Sekarang, hanya tinggal menunggu api lilin yang kita ciptakan itu padam dan aku maupun kamu, takkan melihat satu sama lain lagi.
—Hinata to Naruto
.
.
Tik Tok. Tik Tok.
Suara detik jarum jam tak pernah terdengar begitu keras seperti sekarang ini. Naruto memainkan tabung kaca kecil ditangannya sebagai pengalih perhatian. Inilah hal yang bisa dilakukannya ketika semua tugas-tugas sekolahnya sudah selesai dan acara televisi tak satu pun menarik minatnya.
Ada apa? Pertanyaan mulai terlintas dalam pikirannya.
Padahal beberapa minggu yang lalu, dia merasa begitu dekat dengan Hinata. Dia masih bisa menyentuhnya, menghirup aroma lavender di rambutnya. Masih tertawa bersamanya.
Sekarang? Gadis itu menjadi lebih pendiam, melempar pandang ketika bertemu sapa dengannya, lalu ponselnya sudah sepi sekali berbunyi. Gadis itu membalas seperti biasa jika dia mengirim teks duluan, hanya saja … seperti tidak ada gairah dalam tulisannya. Datar.
Ingin mengajaknya mengobrol? Tentang apa? Dia sendiri tidak tahu apa yang salah dan tidak tahu bagaimana harus memulai. Apalagi, Hinata terlihat begitu sibuk belakangan ini dan Naruto merasa tidak enak jika ingin meminta waktu gadis itu. Dirinya takut mengganggu gadis itu.
Tapi—
Naruto gegas mengambil ponselnya. Mengetik berapa kata disana.
Hei Hinata, sedang apa sekarang?
Tidak. Naruto dengan cepat menghapus kata-kata barusan. Terlalu basa-basi.
Kudengar ada film baru yang bagus di bioskop. Minggu depan nonton yuk?
Minggu depan ada ujian! Naruto menghapus teksnya lagi.
"Kenapa rumah ini sepi sekali?" Suara Kushina yang masuk ke dalam rumah tiba-tiba menyentak Naruto. Naruto buru-buru memposisikan dirinya berbaring di sofa, lalu memejamkan matanya, dan bernapas dengan teratur.
Kushina melihat anak lelakinya berbaring di sofa merasa kasihan. Dia datang menghampiri Naruto yang terlihat lelap dalam tidur dan mengelus kepalanya dengan lembut. Naruto diam-diam menikmati sentuhan ibunya yang terasa menenangkan.
"Kaasan?" Naruto mengerjap-ngerjap dan mengerang, berperan seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur lelap.
"Kenapa tidur disini? Ayo makan malam bersama." Kushina bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur. Naruto pun mengikuti. Membantu Kushina mengeluarkan isi kantong belanjaan.
"Ah iya, Hinata sudah lama tidak main kesini. Bagaimana kabarnya?"
Naruto tersentak dengan pertanyaan Kushina yang tidak disangkanya. "Uhmm, dia … sedang sibuk. Sebentar lagi kompetisi matematika akan dimulai hanya dalam hitungan hari."
"Oh begitu, setelah dia selesai perlombaan, ajak Hinata main kesini untuk makan malam. Kaasan akan masak yang enak."
Jantung Naruto serasa melompat mendengar hal itu. "Kaasan! Setelah itu Naruto ada ujian akhir, ingat?"
"Lho memangnya kenapa? Malah bagus kan kalau habis makan kalian belajar bareng? Ingat Naruto nilaimu itu jelek tahu. Dia boleh juga menginap di sini."
"Baiklah,"— kali ini jantung Naruto sudah mau meledak—karena rasa senang yang membuncah. Akhirnya kesempatan ini datang juga—kesempatan untuk mencairkan jarak antaranya dirinya dan Hinata.
Belajar bersama! Itu adalah ide terbaik yang pernah didengarnya. Kenapa dia tidak terpikir sama sekali ya? Besok dia akan segera menemui gadis itu dan berbicara padanya!
.
.
Hinata memainkan jari-jarinya yang terasa dingin dan berkeringat. Lampu-lampu panggung menyilaukan matanya. Sorak penonton meningkatkan ketegangan pada dirinya. Dia sudah berhasil sampai tahap kedua dalam kompetisi, dan babak final akan dimulai sekitar tigapuluh menit lagi.
"Kau tidak apa-apa, Hyuuga?" Kakashi menarik kursi di samping Hinata. Hinata hanya tersenyum kecil. Tidak bisa memberikan jawaban yang pasti. Seolah mengerti, Kakashi menepuk bahu gadis itu."Rilekskan dirimu, oke?"
Hinata mengangguk pelan.
.
.
"APA? Jadi Hinata pergi kompetisi hari ini?" Naruto tak mampu meredam rasa terkejutnya di depan Tenten. Gadis keturunan Cina itu mengangkat sebelah alisnya heran.
"Kupikir kau sudah tahu."
