From Now, Tomorrow and Forever

Naruto © Masashi Kishimoto

Permen Caca and Karikazuka proudly present

NaruHina Fanfiction

AU

Enjoy for the Fiction!

.

Can you tell my heart beats so fast, now?

.

.

.

Surat apa Naruto? Sakura bertanya sekali lagi. Mata hijau hutannya memandang sosok wajah pemuda yang lebih tinggi beberapa sentimeter darinya dengan rasa penasaran yang tak mampu ia sembunyikan.

"Surat … di loker ... Aku memintamu untuk datang. Ke tempat biasanya kita bertiga minum frappy," jelas Naruto ragu-ragu. Sakura ini belagak tidak tahu atau tidak tahu sungguh, sih?

Sakura memandang Naruto lebih lekat. Memastikan apakah Naruto bercanda, karena gadis itu yakin sekali tidak menerima secarik kertas dari orang lain maupun menemukan itu di loker.

Naruto juga sama bingungnya dengan Sakura. Dia juga yakin dirinya memasukan ke loker yang benar. Loker Sakura. Dia hapal betul di mana letaknya. Hatinya berdegup kencang dan asumsi-asumsi mulai terlempar dari pikirannya.

Apa jangan-jangan ...

Apa jangan-jangan ...

Apa jangan-jangan ...

Terjatuhkah? Hilangkah? Terbangkah? Lenyapkah? Terbawa anginkah? Diambil orangkah? Kalau diambil, siapa? Kapan? Kenapa tidak ada yang memergoki?

"Aku … sungguh-sungguh tidak menerimanya, Naruto." Sakura berkata setelah jeda yang lama. Berusaha meyakinkan Naruto yang masih terdiam dan mematung. Ia sungguh tidak tahu, ke mana dan seperti apa bentuk surat yang diselipkan Naruto di lokernya.

"Sial …." Naruto mengumpat pelan. Mengacak-acak rambutnya frustasi dan Sakura segera menghentikan gerakan tangan Naruto. Dia menatap Naruto geram karena pemuda itu tidak mengucapkan satu kata pun yang dapat menebas kebingungannya.

"Kau ini kenapa sih, baka? Memangnya ada apa kau menyuruhku datang ke tempat itu?" Nada gadis itu menuntut meminta penjelasan dan sedikit terdengar kesal.

"Aku saat itu memintamu datang untuk—"Naruto tersentak saat tiba-tiba bayangan gadis bermata keperakan, berpipi chuuby yang kemerahan melintas. Dia kemudian merutuki diri yang nyaris kelepasan bahwa dia menyuruh Sakura datang jika gadis itu mau menjadi pacarnya dan isi lainnya sendiri adalah sebuah tiket ke taman hiburan.

Dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya. Tidak sekarang, karena Hinata sudah menjadi pacarnya.

Lain kata kalau ia tidak punya pacar sebelumnya.

"Naruto!"

Lelaki berambut pirang itu tersentak. "Eh, oh … sebenarnya aku waktu itu ingin mengajak Sakura jalan-jalan saja, tanpa Lee. Hehehe." Naruto kembali memasang topeng cerianya. "Tapi kalau tidak sampai ... ya sudah ..."

"Ooooh." Sakura mengangguk mengerti. "Pantas saja kau terlihat marah padaku akhir-akhir ini. Pasti kau capek menunggu."

Naruto hanya tersenyum. Lalu diam-diam ia meraba dada kirinya tanpa sepengetahuan Sakura.

Terasa … sakit di sana.

.

.

.

Hinata juga merasa sakit.

Sakit di sana, di tempat yang sama. Mungkin bahkan lebih sakit dari pada yang telah dirasakan oleh Naruto—tanpa ia tahu. Sakit, serasa menusuk, membuat napasnya sesak seketika dan matanya terasa panas.

Saat dia ingin menemui pacarnya di atap sekolah, tiba-tiba dia menemukan pemuda itu sedang berpelukan dengan seorang gadis berambut merah muda. Entah kenapa, Hinata merasa panas sekaligus khawatir.

Bagaimana kalau ...

Jantungnya berdetak satu kali lebih cepat. Sakit rasanya.

'Tidak. Naruto-kun tidak seperti itu ...'

Mencoba menghilangkan pikiran buruk, Hinata melahap semua buku-buku yang berhubungan dengan Kimia—fokus untuk olimpiade Kimianya yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Hingga esoknya ….

"Hina-chan, kenapa wajahmu pucat sekali?" Tenten bertanya dengan gurat kecemasan di wajah manisnya. Dia memegang kening Hinata. "Kau agak hangat."

Hinata tersenyum selebar mungkin, selebar yang ia sanggup lakukan. Berusaha meyakinkan dirinya baik-baik saja—meski keringat dingin, kantung mata Hinata tidak bisa benar-benar menipu Tenten. Walau tidak percaya sepenuhnya, Tenten akhirnya tidak bertanya lagi pada Hinata.

Pelajaran hari ini pun terasa hanya angin lalu bagi Hinata. Kepalanya terasa berat—bahkan dia tidak makan siang. Akhirnya setelah berapa jam menunggu, jam sekolah habis juga. Dia pun berjalan terhuyung-huyung menuju toilet untuk sekedar membasuh mukanya.

Ah ya, Naruto bagaimana? Apakah dia sudah makan siang? Apa lelaki itu sedang menantikan masakanya?

"Ummph—" Hinata menutup mulutnya. Dia merasa mual dan perutnya sakit sekali saat membayangkan kotak bento yang masih saja ia paksakan untuk membuatnya demi sang kekasih pagi buta tadi.

Perutnya serasa disodoki besi raksasa. Sepertinya penyakit maag-nya kambuh lagi, mengingat dia belum makan sedari kemarin. Saking sakitnya, air matanya menetes perlahan-lahan.

"Ugh—"

Tak perlu beberapa detik, kegelapan merenggut kesadarannya.

