copyright and disclaimer on chapter 1
...
A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon di maklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)
"Hyah!... Hyah!... Hyah!"
Yuuma Megurine, sang pewaris tahta kerajaan Limbum tersebut sedang memperhatikan adik perempuan satu-satunya yang setiap pagi selalu melatih teknik pedangnya, Luka Megurine, melalui sebuah jendela besar di kamarnya yang mengarah ke training ground khusus di taman belakang istana. Gadis berambut merah jambu itu begitu semangat mengulang-ngulang kembali gerakan yang ia kuasai. Tubuhnya yang tinggi dan ramping terlihat seperti sedang menari dengan sebuah rapier di genggaman tangan kirinya. Beberapa saat kemudian, tampak tiga orang prajurit tengah maju setelah mendapat isyarat tantangan dari tuan putri mereka.
Mereka berpandangan satu sama lain. jika seseorang mengira bahwa para prajurit itu tengah ragu karena harus mengeroyok seorang anak perempuan, maka dia salah besar. Justru mereka ragu apakah kali ini mereka tidak akan babak belur seperti partisipan lain sebelum mereka. Gadis itu memberi senyum ramah sambil berkata "Ayo maju.", tapi keramahan itu bagi mereka tampak seperti senyum dari malaikat maut yang sedang menawarkan jasa. Para pria berbaju besi itu begidik, menelan ludah dan saling menoleh satu sama lain.
"Kau duluan."
"Tidak, kau saja."
Luka yang mulai jengkel pun membentak mereka, "Cepat maju atau kalian harus memakai pakaian maid selama satu minggu dan harus berkeliling istana 2 kali putaran sebagai hukuman karena membantah perintah putri kerajaan Limbum!" ketiga prajurit itu pun tersentak. Mereka akan sangat kehilangan muka jika sampai hukuman itu diberikan, bahkan dilecehkan oleh kesatuan karena hanya putri Megurine saja yang akan memberi hukuman dengan beban mental seperti itu pada setiap prajurit yang menolak keinginannya.
Setelah mengangguk kencang, mereka pun berteriak dan mulai menerjang putri mereka. Sang putri tersenyum puas. Dengan lincah ia menghindar tebasan ke bawah dari prajurit pertama dengan melompat salto dan mendarat di punggungnya, prajurit itu seketika jatuh terjerembab.
Prajurit yang lain segera melayangkan tebasan horizontal dari kanan atas ke bawah begitu sang putri berhasil menjatuhkan rekan mereka. Gadis itu menghindar, melakukan putaran pivot disambung tebasan pedang tumpulnya ke bagian lengan atas kanan prajurit itu. Dia memekik kesakitan sebelum sebuah tendangan sepatu boots membungkamnya dan membuatnya jatuh ke samping.
Prajurit terakhir menyusul kemudian. Dia berlari dan menyerang Luka dengan satu serangan tusukan lurus ke perut. Luka berguling ke kiri, ia menghindar sekaligus menjegal kaki lawannya. Pria itu jatuh tersungkur, ia hendak bangkit kembali untuk melanjutkan pertarungan tapi hanya tertahan oleh ujung rapier Luka yang kini terarah ke kerongkongannya.
"Sudah cukup, gerakan kalian begitu kaku dan lambat." gerutu sang putri. Ketiga pria di depannya seperti mendengar bunyi daging ditusuk ketika mendengar komentar tuan putrinya, ekspresi mereka langsung berubah seperti orang yang kehilangan gairah hidup.
Alis luka mendatar. "Hei, kalian kenapa?"
"Kami hanya sedikit lemas saja tuan putri." jawab prajurit pertama.
"Kami belum sarapan pagi ini." sambung seorang yang wajahnya masih rata tertelungkup di tanah.
