copyright and disclaimer on chapter 1
...
A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon di maklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)
Setelah keluarga Hatsune menyelamatkannya dari insiden saat menjalani pertempuran di kota Alvaros, kini Kaito untuk sementara tinggal di rumah mereka. Ia berdalih tidak mengingat lebih jauh selain namanya dan fakta bahwa ia seorang tentara kerajaan Alexandria, lebih tepatnya sersan pangkat satu yang dikenal kejam. Tidak. Ia tidak ingin lagi mengingat makhluk buas itu.
Sebagai tamu dan anggota baru di keluarga ini, Kaito membantu Kiyoteru, pria berkaca mata sekaligus ayah dari gadis berambut teal atau apalah itu warnanya, yang bernama asli Miku Hatsune, bekerja di bengkel mekanik yang ia kelola di sebuah kota kecil di tepian hutan. Dia pernah sesekali bertanya-tanya, cukup aneh juga untuk seorang teknisi bisa menyelamatkan seseorang yang hampir mati.
"Hei, Kaito bantu aku mengangkat ini." pinta pria yang rambutnya sudah mulai ditumbuhi helai-helai uban. Meski begitu, wajahnya tampak seolah masih berusia tiga puluhan. Kaito yang baru saja memindahkan box peralatan di pojokan bengkel segera menghampiri pria itu setelah sedikit meregangkan otot-ototnya.
"Ugh! Apa ini paman? Berat sekali!" ujar Kaito yang sekarang sedang mengangkat box di sisi kanan sedangkan Kiyoteru di sisi kiri. Box itu lumayan berat sampai Kaito yang tubuhnya atletis pun kewalahan.
"Bi… a… sa…" jawab Kiyoteru. Ia berjalan mundur lalu berputar ke samping dan memberi isyarat Kaito dengan dagu dan lirikan mata agar meletakkannya di dekat dinding. Keduanya lalu meletakkan box tersebut, kemudian menghela napas lega.
"Onderdil." sambung pria itu. Kaito sedikit bingung dengan maksud perkataannya barusan, tapi sejenak kemudian dia mengangguk. Yang dimaksud Kiyoteru adalah isi box tersebut.
Keduanya sudah sangat lelah. Hari ini bengkel mereka lumayan mendapat banyak pengunjung, untungnya semua pelanggan tidak memiliki kerusakan yang berat pada kendaraan mereka sehingga pekerjaan bisa selesai dengan cepat dan mereka berdua bisa sedikit ongkang-ongkang kaki saat jam menunjuk angka sebelas siang. Itu berarti, tidak lama lagi Miku akan datang membawakan makan siang untuk mereka. Benar saja, barusan kedua laki-laki itu berbincang sedikit tentang sesuatu. Suara riang gadis itu sudah terdengar di depan bengkel.
"Ayah! Kaito!" teriaknya seraya masuk ke dalam. Dia membawa karanjang berisi beberapa potong sandwich berukuran besar dan dua botol besar air mineral. Kedua laki-laki itu segera menyahut keranjang yang tertutup serbet merah jambu itu dan membukanya dengan mata berbinar-binar karena lapar. Tanpa basa-basi mereka pun mengambil bagian masing-masing, tetapi jeweran berkecepatan tinggi milik Miku di telinga mereka segera membuat keduanya terhenti dan mengaduh.
"Cuci. Tangan. Dulu." Ancamnya sambil sedikit menunduk wajah, menggantung poni di depan mata, membuat siluetnya terlihat sedikit seram dengan bayangan hitam yang menaungi parasnya.
Kaito dan Kiyoteru memasang tawa yang terlihat sangat-sangat dipaksakan, di mana setiap ujung bibir mereka berdenyut-denyut dan butir-butir keringat dingin bermunculan di tepi dahi mereka.
"I-iya Miku." ucap keduanya kompak. Miku melepas jewerannya lalu melipat kedua tangan di depan dada seraya memasang wajah bersungut sambil menggembungkan sebelah pipi.
"Tidak ayah, tidak Kaito, sama-sama jorok." gerutu gadis itu sambil berpaling mengibas kuncirnya. Ia melirik kedua laki-laki yang sekarang sedang membersihkan diri dari oli yang belepotan pada tangan dan wajah mereka.
