Sudah hampir dua tahun tepat sejak terakhir Jongin mendengar segala macam berita tentang mantan kekasihnya. Dan hari ini, dengan tiba-tiba tanpa segala macam rencana dan persiapan, takdir mengharuskan mereka kembali bertemu dan mempersilahkan tumpukan rindu yang mungkin tersimpan untuk segera hilang agar tersedia lagi ruang kosong yang mungkin akan diisi kotak rindu berikutnya.

Bukan keinginan Jongin untuk dengan sengaja menemui sang mantan kekasih yang sebenarnya (kadang) masih ia pikirkan keadaannya. Takdir yang ternyata begitu lucu, menggariskan keduanya bertemu untuk membuka beberapa rahasia yang harusnya sudah terungkap sejak lama. Dalam hati terdalamnya, tentu Jongin merindukan Soojung, gadis yang sempat menjadi pusat semestanya dalam dua tahun masa sekolahnya. Tapi, siapa yang sangka jika tumpukan kerinduannya akan tersampaikan lewat perantara seseorang yang selama ini memendam luka dan rasanya sendirian untuk Jongin? Siapa yang menyangka bahwa pada akhirnya, Jongin akan dipertemukan kembali dengan Soojung oleh—

"Aku terkejut kau mengenal Kyungsoo,"

—Kyungsoo.

"Aku juga tak jauh beda,"

Atmosfir di balkon salah satu restoran ternama di Seoul ini harusnya bagus, tapi karena hanya ada Jongin dan Soojung disana, awan mendung serasa tak mau hilang menyelimuti mereka.

"Dia pasti menjagamu dengan baik,"

"Ya, sangat. Dia sangat pandai dalam hal itu,"

Sebenarnya, Jongin sangat ingin bertanya pertanyaan klasik yang wajar ditanyakan oleh mereka yang sudah lama tidak bertemu. Tapi lidahnya terasa begitu kelu, bahkan hanya untuk sekedar menyebut nama sang lawan bicara.

"Harusnya aku tahu jika ada Kyungsoo yang menjagamu, jadi aku tak akan sesedih itu dulu,"

Jongin tersenyum kecil. Hatinya terasa sedikit sakit. Apa salahnya jika ia tak bilang bahwa ia satu kelas dengan sahabat masa kecilnya saat mantan kekasihnya dulu masih dalam mode overprotektif dan penuh curiga?

"Mungkin aku hanya tidak ingin membuatmu lebih terluka, jadi begini terasa lebih baik, bukan?"

Ya.

Harusnya begitu. Harusnya ini memang terasa lebih baik. Ketiadaan Soojung yang penuh curiga di sampingnya dan hanya sahabat masa kecilnya yang super perhatian. Harusnya Jongin bisa memanfaatkan dua tahunnya untuk membuka lembaran baru kehidupannya, tapi ia tidak melakukannya.

"Aku terkejut saat Kyungsoo bilang kalian hanya sahabat saat tatapan kedua matamu padanya punya arti yang begitu berbeda dibandingkan ketika kau bersamaku," lirih Soojung. Gadis itu masih menyimpan lukanya sendirian, walau tidak dipungkiri sebagian besar lukanya sudah sembuh berkat keinginannya sendiri untuk bangkit. Cintanya pada seorang pemuda bernama Kim Jongin saat itu tidak main-main, jadi ketika hubungannya berakhir dengan kepalanya yang dipenuhi kecurigaan Jongin bermain-main, Soojung benar-benar terpukul dan menyadari bahwa dia baru saja kehilangan sebuah kompas hidup.

"Well, kami memang sahabat sejak lama, dan tak ada yang berubah."

Jongin akui, pernyataan Soojung barusan sedikit menggelitik hati kecilnya. Tatapan kedua matanya berbeda jika pada Kyungsoo? Yang benar saja! Selama ini mereka jelas-jelas bersahabat, dan bagaimana bisa tatapannya terlihat berbeda pada Kyungsoo? Bagi Jongin, Kyungsoo adalah sosok gadis sederhana yang komplit. Karenanya Jongin selalu merasa bahwa dia membutuhkan Kyungsoo untuk hal apapun yang miring dalam hidupnya. Entah itu tentang kebiasaannya mengkonsumsi coklat saat sedang badmood, ketidakmampuannya belajar tanpa sumpah-serapah Kyungsoo, atau ketidaksempurnaan harinya ketika tidak ada Kyungsoo disana.

Tunggu.

Apa baru saja Jongin menjelaskan bahwa ia sangat membutuhkan Kyungsoo? Tapi, tentu saja! Kyungsoo adalah sahabatnya sejak kecil. Bagaimana bisa ia tidak membutuhkan Kyungsoo jika gadis itu ada sosok pelengkapnya?

"Kau hanya belum menyadarinya, Jongin," gumam Soojung sambil membalikkan badannya dan menepuk pelan pundak mantan kekasihnya. "Apa kau sama sekali tak merindukanku, huh, Tuan Kim?"

