Only you Dear |Chapter 5
Disclaimer : Masashi Kishimoto. Pairing : NaruSaku-ever. Rated : T-M (for language, lime/lemon, etc). Genre : Romance and hurt/comfort. Warning : OOC. Typos. Mainstrean theme. Boring.
Story by Hikari Cherry Blossom24
.
.
.
Don't like? DON'T READ!
Enjoy It!
.
.
.
.
.
.
Tapp.. tapp.. tapp!
Telapak sandal milik Sakura menapaki lantai koridor Rumah Sakit dengan pijakan keras. Menghiraukan beberapa Suster yang tertabrak tanpa sengaja olehnya, ia tetap tak menghentikan larinya. Ada yang terhuyung, ada yang jatuh terduduk, dan ada pula yang terkejut hingga menjatuhkan nampan di tangan tanpa sengaja karenanya.
Liquid Sakura berhamburan, dan membasahi wajah sebabnya. Larinya kian bertambah cepat ketika netra miliknya mendapati letak kamar— ruang perawatan Naruto.
"Naruto...!" Seorang Suster yang kebetulan ada di sana langsung menahan Sakura agar tak masuk dan mengganggu pertolongan terhadap pasien. "LEPASKAN AKU! BIARKAN AKU MELIHAT KEADAAN SUAMIKU!" Ia kalap, meronta dan berteriak lantang.
Beberapa pasang mata mengarahkan tatapan kepada Sakura...
"Nyonya, Anda harus bisa tenang dan jangan mengganggu perkerjaan dokter demi keselamatan Suami Anda." Suster manis itu membujuk untuk menenangkan. Berbicara dengan logat ramah dan meyakinkan.
Alhasil. Sakura langsung tenang seketika, dan berhenti meronta sepenuhnya. "K–kumohon, tolong s–selamatkan Suamiku." Suaranya terdengar serak dan patah-patah. Ia merosot dengan perlahan, hingga kemudian terduduk lemah di lantai di sela menghentikan tangis.
Cukup sudah Sakura menangis tanpa henti selama dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, dan sekarang ia harus bisa tenang demi Naruto.
Suster berseragam serba putih itu ikut berjongkok. "Kami akan berusaha semampu kami untuk menyelamatkan Suami Anda, Nyonya." Ucapnya di tengah menuntun Sakura agar berdiri.
Sakura menggeleng keras. "Tidak! Kalian harus bisa menyelamatkan Suamiku. Harus!" Desaknya memaksa sembari menurut ketika di ajak berdiri.
Suster muda itu mengerti seperti apa perasaan Nyonya Namikaze itu, dan ia harus bisa menenangkannya untuk saat ini. "Baik Nyonya, kami pasti akan menyelamatkan Suami Anda. Itu harus."
Sakura mengangguk paham, dan menurut saja ketika ia di bawa berjalan menuju letak kursi. "Kalian harus menyelamatkan Suamiku." Ia di tuntun duduk, dan masih mau menurut.
Suster itu tersenyum ramah. "Baiklah Nyonya. Sekarang Anda tunggu di sini ya, sebentar lagi selesai." Setelah mendapat anggukan, ia berlalu meninggalkan Sakura sendirian di bangku tempat tunggu. Perempuan itu terlihat jauh lebih tenang dari sebelumnya, dan akan baik-baik saja bila di tinggal.
Jadi inilah rasa takut yang baru tadi malam menghantui Sakura, yang membuatnya tak bisa tidur dengan tenang. Ternyata rasa kecemasan itu memang benar adanya, buktinya saat ini ia telah mengalaminya secara nyata. Tentu. Karena kejadian ini bukan sebatas mimpi belaka. Sakura tahu itu, dan ia percaya semuanya pasti akan baik-baik saja.
Yah.. semuanya pasti akan baik-baik saja. Naruto tidak akan pergi secepat itu! Dia pasti akan kembali ke dalam dekapannya.