"Laki-laki kan wajar kalau jorok, Miku." ujar sang ayah sembari menggigit sepotong sandwich setelah mengambil satu dari dalam keranjang. "Coba kalau ayah ga suka jorok-jorok, mana bisa ayah buka bengkel?" Miku melirik ayahnya dengan mata menyipit. Kaito tersenyum lalu menambahkan.
"Kalau paman tidak buka bengkel, terus harus usaha apa? apa kamu mau paman buka salon kecantikan? Begitu?" gadis itu terdiam, ia melirik ke langit-langit sementara pikirannya membayangkan ayah satu-satunya menjadi seorang pegawai salon yang bertingkah seperti perempuan.
"Selamat datang, ada yang bisa eke bantu?" Miku bergidik. Tak lama kemudian tawa pun lepas memenuhi bengkel hingga semua onderdil yang digantung di tembok bergetar. Ayahnya hanya memandang Miku dengan alis datar lalu menoleh ke arah Kaito dan menghadiahinya tatapan sinar laser.
"Ayolah paman, aku kan hanya bercanda," Kaito membela diri, tapi tak ada perubahan apapun pada raut wajah pria itu. Tawa gadis berambut teal itu juga masih belum berhenti. Kaito menoleh antara Kiyoteru dan Miku, lalu meringkuk seperti kucing kecil yang dipelototi oleh anjing galak saat terpergok mencuri ikan ketika wajah Kiyoteru tiba-tiba saja telah mendekat hingga tersisa jarak satu inci.
"Ma-maaf… paman." ia berharap permintaan maaf barusan akan membuat Kiyoteru berhenti memandanginya. Tapi usahanya terlihat tak membuahkan hasil. Ia pun segera memejam mata ketika Kiyoteru berdiri dan dia duga hendak memukul. Tapi apa yang sebenarnya terjadi benar-benar…
"Harga diriku sebagai laki-laki telah terinjak-injak." lelaki itu berucap absurd sambil mengarahkan wajah ke arah sorotan sinar matahari yang masuk melalui lubang ventilasi. Raut mukanya tampak bersedih dengan efek bintang berkelap-kelip di sekitarnya. Miku dan Kaito melihat adegan dramatis fail tersebut hampir saja kehilangan rahang mereka karena bengong mendadak.
"Miku, apa paman…" pemuda itu hendak bertanya, namun gadis itu menyela karena dia paham apa yang ingin ditanyakan oleh Kaito padanya.
"Tenang saja, paling lama juga lima menit. dia ga apa-apa kok." pemuda itu menoleh, mengangkat satu alis dan menurunkan alis yang lain. Gadis itu hanya menunjuk si ayah yang bertingkah aneh. Benar saja, tak lama kemudian ia berbalik sambil menggosok-gosok mata.
"Ah, mataku sakit! Mataku sakit!" dan Kaito pun menghela napas, sedangkan Miku menepuk jidat karena tingkah konyol bapak-bapak satu ini.
x-0-x
Sore hari telah datang, karena hari ini adalah akhir pekan, Miku akan selalu meminta Kaito berkeliling sekitar menggunakan motor milik ayahnya. Tempat yang paling disukai gadis itu adalah sungai di tepi hamparan sawah yang berada di ujung kota kecil ini. Saat itu, cahaya matahari tidak terlalu menyengat dan angin yang berhembus juga cukup bersahabat. Ia pasti akan melepas sandal dan menceburkan diri ke sungai yang airnya hanya setengah betis, sambil mencari remis sungai atau hanya bermain air. Sementara Kaito mengawasinya seperti seorang kakak yang menjaga adik kecilnya sedang bermain.
"Kaito! Ayo sini, airnya segar loh!" ajak gadis itu pada Kaito yang hanya duduk di jok motor, matanya menerawang jauh ke ujung langit yang mulai berwarna keemasan.
Sudah hampir dua bulan dia tinggal bersama Miku beserta ayahnya, dan sejak saat itu pula kehidupan masa lalu perlahan-lahan pudar dari ingatannya. Bersama Miku dan Kiyoteru di sekitarnya, ia seperti memiliki keluarga sendiri dan kehidupan yang normal. Tapi akhir-akhir ini ia teringat pada Aoki, adik kandungnya sendiri. ia lupa bahwa gadis itu masih bersama pasukan elit Alexandria.
