Only you Dear |Chapter 4
Disclaimer : Masashi Kishimoto. Pairing : NaruSaku-ever. Rated : T-M (for language, lime/lemon, etc). Genre : Romance and hurt/comfort. Warning : OOC. Typos. Mainstream theme. Boring.
Story by Hikari Cherry Blossom24
.
.
.
Don't like? DON'T READ!
Enjoy It!
.
.
.
.
.
.
Tiing.. toong...
Aktifitas Sakura langsung terhenti ketika bel pintu berbunyi. Wanita itu lekas berbalik membelakangi kitchen sink dan meninggalkan cucian piringnya untuk membuka pintu. Sedikit terheran, karena tak biasanya tamu Suaminya datang sepagi ini. Kalaupun itu Shino dan Kiba, rasanya mustahil— mengingat tadi mereka baru saja pulang bersamaan dengan Naruto berangkat kerja.
Sakura mengelap tangannya yang basah menggunakan handuk lap, lalu bergegas menghampiri pintu. Begitu tiba, ia langsung membukanya.
Cklekk!
Seseorang nampak tengah berdiri— menunggu di luar sana...
Pintu telah terbuka sepenuhnya. Kontan, Sakura terlihat kaget ketika mendapati seseorang di depan pintu kediamannya. Dia seorang wanita. Berambut pirang dan memiliki iris hijau emerald yang menyala terang, sedang menatapnya dengan mata bergetar.
Sakura terdiam membatu. Ia tak bisa berkata-kata. Ia terlalu shock melihat perempuan itu. Rasa terkejutnya tak kunjung sirna, dan bertambah kaget pula ketika wanita itu langsung menghambur ke dalam pelukannya.
"Sakura!"
.
.
.
Kizashi duduk di kursi putarnya seraya memijit pelipis. Matanya terpejam, dan keningnya berkerut. Ia lelah fisik, lelah juga dengan batin. Identitas Naruto Namikaze telah ia dapatkan secara lengkap, dan Sakura salah mencari tempat pelarian, membuatnya cemas karena memikirkan hal tersebut.
Naruto Namikaze hidup dalam kesendirian. Tidak punya siapa-siapa. Tidak ada orang tua, apa lagi Saudara/Saudari. Pria muda itu hidup sebatang kara, tak mempunyai status yang jelas. Sejak kecil dia sudah sendirian, dan tumbuh besar di panti asuhan.
Dia terkatung-katung...
Menurut Kizashi, tak sepantasnya Sakura meninggalkan Sasuke dan memilih Naruto. Kurang sempurna seperti apa lagi Sasuke? Dia kaya, terlahir dari keluarga berada. Punya harta berlimpah, dan punya banyak cabang perusahaan hampir di setiap sudut kota Jepang. Kalau paras Sasuke memang kalah tampan dari Naruto, tapi kalau soal kekayaan. Naruto berada jauh di bawah untuk menyaingi kekayaan Sasuke.
"Dasar anak bodoh!" Kizashi mengumpat geram. Sakura sudah keterlaluan. Mau-maunya dia memilih lelaki pecundang seperti Naruto, dan begitu bodohnya dia tak memilih Sasuke yang memiliki hidup sempurna. Masa depannya akan lebih cerah bila dia menyandang nama belakang Uchiha.
Tokk tokk!
Kizashi berdecak malas. "Masuk!" Sahutnya antara sudi tak sudi. Ia lelah dan butuh istirahat, tapi selalu saja ada yang datang mengganggu. Menolak tak mungkin pula, mana tahu ada urusan penting yang ingin di sampaikan oleh si pengganggu.
Cklekk!
Begitu pintu terbuka, seseorang langsung masuk dan segera menghampiri meja Kizashi. "Selamat siang, Kizashi-san!" Sapa orang itu dengan nada datar.
Merasa familiar dengan suara dingin tersebut. Kontan, kepala Kizashi yang awalnya menunduk langsung terangkat cepat. Matanya melebar, dan raut mukanya menampakan keterkejutan— melihat sosok lelaki muda berdandan emo di depan mejanya.
