copyright and disclaimer on chapter 1
...
A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak-sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon dimaklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)
"GROOOAAARRR!"
"HEEENTIIIKAAAN! ! ! !"
Gelombang frekuensi audio yang diledakkan bersama dengan auman binatang penguasa rimba belantara dari mulut Liger, seketika mengakibatkan gangguan kecil pada unit-unit lain sejauh ratusan kilometer. Untuk sejenak, segala macam bentuk aktivitas serangan mereda hingga seluruhnya diam dan menyorot sumber dari suara menggelegar yang terus bergema cukup lama dan mengusik gendang telinga.
BlitzChen yang berada dalam posisi menangkis tinju SilverSoul menarik diri mundur, begitu pula dengan sang lawan. Jade Artemis secara reflek menodongkan oxtongue rifle pada unit asing yang begitu ajaib mampu menyela jalannya pertempuran. Ignis menurunkan pedang raksasa yang dia jadikan tameng. Para prajurit Limbum ikut menoleh. Echidna yang kehilangan keseimbangan berusaha bangkit dan turut mengamati. Sementara Megurine Luka bersama Soul Phoenix mengibaskan pedangnya, kemudian menyuarakan ancaman.
"Siapa kau! Tunjukkan identitas dirimu dan dari mana pihakmu!"
Tidak ada jawaban untuk sekian jeda dari sang pilot Liger. Kaito diam untuk mengatur napas dan emosi yang berkolaborasi memainkan pundi-pundi udara di dalam dadanya. Sepasang kelereng berwarna lautan yang bersembunyi di balik rumpun helaian rambut berpigmen serupa memperhatikan kekacauan di sekitar Liger, kemudian beralih kepada setiap unit Alexandria yang sangat familiar baginya. Dia berharap, semua akan berjalan sesuai keinginannya. Dia berharap, para pasukan elit tersebut akan percaya bahwa dia telah kembali. Meski kemungkinan tersebut sangatlah relatif kecil, bahkan mustahil bisa terpenuhi.
"Namaku Shion Kaito! Aku tidak berpihak pada siapa pun dan datang kemari bukan untuk menjadi lawan siapa pun. Alasanku saat ini hanya satu. Menghentikan pertempuran yang terjadi di sini, saat ini juga!"
Terdengar suara desas-desus antar para prajurit Limbum. Mereka mempertanyakan siapa gerangan mengenal nama tersebut sebelumnya, yang mana lumrah bagi mereka untuk tidak mengetahuinya. Bukan hanya mereka, bahkan putri kerajaan serta maid setianya pun merasa asing. Hanya para pasukan elit Alexandria yang kini terdiam akan rasa heran, bingung dan tercengang oleh kembalinya sang monster medan tempur sekaligus pemimpin mereka yang dikabarkan hilang.
Pemilik suara tersebut, tak lain dan bukan hanyalah Jack Frost, Kaito Shion. Meski terdapat kemungkinan bahwa dia adalah orang lain yang mengaku-ngaku atau secara kebetulan memiliki kesamaan nama, tapi suara yang mereka dengar, serta kenyataan bahwa dia mengendarai sebuah mecha membuat mereka sembilan puluh persen yakin bahwa dia lah sang pemimpin pasukan elit Alexandria.
Nama asli lelaki tersebut memang terkubur oleh gelar Jack Frost yang dia sandang. Hanya orang-orang tertentu di dalam pemerintahan dan militer Alexandria saja yang tahu. Tidak satu pun pihak musuh mendapati informasi tentangnya, namun, kali ini, dia dengan lantang menyebutkan namanya di depan banyak orang?
Keheningan sementara yang tercipta tak bertahan lama setelah lengking jeritan Echidna kembali pecah. Mesin itu tiba-tiba menunjukkan reaksi aneh yang seketika disambut oleh muntahan amunisi dari setiap moncong senjata yang mengepungnya dalam kondisi stand by. Berbeda dari sebelumnya, kecepatan gerak unit tersebut meningkat drastis. Dalam sekejab mata, dia telah berhasil mengait dua Ingram secara bersamaan, serta mencengkeram satu lagi sebelum mengibaskan ekornya untuk membuat ruang bebas bagi dirinya. Mesin itu kemudian terbang ke langit setelah mengambil potongan tangannya dan merekatkan kembali bagian tubuh tersebut menggunakan material yang dia dapat dari mengunyah habis mesin yang sempat tersisa setengah di dalam Grim Fang Crusher.