"Aoki… apakah kamu baik-baik saja? Maaf jika aku secara tiba-tiba pergi begitu saja, ku harap Yohio akan selalu menjagamu. Aku tahu ia selalu memperhatikanmu selama ini."
"Kaito?"
Miku yang tiba-tiba menghalangi langit di hadapan matanya membuat pemuda berambut biru itu sedikit terperanjat. Ia juga hampir jatuh terjungkal jika tidak karena keseimbangan motor menyangga badan. Gadis berkuncir dua itu terkikik geli, Kaito cemberut menghela napas.
"Kamu melamun terus sih." Komentar Miku sambil memegangi perutnya. Kaito mengulurkan tangan, mengacak-acak gemas rambut gadis itu.
"Dasar usil." Miku hanya menjulurkan lidah sambil berkedip, lalu kembali lari ke arah sungai setelah diam-diam berhasil menarik scarf biru pemuda itu. Scarf itu adalah barang yang dia dapat dari adiknya dan selalu melingkar di balik seragam militernya selama ini. Satu-satunya benda yang entah kenapa dia begitu enggan untuk tidak mengenakannya.
"Hei kembalikan!" seru pemuda itu dengan nada canda. Gadis berkuncir dua tersebut hanya menggeleng sambil menyembunyikan benda yang ia rampas di balik punggung blouse putih favoritnya.
"Aku akan kembalikan kalau Kaito bisa kejar aku." goda Miku sebelum dia berlari lebih jauh ke seberang. Kaito bersungut. Dia melepas sepatu dan menyingsingkan celana jins-nya lalu menyerbu ke arah sungai. Begitu melihat aksi nekat si rambut biru, gadis itu segera berlari menjauh, dan permainan canda mereka berdua pun berujung menjadi kejar-kejaran hingga tanpa sadar langit semakin jingga di ufuk barat.
Saat itulah, sebuah bayangan hitam raksasa melintas.
Mereka mendongak.
Miku penasaran sedangkan Kaito mulai berkeringat dingin. Tanpa aba-aba, pemuda itu pun segera menarik Miku dari sungai dan menyuruhnya untuk naik ke motor. Gadis itu bingung dengan tingkah Kaito yang tiba-tiba panik dan hanya menurut ketika ia menyuruhnya. Ia ingin bertanya ada apa, tetapi yang keluar dari pita suaranya hanya pekikan kecil dan tangan yang secara reflek melingkar erat di pinggang Kaito ketika pemuda itu langsung memacu motor mereka dalam kecepatan tinggi.
"Sial! Itu salah satu kapal induk Alexandria! Mengapa mereka datang kemari?!"
x-0-0-x
"Serahkan pria bernama Hiyama Kiyoteru. Jika dalam tiga jam orang yang kami inginkan tidak berada di tengah alun-alun kota, maka kami, pasukan Alexandria, akan menghancurkan kota kalian."
Suara ancaman yang berkumandang di langit terdengar sampai ke telinga Kaito dan Miku yang baru saja sampai di rumah. Mereka berdua bertanya-tanya, siapa yang di maksud Kiyoteru Hiyama? Seingat Kaito, di seluruh kota kecil ini tak seorangpun memiliki nama tersebut. Adapun Kiyoteru, ayah Miku sendiri, tapi ia memiliki marga yang berbeda.
Berbicara soal paman berkaca mata itu, Kaito sedikit heran karena ia tidak menemukannya di dalam rumah. Biasanya pria itu akan tampak bersantai sambil menikmati kopi yang ia seduh sendiri saat Miku tak ada. Tapi kali ini sangatlah ganjil. Apa mungkin orang yang dicari oleh pasukan di luar sana adalah Hatsune Kiyoteru? Tapi mengapa?
"Kaito, aku menemukan catatan ini di meja belakang." Miku yang datang dari dapur untuk mencari ayahnya menghampiri Kaito, ia menyerahkan sebuah kertas bertuliskan pesan dari Kiyoteru, "dari ayah untukmu." ucapnya.