"Ah, karena sekarang kau membahasnya maka aku jadi teringat akan tumpukan kotak rindu di kepalaku untukmu," gurau sang pemuda. "Kemarilah, dasar kau bayi besar!"

Dan lalu pelukan hangat penuh tawa itu terjadi. Tanpa mampu terlihat, tumpukan rindu yang sudah sekian lama disimpan oleh keduanya kini perlahan menghilang dengan bahagia, seolah memang sudah waktunya mereka untuk hilang. Hilangnya tumpukan kotak rindu antara keduanya ternyata hampir sama dengan apa yang saat ini terjadi pada sosok yang sedang menatap Jongin dan Soojung dari kejauhan. Bukan kotak rindunya yang hilang sayangnya, tapi kotak rasanya. Seiring dengan jatuhnya air mata, kotak penuh rasa yang tertuju untuk Kim Jongin itu kini satu persatu hancur dan hilang dengan terpaksa, seolah tidak seharusnya mereka hancur begitu saja tanpa aba-aba.

.

.

Chanyeol menyandarkan kepalanya di meja dan membiarkan kedua tangannya menyenggol jatuh beberapa tumpukan dokumen di atas mejanya. Ia saat ini sedang benar-benar fokus menata pikirannya yang belakangan jadi berantakan hanya karena sebuah pelukan ucapan terima kasih dari gadis yang sempat jadi crushnya dulu. Konyol pikirnya. Bagaimana bisa hanya dengan sebuah pelukan, dinding kokoh yang ia bangun untuk menahan berbagai macam kedatangan perasaan penuh warna merah muda itu runtuh begitu saja?

"Kalau saja kau itu bukan sahabat masa kecilku," gumam Chanyeol seraya memejamkan kedua matanya perlahan dan mencoba menikmati bagaimana pemutaran film tentang masa kecil berharganya yang kini terputar di dalam kepalanya.

"Apa tidak jadi masalah jika pada akhirnya aku memang ingin memilikimu untukku sendiri?"

Chanyeol terus berkelana bersama tumpukan pemikirannya yang belakangan terasa begitu berat melebihi tugas-tugasnya sebagai mahasiswa semester tua. Persoalan perasaan memang terlalu fatal jika ia campurkan dengan penggunaan logikanya yang seringkali menjadikannya sosok pria dingin di mata banyak orang. Karena nyatanya, gadis masa kecilnya ini sudah sukses membuat logikanya mati hanya karena hidupnya rona merah muda di hatinya.

"Mungkin kau memang harusnya melengkapiku,"

.

.

.


Tepat satu bulan setelah peristiwa tidak terduga dimana akhirnya Jongin kembali bertemu dengan Soojung karena Kyungsoo, kini sang pemuda terlihat lebih sering pulang pergi sendiri dengan naik angkutan umum. Sejak hari itu, Jongin merasakan perubahan dalam diri Kyungsoo. Gadis itu entah kenapa jadi lebih sering menolak ajakannya untuk pulang bersama, belajar bersama walau mereka sudah tidak lagi dalam satu tim tutorial, makan bersama saat Sehun sedang akan berkencan dengan Luhan atau baru selesai kencan, dan kegiatan lainnya yang melibatkan mereka berdua. Jongin tidak tahu apa dan mengapa, tapi ia bisa merasakan bahwa semua perubahan Kyungsoo adalah karena dirinya.

Hari ini adalah hari kesekian dimana Jongin memilih tidak menggunakan motornya ataupun mobil Sehun untuk ke kampus dan memilih naik bus. Alasannya cukup rasional menurut Sehun, jadi pemuda albino itu pun memilih angkat tangan saja.

"Toh aku tidak akan kemana-mana setelah pulang dari kampus. Daripada bensinku terbuang percuma, lebih baik aku naik bus."

Jika Sehun ingat-ingat, Jongin sudah mengatakannya beberapa kali tiap ia menanyakan kenapa flat-matenya itu tidak lagi mengikuti jadwal pemakaian kendaraan mereka yang sudah tertempel rapi di dinding ruang tamu. Dan hari ini, setelah mendengar penjelasan dari Luhan, Sehun menyimpulkan hal baru.

"Kyungsoo yang menghindari Jongin? Aku pikir anak itu kerasukan roh entah darimana yang membuatnya jadi murung tiap hari."

"Kau tahu Chanyeol sunbae, Sayang? Belakangan dia jadi sering mengantar Kyungsoo pulang. Entah kenapa, aku tak terlalu suka melihatnya."

Sehun menyelesaikan kegiatannya minum bubble tea lalu kembali pada kekasihnya yang sedang curhat. "Begitu? Kenapa? Bukankah jika dilihat dari berbagai sudut pandang, sunbae adalah orang yang baik dan terlihat cocok dengan Kyungsoo?"

