From Now, Tomorrow and Forever

Naruto © Masashi Kishimoto

Permen Caca and Karikazuka proudly present

NaruHina Fanfiction

AU

Enjoy for the Fiction!

.

.

.

Akankah kamu tahu perasaan ini, Sakura?

.

.

Lee diam. Sebuah hal yang nyaris mustahil dilakukan oleh orang yang hiperaktif seperti dirinya. Tapi ia benar-benar diam, tidak bereaksi apapun kecuali melongo dengan kedua belah bibir terbuka.

Apa... Apakah salahnya kalau Sakura dan Naruto bertengkar sekarang?

Ia menggeleng. Apa yang ia lakukan kemarin bukan hal yang besar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan apalagi dicemaskan. Ia menggeleng dalam hati.

Tapi ketika melihat senyum Sakura yang nampak terluka itu, perasaan bersalah membebani hatinya. Apakah hal yang ia lakukan itu salah?

"Sakura-chan..." Lee mengangkat kepalanya seraya menggigit bibir gugup. "Maafkan aku," katanya pelan.

Sakura menurunkan kedua sudut bibirnya kembali ke tempat semula. Ia memiringkan kepala heran. "Maksudmu?" tanyanya bingung. Untuk apa Lee minta maaf?

Sayangnya Lee tidak menjawab karena ia sudah keburu berlari menjauh dengan kedua kaki di angkat ke udara. "Aku akan menebusnya dengan berlari lima ratus putaran keliling sekolah dengan kaki terangkat!" serunya seraya menjauh.

Sakura mengangkat alis. "Ada apa dengannya," gumamnya heran.

.

.

"Lima puluh … lima puluh satu … lima puluh dua … lima—"

BRUKH.

Lee langsung jatuh terlungkup. Dia terbatuk-batuk—paru-parunya menjerit meminta udara. Kemudian dia memutar tubuhnya—ukh, erangnya. Otot-otot bisep dan trisep-nya terasa nyeri setelah selesai melakukan push up.

"Langit begitu biru," gumamnya sembari merasakan napasnya mulai teratur. Langit cerah mengingatkannya pada satu memori semasa kecilnya—tentang Sakura dan dirinya.

Suatu hari di musim panas, Lee jatuh sakit dan Sakura dengan langkah-langkah kecilnya masuk ke kamarnya. Menghiburnya dengan berbagai celotehan agar dia tidak kesepian—Naruto tidak ada karena waktu itu dia sedang keluar kota—dan tangan gadis itu menunjuk berbagai bentuk awan. Menyuruh Lee menebak-nebak sekaligus berimajinasi bentuk apa saja yang tercipta.

Lee tersenyum mengingatnya.

"Apa kau masih suka memandang langit, Sakura?" tanya Lee pada dirinya sendiri. "Apa kau masih tersenyum seperti itu saat menatap langit?" Senyum kekanakan polos dan penuh kehangatan.

"Aku dan Naruto bertengkar."

Tidak. Sakura tidak tersenyum lagi sekarang. Senyumnya yang Lee sukai hilang. "Apa itu karena Naruto, Sakura?" dia mengambil napas dalam-dalam. "Apa kamu sama denganku? Sama-sama telah melampui batas rasa sayang terhadap sahabat?"

Hanya desiran angin yang menyahut Lee.

.

.

Naruto mengacak rambutnya—nyaris frustasi. Benaknya memutar kejadian kemarin—yang berhasil mengirimkan gelombang gangguan yang membuat Naruto tidak tenang.

Pikiran tentang Sakura yang menatapnya bertanya-tanya kemarin saat mereka tanpa sengaja bertemu di lapangan luas—Naruto sedang marathon sore saat itu.

"Mengapa kau bersikap defensive, Naruto?" tanya Sakura padanya setelah menemaninya berjalan cukup jauh.

Naruto tertawa separuh. "Kau sekarang merasa kehilangan, ya?"

Candaan itu malah membuat Sakura tersengat. Jadi Naruto benar-benar bersikap defensif padanya? Bukan hanya sekedar perasaannya?

