Only you Dear |Chapter 3
Disclaimer : Masashi Kishimoto. Pairing : NaruSaku-ever. Rated : T-M (for language, lime/lemon, etc). Genre : Romance and hurt/comfort. Warning : OOC. Typos. Mainstream theme. Boring.
Story by Hikari Cherry Blossom24
.
.
.
Don't like? DON'T READ!
Enjoy It!
.
.
.
.
.
.
Kepala bersanggul Sakura terangkat, dan menengadah untuk menatap Naruto yang tengah berdiri di hadapannya. Wajahnya menunjukan kebahagiaan dan kesedihan secara bersamaan. Setitik air mata terlihat membasahi sudut matanya, dan bibir berlipstik tipisnya nampak bergetar.
"N–naruto..."
Pria yang di panggil itu tersenyum simpul. Tangan bersarungnya terulur di depan Sakura, dan meminta agar perempuan itu menyambut uluran darinya.
Mengelap sudut matanya dengan sentuhan lembut, Sakura segera menyambut uluran tangan dari Naruto. Gaun putih yang membalut tubuh mungilnya ia jinjing agar bawahannya tak kotor ketika menyentuh lantai.
Naruto menuntun Sakura untuk mendekat padanya. Menyambut pengantin wanita tersebut bersama dengan uruaian senyum tulusnya. "Ayo kita akhiri hubungan tanpa ikatan, dan memulai semuanya dari awal." Ia membisikan kalimatnya tepat di telinga sang calon Istri.
Sakura mendongak untuk mengamati wajah tampan Naruto dari bawah. Lelaki itu mengenakan tuxedo putih dengan dasi kupu-kupu. Seulas senyum nampak menghiasi parasnya, membuat hati Sakura bergetar hebat ketika melihatnya. Naruto benar-benar terlihat berbeda dan tampan. Sangat tampan.
"Kau mau menikah denganku?"
Sakura tak kuasa untuk tak menangis. Ia yang merasa sangat bahagia langsung segera mengangguk dengan hati berdesir hangat. Masih dalam keadaan tersenyum, Naruto meninggalkan kecupan di kening lebar Sakura. Setelah itu, ia merunduk seraya menatap wajah Sakura yang nampak begitu sulit di artikan.
Perempuan itu terlihat bahagia, namun juga sedih karena terharu. Sampai saat ini ia masih bertanya-tanya, kejadian hari ini mimpi atau nyata? Kalau hanya mimpi, maka ia hanya bisa berdo'a kepada Kami-sama agar jangan pernah membangunkannya dari mimpi seindah ini. Tapi kalau nyata, maka tolong hentikan setiap pertanyaan-pertanyaan 'cuma mimpi' yang memenuhi fikirannya.
Sakura tak mau sampai melewatkan moment terindah dalam hidupnya dengan bisikan-bisikan ilusi. Ia ingin tenang, dan ia ingin menyelesaikan acara pernikahannya dengan perasaan bahagia yang meluap.
"Ayo, sudah waktunya mengucapkan janji suci.." Naruto memeluk pinggang kecil Sakura, kemudian menuntunnya berjalan menuju altar— di mana kini sang Pendeta berdiri menunggu pasangan pengantin.
Tidak ada tamu undangan. Gedung gereja nampak sepi, yang ada hanya tiga orang di dalam sana. Pendeta dan pasangan pengantin. Meski begitu, Sakura tak peduli. Ia bahagia walau menikah tanpa di iringi kedua orang tua, dan saat ini ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena bisa menjadi Istri Naruto Namikaze.
Seperti yang pernah di jelaskan. Tiada hal yang paling membahagiakan dalam hidup Sakura, selain bisa bersama Naruto. Hidupnya hanya untuk pria itu satu-satunya. Susah senang, sakit sehat, sedih bahagia. Mereka akan selalu bersama, dan selamanya akan terus seperti itu.
Tidak akan pernah berubah. Sampai kapanpun...
Setelah memberi sumpah— janji kepada pasangan pengantin, sang Pendeta menutup buku di tangannya.
