From Now, Tomorrow and Forever

Naruto © Masashi Kishimoto

Permen Caca and Karikazuka proudly present

NaruHina Fanfiction

AU

Enjoy for the Fiction!

.

Something like "I want you to have eyes only for me,"
there's no possible way for me to just say it out loud.
At the conclusion of this twisted love,
what can you see?

Acute; Hatsune Miku; Vocaloid

.

Hinata merenung menatap langit biru yang diselimuti awan putih melalui jendela di sebelahnya. Pikirannya terusik sejak kemarin—sejak kejadian bianglala itu. Meski itu cuma legenda, cuma sekumpulan cerita yang belum terbukti secara akademis—kenapa dia merasa gak tenang?

Kurenai-sensei yang berkoar-koar di depan hanya terasa dengungan samar bagi Hinata. Bel pun berbunyi keras menandakan usainya pelajaran hari ini. Hinata segera mengepak alat tulis dan bukunya yang berserakan ke dalam tas berwarna anggurnya.

'Tidak ada yang bisa kutulis hari ini. Ukh' Hinata mendumel dalam hati. Sekonyong-konyong, meja di depan Hinata digeser dan diduduki oleh gadis berambut pirang panjang.

"Hinata-chan, pinjam catatan pelajaran tadi dong!" Ino mengedipkan mata. Memang sudah kebiasaan Ino meminjam catatan Hinata setiap pelajaran Kurenai-sensei karena Ino selalu tidur dalam pelajaran yang diajarkan guru tersebut.

"Maaf ya Ino-chan. Aku tidak mencatat sepanjang pelajaran tadi. Tidak ada yang masuk ke otak."

Gadis bermata aquamarine itu menatap raut muka Hinata yang lesu. "Hahaha, Hinata lagi galau, ya?" tebak Ino.

Hinata terdiam karena tebakan Ino langsung menembak hatinya.

Ino tiba-tiba jadi salah tingkah melihat perubahan air muka Hinata menjadi semakin kusut. "A-aku tadi hanya nebak saja lho, bener ya? Kenapa lagi dengan Uzumaki itu?"

Hinata memejamkan matanya. Menyusun kata-kata yang ingin dia lontarkan. "Entahlah, Ino-chan. Kemarin kami kencan dan aku muntah—"

"Aduh! Pasti malu, ya."

"—Iya, terus Naruto-kun membelikanku minum. Menggenggam tanganku saat kemana kami pergi agar aku tak terpisah darinya—"

"Kyaaaaa! Romantis sekali Uzumaki itu~"

"Ino-chan!"

Gadis itu buru-buru menutup mulutnya. "Duh, sorry Hinata-chan. Habisnya gak kuat rasanya nahan teriak~" Ino Yamanaka adalah seorang gadis yang begitu gemar dan senang mendengar kisah romantis meski picisan sekalipun. "Aku iri lho, Shikamaru saja gak pernah seromantis itu padaku. Terus gimana?"

"Yah … ceritanya selesai."

"Lalu, apa masalahnya? Harusnya senang dong Hinata-chan. Aku gak nyangka rupanya hubungan kalian sehangat itu."

"Me-memangnya Ino selama ini berpikir apa tentang hubungan kami?"

Hmmm. Ino mengusap dagunya. "Sejujurnya, dulu kalian terlihat membosankan."

Hinata terperanjat.

"Hinata-chan terlihat gelisah seperti prajurit baru yang akan dikirim ke medan perang saat bersama Uzumaki, dan Uzumaki pun kelihatan kikuk. Kalian terlalu saling menjaga sikap sopan santun satu dengan lainnya. Tidak ada perasaan bahwa kalian seperti pasangan yang saling mencintai—"

Melihat Hinata yang terdiam mendengar kata-katanya, segera gadis itu menepuk bahu Hinata dan menambahkan "Itu dulu lho, sebelum aku mendengar seperti apa kencan kalian." Kemudian Ino tersenyum manis. "Baiklah, aku pulang dulu ya. Aku yakin Uzumaki itu orang yang baik. Selamat bersenang-senang dengannya sepulang sekolah!"

Gadis itu mengedipkan matanya dan meninggalkan kelasnya dengan langkah yang mencerminkan keanggunan. Air mata Hinata tiba-tiba menetes. Bukan karena sakit hati pada Ino. Gadis itu sama sekali tidak salah. Dia benar.

Dan entah kenapa, Hinata merasa—walau sesaat—semua hubungannya dengan Naruto terasa … penuh kebohongan.

Palsu.

.

"Naruto, ada yang jatuh." Tangan lentik Sakura segera menggenggam botol bening sebesar telunjuk itu dan kedua alisnya bertemu ketika melihat isi di dalamnya. Bunga aster kuning yang sudah mengering.

Naruto mengambil botol itu dari tangan Sakura. "Terima kasih, Sakura."

"Untuk apa kau menyimpan bunga aster kuning di dalam botol itu?"

Naruto menatap botol itu lama. Kemudian benaknya berjalan mundur, ke waktu di mana dia mendapatkan bunga itu. "… magic." Naruto bergumam.

"Hah?" Sakura melongo tak paham.

Pemuda berkulit tan itu menggeleng. "Ah, bukan apa-apa kok."

Sakura melengos. "Dasar aneh. Seorang cowok menyimpan bunga."

Naruto pun merenung. Iya juga ya, kenapa dia malah menyimpan barang ini? Padahal, dilihat pun tidak ada harganya. Apa yang diharapkannya dari bunga ini? Keajaiban atau … keinginan untuk menyimpan memori tentang bunga ini? Tentang … Hinata?

