copyright and disclaimer on chapter 1
...
A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak-sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon dimaklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)
Sesosok mesin berwarna putih menjadi sorotan di layar utama markas pertahanan Limbum. Menggunakan bantuan sinyal transmisi kiriman kamera visualisasi Soul Phoenix, setiap orang mampu mengamati unit tak teridentifikasi tersebut berkelebatan di saat Luka bersikeras membuntutinya.
Sebuah tengkorak besi berusaha menghantam secara frontal dari depan, membuka rahang lebar-lebar hanya untuk disambut ujung tongkat yang membuatnya remuk seketika. Tengkorak lain mencoba mengepung dari tiga arah. Maju secara beruntun dan bergantian. Serangan pertama dihindari dengan sedikit mengalihkan badan sedikit ke kiri, serangan kedua ditangkis menggunakan sebuah tendangan berputar tiga ratus enam puluh derajat. Yang ketiga, dia hantam menggunakan ujung tongkat tepat di antara kedua mata, mementalkannya tepat ke arah unit raksasa yang menjadi incaran.
"Soul Phoenix kepada HQ! Mohon berikan perintah! unit tak dikenal tersebut sudah diklarifikasikan sebagai Jack Frost!" sejak awal kemunculannya. Sepak terjang Kaito telah menjadi sebuah tanda tanya bagi seisi penghuni HQ, siapa dan apa alasan dia untuk berbuat demikian kepada pihak Limbum? Kini setelah mereka mendapatkan jawaban dari pilot Soul Phoenix, sebagian dari mereka nampak gusar, tak percaya bahkan tidak sedikit pula yang menahan geram.
Yuuma mengerutkan dahi mencermati situasi.
Sementara beberapa personel mempertanyakan keputusan dari sang raja, putri kerajaan Limbum sendiri terus mendesaknya agar diijinkan menjadikan unit tersebut sebagai ancaman. Setidaknya di medan tempur masih ada Gumi, sehingga dia bisa mengalihkan komando sementara kepadanya dan maju secara langsung menantang Liger.
Echidna yang dikendarai Aoki serta merta membalas, dia mencengkeram tengkorak yang terlempar seraya mengirim beberapa tengkorak lain yang mengorbit di sekitar mesinnya untuk kembali menyerbu King Liger. Kaito di dalam Liger sendiri tanpa ragu melesatkan mesinnya menerjang belasan unit tak berawak di depan matanya.
Dari segenap penjuru Limbum, semua bisa melihat bagaimana sebuah titik putih bergerak maju tanpa mempedulikan kerumunan hitam yang bersiap sedia bertumbukan dengannya. Kilatan-kilatan merah seperti ratusan jarum turut mewarnai perbedaan jarak yang semakin terpangkas, namun titik putih tersebut terus menerjang tanpa peduli. Hingga akhirnya benturan antar kedua pihak tak terhindarkan lagi.
Sudah bisa dipastikan hanya dengan sebelah mata, titik sekecil itu tentu lenyap tak bersisa. Namun, detik berikutnya cukup untuk membuat beberapa pengamat menahan napasnya.
Di tengah kerumunan hitam tersebut tampak bulatan-bulatan cahaya berkelap-kelip. Awalnya hanya ada satu, namun dalam sekejab jumlah mereka bertambah. Bergerak menggerogoti dari inti ke kulit luar hingga semua tampak putih tertelan cahaya. Disusul auman seekor singa, gumpalan hitam yang telah memutih sempurna itu pun meledak, melepaskan sebuah gelombang berbentuk cincin yang merambat lurus hingga lenyap di ujung cakrawala.
"Buka mata mu Aoki! ! !"
;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;
"Nee, Kaito…" sebuah gumaman lirih dari pemilik tempat duduk sebelah kiri sudut meja mengalihkan perhatian si pemuda yang sejenak dipanggil namanya. Ujung sendok masih terbenam di antara bibir yang terkatup, sementara kedua alis terangkat tinggi hingga menghilang di balik anak rambut yang bergelantungan hampir menghalangi pengelihatan. Miku sempat menasehatinya agar segera pergi ke tukang pangkas rambut beberapa saat lalu, yang mana hanya dijawab dengan anggukan kepala singkat.
Kaito kembali mengambil sesuap nasi dan lauk dari Kare yang menjadi hidangan malam sementara menanti kelanjutan kalimat yang dia tunggu. Dia mengamati wajah gadis berkuncir dua tersebut yang tampak seperti… ragu? Cemas? Penasaran? Entahlah. Yang jelas Miku selalu menunjukkan apa yang sedang dia pikirkan dengan bahasa ekspresi sebelum kata-kata keluar dari mulutnya.
