copyright and disclaimer on chapter 1
...
A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon dimaklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)
SoulSilver bertarung sengit melawan musuh baru di hadapannya. Meski mecha tersebut tidak memiliki senjata apa-apa selain tangan kosong dan sistem pertahanan di atas rata-rata unit biasa, Alberto mampu mengendalikannya dengan lihai. Didukung teknologi direct brain interface dari panoramic/linear-seat, gerakan SoulSilver tidaklah sekaku mesin lain. Dia mampu bergerak selincah sang pilot yang dikenal sebagai petarung beladiri disegani di kesatuan militer Limbum.
Namun lawannya memang bukan pilot sembarangan. Terbukti dari unit Blitzchen yang hanya menggunakan sistem kendali tuas layaknya Death Liger Kaito ─di mana respon dan kontrolnya sedikit lebih merepotkan jika dibandingkan dengan SoulSilver─ Tapi pengguna mesin tersebut mampu menandingi performa Alberto.
"Akan aku belah kau menjadi dua karena berani mengusik onee-chan!" seru Oliver disusul sebuah tawa, sementara adrenalin terpompa deras di setiap jalur nadinya. Bagi bocah itu, mengendarai mecha dan bertempur di medan laga tak lebih dari sebuah game. Semakin sulit lawan yang dihadapi, semakin dia bersemangat untuk bisa menyelesaikan misi.
Barusan, bocah berambut pirang itu hampir terkena pukulan telak tepat di bagian perut kanan Blitzchen saat lengan berselimut cahaya dari lawan melesat. Lolos dari serangan barusan, dia segera membalas dengan menjatuhkan sabit ke atas punggung SoulSilver ketika mesin itu tampak seperti hampir tersungkur di depannya.
Hal seperti ini memang sudah diantisipasi oleh Alberto. Insting serta reflek dari seorang petarung secara otomatis menyengat tubuhnya. Dia melirik tajam ke sudut mata, dan saat itu juga meledakkan sepasang thruster di punggung unit yang dia kendarai untuk memberi daya hentak.
"Gerakan yang sama tidak akan berguna bagiku!" serunya seraya berguling cepat dan segera memutar badan pada posisi ancang-ancang untuk kembali menerjang. Dalam sekejab mata, kali ini Oliver lah yang berada dalam posisi rentan setelah sabetannya meleset. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Alberto dengan cekatan melontarkan diri ke arah Blitzchen, menggulung kedua tinju menjadi satu dan mengangkatnya tinggi-tinggi untuk dia hantamkan pada lawan.
Sama halnya seperti apa yang dilakukan lawan, Oliver pun menghentak mesinnya di saat kritis. Tinju mematikan Alberto gagal mengenai sasaran dan hanya membuat kubangan besar di tempat Blitzchen berpijak sebelumnya. Pertarungan mereka terus berlangsung dan menjadi semakin intens. Sabetan dan tinju saling beradu menghasilkan harmoni bising. Suara deru thruster bercampur desis mesin hidrolik terdengar bercampur bersahutan di antara gemuruh tanah merekah dan dengung gelombang cahaya Light Saber.
"GOD HAND CRUSHER!"
"DEATH SCYTHE JUDGEMENT!"
x-0-x
Di sisi lain, tanpa bantuan dari pemimpin mereka pasukan Limbum kembali kalang kabut. Hasil jerih payah mereka berakhir percuma, diperburuk lagi saat Echidna baru saja berhasil mencengkeram dan melahap salah satu rekan mereka. Jika diibaratkan, kini mereka tak jauh beda dengan segerombolan tikus lab di kandang akuarium raksasa seekor ular kelaparan bertubuh berdiameter pohon beringin, yang mana nafsu makannya tak akan pernah tercukupi meski lima ratus ekor atau lebih tikus diberikan padanya.
"Kita akan mati! Kita akan mati!" pekik seorang prajurit yang mentalnya sudah runtuh karena adegan sadis yang diputar berulang-ulang di matanya. Siapa selanjutnya? Unit di sampingnya? Di depannya? Atau…
Kepanikan itu berakhir kala sebuah sabit maut menghunjam tepat di kokpitnya ─sebelum ingram yang ia kendarai ditarik dan dilempar ke dalam perut Echidna.
"Aku paling benci seorang pengecut di medan perang," desis Aoki setelah mencerna habis korban ke dua ratus. Melalui mata Echidna, ia sekarang memain-mainkan kepala ingram tersebut yang masih tersisa dari proses penghancuran di antara jemari mesin tersebut. Seolah kepala itu adalah sepetik buah cerry. Sebelum mengunyahnya menggunakan mulut di wajah Echidna. "Tapi ku akui, mereka begitu lezat untuk dinikmati." lanjutnya seraya menjilat bibir.
