"Kerasukan arwah siapa lagi, sih? Kenapa daritadi kau tidak berhenti memasang mimik konyol? Tertawa, tersenyum, lalu tertawa lagi, lalu tersenyum lagi. Aku jadi was-was."
"Arwah cupid, puas? Lagipula, kenapa kau memperhatikan gerak-gerikku? Jangan-jangan kau suka padaku ya? Maaf Oh, aku sudah punya gadis yang kucintai dan kau kan juga sudah punya Luhan. Apa dia kurang menarik?"
Mimik wajah Sehun mendadak berubah. "Kau memang kelainan. Heran juga kenapa aku bisa betah satu atap denganmu!"
Gelak tawa muncul dari ruangan tempat lawan bicara Oh Sehun berada. "I love me too, Oh~~"
"Oh ya, tadi Luhan bilang ponsel Kyungsoo tiba-tiba rusak dan mati. Dia sekarang di perpustakaan kampus demi tugas, jika kau berniat menjemputnya datang saja sekitar pukul empat sore nanti."
Mendengar nama Kyungsoo, sang lawan bicara Sehun segera bangkit dari tempat tidurnya. "Begitu? Baiklah, aku akan kesana setelah dari butik noona."
Hari ini tepat dua bulan Baekhyun tinggal bersama Jongin dan Sehun. Berkat kejeniusannya dalam hal desain, Baekhyun bisa membuka usaha kecilnya yakni sebuah butik. Hasil karyanya juga terbilang cukup apik dan khas. Walau usahanya baru dibuka sebulan lalu, tapi pelanggan Baekhyun sudah cukup banyak. Hal itu dikarenakan sejak lulus kuliah, Baekhyun memang sudah akrab dengan dunia desain dan bekerja paruh waktu untuk mendesain beberapa gaun dan baju pesanan teman-temannya dan kliennya di London.
Dalam dua bulan terakhir, hubungan Jongin dan Kyungsoo juga membaik. Mereka sudah kembali akrab dan sering terlihat pulang bersama kecuali dalam beberapa waktu saat keduanya memang tak bisa pulang bersama. Jika tak bersama Jongin, maka Kyungsoo akan pulang bersama Chanyeol. Entah kenapa, walau tak pernah lagi bertemu, Jongin bisa merasakan aura Chanyeol yang seolah berbisik bahwa lelaki yang kini sudah bekerja mapan sebagai direktur di perusahaan menggantikan sang ayah itu sedang berusaha mendekati sahabat kecilnya. Walaupun Jongin berusaha untuk tidak memikirkan kemungkinan apapun yang berkaitan dengan perasaannya sendiri, tapi lama-kelamaan ia jadi jengah dan merasa tidak rela jika Kyungsoo didekati Chanyeol. Dan setelah tiba-tiba sebuah ingatan masa kecilnya mampir di kepala, Jongin segera bersiap untuk mendatangi Baekhyun di butiknya.
"Sibuk tidak?"
"Oh, hai juga Jongin." jawab Baekhyun yang sedikit terkejut karena sang pemuda yang resmi jadi salah satu adiknya sejak ia memutuskan tinggal di apartemen mereka itu kini muncul di butiknya tiba-tiba. "Ya kalau saat ini sih tidak terlalu. Kenapa memangnya?"
Cengiran ala Jongin muncul dan Baekhyun paham. "Aku mau menculikmu."
"Kemana lagi, sih, Tuan Kim? Kau ini senang sekali menculikku. Jangan bilang kau suka padaku, ya?" tebak Baekhyun cepat. "No, no. Aku sudah punya seseorang yang kucintai, jadi kau tidak boleh menyukaiku~"
Mimik Jongin berubah jadi raut wajah malas dan tangan kanannya bergerak untuk menyentil dahi Baekhyun pelan. "Kalau begini, aku jadi tidak heran kenapa kau adalah kakaknya Sehun."
Baekhyun memberi gestur bertanya dan Jongin berbalik. "Sudahlah jangan banyak tanya. Mau tidak kuculik? Aku sedang bosan, nih. Kyungsoo sedang sibuk di perpustakaan mengerjakan tugas."
"Ahh, jadi karena Kyungsoo sibuk, lalu kau mengincarku? Tipikal pemuda sekarang begitu, ya? Punya banyak opsi supaya tidak terlihat sebagai jomblo mengenaskan!"