Luhan mendesah tidak setuju sambil menggelengkan kepalanya lucu. "Tidak Hunnie. Sunbae itu terlalu baik dan ehem, terlalu tampan."

Tersedak minumannya sendiri, Sehun malah ditertawai Luhan. "Ini karena kau tiba-tiba menyebut pria lain tampan. Kau kemanakan aku, huh?"

Luhan menunjuk pelipisnya, lalu kemudian dadanya, dan terakhir hatinya. "Disitulah kau, Tuan Oh Sehun."

Dengan tampang jahilnya, Sehun berbalik berusaha menggoda Luhan. "Aigoo, jadi kekasihku sedang menggombal, ya? Arasseo, arasseo. Aku senang mendengarnya,"

Luhan tersipu dan Sehun kembali tertawa. Scene yang selalu sama antara keduanya ini biasanya tidak akan terusik oleh siapapun. Tapi kali ini, nampaknya mereka harus bersabar ketika ada seseorang yang mengganggu scene romantis mereka.

"Maaf harus mengganggu waktu kalian berdua. Tapi apa kalian mengenal orang ini?"

Sehun yang merasa familiar dengan suara gadis yang menginterupsi kegiatannya dan Luhan itu pun segera menengokkan kepalanya untuk melihat siapa gerangan gadis yang sedang berbicara padanya dan Luhan. Saat kedua matanya bertukar pandang dengan sang gadis, mimik Sehun yang tadinya kecut mendadak berubah menjadi tatapan rindu yang tak dimengerti Luhan.

"N-noona?"

"S-sehun? Kau—disini?"

Luhan secara tiba-tiba merasa terasing dari suasana yang baru saja terbentuk ini. Gadis yang baru datang ini cukup cantik—siapapun dia, Luhan merasa Sehun bisa mengabaikannya begitu saja jika ada hal yang berhubungan dengan dirinya atau sang gadis dijadikan pilihan untuk Sehun. Aura menyenangkan dan tatapan terkejut serta rindu yang saat ini dimiliki kedua sosok di depan Luhan itu perlahan mengubah aura di sekitar Luhan menjadi mendung dan penuh rasa cemas.

"N-noona bagaimana bisa disini? N-noona kemana saja? Kenapa tidak pernah mengunjungi Sehun lagi? Apa noona tidak rindu Sehun?"

Pertanyaan beruntun dari Sehun membuat batin Luhan makin lemah. Pemuda itu tidak pernah seantusias ini bertemu dengan orang lain. Dan jika Sehun begitu antusias pada sang gadis cantik itu artinya mereka sudah kenal cukup lama. Apakah hubungan antara keduanya sudah se-lama itu hingga sesaat Sehun bisa lupa keberadaan Luhan?

Gadis cantik itu terlihat tidak canggung saat kedua tangannya menyentuh kedua pipi Sehun. Bahkan nyatanya, pemuda albino itu terlihat menikmati sentuhan gadis yang ia panggil noona itu dengan memejamkan kedua matanya seiring kedua tangan gadis itu membelai pipinya dengan sayang. Dan secara reflek, Sehun ikut menggenggam kedua tangan sang gadis yang terasa dingin saat ini.

"Bogoshippoyo, Sehun-ah. Bogoshippoyo,"

Boleh dibilang, saat ini batin Luhan dibuat makin remuk tiap kali kedua irisnya melihat interaksi tak terbantahkan antara kekasihnya dan gadis asing di depannya. Tapi entah kenapa, hati kecil Luhan memaksa sang gadis untuk tetap tinggal dan menunggu lelakinya untuk menjelaskan semuanya. Jadilah ia tetap disana dan diam.

Lain Luhan, maka lain pula sang gadis asing. Jika Luhan saat ini sedang cemas menanti penjelasan kekasihnya, maka sang gadis asing itu saat ini sedang berbunga-bunga karena setelah sekian lama akhirnya ia kembali menemui lelaki yang selalu wara-wiri di pikirannya. Bukan, dia tidak datang untuk mencari Sehun. Tapi Sehun adalah satu dari dua top-list di kehidupan sang gadis yang harus ia pastikan untuk ia temukan kembali.

"Noona tidak banyak berubah, ya? Bahkan hanya dari suara, aku bisa yakin itu adalah noona." Sehun menyelesaikan kalimatnya kemudian dengan satu gerakan cepat, ia menarik tubuh gadis itu dan memeluknya erat. Ia tidak peduli bagaimana sekitar karena saat ini, di kepalanya hanya ada noona-nya.

"Kau juga tidak banyak berubah. Tetap tampan,"

Adalah sang gadis asing yang pertama kali kembali menyadari bahwa diantara dirinya dan Sehun, masih ada orang lain yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dengan mata yang menahan air mata. "Oh, Sehun-ah. Apa dia kekasihmu?"

Kekasih?

Sehun yang mendengar kata-kata sang noona pun segera melepas pelukannya dan menolehkan kepalanya memandang Luhan yang benar-benar sudah menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

"M-maafkan aku Lu, a-aku tadi terlampau senang sampai melupakanmu."