"Tidak, dia tidak memberitahuku sama sekali." Pemuda itu memelankan suaranya. Berusaha menelan kekecewaan yang menyeruak dalam dirinya.
"Dia sudah pergi dari jam 7 tadi." Tenten mendongak untuk menatap jarum jam di dinding. 12:30. "Sekitar satu jam lagi kompetisinya sudah selesai."
"Ada apa nih bro!" Kiba datang menimbrung dari belakang Tenten.
"Naruto ... dia tidak tahu kalau Hinata pergi kompetisi hari ini. Urgh, seandainya bisa izin dari pelajaran sejarah!" Tenten mendecak. Kiba malah tertawa.
"Hari gini masih izin? Cabut aja. Aku tahu celah di sekolah ini." Kiba setengah berbisik sambil tersenyum jahil. Senyum yang berusaha untuk mempengaruhi dua orang di depannya.
"Tidak tidak tidak. Itu gila. Mau berurusan dengan hukuman?" Tenten menggelengkan kepalanya keras, serta tangannya mengibas-ngibas. Sangat tidak setuju dengan ide itu.
"Oke Kiba, aku ikut." Suara Naruto terdengar tegas. Tenten menganga, lalu menatap Kiba dengan harapan agar pemuda itu jangan membolos. Kiba hanya mengendikkan bahu, sedikit memiringkan kepalanya dan tersenyum miring.
Aku tak bisa menolak teman yang membutuhkan bantuanku, Tenten.
Kiba berjalan mundur. Lalu dia mengedipkan sebelah matanya. "Oke, aku tunggu di belakang gedung olahraga ya." Lalu dia menjentikkan jarinya menuju kelas. Mata Naruto berbinar dan dia segera berlari menuju kelas sebelum waktu istirahat akan berakhir.
"Oh, tidak." Tenten mengikuti Kiba sambil menutup mulutnya. Menarik napas dalam lalu menghempaskannya.
Kiba segera mengepak buku-buku serta alat tulisnya ke dalam tas. Tenten memegang lengannya sendiri yang merasa cemas di depan meja Kiba. Pemuda itu menyampirkan ranselnya di bahunya lalu melihat Tenten yang sepertinya meragu. "Tak perlu khawatir. Detensiku takkan seberat itu kok."
Tidak soal itu, Baka. Tenten merungut ketika Kiba mengacak rambutnya dan berlalu keluar kelas. Dia duduk dan berpikir di bangkunya. Kakinya bergetar gelisah. Buku sejarah tergeletak rapi di mejanya dan dia melihat dengan seksama. Tiba-tiba, dia segera mengambil buku itu dan memasukkannya dalam tas.
Persetan dengan sejarah dan detensi.
.
.
"Ayo ayo ayo." Kiba setengah berbisik mengulurkan tangannya pada Naruto yang menunggu dibawah. Dinding sekolah bagian belakang gedung olahraga dipenuhi lumut dan tertutup oleh pohon. Sehingga banyak yang tidak sadar bahwa ada bagian dinding yang lebih rendah dibanding dinding-dinding lainnya yang setinggi dua setengah meter. Hanya Kiba yang menemukan bagian ini ketika dia diam-diam mencoba rokok pertama kalinya.
Naruto menggapai uluran tangan Kiba dan Kiba segera menariknya. Mereka tiba-tiba terkejut mendengar suara gemerisik daun dan seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari balik dinding.
"Tenten?" Kiba bertanya dengan heran.
"Aku tak mau ditinggal ketika kalian bisa melihat Hinata." Tenten memantapkan suaranya.
"Oke, ayo sini tanganmu." Kiba menjulurkan tangannya dan Tenten meraihnya. Namun ketika menapak pada dinding, sepatunya tergelincir karena lumut dan lututnya bergesekan dengan dinding. Kiba nyaris saja jatuh dan genggamannya pada Tenten terlepas.
"Auch!" Ringis Tenten. Kiba segera melompat turun menghampiri Tenten. Gadis itu memasang ekspresi bahwa dia tidak apa-apa. Kiba lalu memberikan tangannya untuk dipijaki Tenten. Gadis itu merona malu dan meremas roknya gelisah.
"Ayo cepat, biar kudorong ke atas." Desak Kiba. Akhirnya Tenten pun maju, lalu dia berbisik pada Kiba dengan nada mengancam.
"Awas, jangan ngintip kau!"
Kiba yang awalnya merengut tak mengerti "Ngintip apaan-" akhirnya merona ketika Tenten memijak tangannya dan pahanya sedikit tersingkap.
Putih, mulus ... kalau saja ... AKH!
Kiba mendorong Tenten ke atas sambil memejamkan matanya. Setelah Tenten disambut oleh Naruto, Kiba melakukan antisipasi-mundur kebelakang, lalu lari, lompat dan dia ditarik oleh Naruto.
Mereka pun segera kabur ke jalan dan memasuki taksi yang sudah Naruto hubungi dari tadi. Naruto mengambil kursi di depan. Tenten serta Kiba di belakang.