"Sasuke!" Lelaki setengah baya itu merespons— sedikit terkejut. Merasa sedikit aneh, karena tak biasanya Sasuke datang berkunjung sendiri. Terutama ketika datang ke perusahaan Haruno.
Putra Uchiha itu tersenyum tipis. "Bagaimana kabar Anda?" Tanpa meminta izin, ia langsung duduk di kursi yang terletak tepat di depan meja Kizashi.
"Baik. Kau sendiri?" Kizashi balik bertanya.
Sasuke mengangkat bahu. "Seperti yang kau lihat.." Jawabnya cuek. "Aku baik." Imbuhnya lagi.
"Mau Kopi?"
Pria muda berkulit putih itu menggeleng. "Tak usah repot-repot. Aku baru saja minum tadi.." Kizashi mengangguk kecil, lalu tangannya bergerak dan menyodorkan lembaran kertas putih di hadapan Sasuke.
Sasuke menyeringit. "Apa ini?" Ia mengambil kertas yang di serahkan kepadanya. Mengamatinya lama sebelum membaca barisan huruf yang tercetak dari alat canggih tersebut.
"Identitas lengkap Naruto Namikaze."
Sasuke merespons-nya dengan deheman. Membenarkan letak kertas tersebut dalam pegangannya, lalu mulai membaca isi huruf yang ada di dalamnya. Tak lupa, dengan angkuhnya ia menumpukan satu kaki di atas satu kakinya yang lain. Kizashi hanya acuh, dan membiarkan Sasuke mengetahui sosok Naruto Namikaze secara lengkap.
Beberapa menit beralalu, dan telitian manik kelam milik Sasuke pada isi kertas di tangannya telah usai. Kertas putih tersebut ia letak kembali di atas meja, kemudian menatap datar pada Kizashi.
"Serampangan tidak pula." Pria muda itu berdesis. Menurutnya, begitu sulit menilai seorang Naruto Namikaze. Dia lelaki tak berstatus jelas, namun hidupnya cukup mapan untuk di katai anak serampangan. Dia memiliki jiwa berpendidikan tinggi, dan dia bersikap selayaknya lelaki terhormat.
Kizashi berdiri. "Tak peduli apapun, tetap saja kita harus menyingkirkan dia agar Sakura menjadi milikmu.." Ia melangkah pada letak dinding kaca.
Sasuke kembali tersenyum. "Perlu 'kah aku habisi dia?" Matanya bergerak, dan melirik punggung lebar Kizashi yang tengah membelakanginya.
"Aku serahkan semuanya kepadamu."
Seringai Sasuke tercipta. "Well. Semua akan beres dalam waktu dekat." Di balik kalimat datarnya, pria itu memendam nada penuh dendam. Ia benci kepada Naruto Namikaze, karena Arsitek muda itu nama baiknya tercoreng. Kesalahan tersebut masih belum cukup untuk menyudutkan Naruto. Gara-gara dia, ia jadi gagal menikah. Gagal memiliki Putri cantik Haruno, dan gagal menjadikan perempuan itu sebagai pendamping sepanjang hidupnya.
Yah.. Sasuke terlanjur tertarik kepada Sakura. Ia menginginkan wanita bermahkota pink itu. Sangat menginginkan dirinya yang nampak sempurna dan begitu menggoda di mata.
.
.
.
"Sudah! Pulanglah sana, aku sudah memesan Taxi untuk Ibu.." Sakura mendorong-dorong punggung Mebuki sembari tersenyum kecut. Mau tak mau, ia telah membuat wanita setengah baya itu terdorong dengan terpaksa.
Mebuki menggapai sisi meja yang terletak tak begitu jauh dari keberadaan pintu. "Sakura!" Ia lekas berbalik, menghadap ke arah Sakura sepenuhnya. "Apa kau bahagia hidup bersama laki-laki itu? Apa dia bersikap baik kepadamu? Dia tak pernah memukulmu 'kan?"
Sakura memutar bola mata bosan. "Ibuuu... sudah berapa kali aku bilang. Naruto baik, sangat baik. Dia menjalani tugasnya sebagai seorang Suami dengan pemikiran dewasa. Dia mencintai dan menyayangiku, dia juga menafkahiku lahir dan batin. Hidupku terpenuhi dengan cukup, bahkan sampai melewati batas." Ia menjelaskan panjang lebar, hingga nyaris tak bisa bernafas. "Aku sangat bahagia hidup bersama Naruto.
