From Now, Tomorrow and Forever
Naruto © Masashi Kishimoto
Permen Caca and Karikazuka proudly present
NaruHina Fanfiction
AU
Enjoy for the Fiction!
.
"Aku bermimpi, kau meninggalkanku—
—dan aku tak tahu harus bagaimana."
(Naruto to Hinata)
.
.
.
Sakura mengeratkan jaket tebalnya mengantisipasi hawa dingin di luar sana yang mulai terasa dari pintu kamarnya. Gadis itu mengehela napas kala mengingat apa yang kemarin baru saja terjadi. Apa yang baru ia ketahui, apa yang baru ia sadari.
Yang baru terjadi, ia menemukan surat dari kamar Lee dan pastinya itu bukan surat biasa seperti surat-surat yang ada selama ini. Itu surat dari Naruto, surat untuk dirinya dan lee menyembunyikannya.
Yang baru ia ketahui, Naruto menulis surat untuknya untuk pertama kali, Naruto mengajaknya untuk bertemu, Naruto memiliki perasaan yang diam-diam, sama dengan dirinya.
Yang baru ia sadari, Lee memiliki perasaan khusus pada dirinya.
Itulah yang ia ketahui, bersama dengan surat yang sudah terobek sisinya dan lipatan kertas yang sudah kusut karena sudah dibuka dan dibaca berulang kali. Sakura baru menyadari satu hal, bahkan satu barang bukti bisa mengoyak semua kenyataan yang ada.
Banyak hal yang tidak ia tahu, tidak ia pahami dan tidak ia mengerti.
Mengapa ia tidak mengerti kalau Lee menyukai dirinya? Selama bertahun-tahun lamanya? Saat ingusnya masih berleleran di lubang hidungnya dan bajunya yang seperti preman pasar? Mengapa ia tidak tahu kalau Naruto mengirim surat padanya—sama sekali tidak tahu? Sebenarnya ke mana saja dia selama ini? Surat itu jelas ada di loker sepatunya, loker sepatu miliknya. Seharusnya ia tahu, bukannya orang lain. Mengapa ia tidak paham, kalau selama ini Naruto juga menyimpan perasaan padanya? Sejak kapan?
Sebenarnya sebodoh apa dirinya?
"... Hai."
Sakura mendongakkan kepalanya saat tahu ada sebuah dinding bidang yang menghalanginya. Bukan dinding secara harfiah, tapi lebih tepatnya sebuah tubuh.
"Naruto?" Sakura mengernyitkan alis, meyakinkan diri kalau itu memang Naruto. Sederet debaran segera muncul dari jantungnya, mengingat surat yang dikirimkan Naruto kepadanya.
Lelaki itu menggaruk kepalanya sambil membuang pandangan ke sembarang arah sebelum berkata, "Kebetulan aku lewat rumahmu pagi ini, mau bareng?"
Sakura melongo. Bagaimana mungkin? Jantungnya malah berdebar lebih cepat sekarang dan wajahnya segera menampakkan sebuah senyuman gembira mengingat satu hal. "Bagaimana mungkin kebetulan kalau rumahmu bahkan berlawanan arah dari sini? Baka."
Naruto nyengir singkat. "Mau enggak, nih?"
Senyuman Sakura makin melebar. "Ayo," jawabnya sambil mengeratkan jaketnya sekali lagi.
Ya, kali ini Sakura sudah bertekad satu hal. Dan ia tidak akan main-main dengan ini.
.
.
.
"Hei Nar, bisakah kau jemput Sakura hari ini?"
"Hei, aku sebenarnya ..."
"Kumohon. Jemputlah dia pagi ini. Tapi jangan bilang kalau aku yang menyuruhmu."
"Hei Lee, kau baik-baik saja atau bagaimana, sih? Apa maksudnya? Sudah kubilang aku ingin—"
"Naruto, kumohon."
Naruto menghela napas diam-diam saat mengingat percakapannya tadi pagi dengan lee di telepon. Ada apa sebenarnya hingga ia harus menjemput Sakura? Dan lagi, mengapa ia tidak boleh bilang kalau Lee yang memintanya?"
Saat dirinya sudah mengempaskan diri ke atas kursi bus ia merasakan getaran di saku jaket oranye miliknya. Ia merogohnya dan melirik isinya.