"Kenapa?" tanya Sakura sambil menelan kekecewaannya dalam-dalam.

"Sakura, kukira kamu lebih pintar dalam urusan ini."

"Aku benar-benar tidak mengerti."

"Jangan berlagak polos." Naruto mendesis. "Maaf, aku buru-buru." Kemudian Naruto berjalan lebih cepat—sengaja meninggalkan Sakura.

Sakura terkejut. Baru kali ini Naruto sedingin ini padanya. Hatinya perlahan retak sekaligus emosinya mulai tersulut. Namun bukan Sakura namanya jika tidak meminta penjelasan. Dia pun mengambil sebongkah kerikil di dekat kakinya dan melemparkannya tepat di kepala Naruto.

"Auch! Hei, untuk apa itu tadi?" geram Naruto memegang kepala belakangnya.

"Berhentilah menghindariku! Hadapi … aku." Sakura menatap tajam Naruto.

"Ck, kenapa kau begitu egois?" Naruto benar-benar maju menghadapi Sakura. "Harusnya kau sadar kelakuanmu ini … menyebalkan dan memuakkan."

Selongsong peluru tembus ke ulu hati Sakura. Matanya berkaca-kaca—namun dia tidak mau mengalah. "Jadi, aku menyebalkan ya? Asal kau tahu saja, kau lebih menyebalkan! Sengaja berbuat onar untuk menarik perhatian karena orangtuamu terlalu sibuk! Kau … menyedihkan, aku kasihan." Di bagian akhir, Sakura mendesis memperkuat perkataannya.

Terdorong emosi, Naruto menolak Sakura hingga gadis terjatuh. "Kau … enyah saja." Sebagai laki-laki, Naruto menahan banyak emosi melawan gadis pinkish di depannya. Kemudian dia berlari meninggalkan Sakura.

Air mata Sakura jatuh simetris melalui pipinya. "Baik! Aku juga tidak ingin berhadapan denganmu lagi! Kau dengar?!" dia berteriak saat siluet pemuda itu semakin jauh.

Naruto berlari dengan rasa kecewa di hatinya. Dia memang pernah menceritakan pada Sakura tentang rasa sepinya. Namun, dia tak menyangka bahwa Sakura akan mengatakan itu untuk membalasnya.

Perasaan kesal, marah, sedih, bingung bercampur pada diri Sakura. Dia tidak mengerti kenapa Naruto membentaknya. Apa salahnya? Dia terisak-isak.

Mengapa semuanya menjadi begini?

Sahabat adalah orang yang paling mengerti dirimu sekaligus paling bisa menghancurkanmu, bukan?

.

.

Seminggu lebih ke depannya, Naruto maupun Sakura tidak pernah mau bertatapan satu dengan yang lainnya. Sakura selalu menulikan telinganya apapun itu tentang Naruto. Lee yang mengerti tidak pernah membicarakan Naruto di depan gadis pink itu. Tapi Lee tidak ingin memihak salah satu dari mereka.

Akhirnya mereka bertiga sibuk dengan kegiatannya masing-masing; Naruto dengan klub judo-nya, Sakura dengan klub musiknya, dan Lee dengan klub futsal-nya.

Bel istirahat pun berbunyi. Naruto meninggalkan kelas untuk makan siang bersama Hinata di atap. Perlahan, dia tersenyum dan berniat untuk membelikan minuman dulu.

Sedangkan Lee dan Sakura yang masih di kelas, saling menatap. Sama-sama merasakan tidak enak akan situasi ini. Sakura ingin meminta maaf sejujurnya, dia menyadari bahwa dia berkata keterlaluan pada Naruto. Tapi tak punya cukup keberanian.

"Tidak apa minta maaf duluan," ujar Lee tiba-tiba menyentak Sakura yang sedang melamun menatap bangku Naruto. "Aku yakin, Naruto tidak marah lagi padamu. Dia orangnya tidak suka memendam sesuatu lama-lama."

Sakura mendengus, wajahnya menyiratkan keraguan."Bagaimana jika masih? Bagaimana jika dia tidak memaafkanku?" Sakura belum siap menerima sebuah penolakan. Belum siap untuk sakit hati.