Jadi kau benar-benar melupakanku tadi, Sehun? Hanya karena gadis ini?

"A-ah, noona, dia Luhan. Dia kekasihku sejak kami SMA. Dan Luhan, ini—" Sehun menggantung kalimat perkenalannya, melihat sang gadis asing dengan senyuman hangatnya kemudian kembali menatap Luhan untuk melanjutkan perkenalannya. "Dia noonaku, Oh Baekhyun."

"Byun Baekhyun, Sehun." ralat sang gadis asing sopan. "Aku sudah tahu adikku pasti bisa menemukan kekasih yang begitu cantik. Namaku Byun Baekhyun, kau bisa memanggilku Baekhyun, Luhan."

Mendengar Sehun menyebut kata noonaku dengan wajah rindu, Luhan seolah kembali ditarik cepat menuju masa lalu dimana saat itu ia menemukan Sehun sedang meringkuk sendirian dan menangis di sebuah bangunan kosong di dekat rumah Luhan. Saat itu, Sehun dengan gamblangnya bercerita tentang kerinduannya pada kakak perempuan satu-satunya yang pergi bersama Ibunya setelah kedua orangtua mereka bercerai ketika Sehun masih berumur tujuh tahun. Luhan tidak banyak menginterogasi Sehun tentang siapa nama kakak perempuan Sehun saat itu karena saat itu gadis bermata rusa itu lebih memilih untuk menenangkan Sehun dengan cara memeluknya erat.

"Bagiku marga noona tetaplah Oh sepertiku." Protes Sehun lagi. "Kau belum menjawab pertanyaanku, noona! Bagaimana kau bisa ada disini? Kau kemana selama ini? Ibu bagaimana? Apa beliau sehat?"

Bukannya menjawab, Baekhyun malah memukul dahi Sehun dengan jari lentiknya. "Kekasihmu saja belum memperkenalkan dirinya padaku. Dan kau sudah menginterogasiku?"

Luhan melepas tawanya. Akhirnya... akhirnya beban yang sejak tadi menyelimutinya itu bisa hilang dan kembali berganti dengan aura menyenangkan seperti sebelumnya. "Luhan imnida, eonnie. Aku... aku senang eonnie bisa kembali bertemu Sehun."

Baekhyun bisa menangkap ketulusan dari ucapan Luhan dan ia sangat bersyukur bahwa adik semata wayangnya yang manja, kini sudah punya pendamping yang meyakinkan. Dengan senyum ala malaikatnya, Baekhyun pun perlahan memulai cerita singkatnya tentang bagaimana dia bisa ada disini; di kampus Sehun dan Luhan, lalu tentang kemana saja dia selama empat belas tahun belakangan, bagaimana kabar Ibu mereka dan sebagainya. Semuanya, Baekhyun ceritakan dengan perlahan ditemani adik tercintanya yang sigap memeluknya saat gadis cantik itu terlihat kembali lemah karena mengingat masa lalu mereka dan tentu saja juga ditemani oleh rusa cantik milik sang adik yang tak henti memberikan dukungannya berupa genggaman tangan dan sahutan balik yang menenangkan.

Ketiganya, nampak begitu serius dan bahagia bertukar cerita tanpa menyadari bahwa dari jarak kurang lebih tujuh meter dari tempat mereka saat ini, ada sepasang mata tajam yang menatap ketiganya bergantian dengan tatapan terkejut, tidak percaya dan yang paling jelas adalah tatapan rindu kuat yang seolah-olah meronta untuk segera dilepaskan agar tak lagi menyakiti hati sang pemilik. Memendam rindu pada satu orang yang sama untuk waktu yang lama tidaklah mudah, karenanya pekerjaan itu hanya sanggup dilakukan oleh mereka yang punya komitmen teguh dan juga punya label setia pada diri mereka sendiri.

"Nan jeongmal bogoshippoyo, Byun Baekhyun..."

.

.

Jongin tidak ada kelas hari ini, itu sebabnya dia merasa merdeka dengan seharian penuh tidur di apartemennya. Sedari pagi Jongin belum makan, karena selain persediaan makanannya sudah habis, ia juga tak berminat menjejakkan kaki keluar apartemen sendirian untuk beli bahan-bahan makanan walau motornya terparkir rapi di basement. Jarum jam saat ini menunjukkan waktu pukul empat sore. Nampaknya Jongin cukup kaget saat melihat jam berapa sekarang.

"Hibernasiku lama juga, ya?" gumam Jongin sembari perlahan bangkit dari tempat tidurnya, menguap beberapa kali dan akhirnya mulai melangkahkan kaki menuju pintu kamarnya setelah sekitar lima menit ia hanya duduk di tepian tempat tidurnya.