Jika senang dia akan tertawa. Bersungut seperti anak itik saat merasa jengkel. Bahkan berubah gelap gulita apabila kesabarannya habis. Seandainya sudah terlanjur demikian, akan lebih bijak bagi orang yang bersangkutan menghentikan hal atau lelucon apapun itu yang tidak dia suka demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Kepala Kaito sempat ditumbuhi dua benjolan biru sehingga membuat dia tampak seperti versi asli dari serial robot kucing dari masa depan sebagai konsekuensi akibat susah dibangunkan. Salahkan si ayah yang mengajaknya begadang menonton sebuah pertandingan olah raga hingga subuh.
Dia pula gadis cantik nan manis yang mudah bersimpati kepada orang lain. Kaito pernah memergoki figurnya berlari-lari kecil untuk memberi sebuah bingkisan kecil kepada seorang nenek-nenek peminta saat dia masih harus memulihkan diri dari cidera. Anak-anak kecil dari para tetangga juga gemar mengajaknya bercanda. Memuji kebaikan hati gadis itu dengan wajah polos dan kalimat-kalimat lain yang lucu. Seperti,"Aku ingin seperti Onee chan.", "Aku ingin menjadi sebaik Onee chan." Atau "Aku ingin menikahi Onee chan nanti jika sudah besar.". Bisa ditebak bahwa itu berasal dari anak laki-laki, yang mana segera dibalas oleh berbagai jenis kalimat protes dari teman-teman yang lain.
Terdengar desahan lirih sesaat setelah suapan ketiga meluncur masuk ke lambung Kaito. Pemuda itu mengangkat wajah terheran dan segera disambut oleh pertanyaan.
"Apa kau merasa baik-baik saja hanya dengan mengingat nama mu, Kaito?" topik yang masih berkesinambungan dengan pertanyaan seminggu sebelumnya. Inilah Miku, Gadis itu tidak akan mengesampingkan apa yang ingin dia tahu sebelum mendapat jawaban yang bisa menenangkan hatinya. Kaito sudah bisa dianggap telah menjadi bagian dari keluarga kecil mereka mengingat hari-hari yang dia lalui telah berlangsung lebih dari hitungan jari sejak dirinya pulih sempurna.
Intonasi cemas dalam pertanyaan tersebut terlalu lirih untuk tertangkap oleh indera pendengar pemuda itu, jika bukan karena sepasang bulatan hijau aqua yang masih menerka-nerka jawaban yang akan dia berikan.
Menundukkan wajah hingga surai kebiruan cukup untuk menyamarkan ekspresinya, Kaito kembali menyendok hidangan makan malam di hadapannya. "Ya," sebuah jawaban dalam artian ambigu terucap, sesaat ketika sepasang biji safir berkilat hampa. Bahkan garis lengkung ceria pun lagi-lagi dia gunakan sebagai tameng dan senjata, lengkap pula rentetan kalimat sambung lain agar topik tersebut kembali terkubur di sudut benak Miku.
"Ku rasa aku tidak perlu lagi mengingatnya." Gadis tersebut mengerutkan dahi tanda tak setuju. Dia mungkin beranggapan, tidakkah itu terlalu menyedihkan untuk kehilangan kenangan masa lalu yang tak akan pernah bisa terulang kembali? sayang sekali, dia tidak mengerti bahwa terlalu banyak porsi kepahitan dari masa lalu Kaito yang tak selayaknya untuk disimpan di dalam tempurung kepalanya. Lebih tepatnya, Gadis polos dan rendah hati ini tak perlu untuk mengetahuinya.
Dia yang kehilangan figur ayah di saat sang adik masih dalam kandungan. Ibu yang harus meregang nyawa akibat cakar-cakar tirani mencabik kehidupan kecil mereka. Dan fase di mana dia bermetamorfosa di dalam lingkungan keras dan ganas hingga terlahir kembali menjadi makhluk paling biadab yang pernah dikenal seantero dunia.
Jeritan pilu bertabur gemuruh pertempuran dari beragam peristiwa keji kini seolah bergelayut di daun telinganya saat pemuda itu kembali mencoba mengelak dengan mengutarakan alasan lain, "Karena dengan adanya Paman Kiyoteru dan kamu, Miku, itu sudah lebih dari cukup bagi ku saat ini."
"Eh?" paras cantik itu bersemu merah muda saat si pemuda menyebutkan namanya. Bola mata turquoise bergulir sejenak ke arah sang ayah yang turut menemani acara makan malam hari itu. Namun, lelaki berkacamata tersebut masih terlalu sibuk dengan hidangannya seolah terhipnotis oleh aneka bumbu yang memanjakan lidah.