"Benar." prajurit yang masih ia todong dengan pedang membenarkan. Sebenarnya tidak satupun dari mereka yang berkata jujur, itu hanya alasan untuk menutupi kekalahan mereka dari seorang gadis yang bahkan ukuran tubuhnya jauh lebih kecil dari mereka. Luka menghela napas, lalu menurunkan pedangnya.
"Baiklah, kalian boleh pergi." mendengar titah tersebut, ketiganya pun perlahan bangkit dan meninggalkan arena latihan dengan postur loyo. "Prajurit Limbum saat ini terlalu lemah, bagaiamana jadinya kalau sampai Negara musuh menyerang?" gumamnya lalu memasang wajah cemberut dan bersilang tangan. Yuuma yang mengamatinya dari jauh hanya terkikik geli.
"Yah, mereka tidak terlalu lemah menurutku." Komentar seorang gadis berambut hijau rumput yang sedang asyik membaca map berwarna biru di sebuah bangku tak jauh darinya. Luka menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Ia mengambil sebotol minuman di sampingnya lalu meneguk semua isinya. "Itu hanya karena tuan putri bukanlah lawan sebanding dan mereka tidak siap mental untuk melawan anda." sambung gadis itu tanpa sedikitpun menoleh pada Luka.
"Gumi-chan, jangan panggil aku putri, kita kan teman sejak kecil." protes gadis berambut merah jambu pada gadis bernama Gumi di sebelahnya. Ekspresinya berubah seperti anak kucing yang ditemukan di sebuah kardus di jalanan, mata membulat dengan alis memelas. Gadis itu melirik Luka, lalu menyunggingkan senyum simpulnya.
"iya-iya, Luka-chan." dan gadis itu pun mendapat pelukan beruang dari si gadis berambut merah jambu. Gumi atau lengkapnya Gumi Kojima adalah sahabat baik Luka Megurine, ia adalah satu-satunya maid di istana limbum yang memiliki keistimewaan di kerajaan. Bukan hanya karena dia memiliki ikatan dengan Luka, tetapi ia adalah mantan anak-anak yang dulu pernah diculik kerajaan Alexandria dan sempat menjalani pelatihan khusus untuk waktu yang lumayan lama, hingga akhirnya berhasil diselamatkan kembali.
Ya, maid yang satu ini adalah salah satu pilot tempur sekaligus teman dan pelayan setia Luka. Keduanya adalah sepasang pilot yang sangat kompak dalam bertempur, bahkan mereka telah berhasil menciptakan sebuah serangan kombinasi khusus dari kedua mecha yang mereka miliki.
"Gumi-chan, itu apa?" Tanya Luka saat ia melihat benda di tangan Gumi.
"Oh, ini laporan yang didapat dari tim pengumpul informasi. Semalam kapal induk Alexandria diketahui memasuki perbatasan timur. Tapi mereka berhasil di usir oleh sebuah unit misterius yang menurut para saksi mata berbentuk seperti kucing hitam besar." Luka memperhatikan penjelasan Gumi dengan seksama.
"Kucing hitam?"
x-0-x
Kembali ke persembunyian Kiyoteru. Ruang bawah tanahnya yang canggih itu tampak seperti biasa, tidak ada suara alarm dari radar yang mendeteksi keberadaan musuh atau Komputer yang meledup karena pria itu mengutak-atik mainannya, hanya saja…
"Liger! Turunkan aku!" ronta Kaito yang tersangkut atau lebih tepatnya sedang digantung oleh Liger di antara gigi-giginya. Kiyoteru melongo sedangkan Miku tertawa lepas, kucing besar itu seperti sedang duduk dan menunjukkan seekor tikus kecil yang berhasil ia tangkap sambil mengibas-ngibaskan ekornya.
"Kaito, wajahmu yang hampir menangis itu lucu sekali!" teriak Miku di bawah kakinya, Kaito semakin tampak seperti bocah yang benar-benar hampir menangis sekarang. Kesialan pemuda itu tidak berhenti di situ saja, tidak lama kemudian dari punggungnya mulai terdengar bunyi robek. Kaito melotot.