"Aku akan memukulnya," kata Lee enteng.

Kedua sudut bibir Sakura berkedut membentuk senyum. "Dasar. Kalau begitu, doakan aku."

Sakura dan Lee pun tertawa bersama. Yah, setidaknya selama beberapa hari belakangan ini Lee menemaninya dan tidak pernah keberatan ketika Sakura mengajaknya keluar untuk sekedar menikmati frappe di sudut taman.

Lee seharusnya senang karena bisa leluasa dekat dengan gadis yang namanya berarti "musim semi" itu. Bisa dengan mudah menarik perhatian gadis itu dan menjeratnya dalam afeksi yang diberikan. Namun … kenapa dia merasa sangat bersalah?

.

.

Hinata tersenyum ketika Naruto datang menghampirinya. Naruto tampak tampan meski hanya dengan balutan kaos biru dan celana jeans selutut. "Lama."

Naruto mendengus, "Tempatnya jauh sih, Hinata-chan. Letak daerah Shizu kan di pinggir kota Konoha. Ada apa menyuruhku datang ke sini?" Naruto melihat ke sekelilingnya, jalanan cukup sepi. Udaranya sejuk dan pepohonan masih rimbun.

"Aku ingin menunjukkan sesuatu pada Naruto-kun." Hinata berujar dengan sedikit senyum misterius. Lalu dia mengisyaratkan agar Naruto mengikutinya. Dan Naruto menurutinya.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka menemukan sebuah ladang bunga berwarna-warni. Naruto cukup terpukau—meski dia tidak begitu menyukai bunga—tapi pemandangan di depannya menenangkan. Menyejukkan.

"Ini tempat spesialku. Aku selalu merasa sesuatu yang magic di sini. Kuharap … Naruto-kun bisa terkena magic itu." Hinata tersenyum kepada Naruto, kemudian dia duduk di atas rerumputan. Naruto pun ikut mendudukan dirinya.

"Magic seperti apa?"tanya Naruto penasaran.

"Untuk meringankan seluruh beban yang ada di pikiran. Aku selalu merasakan itu jika tiba di sini."

"Eh? Kau sedang terbebani apa, Hinata-chan?"

"Bukan aku, tapi Naruto-kun."

Aku?

"A-aku hanya merasa Naruto-kun seperti ada masalah akhir-akhir ini. Karena itu aku mengajakmu ke sini."

Naruto tiba-tiba teringat masalah dengan sahabatnya, Sakura.

Naruto mengakui dalam hati, gadis itu bisa membaca dirinya. Tahu bahwa dirinya dalam keresahan—bahkan cengirannya tak mampu menipu gadisnya. Sekarang, dia hanya tertawa kecil. Tidak membantah atau pun mengelak. Membiarkan gadis itu mengisi keheningan dengan menceritakan kesukaannya pada bunga aster.

"Jadi kau sangat menyukai bunga aster kuning?" Naruto mengambil kesimpulan.

Hinata mengangguk. Seluruh rambutnya yang dikepit memperlihatkan lehernya yang jenjang. Naruto memperhatikan gadis itu memainkan setangkai aster kecil di jarinya, lalu tiba-tiba menatapnya dengan dahi berlipat.

"Naruto-kun, apa itu yang ada di rambutmu?"

"Hee? Di mana? Di sini?" Naruto menyisir-nyisir rambutnya. Panik kalau-kalau yang hinggap di rambutnya itu serangga yang mengeluarkan bau busuk seperti kecoa.

"Bukan, tapi di sini—" Hinata dengan cepat menyelipkan setangkai aster kecil kuning yang tadi di mainkannya ke daun telinga Naruto.

Naruto terdiam sebentar. "Ah, Hinata-chan mengerjaiku."

Hinata tertawa mendapati respons Naruto—dari bingung menjadi cemberut.

Hinata mempunyai tawa yang bagus—pikir Naruto. Panjang dalam satu tarikan napas. Tidak tersendat dan suaranya terdengar jernih. Saat melihat Hinata tertawa, sorot matanya melembut.