Sakura percaya itu...
.
.
.
Biipp.. biipp! Bipp.. bipp!
Saluran pertanda jantung Naruto berdetak normal tiada lelah berbunyi memenuhi ruangan serba putih tersebut. Sakura duduk di dekat pria yang tengah tak sadarkan diri itu, dan sedang menggenggam erat tangan lebarnya yang terkulai lemah. Tak sekuat kemarin.
Air mata di pipi Sakura mengering, dan hanya menyisakan bekas jejak aliran di sana. Wanita itu sudah tak mampu lagi menangis. Air matanya telah terkuras habis sampai mengering, dan kini tak bersisa untuknya dapat mengeluarkan lagi. Kini ia menatap sembab pada wajah pucat Naruto, dan hanya bisa mengeluarkan tangisnya melalui batin.
Dokter bilang, Naruto mendapat luka tusukan di perut bagian samping kirinya. Untunglah lukanya tak terlalu dalam, dan bisa di selamatkan tanpan menjalani operasi. Mungkin dia bisa sadar setelah melalui masa komanya sampai dua atau tiga hari. Atau mungkin lebih dekat dari perkiraan tersebut.
"Anata..!"
Tega sekali! Sungguh benar-benar orang tak berperasaan yang sampai berani melukai Naruto, membuatnya kritis. Sakura tak habis fikir. Bagaimana bisa orang sebiadap itu menyimpan dendam kepada Naruto. Apa kesalahan Suaminya? Kenapa orang itu sampai tega hendak merenggut nyawa Naruto, hendak merebut lelaki itu dari dekapannya.
Ini tidak bisa di biarkan. Sakura harus bertindak. Secepatnya ia harus sudah mendapatkan bukti, dan akan langsung membalaskan dendam atas perlakuan krimal terhadap Suaminya. Ia tak bisa menerima semua ini. Hatinya bisa tenang kembali tapi itu setelah dendamnya terbalaskan.
Inilah kenekatan Sakura...
"Naruto..sayang. Aku ada di sini bersamamu, selamanya aku akan selalu ada disampingmu." Perempuan itu merunduk lalu memberi kecupan terhadap kening Naruto. "Kau bisa mendengarku sayang?" Ia berbisik pelan di dekat telinga Naruto. "Aku tahu, kau pasti mendengarnya."
Sakura menjauhkan wajahnya dari Naruto, dan kian mengeratkan genggamannya terhadap tangan Naruto. "Sayang. Aku tak bisa diam saja melihatmu seperti ini. Aku harus bergerak cepat, dan segera mendapatkan tanda bukti yang kuat atas tindakan kriminal ini." Nafasnya tertahan, tak sanggup melihat orang yang sangat ia sayangi terbaring tak berdaya dengan mata tertutup rapat.
Sakura melepaskan tangan Naruto, kemudian lekas berdiri. Wajah sebabnya ia usap menggunakan kedua telapak tangan, setelah itu menguncir rambut sepunggungnya dengan gaya ekor kuda. Menatap wajah pucat Naruto dengan sorot lembut, lalu kembali mengecup keningnya.
"Sayang, aku akan kembali secepatnya untukmu." Bisik wanita itu. Menegakan tubuh mungilnya, ia bergegas membuka langkah meninggalkan ruang berbau obat-obatan tersebut. Juga meninggalkan Suaminya yang sedang beristirahat untuk beberapa saat.
Salah satu pelaku penusukan terhadap Naruto tertangkap, dan itu sudah cukup membantu Sakura. Kebetulan sekali, ia sedikit tahu identitasnya. Dia adalah salah satu teman terdekat Sasuke Uchiha, dan pernah ikut menghadiri resepsi pertemuan tahun lalu.
Tak sulit untuk Sakura bertindak bila sudah mendapat 'mangsa'.
.
.
.
