Anezha L.G

Oh Family : Baby Hwanie

Declaimer : Mereka milik Tuhan YME, orang-tua dan diri mereka sendiri.

Rated : T

Cast : Oh Sehun, Xi Luhan, Oh Jun Hwan ( OC ) and many more.

Warning: Shounen-Ai, M-PREG, AU, OOC, OC, Typo(s).


Summary: "Oh Jun Hwan. Bayi tampan yang memiliki sejuta kelakuan menggemaskan."


Don't like don't read!


Tidak ada yang lebih mengejutkan untuk seorang Luhan selain kedatangan adik kandungnya yang sekarang seharusnya berada di China.

Ia yang hendak mengambil daging dari dalam kulkas yang kemarin baru ia beli di supermarket, terlonjak kaget saat seseorang menepuk pelan bahunya. Terlalu terkejut hingga ia hanya bisa membuka-tutup mulutnya saat melihat seseorang tengah berdiri dihadapannya saat ia berbalik.

Pemuda yang lebih tinggi dari kakak laki-lakinya itu segera memeluk erat laki-laki berwajah cantik yang tidak lebih tinggi darinya. Setelah terlepas dari keterkejutan Luhan, mereka segera melonjak-lonjak seraya berputar-putar riang tak lupa suara pekikan yang keluar dari mulut mereka.

Setelah puas dengan acara reuni khas milik mereka, Luhan yang lebih tua segera menggiring pemuda yang adalah adiknya itu untuk duduk di kursi yang ada di ruang makan.

" Kapan kau sampai disini Taozi? " Tanya Luhan dengan bahasa mandarin begitu ia duduk disamping adiknya dengan wajah penasaran. Sepertinya ia terlalu terkejut hingga melupakan bagaimana cara sang adik dapat masuk kedalam rumah.

" Aku diantar Yunho-baba tadi. Sebenarnya aku mau kesini tadi malam tapi Jae-mama memaksaku bermalam disana. " Suara yang tak kalah lembut dari Luhan itu menjawab seraya tersenyum.

Xi Zi Tao namanya, iya. Dia adalah adik laki-laki dari Xi Luhan yang sekarang menjadi Oh Luhan. Wajahnya tak kalah manis dari kakaknya apalagi saat ia tersenyum.

Luhan mengangguk mengerti. Pantas saja adiknya dapat masuk ke rumah, pasalnya hanya Sehun, dirinya dan kedua mertuanya yang tahu password rumah ini.

" Kau pasti lelah. Biar aku yang menaruh ranselmu!" Luhan mengambil ransel yang masih berada dipunggung adiknya yang dibalas anggukan kecil dari yang bersangkutan, lalu segera berjalan riang menuju kamar tamu yang tidak jauh dari dapur.

Tao mengedarkan pandangannya ke penjuru dapur. Tadi saat ia datang kesini keadaan rumah yang ditinggali kakak dan suami kakaknya itu masih dalam keadaan gelap karena memang masih terlalu pagi. Ia secara naluri berjalan kedapur ini saat melihat satu-satunya ruangan didekat pintu masuk yang lampunya menyala. Dan benar saja ia mendapati punggung kakaknya yang sudah ia hafal diluar kepala tengah sibuk berkutat dengan kulkas yang pintunya terbuka.

Ia tiba-tiba jadi teringat dengan perjalanan panjangnya dari Beijing. Melihat wajah kakaknya yang terkejut tadi memang tidak mengherankan karena ia juga tidak mengatakan apa-apa kepada kakak cantiknya bahwa ia akan berkunjung. Secara, ini memang keputusan mendadak. Orang-tuanya di China juga sebenarnya tidak setuju saat mendengar anak bungsu mereka ini berniat menetap di Korea dan melanjutkan kuliah disana.

Oh, ayolah. Xian Hua -nama ibu Luhan dan Tao ini masih tidak rela melepas Tao-nya yang masih manja dan imut itu. Bagaimana kalau ada yang berniat menculik putera bungsunya itu? Itu terlalu berlebihan, ibu.

Untungnya ada ayahnya, yang kata Tao super hero sejati -Xi Zhoumi, membela Tao secara ikhlas lahir batin dan ikut meyakinkan istrinya dengan wajah memelas yang ia wariskan kepada kedua putera cantik-manisnya. Zhoumi percaya Tao mampu menjaga diri didukung pula dengan kenyataan bahwa Luhan juga tinggal di Korea.

Alasan sebenarnya sih Tao tidak mau jauh-jauh dari kakaknya tercinta. Dan juga ia ingin bertemu dengan keponakannya yang lahir setahun yang lalu. Ia belum sempat berkunjung karena saat Jun Hwan lahir tepat ia kelas 3 SMA, tidak mungkin meninggalkan sekolahnya begitu saja. Kebiasaan Tao adalah jika sudah bersama Luhan ia tidak akan mau berpisah lama-lama.

