copyright and disclaimer on chapter 1

...

Seluruh team Urus 7 telah mendarat di hangar kapal induk mereka, setiap pilot keluar satu persatu dari dalam kokpit sembari bersorak penuh gembira. Seorang perempuan berambut biru seperti Kaito muncul dari salah satu Ingram, ia melepas helm yang ia pakai seraya menggelengkan kepala pelan karena rambut menjadi lengket dan basah oleh peluh.

"Kerja bagus semuanya." ucap perempuan itu sembari memberi senyum palsu pada dua pilot lain yang baru saja keluar dari perangkat tempur mereka. Wajahnya tampak sedikit lesu dan postur tubuhnya seperti seseorang baru saja terbangun dari tidur yang penuh dengan mimpi buruk.

Seorang laki-laki pirang beriris merah menyala tampak di antara dua pilot tadi setelah melepas helmnya. Dia tersenyum dan membalas dengan isapan jempol, disusul pilot kedua yang terlihat masih berusia sekitar 12 tahun, anak laki-laki yang juga bersorak girang setelah melepas helm yang sedikit tersangkut di kepala.

"Operasinya berjalan lancar Aoki nee-san!" seru anak lelaki itu bersemangat. Anak kecil itu tampak seperti versi anak-anak dari pilot sebelumnya, kecuali dengan sebelah mata berbalut kain perban.

Shion Aoki, adik kandung Kaito kembali tersenyum miris. Ia memikirkan tentang Oliver yang dalam masa pelatihan untuk menjadi pasukan elit. Bocah itu tampak senang seolah ia baru menyelesaikan sebuah game dengan skor tertinggi. Padahal apa yang baru saja dia lakukan malam ini adalah pembantaian keji. Demi membentuk pasukan yang bisa diandalkan di setiap misi dan situasi, bocah seumurannya sudah direkrut dan harus berkutat dengan darah serta pertempuran yang bisa kapan saja merenggut nyawa. Sama seperti dia dan sang kakak sewaktu dulu. Benar-benar kejam.

"Aoki? Apa kamu sedang tidak enak badan? Mukamu tampak pucat?" pemuda pirang yang belum beranjak dari tempatnya diam-diam mengamati wajah khawatir Aoki, membuat gadis itu sedikit terkejut dari lamunan singkatnya.

"Ti-tidak…" ujarnya untuk mengelak, masih dengan senyum yang semakin membuat hatinya nyeri. "Aku hanya butuh waktu untuk istirahat. Operasi ini membuatku sedikit pegal." Sebuah kebohongan kembali terlontar, semua itu hanya untuk menutupi sisi aslinya agar tak seorang pun tahu. Agar ia tetap bisa hidup. Agar ia tetap bisa bersama kakaknya, satu-satunya keluarga yang tersisa. "Aku kembali ke kamarku dulu. Permisi Yohio, Oliver." dan gadis yang masih menggenggam erat sekeping hatinya itu pun meninggalkan kedua rekannya, beranjak pergi sambil menahan peluh yang perlahan membanjiri mata.

"Yohio nii-san tadi lihat aku tidak? Aku tadi menghancurkan 75 unit!" seru Oliver bersemangat tanpa merasa dosa sedikit pun. Aoki hanya diam sambil terus berlalu seolah tidak mendengar apa pun dari balik punggungnya, mengenai bagaimana sifat bocah itu telah melenceng jauh sesuai keinginan orang-orang serakah gila pertempuran. Jarak pintu menuju kabin tinggal beberapa langkah di hadapannya, dan ia berharap bisa segera pergi dari hangar tanpa seorangpun mengamati keanehan gerak-geriknya, serta dari Oliver yang mengulang kembali masa lalunya dengan versi yang jauh lebih gelap baginya.

"75? Nii-san 80 unit." balas Yohio sambil terkekeh penuh sindiran dan mengacak-acak rambut kusut Oliver. Bocah itu mendengus kesal dan menatap orang yang dia panggil Nii-san dengan bibir cemberut.

"Tapi Kaito Nii masih jauh di atas Yohio Nii, 120 unit solo!" sindir Oliver tak mau kalah, Yohio yang gemas mencubit kedua pipi bocah itu keras-keras.

"Ya jelas beda, masa aku kamu bandingin sama monster salju macam dia?" jawab Yohio, kali ini sambil mengunci leher Oliver dan menggosok-gosokkan tinju diubun-ubun. Oliver mengaduh diselingi tawa, di sisi lain, Aoki yang masih bisa mendengar kalimat itu dari percakapan keduanya, merasa jantungnya bagai dibedah tanpa melalui proses pembiusan. Ia ingin menjerit saat itu juga, namun ia tahan mati-matian dengan membungkam mulutnya sendiri dengan kelima jemari tangan.