Dia suka melihat senyum Hinata. Suka mendengar tawa gadis itu. Dan Hinata benar, di sini terdapat suatu magic yang Naruto rasakan. Tapi Naruto rasa, sumbernya adalah dari gadis yang sedang meniup-niup bunga dandelion di sampingnya.

Tak lama kemudian, Hinata merasakan sesuatu yang hangat menyentuh tangannya. Tangan yang hangat, besar, dan membungkus miliknya yang kecil. Hinata menoleh dan terpaku. Untuk sesaat segalanya memudar—dia tidak lagi mendengar kicauan burung, tidak lagi merasakan angin dan bunyi dedaunan yang bergesekan. Yang ada hanya dia dan Naruto. Saling bertatapan mata.

"Terima kasih." Senyum tulus yang pertama kali Naruto tunjukan setelah beberapa hari terkesan memaksa. Untuknya. Untuk Hinata.

.

.

"Oke Sakura, tenangkan dirimu. Angkatlah wajahmu dan tersenyumlah saat menyapa nanti."

Sakura bolak-balik menyugesti dirinya yang tengah dilanda kegugupan ini agar mengikuti apa yang ia katakan. Bersikap ceria dan seperti biasa. Dengan itu hubungannya dengan Naruto tidak adan keruh lagi seperti kemarin dan mereka bisa bersahabat lagi.

"Tenang, Sakura. Tenang. Senyum," gumam Sakura berulang-ulang. Gadis itu mengurut dadanya agar tenang karena sejak tadi jantungnya terus saja berdebar gugup.

"Dasar gila, bicara sendiri."

Merasa dibilang gila, Sakura menoleh. Dalam hati ia menyesali dirinya, kenapa ia menoleh? Banyak orang lain di seberang-seberang koridor, bukan berarti dia yang dibilang gila, kan?

"Apa katamu?" kata Sakura menantang sambil berkacak pinggang. Tapi pose itu tidak bertahan lama ketika melihat siapa orang yang berkata gila barusan.

Tegap, postur tubuh sempurna, rambut raven harajuku, wajah tampan—oke, Sakura mau tidak mau mengakui kalau orang ini tampan—dan mata hitam bagai jelaga yang pekat. Si tukang tidur yang ia cubiti kemarin!

"Apa maksudmu?" balas Sakura dengan nada mengancam. Ia tidak sedang ingin bertengkar sebenarnya, tapi perkataan lelaki tampan yang sempat tidur di bahunya ini menohok dirinya.

"Merasa ya? Aku 'kan tidak menyebut namamu," balas lelaki itu dengan nada datar, tapi tersimpan jutaan racun di dalamnya.

Sakura memekik dalam hati. Kenapa sih di sekolah sebesar ini masih saja bertemu dengan orang seperti dia? Sudah tukang tidur, menyebalkan, songong pula. Rasanya Sakura ingin sekali mencabuti rambut raven lelaki di hadapannya ini seperti mencabuti bulu-bulu ayam yang akan disembelih.

Wah, rupanya image tukang jagal sangat cocok untuk Sakura.

"Dasar sinting!" balas Sakura seraya meletakkan telunjuknya di dahi, lalu bergerak ke kanan agar memberi isyarat orang sinting pada lelaki di hadapannya.

"Tidak terbalik?" Lelaki ini boleh juga, membalas dengan begitu santainya sambil menjulurkan lidahnya datar.

Sakura memekik, kini bukan dari hati lagi tapi langsung dinyatakannya dengan tindakan. Bahkan tangan gadis itu sudah bergerak untuk mencakar-cakar. "Dasar kau sinting, gila, tukang tidur, cerewet, berisik, merepotkan! Kau tidak tahu aku ini sedang kesal dan sekarang kau membuatku maraaaaaah!"

"Oi—kau itu yang—lepaskan tangamu dari rambutku—berisik—hei lepaskan—" Sasuke kewalahan ketika mendapat serangan bertubi-tubi. Kedua tangannya bergerak cepat untuk mencekal tangan itu agar menjauh dari kepalanya, tapi sayangnya gadis berambut merah muda ini lebih lihai.