Tao sempat bingung saat ia baru saja sampai di bandara internasional korea. Kenapa pula ia begitu bodoh tidak menanyakan alamat yang ditinggali kakaknya terlebih dahulu. Apalagi keadaan kota itu begitu asing dimatanya. Hendak mengambil ponselnya untuk menghubungi kakaknya, suara seorang wanita terpaksa menghentikan niatnya.

"Tao?" Panggil wanita itu dengan suara lembut seraya menghampiri Tao.

Tao segera berdiri dari duduknya untuk menyambut ibu keduanya. "Mama?" Tanyanya dengan aksen korea yang aneh karena ia belum terlalu lancar memakai bahasa asli milik suami kakaknya.

Jaejoong tertawa anggun mendengar cara berbicara anak itu yang terdengar lucu ditelinganya kemudian memeluk Tao erat. Ia sudah menganggap Luhan dan Tao seperti anaknya sendiri.

"Sudah lama disini, sayang?" Jaejoong bertanya penasaran saat pelukan mereka lepas.

Tao menggeleng dan tersenyum, Jaejoong malah gemas sendiri melihatnya. Wanita cantik itu segera mengecup pipi kiri dan kanan Tao secara bergantian walaupun harus sedikit berjinjit untuk dapat melakukannya.

"Ya sudah. Ayo, appa sudah menunggu!"

Tao mengikuti Jaejoong yang menariknya kelewat semangat sambil menarik kopernya keluar dari bandara.

Tao sampai dikediaman keluarga besar Oh tepat pukul lima sore. Jaejoong yang kedatangan Tao sangat antusias untuk membuatkannya makan malam dan memaksanya menginap. Alasannya, sudah lama ia tidak memanjakan Sehun yang sekarang sudah tinggal terpisah dari rumah utama. "Sudah lama tidak ada yang bisa Eomma manja, Tao-ya. Jadi sebagai gantinya Tao saja ya!" Begitu katanya kepada Tao saat mereka menyantap makan malam bersama.

Tapi Yunho selaku suami dari Jaejoong dan ayah dari Sehun segera menatap tidak setuju kearah istrinya yang duduk tepat disebelah kanannya lalu berseru dengan suara terlampau lantang, "Yeobo, aku masih butuh dimanjakan olehmu!" Dan sontak Tao yang mendengarnya tertawa geli yang diikuti tawa tertahan dari beberapa maid yang menemani mereka makan.

Hal itu tentu saja membuat Jaejoong yang memiliki mata yang memang sudah bulat tambah bulat saat memelototi suaminya. Jangan lupakan geplakan dikepala yang terdengar nyaring diruang makan besar itu diikuti ringisan laki-laki tampan yang menjadi korban.

Tao tersenyum geli mengingat kejadian di kediaman Oh tadi malam. Keluarga Oh memang baik dan menyenangkan, beruntung sekali kakaknya dapat memiliki salah satunya.

Luhan yang baru saja sampai di dapur setelah tadi menaruh ransel milik adiknya segera berkutat kembali dengan daging yang belum jadi ia ambil tadi karena kedatangan adiknya.

" Taozi, mau kubuatkan steak? " Luhan bertanya pelan.

Tao mengalihkan pandangan ke arah Luhan dengan antusias. Ah, kakak cantiknya memang selalu tahu apa yang menjadi favoritenya.

" Benar gege mau membuat steak?" Suara Tao terdengar semangat.

" Tentu saja adikku sayang. " Luhan tertawa kecil lalu mulai memotong daging yang ada dihadapannya. Ia tidak mungkin lupa makanan favorite adiknya dari kecil.

" Kalau begitu biarkan aku mengupas kentang!" Tao segera menghampiri Luhan yang masih berkutat dengan beberapa daging segar ditangannya dan Tao yang tengah mengupas kentang berukuran besar.

Kakak-adik itu tertawa bersama seraya membuat sarapan. Dan siapapun yang melihatnya yakin, makanan yang mereka buat akan terasa sangat lezat karena mereka membuatnya dengan cinta dan suka-cita yang mereka bagi.

Steak sapi special kentang tumbuk dengan sauce madu, kentang goreng, kentang tumbuk manis dan bubur dengan daging dan sayur -untuk Jun Hwan menjadi menu sarapan kali ini. Makanan-makanan itu tertata apik dimeja makan. Dan sekarang saatnya Luhan untuk membangunkan Sehun dan Jun Hwan yang masih tidur dikamar.

Luhan mencuci tangan kemudian mengelapnya dengan serbet di dekat westafel.

" Taozi, tolong ambil beberapa buah di kulkas ya untuk pencuci mulut! " Ujar Luhan seraya melepas apron berwarna kuning yang tadi ia pakai.