"Pembohooong!"
"Kyaaa-aaa-aaa-aaa! ! ! ! !"
Lengkingan teriakan parau mesin itu sekali lagi mengudara di langit Limbum. Yohio terkejut akan reaksi Aoki yang sempat dia kira akan membaik. Sebab dia yakin, suara yang keluar dari pilot unit asing tersebut memang milik Kaito. Tetapi tampaknya, gadis itu terjebak terlalu jauh dalam kesedihan dan keputus-asaan, serta beragam tekanan lain yang dia dapatkan selama pertempuran intens yang mereka jalani sepeninggal Kaito. Kegilaan medan perang telah menggerogotinya, jauh di luar pengawasan lelaki tersebut.
Melebarkan sayapnya untuk menenggelamkan tanah Limbum dalam bayangan siluetnya yang berpendar merah untuk ke sekian kali, Aoki beserta Echidna yang dia piloti bersiap menghujani apa pun dalam jangkauan serang mereka dengan particle beam. Tetapi kali ini setiap ruas tubuh mesin tersebut melepaskan diri, mengorbit di sekitar Echidna, sehingga dia tampak seperti gambaran sesosok iblis dalam buku dongeng.
"Apa-apa'an barusan? Apa yang sedang terjadi padanya?!" decak kesal sang putri Limbum tanpa bisa berbuat banyak ketika mesin tersebut berhasil meloloskan diri kepungan tentaranya. Tak ingin sampai mesin tersebut kembali melancarkan serangan masal, dia segera melesat untuk mencegahnya.
Soul Phoenix menghunus pedang yang kini bertransformasi menjadi lidah api, menariknya ke belakang untuk membuat sebuah sabetan diagonal dari sisi kanan bawah ke kiri atas. Namun, sebelum dia sempat mengayunkan pedang, sebuah tengkorak raksasa menghantam perut Soul Phoenix. Unit tersebut kemudian terpental setelah didorong oleh particle beam yang turut ditembakkan dari kedua soket mata tengkorak tadi.
"Guh!"
"Ojou sama!"
Tak menginginkan hal terburuk terjadi pada Luka, Gumi pun membidik dua buah tengkorak lain yang bersiap menyambut Soul Phoenix yang terlontar ke arah mereka. Sepasang buster rifle di pinggang Jade Artemis terulur dan segera dia genggam serta arahkan ke langit tepat saat notifikasi lock on telah muncul di layar bidik. Pelatuk senjata tersebut ditekan. Sepasang sinar berwarna hijau berlapis kebiruan saat itu juga melesat naik. Tetapi di luar dugaan, mereka menoleh dan melahap serangan tersebut, sekaligus menembakkannya kembali ke arah Gumi.
Gumi segera mendorong unitnya menjauh ke samping sebelum serangan tersebut menembus medan pelindung yang melapisi Jade Artemis. Meski dia gagal untuk menghancurkan sasaran, setidaknya Luka bisa kembali menyeimbangkan Soul Phoenix yang dia kendarai dan berhasil mendarat. Serangan yang diterima oleh Luka barusan, meski hanya meninggalkan lecet, telah membuat medan variable phase shift armor kehabisan daya. Jika daya tersebut belum pulih, serangan lain dapat dengan mudah memberikan kerusakan parah pada Soul Phoenix.
"Pembohong! Kakakku adalah Jack Frost! Dia tidak akan menunjukkan identitasnya kepada siapa pun! Kau hanya penipu lancang yang mengaku-ngaku, aku tidak akan mengampunimu!"
Lagi, sang pilot dari mobile suit mengerikan itu berbicara hingga semua orang bisa mendengarnya. Hanya saja, kali ini dia menyebut nama sang sersan berdarah dingin dari Alexandria yang tiga bulan lalu telah memimpin pemusnahan kota Alvaros. Setiap prajurit Limbum, termasuk Luka, Gumi, dan Al, sekarang mulai mengantisipasi skenario licik Alexandria yang mungkin berusaha menusuk mereka dari belakang.
