Anezha L.G
Oh Family : Baby Hwanie
Declaimer : Mereka milik Tuhan YME, orang-tua dan diri mereka sendiri.
Rated : T
Cast : Oh Sehun, Xi Luhan, Oh Jun Hwan ( OC ) and many more.
Warning: Shounen-Ai, M-PREG, AU, OOC, OC, Typo(s).
Summary: "Oh Jun Hwan. Bayi tampan yang memiliki sejuta kelakuan menggemaskan."
Don't like don't read!
Masih ingat dengan kedatangan Tao di rumah keluarga kecil Sehun chapter kemarin? Oh, tentu saja kalian ingat ya. Sehun, Luhan beserta Jun Hwan yang tengah berada di gendongannya sedikit terkejut dengan kedatangan satu orang yang turut berada di meja makan -minus Luhan, yang juga tengah menunjukkan senyum malaikatnya ke arah keluarga kecil itu.
Perlu beberapa detik bagi Sehun yang baru bangun tidur untuk menyadari siapa gerangan tamu tersebut. Kemudian ia melempar senyum tipis kepada satu-satunya remaja yang ada disana, yang adalah adik kandung istrinya atau dengan kata lain adik iparnya.
"Nihao." Ujar Tao memecah keheningan seraya melambaikan tangannya.
Luhan tersenyum kecil melihat interaksi antara Sehun dan adiknya. Ia kemudian mendudukkan Jun Hwan di kursi khusus miliknya yang didesain khusus untuk bayi. Sementara Jun Hwan menatap tidak berkedip kepada penghuni baru di meja makan itu.
Tao yang menyadari dirinya sedang diperhatikan lantas menoleh dan balas menatap Jun Hwan seraya tersenyum manis.
"Hai, Hwanie~" Tao memanggil bayi menggemaskan itu dengan aksen koreanya yang lucu seraya melambaikan tangannya ringan -mengajak berinteraksi.
Jun Hwan mengedip polos lalu memiringkan kepalanya bingung. Didalam pikirannya ia bertanya siapa gerangan orang yang tengah melambaikan tangan kepadanya ini. Tapi karena ibunya selalu mengajarkannya untuk selalu tersenyum kepada orang yang menyapanya maka Jun Hwan memamerkan senyum menggemaskannya. Tao tentu saja kaget tapi berhasil ditutupinya dengan tertawa riang.
"Hwanie, ini gege." Tunjuk Tao pada dirinya sendiri.
Jun Hwan kembali memiringkan kepalanya bingung.
"Nah, mengobrolnya dilanjutkan nanti ya. Sekarang kita sarapan terlebih dahulu!" Luhan menginterupsi setelah tadi menaruh cangkir berisi kopi hangat milik suaminya.
"Itu benar." Sehun ikut menimpali, Hwanie memiliki teman main lagi mulai saat ini -pikirnya. Dan itu bagus, bisa sedikit membantu Luhan di rumah karena ia juga harus bekerja di kantor.
Keluarga kecil itu pun mulai memakan sarapan dengan tenang. Ah, jangan lupakan kehadiran Tao yang juga ikut sarapan bersama.
Kini sang kepala keluarga sedang menikmati waktu santainya dengan menonton televisi seraya menidurkan dirinya di sofa panjang yang ada disana. Sementara istri dan adik iparnya sedang menata barang di kamar baru Tao. Oh, jangan lupakan Jun Hwan yang baru saja keluar dari kamar baru Tao tanpa sepengetahuan dua orang itu sambil membawa mobil-mobilan di tangannya.
Ia berjalan pelan menuju ruang televisi saat mendengar suara khas dari benda berbentuk persegi panjang itu. Begitu sampai ia mendekati sofa panjang yang letaknya berhadapan dengan televisi besar itu kemudian memiringkan kepalanya saat melihat rambut hitam sang ayah yang mencuat di antara lengan sofa. Ia berjalan mengitari sofa lalu menatap wajah sang ayah yang belum sadar dengan kehadirannya.
"Appa~" Panggil Jun Hwan kepada sang ayah.
Sehun sedikit tersentak kaget mendengar suara buah hatinya yang baru ia sadari sudah berada di hadapannya, mungkin karena terlalu asik menonton tayangan berita di televisi. Sehun segera menatap wajah Jun Hwan tanpa mendudukkan tubuhnya dan tersenyum.
"Ada apa Hwanie?" Tanyanya dengan suara lembut.
Jun Hwan mengangkat mobil-mobilan yang berada di tangan mungilnya, isyarat untuk mengajak Sehun menemaninya bermain. Seakan paham Sehun terkekeh pelan lalu mengusap surai cokelat madu milik Jun Hwan sayang.
"Tapi poppo Appa dulu?" Sehun memberi syarat seraya menunjuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuk.
Jun Hwan mengangguk-angguk lucu lalu mengecup kilat bibir sang ayah.
"Utaaah~" Jun Hwan berseru semangat sambil mengangkat tangannya tiba-tiba membuat mobil-mobilan yang ada di genggamannya terlepas dan mengenai dahi mulus sang ayah.