"Ei, noona. Aku ini bukan jomblo, statusku ini single dan sedang dalam perjuangan untuk bisa berubah jadi in relationship, tahu." Protes Jongin tidak terima. "Sudahlah. Kau ini terlalu banyak bicara, noona."
Jongin segera menarik tangan Baekhyun dan mengucap salam pada Minah, sang karyawan Baekhyun yang sedang shift hari itu. Setelah memberi helm pada Baekhyun, Jongin menggeber motornya dan melaju menuju cafe yang jadi langganannya bersama Kyungsoo.
"Kau mau menculikku kemana, sih, tampan? Kenapa pakai rahasia-rahasia segala?"
"Aku ingin mengajakmu kencan. Karena belakangan wajahmu kusut karena pekerjaan. Bukankah aku adik yang baik?"
Baekhyun tersenyum di balik kaca helmnya. Jongin memang pria baik dan perhatian. Jika hatinya belum punya pemilik dan jika ia belum tahu siapa yang jadi calon pacar Jongin, mungkin ia bisa salah mengartikan segala macam perhatian dari calon dokter tampan ini.
"Cafe?"
"Aku sedang tidak punya banyak uang, noona. Nanti kalau appa sudah mengirim uang bulanan, aku traktir makan di tempat yang enak, deh." Jawab Jongin seolah merasa Baekhyun tidak nyaman dengan pilihannya.
"Ei, bukan begitu. Aku kira kau akan mengajakku kencan di tempat rekreasi, tahu."
Baekhyun terkekeh dan Jongin tertawa. Perpaduan apik dan pas untuk awalan rencana Jongin. "Ayo masuk! Aku kenal pemilik dan karyawan cafe ini karena ini langgananku. Siapa tahu nanti kau bisa dapat satu menu gratis,"
"Gratis? Benarkah mereka bisa memberi menu gratis? Aku sudah lama ingin strawberry cheesecake!"
Jongin tersenyum kecil lalu mengusak pelan pucuk kepala Baekhyun. "Kau akan dapatkan itu. Nanti aku bilang pada pastry chefnya, dia sahabatku."
Jongin membuka pintu cafe dan mempersilahkan Baekhyun masuk lebih dulu. Setelah menggantungkan mantel, Jongin mulai melangkah menuju kasir.
"Oh, oppa!"
"Hai, Jungkook. Kau sedang shift hari ini?"
"Iya! Taemin eonnie juga kebetulan sedang mampir, lho. Dia ada di dapur sekarang bersama Jongdae oppa."
"Oh ya? Kalau begitu, tolong tanyakan pada Taemin bisakah aku mendapat satu strawberry cheesecake gratis?"
Jungkook tertawa kecil. "Oh, apa ini kekasihmu, oppa? Cantik sekali! Eonnie, kau beruntung sekali punya kekasih seperti Jongin oppa!"
Jongin hanya tertawa dan tidak membalas. Lain dengan Baekhyun yang langsung menepis dugaan Jungkook. "Eh? B-bukan! Aku bukan pacarnya! Kami hanya teman, kok!"
"Ya, kami hanya teman. Dan saat ini kami sedang kencan." Tambah Jongin sambil mengedipkan mata kanannya pada Jungkook. "Satu ice cappucino dan strawberry milkshake. Oh, jangan lupa soal gratisannya tadi, ya?"
Baekhyun memukul pelan lengan kanan Jongin dan tertawa kecil saat Jungkook juga tertawa mendengar jawaban Jongin barusan. "Maaf ya, dia memang kadang suka sekali mengkhayal. Mungkin dia sangat menyukaiku sampai begini,"
"Jangan lama-lama ya Kookie!" teriak Jongin sambil merangkul Baekhyun dan menariknya cepat menuju meja yang kosong.
"Ish, kau bisa membuat banyak orang salah paham dengan ucapanmu, Jongin!"
"Tenang saja, noona. Mereka sudah tahu siapa aku, kok. Seleraku itu bukan seperti noona, ya walaupun bisa saja sih aku mengencani noona." Goda Jongin lagi. "Lagipula, kalau orang berpikir kita ini pacaran bukannya bagus? Jadi para pria yang berniat menggoda noona dan main-main dengan noona tidak akan berani melaksanakan niatnya!"