"Err, Miku," ucapnya, "tolong menjauh." tapi gadis itu terlalu sibuk dengan tawanya.
"Miku…" ia masih tertawa.
"Miku…" tetap tertawa sedangkan suara robek itu semakin keras. Tak lama kemudian Liger turut tertawa. Tawa usil lebih tepatnya. Dan…
"Kraaak!" baju Kaito robek dan tersangkut, sedangkan sang pemilik jatuh bebas.
"Whoaaa!" yah, tak perlu dijelaskan, ini adalah teriakan Kaito.
"Huh?" respon Miku yang melihat Kaito jatuh dari langit dengan bertelanjang dada.
"Brug!" gadis itu jatuh tertimpa.
"Uhmmbfh!" ini adalah suara dari momen yang diinginkan oleh Liger. Lagi, kucing itu menutup matanya dengan sepasang kaki depannya. Sedangkan Kiyoteru mulai meledak-ledak melihat putrinya…
"WHAAA!" teriak Kiyoteru seperti orang melihat tagihan kartu kreditnya menggunung, "APA YANG KAU LAKUKAN LIGER?!"
Kedua mata anak muda ini terpejam rapat. Mereka menahan sakit sekaligus merasa aneh dengan rasa lembut di bibir masing-masing. mereka baru melepas satu sama lain setelah kedua mata mereka kembali terbuka dan saling memperhatikan wajah masing-masing yang memerah seperti kepiting rebus karena bibir mereka telah bersentuhan.
Permainan "Lempar Liger" pun dimulai kemudian. Kucing itu berlari kesana kemari seraya mengguncang seisi goa dengan berat tubuhnya yang ekstrim, sedangkan dua manusia kecil di belakangnya melemparinya dengan segala objek yang mereka temukan. Kiyoteru menjadi lebih heboh karena semua peralatannya mulai mengeluarkan bunyi gemerisik akibat getaran.
"Berhenti kau kucing sialan!" teriak Kaito.
"Liger no Baka! Baka! Baka!" ini Miku.
"STOOOPPP! Kalian akan menghancurkan goa ku!" teriak Kiyoteru yang terasingkan.
Beberapa menit kemudian
Kaito, Miku dan Liger duduk berjejer di lantai. Kepala mereka memar kecuali Liger, dilumpuhkan untuk sementara. Kiyoteru duduk di kursi putarnya, menyesap kopi hangat di tangannya setelah memberi mereka bertiga ceramah yang cukup memanggang telinga.
"Kaito, Miku aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian." ucap pria itu. Liger yang hanya bisa menggerakkan kepalanya, mengaum seperti tidak terima karena hanya dia yang tidak dihiraukan "KAU DIAM!" bentak Kiyoteru penuh amarah, kucing itu terpekur. Kaito dan Miku menoleh pada Liger lalu kepada satu sama lain.
"Rupanya Liger takut pada paman." bisik Kaito. Miku mengangguk.
"Ehm, sudah cukup bisik-bisiknya. Sekarang dengarkan aku." Sela Kiyoteru "Liger adalah salah satu dari empat Elemental Beast, ia adalah wujud dari makhluk legendaris yang di sebut Byakko"
"Byakko? Harimau putih dari barat?" Tanya si pemuda biru. Kiyoteru mengangguk. "jadi, masih ada yang lainnya seperti Suzaku, Genbu dan Seiryu?"
"Benar sekali. Untuk Suzaku, sang burung api dari selatan, ia telah di miliki oleh kerajaan Limbum dan masih diturunkan ke generasi selanjutnya oleh keluarga kerajaan. Orang yang sekarang menggunakannya adalah putri Luka Megurine."
Miku sama sekali tidak paham dengan topik pembicaraan, bertanya asal-asalan, "Lalu bagaimana dengan dua yang lain?"