"Apa katamu, hah? Sudah bikin susah orang kemarin, bikin HP-ku hilang dan sekarang kau mengatai aku orang gila dan cari gara-gara. Kau mau kuapakan, haaaaah? Akan kucabut semua rambut ayammu ini sampai ke akar-akarnya!"

"Kyaaaaaaa! Sasuke-kun!"

"Ya ampun, ganas..."

"Ayo Sakura! Ayo tunjukkan keganasanmu!"

"Sasuke, ayo lawan, ayo!"

Berbagai sorakan yang berada di sekitar koridor mau tidak mau menyadarkan Sakura akan perbuatannya. Saat cakaran dan tarikannya mulai melambat, Sasuke langsung menggenggam erat dua tangan gadis itu dan membawanya lari ke tempat lain yang lebih aman.

"Kyaaaa! Sasuke-kun mau dibawa ke manaaaaaa?!"

"Wooooo, mana tonjok-tonjokkannyaaaaa?"

"Hei, mereka pacaran ya?"

"Cieee, mesranya pasangan ganas... Hahahaha..."

Semuanya hanya berkoar-koar di koridor tanpa ada satupun yang berani atau sanggup mengikuti kecepatan lari Sasuke Uchiha yang memang melampui kecepatan biasa. Maklum, bakat alami.

Dan rasanya Sakura juga punya bakat alami yang sama hingga bisa mengikuti kecepatan itu.

"Lepaskan kubilang!" sentak Sakura pada Sasuke yang terus menggeretnya ke daerah koridor yang sepi. Di sana adalah koridor menuju gudang dan atap yang tidak terpakai. "Kalau kau mau pergi jangan bawa-bawa aku!"

Sasuke tidak menggubris. Sementara telinganya ia tulikan dari ucapan berisik gadis yang tangannya masih ada dalam cekalannya.

"Hei, lepaskan tukang iler, ayaaaam!"

"Berisik. Mau kucium kau?" Suara tajam nan datar namun kelam itu seketika membuat Sakura terdiam. Apalagi dirinya dibanting ringan agar mendempet dengan tembok gudang yang berdebu tebal.

Tangan Sakura bergerak menutupi mulutnya dengan kedua tangan lalu menggeleng cepat. "Najis," gumamnya di dalam bekapan tangannya.

Dahi Sasuke berkedut dua kali. Baru kali ini ada orang, apalagi perempuan yang mengatainya najis. Puluhan ribu siswa perempuan yang ada di seluruh dunia bahkan rela melakukan apa saja agar dicium Sasuke, dan gadis merah muda nyentrik ini malah mengatainya najis?

Oh Tuhan...

"..." Sasuke tidak mau banyak bicara. Selain ia kesal karena dikatai najis, ia juga malas untuk berbicara dengan gadis berisik. Ini. Segera saja ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah HP mungil yang dikenali Sakura.

"HP-ku!" sorak Sakura kegirangan. Segera dilupakannya mulutnya yang ia bekap dan langsung meraih HP itu lalu memeluknya. "Kenapa ada bisa di kamu? Kamu nyuri, ya?"

Dahi Sasuke berkedut empat kali. Demi Tuhan, ia tidak butuh telepon murahan seperti itu. Untuk apa ia mencurinya? Ia bahkan bisa beli sekaligus dengan pabriknya.

Tapi Sasuke tidak menjawab. Ia malah berbalik tanpa suara dan meninggalkan Sakura yang masih loading lalu menutup pintunya. Ia menaikkan sudut bibirnya tipis.

"H-hei! Jangan kau kunci aku! Hei!" Sakura menggedor-gedor panik saat menyadari aklau ia terkunci di dalam gudang. Dan yang mengunci adalah...

...Sasuke Uchiha.

Mampus.

.

.

Guru Kurenai mengabsen nama murid di kelasnya satu persatu, dan setiap murid yang di sebutkan namanya menyahut. Hingga tiba pada nama Haruno Sakura. Tak ada suara satu pun yang keluar. Hanya keheningan.