Kekehan Baekhyun terdengar begitu nyaring dan lucu. Jika Jongin tidak benar-benar kuat iman, mungkin saja ia akan jatuh cinta pada kakak sahabatnya ini. "Jadi, apa yang mau kau bicarakan, hm?"
"Satu ice cappucino dan satu strawberry milkshake! Silahkan, hyung!"
"Thanks, Jimin. Lalu, mana gratisanku?"
Sebuah jitakan mampir di kepala Jongin setelah sang pemuda menanyakan permintaannya. "Jika kau bukan pelanggan spesial, sudah kutendang keluar kau karena minta gratisan."
Jongin menoleh dan menemukan Taemin disana. "Oh, hai Taemin. Terimakasih ya, aku sangat menantikan ini." Jawabnya sambil mengambil satu piring strawberry cheeseccake dari tangan Taemin. "Temanku ini sangat suka strawberry, jadi aku bilang padanya bahwa dia bisa dapat cake gratis disini."
Taemin mengarahkan tatapannya pada gadis di depan Jongin dan tersenyum ramah. "Hai, eonni. Aku Taemin, temannya si hitam."
"Teruslah memanggilku hitam, Tae. Apa kau tidak ingat rupa kekasihmu yang juga mulai menghitam sejak pulang militer?"
Taemin menjitak Jongin lagi dan Baekhyun tertawa lagi. Jimin sudah pamit untuk kembali bekerja dan meninggalkan pertengkaran yang sudah biasa ia temui setiap kali Jongin berkunjung ke cafe tempatnya bekerja ini.
"Sekarang aku percaya kau benar-benar kenal seluruh pegawai disini."
"Hei, kenapa kau tidak percaya? Aku tidak bohong tahu,"
"Karena mukamu itu sering sekali menunjukkan raut bohong,"
Jongin terkekeh dan menyesap minumannya. "Aku kemarin malam memimpikan noona,"
Celetukan Jongin membuat Baekhyun tersedak sekali. Memimpikannya? Apa anak ini benar-benar menyukainya? Pikir Baekhyun gamang. "Sekarang aku benar-benar butuh diyakinkan bahwa kau benar-benar tidak menyukaiku, Jongin."
"Aku suka noona, kok. Noona baik, cantik, lucu, cerdas dan pintar masak. Apa noona tidak sadar bahwa noona itu wife-material?"
"Jongin..." lirih Baekhyun seolah meminta lelaki itu untuk tidak lagi bercanda.
"Apa? Aku tidak bercanda, tahu. Aku serius." Tambahnya lalu tertawa. "Sayangnya aku sudah punya gadis lain yang lebih menyita perhatianku ketimbang noona. Jadi, noona tenang saja."
"Aku butuh diyakinkan bahwa kau tidak sedang menghibur diri sendiri karena kau tahu aku pasti menolakmu," pinta Baekhyun lagi. Gadis ini benar-benar belum yakin bahwa perkataan Jongin barusan adalah jawaban terjujurnya.
"Aish, apalagi yang harus aku bilang sih, noona? Ah, atau harus aku panggil noona dengan sebutan princess berry agar kau yakin bahwa aku tidak menganggap noona lebih dari sekedar kakak?"
Baekhyun tersedak lagi. Kali ini bukan karena jawaban Jongin yang mengagetkan, tapi karena sebuah panggilan yang tadi Jongin sebut.
"Kenapa? Kaget ya aku tahu panggilan itu?"
"B-bagaimana kau—"
"Aku kenal orang yang memberimu nama itu, noona." Kali ini raut wajah Jongin berubah serius. Ia bahkan menatap Baekhyun tepat di kedua mata cantiknya. "Aku kenal Park Chanyeol,"
Rongga dada Baekhyun menghangat tiba-tiba. Nama itu... nama itu sudah lama sekali tidak ia dengar bahkan ia sebut. Nama itu, jika boleh jujur adalah alasan kenapa ia terbang ke Korea. Nama itu, adalah alasan sebenarnya mengapa Baekhyun akhirnya memutuskan untuk kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya. Dan kali ini, akhirnya ia bisa kembali mengingat apa tujuan sebenarnya ia datang kemari.
"Dia kan tujuan noona datang ke Seoul?"
Baekhyun meletakkan gelas minumannya lalu tersenyum kecil pada Jongin. "Kau kebanyakan nonton film detektif, Jongin."
"Lho? Memangnya bukan?"
"Tidak salah, sih sebenarnya."