'Kakakku bukan monster! Kakakku bukan monster!' dia berteriak di dalam batin sembari memencet tombol pintu. Menyerbu masuk begitu lempeng metal itu pergi dari jalannya, seraya memejam erat kelopak mata sepanjang lorong yang dia lalui.

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Power : Off

Power 2 : Off

Power 3 : Off

Power 4 : On

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Damage in ingram :

System : Error

Transmission : Off

Radar : Error

.

All system Error

Auto change to manual mode ... Error

Ingram Condition ... Bad

Try To Fix all sytem Error ... Failed

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sending Report To H.Q. ... Error

Pilot Condition ... Zero

Status Pilot Thurdgelmir ... Die

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Back-up life pilot ... On

Back-up power status ... 35% in time 60 hour 40 sec

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Sisa-sisa sistim otomatis Thurdgelmir mencoba untuk berfungsi seperti semula. Tentu saja, hal itu tidak mungkin mengingat 80% bagian tubuhnya telah hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan badan dengan sebelah lengan. Di dalamnya, pria yang dijuluki Jack Frost terkulai lemah dengan pelipis robek penuh darah. Selebihnya, dia cukup beruntung karena tidak kehilangan satu organ pun.

Masih memiliki sedikit tenaga, ia gerakkan lengan dan jari-jarinya untuk menekan sebuah tombol di salah satu panel Thurdgelmir yang bertulis "Emergency". Bagian dada Mecha itu terbuka dan udara pengap di dalam kokpit Kaito segera berhamburan keluar. Kaito terdiam untuk sejenak di bangku pilot. Membiarkan pertukaran udara menurunkan suhu tubuhnya sebelum bangkit seraya memegang kepala yang terasa berat. Pandangannya sedikit kabur, tapi ia tetap nekat merangkak dari Thurdgelmir yang sudah menjadi rongsokan tak berguna.

Pemuda itu mengamati sekitarnya untuk sejenak. Ia mendapati badan Thurdgelmir tersangkut di antara celah jurang dan lengan kiri Ingram tersebut terkulai ke bawah, tepat di sebuah jalan setapak di sisi sungai yang mengalir. Kaito segera menuruni lengan Thurdgelmir, lalu memutuskan untuk meniti jalanan kecil sungai tersebut searah arus mengalir, dan berpikir bisa menemukan tanah melandai untuk keluar dari jurang curam ini.

x-0-x

Kaito berjalan sempoyongan. Sesekali ia bersandar di dinding tebing yang keras dan basah. Luka di dahi telah ia tutup dengan robekan kain lengan baju sebagai tindak pertolongan pertama. Meski tidak sebanyak sebelumnya, darah masih tetap merembes dan mengganggu pandangan pria itu. Kaki dan tangannya juga perlahan-lahan tampak gemetar seiring langkah yang ia tempuh. Pengelihatannya mulai berkunang-kunang bahkan sesekali menggelap.

Apakah ini akhir darinya? jawaban yang ia dapat kemudian hanyalah mati rasa yang tiba-tiba menyerang kedua kakinya. Kaito jatuh tersimpuh sebelum ambruk di tanah berbatu tajam. Mungkin, darah yang tercecer di sepanjang jalan tidak lah sesedikit yang ia kira, oleh sebab itulah tubuhnya tak mampu lagi menopang bobotnya karena kekurangan energi yang dipasok lewat aliran hemoglobin. Kelopak matanya perlahan turun, rasa dingin menyusul merayap di bawah kulit pria bersurai biru itu. Ia tersenyum kecut menanggapi lelucon sang pencabut nyawa padanya saat ini dan bergumam lirih pada dirinya sendiri,

"Lucu, seseorang yang di anggap sedingin es masih bisa menggigil karena dingin itu sendiri.".

Ia lelah dan tak berdaya. Sendirian di bawah langit malam di mana mendung sedang bergumul tinggi di atas kepala. Suasana seperti ini, kondisi yang berada di antara hidup dan mati, semua hampir serupa seperti masa lalu yang tidak seorang pun ingin memiliki.

"Kalian bawa kemana anak kami!" suara wanita muda yang menyalak dalam isak tangis samar-samar terdengar di telinga Kaito. Jika ia berada dalam kesadaran penuh, mungkin akan tersentak kaget mendengar suara yang lebih dari sepuluh tahun tidak terdengar lagi. Tak lama kemudian bayangan kabur memenuhi pandangannya. Awalnya semua seperti Kristal-kristal embun yang mengacau pantulan di cermin, hingga akhirnya semua terlihat jelas.