Lee segera menarik tangan Sakura. "Yok, pulang … "

Gadis berwajah manis itu gegas pula menarik tangan Naruto. "Kita pulang bareng."

Permuda kulit tan itu perlahan melepas tangan Sakura. "Duh, aku gak bisa. Aku mesti pulang sama—"

"WOOOAAA!" Lee menjerit kegirangan membuat Sakura harus menutup telinganya. "Kalau gitu kita berdua saja yang pulang. Dadah Nar~"

Sakura pun diseret-seret layaknya kereta mainan oleh Lee. Dan dia tidak suka diperlakukan seperti itu. Dia beberapa kali terhuyung—namun karena genggaman Lee kuat, dia tidak terjatuh. "LEPASKAN! SAKIT TAHUU!" Akhirnya Sakura berteriak setelah cukup jauh berjalan meninggalkan Naruto di kelas.

Pemuda itu mengendurkan cengkramannya. Gadis itu segera menyentaknya. Mendapati pergelangan tangannya yang memerah. "Maaf, Sakura."

"Woy, jangan perlakukan gadis dengan kasar."

Sakura segera memicing. Sangat mengenal siluet pemuda satu ini. "KAU DIAM SAJA!"

"Papan cucian rupanya. Kukira siapa yang diseret-seret. Lanjutkan saja menyeretnya." Pemuda berambut emo tersebut berkata datar.

Emosi Sakura segera menggelegak mendengar julukan itu ditunjukan semena-mena untuknya. "KAU MAU AKU MENGIRIMMU KE GERBANG NERAKA?"

Kemudian, emosi Sakura harus tertahan ketika menyadari siluet gadis asing mampir ke tempatnya.

Gadis itu terlihat salah tingkah menyapa Sakura, Lee dan Sasuke. "A-ano, maaf mengganggu. Apa Naruto-kun ada di kelas?"

Sakura melongo. Naruto-kun? Akrab banget panggilannya. Siapa pula gadis ini? Seingat Sakura, dia belum pernah tahu gadis ini—tidak tahu rupanya gadis itu berteman dengan Naruto.

Lee mendadak merasa tegang. Merasakan sesuatu yang berusaha dia sembunyikan akan terpecahkan sebentar lagi.

"Dia masih ada di kelasnya, kok." Senyum Sakura terkembang menunjukan keramahan.

"A-arigatou, Sakura-san." Sakura sekali lagi dibuat terkejut. Kok dia tahu namaku ya? Setelah mengetahui di mana Naruto, gadis bermata keperakan itu membungkuk hormat, kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga.

"Yang tadi itu siapa, sih?" Kening Sakura berlipat-lipat seperti nenek-nenek. Lee sudah tahu jawabannya di ujung lidah. Namun enggan dia ungkapkan. Akhirnya dia hanya mengendikkan bahu ketika tatapan penuh tanya itu dilontarkan padanya.

Pemuda berambut emo menghela napas. "Kalian parah. Masa pacar teman akrab sendiri tidak tahu? Itu pacarnya."

Lee menutup mukanya. Merutuki kebodohan pemuda berambut emo itu. Padahal dia sudah susah-susah menyembunyikan fakta Naruto berpacaran dengan Hinata dari Sakura. Lah, tiba-tiba pemuda emo antah berantah—yang belum apa-apa, Lee udah benci orang ini—membeberkannya begitu mudah. Tanpa perasaan.

Sakura terkejut. Matanya membelalak menatap Sasuke. Lama dan kosong karena benaknya melayang kepada kenangan-kenangannya bersama Naruto. Senyuman pemuda itu, tawanya—

"Apa lihat-lihat? Bikin muntah." Lagi, mulut pedas Sasuke keluar. Perempatan siku muncul di kening Lee. Sakura langsung tersadar dari dunia semunya.

"Oh? Gak ada apa-apa kok. Begitu ya? Hehe, makasih info-nya."

Hah? Ini anak kenapa? Sasuke membatin dan terheran-heran karena tidak ada bentakan, umpatan yang keluar dari bibir pink gadis itu ketika pemuda itu terang-terang mencela. Lagi, gadis itu tersenyum dan permisi untuk pergi—PERMISI! Hal itu adalah hal tersopan yang pernah dilakukan gadis itu kepadanya.

BUAKH!

"AWH! Apa-apaan kau? Mau ngajak ribut?" Sasuke mendelik tajam kepada pemuda beralis tebal yang baru saja memukulnya ketika si gadis berambut pink sudah jauh dari mereka.

Lee mengacuhkan pemuda itu. Dia berjalan ke arah Sakura pergi.

"WOY! Jangan mengacuhkanku!" bentak Sasuke.

Lee berhenti sejenak. "Kau … membuatnya menangis."

Sasuke pun melongo tak paham.

.

.

Lee kali ini berdiri kaku mendapati punggung Sakura yang rapuh. Dengan gerak perlahan dia duduk di samping Sakura. Saat menyadari kehadiran Lee, Sakura segera menghapus airmatanya.

"Kenapa kau kesini?" tanyanya dengan suara yang agak parau. Lee tidak menjawab pertanyaan Sakura. Bingung harus berbuat apa untuk menghibur gadis itu.

Sakura memulai bertanya lagi. "Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Naruto sudah berpacaran? Kenapa dia tidak memberitahuku? Kenapa aku harus tahu dari orang lain? Kenapa kau tidak memberitahuku?"