Giliran Jongin yang mengusung senyum tipis di wajahnya. "Mau bertemu dengannya?"
"O-oh, apa bisa?"
"Tentu! Tapi bukan aku perantaranya. Kami sudah lama tak bertemu apalagi bertegur sapa. Tapi, aku yakin kau bisa bertemu dengannya." Jongin menyudahi kalimatnya dengan eye-smilenya. "Memang tak bisa hari ini, sih. Mungkin besok atau lusa, bagaimana?"
Baekhyun terlihat menimbang keputusannya sendiri. Tujuan utamanya akan tercapai sedikit lagi, apakah ia akan mengambil pilihan bantuan yang ditawarkan Jongin, atau justru ia kembali sok kuat dan memilih untuk menempuh jalannya sendiri?
Dengan wajah yang menunduk dan senyum kecil yang menyiratkan penyesalan, Baekhyun kembali membuka suara. "Memangnya dia masih mau bertemu denganku, ya?"
"Jangan pesimis begitu dong! Kalau kau pesimis, aku juga jadi kehilangan motivasi, nih!"
Baekhyun menatap Jongin curiga, yang ditatap pun kini sedikit salah tingkah. "A-apa sih? Kenapa menatapku begitu?"
"Mukamu memerah! Kau pasti merencanakan sesuatu dimana hal itu berkaitan denganku dan... pria itu,"
"Y-ya memang sih aku merencanakan sesuatu. Tapi ini menguntungkan untuk semua pihak, kok!
Baekhyun melukiskan eye-smile di wajahnya lalu mengusap dan mencubit pipi kiri Jongin gemas. "Iya, iya. Dasar manja!"
Interaksi dua insan yang hanya beda empat tahun ini terlihat begitu mesra bagi siapapun yang tidak kenal mereka atau tidak paham bagaimana sebenarnya hubungan keduanya berjalan selama ini. Termasuk seorang pria yang duduk di dekat jendela cafe yang berada di seberang cafe yang Jongin dan Baekhyun datangi. Ia sejak tadi menatap interaksi mereka dengan kepala yang tak kunjung dingin.
"Mungkin Tuhan sedang menghukummu, jadi jangan marah jika mereka saat ini kasmaran begitu," ujar sosok yang duduk di depan sang pria misterius itu.
"Diamlah! Kata-katamu itu hanya membuat telingaku semakin berasap."
Dengan tawa beraura sindiran, sosok bersweater biru gelap itu pun kemudian mencoba teropong kecil yang sejak tadi ada di atas meja mereka. "Wah semakin romantis saja, ya? Sampai membersihkan sisa makanan di sudut bibir segala." Ujarnya santai. "Kau dan segala macam ide sialanmu itu, akan selalu kalah telak dibanding pemuda itu yang langsung bertindak untuk mendekati Baekhyun."
Geraman kecil milik pria misterius terdengar hingga telinga sang sosok bersweater biru yang membuatnya tertawa lagi dan lagi.
"Harusnya kau memang tidak disini,"
"Oh, lalu kau akan mengintai mereka sendirian seperti orang bodoh? Come on! Akui saja bahwa keberadaanku ini menyelamatkanmu dari pandangan kasihan orang-orang, Richard."
"Aku tidak pernah peduli dengan mereka,"
"Tapi aku peduli... padamu,"
Telinga pria yang dipanggil Richard itu mendengar suara lirih terakhir yang diucapkan lawan bicaranya. Tapi kedua mata tajamnya tak pernah bisa berpaling dari sosok di seberang yang sejak tadi tak pernah kendur senyum bahagianya. Rindu yang membuncah di dadanya untuk gadis itu saat ini terlampau kuat untuk diabaikan seperti biasanya. Richard tidak menyangkal bahwa kehadiran sosok yang duduk tepat di depannya ini banyak membantunya dalam hal pengalihan kerinduan, tapi tetap saja, target utamanya sejak dulu adalah menemukan keberadaan Baekhyun lalu memberondonginya dengan pertanyaan yang sejak lama bertengger di kepalanya.
Richard sempat berusaha mengalihkan fokusnya dari mencari Baekhyun menjadi mencoba untuk memberikan waktu berharganya demi gadis dari masa kecilnya yang tidak sengaja ia temui di kampusnya beberapa tahun lalu ketika ia masih berstatus mahasiswa. Tekadnya hampir bulat untuk menjadikan gadis itu kekasihnya sembari ia mencari jejak gadis masa kecilnya yang lain dan mengabaikan fakta bahwa ada sosok lain yang perhatian padanya walaupun ia tak terlalu memperhatikan.
