Only you Dear |Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto. Pairing : NaruSaku-ever. Rated : T-M (for language, lime/lemon, etc). Genre : Romance and hurt/comfort. Warning : OOC. Typos. Mainstream theme. Boring.

Story by Hikari Cherry Blossom24

.

.

.

Don't like? DON'T READ!

Enjoy It!

.

.

.

.

.

.

"Naruto, ada wanita mencarimu. Dia menunggumu di luar."

Naruto menoleh ke samping, menatap pada Kiba. "Siapa?" Ia bertanya dengan alis saling bertaut.

Kiba mengangkat bahu. "Mana aku tahu.." Naruto beranjak cepat. "Dia pakai gaun pengantin." Naruto tertegun setelah mendengar penuturan Kiba selanjutnya. Apa mungkin Sakura? Tapi kenapa? Kenapa perempuan itu nekat kabur meninggalkan pernikahannya? Dasar gila!

"Aku permisi pulang.." Naruto melangkah dengan tergesa menghampiri letak pintu. Sebelum keluar, ia memakai sepatu putih miliknya dengan terburu-buru, kemudian setelah itu segera membuka pintu.

"Hoy Naruto! Pertarungan kita masih belum selesai." Shino berseru sembari mengangkat kepala, melihat punggung lebar Naruto melalui lirikan mata.

Pria di sana berhenti. "Kiba, kau gantikan aku!" Dan berikutnya, sosoknya benar-benar telah lenyap dari muka pintu. Hanya menyisakan debaman keras di sana. Mengangkat bahu pertanda tak mengerti, kemudian Kiba ikut duduk di sebelah Shino.

"Sampai level berapa tadi?" Kiba mengambil stick bekas Naruto yang tergeletak di depan televisi.

"Baru level 4." Shino menjawab datar, lalu kembali melanjutkan permainannya bersama Naruto tadi. "Aku bersumpah akan mengalahkanmu, Naruto.." Ia menekan kalimatnya. Cemburu kepada lelaki pirang itu, karena ia selalu di kalahkan olehnya dalam permainan PS.

Kiba melirik geli pada Shino. "Dasar gila! Yang main sekarang aku, bukan Naruto. Jadi intinya, kalaupun kau menang itu artinya kau mengalahkanku. Bukan Naruto!" Paparan panjang lebarnya mengalun merdu, namun mampu menusuk telinga Shino.

"Diamlah! Dasar cerewet!"

Kiba berdecak malas. "Kau yang cerewet. Orang aneh!" Rutuknya setelah itu, dan segera mengutak-atik stick di tangannya untuk melawan karakter yang di pakai Shino dalam permainan mereka.

.

.

.

Sakura tersenyum lebar ketika melihat Naruto keluar dari rumah berkurukan kecil di sana. Ia segera berlari menghampiri pria itu sembari menjinjing bawahan gaun pengantinnya. Menghiraukan kesulitanya dalam melangkah, ia tetap berusaha untuk dapat tiba di sana.

Keduanya saling menghampiri...

"Apa yang kau lakukan di sini?" Setibanya, Naruto langsung menuding Sakura dengan nada tajamnya. "Ini sudah malam, tak baik untukmu berada di luar sendirian. Mana Suamimu?"

Sakura menggeleng. "Tidak ada Suami." Dahi Naruto berkerut, tertanda ia tak mengerti. "Aku kabur dari rumah dan meninggalkan pernikahan sialan itu."

Naruto terkesiap seketika. "Kabur!?" Racaunya.

Perempuan merah muda itu mengangguk. Tak berselang lama, lengan Naruto ia raih. Ia peluk seraya menengadah ke atas untuk melihat paras tampan lelaki itu. "Naruto, bawa aku pergi bersamamu." Permintaannya meluncur dari hati yang terdalam. Ia bersungguh-sungguh untuk hal ini.