Dari dalam kamarnya, Jongin bisa mendengar teriakan Sehun yang memberitahunya bahwa dia sudah pulang. Karenanya, Jongin langsung membuka pintu kamarnya dan bersiap menceramahi Sehun karena persediaan mereka sudah habis tapi ia tidak ada niatan untuk restock.

"Oi, Sehun-ah! O—oh astaga!"

Belum juga selesai bicara, Jongin sudah kembali masuk ke kamarnya dan dengan segera masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, lalu mencari bajunya yang selalu ia lepas saat ia hendak tidur dan kemudian kembali melangkah keluar kamar. Kenapa Jongin terlihat begitu kaget dan segera kembali masuk ke kamarnya? Itu karena Sehun membawa tamu tak terduga.

"Ah, annyeong, Jongin-ssi."

Jongin mengangguk sungkan. Tak biasanya Sehun membawa gadis asing ke apartemen. Apalagi gadis secantik ini, dapat dari mana dia?

"A-annyeong. Kau temannya Sehun?"

Bukannya menjawab, setelah meletakkan beberapa kantung plastik berisi belanjaan di meja makan, gadis cantik itu malah terkekeh pelan dan Sehun yang menjawab dengan setengah berteriak dari dapur.

"Itu noonaku!"

Jongin membulatkan kedua matanya dan kembali menatap sang gadis. "Woah, kau tak pernah cerita jika kau punya noona secantik ini, Hun." Balas Jongin setengah berteriak. "Annyeong noona, aku Kim Jongin. Flat-mate terbaik yang Sehun miliki."

Baekhyun terkekeh lagi lalu kemudian menjabat tangan Jongin untuk berkenalan. "Namaku Byun Baekhyun. Walau kami sekarang beda marga, tapi Sehun tetap adik kandungku, kok, Jongin." jawab Baekhyun seolah mengerti ketidakpercayaan Jongin atas fakta baru yang diketahuinya hari ini.

"Harusnya kau cerita jika punya noona secantik ini, Hun." Teriak Jongin lagi. "Noona maaf ya, ini kebiasaanku untuk mencairkan suasana. Jangan terlalu diambil hati," pesan Jongin pada Baekhyun agar tak ada salah paham nantinya.

"Dan membiarkanmu jadi calon kakak iparku? Big no, Kim Jongin. Bahkan dalam mimpi pun itu tak akan pernah terjadi,"

"Lihat noona, adikmu itu berbanding terbalik denganmu. Untung aku masih bisa tahan dengan kelakuannya yang seperti ini. Ini bukti bahwa aku memang flat-mate terbaiknya,"

Baekhyun tak berhenti tertawa melihat interaksi kedua pemuda tampan di depannya ini. Baik Jongin maupun Sehun memang tak terlihat ada sifat pengalah yang dominan, tapi Baekhyun tahu bahwa keduanya memang benar-benar flat-mate yang klop. "Aku mempercayai itu, Jongin. Sekarang, bisakah kau bantu aku berkemas? Lemari kosongmu perlu diisi makanan, kan?"

Jongin memberi gimik antusias bahkan sampai melakukan hormat ala tentara pada Baekhyun. "Tadinya aku hendak memarahi Sehun karena tidak segera meluangkan waktu untuk berbelanja bulanan demi isi lemari dan isi perut kami satu bulan ini, noona. Untung ada kau, aku jadi merasa sangat beruntung."

"Daripada kau terus-terusan menggoda kakakku, lebih baik kau segera masukkan makanan-makanan itu ke tempatnya, dasar playboy cap tempe."

Jongin memberi death-glare pada Sehun yang baru saja menimpuk kepala belakangnya dengan bungkus makanan ringan yang saat ini ia makan. Tidak ingin banyak berdebat, sang calon dokter muda itu segera bangkit dan membantu Baekhyun memasukkan makanan dan bahan-bahan lain ke tempatnya.

"Wah! Noona beli daging, ya? Mau dimasak sekarang tidak? Kebetulan aku sedang sangat lapar. Aku belum makan sejak pagi,"

Baekhyun menoleh pada Jongin dan melihat kegirangan sang pemuda saat menemukan daging di salah satu isi belanjaan mereka. "Tentu. Kau punya alatnya?"

"Ada kok, aku akan mempersiapkannya setelah semua ini tersusun rapi di tempatnya. Ahh~ akhirnya aku makan juga."

"Kalau begitu aku akan masak nasinya sekarang. Dan kau, Sehun, kemari dan bantu Jongin. Jangan malah bersantai makan keripik!"

Sehun mendesah tidak terima, tapi apa daya? Dia tidak pernah bisa membantah noonanya sejak dulu, jadi ya sudahlah, membantu flat-mate sendiri tidak terlalu buruk kan?

Ting-tong!

"Oh, ada yang datang. Biar aku yang buka, kalian teruskan saja." Usul Baekhyun sembari melangkah menuju pintu depan. "Ohh, kau datang Lu? Kebetulan sekali, aku baru mau menyuruh Sehun untuk menghubungimu."