Tao mengangguk dan segera melaksanakan apa yang Luhan katakan tadi.


Luhan membuka pintu kamarnya perlahan lalu menghampiri sisi kanan ranjang yang diatasnya terdapat si tampan Sehun yang masih tertidur nyenyak. Ia duduk perlahan lalu menunduk untuk mencium bibir tipis milik suaminya.

"Bangun tuan Oh, sarapanmu sudah siap." Ujarnya pelan disela bibir mereka yang masih bersentuhan. Luhan mengangkat wajahnya begitu melihat laki-laki tampan dibawahnya sudah membuka mata.

"Selamat pagi Sehunie!" Luhan mengecup singkat pipi kiri Sehun sebelum beranjak ke sisi kiri ranjang untuk membangunkan Jun Hwan.

Sehun menguap, masih merasa mengantuk sebenarnya. Tapi ia tidak mau mengecewakan istrinya yang sudah susah payah membuatkan sarapan jika ia memakan masakannya dalam keadaan sudah dingin karena ia tinggal tidur lagi.

"Sana kekamar mandi! ya ampun wajahmu."

Luhan menggeleng tidak habis pikir. Wajah suaminya sekarang seperti mayat hidup karena terlalu kusut dan pandangan kosong yang diarahkan Sehun padanya. Kemana perginya wajah tampan dan dingin yang dielu-elukan para wanita diluar sana untuk suami tampannya?

Sehun menggaruk kepalanya lalu beranjak bangun dan segera berjalan kekamar mandi walau harus sedikit terhuyung karena rasa kantuknya.

Luhan beralih menatap Jun Hwan yang mengerutkan kening dalam tidurnya. Sepertinya bayi berumur satu tahun lebih itu sedikit terganggu dengan suara disekitarnya.

"Hwanie, bangun sayang." Luhan membujuk dengan menciumi seluruh wajah bayi menggemaskan itu.

Jun Hwan tentu saja merengek karena tidurnya kembali diganggu. Ia membuka matanya dan bersiap untuk menangis. Tapi sebelum itu terjadi Luhan membawa Jun Hwan kedalam gendongannya lalu mencium lama kening Jun Hwan. Jun Hwan seolah paham dengan isyarat menenangkan Luhan, ia tidak jadi menangis dan berganti memeluk leher ibunya seraya memainkan rambut bagian belakang Luhan.

"Hwanie lapar ya? Eomma sudah membuat bubur special untukmu loh!"

"Bubu?" Jun Hwan menyahut dengan suara khas bangun tidurnya tapi lucu itu.

Tertawa kecil sebelum menjawab dengan anggukan Luhan lakukan. "Dan Eomma punya kejutan untuk Hwanie." Sambungnya.

Jun Hwan menatap ibunya dengan sorot mata penasaran lalu memiringkan kepalanya.

"Tapi sebelum itu poppo Eomma dulu." Luhan menunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuk.

Jun Hwan memekik girang seraya menepukkan kedua telapak tangan mungilnya lalu mengecup bibir merah milik ibunya.

"Kyaaa~ Hwanie pintar ne." Luhan memekik senang kelewat nyaring melihat wajah antusias Jun Hwan tentang kejutannya.

"Sayang, suaramu!" Sehun berujar dari dalam kamar mandi. Ia sempat menutup telinganya mendengar pekikan dari istri cantiknya. Sekarang ia tahu darimana Jun Hwan mendapat suara nyaringnya saat menangis.

"Maaf Sehunie." Luhan terkikik kecil seraya mencium pipi Jun Hwan yang tengah menguap.

Sehun keluar dari kamar mandi setelah tadi mencuci muka dan menggosok giginya. Wajahnya sudah kembali lebih segar daripada tadi baru bangun.

"Appa~" Jun Hwan merentangkan tangan meminta Sehun untuk menggendongnya. Sehun tentu saja tersenyum lalu mengambil Jun Hwan dari gendongan Luhan.

Keluarga kecil itu kemudian beranjak menuju dapur untuk sarapan dan menemui kejutan untuk si kecil Jun Hwan. Jadi apakah kejutan itu?


*Taozi itu nama panggilan keluarga Xi untuk Tao.

*Cetak miring untuk percakapan dalam bahasa mandarin.


A/N: Ada yang tanya Xian Hua itu siapa? Itu nama china dari Henry. Karena saya membuat karakter Henry disini jadi perempuan jadi tidak mungkin kan pakai nama Henry. Biar lebih kelihatan feminim jadi pakai nama china nya.


Mian kalau isinya kurang panjang and ngecewain ye. Tiba-tiba kehabisan ide sih. Apa ada yang mau nyumbang ide? Akan saya terima dengan senang hati~

Thanks yang udah mau review sebelumnya. Akhir kata!

RnR