"Cepat Pak, ke gedung Konoha Field!" Perintah Naruto. Taksi pun segera melaju dan Naruto bernapas lega, lalu dia tertawa puas. "Ini akan jadi seru!" Naruto memutar tubuhnya ke belakang dan mengerutkan keningnya heran melihat Tenten dan Kiba.
"Lah, kenapa wajah kalian berdua memerah?"
.
.
Suasana semakin tegang mengingat begitu ketatnya persaingan babak final. Hinata dengan lawan mainnya, ketika Hinata sedang mendengarkan, lawan mainnya memencet bel. Begitu pula dengan Hinata. Di dalam kompetisi matematika, satu detik sangatlah berarti. Suara napas penonton yang terdengar menderu semakin membuat Hinata sesak.
Matanya fokus pada mulut pembaca soal, lalu tangannya segera refleks memencet tombol bel.
"Hinata?" Pembaca pertanyaan menghentikan soal yang dibacanya.
"Enam belas?"
"Maaf, enam belas bukanlah jawaban yang tepat."
Hinata memejamkan matanya. Terlihat lawan di sampingnya melempar pandang padanya. Hinata balas melihat sambil melempar senyum. Lalu lawannya itu memencet bel yang ada di meja.
"Nanako?" Sang Penanya bersuara.
"Tiga puluh lima." Suara Nanako—lawan Hinata terdengar begitu mantap.
"Tiga puluh lima adalah jawaban yang benar!"
Penonton pun bertepuk tangan beberapa saat sebelum akhirnya tenang kembali dan Penanya kembali lagi melempar soal.
"Berapa banyak bilangan bulat positif n yang menghasilkan sisa 9 ketika 2009 dibagi oleh n dan—"
TUUT!
"Nanako?"
"Lima belas." Jawab gadis yang mengikat rambutnya kuda poni mantap.
"Lima belas adalah jawaban yang benar!"
Penonton pun bersorak. Karena hasil dari pertandingan ini tak bisa terprediksi.
Akh. Ayo diriku! Tenanglah! Hinata mengucap dalam batinnya. Dia mulai bisa disusul oleh lawannya. Jika lawannya bisa menjawab dua pertanyaan lagi maka seimbanglah poin mereka.
.
.
Tenten berjalan dengan tergesa gesa. Berusaha membaca tanda-tanda dimana ruang Center tempat kompetisi berlangsung. Dua lelaki di belakangnya mengikuti dia dengan napas yang tersengal pula.
Ketika melihat pintu dengan plang 'Center Room' Tenten segera melihat ke belakang dan mengisyaratkan bahwa inilah ruangan yang mereka cari sedari tadi. Tenten membukanya perlahan dan atmosfir di dalam ruangan itu terasa begitu mendebarkan.
Mata Tenten segera memindai seisi ruangan dan tak berhasil menemukan satu pun bangku yang kosong. Akhirnya terpaksa mereka hanya bisa berdiri di dekat pintu. Naruto yang baru masuk pun langsung segera mencari sosok Hinata.
TUUT!
"Nanako?"
"Tigapuluh enam derajat?"
"Tigapuluh enam derajat adalah jawaban yang benar!"
Penonton pun bertepuk tangan. Lalu si Penanya kembali lagi bersuara. "Waw, sekarang nilai Hinata dan Nanako sudah seimbang. Maka tinggal tiga pertanyaan terakhir ini yang akan menentukan pemenangnya!"
Tenten pun mendecak kagum. "Seimbang!" Serunya setengah berbisik. Kiba pun mulai merasa tegang juga.
"Jika m dihapus dari angka acak dari susunan (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9) lalu n diambil dari susunan tersebut, apa probilitas dari—"
TUUT!
"Hinata?"
Tangan Hinata mendadak dingin. "Maaf, tadi tidak sengaja tertekan tombolnya. Bukan apa-apa."
"Bukan masalah." Lalu Penanya kembali lagi mengulang pertanyaannya. Penonton pun sedikit mendesah. Hinata malah semakin tegang. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri. Wajahnya mulai memerah. Kalau—
"Semangaaattt dateebayo!" Tiba-tiba suara Naruto memecahkan ketegangan. Semua mata pun sekarang tertuju pada pemuda berambut yang barusan berteriak. Termasuk Hinata—sampai sampai mulutnya sedikit menganga tak percaya.
"Naruto-kun?" Gumam Hinata tak percaya.
Tenten pun langsung mencubit lengan Naruto. Gadis itu segera membungkuk badannya sopan kepada orang-orang yang menatap ke arah mereka. Seorang pengawas pun memperingati mereka bahwa jangan membuat keributan jika tak ingin diusir paksa.
"Baiklah. Mari kita lanjutkan lagi soalnya." Sang Penanya berdeham. Kemudian kembali lagi membaca soal. "Persegi panjang dengan sisi 30 dan 40 ditempatkan dengan pusatnya di pusat sistem koordinat kartesian. Jika—"
TUUT!