Sebagai posisi sahabat sekaligus orang yang diam-diam menyukai Naruto, gadis itu merasa kecewa akan dua hal. Pertama karena sebagai sahabat, dia bukanlah orang yang pertama kali diberitahu—oke, mungkin kedengarannya kekanakan, namun itulah yang dia rasakan—kedua, karena dia patah hati dan selama ini merasa posisinya cukup spesial dan Naruto begitu terjangkau olehnya tapi nyatanya tidak.

Lee berkata pelan dan sangat hati-hati. Mengatakan kenyataan yang lagi-lagi membuatnya miris. "Karena kau … menyukai Naruto."

Mata Sakura membelalak. "Bagaimana kau—"

"Sudah berapa lama kita bersahabat?" lalu Lee tersenyum tipis menatap Sakura. "Jangan bersedih dong, Sakura-chan. Seperti bukan dirimu saja. Hayo, sini biar Wooly beri pelukan."

Wooly—panggilan itu sudah lama sekali tidak terdengar lagi dalam pikiran Sakura. Panggilan Sakura untuk Lee ketika orangtuanya pergi meninggalkan rumah dan boneka beruang—Wooly— kesayangannya diambil oleh anak-anak nakal.

"Tenang saja Sakura-chan, jangan takut, Lee mau kok jadi pengganti Wooly untuk Sakura-chan."

Kata-kata Lee saat kecil terngiang lagi dalam pikiran Sakura. "Dasar, jangan ingatkan aku dalam masa lalu yang norak dong, Lee." Meski begitu, ketika lengan Lee melingkari tubuhnya, dia tak menolak. Debur jantungnya mulai merasa tenang lagi ketika kehangatan dari tubuh Lee mengalir ke tubuhnya.

.

.

Naruto menatap langit yang sudah sejam berlalu belum berhenti menangis. Lelah karena menunggu, Naruto memutuskan untuk menerobosnya. Sebelum melanjutkan langkah, dia melihat gadisnya sedang berdiri bersandar di tepian loker-loker siswa.

"Hinata-chan lagi menunggu jemputan?"

Sang gadis tersentak kaget. "A-ah, aku menunggu hujan berhenti Naruto-kun. Kak Neji tidak bisa menjemputku."

Naruto ber-'oh' ria. Dia melihat sekilingnya yang mulai sepi. Terpikir olehnya tidak mungkin meninggalkan Hinata sendirian di sini. Ide pun meluncur dari benaknya. "Kalau gitu, Hinata-chan mau ke rumahku dulu gak?"

Hinata melongo. Ke-ke rumah Naruto-kun?

"Tenang saja, rumahku tidak jauh-jauh amat kok. Daripada Hinata-chan sendirian di sini, kan?"

"I-iya, aku mau … tapi sekarang masih hujan." Hinata mengulurkan tangannya agar rintikan air hujan itu membasahi telapak tangannya.

"Kau suka bermain bersama hujan, kan? Aku juga."

"Bermain? Eeehh—" Tangan Hinata langsung digenggam Naruto dan kakinya mau tak mau melangkah bersama Naruto dalam guyuran hujan. Naruto tertawa terbahak-bahak seolah hujan adalah hal yang paling menyenangkan sedunia. Hinata pun merasakan perasaan senang yang sama.

Sesampainya di rumah, Naruto segera mengambilkan dua handuk di pasak penggantung dan kembali lagi menghampiri Hinata yang berdiri di ambang pintu rumahnya. Handuk pertama dia lilitkan di tubuh Hinata, yang ke dua dia gunakan untuk mengelap rambut Hinata yang basah.

"A-aku bisa sendiri Naruto-kun dan aku hanya butuh satu han—"

"Ssst, diam saja Hinata-chan. Aku tidak apa-apa."

Hinata hanya mampu terdiam dan merapatkan handuk yang dipakainya. Membiarkan Naruto mengeringkan rambutnya yang basah. Naruto mengamati seluruh yang terpatri pada wajah Hinata. Mata itu … mata yang selalu menunjukkan belas kasih, namun juga misterius. Sama seperti sifat Hinata yang terkadang tidak mudah Naruto mengerti. Pipinya yang selalu dihiasi rona malu-malu, dan bibirnya yang agak kering karena sering menjilati bibirnya sendiri.

Namun Naruto baru sadar bahwa dia telah menatap Hinata cukup lama dan tangannya yang seharusnya mengeringkan rambut gadis itu kini terhenti—entah sejak kapan—di pipi gadis itu. Apalagi Hinata menatapnya dengan tatapan polos.

"… ah …" Naruto segera menarik diri karena mendapati bahwa jarak wajahnya dengan Hinata ternyata hanya seukuran dua jari. Dia berusaha menahan panas yang merambat di pipinya.

Pintu depan rumah tiba-tiba menjeblak keras. "Kaasan pulaaaaang! Naruto—ah?" Kushina kaget ketika mendapati seorang gadis di rumahnya saat ini.

"Ha-halo, Nyonya Uzumaki," sapa Hinata canggung. Dia segera membungkukkan tubuhnya dengan hormat.

"Oh … ha-hai." Kushina membalas sama canggungnya dengan Hinata. Lalu matanya mendelik tajam kepada Naruto. "Jangan bengong saja, Naruto! Bantu aku mengangkat belanjaan ini!

"Iyaaaaaaaa," Naruto menggerutu mendekati Kushina dan membawa kantong plastik yang tidak bisa dibilang ringan. Hinata yang ingin ikut membantu pun dilarang oleh Naruto dengan alasan 'kamu itu tamu.'