From: Hinata
Apa kau masih tidur?
Naruto tersenyum tipis saat melihat pesan masuk barusan. Pesan singkat yang mengandung rasa penasaran, khawatir dan segala macam hal yang mungkin dirasakan Hinata saat ini. Tangannya segera mengetikkan balasan.
Sakura melirik. "Siapa yang sms pagi-pagi begini?" tanyanya penasaran, berusaha mengintip siapa yang baru saja mengirim pesan pada lelaki bermata biru itu.
"Woaaa, ini rahasia lelaki!" balas Naruto sengit sambil menyembunyikan tampilan layar handphone miliknya dari gadis itu. Sebuah semburat merah tipis menghampiri pipinya yang berwarna tan.
Sayangnya Sakura salah mengartikan semburat itu dengan semburat yang sama di pipinya. Walau Naruto tidak menyadarinya.
Jika Sakura kini tengah menyembunyikan wajah tersipunya, maka lain halnya dengan Hinata yang berusaha menyembunyikan senyum lebarnya yang nyaris menghasilkan cekikikan itu pada orang-orang di sekitarnya.
Sudah tiga puluh menit ia menunggu balasan, khawatir sekaligus bingung kenapa Naruto yang sudah berkata kalau lelaki itu akan menjemputnya pagi ini, takut-takut kalau lelaki itu masih tertidur atau lupa akan perkatannya sendiri. Sudah nyaris satu jam ia menunggu di depan pagar rumahnya, sesekali menengok barangkali Naruto ada di sisi jalan dan yang ia temui hanya angin kencang yang menusuk tulang.
Namun setidaknya penantiannya terbayarkan walau tidak seperti janji.
From: Naruto
Gomen, aku tidak sempat menjemputmu. Aku bangun kesiangan x_x
Btw, kau menantikanku ya? Iya kan? :p
Baru saja Hinata ingin mengetikkan balasan tapi suara pintu bus yang terbuka menyadarkan dirinya kalau ia sudah sampai di tujuan. Segera gadis itu bangkit dan menuju pintu depan bus. Mengantri giliran turun dengan anak-anak lain yang juga satu bus dengan dirinya.
Namun, belum sampai ia beranjak turun dari sana, ia mendapati sosok mencolok yang ada di pintu belakang bus bersama sosok lain yang ia pernah tahu sebelumnya. Mata Hinata melebar tidak sampai sedetik dan seketika itu juga kosong beberapa saat.
'Jadi Naruto-kun bangun kesiangan dan kemudian menjemput ... dia?' batinnya bertanya kepada dirinya, dengan nada pelan dan hati-hati, seolah takut akan ada tetes-tetes air yang bisa jatuh kapan saja dari pelupuk mata.
"Hoy, kau tidak turun atau bagaimana?"
Sedetik Hinata tersadar dari kekosongannya dan segera meminta maaf sambil turun cepat-cepat dari dalam bus. Naruto sudah turun duluan dengan gadis itu, dengan cengiran dan gurauan yang biasanya. Hinata bisa lihat itu dari belakang sini.
'Sebenarnya, mereka cocok, kan?' batin Hinata kembali menyeruak keluar. Gadis itu berhenti berjalan dan memandangi dua sosok yang nampak sangat menyolok di kerumunan para siswa. Kuning dan merah muda.
Lihat bagaimana lelaki itu tertawa mengejek sambil berlari menjauh itu. Dan bagaimana gadis di sampingnya berteriak sambil mengejar-ngejarnya kemudian menjitaknya dengan jitakan mesra.
Orang-orang yang tidak tahu hubungan sebenarnya antara Naruto dan dirinya pasti akan mengira kalau Naruto dan gadis itu sangatlah cocok dan nampak seperti sepasang kekasih. Dan ia menyetujuinya dalam hati.
Mereka sangat cocok, melebur jadi satu dan begitu hidup.
Tidak seperti dirinya dan Naruto yang terkesan kaku dan hampa selama ini. Hubungan yang seolah seperti dua orang yang tidak saling mengenal dan dipaksa untuk bersama. Canggung, aneh.
Kini Hinata merasa sama sekali tidak pantas berada di sisi Naruto. Sama sekali.