Hinata sempat teralihkan karena keterkejutannya akan suara Naruto tadi. Namun, dia merasa lebih rileks sekarang.
"Nanako?"
"Duapuluh lima."
"Duapuluh lima adalah jawaban yang benar!"
Penonton kembali lagi bersorak. Naruto dan Kiba menganga tidak percaya.
"Gimana caranya! Aku saja butuh sepuluh menit menjawab pertanyaan itu!" Kiba mendumel.
"Ya ampuuun! Itu soal juga belum selesai dibacakan kan?" Naruto menimpali ucapan Kiba. "Apa jangan-jangan lawannya curang?"
"Mungkin menghapal soal kali dia!" Kiba mulai mengompori. Namun dia langsung menyimak ketika Penanya melempar soal.
"Ketika x pangkat 7 – 2x pangkat 4 + 5x pangkat 3 + x – 9 dikalikan dengan—"
TUUT!
"Hinata?"
"Dua puluh sembilan." Hinata menjawab dengan tenang.
"Dua puluh sembilan adalah jawaban yang benar!"
Naruto dan Kiba semakin menganga.
"Masa Hinata juga—"
"Baka!" Tenten segera memotong monolog dari dua laki-laki yang ada di sampingnya. "Mereka tidak mengingat soalnya. Tapi mereka itu memecahkannya! Mengerti?"
Dua laki-laki di sampingnya langsung menggeleng dengan kompak. Tenten mendesah. Dua orang ini! "Triknya adalah langsung melihat apa yang jadi masalah. Kalau kalian sering membahas soal pasti mengerti."
"Baiklah, ini adalah pertanyaan terakhir. Yang berhasil menjawab maka akan menjadi pemenangnya." Suara Penanya terdengar menekan. "Nomor baru dibentuk dengan mempertukarkan dua digit adalah 54 kurang dari jumlah aslinya. Puluhan digit dari dua nomor positif lebih besar daripada unit digit dan digit yang bernilai nol. Berapakah jumlah angka dari nilai positif?"
Hinata terdiam dan berpikir. Lawannya langsung mencoret-coret kertas. Selang beberapa detik kemudian—
TUUT!
"Hinata?"
Namun, gadis itu merasakan lidahnya kelu.
Tik. Tok.
Tangannya tak sengaja memencet alarm.
Tik Tok.
"A—"
"Du-duaribu empat puluh enam." Hinata meremas jemarinya.
Sang Penanya melempar pandang sayu untuk Hinata. "Maaf, jawabanmu didiskualifikasi karena sudah melewati waktu aturan menjawab soal."
Hinata merasa seperti ada beban berat yang tiba-tiba langsung jatuh ke pundaknya.
Nanako, lawan mainnya tersenyum. Karena sudah kelihatan pemenangnya siapa.
TUUT!
"Nanako?"
"Duaribu empat puluh enam."
Lalu Hinata segera berdiri. Berbarengan dengan suara Penanya yang membenarkan jawaban Nanako serta disusul oleh tepukan riuh penonton. Hinata memberi ucapan selamat pada Nanako. Berusaha bersikap sportif.
Guru Kakashi langsung berjalan ke arahnya dan memberinya sekaleng lemon dingin. Lalu dia menepuk pundak Hinata.
"Kamu sudah berusaha keras, Hinata." Kakashi berusaha menghibur Hinata. Hinata merespon dengan senyuman. Lalu, Kakashi berbicara dengan seseorang yang baru saja mendatanginya dan meninggalkan Hinata untuk beberapa menit. Kemudian, Hinata melihat tiga orang yang dikenalnya mendatangi dirinya.
"Oh, Hinata…" Tenten langsung memeluk Hinata. Entah kenapa, Hinata malah sedikit terisak karena pelukan Tenten. Namun sekaligus merasa tenang. Kiba pun ikut-ikutan memeluk dan menepuk-nepuk kedua kepala sahabatnya itu.
"Hey, Hinata. Kau tahu? Kau tadi itu luar biasa. Maksudku, holyshit! Kau benar-benar membuatku terpana!"
Tenten pun langsung melihat Kiba dengan alis sebelah terangkat tinggi. "Moduser!" Hinata tertawa ketika Tenten sudah mulai menghina Kiba. Gadis manis itu pun ikut-ikutan mengata-ngatai Kiba.
Women always stick together, right?
Naruto melihat keakraban itu merasa bercermin pada dirinya sendiri. Seperti persahabatannya pada Lee dan Sakura. Rasa rindu pun menelusup ke dalam hatinya. Rasanya … sudah lama sekali.
"Sepertinya ada yang membolos ya?" Suara Kakashi terasa mengintimidasi. Tenten, Kiba, Naruto hanya bisa tersenyum rikuh. Hinata baru mengingat bahwa sekarang ini masih merupakan jam belajar. Dia pun menatap tiga orang itu dengan cemas.