"Ayo pulang, Seohyun. Aku ada janji menjemput Kyungsoo nanti sore,"
.
.
Jongin masih asyik mengobrol panjang lebar kali luas bersama dengan Baekhyun. Berbagi tawa, berbagi pukulan ringan dan berbagi sindiran. Keduanya tampak begitu hanyut dalam suasana menyenangkan, santai dan menggembirakan yang mereka bangun sendiri sejak mereka pertama kali bertemu (kembali). Rasa nyaman yang menyelimuti masing-masing terasa begitu kuat hingga rasanya tak ada seseorang yang mampu merusaknya. Tapi kemudian, detak jarum jam menyadarkan Jongin bahwa janjinya terlewat beberapa menit.
"ASTAGA! AKU TERLAMBAT!" teriak Jongin sembari memukul kepalanya sendiri. "Aish! Kyungsoo bisa mencekikku jika begini! Noona, ayo pulang, aku lupa aku harus menjemput Kyungsoo jam empat dan sekarang sudah jam empat lima belas!"
Baekhyun tertawa melihat kepanikan Jongin. "Sudah sana cepat ke kampus dan jemput tuan putrimu itu."
"Ei, lalu kau bagaimana?"
"Aku akan naik taksi. Sudah sana, cepat. Aku tidak mau menemuimu dalam peti mati nanti malam, Jongin. Sudah sana!"
Jongin menatap Baekhyun dengan perasaan bersalah tapi kemudian ia bergegas meninggalkan sang gadis demi menjemput gadisnya. Selepas kepergian Jongin, Baekhyun menatap jendela sembari tersenyum geli. Pemuda satu itu benar-benar tidak berubah sejak terakhir mereka bertemu sebelum akhirnya mereka berpisah sekian lama. Tatapan Baekhyun beralih pada benda persegi hitam yang ada di atas meja.
"Dasar ceroboh. Aku antar ke kampus sepertinya masih sempat, daripada nanti dia mati kutu jika tak ada bahan pembicaraan dengan Kyungsoo?"
Baekhyun bangkit dari posisinya dan segera berpamitan pada beberapa pegawai cafe yang sudah ia kenal. Langkahnya ia arahkan menuju luar cafe dan menunggu taksi yang akan mengantarnya ke kampus Jongin.
Dilain tempat, Jongin memacu motornya dalam kecepatan tinggi dan hanya memikirkan Kyungsoo yang menunggu dengan wajah masam di pintu kampus.
"Kubayar saja deh dengan ice cream. Semoga dia tak kesal karena aku terlambat," harap Jongin sembari tetap menjaga kecepatannya dan keseimbangannya dalam mengendarai motor. Akhirnya, tak kurang dua menit kemudian ia sampai di gerbang kampus, dan dari jauh mata tajamnya sudah menangkap Kyungsoo yang terlihat sedang berbincang dengan seseorang. Jongin pun mengarahkan motornya untuk menghampiri Kyungsoo dengan cepat.
"Kyungsoo-ya! Maafkan aku! Aku tidak lihat jam!"
Jongin berlari kecil dari tempatnya memarkir motor menuju Kyungsoo yang kini memasang wajah kesalnya.
"Kukira sesuatu terjadi padamu tahu! Kau tidak biasanya terlambat hingga setengah jam!"
Jongin membungkukkan badannya dan menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya sendiri sembari memasang wajah paling imut yang dia punya. Maksudnya sih, untuk meminta maaf Kyungsoo, tapi malah cubitan ringan yang ia dapat.
"Kau kemana, sih?"
"E—? A-aku tadi ada urusan dengan noona, dan mungkin karena terlalu asik jadi aku tidak melihat jam." Jongin menjelaskan dengan cengiran tak berdosanya, lalu kemudian menolehkan kepalanya dan menatap sosok tinggi di depan Kyungsoo. Dadanya sedikit bergemuruh saat kedua matanya menatap sosok itu.
"Ah—Hai, hyung. Sudah lama, ya?"
Senyuman kecil tak terlihat, muncul di wajah lawan bicara Jongin. "Hai juga, Jongin. Ya, sangat lama. Berapa tahun, ya?"