Sesampainya di dapur, Kushina dan Naruto segera membongkar kantong plastik tersebut dan mulai memilah barang-barang untuk di simpan di tempat yang seharusnya.

"Sekarang kau harus menjelaskannya padaku, bocah nakal. Siapa gadis tadi? Teman atau pacar?" tanya Kushina yang masih saja melanjutkan memilah-milah barang.

Naruto yang berada di samping Kushina mendengus. "Dia … umm …" Naruto mulai merona, canggung. Tetap saja berbicara mengenai kehidupan percintaannya kepada Kushina rasanya awkward. " … pacar."

Wanita berambut merah tembaga itu melongo tak percaya. Naruto menunduk takut, bagaimana kalau Kaasan-nya marah? Sepertinya dia harus mempersiapkan kepalanya untuk menahan sakit.

"AKHIRNYAAAA!" Kushina langsung melompat memeluk Naruto. Pemuda jabrik kuning itu nyaris terjungkal ke belakang dan menyadari mata Kushina berkaca-kaca terharu. "Oh, syukurlah dugaanku selama ini salah."

Naruto hanya mengernyit bingung saat Kushina merapal doa penuh syukur dan mengumpat bahagia.

Kaasan lebay banget deh reaksinya. Kayak dapat uang segepok aja.

Pemuda itu dengan pelan melepaskan pelukan Kushina dan semakin bingung dengan raut wajah wanita itu berbinar-binar cerah. "Kukira kau selama ini menjadi seorang gay. Tapi syukurlah tidak." Kushina berkata dengan nada riang.

"Apa? Kok Kaasan mikir gitu?" tanya Naruto jengkel. Jelas tidak terima dengan pernyataan Kushina yang pernah menjatuhkan vonis kalau dia maho.

"Habisnya, kau tidak pernah keluar ke mana-mana selain dengan Rock Lee. Sudah belasan tahun, kukira kalian ada sesuatu yang spesial." Kushina memaparkan asumsinya blak-blakan.

"Iihh! Kami tidak begitu!" Naruto membantah dengan nada jijik. Kushina terbahak. Dia mendaratkan tangannya pada pundak Naruto.

"Sudah mandi dulu sana. Kau bau."

"Ah, nanti sa—" Naruto langsung berhenti ketika mendapat pelototan dari Kushina. "Iya iya." Pemuda berambut kuning itu segera menyambar handuknya yang ada di pasak penggantung dan segera bergegas ke kamar mandi.

.

.

"Wah, ternyata baju itu pas sekali untukmu, Hinata-chan!" kata Kushina mengomentari penampilan Hinata saat ini. Hinata hanya berdiri canggung ketika dia memakai baju Kushina setelah mandi. Kushina memaksanya untuk mandi agar tidak sakit dan menyodorkan pakaian untuk dipakai.

"Te-terima kasih bibi, sudah mau meminjamkan saya baju."

"Aduuh, gak usah formal begitu. Baju itu untukmu saja, aku belum pernah memakainya karena terlalu feminim. Aku pingin pakai, tapi malu diejek."

Mereka pun serempak tertawa. Kemudian pun obrolan mengalir begitu saja tanpa mereka sadari. Kushina yang terbuka dan ceria seperti anak remaja membuat Hinata tidak canggung. Kushina pun mulai menata rambut Hinata dengan semangat ketika Hinata mau jadi bahan 'percobaan'nya.

"Sedari dulu, aku ingin sekali mempunyai anak perempuan. Anak perempuan kan bisa didandani. Namun, karena aku dan Minato sibuk, jadi yaah mengurus Naruto saja nyaris tidak ada waktu." Kushina bercerita panjang lebar dan mendadak suaranya memelan. "Hinata-chan … apa Naruto pernah curhat padamu tentang kami?"

"Emm, ada sih, tapi semuanya hal baik kok. Dia berkata bahwa ibunya cerewet, ayahnya orang humoris. Hanya itu saja."

Kushina berhenti menyisir rambut Hinata. "Begitu ya?"

Hinata merasakan perubahan aura yang mendadak. "A-ada apa, bibi?"

"Aku selama ini sebenarnya mencemaskannya. Aku dan Minato nyaris tidak mempunyai waktu untuk bersamanya. Aku takut dia kesepian. Apalagi aku tidak pernah melihatnya pergi bersama teman-temannya selain dengan Lee. Apa-apa sendiri kalau ngerjain tugas."

Hinata membalas Kushina. "Naruto-kun itu mempunyai banyak teman, di sekolah dia terkenal sebagai pemuda hiperaktif. Hanya saja sikapnya memang tak mau merepotkan orang lain."

Kushina mendengar itu pun mendesah lega. "Syukurlah jika dia punya banyak teman. Apalagi sekarang dia juga punya pacar yang menyenangkan dan— YA AMPUUUN! SUDAH JAM 7! Gawat bisa terlambat ini!"

Hinata yang awalnya memasang ekspresi merona mendengar pujian sekejap berubah jadi ekspresi terkejut. Dilihatnya Kushina langsung melompat dan segera berdiri di depan cermin untuk menata rambutnya.

Benar-benar mirip Naruto-kun.

"Biar saya bantu, bibi." Hinata segera mengambil sisir dan beberapa ornamen rambut. Kemudian mengepang rambut Kushina dan membentuk braid perancis. Sederhana, namun terlihat anggun dan cocok dengan baju merah marun yang Kushina kenakan saat ini.

"Terima kasih, Hinata-chan. Maaf tak sempat makan malam bersama. Kamu pulang diantar Naruto saja ya."