Mebuki tersentuh mendegarnya. "Ooh.. putriku!" Ia segera meraih kepala Sakura. Mendekap perempuan itu seraya memberi kecupan di pucuk kepala merah mudanya. "Ibu turut bahagia bila kau bahagia." Dekapannya kian mengerat.
Sakura tersenyum. "Naruto sumber kebahagiaanku. Aku sangat mencintai dia, dan aku rela melakukan apapun demi bisa bersama Suamiku. Ibu harus tahu itu." Paparnya pada sang Ibu, kemudian melepaskan pelukan singkat mereka.
"Sepertinya Suamimu memang orang yang sangat baik ya. Lain kali tolong pertemukan Ibu dengan dia, Ibu ingin melihat seperti apa sosok Arsitek itu secara nyata.." Mebuki tersenyum jahil. "Apakah rupanya sama persis dengan semua ceritamu." Ia terkikik geli begitu mendengar dengusan.
Sakura cemberut. "Lihat saja nanti. Ibu pasti akan langsung jatuh cinta saat melihat pesona tampan dari Suamiku yang sexy itu." Ia menegakan tumbuh pendeknya.
Mebuki tertawa pelan. "Mana mungkin Ibu jatuh cinta kepada Suami dari putri Ibu sendiri." Ujarnya sambil cekikikan.
Sakura ikut tertawa cekikikan. "Cukup Ibu! Sekarang pulangkah, kasihan Taxi yang menunggu di luar. Sudah lama loh." Kembali Sakura menggapai punggung kecil Mebuki, lalu mendorong-dorongnya agar keluar.
Mau tak mau Mebuki akhirnya keluar dari kediaman Sakura, dan kini tengah berdiri di lorong koridor apartement. "Katakan kepada Ibu bila kalian membutuhkan sesuatu."
Sakura mengedus tak suka mendengarnya. "Iya.. iya. Sekarang pulanglah, aku harus masak makan siang untuk Suamiku." Lagi-lagi ia 'mengusir' Ibunya agar lekas pulang.
Mebuki cemberut. Tak berselang lama mengambek, ia langsung di kejutkan dengan tindakan Sakura. Genggaman tangannya di sumpal oleh sesuatu. "Hey! Ap—"
"Ibu, terima saja! Itung-itung untuk mengurangi pengeluaran Ibu buat bayar Taxi." Sakura terkekeh. Menyadari sang Ibu hendak protes, ia langsung menarik lengannya kemudian mengajaknya berjalan menyusuri koridor.
Mebuki mendengus. Sakura memberinya ongkos Taxi. Memang dia pikir ia tak membawa uang apa? Dasar! Tentu ia membawa uang, malah tak sebanding dengan pemberian dari Sakura untuk membayar ongkos Taxi. Tapi tak apalah. Toh, ia juga ingin merasakan uang dari hasil kerja keras menantunya.
.
.
.
Sakura menggerutu sebal, dan berulang kali mengerahkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Dua jempol tangan miliknya bergerak dengan lihai, mengutak-atik setiap tombol yang ada pada stick PS dengan sentuhan kasar. Ia memekik kesal ketika karakter yang ia gunakan ambruk setelah mendapat terjangan telak dari lawan.
"Yeahh!" Kepalan tangan Naruto terangkat di udara. "Nyawamu tinggal sedikit sayang." Ujarnya girang bukan kepalang.
Sakura kembali memiringkan badannya ke arah yang bergantian, hingga melindungi Naruto yang berada di belakangnya. Pria itu berkerut, sedikit kesal dengan perempuan itu. Tentu ia kesal. Sudah kaki bersilanya di jadikan tempat duduk, dan sekarang si penduduk tersebut malah keasyikan melindungi pandangannya dari layar televisi.
Sakura menghempaskan bokongnya di atas pangkuan Naruto, lalu kian beringas dalam menekan-nekan tombol stick. Seperti hendak menghancurkannya. Bibir mungil perempuan itu mengerucut sebal. Naruto keterlaluan, dia tega tak memberinya kesempatan untuk menang. Sekali sajapun tak apa.