Sakura membuka laci dan langsung mendapati sebuah Pistol Browning Hi-power tergeletak di sana. Segera ia mengambil senjata api tersebut, lalu memasukannya ke dalam saku mantel hitam yang membungkus tubuh mungilnya.
Sebelembar foto tergeletak di atas meja, kemudian hilang ketika Sakura mengambilnya, dan di masukan juga ke kantong yang sama.
Wanita berkuncir tinggi itu membuka langkah cepat, dan berjalan menuju letak pintu. Membukanya setelah tiba, kemudian ia tutup kembali dan menguncinya usai dirinya keluar. Sepatu hitam setinggi mata kaki membalut kaki mungilnya, dan membawa si pemakainya berjalan menapaki lorong koridor apartement yang nampak sepi.
Nyonya Namikaze tersebut melenggang, kemudian punggung kecilnya hilang ketika dia memasuki lift kotak. Tak berselang lama, lift tersebut melesat gesit membawa satu orang wanita di dalamnya.
.
.
.
"Suigetsu Hozuki, ada tamu untuk Anda."
Seorang pria bersurai putih— kebiru-biruan yang memiliki dua nama depan dan nama belakang tersebut, lekas berdiri dari duduk bersandarnya terhadap dinding tembok kokoh. Dengan malas-malasan ia menghampiri sel, dan berdiri di sana seraya memegang sel besi penjara.
Polisi membuka satu— persatu gembok besar yang mengunci pintu sel...
Cukup lama menunggu, nyaris mencapai dua menit untuk membuka gembok. Dan kini pintu untuk Suigetsu keluar sudah terbuka sepenuhnya, iapun langsung melewatinya bersama tuntunan seorang polisi.
Suigetsu menyeringit bingung kala baru keluar ia langsung mendapat seorang perempuan di sana. Wajahnya tak terlihat, lindung karena dia sedang menunduk. Tapi rasa-rasanya ia pernah melihat perempuan itu. Mungkin juga pernah mengobrol bersama secara tatap muka dengannya.
Tapi di mana?
Pertanyaan-pertanyaan Suigetsu langsung terjawab ketika wanita di sana menengadah, dan menatap langsung masuk ke dalam matanya. Sepasang bola mata hijau emerald itu nampak berkilat tajam, dan helaian surai pinknya di kuncir tinggi dengan bentuk menyerupai ekor kuda.
'Dia...' Suigetsu membatin terkejut.
"Kalian hanya punya waktu tiga menit."
Diam tak menjawab, Suigetsu menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan Sakura melalui seberang meja. "Sakura Haruno, CEO Haruno Corp. Benar, bukan?" Tanyanya langsung.
"Yang benarnya Sakura Namikaze, Istri dari orang yang telah kau buat koma."
Well. Itu sapaan yang terdengar cukup tajam di telinga. Suigetsu membuang nafas. Perempuan di depannya ini memiliki lidah yang sangat tajam. Ia harus berhati-hati. "Apa yang kau inginkan dariku, Nyonya Namikaze!"
Tatapan Sakura terlihat datar dan dingin. "Siapa Tuanmu!" Emerald menyala miliknya berkilat tajam, menusuk langsung memasuki iris ungu milik Suigetsu.
Lelaki bergigi runcing itu mendengus. "Aku tak punya Tuan." Ia bersedekap, dan membuang muka ke arah lain. Menghindari kontak secara langsung dari Sakura. Tatapan wanita itu terlihat begitu tajam. Setajam tatapan predator, hingga membuatnya meneteskan keringat dingin di sisi wajah.
Kenapa dengan perempuan pink itu?
"Katakan!"
Suigetsu berkerut. "Aku memang tidak punya Tuan!" Oktafnya meninggi.
Sebelah sudut bibir Sakura tertarik ke atas. "Baiknya kau katakan, sebelum orang ini mengalami nasib yang sama dengan Suamiku. Atau bahkan akan lebih parah dari yang kau lakukan kepada Suamiku." Tangannya memanjang, dan menyodorkan selembar foto di atas meja.
