Hai, semua

Bagaimana kabar kalian ? semoga baik ya :D

Maaf Haru-chan lama update, GOMENNASAI MINNA (_ _)

Sekali lagi maaf membuat kalian menunggu ( Author ke GR-ran :P , HAHAHA :v )

Terima kasih telah review di chapter sebelumnya, dan saya sekarang

Jadi semangat untuk melanjutkan cerita ini

Arigatou Gozaimasu Minna, Readers dan Senpai.

Saya sangat terimakasih kepada Aoi Aorin , MizuKaze Naru , aichan14 , kazekageashainuzukaasharoyani , kuchiharu , Yamashita Aiko , Lisa , nagisa-chan , LNaruSasu , .182 , Kyouka Hime , Xiaooo , dan Anne-chan

Karena berkat kalian semua, saya menjadi tahu letak kesalahan saya

Arigatou Gozaimasu MINNA, Readers dan Senpai. (_ _)

Dan bila masih ada kesalahan dalam fic saya:

MOHON BANTUANNYA PARA READERS & SENPAI-SENPAI SEKALIAN :D.

Here We Go…

Disclaimers : Masashi Kishimoto sensei & The Heirs (c) SBS

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Warning : OOC, gender bender, gaje, alur kecepatan , typo(s), Copy-cat and etc

DON'T LIKE, DON'T READ

Chapter Sebelumnya :

" Kalau di film-film, orang-orang selalu menuangkan sirup di pancakenya dan mereka juga minum orange juice." Sasuke berjanji akan mengajak Naruko ke tempat pancake yang enak di Malibu.

Bukannya senang, Naruko malah kesal karena Sasuke menjanjikan hal itu. "Jangan berjanji seperti itu. Jika kau berjanji dan tak menepatinya, kau akan mati!"

Naruko menggeleng-gelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran yang menakutkan itu. Sasuke benar-benar sweatdrop melihat Naruko , "Kau yang

menakutkan!"

Heirs

Chapter 5

Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar. Naruko bersiap-siap tidur di sofa. Sasuke memancing kekesalan Naruko dengan berkata, "Aku akan tidur di tempat tidur."

Naruko tak peduli kalau ia harus tidur di sofa. Ia mempersilakan Sasuke untuk memakai tempat tidur dan ia cukup bersyukur karena Sasuke bisa memperoleh tempat untuk tidur.

Sasuke heran, "mengapa kau sangat optimis sekali? Sebenarnya karena dirikulah, kau mengalami hal yang tak menyenangkan ini."

Naruko membaringkan diri dan berkata, "Bagaimana mungkin ini adalah kesalahanmu. Semua ini karena longsoran batu. Selamat malam!"

Tanpa menunggu jawaban, Naruko memejamkan mata dan tertidur. "Secepat itu? Sasuke pun bertanya, "Apa kau sudah tidur?" Tak ada jawaban. "Benar-benar tidur?"

Sasuke pun menggoncang-goncangkan telepon dan memukul meja, tapi Naruko tetap tidur dengan tenangnya. Ngorok pula. Haha.. Sasuke akhirnya menendang-nendang sofa tempat Naruko tidur dan berkata, "Bangunlah. Aku tahu kau pura-pura tidur. Ada yang ingin kutanyakan padamu."

Naruko langsung bangun dan duduk bersila, "Apa yang ingin kau tanyakan?"

Sasuke pun bertanya, "mengapa kau membenci dan berharap agar Uchiha Corp bangkrut?"

Naruko langsung menyadari kalau Sasuke membaca Sosmed-Nya dan menuntut Sasuke untuk segera log out dari akunnya.

" Dan lagipula harapanku itu tak ada urusannya denganmu, apa kau punya saham di perusahaan itu?"

Sasuke tak bisa menjawab, "haah~~ sudahlah kau lupakan saja pertanyaan tadi dan awasi aku hingga aku tertidur, karena kau selalu bicara tentang pembunuhan, aku jadi takut. Kau boleh tidur setelah aku tidur. Itu biaya kamarmu."

"Biaya kamar?" protes Naruko kesal. "Katamu aku mengalami kejadian hari ini karena kesalahanmu!" Sasuke membaringkan badan dengan nyamannya dan mengembalikan ucapan Naruko , "Semua ini karena longsoran batu."