.

"Hee? Hinata-chan sudah pulang?" Naruto memasang ekspresi tidak percaya. Bola mata birunya sedikit mengintip ke belakang punggung lelaki pecinta anjing itu ragu.

"Iya." Kiba mengangguk pasti. "Udah ya, aku mau pulang dulu Nar."

Naruto mengangguk membiarkan Kiba pergi. Kemudian dia merogoh sakunya dan segera menelpon Hinata—namun, hasilnya lagi-lagi nihil. Gadis itu tidak menjawab. Membuat lipatan di dahi Naruto bertambah.

Tadi gadis itu tidak ada saat istirahat tadi, padahal Naruto sudah menunggu sedari tadi di atap sekolah. SMS tidak dibalas, telepon tidak diangkat. Apa mungkin gadis itu marah kepadanya? Tapi kenapa? Naruto mencoba mengingat hal sekecil mungkin yang bisa memicu pertengkarannya dengan Hinata. Tidak ada.

Ini untuk yang terakhir—Naruto membatin saat dia menekan tombol dial untuk nama kontak yang sama; Hinata. Jika tidak diangkat juga—

"Halo?"

Naruto tersentak. "Hinata-chan?" Suara siapakah ini?

"Maaf, tapi sang pemilik ponsel sedang tidak sadarkan diri saat ini," jelas sebuah suara di sana. Pendengaran Naruto juga menangkap kebisingan di seberang telepon. Ada suara berisik dan terdengar panik di seberang sana.

"Dia ada di mana?!" tanya Naruto dengan keterkejutan yang jelas dari raut wajahnya. Jantung dan hatinya bersinkronisasi bersama otaknya untuk menyimpulkan dan merasakan firasat yang tidak biasa.

"Kami sedang berada di dekat gedung auditorium."

Tanpa basa-basi lagi, Naruto segera memutuskan sambungan telepon dan berlari setengah terbang menuju gedung auditorium yang berada di selatan.

.

.

.

Hinata merasa sekelilingnya begitu bising. Tanah di bawahnya serasa jatuh, jatuh dan jatuh. Dan ia semakin mendekat, dekat, dekat. Namun di antara kebisingan itu, dia dapat mendengar sebuah suara yang terasa akrab di telinganya menyerukan namanya.

"Hinata-chan! Permisi, permisi, aduh maaf-maaf, saya tidak sengaja. Hinata-chan!"

Dalam sekejap, Hinata merasakan tubuhnya dipeluk sebuah kehangatan lengan. Dia tersenyum kecil merasakan kehangatan itu. Dia merasa aman dan nyaman sekarang. Sehingga dengan senang hati, dia menyerahkan dirinya kepada kegelapan.

'Naruto-kun ...'

.

.

.

"Ini gimanaaaa?!"

Tenten berteriak reflek saat tangannya berusaha membantu Naruto mengangkat tubuh Hinata yang tergeletak lemas di lengan lelaki itu, walau ia tahu kalau Naruto mampu mengangkatnya seorang diri.

Ia yang baru saja kebetulan lewat di sana melihat kerumunan yang sedang ribut. Penasaran dengan apa yang terjadi, ia memutuskan untuk mendekat dan melihat kejadian secara langsung. Namun setelah itu, yang ada, ia malah panik lebih dari semua orang yang ada di sana.

"Ayo, gimana ini Hinata-nya pingsaaaaan! Buruan angkat ke UKS! UKS! Cepetan Naruto! Ya ampun jalanmu lama banget!"

Naruto dibantu Tenten yang berisik setengah kalut, mengangkat Hinata agar bersandar di punggung lebarnya dan tangannya menyangga paha gadis itu agar mampu mengangkatnya dan membawanya pergi dari kerumunan. "Sebentar—Hinata-chan jangan miring!—ini aku lagi ngangkaat!"

Tenten yang berputar-putar bingung itu akhirnya mengikut saja sambil berpikir panik, apa yang harus ia lakukan di saat genting seperti ini?

"UKS! Ayo ke UKS!"

"Apanya, guru UKS lagi sakit! Percuma juga kalau dibawa ke sana!" balas Naruto panik. Beban di belakangnya terasa makin berat saat ia berpikir terlalu keras untuk menemukan solusi.

"Terus gimanaaa?" tanya Tenten putus asa sekaligus bingung kuadrat.

Naruto memutar otak. "Kau ... Kau tahu alamat rumah Hinata-chan? Kita antar pulang saja ..." usulnya cerdas, melupakan pemikiran untuk membawa pacarnya itu ke rumah sakit terdekat, malah membawa Hinata ke tempat yang tidak tahu berapa jaraknya dari sini.

"Aku tahu! Aku tahu! Tapi lumayan jauh juga! Harus naik kereta dulu sepuluh menit baru sampai ..."

"Udah, gak apa-apa! Yang penting Hinata-chan selamat!" balas Naruto tidak peduli dengan apa yang akan ia hadapi berikutnya.

Jarak dari sekolah menuju stasiun kereta api kira-kira seratus meter. Lalu keretanya sepuluh menit, lalu berikutnya ia tidak tahu apa yang ada berikutnya.

Yang penting Hinata selamat, itu saja yang ia pikirkan.

"Kau 'kan pacarnya, masa tidak tahu, sih?" tanya Tenten saat mereka berjalan ngos-ngosan mengejar pintu kereta api yang hampir tertutup. Napas keduanya memburu seperti habis dikejar anjing di hutan.

Naruto yang awalnya kebingungan bagaimana caranya ia menghapus keringatnya yang bagaikan keran air di PDAM kini melupakan likuid itu begitu saja. Jantungnya kini serasa tertusuk tombak, siapa juga yang peduli dengan keringat asin ini?

Benar juga ... Sudah lama ia berpacaran dengan Hinata? Dua minggu? Satu bulan? Atau lebih dari itu? Kenapa ia bisa lupa berapa lama ia berpacaran—bahkan tidak tahu alamat rumah Hinata?