Naruto meraih tangan Sakura. Kepalanya menunduk, menatap jari manis Sakura lalu memasukan cincin emas di sana. Setelah usai, kini giliran Sakura. Tangan Naruto ia gapai, kemudian menelusupkan cincin yang sama dengan miliknya ke jari manis Naruto.
Begitu melihat pasangan pengantin telah usai memakaikan cincin kepada masing-masing jari manis, sang Pendeta tersenyum. "Silahkan mencium pasangan pengantin."
Sakura mengulum senyum, pipinya merona. Ia tersipu. Mendekat lalu berjinjit, melingkari leher Naruto kemudian mendekatkan wajah mereka. Dan selanjutnya, kelopak lentik Sakura terkatup. Ia terbuai dalam ciuman mereka. Bibir Naruto terasa lembut dan... begitu hangat.
.
.
.
"Sakura tinggal bersama Arsitek muda yang bekerja di perusahaan Haruno?"
Aoba membungkuk sopan kepada Kizashi yang tengah duduk sambil menumpukan kaki di atas kaki satunya. "Itulah informasi yang saya dapat dari mereka." Ia berbicara dengan nada sopan.
Kizashi beranjak dari kursi putarnya. "Masih belum cukup. Kau harus mengorek identitas Arsitek itu sampai semuanya jelas, agar nanti tak sulit mengambil Sakura darinya." Langkahnya menuju pada letak jendela, dan berdiri setibanya di sana seraya memasukan kedua tangan ke dalam saku celana.
Aoba mengangkat kepala. "Baik, Tuan Kizashi." Tubuhnya berdiri tegap. "Saya permisi, dan akan langsung mencari informasi lengkap tentang Arsitek Namikaze."
Kizashi mengangkat tangan. "Silahkan." Begitu mendapat izin, Aoba bergegas pergi meninggalkan ruang pribadi Kizashi.
Lelaki setengah baya itu memejamkan mata untuk sejenak. Nafasnya tertarik panjang, bahkan hingga dadanya nampak memompa tinggi. Sakura. Putri semata wayangnya yang sangat berharga telah mengecewakannya. Sungguh tak terkira olehnya, kenapa Sakura bisa bertindak segila itu.
Kabur dari rumah, meninggalkan acara pernikahan dan malah tinggal satu atap bersama lelaki yang tak memiliki ikatan apapun dengannya.
Kemana putrinya yang dulu? Kenapa sekarang dia berubah? Kizashi bertanya-tanya. Tapi memang benar, Sakura yang dulu telah tiada. Gadis kecilnya yang manis dulu telah berubah menjadi wanita bengis yang dengan tega menghancurkan keluarganya sendiri. Pasal perjodohan itu, Sakura sampai berani menentang Kizashi. Kabur setelah mencoreng nama baik Haruno, dan tak sekalipun memberi kabar. Apakah dia bahagia? Menderita? Fasilitas tercukupi? Mengingat betapa lengkapnya hidup Sakura sewaktu masih tinggal di kediaman Haruno.
Memikirkan itu semua mengakibatkan rasa pusing kembali melanda kepala Kizashi. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa agar Sakura kembali, selain dengan cara memaksanya.
Siapa Naruto Namikaze? Kizashi tak mengenal pria itu. Apakah dia keturunan dari keluarga baik-baik? Apakah dia terlahir dari keluarga terpandang? Apa statusnya jelas? Atau mungkin dia tak punya orang tua? Karena yang hanya Kizashi tahu, Naruto Namikaze adalah seorang Arsitek hebat yang memiliki otak cerdas.
Kizashi bahkan tak pernah melihat seperti apa rupa Arsitek hebat itu. Tampan 'kah dia? Jelek 'kah? Atau memiliki kulit wajah cacat semacam bekas sayatan pisau seperti preman? Sepertinya tak begitu, karena yang Kizashi tahu dari Aoba, seorang Naruto Namikaze itu memiliki paras tampan dan kulit bersih halus. Keren, tinggi, rambut pirang, bola mata bewarna biru laut, dan kelopak sipit dengan bentuk naik di bagian sudut.