Yohio di dalam kokpit Ignis hanya diam tanpa respon memandangi kebrutalan gadis berambut biru di dalam tubuh monster besi yang tak henti menebar tawa ngeri. Pemuda itu sama sekali tidak menggerakkan Ignis barang satu jengkal dari titiknya berdiri. Rentetan peluru, misil, semua hanya ia tahan dengan armor mesin berwarna merah menyala miliknya. Setiap unit lawan memandang heran, apa yang salah dengan target mereka yang satu ini? Ia dikeroyok tanpa henti. Tapi reaksi yang diberikan hanya menghindar atau bertahan.
Seorang prajurit yang belum menyerah untuk menjatuhkan Ignis kembali merangsek maju dengan beam saber. Ia mengangkat tinggi-tinggi senjata kecil yang tidak ada apa-apanya dibanding Ignis dan hanya mendapatkan cengkeraman lengan mesin berwarna crimson di kepala ingram yang ia gunakan.
"Jangan… ganggu aku." gumam Yohio seraya melempar unit di tangan ke kerumunan rekan-rekannya. Mesin itu berguling-guling setelah menghantam beberapa unit lain sebelum kembali bangkit.
"Sebaiknya kita tidak menghiraukannya, monster besi Alexandria yang ada di sini jauh lebih penting!" ucap salah seorang yang membantu mesin prajurit tersebut berdiri.
Sang pilot menepis temannya, "Tapi…" suaranya gusar.
"Selama dia tidak bergerak, kita tak perlu membuang energi ingram kita untuk meladeninya, ayo kita bantu yang lain," sela lainnya. Prajurit itu berdecih, namun segera mengalihkan mesin dan melesat bersama yang lain menuju Echidna.
Yohio tidak peduli akan lawan yang kabur darinya. Ia sudah kehilangan semangat tempur bahkan sebelum menginjakkan kaki di tanah Limbum. Radio transmisi yang berkali-kali memekakkan telinga karena bentakan-bentakan atasan di dalam kapal induk sama sekali tidak dihiraukan. Bahkan ia dengan berani memutus koneksi dari mereka.
Kaito, di mana sang pemimpin itu berada jika ia dibutuhkan? Pria bersurai biru itu tidak mungkin akan diam begitu saja jika tertangkap oleh pihak musuh. Ia seorang maestro di kemiliteran, agen mata-mata yang cerdik. Tapi kenapa hingga saat ini ia tidak kembali? Pemilik biji merah delima ini menggertak gigi, wajahnya berangsur-angsur berkerut dengan kilatan cahaya yang memantul di kedua manik matanya setiap kali mendengar tawa sadis Aoki, tawa monster Echidna serta jeritan para mangsa bercampur suara desing besi yang di kendarainya saat ditelan bulat-bulat.
Hingga akhirnya ia terkejut begitu mendengar gadis itu menjerit kesakitan. Ia mengangkat dagu dan mengamati monitor yang tak henti menyorot mesin Aoki. Sebuah unit berwarna merah menyala dengan pedang api di tangan telah berhasil memotong lengan Echidna. Yohio terbelalak, "Mustahil!"
"Lihat! Itu Soul Phoenix!" seru para prajurit Limbum disusul sorak sorai bergemuruh setelah melihat sebuah bayangan burung api melesat ke arah monster di depan mereka dan berhasil memisahkan salah satu anggota badannya. Sang pemilik mesin bernama Soul Phoenix itu nampak sedikit kecewa karena serangannya meleset dari titik vital yang diincar. Tapi setidaknya ia berhasil memberi kerusakan yang cukup berarti.
"Itu Megurine Ojou-sama!"
"Dengan begini kita akan bisa menjatuhkannya!"
Ucap para prajurit yang kegirangan, sementara Yohio mulai merasakan ketakutan.
Bukan ketakutan karena kehadiran mesin baru tersebut, tapi ketakutan jika sampai Aoki terbunuh kali ini. Ia tidak menyangka bahwa Soul Phoenix mampu membelah Adamantium berlapis medan variable phase shift armor dalam sekali ayunan pedang. Hal itu meleset dari perhitungan pembuat mesin raksasa tersebut.
"Untuk semua pasukan!" pekikan komando dari Luka yang mengendarai unit spesial Limbum, "Alihkan sasaran kalian pada persendian! Bagian itu lebih rentan jika diserang dibandingkan armor. Beri aku waktu untuk mempersiapkan serangan berikutnya!"