Pacar macam apakah dirinya?

"Ayo cepat!"

Pikiran lelaki tampan itu tersentak saat suara panik Tenten yang menyadarkannya pada pintu kereta yang setengah terbuka lebar di hadapannya. Ia mengeraskan dagunya dan mengeratkan gendongan akan gadis di punggungnya.

'Pacar macam apa, aku?'

.

.

.

"Masih ... jauh?"

"Hooh—i-iyaa ... haaaah ... haaah ... Sebentar lagi ..."

"Perasaan kok—gulp—sebentar lagi ... melulu ... Keburu Hinata semaput, nih!"

Tenten menjitak kepala Naruto kesal, melupakan napasnya yang tersengal-sengal. "Emang dia sudah semaput dari tadi!" ucapnya dengan tambahan satu jitakan lagi, sebagai bonus.

Keringat Naruto entah sudah berapa banyaknya dari samping ruang auditorium hingga jalanan sepi nan panjang ini. Ia tidak tahu. Yang ia tahu, ia tadi sudah melewati sebuah pagar besar ...

... Tapi kini, kenapa ia sekarang ada di tengah hutan?

Lihat saja, kiri kanan jalan hanya ada pohon-pohon besar. Banyak dan saking rimbunnya, Naruto yakin kalau ada hewan-hewan liar yang bersemayam di sana. Singa, macan, gorilla, paus, hiu ... Hah?

Otamu mulai error rupanya, Naruto.

"Itu!"

Sorakan gembira Tenten membuyarkan bayangannya lagi akan hiu-hiu dan paus yang entah kenapa bisa nyasar ke hutan belantara yang ada di sekitar jalan lebar ini. Ia mengangkat kepalanya yang berpeluh deras itu dan mendapati sebuah rumah tanggung dengan pagar yang sederhana berwarna putih berada sepuluh meter di depannya. Semangatnya mendadak naik.

"Buruan!" katanya cepat, secepat larinya yang entah kenapa kini mirip kecepatan cahaya. Bahkan Tenten yang semula berada satu langkah di depannya sejak tadi, kini berada satu meter di belakangnya dalam satu detik.

Melupakan sopan santun dan tata krama yang harus dilakukannya sebelum memasuki rumah orang, Naruto langsung saja menendang pintu rumah yang untungnya tidak terkunci itu dengan kaki kanannya dan kemudian nyelonng masuk begitu saja ke dalam sana.

Selanjutnya ia berhenti di ruang tamu sambil bengong, bertanya-tanya di manakah kamar pacar cantiknya itu berada.

"Kau siapa?"

Suara polos yang berada di sampingnya membuyarkan kebengongan Naruto dalam waktu sepersekian detik. Naruto menoleh dan bertanya, "Kamar Hinata di mana?"

"Kamu mau apa ke kamar Nee-chan?" tanya sosok kecil itu polos. Rupanya sosok kecil itu tidak menyadari kalau kakak tercintanya berada tepat di punggung lelaki yang ia pergoki masuk ke dalam ruang tamunya.

Naruto memiringkan punggungnya, menunjukkan Hinata yang terkulai lemas di sana—gerakan itu membuat kepala Hinata bergoyang-goyang—dan dengan raut panik Naruto berkata, "Hinata pingsan!"

Sosok kecil yang diidentifikasikan sebagai adik kecil Hinata yang kita ketahui bernama Hanabi itu membelalak kaget dan membuka mulutnya lebar-lebar, "Kamarnya—"

"Kau apakan anakku, bocah?!"

Naruto berputar kaget—kali ini membuat setengah tubuh Hinata bergoyang nyaris jatuh dari gendongannya—dan ia panik membetulkan posisi gendongannya sambil membungkukkan badannya memberi salam, "Salam kenal, aku—"

"Aku tidak perlu salam kenamu! Kutanya sekali lagi kau apakan anakku?!" Suara itu terdengar marah besar dan tersimpan sedikit nada panik, kaget, shock dan segala macam nada negatif di sana. Melihat anaknya berada di atas gendongan lelaki lain membuatnya marah.

Siapa lelaki ingusan yang berani menyentuh putrinya?! Sini, ia goreng baru tahu rasa.

"Papa! Nee-chan pingsan! Nanti aja marahnya!" sela Hanabi cepat. Reaksi gadis itu boleh juga rupanya.

Naruto tersentak, melupakan sosok marah yang berada di hadapannya itu dan segera menaiki tangga di ujung ruangan menuju kamar sang putri cantik di bahunya.

"Hei—"

"Paman, dia yang tadi menemukan Hinata pingsan di samping auditorium sekolah! Jangan marah, dia yang menggendong Hinata sejak tiga puluh menit yang lalu, dari sekolah sampai kemari!"

Ayah Hinata bungkam seketika.

Tenten menarik napas panjang setelah bicara dengan panjang tanpa jeda maupun tarikan napas barusan. Ia hampir saja mati kehabisan napas untuk mengejar dan menyela.

"Siapa nama bocah itu?"

"Na—Naruto ..."

"..."

.

.

.

Hinata baru saja bermimpi. Mimpi yang indah sekali.

Ia pingsan, lalu sosok Naruto yang tampan mengejar jatuh tubuhnya dan tubuhnya langsung tertangkap oleh lengan lelaki itu. Ia merasa aman, nyaman dan tentram. Lalu ia mendengar sayup-sayup nada khawatir Naruto akan dirinya yang jatuh.

Habis itu, ia merasakan kalau dirinya digendong, ia bersandar di sebuah punggung lebar yang hangat sekali. Matanya tertutup kala itu, seperti layaknya orang mengantuk yang tidak bisa membuka mata.