Walau kesal, tapi Naruko memenuh permintaan Sasuke. "Aku menyuruhmu untuk mengawasiku saja , dan jangan berbuat yang tidak-tidak padaku." Hihihi.. Naruko menggerutu kalau Sasuke tidaklah sekeren itu. Sasuke tertawa kecil dan memejamkan mata.

Naruko sudah terkantuk-kantuk tapi Sasuke masih bertanya.

"Apa yang kau lakukan jika kau bertemu dengan temannya itu?" Dengan mata terpejam, Naruko menjawab, "Aku akan pulang secepat mungkin. "

Sasuke berbalik lagi dan melihat Naruko sudah tertidur dengan posisi duduk. Ia pun menghampiri namun segera berlari saat melihat tubuh Naruko terjatuh ke samping. Kepala Naruko akan terantuk di lengan sofa jika Sasuke tak menahan tubuhnya.

Naruko sudah tertidur lelap, tak menyadari tangan Sasuke yang terus menyentuhnya. Sasuke menarik selimut dengan lembut agar Naruko tak terbangun. Duduk di meja, Sasuke memandangi gadis itu lama sekali.

Sakura menerima SMS dari Sai yang berterima kasih karena telah memberi alamat Naruko dan Sasuke.

*Skip Time*

Sasuke dan Naruko sampai juga di rumah.

"Bolehkah aku meminjam handphone-mu ? Aku ingin memeriksa apakah sudah ada pesan balasan dari Sai ? " Tapi Sasuke masih tak mau dengan alasan berbagai rupa.

Namun tak ada alasan lagi saat Sai tiba-tiba muncul. Naruko kaget namun bersyukur melihat temannya datang. Sai yang katanya pergi itu, ternyata pergi ke Amerika.

Sasuke membanting jasnya ke mobil, membuat Naruko menoleh kembali padanya. Sambil masuk ke dalam rumah.

"Cuaca hari ini sangat panas sekali dan kalau mau ngobrol, ngobrol saja di dalam." Kata Sasuke sambil berlalu pergi.

"Siapa pria itu dan mengapa kalian memakai kaos yang sama ?", Naruko tak menjawab dan meminta Sai untuk masuk ke dalam.

Di dalam, " Aku sangat berterima kasih padamu dan aku akan pergi dari sini."

"Kau tetaplah tinggal di sini. Yang perlu kau lakukan setelah bertemu temanmu ini kan hanya meminjam uang?"

Naruko berkata, "Aku tak punya alasan lagi untuk tinggal di rumahmu." Tapi Sasuke memberikan segudang alasan yang mengharuskan Naruko tinggal di rumahnya.

Sai masuk dan bertanya, "Apa ada masalah ?" Sasuke menantang "Kalau memang ada, memang kenapa?"

Sedangkan Naruko yang tak mau ribut menjawab tak ada masalah. Sai memandangi Sasuke dan menggali ingatannya, hingga akhirnya ia bertanya, "Kau ini Uchiha Sasuke, kan?"

Sasuke bertanya, "bagaimana kau bisa mengenalku ? Apakah kau adalah salah satu anak yang dulu pernah aku bully semasa SMP ?" Sai hanya menjawab "Masalahku tak sesederhana itu."

"Ayo! Kita harus pergi dari sini karena taksinya sudah datang." Ajak Sai kepada Naruko.

"Hm, baiklah. Sasuke aku sangat berterimakasih padamu untuk semua hal yang telah kau berikan padaku dan semoga kita bisa berjumpa lagi." Sasuke melihat kepergian Naruko dengan sedih. Naruko berhenti sejenak melangkah, namun hanya sesaat.

Setelah Naruko pergi, Sasuke merasakan sendirian. Sasuke berdiri di rumahnya yang sangat besar sekali itu.

*tra…la…la…*

Naruko menceritakan apa yang terjadi selama ini pada Sai, "Apakah benar pria itu bernama Uchiha Sasuke ? Apakah dia itu anak yang jahat? Apakah dia pernah mem-bully mu?" Tanya Naruko secara bertubi-tubi.

"Aku tak begitu mengenalnya, yang aku tahu kalau dia bukan anak yang baik dan kurang berekspresi. Ayo turun! Kita sudah sampai dan jangan khawatir akan masalah tiket."