"Iya, tidak apa-apa kok Bi."

Kushina tersenyum dan memberi pelukan singkat pada Hinata. Sepeninggal Kushina, Hinata segera mematut dirinya di cermin dan tertawa melihat kepangan rambutnya yang masih berantakan. Kushina memang tidak terlalu pandai menata rambut sepertinya—namun, saat dia menyentuh hasil kepangan itu, ada rasa hangat di sana.

Ibu.

.

"Kau terlihat menawan malam ini, Kushina. Apalagi rambutmu." Puji Minato ketika mereka sudah seperempat jalan meninggalkan rumah.

Kushina tertawa sembari menyentuh rambutnya. "Bagus kan? Hinata-chan yang menatanya untukku."

"Hinata-chan? Sepertinya kalian sudah menjadi sangat akrab ya?" Minato terkekeh.

"Dia pribadi yang cukup menyenangkan dan dewasa meski pun sedikit kaku." Kushina tersenyum simpul. "Aku bersyukur Naruto tidak jatuh cinta pada gadis aneh-aneh."

"Kalau begitu, kapan-kapan kita akan mengundangnya untuk makan malam bersama."

.

.

Naruto segera menjatuhkan dirinya di atas kursi di depan Hinata. Gadis itu jelas-jelas kaget karena jarang-jarang Naruto langsung menjemputnya ke kelas. Apalagi Naruto memandangnya dengan tatapan yang ingin mengintrogasi.

"Ha-halo Naruto-kun," sapa Hinata ramah.

"Ceritakan."

"Eh?"

"Ceritakan … apa saja yang Hinata dan kaasan bicarakan tadi malam."

Tenten yang kebetulan masuk ke kelas untuk mengambil buku absen di atas meja guru langsung berteriak. "APA?! TADI MALAM ADA PERTEMUAN MERTUA-MENANTU?!"

Tenten langsung datang menghampiri dua sejoli itu dan langsung menyeletuk. "Bagaimana acara kalian berdua tadi malam?"

Hinata dan Naruto segera merona mendengar kata 'mertua-menantu.' Hinata segera menceritakan tentang bagaimana pertemuan itu tidak sengaja terjadi. Dia juga menceritakan bagaimana Kushina membeberkan masa kecil Naruto yang selalu ingin jadi superman dan selalu mencuri make-up untuk membuat dandanan seram. Lalu Kushina yang memperlihatkan foto Naruto yang terpilih menjadi peran perempuan dan menyanyi sewaktu SD.

Tenten terpingkal-pingkal mendengar masa kecil Naruto. Berbanding terbalik dengan Tenten, Naruto justru merona merah dan mendumel dalam hatinya. Dasar Kaasan!

"Ini dia dicariin dari tadi, malah asik ngomong di sini." Kiba tiba-tiba datang dan segera duduk dibangku Tenten tanpa permisi.

"Eh siapa suruh lo duduk di bangkuku? Sempit tahu, cari bangku lain sono!"

"Bangkumu? Ini bangku punya sekolah tahu! Ngomong-ngomong, kalian cerita apaan sih?"

"Telat Kib! No replay!" jawab Tenten dan Naruto berbarengan.

"Aaaah, pelit banget sih." Kiba menggerutu. "Oh iya, mana buku absennya? Dari tadi Kurenai-sensei nyariin." tanyanya pada Tenten.

"Ya ampuuun, sampai lupa!" Tenten segera menepuk jidatnya.

"Salah sendiri, ngapain juga gangguin orang pacaran? Yok kita pergi." Kiba segera menarik tangan Tenten dan gadis itu mendumel karena Kiba menariknya dengan kasar. Hinata tertawa melihat sahabatnya itu.

"Hatsyiiii!" Naruto tiba-tiba bersin dengan keras. Hinata segera menoleh menatap Naruto yang menutup hidungnya saat ini. Pemuda itu berteriak dalam hatinya sembari menahan panas di pipinya.

Gawat, ingusku mau meleleh nih! Mana bawa saputangan lagi!

"Hmmphh!"

Mata Naruto mengerling pada Hinata yang sedang berusaha menahan tawanya. Bertambah panaslah pipinya saat ini. Setelah Hinata sudah mampu menahan tawanya, gadis itu beringsut mendekati Naruto. Kemudian menyerahkan sebungkus tissue.

"Naruto-kun selalu begitu, selalu mengutamakan orang lain. Padahal sebenarnya Naruto-kun sendiri kemarin kedinginan, kan? Harusnya kau lebih jujur pada diri sendiri, Naruto-kun."

Naruto meringis. "Maaf ya." Kemudian dia segera menarik selembar tissue dan menutup hidungnya.

Hinata tertawa mendengar penuturan Naruto. "Untuk apa? Itulah yang kusuka dari Naruto-kun. Kau yang selalu berusaha untuk maju ke depan, yang selalu tersenyum meski sebenarnya kau kesepian … eeh? Aku ini ngomong apa, sih?" Hinata menutup mulutnya. Dia barusan ngomong tanpa sadar. Kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutnya dan hatinya.

Suatu kehangatan merasuki relung hati Naruto. Rasa itu muncul lagi. Rasa nyaman dan debaran yang sama ketika Hinata mengajaknya ke taman beberapa waktu lalu. Hinata yang menawarkan genggaman hangat seorang sahabat, yang mengutarakan kata-kata bijak seorang guru, dan yang paling penting, Hinata selalu tahu bahwa Naruto adalah Naruto.