Mendengar kata 'Lu', Sehun langsung meletakkan barang bawaannya dan berlari ke pintu. "Ah, baby. Kau datang? Kenapa tidak mengabariku?"

"Aku sudah menelponmu puluhan kali. Tapi ponselmu itu mati. Aku juga sudah meminta Kyungsoo menghubungi Jongin, tapi anak itu tak mengangkat panggilannya. Kupikir sesuatu terjadi, jadi aku kemari." Jelas Luhan sembari menyisir apartemen kekasihnya perlahan.

"Ponselku di kamar, aku sedang membereskan ini jadi tak dengar." Sahut Jongin dari dapur tanpa menghentikan kerjanya. "Hun, ini bagianmu. Aku akan menyiapkan—"

Walau tadi telinganya dengan jelas mendengar bahwa Luhan menyebut nama Kyungsoo, tapi ia tidak mengira jika gadis itu saat ini ada di depannya. Rasanya sudah lama sekali ia dan Kyungsoo tidak berada dalam satu frame percakapan langsung. Entah itu Kyungsoo yang lebih dulu menghindar atau Jongin yang ditinggalkan begitu saja. Tapi apapun itu, Jongin senang Kyungsoo datang. Jujur saja, pemuda ini sudah mulai rindu celotehan panjang Kyungsoo yang selalu muncul saat mereka sedang bersama.

Berusaha mengalihkan kegugupan yang tiba-tiba melanda, Jongin kembali bersuara. "Kau tak mengenalkan Kyungsoo pada noona, Lu?" tanya Jongin sembari mulai mencari alat untuk memasak daging yang Baekhyun beli.

"Oh astaga, aku lupa. Eonnie, ini Kyungsoo, teman satu apartemenku dan juga satu kelas."

Baekhyun tersenyum cantik dan segera bersalaman dengan sang gadis imut yang ada di depannya itu. "Annyeong, Kyungsoo. Namaku Baekhyun, dan jika kau bertanya-tanya aku ini siapa, aku adalah kakaknya Oh Sehun yang manja itu."

"Noona~ Jangan panggil aku manja, aku sudah mandiri tahu!" protes Sehun dari dapur. Diiringi kekehan Luhan, Kyungsoo dan juga Baekhyun akhirnya pipi Sehun pun resmi memerah karena menahan malunya.

"Ah, Do Kyungsoo imnida, Baekhyun-ssi. Aku sungguh tidak tahu kalau Sehun punya kakak perempuan,"

Sembari mempersilahkan tamunya untuk duduk, Baekhyun pun ikut duduk. "Ceritanya panjang, Kyungsoo. Dan, hei, panggil saja aku eonnie seperti Luhan tadi. Jangan jadi canggung, kalian kan temannya Sehun, jadi biar bagaimanapun aku juga akan jadi teman kalian, kan?"

"Maaf mengganggu perbincangan antar gadisnya, noona. Tapi bisakah kau segera memasak nasinya noona? Aku benar-benar kelaparan," bisik Jongin pada Baekhyun yang saat ini langsung berdiri terkejut.

"Astaga, maaf Jongin. Aku benar-benar lupa! Baiklah kalau begitu, kalian mau membantuku memasak? Kebetulan tadi aku beli beberapa daging segar dan Jongin bilang dia kelaparan sejak pagi. Aku rasa mengadakan BBQ kecil-kecilan asik juga, bagaimana?"

"Aku akan menyiapkan bumbu-bumbunya, eon!" sahut Luhan antusias.

"Aku akan bantu eon saja, deh. Kalau bantu Luhan, nanti pasti diusir Sehun. Dia kan selalu ingin menginterupsi kerjaan Luhan,"

"Astaga, apa harus mempermalukanku terus sejak tadi? Ya! Kkamjong! Jangan tertawa kau, ya. Mentang-mentang sedang bebas dari bully-an!"

Jongin mengangkat tangannya tiba-tiba dari pemanggang dan berteriak kecil sebelum membalas Sehun. "Kau ini sedang PMS ya? Rewel sekali,"

Baekhyun segera menengahi perdebatan kedua pemuda tampan itu sebelum keduanya jadi benar-benar ribut walau ia sendiri yakin itu tidak akan pernah terjadi. "Ei, kenapa jadi bertengkar, sih? Sehun, kalau kau sudah selesai memasukkan bahan-bahan segeralah mandi. Setelah mandi, bantu Luhan menyiapkan bahan-bahan. Dan Jongin, setelah Sehun selesai mandi, kau juga langsung mandi. Aku berani bertaruh kau bahkan belum mandi dari pagi,"

"Wah, noona! Kau cenayang, ya? Bagaimana kau bisa tahu aku belum mandi dari pagi? Kau ini benar-benar sesuatu ya, noona." Sahut Jongin dengan nada bercanda.