"WOW… ini bagus sekali! Kau ingin kita masuk ke Disney Land itu ?" Tanya Naruko dengan raut wajah bahagia.

"Ya"

Suara Naruko sedikit bergetar saat berterima kasih pada Sai.

"Sekarang kita harus pesan tiket segera dan jangan terburu-buru, karena yang pertama kali kita harus lakukan adalah mencari makan."

Sai pun membawa Naruko berjalan-jalan, makan lollipop dan berfoto bersama. Tapi kejahilan Sai kumat dengan meng-upload foto mereka ke media sosial-nya.

"Aku akan menunjukkan sesuatu yang asyik." Naruko penasaran, " apa itu?" dan Sai pun menyuruh Naruko untuk menghitung sampai tiga.

Naruko pun manggut dan mulai menghitung. "1…2…3..." Pada hitungan ketiga, handphone Sai berbunyi. Sai menunjukkan layar handphonenya. Naruko terbelalak membaca nama si penelepon. Ino!

"Tuh, lihat! Asyik, kan?"

"Apa kau mau mati? Apa kau ingin rambutku dijambak oleh Ino?" tanya Naruko.

" itu ide yang bagus" Naruko menendang kaki temannya itu. Sai mengangkat handphone dan senyum-senyum mendengar teriakan cemburu Ino, "apa yang sedang kau lakukan di Amerika dengan Naruko?"

"Aku sekarang sedang bersama Naruko, memikirkan dirimu," jawab Sai gombal dan ia pun menjauh dari Naruko agar bisa bicara dengan pacarnya.

Naruko tersenyum melihat kelakuan Sai. Ia melihat-lihat sekitar dan pandangannya tertuju pada kaos yang tergantung di sebuah toko. Ia langsung teringat pada Sasuke.

Sedangkan Sasuke, sendirian tinggal di rumah, mondar-mandir nggak jelas. Nulis jurnal juga nggak, malah kesal melihat foto terbarunya Naruko yang ada di SosMed yang masih ada di handphonenya. Tiduran, ia akhirnya melihat foto pertunangannya dan bergumam, "Besok.."

*tra….la…la…*

*Skip Time*

Sasuke sudah ada di lobi hotel, bersiap untuk pulang. Tapi Sasuke menelepon dan bertanya "dimana kau sekarang ?" Dengan ketus Sakura menjawab, "Aku sudah ada di Jepang."

"Benarkah?" tanya Sasuke yang ternyata berdiri tak jauh darinya. Ia menurunkan handphonenya dan dengan suara lebih keras, ia berkata, "Kalau begitu kembalilah lagi ke Amerika."

Sakura mendengar suara Sasuke dan menoleh. Jika Sakura merasa senang, ia berhasil menyembunyikan dengan baik. Ia pun menyuruh pegawai hotel untuk mengundurkan jadwal kepulangannya sampai besok karena ia tahu Sasuke tak akan menemuinya lagi lusa.

Ibu Sakura menelepon dan bertanya , "apakah Sasuke sekarang bersamamu? Aku akan menemui ibu Sasuke sekarang dan pada ibu kandung Sasuke, dan aku akan mengatakan kalau kau pergi ke Amerika karena Sasuke memintamu untuk datang, dan bukan sebaliknya."

Dan yang datang adalah Nyonya Shizune.

Note : Karena Sasuke adalah anak haram, maka di mata hukum Sasuke adalah anak dari istri sah, yaitu Nyonya Shizune. Dan semua orang yang mengenal keluarga Uchiha, mengenal Sasuke sebagai anak dari Nyonya Shizune.

Mereka berbasa-basi dengan Sakura memuji Nyonya Shizune yang selalu langsing walau di usianya yang sudah tak muda, dan Nyonya Shizune memuji Sakura yang disebutnya sebagai gadis cantik.

Pertemuan mereka ini karena ibu Sakura ingin memberitahukan kabar tentang dirinya yang akan menikah lagi. Nyonya Shizune memang sudah mendengar kabar itu dan mengucapkan selamat.

*tra….la…la…*

*JAPAN*

Di ruang klub fotografi, kiba menangisi fotonya yang gagal karena Gaara membuka jendela sehingga terlalu banyak cahaya yang merusak fotonya. Ia merasa gagal untuk menjadi penerus Bresson.