.
.
.
"Senang dengan apa yang kau lihat?"
Segera saja Sakura menendang bagian apa saja yang bisa ia tendang pada tubuh lelaki itu. Tidak lagi, kali ini ia tidak akan mau lagi harga dirinya diinjak-injak oleh lelaki itu. Tidak akan.
"Minggir," kata Sakura dingin, Sudah cukup dirinya bersabar selama ini. Mulai dari kejadian di bus hingga kejadian ponselnya dibuang ke tong sampah, ia tidak bisa bersabar lagi.
Lelaki berambut raven itu mundur singkat, bukan karena takut oleh tendangan Sakura, jujur saja, tendangan gadis itu bisa saja ia lawan, menangkap kaki itu lalu menggulingkannya, misalnya?
"Jadi sejak kapan kau suka melihat tubuh telanjangku, hm?" tanya Sasuke sambil memasang seragam judo miliknya dengan santai, tanpa khawatir akan ada tatapan lapar atau hujan darah karena melihat topless-nya. Jelas gadis satu ini sama sekali tidak terpengaruh dengan pesona miliknya.
Sakura tidak mengindahkan pertanyaan Sasuke yang menurutnya sama sekali tidak berguna. Untuk saaat ini berteriak dan memaki bukan pilihan yang terbaik, dia sedang malas melakukannya dan memilih untuk mencari apa yang menjadi tujuannya kemari.
Beberapa detik mengedarkan pandangan, ia tidak menemukan apa yang ia cari. Di mana Naruto sekarang? Bukankah mereka berjanji kalau akan pergi ke rumah Lee hari ini? Walau sebenarnya Sakura enggan bertemu dengan Lee sekarang ini, tak dipungkiri kalau dirinya juga khawatir dengan keabsenan lelaki itu di sekolah.
"Hei ayam, kau lihat Naruto tidak?" tanya Sakura dengan nada normal, tidak marah, tidak sebal.
Sasuke menaikkan alisnya, bukan karena pertanyaan gadis itu, tapi lebih tepatnya dengan nada suaranya. Jelas gadis itu tidak menggunakan nada bicara permusuhan saat ini.
"Hn?" Lelaki itu tidak menjawab ya atau tidak, hanya sebuah gumaman yang sama sekali tidak jelas.
Hal itu jelas saja membuat pelipis Sakura berkedut kesal. "Hei Ayam, aku ini bukan tipe orang yang bisa menafsirkan gumaman tidak jelasmu itu dengan jawaban yang kuinginkan. Jadi jawab saja, ya atau tidak," katanya seraya berkacak pinggang kesal.
Mendengar omelan Sakura malah membuat Sasuke makin bergairah untuk mencari gara-gara. "Kalau aku tidak mau?" tanyanya dengan nada angkuh, "kau mau apa?"
Ah, ingin sekali rasanya Sakura melemparkan bangku yang ada di sisi ruangan kepada kepala lelaki itu sekarang juga. Mau apa sebenarnya orang ini? Menjahilinya? Untuk apa? Ia bahkan tidak pernah mencari gara-gara sebelumnya.
Atau bisa jadi lelaki ini memiliki kelainan mengganggu seseorang. Sadistic. Sakura bergidik ngeri membayangkannya.
Selagi Sakura bergidik, Sasuke yang sedari tadi memperhatikan malah bingung sekaligus penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis itu di dalam kepala merah mudanya selagi ia berbicara dengan lelaki yang paling tampan se-Konoha ini. Bukannya menyombong, tapi ia sadar dan tahu kenyataannya.
"Berpikir mesum di hadapanku," gumam Sasuke dengan suara yang sengaja dibesarkan langsung saja membuat Sakura tersentak dengan semburat merah di pipinya.
"E-enak saja! Atau jangan-jangan kau yang berpikir mesum, heh?!" bentak Sakura balik. Menyadari percakapan ini tidak akan ada habisnya Sakura segera menghentakkan kakinya keluar dari ruangan klub ini dan berkata cepat, "Bisa gila lama-lama aku di sini."
Sasuke ingin sekali terkekeh saat itu juga, sayangnya ia masih ingat harga dirinya.
.
.
.