Sesuatu menggerakkan Naruto meraih kedua pipi Hinata. Menatap dalam bola mata Hinata yang memancarkan ketulusan. Baru pertama kali ada orang yang bisa membacanya bagai lembar-lembar buku, memahami setiap mozaik katanya dan … baru pertama kali, Naruto ingin bergantung pada seseorang. "Kamu … kayak malaikat."

"Haha, Naruto-kun ke—"

CUP!

Kata-kata Hinata terhenti karena dia terkejut. Matanya membeliak ketika Naruto menciumnya di … kening. Namun dia juga merasakan debaran nyaman dan tenang luar biasa. Sepersekian detik Naruto melepaskan ciumannya. Mereka saling bertatapan beberapa saat dan Naruto tiba-tiba membalikkan punggung dan mulai melangkah meninggalkan Hinata.

Merasa bahwa gadisnya masih diam di tempat, kemudian Naruto berbalik sembari menyengir lebar. "Mau sampai kapan di situ? Ayo pulang, hehehe."

.

.

"Hoy cewek papan cucian, nih mau kukembalikan ponselmu." Sasuke datang menghampiri Sakura yang membuat cewek-cewek di kantin berteriak histeris.

"Gak butuh, ambil saja untukmu." Sakura menjawab dengan datar dan dia kembali mengaduk milkshake-nya. Sekarang ini, Sakura lagi galau berat dan tidak ingin diganggu siapapun, dimana pun, dan kapan pun.

"Beneran gak butuh?" tanya Sasuke memastikan.

"Iya." Lagi, Sakura menjawab singkat. Entah kenapa, sikap Sakura yang seperti ini membuatnya tidak nyaman—yah bukan berarti dia senang jika gadis itu berteriak dan mencakar dirinya. Hanya saja, rasanya ada yang aneh jika sikap gadis itu berubah.

"Yakin?"

Sakura pun mendelik tajam pada Sasuke dan menggebrak meja di depannya. "IYAA PANTAT AYAM! JANGAN GANGGU JAM GALAU GUE NGAPA?"

Akhirnya gadis ini kepancing juga. "Oke, kalau begitu." Sasuke memutar ponsel itu ditangannya, dan dengan entengnya dia melempar ponsel itu ke dalam tong sampah—seolah melempar kaleng minuman. Sakura melongo dibuatnya.

"ELU GILA YA!" bentak Sakura sebelum akhirnya dia mengorek-ngorek tong sampah untuk mencari ponselnya. Beberapa anak yang baru lewat melihat Sakura dengan tatapan mengejek dan ada pula yang iba.

Seorang cowok berkacamata datang mendekati Sakura dan menyodorkan sebungkus roti padanya. "Maaf kalau kau tak keberatan, tolong terimalah."

Gadis itu lagi-lagi melongo ketika tangan anak itu memaksa agar tangan Sakura mau menerima roti tersebut. Sasuke pun ikut-ikutan menyodorkan lembaran uang padanya dan bersikap pilon. Setelah Sasuke pergi beberapa detik dari hadapannya, pikirannya pun kembali.

"Aku … aku BUKAN PEMULUNG AYAAAAM!"

.

.

Ke kiri? Tidak. Ke kanan? Nope. Bagaimana jika ke belakang? Terlalu formal!

Sudah berapa kali Naruto mencoba menata rambutnya. Mungkin nyaris setengah jam lebih dia mematut dirinya di depan cermin etalase toko. Sampai-sampai pemilik toko membentaknya dan mengusirnya dengan sapu.

Ya iyalah, Naruto juga kurang kerjaan. Cermin itu emangnya segitu mahalnya ya?

Tunggu—Naruto membatin. Sejak kapan dia mulai peduli dengan penampilannya? Sejak kapan dia mulai mengancing kemejanya hingga kerah kemeja itu terlihat mencekik lehernya? Sejak kapan pula tangannya sering berkeringat menunggu kedatangan Hinata? Sejak kapan pula cara bicaranya menjadi hati-hati … singkatnya, dirinya menjadi orang yang … jaga image?

Getaran ponsel di saku membuat Naruto segera merogohnya dan lagi-lagi!—mau tak mau bibirnya itu melengkung senyum melihat nama yang tertera di ponsel itu. Hinata. Bahkan Naruto harus sampai menutup mulutnya untuk menyembunyikan senyumnya.

From: Hinata

Maaf Naruto-kun, aku tidak bisa datang. Papanya adikku sedang sakit. Lain kali saja ya kita perginya, hehe ^^

Mendadak, Naruto merasa lemas. Dia hanya bisa menghembuskan nafas pelan. Lalu jari-jarinya mengetik balasan.

To: Hinata

Ya, gak apa-apa kok. Papanya adikmu? Maksudmu adik sepupumu?

Send.

Naruto menyimpan kembali ponsel itu di saku celananya. Dia menggas motornya untuk kembali ke rumah. Kantung plastik yang berisi dua kotak popcorn rasa manis yang tergantung di motornya dia pandangi dengan seulas senyum. Bagaimana menghabiskan makanan itu?

Ah, paling entar suruh Kiba aja datang ke rumah dan ngabisin popcorn. Buanglah sampah pada temannya—Naruto langsung cengengesan sendiri. Tanpa sadar dia sudah sampai di rumahnya. Saat mesin motor itu mati, pas pula getaran di sakunya yang gantian aktif.

From: Hinata

Bukan, adik kandung

Naruto langsung meme.

To: Hinata

Hinata, kamu bosan hidup ya? -_- berarti itu papamu juga!

Kring!