Sakura sudah tak peduli lagi dengan semuanya. Ia bahkan tak segan untuk melepaskan apapun yang menghambat cintanya. Rasa pedulinya terhadap Haruno Corp telah sirna, dan ia rela pergi jauh dari orang tuanya asal ia bersama Naruto. Apapun akan ia lakukan demi lelaki pirang tercintanya.

Naruto menarik lengan kurus Sakura, membawanya pergi menjauh dari kediaman Shino— temannya. "Aku akan mengantarmu pulang." Kontan, begitu kalimatnya usai, usai pula langkahnya.

Sakura menyentak lengannya dari cekalan Naruto. "Aku tidak mau pulang!" Pokoknya aku ikut denganmu!" Perempuan itu meninggikan nada bicaranya. Bersyukur tak ada yang mendengar, tapi itu juga berkat malam yang telah larut untuk memadati setiap penjuru.

Naruto berdiri menghadap Sakura. "Kau mau ikut denganku?" Anggukan semangat menggantikan jawaban untuknya. "Baik. Ayo ikut aku pergi ke rumahmu." Begitu ia berhasil menggapai kembali tangan Sakura, perempuan itu menyentak lagi tangannya hingga terlepas dari cekalannya.

"Naruto.. aku mohon padamu. Jangan bawa aku kembali ke rumah itu.." Tanpa dapat di bendung, tangis Sakura membasuh wajahnya dari lapisan Make Up. Air matanya terurai, dan menatap Naruto dengan wajah kacau.

Pria muda itu mendesah...

"Yang aku cintai dirimu, Naruto Namikaze. Bukan Sasuke Uchiha!" Liquid perempuan itu terus merembesi wajahnya. Dadanya terasa begitu sesak. Rasanya sakit sekali ketika di paksa untuk menikah dengan orang yang tak di cintai. Ia ingin Naruto mengerti. Ia ingin agar Naruto berhenti bersembunyi di balik dinding kokoh— pertahanan harga dirinya. Ia menginginkan lelaki itu. Sangat menginginkannya.

"Hentikan sikap idiotmu ini, Sakura!" Naruto mendekat pada perempuan itu. Menatap tajam wajah basahnya dari atas sembari mencengkram lengan kurusnya. "Jangan menambah bebanku lagi. Aku sudah lelah dengan semuanya! Apa lagi menghadapi kegilaanmu ini."

Sakura bersikeras hati. "Biarlah kau mau mengataiku seperti apa." Celakan terhadap lengannya ia lepaskan secara perlahan. "Mau kau bilang aku wanita gila, bodoh, rendahan, murahan. Atau pelacur sekalipun." Tangan Naruto terkepal erat mendengarnya. "Aku tak peduli, dan aku akan tetap ikut bersamamu."

Naruto menggeram dalam diam. Kepalan tangannya kian mengerat, bahkan hingga urat-urat di punggung tangannya bermunculan. 'Sialan!' Batinnya mengumpat. Hal yang membuatnya lemah adalah, saat menghadapi tangisan Sakura. Bila melihat Sakura menangis, hatinya selalu berkeinginan untuk menjadikan perempuan itu sebagai miliknya.

Sial sekali...

Grephh!

Sakura menubruk tubuh Naruto. Kepalanya bersandar di dada pria itu, dan menumpahkan deraian air matanya di sana. Ia memeluk Naruto erat, menyalurkan keabadian cintanya kepada lelaki itu. Wajah sembabnya menampilkan segaris senyum yang nampak bahagia.

Perempuan itu terlihat begitu bahagia..

Kali ini Sakura menangis bukan karena tertekan, tapi karena bahagia. Bulir-bulir air matanya jatuh, dan itu melambangkan kebahagiannya. Tiada hal yang bisa membuatnya bahagia, selain hidup bersama Naruto. Seorang lelaki yang begitu ia cintai dalam hidupnya. Tak hanya cinta, tapi ia juga menyayanginya. Sangat menyayanginya, lebih dari apapun. Bahkan nyawanya sendiri.

"Bawa aku bersamamu.."

.

.

.