Bola mata Suigetsu bergerak menuju ke sudut, melirik pada selembar foto yang tersodor padanya. Kontan, matanya langsung melotot lebar. Di sana, di dalam foto tersebut nampak seorang perempuan bermahkota merah, mata yang juga merah, dan di bawah bibir memiliki titik ciri khas. Dia memakai kacamata bertangkai merah.
"Karin!"
Sakura menyeringai tipis. Tak sia-sia ia bekerja hingga larut untuk mengorek-ngorek identitas lengkap Suigetsu. Mulai dari kehidupan sehari-harinya, hingga kepribadiannya. Dan akhirnya ia mendapatkan semuanya secara rinci. Lelaki itu memiliki tunangan, dan mereka akan menikah dalam waktu dekat.
"Siapa Tuanmu yang sudah menyuruhmu untuk mencelakai Suamiku!" Kembali pertanyaan yang nyaris serupa mengalun. Namun kali ini agak berbeda, sedikit mendapat tambahan.
Suigetsu menelan ludah. Terasa berat. Wanita di hadapannya itu memang berbahaya. Sangat berbahaya. "Ss–s–sasuke U–uchiha.." Suaranya menalun dengan patah-patah. Tubuhnya sampai bergetar karena perempuan merah muda itu.
Sakura tak terkejut mendengarnya. Ia tahu, pasti tak hanya satu Tuan lelaki itu. "Siapa lagi!" Desaknya kembali. Nadanya tertekan dalam, hingga terdengar begitu tajam di telinga.
"H–hanya itu."
Sakura memajukan kepala. "Katakan! Siapa lagi Tuanmu selain Sasuke Uchiha!" Foto yang tergeletak di depan mereka ia ambil, lalu ia remukan dalam genggaman kecilnya.
Jantung Suigetsu berdegup kencang. Bagaikan tersambar kilat, ia langsung termundur ketika mendapati tatapan membunuh dari Sakura. Wanita itu melepaskan genggamannya, dan kembali meletakan kertas yang telah membentuk gumpalan kerucut di depan Suigetsu. Foto itu terlihat berbentuk tak karuan lagi.
"Pilih buka mulut atau nyawa tunanganmu!" Kelopak Sakura menyipit tajam. Tatapannya nampak bersungguh-sungguh, tidak main-main untuk masalah seserius ini.
Suigetsu menyadari itu.
.
.
.
Plakk!
Satu tamparan melayang kemudian mendarat di wajah Kizashi, membuatnya tertegun dengan mata mengerjap dan pandangan mengarah ke samping. Mebuki, Istri yang sangat ia cintai menampar keras wajahnya hingga pandangannya terpaling. Rasanya nyeri dan pedas. Ternyata seperti ini rasanya di tampar oleh Istri sendiri.
"Keterlaluan! Kejam sekali kau memperlakukan putriku dengan tindakan seperti itu." Mebuki melempar tatapan terbengisnya kepada Kizashi. Sulit di jelaskan dengan kata-kata, seberapa besar rasa jijiknya melihat wajah lelaki berjiwa pembunuh itu.
Kizashi memicing. "AKU TIDAK MENYAKITI PUTRIKU, TETAPI AKU MENYAKITI LELAKI YANG TELAH MERUSAK HIDUP PUTRIKU! KAU HARUS TAHU ITU!" Suara baritonenya mengalun lantang, dan memenuhi mansion mewah milik Haruno.
"Perusak katamu!" Mebuki mencekal baju Kizashi, menantangnya dengan tatapan tajam. "Mereka sudah menikah.. mereka sudah terikat dalam ikatan suci. KAU JUGA HARUS TAHU ITU!" Dapat di rasakan olehnya, lelaki setengah baya itu terdiam membatu gara-gara ucapannya.