"Ta-tapi, aku ingin mengenalmu lebih baik, Kaito." ucapnya setelah menggeleng kepala pelan untuk sedikit bisa mengontrol diri. "Bukankah selama ini kamu tinggal bersama kami? Jadi kamu adalah salah satu dari keluarga ini." sebuah desahan lirih kembali menguar dari balik bibir gadis itu, sementara Kaito menelan sesuap dari sendoknya.
"Apakah kau tidak ingin mencoba untuk mengingatnya? Apakah hal itu terlalu menyakitkan?" terdapat jeda sejenak. Lagi, coretan-coretan warna manis yang Kaito kenali itu menyembul tipis di kedua pipinya, namun pemuda itu tak sanggup untuk terkagum saat ini selain rasa simpati dan bersalah. Acara makan malam hari ini adalah untuk yang kesekian kalinya dia berucap dusta.
"Kau tahu, jika kau memiliki masalah kau bisa mengutarakannya padaku, mungkin aku bisa membantu?" Kaito kembali memasang senyum serta mengangguk sebelum menjawab,
"Terima Kasih."
Acara makan malam pun kembali berlangsung seiring menipisnya atmosfir berat yang berusaha untuk disembunyikan oleh salah seorang dari mereka yang duduk mengelilingi meja makan. Namun hanya sementara. Sebab kali ini gadis itu bergumam mengenai hal lain yang tanpa sengaja masih memiliki keterkaitan hal yang sama.
"Nee, Kaito apakah kau memiliki saudara? Atau ingatan tentang mereka?"
Jika saja pemuda itu tidak memiliki kontrol emosi yang baik, Miku mungkin akan mendapati dirinya bertingkah ganjil dengan menggertak gigi atau gerakan lain berkesan agresif. Tetapi,
"Aku," Kaito berhasil untuk menyungging senyumnya kembali, "memiliki seorang adik perempuan."
;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;=;
Kilatan-kilatan cahaya dari proyektor visual di dinding kokpit Liger berkelap-kelip di wajah Miku yang hanya bisa terdiam. Segala yang disembunyikan oleh sang pilot mesin yang turut dia kendarai saat ini, semua telah jelas. Dalam kurun waktu yang terlampau singkat, Kaito berusaha keras untuk menjadi 'orang baik'. Tidak, lebih tepatnya dia telah kembali menjadi orang yang seharusnya baik dan berjuang untuk mempertahankannya. Dia rela membendung semua yang dia pendam seorang diri. Tak pernah membaginya kepada siapa pun bahkan kepadanya yang selalu ada di sekililingnya.
Miku yakin bahwa Kaito yang selama ini dia kenal bukanlah sebuah bentuk karakter dari sebuah akting atau semacamnya. Lelaki itu memang bersikap seolah semua baik-baik saja. Namun, untuk seseorang yang mengakui segala bentuk perbuatan kejinya, dan bertingkah demikian, tidakkah dihantui oleh rasa dosa dan bersalah itu cukup menyiksa batin?
Meski dalam konteks yang berbeda, Miku seolah paham. Itu seperti halnya saat dia mengetahui bahwa dirinya bukan manusia serta potensi dan konsekuensi macam apa yang bisa dia berikan atau dapatkan dari atau kepada orang disekitarnya. Kau yang selalu dikenal ramah dan baik hati bisa pula menjadi sosok yang paling dijauhi, dibenci dan ditakuti saat semua orang mengetahui hal yang tak mereka suka darimu. Gadis itu tak pernah menyadari bahwa dirinya adalah organoid, tetapi pemuda yang dia kenal tersebut, dia memiliki posisi yang menurutnya jauh lebih menyakitkan.
Miku selama ini hidup dalam ketidak-tahuan akan hal mengenai rahasianya sendiri, sedangkan Kaito, selama sekian bulan bersamanya dia memiliki beberapa kesempatan untuk merenungi bahwa dia tidak seharusnya hidup saat itu. Terlebih saat gadis itu mencoba untuk mengungkit-ungkitnya di beberapa kesempatan. Itu pun karena dia hanya tahu bahwa Kaito mengalami "amnesia".
Mengapa Kaito harus berkata demikian? bukan kah lebih baik jika dia berkata bahwa dia tak ingin memutar ulang rangkaian kisah kelam yang dia miliki? dengan begitu Miku tak perlu harus menyalahkan dirinya dan terbawa dalam kekalutan yang dia rasakan sekarang.
Ya. Tanpa disadarinya, selama ini gadis berkuncir dua itu hanyalah menyudutkan pemuda itu saja.