"Seumur hidupku, aku selalu mencari momen-momen penting," Gaara menoleh pada foto yang terpampang di tembok. Fotonya dan Sasuke saat masih SMP, "namun setiap saat dalam hidup ini adalah sebuah momen yang penting."

Kiba heran, "apa yang sedang kau bicarakan ?" Gaara ternyata mengutip ucapan Bresson, fotografer kenamaan yang diidolakan, "Apa kau tak seharusnya mengenal mentormu terlebih dulu sebelum kau menjadi penerusnya?"

Kiba berpikir sejenak. "Aku tak tahu." makanya ia hanya cengengesan sambil mengacungkan jarinya dengan imut, membuat Gaara tertawa.

Tapi mood Gaara berubah suram saat melihat ayahnya meneleponnya. Ternyata Gara diajak berlatih taekwondo.

Salah Bukan berlatih, tapi Gaara dihajar ayahnya dengan judo. Sama-sama bersabuk hitam, namun Gaara tak berkutik di hadapan ayahnya. Berapa kalipun Gaara berusaha menjatuhkan ayahnya, si ayah selalu berhasil membanting Gaara.

'Sesi latihan' pun berakhir dan ternyata penyebab latihan ini adalah karena Gaara membuat gara-gara kemarin dengan manajer dapur, "Levelnya pun bukan manajer hotel. Tak dapatkan kau menangani Manajer Dapur? Kenapa kau malah membuat gosip tak sedap?"

Ayah Gaara bertanya, "apakah kau ingin tahu mengapa kau tak pernah menang melawanku? Pertama, karena kau tak pernah memukuliku."

Uhh.. suka ngelakuin KDRT kok ya bangga

Gaara menyindir, "Aku iseharusnya mewarisi sifat dari ayah, tapi ternyata yang menurun kepadaku adalah sifat ibu." Gaara menunduk dan berlalu pergi. Tapi ayah Gaar belum selesai.

"Kedua, kau terlalu banyak menyerang, entah di dalam atau di luar matras," ujar ayah Gaara. Ucapan ayahnya sungguh membuat ia kesal, tapi lebih mengesalkan lagi saat ayahnya berkata, "Sakura akan pulang dari Amerika. Pergi dan jemput dia di bandara."

*tra…la…la…*

Sasuke menemani Sakura di hari ulang tahun pertunangan mereka. Sakura berterima kasih pada Sasuke ,Sasuke meminta Sakura untuk tak berterima kasih padanya. Jika bersamaSakura , ia suka berbelanja. "Karena jika kita melakukan hal yang lain, sepertinya terasa kalau kita benar-benar berkencan."

Ouch.. Ucapan Sasuke yang kejam itu membuat senyum Sakura hilang.

"apakah perempuan itu sudah pergi? Sasuke menjawab, "Dia sudah pergi kemarin dan semuanya sesuai dengan apa yang kau rencanakan. Kau yang memberitahukan alamatnya, kan?"

Tertangkap basah, Sakura bertanya, " kenapa kau selalu mengungkit masalah dia." Tapi Sasuke menjawab sinis, "Kau yang mengungkit masalah ini."

Sakura kesal. Makin kesal karena handphonenya berbunyi dan ada Gaara di seberang sana yang langsung menyemprotnya, mengatai seperti anak SD yang tak bisa pulang sendiri.

"apakah kau sudah mendengar kalau aku akan bersaudara dengan si brengsek Gaara?" Walau tak nyaman, tapi wajah Sasuke sedikit melunak saat bertanya, "apakah Gaara baik-baik saja?"

"Dia sangat baik. Ia melakukan apa yang selalu kalian lakukan dulu, tapi sekarang ia melakukannya sendiri."

Untuk melepaskan kekesalannya akan Gaara yang telah merusak ulang tahun pertunangan mereka, ia mengajak Sasuke pergi ke restoran pancake di Melrose yang merupakan favorit Sasuke .

Sasuke teringat akan keinginan Naruko untuk makan pancake dan janjinya untuk membawanya ke Melrose. iapun menolak ajakan Sakura. Dengan jujur ia berkata, "Naruko mungkin ada di sana, dan kau akan tak suka melihat Naruko, lebih baik kita pergi ke tempat lain saja."