Kizashi terkesiap kala itu juga. Sakura menikah dengan lelaki pecundang itu? Brengsek! Kenapa dia sampai berani melakukan hal sekeji itu tanpa sepengetahuan darinya. Apa putrinya itu sudah gila? Hingga jalan fikirannya buntu dan mau menikah dengan orang berstatus tak jelas itu.
"Anak kurang ajar!"
Mebuki tersentak mendengarnya. Apa ini? Bagaimana bisa Kizashi seperti itu? Bukannya bahagia, tapi ia malah memaki putrinya sendiri. Di mana letak hati dan perasaannya? Kenapa dia bisa sampai setega itu kepada putri semata wayang mereka? Seharusnya dia bahagia karena putrinya bahagia. Bukan malah memakinya.
"Kizashi... kau..." Sulit untuk Mebuki mengeluarkan kata-katanya. Ia terlalu shock. Entah kenapa Kizashi bisa menjadi sosok seorang Ayah yang egois. Di dalam otaknya hanya di penuhi dengan uang, uang dan uang. Dia telah di perbudak oleh uang hingga jiwanya tertanggu untuk memikirkan hal-hal yang waras.
Wanita Haruno itu membekap mulut. Suara tangisnya tertahan. Hasutan apa yang telah di bisikan oleh Uchiha itu? Kenapa Suaminya bisa menjadi gelap hati seperti ini? Kemana perasaan sebagai seorang Ayahnya dulu? Dia yang dulunya sosok Ayah yang baik dan penuh kasih sayang, hingga Sakura kecil begitu kerap mengalunkan 'Ayah' dengan wajah polos dan berseri.
Dulu putri kecil Haruno sangat menyayangi Ayahnya.
Dulu...
..'mungkin' tidak dengan sekarang.
"Pergi saja ke manapun kau mau pergi." Mebuki berlari meninggalkan kamar. "Kau dan putrimu itu sama saja. Kalian berdua gila!" Oktafnya terengar tinggi hingga Mebuki masih bisa mendengarnya walau sudah berada di anak tangga.
Kizashi menghempaskan bokongnya di sofa. "Ini gila!" Nafasnya terbuang secara kasar. Kepalanya pusing. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Kenapa ia bisa sampai melakukan hal tega kepada putri kandungnya sendiri? Melukai lelaki yang sangat di cintai oleh putrinya satu-satunya.
"Maafkan aku.." Kizashi mencengkram sisi kepala. Menyembunyikan wajah gelapnya dengan cara menunduk.
Ini sudah keterlaluan. Karena rasa takutnya akan kehilangan Haruno Corp membuatnya khilaf, membuat jalan fikirannya menjadi buntu. Tak sadar 'kah ia dengan semua tindakannya barusan? Apa yang telah ia lalukan hingga Mebuki nampak begitu kecewa kepadanya? Sungguh, ia benar-benar tak sadar dengan semuanya. Selama ini ia merasa hatinya telah di kendalikan, hingga ia lupa bila sudah melakukan apapun.
Hatinya di selimuti dengan amarah dan rasa takut...
.
.
.
Keterlaluan! Kizashi. Lelaki biadab itu. Dia...
Sakura tak tahu harus melakukan apa lagi. Ia kecewa, terlanjur kecewa. Ayah yang ia cinta sudah dengan tega meremukan hatinya. Melukai Suami yang amat ia cinta lebih dari apapun, dan membuatnya nyaris kehilangan 'sesuatu' yang sangat berharga dalam hidupnya. Ia sangat mencintai dan menyayangi Naruto Namikaze. Lelaki yang baru beberapa minggu tadi menjadi pendamping hidupnya yang sah.
Sakura benar-benar tak habis fikir. Kenapa Ayahnya begitu tega melukai Naruto yang sama sekali tak melakukan kesalahan apapun. Ia yang bersalah atas semuanya. Kabur dari rumah, meninggalkan pernikahan dan mengabaikan Haruno Corp yang sedang berada di ujung tanduk untuk mencapai kebangkrutan. Malang sekali nasib Naruto. Gara-gara keegoisannya lelaki itu menjadi korban.