To: Hinata
Ne, kau ada di mana?
Sudah dua jam sejak Naruto mengirimkan pesan itu pada Hinata dan sudah tiga kali ia mengirimkan pesan yang sama. Namun sama sekali tidak ada balasan apapun dari kekasihnya.
Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah yang membuat Hinata seharian ini menghindari dirinya? Absennya gadis itu hari ini sangat menunjukkan kalau Hinata memang tidak mau bertemu dengan dirinya.
Apa ia berbuat sesuatu yang salah? Kalau ia berbuat hal yang salah, harusnya Hinata mengatakan padanya, sehingga ia sadar, sehingga ia berusaha tidak mengulanginya lagi. bukannya malah diam dan menghindar begini.
Sambil menyimpan ponselnya ke dalam saku, ia menggumamkan tekad dalam hati. Setelah ini ia akan ke rumah Hinata untuk melihat keadaan gadis itu.
"Nar, kalau kau haus, ambil saja di kulkas."
Naruto tersentak dan menggaruk kepalanya sungkan. "Ah, oke-oke."
"Jadi apa kau tadi menjemput Sakura?"
Naruto mengangguk pada Lee dengan perasaan tidak enak. "Aku tidak mengerti, apa maksudmu sebenarnya. Kenapa—"
Belum selesai Naruto bertanya, ada seseorang masuk ke dalam ruangan itu sambil berkata, "Lee, aku—" Seseorang yang baru saja masuk itupun menghentikan kata-katanya seketika melihat siapa yang ada di dalam sana. "Hei Naruto, kau kucari ke mana-mana malah sudah duluan kemari! Bukannya kita tadi janjian kemari barengan!" cerca gadis itu sambil melepas jaketnya.
Naruto teringat apa yang dikatakannya waktu istirahat siang tadi dan baru sadar kesalahan apa yang sudah ia perbuat. "Gomen, Sakura-chan, aku benar-benar lupa."
Sakura menghela napas kesal. "Dasar," gerutunya pelan.
Lee yang terduduk di ranjangnya segera menyingkap selimut dan berkata cepat, "Bentar aku ambilkan—" namun pergerakannya segera ditahan oleh Naruto.
"Udahlah, jangan repot-repot. Lagian aku mau pulang dulu, udah sore," kata Naruto sambil bangkit meraih tas sekolahnya.
Sakura tersentak, "Lho, Nar—" Ia ingin bertanya tapi diurungkannya.
Lee menjawab cepat. "Kalau gitu antar Sakura—"
Sakura mengangkat jaket serta tas yang sudah ia taruh barusan namun perkataan Naruto mengurungkan niatnya.
"Aku mau pergi ke suatu tempat, sorry ya."
Kalau sudah bilang begitu, Lee harus bilang apa?
Apalagi setelah Naruto keluar, Sakura menunjukkan wajah masam padanya.
.
.
.
Hinata, Hinata, Hinata.
Naruto segera bergegas memasuki kereta yang mengantarkannya ke tujuan. Ia tidak peduli meski jam sudah menunjukkan pukul lima sore atau mungkin ibunya yang sudah siap-siap dengan penggorengan di tangannya menunggu anaknya yang tidak lekas pulang.
Ia bahkan tidak peduli dengan hawa dingin dan perjalanan panjang yang harus segera ia lalui setelah menaiki kereta ini. Maklum, rumah Hinata bukan main jauhnya. Dalam hati Naruto bertanya-tanya bagaimana bisa Hinata pulang-pergi setiap hari seperti ini.
Ia berlari, mengejar waktu yang terus berputar, mengingat kalau jam segini Hinata akan berangkat ke tempat les privatnya. Entah les apa, ia lupa sama sekali.
Ah, sejauh mana ia mengenal Hinata? Bahkan les apa saja yang diikuti gadis itu saja ia tidak tahu. Walau sebenarnya wajar saja ia tidak mengingat semua les privat yang diikuti gadis itu, ia terus menyalahkan dirinya.
Ia sampai di depan pagar rumah Hinata tepat saat Hinata akan keluar dari rumahnya. Terlihat gadis itu mengenakan jaket musim dinginnya yang tebal dan topi hangat yang menutupi sebagian poninya.
"Hinata!"