Kakashi berusaha menahan senyumannya yang akan merekah melihat betapa lugunya anak-anak didiknya ini. "Baiklah, urusan detensi bisa kita lakukan besok. Sekarang, ayo ke kita ke MgRonald. Kalian pasti pada lapar."
"Guru Kakashi akan traktir nih?" seru Naruto bersemangat. Lelaki rambut keperakan itu pun mengangguk. Serempak mereka pun langsung bersorak.
.
.
Sakura melihat bangku Naruto yang kosong merasa gelisah. Padahal jam pelajaran sudah mau habis. Guru Kurenai mempertanyakan kehadirannya kepada seisi kelas. Namun, tak satu pun yang mengetahui kemana Naruto pergi. Lee yang diketahui paling akrab dengan Naruto pun menggeleng. Ketika Lee bertemu pandang dengan Sakura, gadis itu tersentak dan segera memalingkan pandangannya ke buku catatannya, lalu kembali menulis dengan tenang.
Masih belum bisa. Pemuda beralis tebal tersebut hanya menunduk pasrah. Setiap melihat Sakura dan bagaimana gadis itu meresponnya, menjadi alarm bahwa begitu brengseknya dirinya. Apalagi, dia belum bisa menemukan jalan yang tepat bagaimana cara memberitahu Naruto tentang semua ini.
KRIING
Anak-anak kelas lainnya langsung bersorak dan serempak memasukan buku-buku serta alat tulis mereka ke dalam. Lee pun bergegas berkemas. Dia pun mengejar Sakura yang sudah melangkah duluan meninggalkan kelas. Tetapi, sesampainya di luar kerumunan anak-anak yang sedang berlari di koridor memperlambat dirinya. Rambut berwarna merah jambu itu sudah ditelan oleh kerumunan hingga tak tampak lagi. Lee pun memasang wajah pasrah.
Dari balik pilar sekolah, Sakura memasang wajah lega. Dia sedang tidak mood jika harus membahas soal yang sama dengan Lee. Ketika dia berbalik tak sengaja dia menabrak sosok di belakangnya. Ketika dia menengadah, yang didapatnya adalah bola mata berwana kehitaman yang amat sangat dikenalnya.
"Ngapain kau mengintip-ngintip begitu? Stalker."
Sakura berlalu begitu saja dari hadapan pemuda itu. "Bukan urusanmu."
Namun, pemuda itu malah mengikutinya. Dalam hatinya, dia merasa bersalah atas kejadian beberapa waktu lalu. Apalagi ucapan Lee tentang dirinya yang membuat gadis itu menangis. Apa benar gadis itu sungguhan menangis seperti ucapan Lee?
"Sakuraaa!" Terdengar suara Lee sayup-sayup. Gadis itu menoleh kebelakang dan segera mengumpat melihat sosok Lee sedang kebingungan mencarinya. Dia segera mengambil langkah lari. Sasuke pun yang bingung dengan situasinya akhirnya memilih mengikuti gadis berambut merah jambu tersebut.
Ada apa sih? Batin Sasuke bertanya.
Akhirnya, Lee berjalan menuju halte bus sembari menoleh ke belakang. Masih berharap bahwa sosok Sakura akan muncul. Tapi, harapannya sia-sia ketika pintu bus tertutup dan melaju meninggalkan sekolahnya.
Selang berapa menit, gadis itu mengintip lagi dari balik tembok halaman belakang sekolah. Sosok Lee sudah tak terlihat lagi. Dia pun mendesah lega.
"Lagi berkelahi ya?" Tanya Sasuke pada Sakura.
"Eh, ngapain kau ikut sembunyi juga?" Sakura berusaha mengatur napasnya yang tersengal. Namun belum sempat pemuda itu menjawab, Sakura bergidik. "Ya ampun, banyak sekali putung rokok di sini!"
Pemuda yang mendengarnya tersenyum miring. "Yah, namanya juga halaman belakang sekolah. Biasalah."
Sakura langsung memperhatikan bibir Sasuke. "Kau sering ikutan merokok juga ya di sini?" Mata gadis itu menyipit.
"Aku tidak suka rokok." Tegasnya.
"Pernah coba tapi, kan?"
"Sekali," Akunya.
Sakura mendesah. "Padahal sudah tahu itu tak baik untuk kesehatan."
Sasuke mengendikkan bahu. "Aku hanya mencoba."
"Bagaimana kalau ketagihan?"
"Nyatanya tidak, kan?" Pemuda itu menatap Sakura. "Lagipula, itu sudah lama sekali. Pada seusia kita, rasa penasaran memang begitu besar. Apalagi, aku ini cowok."
Gadis itu tersentak ketika Sasuke mencondongkan tubuhnya. "Kami penuh dengan rasa … penasaran," suara Sasuke separuh berbisik. Menggoda.
"Dasar cowok," desisnya.