"Maaf," sebuah gumaman lirih terdengar di antara suara desing-desing besi saling beradu, "Maaf kan aku Kaito… aku,"
Sebuah ledakan hebat terjadi setelah sebuah tengkorak dihantam telak oleh Liger. Itu adalah mesin terakhir sebelum gerombolan mesin lain datang untuk menyambut dan menghalangi jalannya. Dengan hancurnya mesin tersebut, cukup bagi pemuda berambut biru itu untuk bisa mendengar isakan lirih serta bisikan maaf dari balik tempat duduk kendali utama akibat keheningan, meski untuk sejenak.
Bagi Kaito, gadis itu tak sepantasnya untuk menangis. Dia gadis yang terlalu ceria untuk menangis. Pada awalnya dia mengira bahwa Miku akan bimbang dan membencinya seperti layaknya orang-orang membenci Jack Frost. Di luar praduga, Kaito hanya membuat gadis itu bersedih untuk kesekian kalinya. Dia tak memiliki kesalahan apa pun.
"Seka air matamu, Miku." Suara pemuda itu merembet melalui headset yang Miku kenakan, di saat lawan yang lain bermunculan menebar kebisingan, "kau tidak perlu menangis untuk membela secuil kebaikan dari seorang bajingan seperti ini." sebuah efek tumbukan antar dua objek menggoncang seisi kokpit untuk sejenak. Sekali lagi, Liger menenggelamkan cakar berlapis emas di tempurung besi lawannya. "aku bahkan berkali-kali membohongi mu dan tak pernah berterus terang, iya kan?"
"Tetapi… Kaito,"
"Semua ini adalah salahku. Kau tidak perlu untuk merasakannya. Perasaan semacam itu tidak setimpal dengan kebaikan yang selalu kau beri." Dering alarm pertanda datangnya serangan lain mewarnai suasana kokpit dengan corak kedip merah padam. "Jika salah satu di antara kita berdua yang harus mengucap maaf, maka akulah orang yang paling pantas." Dan di dalam detik berikutnya gemuruh pertempuran pun datang menginterupsi percakapan singkat mereka berdua. "Perlu kau tahu, Miku. Sekedar menyampaikan maaf jauh dari kata cukup bagiku."
"Kau adalah orang pertama yang mendengarkan janji ku saat kota kecil kita diserang, bukan?" ingatannya kembali berputar memainkan rekaman kecil saat pengalaman pertama mereka berdua mengendarai Liger di medan tempur, kalimat tegas tanpa bergeming pemuda itu mampu membuatnya tenang serta melupakan sejenak kekalutan pikirannya setelah sang Ayah yang selama ini dikenal membeberkan fakta mengejutkan padanya. Sehingga dia bisa merasa nyaman dan percaya bahwa Kaito akan memastikan bahwa dia akan selalu baik-baik saja. "Tidak sedikit pun keraguan untuk ku mengorbankan nyawa."
"Tetapi, Jika kau tetap keras kepala untuk meminta maaf padaku, kau hanya perlu untuk kembali tersenyum. Jadilah Miku yang selama ini ku kenal ceria dan memberi sebuah bukti padaku bahwa dunia masih memiliki warna pelangi di antara sekian kebusukan yang sering ku jumpai."
x-0-x
"Yuuma! Apa kau tuli?!" geram sang putri Limbum di dalam kokpitnya. Permintaan izin untuk melakukan tindakan pencegahan ─yang menurutnya harus segera dilakukan─ masih belum mendapatkan konfirmasi. Gadis itu sangat membenci Jack Frost atas sekian kejahatan perang yang dia lakukan. Jatuhnya korban sipil di pertempuran mungkin tidak sekali dua kali menjadi hal yang terelakkan, namun, jika suatu pihak memang sengaja melakukan hal demikian, Megurina Luka mengganggapnya sudah cukup keterlaluan.
Dalam setiap laga di mana sang iblis berhati salju menebar hawa kengeriannya, hampir tidak ada satu pun orang yang berhasil dievakuasikan. Pasukan yang dipimpinnya selalu menyempatkan diri untuk meluluh-lantakkan bunker dan tempat-tempat perlindungan lain serta memprioritaskan tim-tim penyelamat darurat yang menyusup untuk melaksanakan tugas mereka. Kehancuran total adalah apa yang selalu dia tinggalkan di tanah yang pernah dia injak. Bahkan bangunan yang tersisa pun tak pantas disebut sebagai puing-puing.