Terbaliknya kondisi dengan signifikan serta seruan lantang dari sang pemberi harapan seketika membangkitkan kembali semangat para prajurit Limbum yang sempat turun. Dengan teriakan "Oooh!" menggema di segenap penjuru serta Echidna yang terhuyung-huyung akibat serangan barusan mereka pun melakukan serangan balasan. Monster besi itu kembali dihujani dengan beragam persenjataan. Lekung-lekung mulai bermunculan di armor Echidna.
Yohio dan Ignis yang sejak tadi terdiam akhirnya ikut bagian dalam pertempuran.
Kini, hampir setiap bagian armor di tubuh mesin sewarna kobaran api itu terbuka. Sepasang pasak besi muncul dari belakang betis Ignis menghunjam tanah di bawah kakinya. Tiga layar monitor muncul di depan wajah pilot secara otomatis mengunci satu per satu puluhan unit di sekitar mesin Aoki. Dan begitu target terakhir terkunci, setiap lubang di balik armor bersinar terang.
"BURNING BIG BANG!"
Rentetan particle beam berhamburan ke segala arah. Tidak seperti particle beam biasa, kilatan pendaran cahaya itu mampu berbelok mengejar setiap target.
Hampir 120 unit lawan termasuk misil yang masih melayang hancur di terjang hujan amunisi yang muncul tiba-tiba. Ledakan hebat terbentuk seperti butiran pernak-pernik menyala dari kejauhan. Mereka yang selamat dari proses penghancuran masal yang terjadi dalam sekejab mata barusan segera mengalihkan sorotan monitor mecha mereka masing-masing ke titik pusat datangnya serangan.
Siluet merah menyala tampak berdiri terselubung kabut tipis yang mengepul dari setiap lubang tubuhnya. Mesin yang sejak tadi tak menunjukkan ancaman apapun, sekarang mulai melangkahkan kaki, menggetar tanah yang dipijak seraya menghunus sebuah gagang pedang tanpa bilah ─yang mana kemudian lempengan besi bermata dua berukuran luar biasa terbentuk dari sorotan cahaya. Pedang kolosal.
x-0-0-x
Kaito masih memburu waktu yang tak berpihak padanya, membelah hutan bersama Death Liger yang dia piloti. Jauh di depan sana ─dalam sorotan mata kucing metal tersebut─ pertempuran telah terjadi. Kilatan-kilatan terang, entah itu jilatan api atau particle beam yang meleset dari target yang terkunci, bersahut-sahutan di sana-sini. Seberapa parah keadaan kota itu sekarang setelah pertahanan mereka berhasil dipenetrasi oleh mecha berbentuk monster sebelumnya? Kaito tak ingin membayangkannya lebih jauh lagi.
Terlebih jika pelakunya adalah Aoki, yang dia kenal lebih pasif di dalam kelompoknya.
Sekali lagi, bayangan mimpi yang barusan dia alami menghantuinya. Di mana sosok Jack Frost yang telah terpisah darinya merenggut adik perempuan satu-satunya dan menenggelamkan gadis itu dalam kegelapan.
"Aoki, tunggulah aku, aku tidak akan membiarkanmu dimanfaatkan oleh Alexandria lebih dari ini!" gumam pemuda berbalut jaket hitam tersebut seraya memicingkan mata penuh amarah.
Lelaki ramah dan murah senyum, suka menolong dan terkadang jenaka, sekarang tak lagi terlihat pada dirinya. Miku di balik punggungnya bisa merasakan keheningan yang lebih berbeda dari keheningan sebelumnya. Lebih dingin tanpa respon Kaito pada setiap tingkahnya. Biasanya ada seseorang yang mengajak berbicara atau dirinya sendiri yang memancing mulut orang itu untuk terbuka. Sekarang, tidak ada sama sekali.
Hanya sunyi dan nuansa pedih dari orang yang dulu selalu memberikan perhatian ─selain ayahnya sendiri─ pada sang adik kandung yang dia miliki.
Ya, Miku sekarang merasa terasingkan. Dia seperti orang luar yang tak sengaja terseret pusaran urusan pribadi antara Kaito dan adiknya namun tak tahu harus bagaimana.