"Ibu! Ibu! Aku tidak mau!" seorang anak kecil meronta-ronta dari genggaman erat seorang tentara, sementara gadis kecil hanya menangis tersedu mengusap air matanya di cengkeraman tangan tentara yang lain. Keduanya memiliki warna rambut yang sama, azure.

Wanita itu tetap berusaha untuk mendapatkan kedua anak kecil itu meski berkali-kali mendapat pukulan, tendangan bahkan pangkal senapan. Ia mencakar-cakar, menggigit dan apapun yang ia bisa untuk melawan para tentara bertubuh kekar dan berwajah garang. Tapi usahanya hanya menjadikan dirinya sendiri bulan-balanan. Hingga akhirnya mereka bosan dan kesal untuk meladeninya. Kemudian memutuskan untuk melobangi kepala wanita itu dengan sebutir peluru untuk membuatnya diam.

"DOR!"

Bocah kecil berambut biru terpaku dengan ekspresi tak terbaca ketika semburat merah mencuat dari dahi wanita itu, sekejab setelah bunyi letusan bergema di antara suara rintik hujan yang bermain di atap seng rumah mereka. Bulatan azure di wajahnya tampak padam seperti bulan di telan gerhana. Para tentara tertawa lepas. Beberapa di antara mereka mengolok-olok si teman yang wajahnya telah penuh luka membujur akibat kuku-kuku wanita itu mengait dagingnya. Sedangkan orang yang diolok menyumpah serapahi tubuh tanpa jiwa di bawah kakinya, menendang kepalanya sekali lagi sehingga darah bercecer lebih banyak di kubangan air, lalu meludahi wanita malang yang menginginkan kembali kedua buah hatinya yang sudah tidak bergerak lagi dengan mimik jijik.

Dan semua berakhir. Kegelapan mengambil alih penglihatan pria itu bersama bunyi denging memblokir indera pendengaran. Jika tadi hanya kedua kaki saja mati rasa, kini sekujur tubuh sudah tak bisa lagi Kaito rasakan. Nafasnya mulai tersenggal dan ia pun tertawa sekali lagi. Dalam hati.

Selama ini ia telah berbuat layaknya para tentara itu tanpa ia sadari. Siksaan fisik serta perlakuan yang merusak mental telah mengubahnya menjadi sosok yang bahkan akan ia benci jika saja ia mampu menerawang bayangannya lebih jauh di cermin. Ia benar-benar menyedihkan, begitu mudahnya ia menggadaikan semua moral yang dulu ditanamkan oleh wanita itu dengan penuh kasih sayang, dengan segala bentuk kebrutalan hanya untuk bisa bertahan hidup di dalam rantai "makanan" yang selama sepuluh tahun ini ia jalani.

Apa ia tidak memikirkan bagaimana perasaan mereka yang juga kehilangan? Apakah itu tindakan yang benar jika ia harus membagi rasa kehilangannya dengan orang lain yang tidak memiliki keterkaitan apapun dengan masa lalunya? Jack Frost, tidak salah satuan seangkatan memberi dia julukan sebagai sang arwah gentayangan yang memburu mangsa dengan hawa dingin menusuk terpancar dari keberadaannya. Sebutan yang dulu mampu menyulut senyuman sombong tanpa perasaan di bibir itu, sekarang tak lebih dari bumerang yang merajam di detik-detik kehidupannya yang semakin melambat dalam kecepatan tetap.

x-0-0-x

"Jack Frost! Kau akan aku bunuh!"

"Akan ku balas kematian anak-anakku!"

"Aku akan mengejarmu meski ke ujung neraka demi istriku yang kau bunuh!"

Suara-suara mengancam dari setiap wajah asing yang muncul di benak Kaito membuyarkan selimut kegelapan yang mengungkungnya. Kedua iris berwarna azure tersingkap lebar seiring sentakan badan yang membuat si pemilik segera bangkit dari ranjang yang tidak sadar dia tempati. Meski demikian, tatapan mata tersebut kosong. Nafas tersenggal dan keringat-keringat dingin sebesar butiran jagung memenuhi tubuh.

Sejenak, pikiran pria berambut biru itu memang hanya terfokus pada sisa-sisa bayangan dan suara-suara yang belum lenyap sepenuhnya. Hingga sebuah decit pintu kayu saat di dorong dari sisi lain mengembalikan kewaspadaan kedua kelereng biru yang ia miliki. Dia menoleh ke arah sumber suara dan mendapati sesosok wanita berdiri di bingkai pintu tak jauh dari tempatnya berbaring. Ia terlihat masih muda, seorang gadis lebih tepatnya. Ia memiliki warna rambut yang sangat aneh bagi pria ini, rambut itu dikuncir dua tinggi-tinggi di kedua sisi kepala dan panjangnya jauh melebihi pinggang, yang mana sangat jarang ada gadis yang memanjangkan rambutnya hingga seperti itu. Ia memakai blouse putih dan membawa sesuatu seperti baskom perak dengan handuk menggantung di sisinya. Kelihatannya ia hendak membasuh tubuh Kaito.