"Naruto! Kau curang!"
Lelaki itu tertawa. "Dari mana datangnya curang? Sejak tadi aku main secara murni." Ia memapar di sela kesibukan 'membantai' karakter milik Sakura tanpa ampun.
"Memang curang. Buktinya saja kau tak memberiku kesempatan untuk bangkit dan membalas serangan darimu." Kepala pink Sakura maju, mencondong lebih dekat pada layar televisi.
Naruto tersenyum puas. "Itu bukan curang namanya, tapi gesit dan hebat!" Jawabnya menyangkal. Tentu curang, karena sejak tadi Sakura tak mendapat kesempatan untuk balas menghajarnya.
Wanita itu mendengus sedikit lebih keras. Naruto tertawa, kemudian kembali mengutak-atik stick di tanganya. Melayangkan tinju lalu menerjang katakter milik Sakura hingga terkapar. Dia babak belur.
WARNING! DANGER!
Dua teks nampak menimpa karakter milik Sakura, membuatnya kesal makin ketara. Ia tak punya banyak waktu untuk balas menghajar karakter milik Naruto. Nyawanya kritis, tinggal hitungan detik untuk LOSE!
Awaslah!
"Tak mau mengalah jatah malam ini hilang!"
Enam kata tanpa titik tanpa koma mengalun dari bibir mungil Sakura.
Tak hanya karakter milik Naruto saja yang langsung berhenti bergerak seketika, namun juga dengan si pemakai. Sakura menyeringai lebar setelah berhasil mengambil alih permainan, dan bergantian menghajar karakter milik Naruto dengan penuh dendam.
Pria Namikaze itu sweatdropp dengan wajah blank. Apa-apaan cara Sakura mengancam? Sangat konyol! Ia bahkan tak bisa berkutik gara-gara mendapat ancaman gila itu. Kali ini giliran Sakura yang keterlaluan. Sangat keterlaluan malah.
Satu menit berlalu, dan Naruto telah kalah telak oleh Sakura. Miliknya ambruk dengan nyawa nol. Sedangkan milik Sakura, ia yang dengan bangga memasang pose sombong dan memamerkan kemenangannya. Padahal dengan cara curang. Tak curang di game, tapi bermain curang di kenyataan.
"Horeeee... aku menaaang!"
Sakura meletakan stick di tangannya di dekat kaki Naruto. Mengangkat tinggi kedua tangan lalu mendorong dada Naruto menggunakan punggungnya hingga mereka sama-sama terbaring. Tawa cekikikannya terdengar jelas, membuat Naruto mendengus geli karenanya.
"Kau curang!"
Sakura bergeming, bergerak cepat menukar posisinya dari membaringi badan Naruto menjadi berhadapan dan bertatap muka. Ia menindih tubuh berotot lelaki itu, dan menatapnya dari atas. "Curang bagaimana?" Senyum puasnya terpamer bangga.
"Kemenanganmu tidak murni. Kau mengancamku, dan itu berdampak pada permainanku." Pria itu memapar sembari menatap paras cantik Sakura dari bawah.
"Itu salahmu sendiri. Siapa suruh bermain curang, tak memberiku kesempatan untuk bangkit dan membalas seranganmu dan...blaa blaa blaa blaaa…"
Wanita itu mengoceh panjang lebar di atas tubuh Naruto, menjelaskan kemenangannya secara rinci. Bibir mungilnya nampak bergerak komat-kamit, dan raut wajah yang di tunjukan olehnya benar-benar terlihat lucu. Naruto sampai dibuat gemas karenanya. Sakura hanyut dalam obrolannya sendiri, dan tak menyadari tatapan Naruto terhadapnya yang bersorot begitu teduh.
Pria pirang itu hanyut dalam dunianya. Fikirannya melayang jauh ke masa-masa lampu. Mengingat kembali seperti apa sosok Sakura saat di awal pertemuan mereka di sebuah resepsi pertemuan, dan di lanjutkan lagi pada waktu itu ia datang ke perusahaan Haruno untuk melamar kerja di sana.