Tapi bagi Kizashi kalau masalah sempurna, Sasuke Uchiha tak kalah sempurna dari Naruto Namikaze. Sasuke tampan, keren, tinggi, mapan, punya harta berlimpah, dan putra dari keluarga terpandang— Uchiha. Keluarga yang banyak di segani orang. Sungguh bodoh Sakura menyia-nyiakan Sasuke Uchiha. Itulah yang ada di fikiran Kizashi.
Tokk! Tokk!
Lamunan Kizashi buyar ketika mendengar suara ketukan pintu. "Masuk!" Ia menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari dinding kaca. Blue safir miliknya bergerak, mengamati setiap pergerakan orang-orang di halaman perusahaannya.
Cklekk!
Orang di luar sana membuka pintu, lalu berdiri di sana. "Tuan, mobilnya sudah disiapkan." Badannya membungkuk dan kepalanya menunduk, kala berbicara dengan sang atasan.
Kizashi berbalik. "Ayo pergi!" Langkahnya berjalan cepat melalui anak buahnya yang masih berdiri di muka pintu. Bawahan berjas itu bergegas mengikuti langkah sang atasan dari belakang. Tak lupa, sebelum itu ia menutup pintu terlebih dahulu.
Kizashi merogoh saku celana, dan mengeluarkan ponsel pintar miliknya dari dalam sana. "Hallo!"
Kizashi terlihat memasang speaker ponsel di telinganya.
"Uchiha-san. Datanglah ke kediaman Haruno malam ini, ada kabar baik yang ingin saya sampaikan kepada Anda."
Lelaki berkulit tan itu mengangguk begitu mendapat jawaban dari yang di telfon.
"Baik. Saya tunggu kedatangan Anda."
Setelah itu, sambungan di putus oleh Kizashi. Ponsel miliknya ia masukan kembali, lalu semakin menambah kecepatan langkahnya ketika baru keluar dari gendung megah miliknya.
.
.
.
Blamm!
Kerah kemeja Naruto di tarik, sukses membawa empunya meninggalkan pintu. Sakura tertawa cekikikan, dan mendekatkan wajah tampan Naruto padanya. Menatap pria itu dengan mata mengerling nakal, kemudian menghilangkan celah antara tubuh mereka.
Keduanya merapat...
"Aku sangat mencintaimu, Suamiku.." Telapak lembut milik Sakura menggapai bahu Naruto, dan mengelusnya dengan sentuhan manja. Ia berjinjit, mendekat— lagi pada wajah Naruto kemudian mencuri ciumannya.
Naruto memundurkan kepala, membuat terciptanya jarak dekat antara wajah mereka. "Aku mau mandi dulu." Tak ayal, ucapan yang ia lontarkan membuat decakan bosan terdengar. Ia terkekeh.
Pegangan Sakura beralih, merambat naik ke bagian leher Naruto. "Nanti saja mandinya.." Ia berkata dengan nada halus, mencoba merayu lelaki yang baru beberapa jam tadi telah sah menjadi Suaminya.
Dinding membatas antara mereka sudah tidak ada lagi, baru saja di runtuhkan. Keduanya langsung terikat dengan benang merah, dan telah mengucapkan janji seumur hidup. Tak ada lagi hambatan. Tak ada lagi larangan. Tak ada lagi perbuatan dosa, dan tak ada lagi hubungan yang tidak sah.
Sakura sudah sah menjadi Istri Naruto, dan Naruto sudah sah menjadi Suami Sakura. Sakura berhak atas Naruto, dan Naruto berhak atas Sakura. Keduanya telah terikat dengan benang suci, dan telah berada dalam hubungan suci. Nama Sakura Haruno telah berganti menjadi Sakura Namikaze. Perempuan itu bahagia, hingga sulit di ucapkan dengan kata-kata karena sangking bahagianya dia.
Di sini bukan hanya Sakura saja yang bahagia, tapi juga Naruto. Pria itu bahagia kerena memiliki Sakura seutuhnya, dan ia tak akan pernah melepaskan Istri merah mudanya itu. Selamanya mereka akan terus bersama. Apapun yang terjadi mereka akan tetap bersama.
"Tapi badanku bau keringat.."