Sasuke mengangkat alisnya heran, kemudian menyadari bahwa gadis yang di sampingnya ini adalah gadis yang benar-benar polos. Tak tersentuh. Bahkan gadis itu terlihat tak terganggu dengan nada bicaranya barusan yang berusaha menggoda.
"Dua orang sahabatmu itu pasti sangat menjagamu." Padahal mereka laki-laki.
"Ha ha." Sakura tertawa sarkas. "Dulunya begitu …."
"Dulu?"
Sakura memeluk lututnya sendiri. "Yah, karena Lee menghancurkannya. Dia menyembunyikan surat yang Naruto kasih padaku. Mau tahu apa isinya? Perasaannya!" suara gadis itu meninggi pada kata terakhir. Mata gadis itu berlinang. "Apa Lee harus begitukah pada sahabatnya sendiri?"
Hmmm. Sekarang semuanya masuk akal. Terjawab sudah pertanyaan Sasuke akan pernyataan Lee waktu itu.
"Lebih parahnya lagi, sekarang Naruto sudah mempunyai pacar! Seandainya saja jika—"
"Gampang. Tinggal direbut saja, kan?"
"A-apa? I-itu tak mungkin…"
"Ya sudah. Kalau begitu biarkan saja. Lagipula perasaan Naruto padamu paling hanya sesaat. Kamu juga, paling hanya perasaan yang tidak mau kalah karena cowok yang menyukaimu berkurang satu—"
PLAK!
Sasuke memegang pipinya. Menatap Sakura tidak percaya. "Kau … tak berhak menilaiku." Sakura berkata dengan datar, kemudian bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan pemuda itu. Pemuda itu kemudian melihat ponsel pink gadis itu tertinggal lagi. Dia mengambilnya.
"Dasar ganas," gumamnya setelah Sakura pergi meninggalkannya. Tamparan gadis itu sama sekali tidak sakit. Akhirnya dia pun bangkit berdiri dan segera berjalan menyusul Sakura. Terlihat gadis yang baru saja menamparnya itu terbungkuk memegangi perutnya dan tangannya menumpu pada dinding. Segera saja Sasuke mendatanginya.
Gadis itu ketika melihat Sasuke memasang wajah masam. Namun, dia segera melempar tas nya pada pemuda itu. "Tolong pegangkan sebentar."
"Oi oi!" seru Sasuke tidak suka jika ada orang yang memerintahkannya. Dia mengikuti gadis yang menuju kamar mandi dan gadis itu langsung membanting pintu kamar mandi begitu saja. Tidak lama berselang, terdengar pekikan kecil Sakura dari dalam.
Pemuda itu mengetuk pintu kamar mandi itu pelan. "Oi, oi. Kau baik-baik saja?"
Hening.
Toktok.
"Hoi…"
Masih hening.
"Hoi—"
CKLEK!
Kelihatanlah wajah Sakura yang sedang merona. Pemuda itu memasang wajah heran pada Sakura. Gadis itu kelihatan gelisah sekali. "Ayo, pulang. Sekitar tigapuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup." Setelahnya, Sasuke mengambil langkah meninggalkan gadis itu. Namun, merasa si gadis bergeming di tempatnya dia menoleh. "Kenapa oi? Kalau tidak ma—"
"A-aku mau minta tolong."
"Ogah." Jawaban singkatnya benar-benar menohok Sakura. Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Enak saja dia, sehabis menampar orang lalu dengan mudahnya dia minta tolong.
Namun, reaksi Sakura diluar dugaannya. Wajah gadis itu semakin memerah dan akhirnya buliran air matanya jatuh. Sasuke langsung mencelos. "Oioi, kenapa menangis segala sih?"
Sakura yang masih terisak akhirnya membuatnya menyerah. "Oke oke, minta tolong apaan?"
Mendengar perkataannya, Sakura segera menghapus air matanya. Dia menarik napas panjang sebelum mengatakan hal-hal yang benar-benar membuatnya menyesal seumur hidup. " … sayap …"
"Hah? Apa?" Suara Sakura nyaris tidak terdengar.
"Be-belikan aku ya-yang ada sa-sayapnya—"
Penjelasan Sakura membuat Sasuke melongo dan wajahnya memerah
.
.
Hinata menapakkan kakinya. Lalu dia tersenyum kepada teman-teman serta guru Kakashi yang mau mengantarnya. Naruto yang sedari tadi meremas-remas jarinya segera turun dari mobil menyusul Hinata. Gadis berponi rata itu berdebar cemas ketika Naruto mendatanginya.
"Hinata … a-anu … itu … kau jumat besok bisa datang ke tempatku? Ibuku mengundangmu untuk makan malam." Naruto berkata dengan suara yang begitu pelan. Wajahnya merona dan dia menggaruk-garuk belakang kepalanya.
Hinata menggigit bibir. Ragu akan ajakan Naruto. "Ta-tapi kan sebentar lagi—"
"Kumohon…." Pinta Naruto. "Tidak akan lama kok."