Seiringnya waktu berjalan, akhirnya sisi 'berbeda' dari Sakura mulai terlihat. Naruto menyadari dari setiap pergerakan wanita itu. Dari cara dia menatap, mengalunkan kalimat lembutnya, tersenyum, dan caranya memerhatikan. Semuanya begitu berberda, dan itu di tujukan hanya kepada dirinya seorang. Tidak dengan yang lain.
Naruto dapat membaca apa yang ada di dalam hati Sakura. Ia langsung mengerti kala itu juga. Tahu bahwa ternyata perempuan muda itu menaruh perhatian lebih kepadanya, itu semua dia lakukan karena berujung pada perasaan 'jatuh cinta'. Tanpa di jelaskan lagi, Naruto sudah tahu semuanya.
"Kau bermain curang di game, dan aku bermain curang di nyata. Jadi adil 'kan?"
"..." Tak ada jawaban.
Dahi lebar Sakura berkerut. Penasaran, iapun langsung menatap Naruto. Pria itu diam dengan mata terbuka, dan tak lepas dari memerhatikan wajahnya yang memanas kala itu juga. Kenapa dengan Suaminya itu?
"Anata, ada a—"
"Berjanjilah satu hal kepadaku!"
Pertanyaan Sakura gagal terucap. Naruto mengintrupsinya dengan cepat. Mata bulat miliknya mengerjap, dan balas menatap pandangan lekat dari iris shappire tajam milik pria di bawahnya. Ia terhipnotis kala itu juga.
Sakura membaringkan kepalanya di atas dada Naruto. "Janji apa?" Matanya terkatup, menikmati belaian terhadap kepala gulalinya.
"Janji untuk tidak akan pernah melakukan tindakan nekat lagi."
Sakura Namikaze mengulum senyum. "Tindakan nekat?" Ia dapat merasakan anggukan Naruto. "Perasaan aku tak pernah bertindak nekat?" Kali ini telinganya menangkap suara dengusan.
"Jangan membuang badan!"
Sakura bergeming lalu kembali menatap wajah Naruto dari jarak dekat. Ujung hidung keduanya saling bersentuhan, nafas mereka juga saling bertabrakan. "Badan dan hatiku masih di sini. Bersamamu." Ia mencubit gemas hidung lancip Naruto, menyebabkan tercipta warna merah yang nampak begitu samar di sana.
Tangan Naruto bergerak menyelipkan helaian merah muda milik Sakura ke belakang telinganya. "Aku tahu." Kecupan sekilas ia berikan kepada bibir mungilnya yang ranum itu. "Berjanjilah kepadaku!" Pintanya lagi.
Sakura mendengus geli. "Iya, baiklah. Aku tidak akan bertindak nekat lagi." Balasnya ogah-ogahan.
"Janji, walau apapun yang terjadi!?" Naruto mendesak.
"Tidak janji." Sakura terkikik jahil.
"Sakura!"
Wajah Sakura nampak cemberut ketika mendapat teguran serius tersebut. "Iya."
"Janji!?"
"Iya."
"Bilang janji dulu!" Paksa sang Suami.
Kini Sakura menatap sebal pada Naruto. "Iya janji." Ucapnya kemudian.
Naruto tak puas. "Kau janji!?" Ulangnya lagi.
"Iyaaa... aku janji."
"Janji seumur hidup!" Naruto menggerak-gerakan jari kelingkingnya, meminta kaitan dari Sakura.
Perempuan itu tertawa cekikikan. "Janji seumur hidup." Jari kelingking mungilnya mengait kelingking milik Naruto. Ia tersenyum lebar hingga mata bulatnya menyipit.
Naruto tersenyum. "Sumpah!" Tawanya langsung gelak ketika mendapati wajah cemberut Sakura. "Jelek! Seperti Nenek-nenek." Ejekannya mengalun.
Sakura mendengus lebih keras. "Menyebalkan! Naruto menyebalkan!" Tinju kecilnya terkepal, lalu memukul-mukul dada bidang Naruto dengan manja.
Pria itu tertawa geli, dan membiarkan dadanya menjadi korban dari pukulan bertubi Sakura. Ia berbaring sambil merentangkan tangan, tertawa dengan tatapan lurus ke atas. Menatap langit-langit ruang tengah.