Kizashi berjalan tak tenang, terus mondar— mandir ke sana dan kemari dengan perasaan cemas. Sesekali ia memijit batang hidung saat di rasa pusing melanda kepalanya.

Setelah kejadian tadi sore, Mebuki. Istrinya itu langsung pingsan di gereja ketika mendengar kabar tentang Sakura. Putri semata wayangnya itu telah melakukan kesalahan besar dengan kabur dari rumah dan meninggalkan pernikahan sebelum semuanya selesai.

Perilakuan Sakura sangat mempermalukan nama baik Haruno. Tak hanya mempermalukan, tapi karena ulahnya Uchiha Crop nyaris membatalkan kontrak dengan Haruno Corp jika saja Kizashi tak berhasil membujuk Fugaku untuk bersabar sebentar menjelang ia berhasil mendapatkan Sakura kembali.

Sasuke nampak kesal dan malu tadi. Karena tak mampu lagi menahan malu di wajahnya, maka ia langsung pergi meninggalkan pernikahannya yang gagal total. Mengabaikan tangisan Ibunya, dan tak peduli dengan Ayahnya yang pada saat itu marah-marah kepada Kizashi, dan berulang kali menampar Ayah mertua 'gagalnya' itu dengan untaian kata pedas.

Semuanya terjadi tanpa dapat di duga sejak awal. Sakura hilang tanpa jejak. Meninggalkan keluarganya, dan menghiraukan nama keluarga Haruno yang tercoreng karena tindakan di luar nalarnya. Toh, tak sepenuhnya kejadian tadi kesalahan Sakura sendiri.

Kizashi yang berhak di salahkan sepenuhnya atas kejadian memalukan itu. Seharusnya ia tak memaksa yang bukan kehendak Sakura. Seperti memaksanya agar mau menikah dengan putra bungsu Uchiha demi menyelamatkan perusahaan mereka dari kiris moneter, dan menghiraukan penolakan demi penolakan darinya.

Sakura menolak keras, dan Kizashi memaksa lebih keras lagi. Ia bahkan sampai tega membuat Sakura menangis sampai semalaman karena paksaannya, dan tak terniat untuk membatalkan perjodohan tersebut. Sakura begitu frustasi dan putus asa. Ia benci Ayahnya, karena gara-gara laki-laki biadap itu ia jadi semakin jauh untuk mendapatkan Naruto. Cintanya terhambat.

Yang patut di salahkan adalah Kizashi. Bukan Sakura...

Ckleek!

Kizashi bergegas menghampiri dokter yang baru saja membuka pintu ruang perawatan. "Bagaimana keadaan Istri saya, dokter?" Ia langsung menuding dokter muda itu setibanya ia di dekatnya.

Kabuto membenarkan letak kacamata bundar miliknya. "Istri Anda baik-baik saja Tuan. Dia hanya mengalami stress ringan, dan akan segera pulih bila istirahat dengan cukup."

Kizashi menghela nafas lega. "Syukurlah.." Kelopaknya terkatup sejenak, setelah itu terbuka kembali. "Terimakasih banyak dok untuk bantuan Anda.." Ucapnya sungkan.

Kabuto tersenyum. "Terimakasih kembali, Tuan Haruno.." Kacamatanya melorot lagi, dan dengan sigap ia langsung membenarkannya. "Baiklah. Saya permisi Tuan." Ia kemudian berlalu dari hadapan Kizashi. Meninggalkannya di sana.

Terdiam sesaat, hingga di detik berikutnya Kizashi masuk ke dalam ruang— tempat Istrinya di rawat.

.

.

.

Sakura langsung menyelonong masuk ketika pintu apartement Naruto terbuka. Betisnya saling bertukar peran, membawa sosoknya menuju ke ruang tamu terletak. Bibirnya nampak tengah mengulum senyum, tak lupa wajahnya juga menampilkan seri cerah.