"Auch!" Sehun refleks mengaduh sambil mengusap-usap dahinya yang terkena hantaman tidak sengaja mobil-mobilan Jun Hwan. Detik berikutnya Sehun tertawa geli mengingat betapa cerobohnya putranya -yang merupakan turunan dari istri cantiknya, alih-alih marah.
Jun Hwan ikut meringis lalu tertawa senang seraya menepukan kedua tangannya begitu melihat sang ayah tertawa yang sebenarnya ia tidak mengerti kenapa ayahnya tertawa. Anak kecil kan begitu, suka ikut-ikutan.
Luhan yang baru saja sampai di ruang santai mengerutkan alis bingung melihat Sehun dan Jun Hwan yang tengah tertawa bersama. Ia lalu menghampiri mereka lalu berdiri di belakang sofa seraya mencondongkan badannya kedepan melewati atas kepala sehun yang sudah terduduk di sofa.
"Hei, apa aku melewatkan sesuatu?" Tanya Luhan penasaran.
Sehun mendongak menatap istri cantiknya lalu kembali terkekeh.
"Lihat apa yang dilakukan Hwanie padaku, Lulu." Ujar Sehun menunjuk dahinya yang kini sudah mulai memar.
Luhan terkejut melihat memar di dahi Sehun lalu menatap bingung kepada Jun Hwan yang masih memasang cengiran polosnya. Ia menghela nafas, baru juga ditinggal beberapa puluh menit. Ia juga tidak menyadari Jun Hwan yang tadi masih berada di depan kamar baru adiknya dengan mobil-mobilan kesayangannya sudah tidak ada begitu ia berbalik.
"Kemari Hwanie." Luhan memanggil lembut seraya merentangkan tangannya dari balik sofa.
Jun Hwan menurut, ia menaiki sofa sedikit kesusahan tapi dibantu ayahnya. Dan begitu berhasil berdiri di atas sofa, Jun Hwan memeluk leher Luhan manja.
"Hwanie, apa yang Hwanie lakukan kepada Appa ne?" Luhan bertanya seraya menciumi pipi tembem Jun Hwan.
Jun Hwan mengerjap polos.
"Lulu, dia hanya tidak sengaja melempar mobil-mobilan yang dia pegang. Kau tau, sifat cerobohmu melekat dengan baik pada Hwanie" Jelas Sehun menggantikan Jun Hwan menjawab pertanyaan istri cantiknya.
Luhan mendelik, sedikit tidak terima dikatai ceroboh -yang walaupun itu memang benar.
"Sudahlah, nanti juga sembuh sendiri." Sehun duduk miring di atas sofa seraya ikut mengelus punggung Jun Hwan sayang, anak itu sekarang sibuk bermain dengan rambut Luhan.
"Yeobo." Panggil Sehun dengan berbisik. Memperhatikan wajah cantik istrinya dari dekat.
"Hm?" Sahut Luhan, ia mengangkat wajahnya yang tadi sedikit menunduk untuk melihat wajah Jun Hwan kemudian balas menatap wajah Sehun.
Sehun sedikit mengangkat dagu Luhan dengan ibu jari dan telunjuknya lalu mengecup sekilas bibir merah istrinya.
"Sehunie, jangan macam-macam." Luhan sedikit mendesis pelan begitu Sehun memundurkan wajahnya.
Sehun tersenyum konyol membuat Luhan kembali mendelik sebal.
Luhan kemudian mengelus rambut hitam Sehun yang posisinya lebin rendah darinya saat ini karena Sehun duduk di sofa dan dia yang berdiri.
"Sehunie, sudah memberi tahu Yi Fan untuk mengantar Taozi ke universitas yang ada disini?" Luhan bertanya penasaran. Tentu saja, ia tidak mau adiknya masuk ke universitas sembarangan yang saat ini senter diberita tentang kabar buruk beberapa universitas yang ada disana.
Sehun mengangguk, ia tadi sempat menelfon anak dari manager personalia di perusahaannya yang namanya sempat di ucapkan oleh Luhan. Ya, Wu Yi Fan atau biasa dipanggil Kris oleh Sehun. Dia merupakan tangan kanan Sehun untuk mengurusi segala urusan yang ada di kantor disaat ia tidak bisa hadir disana atau ada urusan keluarga.
Kris sudah seperti sahabat karib bagi Sehun. Walaupun umur mereka terpaut 5 tahun, Sehun 26 dan Kris 21 tahun. Salahkan otak genius Kris dan segala ketertarikannya terhadap dunia bisnis menjadikan ia lulus dari universitas lebih cepat dan diterima bekerja langsung oleh direktur Oh Corp yang tidak lain tidak bukan Oh Sehun. Ditambah ayah Kris adalah teman se-universitas ayahnya dulu.
"Jam empat sore nanti Kris akan datang kesini. Kau tidak perlu khawatir." Sehun melempar senyum tulus. Sebagai kakak ipar ia juga tidak mau adik iparnya masuk ke universitas yang salah. Apalagi Tao masih baru di Korea. Salah-salah ia jadi korban bully anak-anak disana.