Tapi ia merasakan. Ia merasakan punggung hangat, yang tidak pernah ia tahu bagaimana rasanya sebelumnya, dari siapapun itu. Ia merasakan harum jeruk bercampur aroma lembut yang menyenangkan, ia merasakan gelitikan rambut kasar di sekitar puncak kepala dan dahinya.

Ia merasakan Naruto yang sempat tak sanggup ia gandeng tangannya. Ia merasakan cinta.

Lalu saat ia membuka mata, semua rasa kecuali cinta itu lenyap digantikan harum manis lavender khas kamarnya bersama-sama dengan lembut ranjang ungu muda miliknya yang empuk. Tahu-tahu ia berbaring di sana.

Bukankah ia tadi berada di sisi ruang auditorium? Lalu ia jatuh pingsan dan gelap begitu saja? Harusnya ia berada di jalan yang sama, atau minimal berada di UKS. Bukannya mendadak di kamarnya saat ini.

Satu pertanyaan: Siapa yang membawanya?

Ia bangkit berdiri perlahan-lahan, karena matanya seolah mampu mendadak gelap begitu saja kalau ia segera berdiri. Kepalanya masih berat dan terasa sakit. Ia kemudian duduk di atas ranjang empuknya dan berusaha menarik napas beberapa kali.

Satu, dua, satu, dua.

Ia merasakan harum lembut yang ia impikan semalam. Ia mendekatkan lengan kanannya dan mencium aroma yang berasal dari sana itu dalam-dalam.

Bohong, aroma lembut itu bukan hanya berasal dari lengan kanannya saja. hampir seluruh permukaan tubunya seperti dilumuri aroma lembut itu.

Aroma Naruto.

"A-re?" Hinata menyentuh pipinya yang basah dan dibanjiri oleh dua bulir air mata, masing-masing satu di kedua sisi. Sebelah tangannya menyentuh daerah jantungnya yang berdetak cepat seolah darah yang dipompa kini membanjir dan membludak dalam kecepatan maksimum.

"..." Gadis itu menghapus satu jejak air mata di masing-masing pipi. Tapi itu percuma, karena dua bulir lain sudah siap meluncur dan membasahi wajahnya lebih banyak lagi. Jantungnya makin tidak terkontrol dan batinnya berkata kalau ia ingin bertemu Naruto sekarang dan secepat mungkin.

"Tenang Hinata ... tenang ..." katanya menyugesti diri sendiri. "Naruto sedang sibuk ... kau ... kau jangan mengganggunya ..." tambahnya dengan nada yang nyaris hilang. Entah sudah berapa bulir air mata yang jatuh di pipi chubby miliknya.

"Siapa yang sibuk? Siapa yang merasa terganggu?"

Hinata menoleh, tak lupa menghapus air mata di wajahnya secepat kilat. Tapi ia kalah cepat dibanding mata biru laut yang sudah menangkap gelagat dan tingkahnya sejak ia bangun hingga sekarang ini.

"Na-Naruto-kun ..."

"Hinata, jangan sekali-sekali kau bilang aku sibuk dan kau tidak mau menggangguku lagi," kata Naruto yang sedari tadi bersandar di ujung pintu sambil melipat kedua tangan di depan dada, memerhatikan. "Aku tidak pernah sibuk dan kau tidak pernah menggangguku," katanya tegas.

Lelaki itu mendekat sesudah ia menutup pintu kamar pacarnya itu. Likuid bening terjatuh satu persatu dari pelupuk mata Hinata yang bening. "A-aku ... A-aku tidak ingin merepotkanmu ... aku ..."

Kata-kata itu terhenti saat dirasakan aroma lembut yang lebih kuat dari aroma yang terbaur di lengan kanannya itu menyapa penciumannya. Lalu bahu itu, tangan itu, rambut itu ... semuanya yang berasal dari mimpinya kini benar-benar nyata sekarang.

"Merepotkan apa? Akulah yang malah merepotkanmu, Hinata-chan," kata Naruto yang kini memeluk sosok mungil di hadapannya erat-erat. Tangannya menekan bahu kekasihnya itu agar lebih erat padanya. "Kau selalu baik sementara aku selalu egois."

Hinata merasakan dirinya dibanjiri oleh rasa haru dan nyaman secara bersamaan. "Na-Naruto-kun tidak pernah egois ... aku tahu ..." elaknya tulus.

Naruto tersenyum dengan matanya yang tertutup—menikmati aroma manis Hinata di penciumannya dan suara gadis itu di samping telinganya. Entah kenapa kini detak jantungnya terasa aneh.

"A-aku ... Aku sayang kamu, Naruto-kun ..." aku Hinata saat pelukan Naruto mulai terasa renggang. Ia tidak mau renggang, ia mau erat seperti tadi. Sesakpun tidak apa.

"...ya." Naruto membuka mata birunya, berlumurkan sirat ragu bercampur kecewa pada dirinya sendiri. 'Aku tahu ...'

.

.

.

"..."

"..."

"A-ano ... ja-jadi ..."

"Udah gak apa-apa. Kau gak berat, kok. Hitung-hitung juga tadi aku belajar ketahanan lengan. Lumayan buat lomba Judo entar," kata Naruto riang, berusaha mencairkan suasana.

Kini mereka duduk bersisihan, canggung dan terkesan malu setelah pelukan dan pengakuan tadi. Apalagi Hinata. Wajahnya sudah merah bagai bara api.

"Be-benarkah?"

"Iya! Kau sangat membantu, lho! Hehehe ..."

Canggung lagi.

"..."

"..."

"Na-Naruto-kun ..."

"Hmmm?"

Hinata memainkan kakinya yang menggantung di atas ranjang. "Perempuan yang sering sama kamu itu ... siapa?

"Ah dia … sahabatku." Naruto terlihat sedikit sendu mengucapkannya. "Namanya Haruno Sakura. Kau mau lihat fotonya?" Naruto segera membuka galeri foto di ponselnya dan menunjukan foto itu pada Hinata. "Yang berambut pink. Itu lho, anak baru di sekolah kita."