Sakura menyesal. Tak seharusnya ia melibatkan Naruto dalam masalahnya. Kalau sudah begini keadaannya, ia yang awalnya tak ingin kehilangan Naruto malah menjadi pemicu 'nyaris' kehilangan pria itu.
Bersyukur masih nyaris, tak langsung terjadi...
Wanita Namikaze itu mengelap pipinya yang basah karena tangis dengan cara kasar. Gerbang mansion ia buka lalu masuk dengan tubuh berbalut jaket hitam dan jelana jeans yang juga hitam. Tubuhnya di balut dengan kain serba ketat, hingga jelas memperlihatkan bentuk lekukan tubuhnya. Rambut pink-nya di kuncir lagi seperti kemarin, dan dengan tinggi yang sama. Sepatu hitam hingga mencapai batas mata kaki nampak sedang membalut kaki mungilnya.
Sakura meniti anak tangga milik teras mansion Haruno dengan hati yang di selimuti kegelapan. Masuk ke dalam setibanya di atas, kemudian menyusuri ruang mewah di dalam sana dengan langkah cepat.
Tapp.. tapp.. tapp!
Suara langkah perempuan itu menggema. Terdengar seperti ketukan. Netranya langsung bersorot bengis ketika mendapati salah satu ruangan yang ia ketahui ruangan pribadi Kizashi. Lelaki biadab yang kini sangat ia benci dalam hidupnya.
Tak berfikir panjang, Sakura bergegas menghampiri letak ruangan di sana. Tiba-tiba amarahnya menyulut, hingga ia tak bisa mengendalikan diri untuk tak berbuat kasar. Saat ini jiwa dan raganya sedang di kendalikan oleh ambisi. Bukan salahnya jika sampai ada yang terluka karena ulahnya.
BRAKK!
Wanita itu membuka pintu bercat coklat polos tersebut dengan cara menerjangnya kasar.
Kontan, tiga orang yang ada di dalam sana langsung terkejut kala itu juga. Melihat ke arah pintu, dan makin di kejutkan lagi dengan kehadiran putri semata wayang Haruno di sana. Ketiganya terkesiap.
"Sakura!" Sasuke lebih dulu menyapa dengan raut terkejut.
Kizashi terpaku. "Sakura! Kau kembali?"
Mebuki nampak tak percaya melihat sosok Sakura di sana. Menghiraukan keterkejutannya, ia bergegas menghampiri perempuan merah muda itu setelah meletakan nampan di tangannya ke atas meja. "Putriku... Ibu sangat me—"
Panggilan wanita pirang itu tercekat seketika kala Sakura menodongkan laras Pistol di atas bahunya. Mengarah tepat pada kepala Kizashi. "Ibu, menyingkirlah!" Sedikit melantangkan suara tatkala memerintahkan Ibunya agar segera menyingkir.
Mebuki membatu. Sasuke dan Kizashi sama terkejutnya melihat tindakan Sakura. Dia begitu nekat, sampai berani menondongkan Pistol kepada Ayahnya sendiri.
Tak kunjung mendapat respons dari sang Ibu, wanita Namikaze itu melangkah ke depan dan melaluinya begitu saja demi tak ingin sampai melukainya. Tahu 'kah mereka, saat ini tangan Sakura sedang bergetar di tengah memegang erat Pistol di tangannya.
"Biadab!" Makian Sakura meluncur untuk Kizashi. "Kau lelaki pengecut yang beraninya cuma main di belakang." Pria di sana berdiri dengan kondisi tubuh bergetar hebat. Tatapan Sakura terlihat sangat jauh berbeda dari Sakura Haruno yang dulu ia kenal. Tatapannya kali ini benar-benar menyiratkan rasa keinginan membunuh yang sangat mendalam.
Dia bukan lagi Sakura Haruno yang lemah...
'Berjanjilah satu hal kepadaku!'