Luhan mengangguk semangat lalu mencium pipi kanan dan kiri Sehun secara bergantian, memberikan tanda terima kasih dalam bentuk lain. Mereka bahkan melupakan Jun Hwan yang sudah menatap Sehun sambil mengerutkan keningnya karena sibuk bermesraan berdua.
Dengan kesal Jun Hwan menarik telinga sang ayah keras-keras hingga memerah.
"Auch! Ya! Hwanie." Panik Sehun seraya mencoba melepas tarikan tangan Jun Hwan di telinganya dengan hati-hati.
Ia rasa istrinya lupa Jun Hwan tidak terlalu suka saat mereka bermesraan dan melupakan Jun Hwan sendirian. Akibatnya selalu Sehun yang terkena akibatnya oleh Jun Hwan yang merasa cemburu diabaikan. Tapi tidak mungkin juga Sehun menyalahkan istrinya karena hal itu.
Luhan meringis menyadari kesalahannya, akibatnya bisa dilihat sekarang Sehun yang telah dijewer kelewat gemas oleh Jun Hwan. Ia mencoba melepas tarikan tangan Jun Hwan di telinga suaminya dengan menggenggam tangan Jun Hwan dan menariknya pelan.
"Ah, Eomma minta maaf ya. Sudah jangan menjewer Appa terus." Kata Luhan seraya menjauhkan tangan Jun Hwan yang ada di genggamannya dari telinga Sehun.
Jun Hwan mengerucutkan bibirnya belum puas menarik telinga Sehun. Sementara Sehun masih sibuk mengelus telinganya yang panas.
"Kenapa Hwanie suka sekali menyiksa Appa ne?" Tanya Sehun memelas seraya menatap wajah menggemaskan Jun Hwan yang tengah cemberut.
Sehun pura-pura menangis sambil membenamkan wajahnya di punggung sofa. "Kalau begitu Appa pergi saja ya?" Tanya Sehun dengan suara teredam sofa dan berpura-pura membuat suara terisak.
Jun Hwan mengerjap lalu menatap wajah sang ibu.
Luhan tersenyum kecil. Ia paham apa yang ditanyakan oleh buah hatinya melewati tatapan mata. Jun Hwan tidak mau ayahnya pergi.
"Kalau begitu Hwanie tidak boleh nakal, arrachi?" Luhan menjulurkan jari kelingkingnya ke depan wajah Jun Hwan.
Jun Hwan menggenggam kelingking Luhan lalu tertawa.
Luhan kemudian menurunkan Jun Hwan hati-hati di sofa.
"Appa~" Panggil Jun Hwan begitu berada di samping ayahnya. Tangan kecilnya menepuk-nepuk dengan pelan bahu bidang sang ayah.
Sehun mendongak, lalu secara tiba-tiba memeluk Jun Hwan dan menggelitikinya hingga balita itu tertawa karena kegelian. Sehun ikut tertawa melihat wajah menggemaskan Jun Hwan.
"Janji tidak nakal lagi, Hwanie?" Tanya Sehun seraya menciumi wajah Jun Hwan.
Jun Hwan mengangguk disela-sela tawanya.
"Kalau begitu poppo Appa!"
Jun Hwan merangkulkan tangan kecilnya di leher sang ayah lalu mencium bibir tipis ayahnya.
Tapi karena beberapa detik berlalu ciuman antara ayah dan anak itu tidak juga usai Luhan mendelik ke arah bawahnya melihat Sehun dan Jun Hwan yang masih terkikik di sela-sela ciuman mereka.
"Ya! Oh Sehun! Jangan buka mulutmu!" Seakan tersadar sesuatu Luhan memekik sambil menepuk-nepuk bahu sang suami.
Mereka masih asik terkikik dengan Sehun yang mencoba memundurkan kepalanya yang terlalu dipeluk erat oleh Jun Hwan.
"YAAA! OH SEHUUUUN!" Luhan semakin memekik tidak karuan membuat Tao dikamarnya yang sedang menerima telefon dari sang ibu tidak sengaja melempar ponselnya karena terkejut.
Oleeee~ Apa kabar semua? Saya minta maaf karena terlalu lama meng-update cerita ini. Ada banyak kendala untuk mengupdate nya. Dimulai dari ide ngadat, mager, sampai sinyal timbul tenggelam minta di tampar #curcol
Oh iya, makasih juga buat yang kemarin nyumbang ide buat fict ini. Akan saya pertimbangkan idenya untuk mengisi chapter depan~
Satu lagi, chapter 2 nya sudah saya edit. Yaitu nama panggilan Baozi menjadi Taozi. Sebenarnya saya memang sengaja pengen buat Tao panggilannya Baozi. Tapi melihat sepertinya ada yang kurang setuju jadi saya ganti.
Wups, cukup segitu saja. Nantikan chapter selanjutnya ya~ 😁😊
Ada yang mau pair KrisTao disini? 😁
RnR ya~