Sakura lekas mendekatkan hidung mancungnya pada dada bidang Naruto, lalu mengendus bau dari permukaan kemeja pria itu. "Tidak bau kok. Malah wangi." Ia kembali menjauh, dan menatap Suami pirangnya dengan alis bertaut.
Memang benar apa yang di ucapkan Sakura, sebab ia sendiri yang menciumnya secara langsung. Tidak ada bau tak sedap dari Suaminya itu, yang ada malah wangi maskulin ber'aroma lembut. Itu kejujuran nyata, bukan bualan untuk memuji. Karena yang Sakura tahu, Naruto memang selalu wangi.
Naruto tersenyum kecut. 'Nekat sekali.' Bantinnya berkata miris. Kenapa sulit sekali menghindari perempuan itu? Dirinya yang kelewat lemah atau Sakura yang terlalu memaksa? Entalah! Ia juga tak tahu itu.
Sakura menyeringai. "Mau menghindar ya..." Kancing kemeja Naruto ia copoti satu— persatu. Menatap nakal padanya, dan terkadang menunjukan senyum sexy. "Kenapa sayang? Kau takut?"
Naruto berkerut tak suka mendengarnya. "Untuk apa aku takut!" Sangkalnya tak terima. Membalas kerlingan nakal di hadapannya, dan membiarkan kemejanya di buka dari balutan tubuh atletisnya.
Inner Sakura berteriak girang mendapat kala picingan dari Naruto. "Kalau tak takut, lalu kenapa menghindar!?" Dada bidang Naruto ia elus. Ia sentuh dengan gerakan menggoda.
Begitu sexy...
"Aku tak menghindar!" Kepala Naruto merunduk, memerhatikan paras manis Sakura dari jarak dekat. "Aku cuma mau mandi. Membersihkan badan dari keringat." Imbuhnya lagi.
Sakura mengulum senyum. "Oh ya?" Ia menggoda pria itu. Memilin puting dadanya yang telah bertelanjang total. "Seharusnya kau tak melakukan itu, karena nanti juga kita akan banjir dengan keringat panas." Godanya, lalu mencubit manja puting keras milik dada bidang Suaminya.
Telapak lebar Naruto mencengkram pinggul Sakura. "Jangan menantangku!" Matanya menatap liar bibir mungil wanita itu. Bersiap untuk menerkamnya.
"Sedang kulakukan." Sakura menyeringai puas. Naruto terpancing dengan mudah.
Lelaki berdesis. Sakura memang nakal.
Naruto mendorong Sakura hingga terbaring di atas sofa. Menindih tubuh mungilnya yang masih berbalut gaun pengantin, kemudian langsung mempertemukan bibir mereka. Ia melumatnya, dan Sakura balas memagut dengan hasrat menggebu.
Naruto mendesak selangkangan terbuka Sakura. Kian menghimpit tubuh mungil wanita itu di antara sofa dan tubuhnya. Ia membiarkan tangan kurus Sakura merayapi punggungnya sampai ke bawah, dan berhenti begitu tiba di bagian pinggang bawah.
Bibir keduanya terlepas, menyebabkan terjadinya jarak tipis antara wajah mereka. "Kau memang nakal.." Dahi Naruto berkerut, namun tetap bergeming ketika tangan Sakura masuk ke dalam celana blazernya.
Perempuan itu menunjukan senyum sexy. "Kau suka, bukan?" Walau begitu, ia tetap tak bisa menyembunyikan garis rona di kedua sisi pipi mulusnya.
Kini giliran Naruto menyeringai. "Takut tapi suka." Jawabnya berbisik, lalu kembali berdesis kala jari-jemari lentik milik Sakura berhasil masuk ke dalam celananya dan tengah menggodanya di sana.
Pria itu tertunduk. Ia tak bisa berhenti berdesis, bahkan sampai menggeram. Satu tangan Sakura keluar. Naik ke atas lalu mencengkram tengkuk Naruto. Memancing agar sang Suami mengangkat kepala.
Naruto bergerak, dan langsung mendapat tatapan penuh gairah dari sepasang iris emerald indah. Bibir merah miliknya tersunging tinggi ke atas, dan balas menatap sorot bernafsu tersebut. Wanita itu mengangkat kepala, kembali menautkan bibir mereka.