Melepaskan diri? Baginya, hubungannya dengan lelaki itu terasa berada di tingkatan berbeda dibandingkan antara dia dan ayahnya. Teman? Bukan lagi. Saudara? Kehangatan Kaito lebih dari itu… entahlah, Miku sendiri tak memiliki saudara kandung selain mesin bio-organik yang juga dia tumpangi. Yang jelas dia merasa tak kan bisa menggantikan Kaito dengan siapa pun lagi seumpama dia pergi dan tak kembali.
Tetapi, mengapa lelaki itu masih menutup diri? Masih banyak hal yang tak dia mengerti di balik sosok pemuda ini. Gadis itu ingin mengenal dia lebih jauh terlepas di waktu dia menampakkan senyum tulusnya yang menentramkan hati, seperti di saat di mana dia tak bisa lagi mempertahankan lengkungan tawa tersebut untuk tetap bertengger manis di bibirnya saat ini.
"Kaito…"
Miku hanya bisa berharap tembok pemisah antara mereka segera runtuh. Di mana ikatan mereka menjadi utuh. Tak ada lagi rahasia yang tak dia tahu. Tak ada lagi keterpurukan yang harus di tanggung sendiri oleh si sosok berambut biru.
Tapi kapankah tibanya waktu itu?
Sementara Miku masih terdiam, tak terasa gerbang Limbum telah berada di depan mata. Pemandangan porak poranda menyambut mereka. Teriakan panik, seruan lantang dan reruntuhan memberi corak dan ciri khas sebuah medan tempur. Jauh berbeda dengan kondisi kampung halamannya ─terima kasih pada Kaito dan Death Liger yang mampu menumpas musuh dengan segera.
Lalu di antara itu semua, sebuah mesin raksasa tampak dihajar membabi buta oleh puluhan unit kecil di sekelilingnya. Di titik yang lain tampak siluet perak beradu menggunakan tangan kosong dengan mesin berwarna ungu bersenjatakan sabit Dan di dekat mereka…
Secara reflek Kaito mengelak dari sorotan tiga particle beam yang hampir melubangi perut Death Liger. Serangan tersebut meleset dan mengenai tanah lapang, yang saat itu juga kemudian terbentuk sebuah kawah. Mereka berdua lalu mengalihkan perhatian seiring sorot mata Liger melacak asal mula muntahan senjata tersebut.
Di sebelah kiri mereka, sebuah mesin berwarna merah tengah memasang pose bertahan di balik pedang raksasa, yang mana bilah pedang yang lebar tersebut bersender miring di tubuhnya. Tebakan Kaito adalah mesin itu memantulkan serangan yang seharusnya dia terima ke arah lain. Teknik bertahan semacam itu sangatlah dia kenali. Tak lain dan tak bukan, Ignis, mecha milik Yohio.
Namun, sepertinya dia sedikit mengalami kesulitan. Lawan yang barusan menembakkan cahaya pelebur logam tersebut adalah sebuah unit berwarna hijau metalik. Sekilas saja mantan sersan pangkat satu tersebut tahu bahwa mesin tersebut tipe penyerang jarak jauh. Terlihat dari sepasang buster rifle pad yang terulur dari posisi terlipat di kedua sisi pinggang dan sebuah senjata laras panjang tergenggam di kedua tangan, sementara tiga pasang perangkat tempur lain terpasang di punggung membentuk tonjolan duri yang tak lain adalah funnel.
Pertempuran ini secepatnya harus dihentikan. Kaito tak ingin ada lagi pertumpahan darah atau kehilangan teman-teman yang dulu mengabdi bersamanya untuk Alexandria karena mereka tak memiliki pilihan lain. Bersamaan dengan auman Liger yang menggetarkan kerapatan udara, lelaki bersurai biru ini pun menyuarakan seruannya dengan lantang.
"GROOOAAARRR!"
"HEEENTIIIKAAAN!"
.
.
.
Thanks for read. n_n
mind to review?
Hint :
Author berikan tambahan penjelasan tentang ignis di sini. Nama mecha ini di ambil dari salah satu boss dalam game online yang author mainkan. Sedangkan secara fisik, author membayangkan mecha ini kombinasi dari Panzer Zero [termasuk move "burning bing bang"] dan daigenguard serta karakter bernama zero [dari game online yang sama dengan ignis].
A/N : Ah, terima kasih bagi siapa pun yang meluangkan waktunya, lebih-lebih masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. Maaf jika author ngaretnya kelewatan, karena memang author adalah orang mood-mood-an. Bahkan sehabis update ini pun author akan kembali ngaret. Jadi author kembali menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya. Satu hal, apa pun yang terjadi, author akan menjamin cerita ini akan tamat dengan cara yang seharusnya. Selebihnya... jaa... n_na