Mata keperakan Hinata menatap siluet tiga orang di layar itu. "Ya-yang berambut bob ini sepertinya tidak asing."

Naruto terbahak. "Masa Hinata-chan gak tahu? Dia kan anak nyentrik yang sering bersamaku. Rock Lee!"

Hinata tersenyum rikuh. Sepertinya dia harus mengubah sikapnya yang agak terkunci dengan dunia luar dan memilih menenggelamkan dirinya dalam lautan buku.

Tunggu, rambut pink? Ini kan gadis yang memeluk Naruto kemarin?

Jari Hinata menggeser keypad itu ke kiri. Gambar pun berganti, namun objeknya tetaplah tiga orang yang sama dengan gambar sebelumnya. Begitulah seterusnya. Hanya satu atau dua gambar di antara puluhan yang diisi dengan potret diri Naruto.

"Kalian bertiga … bersahabat erat ... ya?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir Hinata.

"Iya, sedari kecil malahan. Hahahaha, tapi kemarin kami sempat berpencar. Lee pindah rumah, Sakura ke luar kota. Kami bertemu lagi di Konoha High School. Seperti reunian, kan?"

Mata Hinata masih terpaku pada layar ponsel Naruto. Terpaku pada gambar yang berisikan tiga orang, dengan gadis di tengah yang membawa kue tart. Cahaya lilin menyinari wajah ketiganya yang sedang mencanangkan senyum lebar.

Ini sahabat-sahabat Naruto? Kenapa dirinya baru tahu sekarang? Padahal kan dia sudah berpacaran dengan Naruto sebulan lebih. Seharusnya hal-hal sepele seperti mengenal siapa saja yang dekat dengan pasanganmu sudah tahu.

Gadis itu merasa sentakan pada dirinya. Disadarinya ada sebuah jurang pemisah di antara mereka selama ini. Selama ini mereka saling bercerita, namun tidak pernah keluar dari topik aktivitas, kegiatan klub dan kesukaan. Selama ini mereka saling mengirim pesan, namun tak lebih dari sekedar formalitas dan basa basi seorang pacaran.

Ternyata, banyak juga hal yang tidak ia ketahui tentang Naruto.

"Ah ya, Hinata-chan, kau mau pergi jalan-jalan denganku minggu nanti? Kebetulan aku gak ada latihan judo minggu besok. Ya, kita 'kan belum pernah ... kencan. Mau ?" Naruto menyentakkan Hinata dari lamunannya. Nada suara lelaki itu terdengar sedikit cemas, takut ditolak.

Mata Hinata membesar membentuk satu bulatan penuh.

"Ke-ke-ke-kencaaan?!"

.

.

.

Mungkin ... mungkin ini adalah hari terindah yang pernah Hinata punya dalam hidupnya, selain menikmati hari tanpa les dan bersantai di kamar sambil internetan. Jauh, jauh lebih baik.

"Sudah menunggu lama?"

Hinata menoleh dan mendapati kekasih tercintanya menghampiri dirinya bagaikan serial vampir yang tokoh utamanya berkilauan dan bercahaya. Entah kenapa, padahal ia tahu vampir tidak berkilauan, begitu juga Naruto. Tapi tetap saja ...

"Hinata-chan?"

Hinata tersentak dalam lamunan pribadinya dan beralih pada sosok tampan yang kini berada di hadapannya. Kaos hitam dipadukan dengan kemeja yang tidak dikancingkan warna oranye gradasi putih, celana jins hitam dan sneakers putih membuat Naruto nampak tampaaaaan sekali.

Simple but hot.

Wajah Hinata memerah menyadari bayangannya yang mulai menjalar ke arah yang tidak-tidak. "Na-Na-Naruto-kun ..."

"Ya?" jawab Naruto seraya berusaha merapikan pakaiannya sebaik mungkin. Padahal Hinata sudah 'sreg' setengah hidup dengan style yang dimiliki Naruto.

Wajah Hinata makin merah. "Ba-bajumu ... bagus ..." katanya pelan. BUKAN! BUKAN ITU YANG INGIN DIKATAKANNYA!

Naruto mengangkat kemejanya dengan gaya memamerkan dan berkata, "Kamu juga cantik, kok Hinata-chan. Nah, ayo! Kita mau naik apa sekarang?" tanya Naruto bersemangat, mengalahkan sinar matahari yang sedang terik siang ini.

Hinata nyaris pingsan. Kenapa Naruto tahu dia ingin memuji lelaki itu tampan? Bahkan saat ia tidak mengatakan hal itu, Naruto sudah tahu apa maksudnya.

Daaaaan ... Naruto bilang dia cantik! Cantik katanya! Ya ampun! Gak percuma dirinya begadang semalaman kemarin hanya untuk memilih baju yang cocok untuk kencannya! Dan sungguh, ia senang sekali dipuji seperti ini!

"Ma-ma-makasih ..." jawab Hinata tersipu malu. "Eh? Naruto-kun ... Ma-mau naik Black Dragon?" tawar Hinata sambil menunjuk sebuah roller coaster besar yang sudah terpampang besar dari pintu karcis.

Naruto menelan ludah, membandingkan wajah polos Hinata dengan bentuk Black Dragon yang menurutnya ... mengerikan. Hinata ternyata tidak sekalem yang dia kira ...

"Bo-boleh! Boleh saja! Hahahahaha!" suara tawa sumbang yang dibuat-buat guna menetralisir rasa tegang sekaligus ngerinya akan Black Dragon yang besar sekaligus menjulang naik turun itu.

Hinata tersenyum cerah dan mengangguk.

.

.

.

"T-tenang Hinata-chan ... jangan takut ..."

Hinata menoleh pada sosok lelaki tampan yang ada di sisinya sambil memasang sabuk pengaman di pinggang dan sebagian tubuhnya. "A-aku tidak takut, kok ..." katanya membela diri.