Sakura mengerang pelan saat merasakan bibir bawahnya di kulum. Tubuhnya lemah tak berdaya, bahkan pegangannya terhadap barang milik Naruto melemah. Tak seerat ketika pertama kali menggenggamnya. Dan 'batang' itupun semakin bertambah keras dan membesar.
Sakura tak mampu untuk tak tersipu. Ia tak mengira, bahwa tak hanya tampan dan sexy. Tapi Naruto juga termasuk dalam kategori pria sejati. Mungkin dia ada di urutan kedua atau ketiga. Sakura tak salah memilih Suami, pilihannya sangat tepat.
Naruto memang sempurna..
.
.
.
"Sudah cukup! Hentikan pemaksaan ini." Beberapa pasang mata memandang ke tempat Mebuki berada. "Gara-gara perjodohan ini putriku kabur, dan tinggal satu atap dengan laki-laki asing.." Ia meninggalkan tempat duduknya dengan kasar. "Kalian semua keterlaluan!" Oktafnya mengalun tinggi.
Kizashi segera berdiri kemudian menyentuh punggung ramping Mebuki, namun urung karena langsung mendapat tepisan darinya. "Sayang, bersikap sopanlah."
Mebuki melempar tatapan bengis kepada Kizashi. "Sabarku ada batasnya. Sudah cukup aku bersabar ketika kau memaksa putriku untuk menikah."
Fugaku bangkit. "Sikap macam apa ini!" Suara baritonenya meninggi, hingga terdengar memenuhi ruangan. "Keterlaluan! Mikoto, ayo kita pulang!" Nyonya Uchiha berdiri, kemudian segera mengikuti langkah Fugaku.
"Sadarlah! Ibu mana yang tak tersiksa bila anaknya pergi tanpa memberi kabar." Langkah Mitoko terhenti ketika mendengar ucapan Mebuki. "Aku korban. Putriku kabur, dan aku tak tahu apakah dia bahagia atau menderita hidup bersama orang asing itu.."
"Sudah bersalah tak mau mengakuinya lagi." Fugaku mencibir. "Mikoto!" Ia meraih tangan sang Istri, namun tak tertangkap ketika empunya mengelak dengan cepat.
Fugaku menggeram. "Mikoto!"
Wanita memiliki dua anak laki-lak itu menggeleng. "Aku seorang Ibu, dan aku bisa mengerti sesama perasaan seorang Ibu.." Ia berjalan menghampiri tempat Mebuki berdiri sambil menangis.
"Aku sakit. Aku tertekan.." Bulir air mata Mebuki membasahi pipinya. Kizashi tak bisa berbuat banyak, selain menunduk. "Aku kehilangan putriku satu-satunya, dan itu gara-gara kalian yang memaksanya untuk menikah."
Fugaku menghela nafas jenuh. Ia hanya berdiri di sana seraya menyimpan tangan ke dalam saku celana. Mikoto menghampiri Mebuki. Rasa sedih dan bersalah menghampirinya. Ia sangat mengerti seperti apa perasaan Mebuki yang ditinggal kabur oleh anak sendiri tanpa diberi kabar.
"Maafkan aku, Mebuki-san." Wanita Uchiha itu memeluk Mebuki, menumpukan dagunya di atas bahu Mebuki yang nampak bergetar. Telapaknya mengelus punggung wanita Haruno itu, mencoba memberinya kehangatan karena mereka sesama kaum hawa ia jadi dapat mengerti sebagaimana terpukulnya Mebuki.
Air mata kian membanjiri wajah sembab Mebuki. Melihatnya, membuat tangan Kizashi terkepal erat. Naruto Namikaze, dialah dalang dari ini semua. Pecundang yang membuat Sakura sampai berani menentangnya. Lihat saja, ia tak akan tinggal diam untuk hal ini. Arsitek muda itu harus diberi pelajaran.