"Itu tidak mungkin, kau yakin sekali kalau dia ada di restoran yang sama dengan kita. Apa kau tak tahu kalau Los Angeles ini sangat luas sekali jika dibandingkan dengan Jepang ? Dan di LA yang seluas ini, kau bisa bertemu dengannya di sana?"

Sasuke hanya merasa kalau hal itu bisa saja terjadi. Maka Sakura pun memaksa pergi ke sana, hanya untuk memeriksa apakah firasat Sasuke benar.

Maka mereka pun ke restoran pancake di Melrose, dan melihat kalau Naruko benar-benar di sana. Sementara Sakura mengomel, Sasuke terdiam. Ia terus memandangi Naruko , gadis yang baru saja pergi dari rumahnya tapi baginya kepergian itu sudah terasa sangat lama.

Naruko senang bisa ada di restoran ini dan Sai heran," bagaimana kau bisa tahu ada tempat makan yang enak di sini?"

Naruko hanya tersenyum, tapi senyumnya pupus saat melihat sosok Sasuke yang berdiri di pinggir jalan. Sesaat dunia hanya milik berdua karena mereka berpandang-pandangan sangat lama.

Sakura bertanya, "apakah kau dan dia memang berniat untuk datang ke restoran ini?" Sasuke tak menjawab, malah menarik menarik tangan Sakura untuk mengajaknya pergi ke tempat lain. Tapi Sakura tak mau. Ia akan memeriksa apakah hal ini adalah takdir atau hanya kebetulan.

Ia pun mendatangi meja Naruko. "Ternyata kau ini 'White Hacker Sai' ". Tanpa menunggu lebih lama, ia pun duduk di kursi kosong di mejaNaruko.

Naruko bertanya pada Sai, "apakah kau mengenal dia? Sai menjawab kalau mereka teman satu sekolah, tapi Sai tak mengenalnya.

Sakuramenambahkan, "ini juga pertama kalinya aku berbicara dengan Sai. Kami berbeda lingkup pergaulan karena Sai bisa sekolah di sekolahnya karena beasiswa untuk orang yang tak mampu.

Naruko memandang Sakura yang sangat menghina Sai . Sai diam namun terlihat ia mencoba bersabar.

Sasuke menghampiri mereka dan mengajak Sakura pergi. Tapi Sakura tak mau. Akhirnya Sasuke mengalah dan duduk di kursi kosong terakhir. Naruko meliriknya.

"bagaimana kalian bisa makan di tempat ini?" Tanya Sakura. Sai menjawab, "Naruko yang memilih tempat ini."

Hal ini membuat Sakura sedikit terperangah, tapi ia kemudian berkata "hal ini benar-benar kebetulan yang luar biasa, walau menurut tunanganku dan gadis ini, hal ini adalah takdir. Bagaimana menurutmu Sai?"

Sasuke memotong ucapan Sakura, tak ingin membicarakan topic seperti itu. Maka Sakura pun menurut dan berganti topik, "Bagaimana kalau yang ini? Dulu kau pacaran denganIno, kan? Ayo, saling menyapalah. Ini adalah pacar Ino yang sekarang dan ini adalah mantan pacarnya."

Kali ini Sai marah, karena Sai membicarakan Ino yang bahkan tak ada di antara mereka. Sakura pun balas menyalak, "Kalau begitu kenapa kau malah bersama dengan gadis ini padahal kau punya pacar? Ini adalah salahmu. Tunggu.. bukan."

Sakura melirik Naruko dengan kejam, "Pria yang sudah punya tunangan dan pria yang sudah punya pacar. Apakah ini adalah masalah terbesarmu karena kau selalu bertemu dengan pria-pria seperti itu?"

"SAKURA!" seru Sai marah. Tapi Sasuke sudah berdiri dan menarik Sakura pergi. Naruko masih tetap terpaku, merasa tertohok dengan hinaan Sakura . Sai bertanya, apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskan aku ikut campur atau pura-pura tak tahu?"

Naruko menggeleng dan memaksakan senyum, "Pesan. Kita harus makan dan beli tiket pesawat."

Sai meminta Naruko untuk tinggal beberapa hari lagi. Tapi Naruko menggeleng.