Akhirnya, Hinata pun mengganguk. Mata Naruto segera berbinar. "Oke, akan kujemput jam 6 sore ya hari jumat!"
"O-oke."
Percakapan itu pun berakhir dengan klakson mobil Kakashi.
.
.
Sasuke mendengus melihat Sakura yang cekikikan memandangnya. Gadis itu terlihat memasang wajah sepolos mungkin—namun, dibaliknya dia tahu bahwa gadis itu sebenarnya sedang mentertawakan dirinya.
"Ceroboh. Menyebalkan," gerutu Sasuke.
Sakura mengerutkan kening, seharusnya menolong yang ikhlas dong. "Ya, maafkan aku. Tapi terimakasih,"
"Hanya itu?"
Menarik napas. "Oke, akan kutraktir minuman juga deh."
Sasuke pun menyeringai. "Aku mau frappy. Yang ada di taman kota, itu yang paling enak."
"Ya ampun, sudah mau malam begini mau minum es?"
"Aku hanya mau itu, sekarang."
"Oke oke. Ayo jalan."
Sakura pun memimpin jalan. Sasuke mengikuti di belakangnya. Lampu-lampu jalan perlahan mulai hidup menerangi tiap sisi jalan. Mereka berjalan dalam keheningan. Tidak ada satu pun yang ingin memulai verba karena sudah lelah akibat aktivitas seharian. Terbuai dalam pikiran masing-masing hingga sampai pada tempat tujuan mereka.
Taman Kota Konoha tak seramai biasanya. Hanya ada beberapa orang yang mengisi bangku taman. Tiap pohon di taman dihiasi lampu-lampu berwarna kuning keemasan. Berkelap-kelip seperti jutaan kunang-kunang.
"Kamu mau rasa apa?" Tanya Sakura.
"Kopi."
Sakura pun berbalik dan menyebutkan pesanan pada penjual. Sasuke meninggalkan Sakura dan duduk dibangku taman terdekat. Sekitar tiga menit, pesanan mereka pun selesai. Sakura pun duduk disamping Sasuke dan menyerahkan segelas frappy. Segera, pemuda itu langsung menyeruput minuman itu hingga setengah. Sakura melihatnya tertawa.
"Aku kehausan," jelas Sasuke.
"Ya, lagipula ini enak kok. Aku dulu sering kesini bersama Lee dan Naruto."
"Tidak mencoba untuk berbaikan?"
"Kamu tidak mengerti situasinya sih."
"Kalau menurutku, tidak sesulit itu. Tinggal relakan saja."
"Ngomong itu gampang. Masalahnya, Naruto kan belum tahu kalau aku juga suka padanya. Itu semua gegara Lee, bisa-bisanya dia setega itu."
"Tapi, Lee sudah minta maaf, kan?"
Sakura menyelesaikan seruputan terakhirnya. Lalu dia berkata. "Kalau hanya dengan meminta maaf bisa menyelesaikan masalah, apa gunanya hukuman dibuat?"
Sasuke memutar bola matanya. "Yah, karena banyak orang yang tidak bisa merelakan dan tidak akan puas kalau orang itu belum mengalami hal yang sama dengan mereka."
"Nah, itu kamu mengerti." Sakura melempar gelasnya dalam tong sampah. "Jadi … aku tidak mau tau bagaimana caranya, yang jelas Lee harus memberitahu Naruto tentang surat itu."
Keputusan Sakura sudah final. Untuk sepersekian persen, Sasuke merasa kerasnya sikap Sakura mirip dengan kerasnya dirinya. Karena itu Sasuke tidak ingin mendebat Sakura lagi. Dia hanya bisa merasa kasihan pada Naruto yang tentu saja akan pusing ketika mengetahui hal tersebut.
.
.
Hari ini adalah hari terakhir sekolah sebelum memasuki minggu ujian. Hinata memasuki kelas yang seperti biasa—selalu ribut. Ada yang main lempar bola kertas, ada yang lari-larian, ada pula yang memainkan ponsel bersama sambil bercerita.
Mana Tenten dan Kiba?
Seolah bisa mendengar benak Hinata, Tenten dan Kiba langsung muncul menepuk bahunya. Hinata tersenyum dan berbinar melihat kedua orang tersebut.
"Fyuuh, untung guru Kakashi menyelamatkan kami dari detensi," Kiba langsung memulai percakapan.
Hinata menaikkan alisnya.
"Iya, tadi itu kita dipanggil sama guru Asuma karena gak absen pas pelajaran terakhir. Untunglah guru Kakashi muncul tepat pada waktunya, seperti hero!" Tenten menyambung ucapan Kiba. Kemudian mereka menuju bangku mereka dan melanjutkan percakapannya. Hinata merasa lega bahwa dua temannya selamat dari detensi. Tak lama Sasame langsung menghampiri mereka sembari membawa kotak.
"Sumbangan apa nih?" Tenten bertanya.
"Hadiah buat guru Kurenai, wali kelas kita. Mumpung ini hari terakhir kita bersekolah sebelum ujian jadi kita akan memberinya kenang-kenangan. Seratus yen."