"Haruno Sakura?" Kurenai mengulang panggilannya sekali lagi. Para murid di sana hanya berbisik satu sama lain. Naruto dan Lee hanya mengernyit, jelas-jelas mereka masih ingat Haruno Sakura datang dan sempat menampakkan batang hidungnya.

Perlahan, hati mereka diliputi kecemasan ketika Sakura masih belum masuk, padahal sudah waktunya pulang. Lee mencoba menghubungi Sakura, namun nomornya tidak aktif. Naruto dan Lee bersepakat untuk mencari Sakura sepulang sekolah nanti.

Ada apa sih denganmu, Sakura-chan?

.

.

Kiba hanya mengernyit heran melihat Sasuke yang sedang menyeringai gak jelas. Gadis-gadis yang melihat seringaiannya langsung jatuh terduduk. Gak-gak-gak-kuaat~

"Hina-chan, nanti pulang sekolah kita jalan-jalan yuk!" Tenten dengan ceria mengajak Hinata. Gadis bermata keperakan itu memainkan jarinya.

"Ma-maaf, hari ini aku tidak bisa, karena—"

"Janjian dengan Naruto?" tebak Tenten. Hinata mengangguk. Kiba dan Tenten mendengus. Memaksakan diri untuk tersenyum untuk menghadapi kenyataan bahwa Hinata terasa jauh dari mereka.

Hinata sudah jarang pulang bersama mereka, sudah jarang online di email conference, sudah jarang telponan bersama mereka karena setiap mereka menelpon, pasti terdengar operator yang mengatakan jaringan sibuk. Absennya Hinata dalam rutinitas mereka sedikit banyaknya membuat Tenten bersedih.

Tapi tak apalah, toh sahabatnya itu senang, kan?

.

.

Sakura mengerjapkan matanya. Bisa-bisanya dia jatuh tertidur di tempat seperti ini. Dia lelah, karena tidak ada yang nyaris mendengar teriakannya. Sekejap, telinganya samar menangkap suara Naruto sedang berbicara pada seorang di telpon.

Naruto pasti di dekat sini! "Tolong akuuuu!" tangan kecil Sakura menggedor-gedor pintu tanpa henti. Memberi tahu tempatnya berada. Selang beberapa menit, terdengarlah suara Naruto.

"Sakura? Kau di sini?" tanya Naruto di balik pintu.

"Iyaaa!"

"Kok bisa?"

"Sudah jangan banyak bertanya, baka. Cepat buka pintu ini!" Sakura menjerit.

"Oke, kalau begitu menjauhlah dari pintu," titah Naruto. Sakura langsung terlonjak mundur beberapa langkah.

BRAK.

Pintu gudang terkutuk itu pun akhirnya terjeblak terbuka. Membuat sinar yang sedikit menyilaukan mata Sakura. Memperlihatkan siluet pemuda berambut kuning yang sedikit terengah.

Kebahagiaan Sakura membuncah saat mendekati pemuda bermata biru itu. Hilang sudah semua ketakutannya. Dia segera memeluk pemuda itu tanpa pikir panjang. Menangis mewek—Naruto ketar-ketir tiba-tiba di peluk sambil oleh seorang gadis yang menangis.

"daijoubu ka?"tanya Naruto pelan dan dengan gestur yang kikuk, dia menepuk-nepuk punggung belakang Sakura. Gadis itu mengangguk pelan dan perlahan menjauhkan dirinya. Lalu menghapus airmatanya dengan punggung tangan.

Beberapa detik kemudian, ponsel Naruto berdering. Gegas dia rogoh saku celananya dan segera menekan tombol "answer"—"Halo, Lee. Sakura sudah kutemukan. Iya, kami di dekat atap. Ah, tidak perlu, kami saja yang ke sana. Oke."—sambungan telepon terputus.

"Ka-kalian berdua mencariku?" tanya Sakura menutup mulutnya dengan tangannya. Tak percaya.

"Memangnya apalagi?"

"…terima kasih…" pelan, tapi penuh ketulusan saat Sakura mengatakannya. Naruto tersenyum, mengajaknya untuk pergi menemui Lee yang sedang menunggu mereka.