Gigi-gigi dalam rongga Kizashi saling bergemeletak. 'Awas kau, Namikaze...' Ia membatin geram. Sakura harus kembali, dan melanjutkan pernikahannya dengan putra bungsu Uchiha yang sempat gagal. Nama Haruno harus bersih dari coreng itu, dengan cara menikahkan putri Haruno dengan putra Uchiha.
"Bee!"
Killer Bee yang tengah berdiri di luar pintu segera masuk dan menghadap sopan pada sang Tuan Haruno.
"Lakukan penyelidikan itu secepatnya. Lusa kalian harus sudah mendapatkan iendentitas lengkap Naruto Namikaze!"
"Baik Tuan!" Bee kembali keluar. Bergegas melangkah menuju letak halaman rumah, dan menghampiri sebuah mobil sedan yang terparkir rapi di garasi.
Kizashi menghempaskan bokongnya di sofa. "Aku akan mendapatkanmu, Namikaze.." Ia memijit pelipis.
Mikoto menuntun Mebuki agar duduk. "Percayalah, Sakura pasti akan kembali ke rumah ini lagi." Mebuki membekap mulut untuk menahan suara isaknya agar tak terdengar.
Apa mungkin Sakura akan kembali? Mebuki tak yakin untuk hal itu. Ia kenal Sakura, dan ia hafal betul seperti apa watak putrinya itu. Dia wanita keras kepala. Sangat keras kepala. Tak hanya itu saja, dia juga nekat. Kerap bertindak gila, bahkan sampai pernah melakukan hal di luar nalar.
Buktinya saja sekarang. Anak itu nekat kabur. Mengabaikan perusahaan, dan berada jauh dari lindungan orang tua. Dia seseorang yang sangat nekat.
.
.
.
Pukk!
Bantal bersarung coklat itu jatuh, dan ikut terserak bersama bantal lainnya dilantai. Sprai kasur nampak awut-awutan, di sudut bawah copot dan sudut atas juga copot. Selimut tebal menjuntai di pinggir ranjang, tak kunjung jatuh padahal nyaris jatuh.
Kelima jemari lentik milik Sakura meraih kain srpai, lalu mencengkramnya erat— hingga kusut. Berulang kali ia menggigit bibir bawah, mendongakan kepala saat di rasa barang milik pria di atasnya melesak semakin jauh sampai ke dalam. Bahkan sampai menyentuh titik terdalamnya.
Naruto menahan desahannya. Ia menunduk dan mendekat pada wajah Sakura, mengamati wajah bersemunya yang nampak sedang menahan rasa nikmat duniawi setelah tadi mendapat rasa perih saat baru memulai penyatuan mereka.
Pegangan Sakura berpindah cepat, dan mencekal bahu basah Naruto. Lebih tepatnya, ia mencengkram bahu sang Suami. Menancapkan kuku-kuku panjangnya di sana, hingga meninggalkan goresan tipis bekas cakaran.
Naruto kembali berdesis. Ternyata semenyenangkan ini melihat Sakura 'lumpuh' di bawah kendalinya. Wanita itu terlihat manis dengan wajah yang dilelehi peluh dan pipi merona, lalu mata terpejam dan bibir mungilnya yang terbuka. Alunan merdu suara desahan terus keluar dari bibirnya yang membengkak. Suara lembutnya terdengar bagaikan musik pengiring di telinga Naruto untuk menambah kecepatannya dalam berpacu.
Naruto seperti orang gila, tak bisa berhenti menggeram dan menatap tajam wajah sayu Sakura. "Aahhh~" Kembali suara manis perempuan itu menggelitiki telinga Naruto, membuat hasratnya bangkit berlipat-lipat. Ia menginginkan Sakura. Sangat menginginkan perempuan itu.
Naruto bergerak cepat, bahkan hingga ranjang ikut bergoyang karenanya. Ia memacu wanita bertubuh mungil di bawah tindihannya dengan brutal, dan desahan manja terus menusuk-nusuk masuk ke dalam indra pendengarannya.
Manisnya dirimu, Sakura Namikaze...
Sakura meraih leher Naruto, lalu bergelayut di sana. Tak henti mendesah, sampai membuatnya tak tahan kemudian meraub bibir merah Naruto. Melumatnya rakus sebagai tempat pelampiasan kenikmatan yang di rasakan olehnya. Benar-benar nyata.