Kiba langsung merogoh kantongnya, "Duh, uangku gak cukup buat pulang ntar. Tenten, aku pinjam uangmu, besok aku ganti."
"Oke, dengan bonus ya," Tenten menyeringai. Kiba hanya mendengus sembari mengangguk. Hinata tersenyum melihatnya. Sasame tersenyum ramah bak salesman yang berhasil membujuk pelanggannya. Lalu dia berlalu dari hadapan mereka, kemudian Tenten mencondongkan tubuhnya ke arah Hinata.
"Eh, kemarin Naruto ngomong apaan?" Hinata mengernyit. "Pas kita mengantarmu, kan dia turun dari mobil tuh."
Hinata pun teringat dan memasang wajah kebingungan. "Ibunya … mengajakku untuk makan malam bersama. Jumat ini."
"Serius?" Tenten tersenyum kegirangan. "Aku akan membantumu berdandan!"
"Ta-tapi, aku sendiri tidak yakin ingin memenuhi permintaan itu."
"Kenapa? Harusnya senang, dong."
Hinata menopang dagunya. Dia melempar pandang ke jendela. Memutar benak-benaknya bersama Naruto. "Entahlah, aku hanya tidak yakin."
Seolah api yang menyalakan perasaannya pada Naruto mulai padam.
"Kenapa? Apa dia berbuat sesuatu? Apa dia menyakitimu?"
Hinata menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia memperlakukanku dengan baik. Aku hanya … ragu dengan diriku sendiri," dan juga dirinya.
Tenten memasang wajah kaget. "Hinata … ayolah, kamu serius? Kamu mengaguminya selama … dua tahun. Ini hanya berapa bulan kamu pacaran dan persaaan kamu hilang begitu saja?"
"Tidak hilang seperti itu, tapi seperti mmm…." Hinata memikirkan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya.
"Jenuh?" Kali ini Kiba yang menimpali. Hinata mengangguk. Tenten semakin penasaran.
"Yah … aku hanya merasa kekakuan diantara kami masih belum cair. Untuk beberapa waktu, kekakuan itu sempat cair, tapi sekarang malah makin terasa beku. Aku masih bisa merasakan kalau Naruto berusaha mencairkan suasana di antara kami, tapi entah kenapa aku sendiri begitu kaku menanggapinya sehingga dia pun jadi kaku."
Kiba menanggapi. "Mungkin karena pikiranmu dipenuhi emosi negatif."
"Negatif?" Hinata tersentak ketika mendengar penilaian Kiba.
"Yah, misalnya kebanyakan belajar dan melakukan satu hal yang sama terus menerus. Menggerakkan badan juga perlu lho, karena jika sakit, selesai sudah. Bergerak setidaknya membawa pengaruh yang positif."
Hinata langsung teringat kepada Naruto yang pernah mengajarinya judo. Pemuda itu juga mengatakan hal yang sama. Ah, betapa pedulinya pemuda itu terhadap dirinya.
"Semuanya, susun meja tiga ke samping empat kebelakang." Guru Kurenai memasuki kelas dan langsung memerintahkan seisi kelas. Chouji dan Shikamaru pun langsung berhenti main bola kertasnya. "Kelas tolong di sapu dan ini nomor ujian ditempel di sudut kiri atas meja." Wanita itu menunjukkan selembar kertas dan sisa kertas yang ada di mejanya mulai dia gunting kecil-kecil.
Hinata serta Tenten mengambil sapu dan Kiba ikut merapikan meja serta kursi. Setelah tigapuluh menit kelas mereka pun sudah bersih mengkilap. Anak-anak pun dipersilahkan duduk kembali dan menunggu nomor ujian dibagikan.
Tenten melanjutkan percakapan mereka yang sempat terputus. "Gimana kalau hari jumat itu kita belanja terus ke salon sebelum kau pergi ke tempat Naruto? Hanya kita berdua. Menghilangkan emosi negatif?"
Hinata tersenyum melihat mata Tenten yang memasang mode puppy eyes. "Jadi aku sebaiknya pergi ke tempat Naruto?"
"Kenapa tidak? Itu kesempatan bagus untuk mencairkan suasana. Yah, kalau gak asik, bisa menelponku kapan saja minta jemput,"
Tenten selalu bisa membujuk orang dengan mudah. Hinata mengangguk mengiyakan.
.
.
.
Bersambung
Author's note:
Parampaaahh! Chapter depan akan diusahakan mereka sudah masuk scene yang serius, chap ini hanya untuk warm up dan mendapatkan kembali fell cerita ini karena file plotnya sudah hilang :(
Tapi terimakasih ya buat dukungan kalian selama ini, terimakasih buat yang udah memebaca dan juga menempatkan diri buat review. SO much thanks muah muah.
Semoga masih tahan buat nunggu ya, kami usahakan gak akan lama untuk update chap selanjutnya ;)