Tak perlu dijelaskan lagi, Death Liger pun kini menjadi sorotan.
Terlepas dari semua kekacauan di depan matanya. Kaito hanya bisa terpaku di dalam kokpit Liger. Meremas tuas kendali dan merapatkan geraham. Segenap mimpi buruk yang muncul menerornya melayang di awang-awang. Jack Frost dan senyum kemenangannya, semua itu mencabik-cabik perasaan pemuda itu.
Di saat dia selalu acuh dan hanya menganggap sang adik sebagai sekedar alat perang selama bersama Alexandria, Aoki selalu berada di bersamanya. Bertingkah paling normal dibandingkan prajurit dan manusia-manusia busuk di sekitarnya, meski harus mengenakan topeng yang tak dia inginkan untuk menyembunyikannya.
Sekarang, di saat dia telah kembali mendapatkan nuraninya ─hal yang selalu diimpikan oleh adik kecilnya itu─, gadis itu telah berubah. Dia terjerumus ke dalam lingkaran kegilaan yang dulu telah mengurungnya selama bertahun-tahun. Bagaimana dia menghancurkan mesin-mesin pasukan Limbum, bagaimana dia telah memporak-porakkan seluruh penjuru kota hanya dengan menggunakan satu unit, sangatlah jauh berbeda dari Aoki yang hanya akan membalas karena terpaksa dan selalu menyesali setiap kematian orang-orang ditangannya.
Amarah itu. Jeritan itu.
"Jadi kau adalah Jack Frost! Dasar Bajingan Tengik!
Suara alarm yang mengingatkan datangnya sebuah serangan sontak mengejutkan Kaito. Dia menatap ke arah monitor dan mendapati SilverSoul telah mengangkat tinjunya dan bersiap membenamkan kepala Liger ke dalam tanah. Dengan kontrol yang baik, pemuda itu segera menggerakkan Liger. Mengayunkan tubuh kucing besi itu beberapa jengkal ke kiri, kemudian melompat mundur begitu pukulan itu membuat tanah yang dipijak ambles.
"Karena mu, Anna...!"
Suara alarm kembali berdenging. Tanah kembali berguncang, dia tidak mengerti apa yang tengah terjadi hingga akhirnya tendangan SilverSoul berhasil melemparkan Liger hingga melesat berguling-guling. Kaito memicingkan sebelah mata ketika menahan guncangan di dalam kokpitnya, sedangkan Miku memekik kecil.
"Jika tragedi Alvaros tak pernah terjadi...!"
Pilot SilverSoul terus menggumamkan kata-kata penuh amarah dari bibirnya. Serta tanpa henti menyudutkan Liger. Sang pilot Liger hanya bisa menghindar dan terus menghindar, tidak melakukan balasan sama sekali. Lebih tepat disebut jika dia tidak memiliki alasan untuk membela diri. Miku di balik punggungnya tak mengerti, kesalahan macam apa yang bisa membuat pemuda itu begitu sangat dibenci? Dia tidak terlalu menyukai perang dan segala macam yang berhubungan dengan pertikaian. Dia tahu bahwa Alexandria adalah biang kekacauan. Tapi mengapa Kaito turut dilibatkan?
"Minggir kau dari jalanku! Dia adalah milikku!"
Sebuah Tengkorak raksasa menghalangi pukulan SilverSoul. Mesin itu sedikit terhuyung ke belakang begitu pukulannya terpental. Alberto hendak melayangkan sebuah tinju sekali lagi setelah dia mendapatkan pijakannya kembali, tetapi dua buah tengkorak lain secara tiba-tiba muncul dan melahap kedua lengan SilverSoul. Mengunyahnya habis. Tengkorak yang sebelumnya menghalangi pukulannya juga turut mengambil bagian. Benda itu melompat ke arahnya dengan rahang terbuka lebar. Namun...
"IMPERIAL GOLDEN CLAW STRIKE! ! !"
Tinju King Liger menembus daerah di antara kedua rongga mata tengkorak besi tersebut. Dari belakang, tampak sebuah bekas cekungan dalam di mana lengan King Liger tertancap di tengah-tengahnya. Kaito kemudian menarik kembali lengan mecha yang dia kendarai, sekaligus mencengkeram dan melempar benda itu ke belakang sebelum meledak. Dia juga memukul mundur kedua tengkorak lain, kemudian berdiri bersandar punggung pada SilverSoul.