"O-oh ya? Hahahaha ..." Naruto tertawa sumbang lagi. 'Iya, aku yang takut," batinnya dalam hati. Mukanya sudah nampak putih pucat ditambah efek biru-biru sebagai bukti darahnya membeku dan sama sekali tidak dipomba jantung.

Lalu saat suara peringatan dibunyikan dan roller coaster tersebut mulai melaju lambat, entah kenapa rasa tegang dan takut Naruto berkurang sedikit demi sedikit. Dikiranya jalannya permainan ini hanya segini saja. Huh, belum tahu dia, apa yang sudah menunggunya lima belas meter lagi.

Lain halnya dengan Naruto yang mulai tenang, kini gantian Hinata yang mulai pucat. Pasalnya ia baru saja melihat apa yang berada di bawahnya dan melihat rel yang akan mereka lewati lima belas meter lagi. Tangannya gemetar menggenggam pengaman yang dipasang di bahu dan perutnya.

Rupanya Naruto sadar akan ketakutan kekasihnya, ia menoleh, mencoba untuk meniru film-film drama yang biasa ditonton ibunya sambil berlinangan air mata dan berkata, "Jangan takut ..."

Efeknya berhasil. Tangan Hinata yang ia genggam pelan, kini balas menggenggamnya dengan genggaman kuat. Tangan itu dingin dan berkeringat.

Dalam hati Naruto tertawa geli. Gadis ini tadi nampak biasa saja, kenapa sekarang mendadak takut begini?

"Aku, Naruto, akan melindungi Hinata-chan dari—HOAAAAAAAAA!"

Telat. Sebelum dia selesai mengatakan kalimatnya, tubuh lelaki itu sudah terasa dihempaskan kuat-kuat dari langit menuju tanah. Rasanya ada sesuatu yang berat menekan tubuhnya ke bawah, sementara jantungnya naik hingga pangkal tenggorokan.

"Kyaaaaaaaaa!" Hinata tidak kalah kuatnya berteriak, gadis itu serasa diombang-ambingkan dengan keras di langit. Ia takut, takut.

Naruto juga takut sekaligus kaget. Hingga mereka berdua tidak tahu kalau tangan mereka berdua bergandengan erat dari awal tadi hingga keluar dari wilayah Black Dragon karena saking tegangnya.

"Se-seru ya ..." kata Naruto yang pucat pasi.

Hinata tidak menjawab. Putaran-putaran 360 derajat sebanyak lima kali tadi membuatnya ingin muntah sekarang juga. Tapi ada Naruto ... Ada Naruto ... Ada ...

"Umpppph!"

.

.

.

"Daijoubu ka?" Hinata menggeleng dengan sapu tangan menutupi mulutnya. Gadis itu nyaris menangis, menyadari kalau kencannya berantakan karena dirinya muntah begitu saja dan dilihat langsung oleh Naruto tercintanya.

Mau ditaruh mana mukanya, ia tidak tahu lagi.

"Mau kubelikan minum?" tanay Naruto yang di sisi ngeri sekaligus khawatir dengan keadaan Hinata. Ngeri karena Papanya Hinata, khawatir karena kesehatan Hinata.

Hinata diam saja. Akhirnya dengan inisiatif sendiri, Naruto membelikan jus anggur di vending machine sebelah rumah makan yang ada di ujung taman rekreasi dan meminumkannya pelan-pelan pada Hinata.

"Go-gomen, Naruto-kun ..."

"Maaf kenapa?"

"Aku muntah tadi ..."

"Hah? Gak apa-apa, kok. Aku juga tadi pengen muntah," kata Naruto berbohong. Ia sebenarnya tidak ingin muntah sama sekali. Kalimat barusan hanya untuk penghiburan Hinata supaya gadis itu tidak merasa bersalah.

Hinata mengangguk dengan ekspresi syukur. Tidak disangkanya Naruto akan sebaik ini padanya.

Sungguh, bolehkah ia berharap lebih?

Lebih ...

Hinata termenung.

"Hinata-chan, mau makan?"

Gadis berambut indigo itu menoleh. "Bo-boleh kita jalan-jalan dulu? Aku masih agak mual."

Naruto mengangguk, tersenyum ceria dan menggandeng tangan gadis itu dalam genggaman tangan besar dan kuatnya. "Ayo, kita jalan pelan-pelan sambil gandengan tangan!"

Oh ... Tuhan ...

Hinata rasanya mau terbang ke awang-awang rasanya. Ia tidak tahu lagi apa yang bisa ia terangkan untuk melukiskan betapa bahagianya dia memiliki Naruto yang pengertian seperti ini.

"Kau mau balon? Ayo kita beli balon!"

Hinata menoleh dan loading dalam waktu beberapa detik lamanya. "A-aku 'kan bukan anak kecil lagi, Naruto-kun ..." gerutunya dengan pipi yang digembungkan agar lebih membulat.

Naruto nyengir sambil mengeluarkan uang dari saku celananya. "Kalau sama Hinata-chan, gak apalah agak kekanakan dikit, hehehe ..." Kemudian ia menunjuk sebuah balon merah yang tergantung sambil menyerahkan selembar uangnya yang tadi ia keluarkan.

Wajah Hinata memerah lagi.

"Nih," kata Naruto sambil menyerahkan balon merah yang telah berada di dalam genggamannya. "Kau suka?"

Hinata mengangguk malu-malu. Bagaimana mungkin tidak suka, kalau yang memberikannya saja orang yang sangat ia suka?

Aiiiih, malunyaaa ...

.

.

.

"Sudah sore ..."

"I-iya ..."

"Kau mau pulang?"

"... Kalau Naruto-kun mau pulang, ayo kita pulang ..."

Naruto menoleh pada kekasihnya yang kini duduk di sisi kanannya. "Aku 'kan bertanya, apa kau mau pulang? Kok malah jadi aku?"

