaku Sakura! Bukan Hoy hoy! Dasar tukang iler!" teriak gadis itu dari luar bus sambil meleletkan lidahnya dan kemudian berlari menjauh secepat kilat. Bersamaan dengan itu, bus mulai melaju kencang.
"Sasukeeeee-kun, daijoubu ka?"
"Dia ngapain kamu, Sasuke-kun? Baik-baik saja? Ada yang luka?"
"Ya ampun, garang. Hahaha ..."
Sasuke mengumpat-umpat sambil mengacak rambut raven-nya tak tentu arah. Beberapa perempuan mulai jatuh terduduk lemas di kursi para penumpang yang isinya para lelaki—yang sangat menguntungkan buat si lelaki tapi rugi-rugi-untung buat si perempuannya—melihat ekpresi Sasuke yang keren.
Padahal, lelaki itu baru saja dia ingin bilang 'Hoy, handphone-mu' tapi keburu dihadiahi cubitan mantap di lengan atasnya. Perempuan ganas.
'Menyeramkan,' batin Sasuke dalam hati. Ia berjanji sekali lagi, kalau ia mau tidur, ia akan melihat siapa yang ada di sempingnya.
Catatan untuk diri sendiri: Jangan naik bus, apalagi yang dengan penumpang berambut pink. Berbahaya untuk keselamatan.
.
.
.
Lee yang biasanya masuk ke gerbang dengan tarian-tarian aneh dan penuh semangatnya, kali ini nampak waras seperti siswa-siswa lainnya. Bahkan beberapa murid sampai menoleh padanya seperti melihat sesuatu yang mustahil terjadi.
Beberapa guru yang berjaga di gerbang sekolah bahkan sampai menganga dan kepala sekolah yang kebetulan ikut berdiri di gerbang melihat para anak didiknya sampai membetulkan kacamatanya berulang kali ; memastikan kalau lensa bantunya tidak bermasalah.
Sayangnya itu kenyataan, realita kalau Lee yang penuh semangat masa mudanya tidak bersemangat layaknya orang muda ataupun semangat kakek-kakek tua sekalipun. Dia diam dan kaku.
Namun, tidak bertahan terlalu lama juga sikap kaku dan diamnya itu, ketika matanya menangkap sosok berambut merah muda yang berjalan menuju gedung sekolah, ia segera berlari secepat angin menuju gadis itu dan menepuk pundak si gadis.
"Ohayou, Sakura-chaaan!"
Sakura menoleh sekilas dan tersenyum tipis. "Ohayou," balasnya kemudian berjalan lagi. Tidak seperti Sakura yang biasanya ceria dan bersemangat.
Lee mengangkat alis tebalnya tinggi-tinggi. "Kenapa, Sakura-chan?!" tanyanya panik. Ia berputar-putar mengelilingi tubuh Sakura yang berjalan lambat itu dengan kecepatan sedang. Biasanya ini latihan, tapi kali ini ia panik.
Sakura mengangkat kepalanya, kemudian menatap Lee dengan pandangan yang lemah dan senyum yang sama lemahnya—senyum yang tak pernah terlihat sebelumnya. Lee berhenti berlari dan berdiri pas di hadapan gadis berambut merah muda tersebut untuk mendengarkan.
"Aku bertengkar dengan Naruto," katanya dengan iris emerald yang nampak terluka.
-TBC-
Special thanks to all readers and reviewers
Balasan review (Oleh Karikazuka)
Mira Misawaki: Makasiiiiih XD Ini yang keren si Permen Caca lho, Karikazuka-nya sih Cuma numpang nama doang di bawahnya judul XDD Antara Lee dan Sakura? Apa ya? Makanya tungguin fic ini terus ya! XD
Anonymous Hyuuga: Huwaaa... makasiiiii XD Iya, udah lanjut, nih XD
UzuHi. Toki: Penulisan 'kamu' siapa, nih? Permen Caca ya? Hehehe ... Makasih ya review-nya XD
Yourin Yo: Udah updateeee XD makasiiiiih
Aam Tempe: Karikazuka manis? #blush #bukankamu wkwkwkwk makasih kakak XD Ini asli yang nerima Hinata, kok... XD
Nimarmine: Wuah, jleb nih... wkwkwkw... Pelampiasan ya? Gimana ya? Dijawab lewat cerita ya :D jadi tungguiiiin! XD makasiiiih!