"Entahlah, lebih dari tujuh tahun yang jelas, kan? Kukira kau sudah entah ada dimana,"
"Kau sungguh tidak berubah, ya?" mimik wajah sosok itu berubah sinis dalam sepersekian detik. "Aku kira kau tahu bahwa aku yang selama ini mengantar Kyungsoo pulang setiap kali kau mengabaikannya,"
Aura di sekitar Kyungsoo mendadak berubah menjadi hitam perlahan. Gadis itu sebenarnya ingin melerai perang dingin yang muncul di depannya, tapi lidahnya kelu.
"Mengabaikan? Kau bercanda? Kata macam apa yang kau pakai untuk menggantikan ketidakcocokan waktu kami untuk pulang bersama itu, hyung?" Jongin sungguh menahan emosinya dengan setengah mati. Ia tidak boleh lepas kendali saat ada Kyungsoo di sekitarnya.
"Well, aku juga sama sibuknya denganmu, tapi nyatanya aku tetap bisa meluangkan waktu untuk menjemput gadis ini kapanpun dia minta. Jadi?"
"Ah begitu? Benar juga, direktur perusahaan Park Enterprise pasti selalu sibuk, ya? Apalah kesibukanku dibanding kesibukanmu ya, hyung? Aku tebak, kekasihmu pasti sangat senang karena bisa pacaran dengan pemuda mapan sepertimu. Walau aku juga tak yakin dia bisa bahagia jika harus bersaing dengan dokumen-dokumen dan rapat pentingmu,"
"Bagaimana jika kau tanyakan saja pada Kyungsoo? Aku baru saja menyatakan perasaanku padanya sebelum kau datang dan saat ini sedang menunggu jawabannya."
Jongin kaget luar biasa dengan pernyataan sosok di depannya. Pandangannya berpindah dengan cepat dari Kyungsoo menuju lawan bicaranya lalu kembali ke Kyungsoo. Tak jauh beda dengan Jongin, Kyungsoo yang mendengar pernyataan pria itu pun terkejut bukan main.
"O-oppa! Apa yang kau katakan, sih?"
"Oh, kenapa? Bukankah tadi aku sudah bilang bahwa aku menyukaimu dan memintamu jadi kekasihku? Apa itu kurang jelas, Kyungsoo?"
"T-tapi... a-aku tidak mau, oppa!" Kyungsoo meninggikan sedikit nada suaranya sambil tetap menghindari tatap mata Jongin. Ia entah mengapa tiba-tiba merasa bersalah setiap kali kedua mata tajam itu berhasil bertumpuk pandang dengan bola mata bulat miliknya.
"Wah, aku ditolak, ya? Sayang sekali. Padahal dibanding calon dokter muda seperti dia yang masih belum jelas masa depannya, aku lebih baik, kan?"
Jongin terpancing dan berdehem kasar. "Kau juga tak berubah ya hyung, tetap sinis seperti biasa. Dan apa kau dengar jawaban Kyungsoo? Dia menolakmu, ME-NO-LAK-MU. Jadi hentikanlah segala upaya omong kosongmu untuk mendapatkan hatinya. Pergilah jauh-jauh dan temukan sendiri gadis yang—"
"JONGIN!"
Teriakan merdu yang sudah pasti diketahui siapa gerangan pemiliknya itu mengalun dan membuat ketiga manusia yang sedang dalam suasana panas ini menoleh cepat.
"Noona? Kau sedang apa disini?"
"Mengembalikan ponselmu, bodoh. Aku takut jika kau akan kehabisan bahan pembicaraan dengan Kyungsoo, makanya aku—"
Jongin bergantian menatap Baekhyun dan pria yang sama terkejutnya dengan Baekhyun saat ini. Lalu senyum kecil penuh arti muncul di sudut bibirnya.
"Karena Kyungsoo sudah menjawab pertanyaanmu dengan jelas, kurasa kau tidak punya alasan untuk menunggu apapun darinya. Dan, karena kau membawa mobil, kenapa kau tidak antarkan Baekhyun noona pulang selagi aku dan Kyungsoo pulang sendiri dengan motorku, Chanyeol hyung?" tatapan sinis Jongin itu sebenarnya penuh arti positif, Chanyeol tahu itu. Tapi keterkejutannya masih belum hilang, jadi ia tak sedetik pun mengalihkan matanya dari Baekhyun.