Jika Kaito lebih memperhatikan, maka ia akan menyadari bahwa gadis itu tampak terkejut, lebih-lebih saat pandangannya berakhir pada kedua matanya, mata bulat nan jernih yang juga berwarna selaras dengan rambutnya. Tapi pria ini masih belum terbiasa dengan keremangan di sekitarnya dan ia hanya melihat gadis itu memutar tumit serta kembali berlari turun melalui tangga untuk memanggil seseorang.

"Ayah! Dia sudah sadar! Dia sudah sadar!" ia berteriak penuh gembira.

Kaito tidak terlalu menghiraukan tingkah gadis itu, ia meraba dahinya, luka di sana telah dibalut dengan perban yang layak, terasa dari tekstur kain perban yang khas di jemarinya. Sebelumnya, Ia mengira ia telah mati di dasar jurang, namun sepertinya Kami-sama masih memberikan waktu untuk menghirup kehidupan lebih lama.

"Bukankah seorang sepertiku memang pantas mendapatkannya?" ia membatin seraya mengamati garis cahaya yang menerobos masuk melalui kaca jendela dan membentuk sekat tipis di keremangan kamar berdinding kayu ini. Pikirannya hampir kembali kosong, jika saja tidak ada orang lain yang segera kembali menengok keadaannya.

"Syukurlah kamu telah sadar." seorang laki-laki berkaca mata kali ini masuk ke kamar yang ia diami, gadis yang tadi sekarang tengah berdiri di balik punggung lelaki tersebut. Memberinya sebuah senyum lebar sementara semburat merah jambu samar-samar muncul di kedua pipi. Kaito memandang mereka dengan tatapan dingin mengintimidasi, dan untuk yang pertama kali, ia juga merasa sedikit bersalah dengan sikapnya yang seperti itu. Itu adalah wajah Jack Frost yang selama ini melekat pada dirinya agar semua orang menyadari eksistensinya, takut serta menyeganinya.

Tetapi sejak bayangan masa lalu itu hadir kembali, ia ingin membuang Jack Frost jauh-jauh. Sudah cukup monster berdarah dingin itu merasukinya dan menyeret orang lain dalam kesedihan tak berujung. Ia ingin kembali menjadi Kaito Shion, hanya Kaito Shion.

Pemuda bersurai biru itu mengalihkan pandangannya pada selimut. Mungkin, mereka sekarang takut padanya sama seperti semua orang yang baru saja ia jumpai. Tapi di luar dugaan, pria itu malah menarik sebuah kursi dan duduk di dekat ranjang Kaito.

"Kamu tidak perlu takut, kami yang telah menolongmu." sambung gadis di samping lelaki itu. Kaito sedikit terperanjat dengan reaksi mereka, secercah rasa gembira terpercik di dalam dirinya. Rasa gembira yang begitu jauh berbeda jika dibandingkan saat ia bisa menjalani pelatihan tanpa melakukan satupun kesalahan. Ini bukan gembira karena dia berhasil luput dari hukuman seperti seratus cambukan atau yang terburuk, ditembak mati. Tetapi rasa gembira karena masih ada orang yang akhirnya bersikap baik dan tulus padanya.

"Jika boleh kami tahu, siapa namamu? Dan dari mana asalmu?" gadis itu melanjutkan, sedangkan pria berkaca mata hanya diam memperhatikan.

"Namaku…" Kaito berhenti berkata-kata. Wajahnya tampak kebingungan. "Jadi… mereka tidak mengenalku?" ia meraba sesuatu yang biasa menggantung di balik sebuah scarf biru pemberian sang adik di lehernya, tapi tidak mendapatkan apapun.

"Apakah kamu mencari tanda pengenalmu?" sahut sang pria berkaca mata. Kaito menatapnya dan mengangguk.

"Ya."

"Maaf," pria itu menggaruk-garuk pipi "sepertinya kami tanpa sengaja menjatuhkannya di jalan saat membawamu kemari."