Hinata menggigit bibir bawahnya ragu. Ia ragu untuk berkata kalau ia tidak ingin pulang walau hari sudah menunjukkan matahari sore yang nyaris tenggelam di ufuk barat. Sedari tadi mereka sudah bermain-berputar-putar, makan banyak kue, tapi tidak sedikit pun Hinata ingin pulang ke rumah.

Ia ingin seperti ini, begini, kalau bisa sampai besok juga tidak apa-apa.

Tapi ia tidak ingin egois, ia tidak ingin memaksakan kehendaknya pada Naruto yang mungkin saja ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Apa jadinya kalau ia berkata bahwa dirinya masih ingin di sini sampai besok?

"Nanti jam 8 malam ada pesta kembang api di sini, kau mau lihat?"

Seolah mengetahui isi hati Hinata, Naruto menawarkannya suatu pilihan yang menggiurkan. Hinata menoleh dengan mata penuh harap.

"Ma-mau ... A-apa tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada ragu tapi sarat harapan. Di kepalanya sudah muncul Hinata chibi yang melompat-lompat bahagia sesekali berguling-guling karena saking girangnya.

Naruto tersenyum lebar. "Gak apa-apa dong! Nanti kita naik bianglala supaya bisa ngelihat lebih jelas, ya?" tawarnya riang. Tangan kanannya menepuk puncak kepala Hinata lembut.

Gadis itu mengangguk dengan wajah merah gembira.

Hari ini ...

"Nah, mau makan apa selagi menunggu jam 8?"

"Mau makan ramen?"

"Yeay! Ramen! Ayo kita makan ramen!"

Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan!

.

.

.

"Kau tidak tahu di mana Naruto, Lee?"

Lee menghentikan aktivitas renang kakinya—berenang maju-mundur hanya dengan menggunakan kedua kakinya—dan menoleh cepat. Ia diam dua detik sebelum menjawab,

"Naruto sedang sibuk."

Gadis berambut merah muda sebahu itu meletakkan ponsel yang sedari tadi ia genggam erat-erat dan melemparkan handuk yang sedari tadi menutupi pakaian renangnya. "Mau balapan? Yang kalah harus menraktir makan sepuasnya."

Lee melopat bagaikan lumba-lumba kegirangan. Ia bahkan bersalto dari dalam air baru saja. "Oke!"

Sakura tersenyum dan melakukan pemanasan singkat sebelum menceburkan diri ke dalam kolam. Sebenarnya, perkataannya tadi hanyalah upaya untuk membebaskan bayangannya akan lelaki itu.

"Untuk perempuan aneh sepertimu, badanmu cukup aneh juga rupanya."

'Suara itu ...' Sakura merasakan telinganya bergerak-gerak bagaikan mendengar sebuah suara ganjil. Sirine yang berada di atas kepalanya berbunyi otomatis.

"Pahamu terlalu besar, betismu juga. Tapi dadamu seperti papan cucian," komentar suara yang paling dibenci oleh Sakura dengan nada datarnya.

Gadis itu menoleh sengit dan seketika berteriak, "KAU MAU RUMAH SAKIT ATAU KUBURAN, HAH?!"

Lee mendadak membeku karena suara Sakura yang keras. "Sa-sakura—"

"..." Lelaki yang telah menyebabkan semua bencana menimpa Sakura beberapa hari yang lalu membuka kaca mata bacanya dan berdiri santai di depan Sakura, membuat gadis itu makin meluap-luap karena amarah.

"Kalau aku mau kau, bagaimana?"

"Ha?"

.

.

.

"Gimana? Enak?" tanya Naruto sambil meletakkan sumpit ke atas mangkuk ramen kelima miliknya. Kali ini ramen berisikan banyak daging sudah ia habiskan hingga bersih tanpa sisa.

Wajah Hinata memerah sempurna. Ia bahkan tidak bisa menggeleng maupun mengangguk saking shock dan malu akan apa yang barusan Naruto lakukan padanya.

NARUTO BARUSAN MENYUAPKAN SEIRIS DAGING PADANYA! MENGGUNAKAN SUMPIT NARUTO YANG BERARTI BISA DIBILANG CIUMAN TIDAK LANGSUNG!

Rasanya Hinata mau pingsan saat itu juga kalau ia tidak mengingat lima menit lagi pertunjukan kembang api akan segera dimulai. Naruto yang tidak berhenti makan sejak tadi membuat mereka menghabiskan banyak waktu di kedai ramen super enak ini.

Tanpa disadari Hinata—karena ia masih shock dan malu—Naruto melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya sambil menghitung berapa kira-kira waktu yang bisa dicapainya agar bisa sampai di puncak bianglala saat kembang api pertama dinyalakan.

"Ayo, cepat! Sebentar lagi pesta kembang apinya akan dimulai!" kata Narito yang menarik lembut Hinata yang agaknya sudah tersadar dari shock miliknya, walau rasa malunya belum teratasi. "Paman, makasih ramen-nya ya! Super enak!" kata Naruto riang sambil melambaikan tangan menjauh.

Hinata tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, ia hanya terombang-ambing, mengikuti Naruto yang kini sedang menggandeng tangan kanannya. Tangan kirinya kini kosong, karena balon merah yang diberikan Naruto tadi, kini sudah diikatkan pada tas selempangnya. Jadi ia tidak perlu khawatir kalau hilang atau ketinggalan.

Entah kapan ia mengantri apalagi masuk, kini mereka berdua sudah berada di dalam bianglala yang sedikit demi sedikit merambat naik. Hinata dan Naruto duduk berhadapan satu sama lain. Gadis itu gugup. Kedua kaki mereka bersentuhan karena minimnya tempat.

"Dingin?" tanya Naruto saat angin berembus melalu jendela kaca yang terbuka di sisi mereka. Dilihatnya Hinata tidak menggunakan pakaian dengan lengan yang cukup panjang.