"mereka bernasib sama seperti Liger setelah pertarungan mereka untuk menghentikan Geno Orochi, hancur dan terkubur," jawab ayahnya "atau setidaknya seperti itu menurut cerita."
Kali ini, Kaito mulai bercerita kepada Miku untuk membuatnya mengerti tentang kisah empat penjaga mata angin "Miku, dulu sewaktu aku kecil, aku pernah mendengar sebuah dongeng dari ibu." Miku mulai mendengarkan dengan seksama, tingkahnya berubah menjadi seperti gadis kecil yang selalu memasang mata bulatnya saat seseorang membacakan cerita untuknya. "Dahulu kala, hidup seekor naga berkepala delapan."
"Naga itu selalu memangsa manusia dan dia hidup di sebuah goa di dasar danau. Suatu hari sesorang kesatria yang berani mencoba untuk membunuhnya dengan sebuah pedang sakti, tapi sayangnya, naga itu menelan pedangnya dan menjadi semakin kuat. Karena terlalu kuat, seorang petualang pergi berkelana untuk meminta bantuan dari ke empat penjaga penjuru mata angin."
"Ya, dia berpetualang, tapi dia tidak sendirian," sambung Kiyoteru, perhatian gadis itu pun teralih "ia di bantu seorang gadis untuk bisa menemukan kediaman mereka"
"Hei, aku tidak pernah mendengar bagian itu sebelumnya?" sanggah Kaito.
"Memang tidak ada," jujur Kiyoteru "karena ini adalah misimu." lanjutnya. Pemuda itu mengerjap, lalu melirik Miku. "Miku adalah organoid yang ku buat menggunakan bagian dari Core Liger. Ia akan bisa mendeteksi keberadaan kedua Elemental Beast yang lain."
"Paman, kenapa kau memintaku untuk menemukan mereka?" Tanya Kaito keheranan.
"Pedang sakti dalam cerita itu, itu adalah pedang yang selama ini di bawa oleh Kamui Alexandros Gakupo III." pemuda itu terkejut, ia tidak pernah menyangka hal itu selama masih menjadi bagian pasukan elit Alexandria. Ia mengira cerita yang ia dengar itu hanyalah sebuah isapan jempol agar anak-anak bisa lebih mudah ditidurkan.
"Itu sebenarnya adalah kunci kendali Geno Orochi. Benda itu memiliki daya magis yang sulit diterima ilmu pengetahuan. Dan karena benda itulah, Kamui Alexandros Gakupo III memiliki sifat yang sama seperti para pendahulunya."
"Maksudmu, selama ini ia dikendalikan oleh pedang itu?"
Kiyoteru mengangguk. "Saat ini para ilmuwan Alexandria sedang membangun tubuh Geno Orochi, tapi dengan tidak adanya aku dalam tim mereka, pembuatan kembali makhluk itu menjadi terhambat dan berjalan lebih lambat." imbuhnya.
"Yah, sepertinya ini menjadi penjelasan akan kemerosotan perkembangan teknologi Alexandria beberapa tahun terakhir." Kaito melenguh mendengarkannya, pria berkacamata itu tersenyum bangga.
"Oleh karena itu, aku memintamu untuk mencari tubuh dan core mereka agar aku bisa menghidupkannya kembali sebelum terong berambut itu berhasil mencapai tujuannya."
"Umm, ayah, kenapa ayah menyebut orang itu terong?" Tanya Miku. Wajahnya terlihat sedang menahan tawa.
"Kenapa? Pertama, karena warna rambutnya seperti terong dan kedua, jujur, kau pasti akan terkejut Kaito, ia adalah maniak terong." Dan karena sebab yang tidak jelas, goa menjadi sunyi dengan efek suara jangkrik yang sesekali terdengar. "Oke, itu sama sekali tidak lucu. Tapi itu adalah fakta." tetap, hanya jangkrik saja yang memberinya tepuk tangan meriah dengan suaranya yang berderik entah dari mana.
x-0-0-x
Sejak sepeninggal Kaito, Aoki yang masih bersama pasukan elit Alexandria mulai menunjukkan perubahan perilaku. Gadis itu sekarang sangat jarang tersenyum, matanya yang biru cerah mulai kehilangan cahaya. Bayangan gelap di bawah mata juga berangsur-angsur menjadi parah, bisa diasumsikan bahwa dia kurang tidur atau mungkin sangat jarang sekali tidur.