Kaito segera membuka kertas yang dilipat dua ditangannya dan mendapati kode khusus di sana yang hanya diketahui oleh pasukan elit Alexandria dan beberapa orang dari bagian khusus. Tentu saja ia terkejut. Dan ia lebih terkejut saat membaca isi dari pesan singkat tersebut.
"Jack Frost, temui aku di tepi hutan barat, bawa Miku bersamamu dan aku akan menceritakan semuanya."
Sekali lagi, nama yang tidak ingin ia dengar itu ditujukan padanya. Wajah Kaito kali ini pucat penuh dengan tanda tanya serta ekspresi keterkejutan luar biasa. Bagaimana paman itu tahu bahwa ia adalah Jack Frost? Bagaimana ia juga tahu kode sandi rahasia Alexandria? Apa mungkin?
"BLEGAAAARRRR!" Suara ledakan keras menghentikan Kaito yang sedang berpikir keras. Tentara kelas rendah Alexandria. Sudah pasti mereka tidak akan menepati janji mereka. Miku yang ketakutan secara reflek memeluk Kaito yang juga dengan sigap mendekapnya erat saat gempa kecil mengguncang kediaman mereka.
"Kaito…" rintih gadis itu ketakutan. Pemuda berambut biru dipelukannya mengusap pelan kepala Miku, meyakinkan dia bahwa mereka akan aman-aman saja selama ada dirinya. Begitu gadis itu tenang, Kaito segera menggandeng tangannya dan mengajaknya pergi dari rumah mereka menuju tempat yang dimaksud Kiyoteru.
x-0-0-0-x
"Paman, apa maksud semua ini?" Kaito yang tidak sabar, sedikit menaikkan suaranya saat meminta penjelasan dari pria berkaca mata di hadapannya. Pria yang biasa mengenakan jeans dan t-shirt hitam itu kini mengenakan semacam jas lab berwarna putih sambil menyesap kopi di hadapan sebuah super komputer.
Mereka bertiga sekarang berada di sebuah goa yang telah menjadi laboratorium sekaligus hangar rahasia Kiyoteru. Berbagai peralatan canggih dan kabel-kabel berukuran besar ada di sana-sini. Kaito masih menatap tajam Kiyoteru sedangkan Miku tak mengerti dengan apa yang tengah dia lihat di tempat ini.
"Misi penghancuran Alvaros dan segala sesuatu yang direncanakan Alexandria telah aku ketahui, Jack Frost." ucap Kiyoteru dengan nada bicara yang sangat berbeda dari biasanya. Dia melirik ke arah pemuda yang berdiri di sampingnya setelah menikmati seteguk minuman berkafein di tangannya. Kaito tampak geram, tapi masih menjaga temperamennya karena ada Miku di sini. Dia tidak mau sampai gadis itu melihat sisi kebrutalannya sebagai monster bernama Jack Frost.
"Jangan panggil aku dengan... Nama. Itu. lagi." ancam kaito sembari membungkukkan badan dan mencengkeram kerah jas Kiyoteru, sesekali ia melirik ke belakang untuk memastikan Miku tidak melihat apa yang sedang dia lakukan kepada ayahnya.
"Baik-baik…" pria itu tertawa seperti yang biasa ia perlihatkan pada mereka. Lalu beranjak dari tempat duduk setelah meminta Kaito melepaskannya. "Sesuai janjiku pada pesan yang ku tulis, aku akan menceritakan semuanya pada kalian berdua." imbuhnya seraya memencet sebuah tombol. Seluruh goa tiba-tiba menjadi gelap, Miku menjerit kecil karena terkejut, sedangkan Kaito tidak mengalihkan perhatiannya barang sedetik pun dari tempat terakhir Kiyoteru berada.
Tidak lama kemudian beberapa suara dentuman dan gempa kecil terasa di dalam goa. Disusul sepasang mata menyala dalam gelap dan geraman makhluk buas terdengar menggema ke segala penjuru. Lampu kembali menyala dan di depan Kaito kini telah berdiri sebuah mecha berwarna hitam legam dengan mata berwarna merah darah. Bentuknya menyerupai harimau atau singa jika ia perhatikan lebih seksama, dengan cakar dan taring berpoles warna kuning keemasan.