Widhyie lavender onna: hiks, iya ... T_T Karikazuka dan Permen Caca sebenernya juga gak rela(?) tapi ini tuntutan peran ('-')9 #plak makasih review-nya...XD
Nanako Nijino: Makasih semangat dan reviewnya..XD Jangan lupa RnR lagi ya XDb
Livylaval: Lho? Kok lupa? Kalau lupa, klik 'review' lagi aja..XD kalau udah review nanti diberitahu sama FFn kok.. XD makasih ya... :D
XG: Kirim pesan ke mana? :O " " isinya.. XD Log in dong, entar sama Permen Caca di PM kamu.. XD makasih ya :D
NaruGankster: (1) Multigenre? Wkwkwkwkwkw... harusnya semua Genre masuk ya? XD Cemburu kenapa? OwO? hehehe... makasih ya..XD (2) kamu mau ... Aku juga mau kok... XD wkwkwkwkw.. #plak
Zi Kriany: Diksi... XD si Permen Caca tuh yang bikin diksi mantap XD gatau dikasih penyedap rasa(?) apa sama dia.. XD Syukurlah kalau kerasa, kita semedi tujuh hari tujuh malem buat dapet feel humor #bohong #janganpercaya yosssh! Makasiiiih..XD
Radar Neptunus: hehehe.. aku juga suka review kamu #eaaa #modus wkwkkwkw... Sasuke? Sasuke di fic pasti ada... XD tapi gatau dia bakal jadi gimana ntar... XD yang pasti sekarang dia sementara jadi tukang iler di sini #plak makasih ya... XD
Yukkiteru-sama: sudah... XD makasih ya.. XD
Guest: Yo'i.. XD makasih ya... XD
Swiztanaru: Kapan? Sekarang! XD Makasih RnR nya ya.. XD
Mutiara sagita: hehehe..makasih.. XD udah apdet nih...XD
De Rifqi Da Burhan: Makasihhh..XD Indah? OwO wkwkwk.. Neneknya disimpen dulu bareng buku belajarnya, baca fic kita dulu #dibuang Baca lagi ya? :D pasti! :D
Gomen, kalau ada kesalahan penulisan nama, gelar, atau ada yang tidak tercantum
Itu semua kesalahan yang tidak disengaja.
Author's Note:
Karikazuka: Terima kasih untuk para pembaca setia yang sudah mengikuti sampai di sini. Maaf lama ya, karena aku dan Caca sedikit terhalang sama waktu luang dan beberapa acara. Kemarin Caca UNAS, jadi Hiatus sementara. Gimana Ca hasilnya? Bagus dong pastinya? XD
Aku sendiri juga akan UAS tanggal 1 nanti. Doakan saja cepet selesai dengan nilai yang paling bagus, supaya langsung melanjutkan fic collab ini dengan Caca ya.. XD
Banyak yang harus dipertimbangkan di fic ini, melihat dari aku yang (sok) perfeksionis dengan ceritanya dan Caca yang mengutamakan 'Humor' 'Friendship' dan 'romance' yang kental.. XD Tapi untungnya kita kompak sampai di chapter 3 ini... XD
Permen Caca: Retweet punyamu ya rong! #plak/Mwehehehehe, syukur juga ya bias sampai sini XD. Makasih ya pembaca setia, jadi terharu #plak/dan yang ngedit cerita ini jadi lebih humor itu si Karikazuka, dia punya sense humor yang bagus, hahahaha XD. Balesan review dariku udah di wakili rong tuh, tengs ya rong!
Kritik dan saran selalu diperlukan untuk kemajuan fic ini. :D so, segera klik 'review' dan isikan kesan dan pesan ya.. XD Dilarang tutup tab, close, back, shut down, restart dsb sebelum klik 'review' #plak XD
Dinantikaaaan~~ -Karikazuka & Permen Caca