"Bagaimana aku bisa tidak tahu jika first impressionmu denganku adalah muka bantal, topless, dan rambut acak-acakan?" goda Baekhyun. "Sudah cepat sana mandi duluan! Ish, jangan jadi cowok tampan yang malas, Jongin."

Jongin bangkit dari duduknya dan berbalik lalu menatap noona dengan tatapan jahilnya. "Wah, jadi noona bilang aku ini tampan? Bagaimana jika dibandingkan dengan Sehun? Tentu lebih tampan aku, kan, noona?"

" .In!"

Merasakan aura-aura aku-akan-melemparmu-dengan-panci dari sosok yang paling tua disana, Jongin pun segera kabur menuju kamar mandi untuk menjalankan perintah sang noona barunya.

.

Acara makan malam bersama yang tidak direncanakan pun akhirnya selesai. Semua pihak sudah sangat kenyang dan sekarang saatnya dua calon dokter muda yang cantik untuk pulang ke apartemen. Malam ini, Jongin benar-benar kenyang dan senang. Selain karena akhirnya dia bisa kembali bertemu dan berbincang dengan Kyungsoo, perutnya juga akhirnya kembali merasakan bagaimana lezatnya masakan sahabat kecilnya itu.

"Ya, Jongin-ah. Kau antar Kyungsoo pulang, ya? Aku ingin mengajak noona cari cemilan lalu baru mengantar Luhan pulang."

Jongin menoleh, menatap Sehun malas lalu bergantian menatap Kyungsoo dengan tatapan meminta ijinnya. Setelah mendapat kode senyum kecil, Jongin mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan ambil jaket."

Sehun mengambil dua kunci dari laci meja di ruang tamu dan memberikan kunci motor pada Jongin saat pemuda itu keluar dari kamar. "Kyung, kau tak bawa jaket?" tanya Sehun tiba-tiba. "Aigoo, harusnya kau bawa jaket. Ini sudah hampir musim dingin."

"Pakai ini, aku akan ambil jaket lagi." Ujar Jongin sembari menyerahkan jaket yang tadi ia pakai pada Kyungsoo dan segera masuk ke kamarnya lagi untuk mencari jaket lain. "Ayo, Kyung. Kalau terlalu malam pulang, nanti udaranya semakin dingin."

Sehun mengunci pintu apartemen, Luhan dan Baekhyun berjalan berdampingan dengan Kyungsoo dan Jongin di lorong. Dari belakang, Sehun sekilas tersenyum kecil. Harusnya memang begini, harusnya kedua makhluk yang sedang berjauhan itu memang dekat seperti ini, dan harusnya memang bukan sunbaenya yang pas untuk Kyungsoo, tapi flat-matenya.

Jongin memberikan helm milik Kyungsoo yang sudah terlebih dulu ia bersihkan dari debu. Maklum, karena belakangan ia tak pernah lagi naik motor, baik helmnya maupun helm Kyungsoo jadi bergumul dengan debu di loker.

"Seperti sudah lama sekali aku tidak mengantarmu pulang," monolog Jongin yang mencoba memecah keheningan malamnya bersama Kyungsoo. "Aku bahkan hampir lupa rasanya naik motor,"

Kyungsoo tertawa kecil, Jongin tahu itu. Kyungsoo memukul punggungnya pelan karena jokesnya renyah, Jongin juga tahu itu. "Maaf ya, Jongin." tapi sayangnya, Kyungsoo hanya membalas demikian.

"Tak masalah. Walau aku tak yakin betul alasanmu adalah karena kau sibuk, tapi selama kau tak benar-benar menghindariku, aku tak masalah." Jawab Jongin. "Lalu, selama ini kau pulang bersama Luhan?"

"Hm? Tidak, kok. Aku pulang bersama Chanyeol oppa, belakangan aku sering bertemu dia di lorong kampus saat sore, dan dia menawariku untuk pulang bareng,"

Jongin tidak tahu kenapa hatinya sedikit nyeri. Tapi ia tenang saat tahu bahwa Kyungsoo pulang dengan seseorang yang ia kenal. "Oh, kau pulang dengan hyung? Syukurlah. Kupikir kau pulang sendiri atau dengan orang yang tak ku kenal. Aku akan jadi tidak tenang jika begitu,"

"Tidak tenang?"

"Ya. Selama kau pulang dengan seseorang yang sudah ku kenal, apalagi itu Chanyeol hyung, aku tenang. Karena aku yakin, mereka akan menjagamu dengan baik." Jawab Jongin santai. "Tapi, Kyung, kelihatannya hyung lebih sering bertemu denganmu ya daripada denganku?"

"Eh? Iya juga,sih. Kadang aku bertemu dengan oppa di gerbang. Kadang juga, oppa yang mengajak untuk pulang bareng di hari esok dan seterusnya."

"Aah~ Jadi, hyung sedang mendekatimu, ya?"

Wajah Kyungsoo sedikit panik seperti seorang gadis yang baru saja ketahuan berselingkuh. Padahal, punya pacar saja belum?