"Pertama-tama, perkenalkan maha karyaku yang pertama, Death Liger." Kaito menatap tajam mesin itu, mesin itu menatap balik padanya, atau setidaknya itu yang dia kira saat kucing besi itu sedikit menurunkan wajahnya.
"Dia bukan sekedar mesin, dia adalah makhluk hidup bio-mekanik yang berhasil aku hidupkan kembali dari manuskrip kuno. OOparts yang dulu pernah ada sebelum manusia mengenal teknologi." lanjutnya sekali lagi. Kucing besi itu kemudian mengaum keras seolah membenarkan ucapan manusia yang berdiri di samping kakinya. "Penasaran bagaimana aku mendapatkannya?" pria itu tersenyum.
"Jadi, kau adalah Kiyoteru Hiyama yang dicari oleh mereka." sela Kaito.
Miku menghampiri pemuda itu. Merasa ada yang mengait lengannya Kaito menoleh ke samping dan mendapati gadis berambut teal tersebut tengah bergantung padanya, tubuhnya gemetar. Sepertinya ia takut pada robot raksasa yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
"Tentu saja Kaito Shion, kau tentu tidaklah sebodoh yang kau perlihatkan pada orang lain selama di sini, aku tahu siapa kau sebenarnya. Karena aku adalah orang yang menyempurnakan Thurdgelmir sesuai permintaanmu." Kaito terdiam sekali lagi, ia mencoba mengingat-ingat hal yang berhubungan dengan mesin lamanya.
"Death Note…" gumam pemuda itu, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar Kiyoteru. Pria berkaca mata itu bertepuk tangan.
"Suatu kehormatan kau bisa mengenal salah satu dari sekian ilmuwan yang merancang perangkat tempur Alexandria."
"A… Ayah, apa maksud semua ini? aku sama sekali tidak mengerti!" jerit Miku kemudian. Kiyoteru memasang wajah "Oh." lalu melangkah menghampiri mereka.
"Miku… maaf, tapi sebenarnya, kamu bukanlah anak kandungku." Kaito terkejut mendengar apa yang barusan diucapkan oleh Kiyoteru. Miku sendiri tersentak, tubuhnya menegang dan genggemannya di jaket Kaito mengerat. "Kamu sudah mendengar siapa nama asliku dari mereka kan, Miku?" gadis itu paham apa yang dimaksudkan namun tidak bisa berkata 'Ya', hanya terpaku tak percaya bahwa ayah yang ia kenal berkata bahwa dia bukanlah anak kandungnya.
"Tapi kamu akan selalu ku anggap sebagai anak sendiri." ia berhenti di hadapan Kaito dan Miku. "Kamu sebenarnya adalah organoid." Gadis itu tampak semakin bingung dengan penjelasan Kiyoteru. Pria itu mengamati keduanya untuk sejenak, lalu menatap Miku lekat-lekat. "Kau dan Death Liger adalah sepasang. Meski terpisah dan bergerak sendiri. kalian adalah satu kesatuan. jiwa dan raga. Kalian bukan makhluk hidup, namun juga tak bisa di katakan mesin seutuhnya."
"Lalu, untuk apa kamu melakukan ini semua!" seru Kaito. Kiyoteru menghela napas, ia tidak menghiraukan pemuda itu dan kembali duduk di kursi putarnya untuk menyesap kopi yang ia letakkan tak jauh dari sana.
"Kaito Shion, aku bertanya padamu. Apa kau tidak lelah dengan semua pertumpahan darah di sekitarmu?" Kaito berkedip heran. Apakah ia tidak salah dengar? "Death Liger sengaja aku ciptakan, untuk mengakhiri perang dan dominasi Alexandria." Lanjutnya dengan santai.
"Huh?"
"Kau kira untuk apa aku bersembunyi dari Kamui Alexandros Gakupo III dan menciptakan sebuah mecha?" Kiyoteru tersenyum, "si gondrong itu terlalu serakah untuk menjadi raja. Aku sudah bosan dengan semua rengekan dan kehebohan yang ia buat di mana-mana. Jadi, apa kau mau membawa kucing ini untuk berjalan-jalan? Kurasa ia akan menyukainya mengingat tempat ini terlalu sempit baginya."