"Kuanggap jawabanmu adalah iya. Jadi, noona, kau pulang dengan dia, ya? Kalau dia menyakitimu atau melakukan sesuatu yang membahayakan, segera hubungi aku. Aku menunggumu makan malam nanti. Dan kau, hyung, mengantar noona pulang adalah tugasmu sekarang. Jika kau mengabaikannya, aku tidak akan lagi menahan tanganku untuk menyapa pipimu." Ujar Jongin penuh semangat. "Ayo, Kyung, kita juga pulang."
Kyungsoo sebenarnya masih tidak paham atas atmosfir aneh yang baru saja muncul. Bagaimana bisa Jongin membiarkan Baekhyun pulang dengan Chanyeol yang belum ia kenalkan? Apa sebelumnya mereka sudah saling kenal? Kenapa Chanyeol sekaget itu saat menemukan Baekhyun ada disana? Dan, kenapa juga dadanya berdebar kencang saat tangannya digenggam lembut oleh Jongin saat ini?
"—Kyung? Ya Tuhan, jangan melamun, hei. Ayo, cepat pakai helmnya. Aku akan mentraktirmu ice cream sebagai permintaan maafku karena terlambat menjemputmu. Oh, atau kau mau yang lain?"
Kyungsoo bangun dari lamunannya dan menatap Jongin. "Ah, tidak. Ice cream oke, kok."
Setelah naik dan memastikan bahwa posisinya sudah nyaman di atas jok motor Jongin, Kyungsoo mengalihkan pandangannya lagi pada dua orang yang belum beranjak dari posisinya di kejauhan. Masih terpaku seolah sosok di depan mereka adalah mimpi yang terlalu indah... atau terlalu buruk untuk jadi kenyataan?
"Jangan khawatirkan mereka. Mereka akan baik-baik saja, percaya padaku."
.
.
Langit sudah gelap. Jam digital di dashboard mobil sedan hitam ini juga sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Tapi sejak deru mobil ini kembali berkumandang, tak satu pun suara mengalun untuk memecah keheningan absolut ini. Dua insan yang sama-sama tidak tahu harus mulai dari mana untuk bicara ini juga seperti sedang terbang menuju alam bawah sadar mereka dimana masa lalu membahagiakan pernah keduanya ukir bersama. Namun akhirnya, setelah meyakinkan diri sendiri bahwa ia harus jadi pribadi yang berani dan kembali fokus pada tujuan utamanya yang sudah sempat ia kesampingkan, sang pria mulai bicara.
"Terlalu lama, ya?"
Chanyeol tahu bahwa dalam kasus mereka, dia adalah pihak yang pantas diberi penjelasan. Chanyeol juga tahu bahwa dalam kasus mereka, Baekhyun adalah pihak yang perlu banyak menjelaskan dan memulai pembicaraan. Tapi Chanyeol sadar bahwa bagaimanapun, dia adalah laki-laki. Dan sepanjang sejarah terciptanya manusia, tak ada satu pun ovum yang bersusah payah mengejar sperma demi terjadinya fertilisasi, kan?
"Ya, sangat lama."
Hening lagi.
Chanyeol sebenarnya gemas dengan suasana yang terlampau dingin seperti ini. Ia gemas dan bibirnya sudah terlalu gatal, ingin segera bertanya banyak hal pada Baekhyun. Tapi lagi-lagi ia sadar bahwa gadis itu, sama terkejutnya dengan dia saat ini.
"Mungkin lebih baik kita bicara lain kali. Itu pun jika kau mau. Aku rasa, kita masih sama-sama tidak percaya, bukan?"
Ya. Chanyeol benar. Bahkan terlampau benar untuk sekedar menebak bahwa Baekhyun sedang dalam mode sangat tidak percaya bahwa ia bertemu Chanyeol. Laki-laki yang empat belas tahun lalu ia tinggalkan begitu saja tanpa kata-kata. Laki-laki yang selama lebih dari empat belas tahun lalu bahkan hingga hari ini selalu hadir di pikirannya. Laki-laki yang jadi cinta pertamanya, laki-laki ketiga yang arti kehadirannya jadi sangat penting untuk Baekhyun.
"K-kau benar. Aku tak keberatan, lagipula harusnya aku yang bertanya begitu, kan? Apa... apa kau keberatan jika lain hari kita... bertemu lagi?"