"E-ei! Kau ini bilang apa sih Jongin. Mana mungkin oppa begitu,"

Jongin terkekeh sekali-dua kali, menutupi nyeri di hati yang baru saja timbul. "Hei, aku ini juga laki-laki, tahu. Modus seperti itu sudah wajar. Jika tidak benar-benar dekat seperti kita, maka itu adalah cara pendekatan paling mudah yang bisa dilakukan laki-laki."

"Eish, jangan bicara sembarangan. Oppa tidak mungkin begitu. Sudahlah! Kau ini malah menggodaku saja daritadi, Jongin!"

Walau tidak melnatap wajah Kyungsoo secara langsung, Jongin tahu gadis itu sedang malu. Senang atau tidak, jika sedang digoda begitu, gadis manapun pasti jadi malu. "Ku antar sampai sini?" tanya Jongin sesaat setelah kendarannya berhenti tepat di depan apartemen Kyungsoo dan Luhan.

Kyungsoo terlihat sedikit berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk mengajak Jongin untuk menemaninya sampai Luhan pulang. Tentu Jongin tak akan menolak. Ini kesempatannya untuk bisa kembali baik-baik saja dengan Kyungsoo setelah lebih dari satu bulan mereka jarang berkomunikasi. Setelah meng-iyakan permintaan sahabat kecilnya, Jongin memarkirkan kendaraannya dan segera menyusul Kyungsoo.

"Wahh~ Seperti sudah lama sekali tidak kemari." Celetuk Jongin ketika kakinya kembali menjejak di apartemen sahabatnya. "Benar-benar berbeda ya, dengan apartemenku dan Sehun."

Kyungsoo mempersilahkan Jongin untuk istirahat di sofa, lalu ia pun segera masuk ke kamarnya untuk menaruh tas. Belum juga sampai sepuluh menit berlalu, samar-samar Kyungsoo bisa mendengar suara dengkuran halus dari ruang tamu. Dan saat ia mendekat, Jongin sudah tertidur pulas.

"Aigoo, sudah tidur?" gumam Kyungsoo sambil menahan tawanya. Ingatannya tiba-tiba terbang menuju masa kecilnya ketika mereka berdua—Jongin dan Kyungsoo, terbiasa tidur bersama setelah bermain sepulang sekolah. Kyungsoo sering jadi orang terakhir yang tidur diantara mereka, karena ia sangat suka melihat wajah Jongin saat tidur. Menurut Kyungsoo, Jongin berubah jadi sosok yang begitu polos dan menggemaskan saat dia tidur. Benarkah?

"Aku pu—"

Teriakan Luhan berhenti saat Kyungsoo berdiri cepat dan segera meletakkan telunjuk kanannya didepan bibirnya sambil melihat Luhan. Luhan yang tidak paham ada apa pun hanya bisa mengangguk dan berkata 'sorry' tanpa suara sambil mengunci pintu.

"Siapa yang tidur?" tanya Luhan tanpa suara pada Kyungsoo seraya mendekatkan kakinya perlahan menuju ruang tamu. "Oh astaga, apa yang dia lakukan? Kukira dia langsung pulang?" bisik Luhan.

Kyungsoo meminta Luhan menunggu sebentar, kemudian ia mengarahkan kakinya menuju kamarnya dan mengambil selimutnya. "Sepertinya dia kelelahan. Bisakah kau beritahu Sehun kalau malam ini Jongin menginap?"

Luhan mengangguk dan segera menjauhkan diri dari ruang tamu dan menuju kamarnya sendiri untuk beristirahat. Sebelum bersiap tidur, Luhan menjalankan permintaan Kyungsoo yakni menghubungi Sehun dan berkata bahwa sang flat-mate akan menginap malam ini. Sehun, di lain pihak tentu kaget mendengar apa yang Luhan katakan. Tapi mengingat belakangan lelaki berkulit tan itu memang kurang tidur karena tuntutan akademis, Sehun pun memaklumi.

Kembali pada Kyungsoo yang masih di ruang tamu. Setelah menyelimuti Jongin, Kyungsoo tidak segera bangun lalu kembali ke tempat tidur. Ia, entah bagaimana, seolah melanjutkan kegiatan mari-menatap-Jongin-yang-sedang-tidur yang tadi sempat terhenti karena kedatangan Luhan. Senyum kecil tidak lepas dari sudut bibirnya dan tindakan terakhir yang ia lakukan sebelum kembali ke kamar tidurnya mungkin bisa jadi satu hal yang membuatnya malu setengah mati.

"Saranghae, Kim Jongin" bisik Kyungsoo yang kemudian ditutup dengan sebuah kecupan lembut di kening sang pemuda.

.

.

.


Monggo yang kemarin minta updatenya cepet. Tapi part setelah ini agak lama, ya? Haha.

Terimakasih sudah review dan bilang ini cerita kece :""). Saya terhura.

Selamat libur panjang bagi yang merayakan!

Salam, kajegaje.