Diam. Tak ada satupun suara selain dari mulut si pria berkaca mata yang sesekali menyesap kopi. "Berikan keputusanmu atau kota tempat di mana kau di kenal sebagai Shion Kaito lenyap dalam…" ia menyisingkan lengan kiri jasnya, lalu mengamati digit angka yang tertera di jam tangannya. "30 menit."
x-0-0-0-0-x
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
Power Auto Death Liger SYSTEM
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Synchron File and Data 0%=======10=====60====90===100%
Fix system 0%=======100%
Engine Status On
Core Status On
Auto Pilot On
• War mode On
• Power mode On
• Core enggine 1 Online
• Core Enggine 2 Online
• Back up Power Online
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
New Pilot
Identify Sucses
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
• Radar Online
• System Navigation Online
• Laser Claw Ready
• Laser Fang Ready
• Energy Shield Ready
• Searching Satelite 0%-100% ready
• Info Battle Field Ready
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
ALL SYTEM ONLINE
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Cross Check System Death Liger
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
1. Shield...On
2. Laser...On
3. Power...On
4. Batle Sytem...On
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
DEATH LIGER STANDBY
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Kaito memperhatikan tampilan sistim Death Liger yang berjalan dengan sendirinya, atau lebih tepatnya tengah dipersiapkan dan disesuaikan Miku untuknya. Gadis itu sendiri terlelap di belakang kursi pilot utama, bersinkronisasi dengan Death Liger dan menyelam dalam data-data mecha tersebut. Sebuah headset terpasang di kepala, di kedua lengannya terdapat benda ─yang tidak Kaito ketahui itu apa─ melingkar dan menunjukkan deretan bar berwarna warni yang bergerak seperti tampilan equalizer. Setelah semua siap, ia pun membuka mata. warna teal di sana berganti kuning emas dan terdapat deretan kode-kode dalam tulisan kuno melayang-layang di dalamnya jika diperhatikan lebih dekat.
"Death Liger ready." ucap Miku kemudian dengan suara ganda seperti campuran manusia dan mesin. Kaito menggenggam dua tuas yang menjadi kendali Liger setelah menerima notifikasi tersebut. Mata mesin itu menyala begitu sang pilot menarik kedua tuas, lalu mengaum sebelum melesat dengan kecepatan tinggi menuju mulut goa.
"Ka-Kaito…" bisik Miku melalui mic kecil di headphone miliknya. Suaranya penuh dengan rasa ragu dan kurang percaya diri. Kaito paham itu semua karena dulu ia juga pernah merasakan pengalaman tempurnya yang pertama. Takut akan kekalahan dan tentu saja takut akan kematian. Tapi sekarang dia bukanlah bocah sepuluh tahun yang tidak bisa apa-apa atau Jack Frost yang begitu liar di medan laga. Dia adalah pilot Death Liger yang kan menumbangkan tirani Alexandria. Dengan mesin ini, ia tidak akan membiarkan orang lain atau siapapun itu mengulang kembali masa lalunya. Dan dengan mesin ini pula, ia akan menebus setiap dosa yang ia ukir selama menyandang nama Jack Frost yang telah menjadi momok dunia.
"Percayakan semua padaku, Miku." ucap Kaito meyakinkan, "Aku, Kaito Shion, mulai saat ini akan mengorbankan jiwa dan raga untuk melindungimu dan semua orang di sekitarku dari tangan keji Alexandria!"
"GROOOAAARRRR!"
.
.
.
Thanks for read. n_n
mind to review?
Hint :
Death Liger : Organisme Bio-mekanik. Bentuknya mengambil dari Liger Zero dalam serial Zoids dengan tambahan kemampuan berubah bentuk menjadi humanoid mode. ide bahwa Death Liger adalah OOparts terinspirasi dari KohRyuOh/RyuKohOh dalam game Super Robot Wars Original Generation 2 dalam mesin GBA yang juga super robot dari jaman yang belum ada teknologi canggih apapun. untuk nama, di ambil dari trading card game DuelMaster (Death Liger, Lion of Chaos)