Naruto tak kuasa untuk tak menggelengkan kepala. Menurutnya tingkah Sakura sangat kekanakan. Tapi bodohnya, kenapa ia bisa terpikat dengan perempuan konyol itu? Apa mungkin ia di pelet? Rasanya mustahil, karena ia tak pernah percaya dengan dunia ghaib semacam itu. Menurutnya itu dunia sesat!

"Cuma tempat tinggal ini yang aku miliki." Naruto melangkah masuk setelah menutup pintu. "Memang agak kecil, tapi setidaknya kau punya tempat untuk berteduh dari panas dan hujan." Kunci di tangannya ia gantung di belakang pintu. "Tempat ini juga bisa melindungimu dari badai." Ia terkekeh mendengar ucapannya sendiri. Konyol.

Sakura mengipas-ngipas lehernya. "Huh! Gaun ini membuatku panas.." Ia memapar pelan. Tanpa berfikir panjang, gaun pengantin tersebut segera ia lepaskan dari balutan tubuh rampingnya. Gaun mewah tersebut merosot jatuh, lalu teronggok di bawah kaki Sakura.

Begitu Naruto berbalik dari menghadapi daun pintu, matanya langsung melotot lebar ketika mendapati sebuah pemandangan sexy yang tersaji secara cuma-cuma di ruang tengah tersebut. Buru-buru ia memalingkan kepala pirangnya, menolak untuk menatap tubuh setengah telanjang Sakura.

'Ini gila!' Batin lelaki itu mengumpat.

"Naruto, tolong pinjamkan aku bajumu. Kau tahu, gaun itu membuat kulitku gatal-gatal." Dengan santainya Sakura mengalunkan kalimat lembutnya sambil menggaruk dada atasnya, tanpa menyadari ketidak— beradayaan Naruto karena ulah idiotnya.

"Kau bisa mengambilnya di lemari, di dalam kamarku." Naruto menyahut dari kejauhan dengan pandangan mengarah ke lain tempat. Ke mana saja, asal tak mengarah pada tubuh mulus Sakura yang kini hanya di baluti dengan bra hitam dan celana dalam— juga bewarna hitam.

"Aku tidak tahu, tolong temani aku." Sakura melihat ke tempat Naruto. Dahi lebarnya berkerut kala itu juga ketika ia mendapati Naruto tak sedang menatapnya saat berbicara. Kenapa dengan pria itu? Kenapa dia mendadak jadi aneh begitu?

"Tak sulit mencarinya. Kau hanya perlu berjalan beberapa langkah ke depan, lalu kau akan menemukan kamarku di sana." Pria itu menyentuh tengkuk, mencoba menghilangkan rasa aneh yang mendadak ia rasakan. Dan posisinya masih tetap sama. Memandang ke arah samping.

Sekarang Sakura tahu apa yang membuat Naruto jadi seperti itu. Dia yang sebelumnya tak pernah merasa grogi, tiba-tiba saja jadi grogi seperti itu. Ini pasti karena ulahnya, ia yang tanpa berfikir panjang langsung membuka gaun pengantin dari tubuhnya sampai hanya menyisakan dua pelindung bagian atas dan bawah.

Benar-benar di luar dugaan Sakura, bahwa ternyata Naruto memiliki kelemahan yang 'unik'.

Sambil tersenyum sexy, betis jenjang Sakura saling bergantian— membawa dirinya melangkah ke tempat Naruto berdiri. Ia tahu, saat ini pria itu pasti sedang gelagapan menyadari kedatangannya. Sakura bisa mengetahuinya, itu karena terlihat jelas dia sedang berdiri tegang di sana.

"Naruhh~"

Bulu roma Naruto berdiri ketika mendapat panggilan manja tersebut. Ia membatu di tempat saat Sakura tiba di dekatnya, dan langsung membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. Perempuan itu menunjukan senyum menggoda, dan Naruto tak tahu harus bagaimana menghadapinya.

Satu hal yang Naruto takuti dari Sakura.

..perempuan itu hebat menggoda. Bahkan sudah menjadi ahlinya...