From: Hinata

Oh, iya ya Naruto-kun? Pantes mirip

Oh, gadis ini menantangnya untuk bermain.

To: Hinata

Coba cek aja Hinata, tanya sama Mamamu. Papanya adik kandungmu itu papamu juga gak?

Gadis yang terlihat dingin, kaku, dan nampaknya terlalu ingin mengejar prestasi itu …

From: Hinata

Tanyanya ke mamaku atau mamanya adikku nih?

Ternyata bisa lucu, normal, dan penuh kehidupan. Itulah Hinata yang sebenarnya.

.

.

"Rockleee~" Sakura memanggil lelaki berambut mangkuk itu saat dia tepat berada di depan pintu kamarnya. Dia berhenti sejenak, lalu meraih ganggang pintu, menekannya dan mendorongnya hingga pintu itu membuat celah yang cukup untuk dirinya masuk ke dalam kamar. "Lee?" tanya Sakura memastikan sekali lagi sembari matanya memindai seisi ruangan.

Cukup berantakan. Apalagi bagian meja belajarnya, ukh—Sakura hanya bisa menggeleng. Apakah semua cowok tidak tahu kata 'rapi?' Mendengar pancuran air menyala dari kamar mandi Lee menyadarkan Sakura bahwa Lee sedang mandi.

Gadis itu meletakkan kue buatannya yang dibawanya ke atas meja belajar Lee. Matanya tertumbuk pada foto yang ada di atas meja belajar. Foto mereka bertiga—dirinya, Naruto, dan Lee. Kebersamaan yang kini Sakura rasakan telah pudar. Naruto terasa … jauh dari mereka.

Tak mau berlama-lama larut dalam lamunannya sendiri, Sakura mengepak buku-buku dan memeriksa setiap kertas yang berhamburan di atas meja. Sesekali, jika ada buku yang menarik perhatiannya, dia membukanya sebentar, dan tersenyum melihat tulisan cakar ayam Lee.

Matanya tertumbuk pada sebuah buku kenangan dari sekolah Lee. Penasaran, Sakura segera menarik buku itu dari kepitan buku lainnya. Sakura membukanya—namun, yang terbuka adalah bagian tengah buku itu. Bagian yang terselip sebuah amlop berwarna oranye polos. Amplop yang bertajuk "untuk Sakura"

Sakura mengernyit, dia memperhatikan sisi amplop itu robek, dan di sisi lainnya ter-lem sempurna. Seperti kebanyakan amplop yang kalau sudah sampai pada pemiliknya, maka amplop yang sudah di lem rapi tersebut dirobek sisinya untuk melihat isi dalamnya.

Sakura.

Itu kata pertama dalam isi amplop itu.

Kau ingat? Saat aku berkata "aku selalu ada untukmu" saat umur kita bahkan belum menginjak sepuluh? Mungkin, aku dulu mengucapkannya dengan penuh khayalan, ingin agar kau memandangku dan berpikir aku mengagumkan. Tiada banding. Bahkan dengan Lee sekalipun. Mungkin juga kau lupa dengan ucapan yang tiap hari aku elu-elukan itu.

Tapi, sekarang, aku sungguh-sungguh ingin mewujudkan hal itu. Tak ingin bahwa itu nanti hanya sekedar bualanku belaka. Aku ingin kau memandangku lebih….

Aku mengerti, jika aku mengatakan ini, maka mungkin saja kau akan menjauh, atau kau takut persahabatan ini akan retak dan takkan pernah sama lagi.

Tapi aku pun juga takkan pernah sama lagi meski aku tidak mengirimkan surat ini. Karena rasaku juga takkan sama lagi denganmu. Maaf, batas sahabat sudah terlanggar jauh olehku, Sakura.

Mungkin kau menganggapku pengecut karena hanya berbicara padamu melalui surat. Aku ingin mencoba mengutarakannya secara langsung. Hanya saja lidahku kelu, dan suaraku teredam oleh kenyataan bahwa kita ini adalah sahabat.

Hanya melalui tulisan, aku bisa menguraikan kekusutan dibenakku serta mengutarakan apa yang tak tersampaikan secara lisan.

Tapi, jika kau ingin memastikannya langsung dari mulutku, menyambut perasaanku, dan siap menghadapi perubahan ini, temui aku di taman tempat kita bertiga biasa minum frappy.

Bagian terakhir surat itu ditandai dengan simbol spiral memusat. Simbol yang menggambarkan satu orang. Berambut pirang, bermata biru cerah, dan semangat pantang menyerah.

"Naruto…." Suara Sakura lirih menyebut nama itu. Hatinya berdenyut sakit dan mendadak, dia merasa udara begitu menghimpit paru-parunya. Naruto juga menyukainya. Ternyata perasaannya tidak salah. Dia tidak salah mengira, dia tidak ke GR-an, dia….

"Sakura?" suara Lee mengejutkan gadis itu. Mata mereka bersibobrok. Lee terkejut dengan pandangan Sakura yang terlihat kosong dan wajahnya tanpa ekspresi. Ketika pikirannya mulai mencari-cari apa penyebab gadis itu begitu, tidak perlu waktu lama ketika melihat secarik kertas di tangan Sakura.

"Lee … aku datang ke sini, hanya ingin mengantar kue buatanku. Maaf, soal pergi nontonnya kita batalkan saja." Sakura berusaha menepis tangan Lee yang ingin menyentuhnya. Dia berjalan menuju pintu kamar Lee. Namun saat dia memutar ganggang itu dan pintu itu sedikit terbuka, Lee segera menarik lengannya hingga tubuh Sakura terputar menghadapnya. Tangan Lee yang satu lagi menutup pintu itu kembali.