Nyatanya gadis itu menggeleng sembari tersenyum dengan wajah memerah. Dengan gugup ia singkirkan rambut yang menghalangi wajahnya—karena tersapu angin—seraya berusaha menghilangkan bayangan suap-menyuap tadi.

"Sebentar lagi kembang apinya akan dinyalakan. Kau haus?" tanya Naruto lagi.

Hinata menggeleng lagi dan angin menerbangkan rambutnya kembali.

"Mau permen?" tanya Naruto lagi.

Hinata menggeleng sekali lagi.

"Kau lapar?"

Pertanyaan terakhir ini menyadarkan Hinata akan sesuatu yang terlewat di pikirannya. "Aku baik-baik saja Naruto-kun ..." katanya seraya tersenyum lembut. Naruto sama gugupnya seperti dirinya.

Naruto tersenyum salah tingkah, malu karena ia tertangkap basah karena gugup seperti ini. "Kau tahu ... Ini kali pertama aku berkencan, jadi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," katanya seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Dari tadi kau cuma menurut saja, jadi aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu," tambahnya lagi.

Hinata terserang rasa gugup dan malu. "Ma-maafkan aku," kata Hinata menyesal. Apa sikapnya yang pasrah itu membuat Naruto merasa tidak nyaman?

"Bukan, bukan salahmu. Aku yang seharusnya tahu apa yang harus kulakukan. Kau mungkin capek karena seharian lari kesana-kemari—"

"A-aku tidak capek!" Ini kali pertama Hinata memotong ucapan seseorang dan ia menyadarinya sehingga ia kembali menundukkan kepala malu. "Su-sungguh. Aku senang sekali bisa jalan-jalan dengan Naruto-kun hari ini ... semuanya seperti mimpi, aku—"

DUAAAR!

Satu kembang api yang terlempar ke angkasa memberhentikan ucapan Hinata. Segeralah suasana yang kaku mencair dengan sendirinya dan digantikan gumaman kagum Hinata dan sorakan kagum milik Naruto.

DUAAAR! DUAAR! DUAAAR!

Satu kembang api besar kini disusul dengan banyak kembang api lain yang tidak kalah indahnya. Posisi bianglala mereka yang nyaris berada di puncak membuat keduanya takjub dengan pemandangan yang berada di depannya.

Seketika, Hinata mengingat satu hal yang sebelumnya pernah ia dengar dari teman-teman yang sering bergosip di kelasnya. Tangannya berkeringat, dan sesekali matanya melirik Naruto yang masih memandangi kembang api yang mekar di angkasa.

"Na-Naruto-kun ..."

"Ya?" Hinata terlonjak, tidak menyangka kalau Naruto mendengar suaranya di antara kebisingan yang ada. Kembang api selalu saja membuat suara keras di angkasa. "Kenapa, Hinata-chan?"

"Ka-katanya, kalau sepasang kekasih berciuman di bianglala yang mencapai puncak, mereka akan tetap bersama selamanya ..."

"Benarkah?"

"Y-ya ..."

"Kalau begitu—Wah! Itu ada kembang api yang bentuknya ramen! Ada yang bentuk sapi! Rubah! Bunga! Woaaaaaa! Bagus ya Hinata-chan?"

Hinata terdiam sejenak, lalu sedetik kemudian ia mengangguk dan tersenyum. "Iya, bagus ..."

Beberapa menit kembang api terus saja berloncatan dan saling mengejar lalu hilang di langit yang hitam kelam, hingga yang terakhir muncul, Hinata dan Naruto sudah kembali ke daratan. Pintu bianglala terbuka dan mereka keluar bersama-sama.

"Bagus sekali! Kapan-kapan kita lihat lagi, ya?" kata Naruto seraya nyengir lebar.

Hinata tersenyum dan mengangguk setuju.

'... Dan setelah kau berkata hal seperti itu dan ia tidak menciummu hingga bianglala berada pada posisi yang paling bawah, hubungan kalian tidak akan bertahan lama ...'

'Naruto-kun ... aku ingin bersamamu selamanya ...'

.

-TBC-

Special thanks to:

Naruhime, Red devils, Karizta-chan, kinghades 78, , Nimarmine, Sabaku-Yuuhi, Yukori Kazaqi, Mangekyooo JumawanBluez, NaruGankster, XG-Naru, SugarlessGum99, Kaoru-Kagami Yoshida, Hikaru-Ryuu Hitachiin, diara

And YOU, who read this fiction! Thank you~

(Maaf jika ada kesalahan nama, tertinggal, kurang, atau bagaimanapun itu. Karikazuka-nya lagi ngantuk parah... TAT)

Permen Caca's note:

Holaaa, maafkan lama banget ya update-nya, hehehe. Ini chapter sedikit banyaknya terpacu karena Nimarmine. Hehehe, semoga puas ya dengan chapter ini say :)

Terong, makasih banget udah mau nyelesaikan chapter ini dengan lebih menarik dan mau mendengarkan curcolku kemarin, hahahahaha :D

dan all of you, makasih banget yang udah bertahan membaca ini, love you guys :*

Karikazuka's note:

Yo, makasih banyak masih setia membaca fic ini. :D terenyuh banget saya melihat kotak review yang makin lama makin sepi populasinya(?) NaruHina banyak, tapi kenapa reviewernya dikit? Oke, gak seru.

Menyanggupi permintaan pembaca yang pada protes, 'kenapa kok NaruHina nya Cuma dikit?' nih! Kita sanggupin niiih~ wkwkwkwk full toh? Gimana? :D

Caca makasih udah mau menunggu begitu lama untuk menyelesaikan chapter ini, dan untuk kalian, makasih juga masih mau menunggu begitu lama :"D review selalu ditunggu ya... jangan jadi silent reader! XDD

Review!

(Pandaan 6 Agustus 2013, 13:44 P.M)

Karikazuka