"Antarkan aku ke kamar, ya..." Sakura menggigit bibir bawah. Dada bidang Naruto ia elus dari permukaan kaos coklatnya, membuat si empu memundurkan kepala ke belakang karena ulahnya. Ia suka dengan ketidak beradayaan Naruto. Menurutnya itu sangat 'unik'.

Namikaze pirang itu memang berbeda dari pria lainnya...

.

.

.

Praang!

Ctarr!

"ARGGGH! BRENGSEK!"

Vas bunga kembali membentur keras dinding semen yang berdiri kokoh, kemudian beling-beling dari vas tersebut berserakan di lantai licin yang di genangi air. Ruang mewah terebut tak ubahnya seperti kapal pecah. Semua isinya berserakan di lantai, bahkan ada banyak pecahan-pecahan kaca yang terabaikan di lantai marmer tersebut.

Sasuke duduk di pinggir ranjangnya. Surai hitam— kebiruan miliknya sengaja ia jambak, dan gigi di dalam rongganya saling bergemeletak geram.

"Memalukan!" Lelaki itu mengacak sisi rambutnya yang tumbuh panjang dengan nafas tertahan. Mengingat kejadian kemarin sore, sungguh membuatnya malu. Ia tak tahu harus melakukan apa ketika banyak pasang mata di luar sana menatap rendah dirinya. Uchiha di 'khianati', dan bisikan-bisikan seperti itu pasti akan terdengar jelas di telinganya bila ia pergi keluar.

Cklekk!

Seseorang membuka pintu, kemudian masuk. Itachi langsung berjengit ketika melihat ruang kamar Sasuke. Begitu berantakan, dan ada banyak barang-barang yang berhamburan di lantai, hingga ia harus berjinjit saat melewatinya.

"Sasuke, kenapa dengan dirimu? Apa kau sudah mulai gila?" Itachi berdiri sambil bercacak pinggang. Berlaku selayaknya Nyonya Uchiha.

Sasuke mendesah frustasi. "Wanita itu sudah mencemarkan nama baik Uchiha." Ia menundukan kepala, dan membiarkan surai jabriknya berguguran menutupi sisi wajahnya.

Itachi ikut duduk di dekat sang adik. "Nama baik Haruno juga tercemar. Kau harus tahu itu, Sasuke!" Ujarnya seraya menoleh ke samping.

Sasuke bergeming, balas menatap sang kakak. "Kalau itu aku sudah tahu.." Manik onyx miliknya berkilat tajam. "Memang sudah sepantasnya Haruno di permalukan, tapi tak seharusnya nama baik belakang namaku juga ikut tercemar karena tindakan gila wanita itu." Nadanya meninggi, hingga terdengar menggema di dalam ruangan remang tersebut.

Itachi menyentuh bahu Sasuke. "Kau benar. Untuk itu kau harus bisa mendapatkan kembali putri Haruno." Sasuke terdiam sambil mendengarkan masukan dari Itachi. "Jadikan Sakura milikmu, dengan begitu maka coreng di nama baik Uchiha akan terhapus.."

Sasuke mengerjap. Benar juga kata Itachi. Bila ia memiliki Sakura, maka otomatis tidak akan ada lagi ejekan di 'khianati' oleh publik. Nama baik Uchiha kembali bersih, dan putri cantik Haruno menjadi miliknya. Bukan ide buruk.

Pria berdandan emo itu menyeringai puas. "Menarik." Gumamnya pelan. Itachi yang dapat mendengarnya hanya tersenyum simpul. Adiknya itu sungguh pintar, dan paling mudah bila di ajak kerja sama untuk melakukan tindakan di luar nalar.

Sasuke tipe orang yang mudah terpengaruh...

Itachi tidak bersalah. Ia hanya ingin Sasuke menjadi seseorang yang tak mudah kalah. Dan ia ingin adik tersayangnya itu menjadi sosok yang tangguh dan 'anti' dengan kata menyerah. Untuk Sasuke, semua akan ia lakukan asal pria berusia dua puluh tujuh tahun itu bahagia menikmati hidupnya.