"Aku sudah harus segera pulang. Aku khawatir dengan ibu dan harus bekerja paruh waktu lagi agar bisa membayar uang Sai."

Sai menatapnya iba dan memintanya untuk tak perlu buru-buru mengembalikan hutangnnya. Naruko tersenyum dan berkata, "pandangan seperti itu dilarang muncul karena kita sekarang masih berada di Amerika."

Sasuke menarik Sakura hingga ke tempat yang sepi dan meminta gadis itu untuk tak melakukan hal itu lagi. Ia mengenal Sakura saat mereka berumur 10 tahun dan saat itu ia melihat seperti Sakura anak yang jenius.

Bicara di telepon dengan bahasa Inggris dan bergumam sendiri dalam bahasa Jepang. Pada umur 14 tahun, ia mengenal Sakura yang menyukai kakaknya dan tak memandangnya karena menganggap dirinya masih bayi. Ucapan Sakura yang selalu ia ingat tentang pertunangan ini adalah, Kau mengenal semua orang di lingkup pergaulan kita. Apakah kau melihat ada gadis yang lebih baik dariku?

"Selama 8 tahun terakhir, Haruno Sakura yang kuingat adalah gadis yang pintar, cantik, dan dewasa. Tapi sekarang, kau tak mirip dengannya. Jangan berubah seperti itu. Terlebih lagi, jangan berubah karenaku. Karena aku tak sepadan dengan pengorbananmu,"

Sakura tercengang mendengar ucapan Sasuke yang seakan menamparnya kiri dan kanan. Sasuke berlalu pergi setelah berkata kalau ia akan datang kembali besok untuk mengantarkannya pulang.

Merasa galau, mood Sakura kembali naik saat ia tak sengaja berpapasan dengan Itachi di lobi hotel.

"mengapa kau tak menginap di hotel milik Gaara? Tanya Itachi

"Aku tak mungkin mau berhutang budi pada keluarga Gaara. Apa kak itachi menginap di hotel ini?"

Itachi tersenyum mengiyakan. Hubungan Sakura dengan Itachi sepertinya jauh lebih baik daripada hubungannya dengan Sasuke. Sakura meminta itachi mengajaknya pergi , karena ia merasa sumpek jika terus berada di kamar hotel.

Maka Itachi pun mengajaknya walau mewanti-wanti kalau tempatnya jauh dan tempat itu mungkin bukan tempat yang disuka olehSakura. Ternyata Itachi membawanya ke kuburan dan mengunjungi makam seseorang.

Itachi menjelaskan kalau makam itu adalah makam ibunya. Sebelum ibunya bertemu dengan ayahnya, ibu adalah gadis desa yang pekerjaannya membuat anggur dan memetik jeruk. Sehingga menjadi istri di keluarga chaebol dan hidup di antara pesta-pesta yang penuh gosip terlalu menyesakkan bagi gadis Amerika sederhana seperti ibunya dan akhirnya ibunya meninggal.

"apakah ibu kak Itachi bisa membuat wine sendiri?"

Itachi membenarkan, bahkan di ruang anggur di rumahnya ada wine yang bernama 'Itachi', namanya, ibunya sendiri yang membuatnya di tahun kelahirannya.

Kagum, "apakah kak Itachi pernah mengajak Sasuke untuk mengunjungi makam ibu kakak?"

Itachi menggeleng, membuat Sakura tersenyum senang. "Sasuke pasti sangat cemburu jika mendengar hal ini." Itachi geli dan bertanya, "Sasuke akan cemburu pada siapa? Kepadaku?" Sakura menggeleng." Sasuke akan cemburu padaku."

Sakura berterima kasih karena telah diijinkan ikut bersama kakak Itachi. Tapi Itachi yang merasa harus berterima kasih karena ia tak perlu bicara sendirian saat berada di makam.

Itachi mendapat telepon dari Sekretaris Danzo dan ia minta agar Sekretaris Danzo memberitahu ayahnya kalau ia akan tinggal di Amerika untuk beberapa hari lagi dan akan mampir ke Singapore. Tapi ia melarang Sekretaris Danzo untuk tak memberitahu jadwalnya pada Sasukenseperti sebelumnya.

Sekretaris Danzo meminta Itachi untuk tak khawatir karena ia tak akan mencampurkan urusan bisnis dengan personal.