Setiap misi, Aoki yang dulu sangat jarang menjatuhkan korban jiwa atau bisa dibilang sangat sedikit, kini tanpa ragu sedikitpun menghancurkan unit lawan. Jika perlu ia akan mencabik-cabik korbannya seperti menghitung kelopak bunga yang sedang ia lucuti sambil berkata "Pulang, tidak, pulang, tidak." sebelum menghancurkan bagian badan hingga berkeping-keping.
Yohio yang selama ini memperhatikan tingkah lakunya, tak kuasa menahan rasa perih akan kondisi Aoki yang semakin kehilangan kewarasan. Jika Kaito tidak segera kembali, atau lebih buruk lagi, dikabarkan mati, Aoki akan terlahir menjadi monster baru di medan perang, ia akan jauh lebih mengerikan melebihi Jack Frost. Jack Frost membunuh setiap target secara instan, tapi Aoki, gadis itu akan menunjukkan kengerian bagi siapapun yang cukup sial untuk menjadi targetnya.
"Aoki…" panggil Yohio dari balik pintu kamarnya. Lempang besi itu berdesis saat bergeser dan menampakkan kondisi kamar gadis berambut biru yang acak-acakan. Tak lama kemudian, pemilik kamar itu pun keluar.
"Apa… kakak sudah pulang?" tanyanya dengan sebuah senyum, tapi wajah kusut seperti orang yang habis menangis itu jelas-jelas tampak kalau dia tidak pernah berhenti bersedih. Yohio menggeleng pelan dengan pertanyaan yang selalu ia tanyakan tersebut setiap kali ia menghampirinya. Tidak memberikan jawaban, pemuda berambut pirang itu meletakkan kedua tangannya di pundak Aoki.
"Ia pasti pulang." ujarnya. Aoki menundukkan wajah, "Ini sudah waktunya makan malam, kau harus makan." dia tidak merespon. Sebaliknya, ia malah menepis tangan Yohio lalu berjalan mundur perlahan.
"Kau pembohong..." ucapnya dengan suara lirih. Yohio tertegun "Kau pembohong… kau PEMBOHONG!" suara gadis itu meninggi hingga akhirnya dia berteriak lalu kembali menutup pintu kamarnya. membiarkan Yohio berdiam diri di tempatnya sementara kata-kata itu berdenging di dalam benaknya. Pemuda berambut merah itu menggertak gigi, dadanya terasa nyeri.
"Aoki..."
.
.
.
Thanks for read. n_n
mind to review?
Hint : Gumi dan Luka di sini terinspirasi atau mencontoh dari hubungan Princess Shine dan Latooni dalam game Super Robot Taisen Original Generation 2. Di mana Latooni dahulunya adalah anak-anak yang dilatih di sebuah tempat bernama the school untuk menjadi seorang pilot RT / Real Trooper. dan tentu saja serangan kombinasi mereka juga tidak jauh berbeda. Bagi yang pernah mencoba game tersebut pasti akan paham. oh ya, background music saat robot kedua karakter tadi bertarung terdapat versi full lyric dan dibawakan oleh Miku dan Rin (atau begitulah menurut keterangannya) di youtube, judulnya Fairy Dancing. Jika pembaca ingin mencari BGM lain dari game tersebut yang sangat cocok untuk tema mecha, saya sarankan untuk mendengarkan Beowulf, Trombe, Code : ATA, The Dark Knight, Samurai Sword, Marionette Messiah, Shooting Star dan yang paling khas dari game ini, So Close yet So Far.