Bagi Itachi, Sasuke adalah segalanya dalam hidupnya. Ia sayang dan cinta kepada Sasuke, dan ia tak rela bila melihat adiknya itu tersakiti. Apa lagi kalau gara-gara seorang wanita.

.

.

.

Langkah Naruto terhenti sepenuhnya ketika iris biru miliknya menangkap siluet punggung ramping milik perempuan bermahkota merah muda sedang membelakangi pintu dapur— beserta dirinya. Ia berbalik, hingga kini menghadap sepenuhnya ke arah tubuh berleok perempuan di sana.

Kelihatannya Sakura sangat sibuk, hingga enggan untuknya bergeming. Tapi kalau tahu ada Naruto, maka otomatis ia pasti akan langsung berbalik. Namun sayangnya tak begitu, sebab pria di sana hanya berdiri diam tanpa membuka suara untuk menyapanya.

Naruto bingung dan tak tahu harus melakukan apa. Kini Sakura ada di apartement miliknya, tinggal satu atap bersama dirinya tanpa ada ikatan apapun di antara mereka.

Tapi nampaknya Sakura tak peduli, dan dia kelihatan sangat menikmati kebersamaan mereka. Perempuan itu melakukan tugas selayaknya seorang Istri. Masak, menyuci baju dan piring, membersihkan sekaligus memberesi seisi ruangan apartement, berbelanja untuk bahan dapur. Bahkan, ia juga kerap menyerahkan diri kepada Naruto bila saja lelaki itu tak mampu menolak.

Naruto tak bodoh, ingin menyetubuhi Sakura tanpa ada ikatan yang sah. Ia tahu larangan agama, dan ia tahu dosa. Memang berat rasanya menolak Sakura, apalagi kalau perempuan itu sudah bertindak nakal saat menggodanya. Tapi syukurlah, iman Naruto kuat dan tak mudah di goyah dengan setiap godaan-godaan dari kaum hawa yang satu itu.

Hampir setiap malam Sakura kembali ke dalam kamar dengan perjuangan sia-sia. Naruto begitu sulit di taklukan, ia bahkan sampai kerap mendesah frustasi karena pria itu. Terpaksa ia tidur sendirian di kasur yang empuk, dan meninggalkan Naruto yang tengah tidur sendirian di ruang tamu.

Padahal tidur di sofa tak ada nyamannya. Sudah keras, sering kedinginan lagi, walau sudah memakai selimut. Tapi nyatanya Naruto tetap enjoy menikmati kehidupan barunya, dan rela mengalah kepada Sakura dengan menyerahkan kamarnya secara sukarela dan ikhlas.

Sakura tak tega melihatnya. Tentu. Sebab ia sayang pada Naruto, dan ia rela berbagi— bahkan juga ikhlas menyerahkan apapun yang ada dalam dirinya kepada Naruto. Tapi sialnya, pria itu selalu berhasil menolak. Ia bahkan pernah di usir pergi, di suruh mengungsi ke kamar dan membiarkan Naruto tidur sendirian di ruang tamu.

Naruto memang aneh. Dia begitu 'unik'.

"Naru! Kau sudah bersiap untuk berangkat ke kantor?"

Lamunan Naruto buyar seketika. Sakura berbalik dari menghadapi kitchen set, dan kini tengah menatap Naruto dari tempatnya berdiri. Ia menyunggingkan segaris senyum manis, membuat lelaki di sana ikut tersenyum. Namun begitu samar untuk dapat di lihat.

"Seperti yang kau lihat." Balas pria itu santai. Masih setia berdiri di dekat pintu dapur sambil memegang tas, dan tengah mengenakan setelan celana blazer hitam berbahan katun dengan atasan kemeja putih panjang lengan.