"Lepaskan … " kata Sakura lirih di bahu Lee. Lee masih terdiam kaku seolah suara Sakura terlalu kecil untuk di dengar. "Lepaskan aku," suara Sakura kali ini penuh ketegasan. Perlahan, genggaman Lee di lengan kiri Sakura mengendur, lalu merosot perlahan hingga tergantung disisinya. "Yang ini juga, lepaskan."

"Tidak," jawab Lee tegas saat Sakura berusaha melepaskan tangannya yang menghalangi pintu. Lee tahu kalau sekarang ini gadis itu berusaha menahan ledakan amarahnya. Tapi kepala mangkuk itu sama kerasnya dengan gadis pink.

"Lepaskan Lee! Lepaskan! Lepaskan—urgh!" Airmata Sakura mulai berjatuhan. Semakin keras Sakura mencoba untuk keluar, semakin keras pula Lee menahannya. Bahkan sekarang, badan Lee sudah menghalangi pintu. "Brengsek! Sialan kau! Minggir, minggir!" suara Sakura melengking bercampur dengan serak tangisnya. Kepalan tangan Sakura berkali-kali menghujam tubuh Lee. Mata Lee mulai berlinang.

"Sakura…."

"Brengsek! Pengkhianat! Kenapa kau membohongiku … Lee." Pukulan itu perlahan berhenti. Kaki Sakura tak mampu lagi menahan berat badannya sendiri. Dia jatuh terduduk dan menangis tersedu.

Lee ikut berjongkok. Menyetarakan tingginya dengan tinggi Sakura. "Maaf." Lengan Lee segera merangkul tubuh kecil Sakura. Gadis itu memberontak, namun Lee semakin mempererat pelukannya. "Maafkan aku, maafkan aku."

Kata-kata itu terdengar seperti sampah ditelinga Sakura. "Tutup mulutmu. Minta maaf takkan mengubah situasi apa pun. Pergilah dari hidupku. Atau aku yang akan pergi dari hidupmu."

Lee mengepalkan tangannya. Mengumpulkan tekad dan keberanian saat mulai memutuskan "Aku akan mengubah situasinya seperti sedia kala. Aku akan … membuat Naruto kembali padamu. Pasti."

Lee bukanlah pembual. Sekali mengambil jalan, dia kokoh, tak tergoyahkan.

—meski hal itu menghancurkan hatinya.

Tidak apa, asal gadis itu memaafkannya, dan tidak memintanya pergi dan menghilang dari hidupnya.

.

To Be Continue

.

Hai permicaaaaahhhh *Langsung dirudal sama pembaca*

Hueeee, maaf ngelantarin banget nih fic. Kemarin saya sibuk tes kuliah, sedangkan si Karikazuka lagi sibuk menghadapi ujian ._. maaf ya, ada urusan di dunia nyata yang tak bisa kami pungkiri *bungkuk-bungkuk sampai rematik*

Wokeeeh, ini balesan Review nya :D (Dibalas oleh Permen Caca)

.

NHL-forever afterrr : Kalau chap paling Cuma 10-an aja udah tamat. Emang nih, Naruto labil pake AMAT! *di rasengan* Makasih udah review ya :D

naruto lover : Makasih semangatnya. Iya dikerjakan berdua. Maaf ketidakkonsisten kami. Tapi kami usahakan ini gak sampai discontinue kok! :D doakan saja ya

Bung Darma : Makasiiiih :D

hanazonorin444 : Wah, terimakasih. Syukurlah kalau kamu suka *author ngelap ingus*

WaOnePWG : Gak kok, gak bakal di cancel ^^

JihanFitrina-chan : Makasih udah di Fav :D, hihihi, pertanyaan mu itu jawabannya berupa spoiler nih ^^

Red Devils: Tengkyu!

Karizta-chan : Hihihihi, emang tuh Naruto PHP! Untuk sedikit info, Hinata-chan belum pernah pacaran di FF ini, jadi polos-polos begok gitu *di Jyuken*

Hikaru-Ryuu Hitachiin : Syukurlah saat kencan itu seru. Yang buat itu Karikazuka lhooo :3 dia emang bisa buat humor dibanding aku. Aku rata-rata di hurt sih ._.

Kaoru-Kagami Yoshida : Dibagian mana sih, kasih tau dong *toel-toel* syukur kalau menghibur :D

ryuuka nanaka : No, kami berdua hate sad ending. Tapi hepi ending pun belum tentu maknanya mereka jadi 'satu' kan? Hihihihihi (ketawa mak lampir yang misterius) mungkin bisa jadi satu, bisa jadi juga gantung, atau berakhir dengan tanpa pairing. Banyak kemungkinan :D

Subarashii Shinju : Psst, kamu gak tahu, Sasuke aslinya emang begitu. Cakep-cakep tapi ileran! Ii to the uh—iuuuhh! *alay kumat* Makasih udah di Fav :D

Nimarmine : Iyaaa, gak papa kok. Iya, saya juga kasian liat hinata chan T.T

.

Yup, selesai sudah chapter 6 ini, fuuuhh. Chapter depan saatnya api mulai tersulut pada hubungan NaruHina, wkwkwkwk.

Selesai baca, jangan lupa sampaikan kesan, pesan, kritik ataupun saran kalian pada fic ini, agar kami bisa berusaha lebih baik lagi pada chapter berikutnya :D

Warm Regards.

Permen Caca dan Karikazuka.