Hentakan Naruto mengeras. Ia tahu, bahwa tak lama lagi Sakura akan melepaskan klimaksnya lagi. Dengan begitu desakannya semakin dalam, menghujami Istrinya dengan tusukan keras.
Sakura meninggalkan bibir Naruto, kemudian melenguh panjang sambil menyebut nama Suami pirang tercintanya. Tengkuk pria itu ia cengkram, dan bagian pinggangnya ia lingkari menggunakan betis. Mendesak milik Naruto agar tertanam jauh di dalam rahimnya.
Naruto tersengal kecil. Ia tersenyum puas melihat Sakura kembali mendapatkan orgasmenya. Wanita itu nampak sangat menikmati pencapain puncaknya, bahkan hingga enggan untuk melepaskan lingkaran betis mulusnya dari pinggang Naruto.
Kelopak lentik Sakura terbuka ketika merasakan nafas hangat dari Naruto berhembus di kulit pipinya yang merona. Begitu membuka mata sepenuhnya, tatapan teduh langsung menyapa Sakura. Menyambut kedatangannya setelah berkelana selama beberapa detik di dunia penuh kenikmatan.
Perempuan itu tersenyum malu-malu. Naruto terkekeh geli melihatnya. Lelaki menyatukan kening mereka. "Naru.. aku mencintaimu. Sangaat mencintaimu." Sakura menyentuh kulit pipi Naruto, dan mengelusnya lembut.
Naruto diam tak menjawab. Namun hanya dengan caranya menatap, menyentuh. Sakura dapat mengerti semua itu, bahwa Naruto juga mencintainya. Ia tahu itu. Tentu. Setiap perlakuan pria itu kepadanya memang nyata, ia sampai kesulitan mempercayainya.
Naruto memang sosok lelaki paling berbeda yang pernah ada. Dia begitu 'unik', sehingga mampu membuat Sakura tergila-gila. Merasakan suka, mengagumi hingga berujung pada cinta, lalu mendapat tambahan sayang. Sakura mengalaminya, dan itu berkat kehadiran sosok Naruto dalam hidupnya.
Wanita manapun pasti beruntung bisa memiliki Naruto. Sakura satu-satunya yang menjadi wanita beruntung itu. Ia memiliki Naruto seutuhnya. Mendapat cinta dan kasih sayangnya, juga mendapat perhatian penuh darinya, dan kelak akan menjadi Ibu dari anak-anaknya. Anak-anak mereka berdua.
Tapi, apakah mungin Sakura bisa bidup bahagia dan tenang bersama Naruto? Akan ada rintangan yang berdiri kokoh yang akan menjadi penghalang hubungan mereka. Pihak dari Sakura. Keluarga wanita itu menentang keras hubungan mereka, dan ingin Uchiha yang menjadi menantu Kizashi Haruno. Entalah kalau dengan Mebuki Haruno.
Sekalipun seperti itu keadaan yang akan terjadi nanti, Sakuta akan tetap mempertahankan Naruto. Suami yang ia cintai lebih dari apapun. Dan keputusannya sudah bulat. Pilihannya tetap jatuh kepada Naruto.
Di buang keluarga? Tidak di akui sebagai anak oleh kedua orang tua? Semuanya persetan untuk Sakura. Naruto adalah tempat untuknya bertahan hidup, dan ia mempertahankan hidupnya hanya untuk Naruto Namikaze. Cinta pertama dan terakhirnya. Selamanya akan tetap seperti itu.
Bagi Sakura, Naruto adalah segalanya bagi dirinya. Dan bagi Naruto, Sakura adalah alasan untuknya bertahan hidup lebih lama lagi. Keduanya sama, mereka saling melengkapi satu— sama lain.
Bagaikan Langit dan Bumi...
.
.
.
.
To Be Continue...
.
.
.
Uumm.. ano... Rasa-rasanya, saya mau pensiun. Tapi setelah melunasi hutang-hutang fic multi-chap...
Tapi, itupun kalo saya bisa MOVE ON :D :D