Kaito sedikit bernafas lega. Tidak seperti tanda pengenal yang lain, milik Kaito tidaklah bertuliskan nama aslinya, melainkan "Jack Frost" yang sudah sangat terkenal bahkan di kalangan orang awam. Jika saja mereka tahu yang sebenarnya, mungkin sekarang ia telah berada di penjara musuh, atau mungkin dibiarkan tergeletak begitu saja hingga tak bernyawa lagi. Tetapi, Kami-sama seperti telah memudahkan jalan baginya untuk menghapus dosa. Ia selamat dari maut yang bermain-main dengan benang kehidupannya yang tinggal sehelai saja. Tanda pengenal bertuliskan nama monster itu telah hilang, bahkan orang-orang yang ramah bersedia merawatnya.

Es pun mulai mencair dari wajah pemuda bersurai biru itu, membentuk gletser kecil menuruni pipinya. Sisi lain yang telah lama terpendam perlahan terbebas dari sangkar Kristal yang mengurungnya dalam kebekuan. Ia pandangi kedua orang di samping ranjangnya sekali lagi, membuat mereka saling bertatapan dengan wajah bingung. Melihat seorang lelaki bertubuh kekar menangis, gadis di samping pria berkaca mata itu menahan tawa, sementara orang yang dia panggil ayah menggeleng-geleng kepala. Kaito tak peduli dengan apa yang mereka pikirkan, ia hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihnya kepada mereka.

"Namaku… Kaito Shion, salam kenal dan terima kasih telah menolongku." ucapnya. Kali ini berhias senyum lebar yang entah telah berapa lama menghilang, yang mana telah kembali tergantung di wajah baru pemuda ini.

x-0-0-0-x

"A... apa…" Aoki terbelalak, disusul bibir kecil melengkung lebar membentuk garis tawa yang dipaksa-paksakan setelah mendengar kabar bahwa Kaito masih belum kembali dari misi mereka. Yohio yang berdiri di hadapannya menundukkan wajah, tampak terpukul karena kehilangan sosok pemimpin di antara mereka. Gadis itu ingin menyangkal apa yang baru saja dia dengar, namun dia bisa menilai sikap yang ditunjukkan pemuda tersebut. Dia sama sekali tidak bergurau.

"Thurdgelmir ditemukan di dasar jurang. Hanya tertinggal bagian badan dan lengan kiri saja." ia berhenti sejenak, bola mata scarlet itu bergulir ke arah lain sebelum tertutup rapat. "musuh mungkin telah berhasil menjatuhkan dan menangkapnya di saat kita meninggalkannya sendirian!" ia berbalik dan melayangkan tinju pada dinding seraya berteriak penuh emosi.

"Ka-kakak…" gumam Aoki yang tak sanggup membendung rasa sedihnya kali ini. Tubuh kecilnya berguncang, pandangannya mengabur berkaca-kaca. Menyadari reaksi Kaiko, Yohio pun mencoba untuk segera menenangkannya. Namun begitu dia berbalik, adik semata wayang Kaito itu lebih dulu menutup pintu kamarnya.

"Aoki…" panggil pria itu. Ia masih berdiri di depan pintu kamar si gadis berambut biru dan tak mendapat jawaban apapun selain suara tangis serta sesenggukan yang samar-samar dari balik pintu. "Aoki…" panggilnya sekali lagi, dan hasilnya tetap sama.

"Aoki…" untuk ketiga kalinya, masih sama. Yohio mengumpat lirih. Baginya, melihat Aoki yang tengah bersedih seperti itu adalah hal yang paling tidak ia inginkan. Namun, ia juga tidak bisa menyembunyikan kabar tentang Kaito. Meskipun nanti cepat atau lambat gadis itu akan tahu apa yang sebenarnya, menutupi semua itu darinya hanya akan menambah beban rasa sedihnya di kemudian hari. Jadi Yohio pun terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada Aoki. Lebih baik ia bersedih saat ini daripada harus bersedih kemudian yang mana itu mungkin akan membuatnya tidak mampu mempercayai siapapun lagi, termasuk dirinya.

"Aoki…" ia terdiam sejenak, mengelus pintu metal yang menjadi sekat antara mereka berdua. Merasakan dinginnya benda keras itu merambat di telapak tangannya, "Aku berjanji akan menyelamatkan Kaito" dan dia pun berlalu pergi meninggalkan koridor.

.

.

.


Thanks for read. n_n

mind to review?


Hint :

Thurdgelmir = Raksasa es dalam cerita ragnarok. Bentuk Ingram Kaito bisa disamakan dengan Strike Noir dari serial Gundam SEED movie, kecuali warnanya yang biru gelap dan bagian tangan yang telah dimodifikasi untuk menghasilkan energy shield menyerupai lempeng-lempeng cahaya yang membentuk tempurung di depan mobile suit.