Lelah memukuli dada sang Suami, akhirnya Sakura ambruk di atas tubuhnya. Ia terbaring dalam keadaan memeluk erat sisi pinggang Naruto. Menjadikan dada bidangnya untuk menumpukan kepala, dan terpejam nyaman ketika wangi maskulin menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Rasanya selalu nyaman ketika berada dalam dekapan Naruto.
Hangat dan terlindungi...
.
.
.
Wanita itu membenarkan letak kepalanya di dada telanjang sang pria, dan meletakan telapak tangan lembutnya di atas permukaan hangat tersebut. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk segaris senyum bahagia. Iris emerald miliknya bergerak, lalu melirik lelaki yang menjadi 'gulingnya'.
Tawa geli Sakura mengalun ketika suara dengkuran halus terdengar di telinganya, hingga ia tak mampu untuk tak terkikik. Apa selelah itu 'kah Suaminya? Sampai tidur mendengkur seperti itu. Sakura bergeming, dan menempelkan hidung lancipnya di dada Naruto lantas menyesap wanginya yang berbau lembut.
"Hhmmh~" Perempuan itu nampak hanyut dalam dunianya. Naruto memang selalu harum, hingga kerap membuatnya enggan untuk melepaskan hidung ketika sudah terjerat dengan wangi maskulin khas Naruto. Suami pirang tercintanya.
Sakura berbaring gusar kala keresahan bergelayut di hatinya secara tiba-tiba. Apa ini? Kenapa ia jadi kekutan seperti ini? Tidak! Bukan takut karena melihat hantu, tapi rasa takut itu berujung pada rasa takut untuk kehilangan Naruto. Ada apa? Kenapa hatinya di hantui dengan rasa-rasa cemas yang mendalam?
Sakura berdecak. Bodoh sekali! Bagaimana bisa ia mempunyai fikiran-fikiran 'tak mungkin' seperti itu. Ia yakin jutaan persen, Naruto pasti tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Apa lagi sekarang mereka sudah menikah, dan telah terikat dalam benang merah.
Wanita itu bergegas beranjak, lalu mendekati wajah Naruto yang nampak damai saat sedang tertidur pulas. Ia tersenyum geli. Suaminya itu memang tampan, terutama saat tidur. Wajahnya jadi terlihat polos, manis, tampan dan imut secara bersamaan. Imut, karena setiap kali tidur bibir tipis lelaki pasti terbuka. Tak lebar, tapi kecil. Sangat kecil.
Sakura mengecup kening Naruto, setelah itu beralih lagi pada letak bibir merahnya. Mengecupnya juga, dan sedikit memberinya lumatan lembut. Naruto tak tergugah, tidurnya terlampau nyenyak hingga enggan untuknya membuka mata.
Sakura menjauhkan bibirnya dari Naruto, kemudian kembali pada posisinya tadi. Menjadikan dada telanjang Suaminya untuk bantal kepalanya, dan memeluk bagian pinggang lelaki itu. Hidungnya sengaja menyelip di lekukan leher Naruto, agar penciumannya mendapat keleluasaan lebih untuk menyesap wangi lembut dari kulitnya.
Sakura bergegas ikut tidur untuk menyusul Naruto yang sudah lebih dulu pergi dan menunggunya di alam mimpi. Mereka akan berkelana di sana, menghabiskan waktu di sana untuk melabuhkan cinta mereka berdua. Saling berbagi kecupan, lalu berbaring bersama di bawah hamparan awan putih tanpa sinar Matahari.
Menyenangkan sekali^^
.
.
.
"Namikaze-san, Anda di panggil untuk menghadap."
Naruto bergegas bangkit meninggalkan kursinya, dan langsung melangkah tanpa berkata apapun. Menyempatkan tersenyum samar begitu melalui Aoba yang balas tersenyum padanya.
Setelah keluar, tapak sepatu milik pria Namikaze tersebut terdengar mengetuk-ngetuk lantai koridor yang sepi akan karyawan. Tentu sepi, sebab mereka semua tengah sibuk bekerja di ruang yang berbeda.