Demi Dewa Cinta yang sampai saat ini panahnya masih enggan lepas dari hati Baekhyun! Susah sekali rasanya lidah Baekhyun untuk bisa menyebut lagi nama itu?
"Tentu. Kapanpun kau mau dan siap, aku bisa meluangkan waktu. Kau tinggal menghubungiku saja,"
Mobil Chanyeol terasa begitu cepat melaju. Rasanya tadi mereka masih berputar-putar di jalan dan tiba-tiba sekarang mereka sudah entah dimana.
Tunggu.
Kenapa Chanyeol berhenti di daerah yang tidak Baekhyun tahu? Pria ini tidak berniat buruk, kan?
"K-kenapa berhenti?"
Chanyeol terkekeh pelan, lalu mengubah posisi duduknya menjadi menghadap Baekhyun. "Aku tidak tahu dimana kau tinggal. Jadi aku berhenti sebentar untuk bertanya padamu. Jangan takut, aku tidak akan macam-macam padamu."
Untung saja lampu dalam mobil Chanyeol itu tidak menyala. Jika tidak, maka pipi bahkan wajah Baekhyun yang sudah seratus persen merah itu akan mudah terlihat.
"A-aku tinggal bersama Jongin. D-di apartemennya... I-ini alamatnya," Baekhyun menyerahkan ponselnya yang tercantum alamat apartemen Jongin. segera setelah membaca dan diam-diam memasukkan nomornya di ponsel Baekhyun, Chanyeol melanjutkan acara menyetirnya dengan pikiran yang dipenuhi pertanyaan tentang mengapa gadis ini tinggal bersama Jongin? Apa hubungan mereka sudah sejauh itu? Jika begitu, kenapa tadi Jongin mengisyaratkan perang dengannya yang akan mendekati Kyungsoo?
Lima belas menit berlalu dan akhirnya mereka sampai di lobi apartemen Jongin. Setelah memarkirkan kendaraannya, Chanyeol mengantar Baekhyun menuju apartemennya dan Jongin tanpa mengucap sepatah katapun.
Baekhyun sebenarnya ingin melarang Chanyeol mengantarnya hingga ke kamar. Selain tidak ingin merepotkan, Baekhyun tidak ingin ada atmosfir hitam lagi antara pria itu dengan Jongin.
"NOO—ah, kau mengantarnya? Apa tidak merepotkan? Terima kasih sudah mengantar noona pulang bahkan sampai kemari. Nah, karena noona sudah dipastikan aman, kau dipersilahkan pulang, hyung."
Jongin membuka pintu apartemen dengan tergesa tanpa melihat interkom saat bel apartemennya berbunyi. Saat menemukan bahwa Chanyeol juga mengantar Baekhyun hingga ke atas, Jongin segera mengatur dirinya agar tidak terbawa suasana dengan segera mempersilahkan sang pria untuk pulang dan tak lupa ia pun mengucapkan terima kasih karena pria itu sudah menjalankan tugasnya dengan baik.
"Ah, t-terima kasih..."
Baekhyun menyempatkan berteriak walau lagi-lagi lidahnya kelu saat ia ingin menyebut nama Chanyeol. Dilain pihak, Chanyeol yang sudah melangkah menuju lift, menyempatkan tersenyum kecil saat mendengar suara merdu Baekhyun lagi.
"Kau sungguh tidak tahu betapa aku sangat merindukan suaramu, kan, Baekhyun?"
Suara Chanyeol terdengar lirih dan semakin lirih seiring menutupnya pintu lift yang akan mengantarnya kembali ke lobi. Pikiran Chanyeol berkecamuk tapi kebahagiaan adalah rasa yang paling unggul diantara semuanya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Baekhyun..."
.
.
.
Alhamdulillah, sudah tinggal satu chapter menuju ending kekeke.
Ada yang ngikutin dan sudah nonton AADC 2? Kekeke chapter ini terinspirasi dari pertemuan kembali setelah empat belas taun pisah antara Ranggayeol dan Cintahyun.
Dan, karena sudah mau ending jadinya per chapter nanti nggak terlalu panjang. Mohon dimaafkan dan dimaklumi karena keterbatasan kaje sebagai manusia dan mahasiswa yang belum juga kelar kuliahnya yha kekeke.
Semoga suka sama chapter ini, yha. Jangan lupa reviewnya, :))).
Salam!
Kajegaje