*tra…la…la…*

Sasuke menelepon Sekretaris Danzo untuk menanyakan apakah kakaknya sudah kembali ke Jepang . Sekretaris Danzo menjawab sudah, membuat Sasuke kecewa. Sekretaris Danzo berkata kalau ia dengar Sasuke bertemu dengan putranya di Amerika. Awalnya sedikit bingung, namun ia menyadari kalau putra yang dimaksud adalah Sai.

Ia pun menelepon Sai dan berkata kalau ia akhirnya tahu siapaSai . "Aku ingin agar disambungkan padaNaruko."

"Naruko sedang tak bersamaku sekarang. Kalau ada yang ingin disampaikan padanya, kau bisa menitip pesan padaku."

"Apa kau ini pengacaranya?" Tan Sasuke sepertinya selalu kesal pada Sai. "Aku akan bicara langsung padanya, jadi teleponlah aku kalau dia sudah datang."

Naruko muncul. Ternyata ia baru saja dari restoran kakaknya. Sesuai arahan Sai, ia sudah minta teman-teman Kyuubi untuk menghubunginya jika kakaknya menghubungi mereka.

Sai mengangguk, "kakakmu pasti sedang terlibat sesuatu sehingga tak mau menemuimu". Ia pun menyampaikan pesan Sasuke untuk menelepon balik.

"aku tak mau, karena mulai besok, aku sudah pulang dan tak akan bertemu lagi dengannya."

Tan saat ini duduk menunggu telepon dari terus memandangi handphoneya, seakan handphone itu bisa berbunyi jika ia memandangi handphone itu lama.

Kesal, ia akhirnya meninggalkan handphone itu di luar. Tapi ia buru-buru kembali mengambil handphone itu, takut ada dering telepon yang terlewatkan.

Tapi Naruko tak menelepon. Ia malah pergi ke kampus Sasuke untuk menulis pesan di papan pengumuman.

Sasuke melihat kalau Naruk menggantung kaos kaki di handle pintu. Dan kaos kaki merah muda itu menerbitkan senyum di bibirnya, yang mungkin mengingatkannya pada si pemilik.

Di atas papan pengumuman, tertulis pesan Naruko , "Sebuah malam di musim panas. Saat itu terasa seperti mimpi. Aku akan menghilang sekarang, seperti mimpi yang kulihat kemarin malam. Selamat tinggal."

Sasuke pergi ke hotel untuk mengantarkan Sakura ke bandara. Di bandara, Sakura bertanya, "apakah kau tak mau pulang ke Jepang? Sasuke menjawab," Aku ingin, tapi aku tak punya keberanian untuk melakukan hal itu."

Sakura heran, "Kau membutuhkan keberanian untuk pulang?" Sasuke mengiyakan, ia butuh keberanian yang sangat cepat.

Sepertinya Sakura benar-benar menyukai Sasuke, karena Sakura memberanikan diri memeluk Sasuke . Walau tindakannya berbeda dengan ucapannya, "Ini bukan berarti aku sudah memaafkanmu. Aku masih tetap membencimu."

Meskipun terkejut, Sasuke tak menolak namun juga tak memeluk balik. Walau sesaat tangannya sempat terulur, namun tangan itu tetap berada di saku celananya.

Ia tak menyadari kalau ada seorang gadis yang masuk ke bandara dan melihatnya berpelukan denganSakura. Gadis itu terpana namun berbalik pergi dengan sedih. Akhirnya Sasuke melihat Naruko dan tanpa peduli ada gadis yang sedang memeluknya ia berteriak memanggil, "Naruko, berhenti disana!"

Naruko menghentikan langkahnya. Sakura pun melepaskan pelukannya saat mendengar nama itu.

'Haruskah aku berbalik?' Batin Naruko.

*TO BE CONTINUE*

Hello, Minna-san?

Bagaimana ceritanya? :D

Semoga tidak mengecewakan ^^

Ah~~~ Sudah lama tidak Update lagi

Bagaimana bagi yang puasa, tidak ada yang bolongkan puasanya?

Atau jangan-jangan sudah pada pulang kampung. XD

Yang telah review, Keep review ya :D hehehe…

OK, waktunya memberi Review :

*REVIEW MINNA*