Begitu Naruto nyaris tiba di tikungan koridor, ia di kejutkan dengan tarikan secara tiba-tiba terhadap lengannya. Tentunya ia langsung terkejut, di tambah lagi ketika ada dua orang mencekal erat lengannya hingga ia tak bisa bergerak meronta. Tubuh 'terjeratnya' di seret paksa memasuki lift kotak yang tengah kosong
Pintu lift tertutup secara otomatis...
"Hey! Apa-apaan ini!"
Seseorang menampakan diri di hadapan Naruto. Langsung mencekal kemeja lelaki pirang itu, lalu mempertemukan pandang mata mereka dari jarak dekat. Alis tipis Naruto saling bertaut, terangkat tinggi. Wajah lelaki itu kian mendekat pada Naruto, menyahutkan pandangan mata mereka yang sama tajamnya.
Onyx kelam menatap blue safir dengan sorot penuh dendam...
.
.
.
Srekk!
"Aahh!" Pisau tajam itu lepas dari pegangan Sakura.
Perempuan itu berjengit, segera mengangkat tangan lalu menekan kuat jari telunjuknya yang mengeluarkan darah karena tanpa sengaja teriris pisau. Ia meringis pelan, dan bergegas menghisap jarinya yang terluka.
"Sshh!" Wanita berdesis. Jarinya terluka dan mengeluarkan darah, tapi entah kenapa rasa perih tak menyerang jarinya. Anehnya, ia malah merasakan perih yang ketara di relung hatinya.
Ada apa ini? Kenapa?
"Ughh—" Sakura terduduk di lantai ketika sisi perut bagian kirinya terasa sakit. Sangat sakit. Ia sampai meringkuk karena sangking sakitnya. "S–sakit sekali." Rintihnya pelan.
Kriing.. kriing!
Telepon rumah berdering keras...
Sakura berdiri dengan tergopoh, lalu melangkah pelan menuju tempat telepon rumah terletak. Bibirnya meloloskan ringisan, namun terdengar halus.
Menggenggam lemah batang telepon, perempuan itu memposisikan speaker telepon di telinganya. "Hallo!" Sapanya lebih dulu.
Orang di seberang sana balas menyapa. 'Maaf, ini dengan siapanya Tuan Namikaze?'
Sakura berkerut ketika mendapat pertanyaan dari si penelfon. "Saya Istri Tuan Namikaze. Ada apa?" Keresehan mulai menghantui hatinya.
'Nyonya Namikaze, Suami Anda..'
Mata Sakura membulat. Pegangannya terhadap gagang telepon lepas tanpa di sadari, membuatnya jatuh lalu terjuntai di kaki meja. Tangan mungilnya bergetar, dan ia langsung membekap mulu untuk menahan tangis. Tak membuang banyak waktu, wanita Namikaze itu langsung berlari cepat dan menghiraukan penampilannya saat ini.
Sakura keluar sambil berlari. Jantungnya berdebar keras, dan hatinya di selimuti dengan kekhawatiran yang sangat— mendalam. "Naruto.." Panggilan cemas tak terkiranya mengalun, menyebut nama sang Suami di tengah lari berpacunya.
'Nyonya Namikaze, Suami Anda korban dari tindakan kriminal, dan sekarang Tuan Namikaze sedang dilarikan ke Rumah Sakit.'
.
.
.
.
To Be Continue...
.
.
.
Apa di sini cuma saya sendiri seorang Author yg menggemari karya sendiri?
Jujur lohh, gk tahu kenapa saya bisa sebegitu sukanya sama fanfic ini. Emang sihh terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya. Rencananya nanti kalo fanfic ini sudah END, saya mau bikin sequelnya. 2 sekaligus…Sequel terpisah dengan judul dan tema yg berbeda. Bagian 1 rated T, bagian 2 rated M..
Sequel pertama menceritakan tentang Sakura yg sedang Hamil tua, ceritanya akan berlanjut sampai Sakura melahirkan. Dan untuk sequel bagian dua, itu saya buat khusus untuk keluarga kecil Namikaze. Anak NaruSaku udah gede dalam fanfic sequel yg bagian dua. Umurnya sekitar 13 tahun. #NgadainEventsendiri :'V
Tapi… itupun kalo jadwal saya luang yahhh ^_^