Permintaan Naruto kemarin terngiang dengan jelas di telinga Sakura...
"Sak—"
"DIAM KAU!" Bersamaan dengan memperingati, todongan Sakura beralih ke arah Sasuke. Pria muda itu bungkam seketika, berhenti mengoceh demi nyawanya. Ia selamat, karena Sakura tak lagi menodongnya namun kembali menodong Kizashi.
"Keparat!" Suara perempuan itu melengking. "Dasar lelaki bajingan!"
Mebuki membekap mulut— menahan tangis. Kenapa dengan putrinya itu? Kenapa ia bertindak senekat ini? Ia tahu ini semua salah Kizashi, tapi apa salahnya dia berbicara dengan cara baik-baik tanpa harus ada percekcokan yang berujung pada pertumpahan darah. Sakura! Kenapa dengan dia?
Balas dendam belum tentu bisa membuat perasaan seseorang menjadi puas...
'Janji untuk tidak akan pernah melakukan tindakan nekat lagi.'
Telunjuk Sakura mulai menekan pelatuk Pistol. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya resah antara ingin tak ingin. Janji yang ia ucapkan kepada Naruto memenuhi isi kepalanya, seolah menjadi alarm agar tak melanggar janjinya.
"S–sakura.." Panggilan Kizashi tergagap.
Perempuan itu menggigit bibir.
'Janji, walau apapun yang terjadi!?'
Setetes air mata menjatuhi pipi Sakura. Bayangan wajah Naruto terlihat oleh mata batinnya. Wajah tampannya yang terlihat begitu teduh ketika memintanya untuk berjanji, membuat hatinya serasa sakit untuk melanggar janji mereka.
Kizashi melangkah maju. "DIAM DI SANA!" Seketika ia terhenti kala mendapat peringatan keras tersebut.
'Kau janji!?'
Sakura menggeleng. 'Aku tarik kembali janjiku.' Ia berkata dalam batin.
Tidak ada yang bisa Mebuki lakukan, selain diam dan menangis. Ia tak bisa menghentikan Sakura, karena kalau tidak Sakura bisa lepas kendali. Terlebih ini menyangkut tentang Suaminya. Ia tahu. Ia mengerti seberapa tertekannya Sakura saat ini, melihat orang yang amat di cintai olehnya sedang terbaring— tak sadarkan diri di Rumah Sakit.
Cuma seorang Ibu yang dapat mengerti perasaan dan keinginan anaknya...
'Janji seumur hidup!?'
'Janji seumur hidup.'
Dan selanjutnya, mereka saling mengaitkan jari kelingking sembari tersenyum bersama.
Sayang sekali, bayang-bayang perjanjian tersebut sama sekali tak membuat Sakura mengurungkan niat. Biarlah batinnya tersiksa, dan biarlah ia tak menepati janji seumur hidupnya. Ia terlanjur kecewa untuk mempertahankan janji mereka, dan maaf bila ia melakukan tindakan nekatnya dan melanggar janji seumur hidupnya kepada Naruto.
'Maafkan aku, Anata.'
Mata Sakura memicing tajam, membuat Sasuke dan Kizashi tersentak seketika. Pandangan mata wanita itu benar-benar terlihat gelap, dan sorot ingin 'sekali' membunuh nampak begitu jelas tanpa bisa mereka hindari. Dia benar-benar serius untuk hal ini.
Kenetakan Sakura memang berbahaya...
"MATILAH KAU!"
DOORR! DOORR!
CTAARR!
Suara tembakan terdengar keras di ruangan tersebut. Terdengar sangat memekakan gendang telinga. Semuanya hening, hanya menatap wajah Sakura yang nampak di penuhi ambisi ingin sekali balas dendam dengan mata terbelalak lebar dan wajah pucat pasi.
"Ss–s–sa...kura..." Kizashi memanggil dengan kalimat terpatah-patah.
.
.
.
.
To Be Continue...