Ponsel Naruto berdering lagi. Kali ini bunyi SMS, dari Hinata.

From: Hinata

Naruto-kun pulanglah.

Pemuda itu mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya Hinata men-text dirinya sesingkat ini. Dia pun membalas.

To: Hinata

Kau sudah pulang Hinata?

.

From: Hinata

Sudah.

Naruto semakin mengernyit. Aneh sekali Hinata tiba-tiba seperti bersikap dingin. Tetapi pikirannya teralihkan saat Sakura memulai verba.

"Naruto … aku … aku meminta maaf soal kejadian beberapa waktu lalu," bibirnya bergetar saat mengucapkan hal itu.

Pemuda berkulit tan itu menggaruk kepala belakangnya. "Tidak apa, aku juga sudah keterlaluan karena mendorongmu. Ngomong-ngomong, apa kau terluka?"

"Lecet sedikit," ungkap Sakura jujur.

"Owh, aku benar-benar menyesal." Naruto menatap sendu Sakura. "Aku tidak tahu kenapa aku begitu marah akhir-akhir ini. Kau tidak salah apa-apa Sakura, hanya saja aku yang bersikap egois. Masa hanya gara-gara surat itu aku sampai memutuskan persahabatan?"

"Eh?" Sakura melongo.

"Iya, padahal Sakura kan tidak datang saat kukirimi surat pasti karena bingung dan tidak ingin menya—"

"Tunggu." Sakura menghentikan argumen monolog dari Naruto. "Surat? Surat apa, Naruto?"

"Surat—" Cinta? Naruto melanjutkan dalam hatinya. Meragu.

.

.

Jika kau mengetahui kebenaran, akankah kau tetap berada pada keputusanmu sekarang atau mengulang semuanya dari awal?

.

-TBC-

Special thanks to all Readers and Reviewers :)

NB: Apa chapter ini sudah cukup NH-nya? yang merasa kurang part NH-nya, saya sudah menambahkannya di chapter 2 semoga cukup fluff ya :D

Balasan review(Oleh Permen Caca)

Widhyie. Shelawashe: Makasih review-nya XD. Hahaha, maafkan kami berdua ngaret update-nya, ya urusan dunia nyata, hehehe. Terus ikuti cerita ini, ya

Manguni: Hihihi, di chapter ini terbongkar, kan?

Tanpa Nama: Iyaaa, ini udah dilanjutkan kok :) terima kasih sudah mengkuti cerita ini.

Hanamiru: Iya, sedikit humor. Semoga kamu terhibur ya dengan humornya, dan makasih udah nunggu. Ini udah update :D, jangan lupa review ya, pedes pedes juga gak papa kok, kebetulan cabe mahal #plak

Narugankster: Wkwkwkwk, hahaha. Author juga sering salah tulis kok, jadi kita senasib *tos*

Aini Aikawa: Masih kurang ya? Hehehe, ada yang kutambahkan tuh adegan NH di chapter 2. Semoga cukup fluff ya :D

Nickname Sy: Aiiissssh! Hahaha, konyol banget emang ya. Hahahaha XD

Nanako Nijino: Iyaaaa, di usahakan gak lama-lama update-nya :D. Btw, datang dan review lagi ya?

Gomen, kalau ada kesalahan penulisan nama, gelar, atau ada yang tidak tercantum

Itu semua kesalahan yang tidak disengaja

Permen Caca's note:

YA AMPUN, gak nyangka bisa sampai chapter ini, terimakasih buat semangatnya kawan-kawan *terharu*. Chapter ini fokus ke friendship dulu, hehehe. Baru nanti di selipin humor sama NH nya. Gantian tiap chapter XD, wkwkwkwk~

Terimakasih sudah mengikuti cerita ini. Berharap semoga reader gak bosan. Dari sini, konflik NH mulai menanjak, hohohoho *spoiler alert*. Puaskah reader membacanya? Atau tidakkah? Sampaikan kesan kesannya ya melalui review :D

Kritik dan saran selalu diperlukan untuk kemajuan fic ini. :D

Dinantikaaan—Karikazuka dan Permen Caca.