Sakura menghampiri letak meja. "Ayo kemari! Aku sudah membuatkan sarapan spesial untukmu.." Mata Naruto bergerak mengikuti setiap gerakan Sakura. Mulai dari wanita itu menyusun makanan di atas meja sampai selesai. Dan yang terakhir, dia menuangkan sari jeruk peras ke dalam gelas kaca.

Sarapan pagi yang di sajikan secara khusus untuk Naruto. Memang setiap pagi seperti itu. Sakura yang melakukannya..

"Ramen kuah kari kental dan sari jeruk peras untuk memulai aktifitas Naruto." Perempuan di sana terkikik geli, membuatnya terlihat manis bila sedang seperti itu.

Naruto tertegun sesaat. Setelah satu minggu menjalani hidup satu atap bersama Sakura, sekarang ia baru menyadari banyak hal dari dalam jati diri wanita itu. Dia wanita yang sangat cantik, manis, baik, sedikit cerewet dan...

Penuh perhatian, cinta dan kasih sayang...

Naruto tak bisa mengurangi nilai plusnya untuk Sakura. Ia tahu sejak dulu, dan ia kenal betul seperti apa seorang Sakura Haruno. Dari dulu sampai kini, sikap wanita itu tak pernah berubah kepadanya. Hanya saja...ia terlalu enggan untuk mengakui semua itu. Tapi sekarang, ia sudah tak enggan lagi mengakui semua yang ada pada diri perempuan itu.

Kini Naruto sadar, bahwa perasaan wanita itu kepadanya benar-benar sungguhan dan luar biasa. Bodoh bila ia melepaskan Sakura, dan gila bila ia sampai menyia-nyiakan ketulusan cinta darinya. Tak ada waktu lagi, semua pilihan ada di tangan Naruto.

"Kenapa masih berdiri di sana? Cepat ke sini, selagi ramennya masih panas!"

Naruto melangkah masuk menuju ruang dapur. Sakura nampak tersenyum riang melihat kedatangannya, dan wanita itu lekas menarik kursi untuknya duduk. Naruto tak bisa untuk tak mengakuinya, bahwa Sakura memang wanita yang sangat luar biasa hebatnya.

Sakura menyeringit bingung ketika melihat Naruto tak langsung duduk, malah menatap lekat wajahnya sambil tetap berdiri. "Kenapa?" Ia gelagapan, menjadi salah tingkah karena mendapat tatapan 'berbeda' dari sepasang iris blue safir milik pria itu. Begitu tajam.

Meletakan tas laptop miliknya di atas meja makan, Naruto kian mendekat pada Sakura. "Mau sampai kapan hubungan kita seperti ini terus?" Pergelangan kurus wanita itu ia raih. Ia cekal dengan cengkraman lembut. "Mau berlanjut sampai kapan?"

Sakura menengadah, membalas tatapan dari Naruto. "Maksudmu?" Mata bulatnya mengerjap.

Sudut bibir Naruto terangkat. "Ikut aku!" Ia langsung menarik tangan Sakura, membuatnya ikut melangkah. Namun dengan langkah tergopoh.

"Ehh! Kita mau ke mana?" Pertanyaan Sakura mengalun di tengah mengikuti langkah cepat Naruto dalam menuju letak pintu untuk keluar.

"..." Tak ada jawaban dari yang di tanyai. Sakura semakin bingung. Mereka akan pergi ke mana? Apa yang ingin Naruto lakukan? Apa dia tak pergi ke kantor hari ini? Apakah sepenting itu tujuan mereka hingga Naruto rela libur kerja?

Entalah! Sakura tak mengerti, dan ia lebih memilih ikut ke mana saja Naruto akan membawanya...

.

.

.

.

To Be Continue...

.

.

.

Saya kgk bisa tenang, di terror mulu. Pada nanya kapan fic ini di up, penasaran bgt! Udah kepalang tanggung, kgk mampu lagi membendung rasa penasaran. :3

Ini haa, udah di up. Sesudah baca, jgn lupa ninggalin kritik di kotak Review yahh :)