"Ya. Dulu aku adalah Jack Frost. Kau boleh meluapkan kebencianmu padaku. Kau boleh membunuhku jika kau mau."
Terdengar suara decit besi dari balik punggung King Liger disertai loncatan listrik statis ketika Kaito mencoba berkomunikasi dengan pemilik SilverSoul menggunakan frekuensi beradius kecil. Mesin tangguh tersebut kini sudah tidak sanggup lagi memenuhi rasa amarah pengendaranya, lebih-lebih menunjukkan kelihaiannya di medan laga yang masih jauh dari kata usai. Alberto berdecih, hampir semua sistim kendali SilverSoul malfungsi. Konyolnya lagi, dia baru saja diselamatkan oleh orang yang sangat ingin dia bunuh meski hanya dengan mendengar namanya saja.
"Dosaku sudah terlalu banyak. Aku pantas menerima segala konsekuensi dari segala tindakanku selama ini."
Lanjut Kaito. Pemuda itu menundukkan wajah, menikmati kepedihan merajam hati dari setiap rekaman melodi suara-suara pilu yang dulu tak dia hiraukan. Bahkan dia lumat tanpa belas kasihan di bawah kaki Thurdgelmir ─mesin lamanya─.
"Namun, aku tidak akan pernah menyerahkan diriku saat ini. Karena tepat saat ini ─detik ini─ aku tidaklah sendiri."
Manik sebiru lautan melirik gadis organoid di balik punggungnya, membisikkan kata terima kasih karena dia telah percaya padanya. Gadis itu lah yang terus memberikan dorongan, seseorang yang sempat berkata,
"Aku tidak peduli siapa dirimu dan apa yang kau perbuat di masa lalu! Kaito Shion adalah Kaito Shion, kau tidak akan membiarkan seseorang tenggelam dalam kesedihan. Aku dan Liger akan selalu berada di sisimu. Jadi ku mohon, jangan biarkan nyawa yang tak berdosa kembali lenyap di depan matamu!"
Sebelum mentransformasi paksa Liger, sekaligus menarik dirinya dari belenggu kesalahan yang melumpuhkannya.
"Aku akan menjaganya dan setiap orang di sekitarku. Aku tidak akan berhenti, sebelum Alexandria remuk di tanganku."
SilverSoul tak lagi menunjukkan ke engganan untuk berbagi sandaran. Bukan berarti sang pemilik telah reda amarahnya, kondisi mecha yang sedemikian rupa lah penyebab kenapa dia tak mampu melakukan apa pun selain berdiri. Sang pilot kemudian menggerakkan kepala SilverSoul ke samping. Setelah mendengar kalimat berintonasi tegas dan dalam yang dia dengar dari balik punggungnya, Alberto Daisuke pun terdiam memejam mata untuk sejenak. Kemudian berkata,
"Jika itu memang benar, maka buktikanlah di depan mataku. Hancurkan tengkorak-tengkorak besi sialan yang mengusik kesenanganku untuk menghajarmu menjadi sarden kalengan. Mesin apa pun itu di atas sana, dia telah membuat jumlah mereka bertambah."
Saat itu juga, perhatian kedua lelaki itu pun tertuju pada Echidna yang melayang tinggi di atas langit Limbum. Mesin yang dalam kondisi berserk tersebut sedikit demi sedikit memperbanyak jumlah tengkorak besi dengan melahap bangkai-bangkai Ingram yang berserakan. Jumlah benda itu yang semula hanya dua belas buah, kini telah bertambah hampir lebih dari tiga puluh. Di mana empat di antara mereka kini telah mengepung Liger dan SilverSoul dari empat arah.
.
.
.
Thanks for read. n_n
mind to review?
A/N : Yah, setelah lebih dari satu tahun, akhirnya cerita ini kembali menyembul ke permukaan. Kali ini cerita telah mengalami proses edit kecil-kecilan dengan perbaikan penulisan serta pergantian karakter. Yah, author tengah mengeliminasi non-official vocaloid dan menggantinya dengan yang Official, karena pada saat awal cerita ini dibuat, author masih sangatlah hijau dalam dunia vocaloid. n_na