Hinata tersentak saat melihat siapa sosok di hadapannya saat ini. "Na-Na-Naruto-kun?!" Saking kagetnya ia, dirinya baru sadar kalau ayahnya bisa saja mendengar ucapannya barusan. Jadi segera ia berlari sambil membawa Naruto ke sisi rumahnya yang tertutupi oleh pagar sepenuhnya.
"A-ada apa?" tanya Hinata sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Untunglah supir yang biasanya mengantarkan dirinya les privat sedang dalam perjalanan menjemput Hanabi, jadi ia masih punya beberapa menit untuk menunggu.
"Kenapa kau menghindar seharian ini?" tanya Naruto sambil menatap Hinata lurus. Pipi gadis itu memerah walau udara sedang dingin-dinginnya. Ingin sekali ia sentuh pipi itu untuk memastikan apakah hangat di sana.
Pandangan Hinata terlempar ke segala arah. Jujur saja, ia bingung harus berkata apa dan harus memulainya dari mana.
"Hei?" panggil Naruto sambil mencolek pipi gadis itu. Sungguh ia tidak tahan sekali melihat pipi merah kekasihnya itu.
Bukannya berubah normal, malah makin merah pipi Hinata. Bahkan merahnya sudah menjalar ke seluruh wajahnya yang putih bersih.
Ah, ia jadi ingin menangis saat ini. Bagaimana bisa ia mengatakannya kalau Naruto begitu baik padanya?
"Kau baik-baik saja—"
"Naruto-kun ..."
"—ya?"
Hinata diam sejenak, menghela napas dan tersenyum lemah. "Gak apa-apa," katanya pelan.
Apakah bisa, ia sesaat lebih lama lagi dengan orang yang begitu ia sayangi ini?
Apakah bisa, ia menggenggam tangan orang yang selalu ia inginkan ini?
Apakah bisa—
"Naruto-kun ... Aku kedinginan," ucap Hinata pelan dengan semburat merah di pipinya yang manis, "maukah kau memelukku?"
Naruto gelagapan, pasalnya ini pertama kali Hinata meminta hal yang seintim ini padanya. Terang saja hal ini membuat pipi tan miliknya dihiasi semburat merah. Padahal ... biasanya dia yang mengambil langkah duluan.
Maka dengan gerakan yang gugup dan takut salah, ia melebarkan kedua tangannya, menggapai tubuh Hinata yang lebih kecil daripadanya dan merengkuhnya dalam satu pelukan hangat yang tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang waktu mereka.
Saat ini hanya ada mereka di dunia ini. Dengan jantung bersahutan, pipi memerah dan tangan saling mendekap, Hinata tahu ia benar-benar jatuh cinta.
Jatuh cinta pada Naruto.
Setetes air jatuh ke pipinya, namun ia tidak tahu itu air matanya atau hanya salju yang hinggap di permukaan kulitnya. Hangat tubuh Naruto membuat dirinya tidak bisa menyadari apapun lagi di sekitarnya.
Mungkin Hinata bisa. Sebentar saja.
Dengan rengkuhan Naruto di kedua bahunya, ia merasa ia bisa bertahan dari apapun juga.
-TBC-
Terima kasih banyak untuk semua yang telah membaca fiksi ini
anna darren, Khula-chin, Benrina Shinju, Murasaki Nabilah, Namikaze TrueBlue PraZumaki, namika adachi, ana darren, ameriyu, , Ana Darren Shan, Hikaru-Ryuu Hitachiin, Guest, reyvanrifqi, Nimarmine, pbalqisf, Karizta-chan, Natha Nala, , Subarashii Shinju, Ice Sarasuhime, Guest (2), hqhqhq, JihanFitrina-chan, andypraze
Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan nama dan ada yang tertinggal :")
Saya, Karikazuka sangat memohon maaf pada semuanya yang telah membaca fic ini, karena begitu lamanya fic ini tidak update... entah kenapa saya tidak bisa menulis lagi seperti dulu... Sebenarnya permohonan maaf saja tidak cukup, tapi saya akan berusaha lagi untuk membangkitkan feel menulis ini :") dan untuk Permen Caca, ampuni kawanmu ini yang molornya bukan main.. huhuhu... Akhir kata, review ya :")