"Persetan denganmu! Aku akan mengakhiri sandiwara memuakkannya di sini!" suara deru Soul Phoenix yang melesat maju seketika disambut suara ricuh dari seberang alat transmisi HQ markas pertahanan Limbum. Kemampuan Tuan Putri negeri itu terkenal tangguh meski mobile suit tersebut hanya beberapa tahun terakhir ini diwariskan kepadanya setelah sang raja sebelumnya telah tutup usia. Perkembangannya cukup pesat dalam bersinkronisasi dengan core salah satu Elemental Beast yang tertanam di dalam mesin tersebut, Suzaku, sang penjaga dari selatan..
Namun jika lawannya benar-benar adalah Jack Frost, orang yang begitu aktif di dalam pertempuran dan selalu meraih kemenangan dalam setiap situasi sebelum dikabarkan menghilang, beberapa orang mulai khawatir. Apakah mereka seimbang? Apakah tuan putri mereka berhasil mengungguli ataukah berakhir terungguli?
"Tuan putri, jangan gegabah!" seru Alberto yang masih tersambung dengannya. "Ada orang asing di dalam mesin itu selain dirinya yang kemungkinan tidak terlibat, anda bisa membahayakannya!"
Namun gadis itu sama sekali tidak mengubah pendirian dan keputusan yang dia ambil. Mesin yang berkelebat di langit bagai api membara itu melesat maju dalam kecepatan tinggi. Menyulut Celestial Weapon sementara Kaito sibuk membersih kan mesin-mesin yang menghalangi jalannya. "Jika dia bersamanya, itu sudah pasti karena dia telah bersepakat dengannya. Dia dan Jack Frost, mereka berdua tak jauh berbeda saat ini!."
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
Armament Select :
-High Condensed Temperature Energy Saber-
Condition : / / / / / / / / / / / / / / / / / / / 100%
[Ready]
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
"AMANO HABAKIRI!"
Berkobar bagai lidah api matahari, Soul Phoenix melepas partikel Mirage Colloid dari perangkat pendorong di belakang punggungnya. Partikel tersebut berfungsi menciptakan bias, membuat ilusi sekaligus mengacak frekuensi sinyal serta menggangu sistem kontrol beberapa unit tertentu. Hal itu membuat mesin yang dikendarai Luka mampu merangsek maju sebelum beberapa tengkorak besi lain ikut campur menghalangi jalur garis tebasan yang dia ukir.
Miku menyadari kehadiran serangan mematikan tersebut, sedangkan Kaito sendiri baru saja menyingkirkan salah satu lawan untuk bersiap menghindar darinya. Dia mampu menahannya menggunakan tongkat rantai besi Byakko untuk mengurangi daya rusak sembari melesat mundur mengikuti gaya dorong yang akan diterimanya nanti jika situasi berubah drastis dalam sepersekian detik. Tetapi,
"ZANKANTOU GAKAI!"
Sebuah mecha lain berwarna serupa melesat maju. Mengadu sebuah pedang raksasa di tangannya melawan tebasan bagai jilatan cambuk api yang perlahan-lahan melelehkan pedang tersebut menjadi dua. Sebelum berakhir kehilangan salah satu lengannya setelah berhasil menghisap habis energi yang dilepas oleh Soul Phoenix melalui Celestial Weapon tersebut.
"A-APA?!" Luka tercengang. Teknik pedangnya berhasil dinetralkan. Unit yang nekat beradu pedang dengannya juga kini mengalami kerusakan yang tak bisa dibilang sepele. Teknik yang sama tidak dianjurkan untuk dilakukan dalam interval singkat atau Soul Phoenix mengalami mati daya mendadak akibat jumlah energi yang dilepas tak sebanding dengan waktu pengisian ulang core.
Dia terdiam untuk sejenak mengamati pengganggu tersebut. Mesin itu sekarang tak lebih hanya rongsokan yang hanya mampu mengambang di udara menggunakan sisa-sisa tenaganya.
Lalu di saat yang sama, para tengkorak besi yang mengepung Kaito menghentikan aktifitas mereka, pertanda bahwa kejadian tak terduga barusan turut memancing perhatian Aoki di atas sana. Gadis itu hampir saja memberikan perintah untuk turut menjadikan Soul Phoenix sebagai prioritas targetnya, jika saja Yohio yang mengendarai Ignis tidak mengucapkan sesuatu kepadanya.
"Aoki, hentikan semua ini untuk sejenak. Dan dengarkan dengan seksama apa yang ingin aku sampaikan di sini."
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
Warning!
Right Arm : Undetected
Damage Total on Mobile Suit : 50%
Power 1 : Off
Power 2 : Off
Auto Change to emergency mode … Success
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
"Aku sudah menemukan kakak yang selama ini kau cari."
.
.
.
Thanks for read. n_n
