copyright and disclaimer on chapter 1

...

A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak-sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon dimaklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)


Tindakan yang dilakukan oleh pilot Ignis sungguh berada di luar prediksi siapa pun. Pedang api Soul Phoenix jelas-jelas bukanlah persenjataan tempur sembarangan. Celestial Weapon diberi nama demikian bukan sekedar sebagai pajangan. Makna yang ditanamkan di benak setiap orang begitu mendengar istilah tersebut adalah suatu bentuk kekuatan besar yang masih berada di luar jangkauan pemahaman peradaban manusia.

Satu kalimat yang bisa diucapkan oleh segenap mata yang menyaksikan bagaimana si pilot dengan gegabah mengadu peruntungannya dengan kemungkinan akhir yang tak diketahui nilai keberhasilannya adalah,

"Dia pasti sudah gila!"

Jika ajang perundian dengan taruhan nyawa tersebut sendiri lebih dari cukup untuk mempertanyakan kewarasan orang yang melakukannya, maka hasil mencengangkan yang terjadi kemudian sudah bisa membuat para pengamat diam tanpa kata-kata dengan tatapan tak percaya.

Amano Habakiri adalah jurus pedang yang disebutkan dalam cerita mampu membelah sebuah gunung dan menyulut laut menjadi belantara api membara. Entah itu fakta atau rekayasa seiring pergantian masa, –hal lumrah yang terjadi pada kisah turun temurun yang hanya disampaikan lewat lisan ke lisan saja,– yang jelas, cukup melihat bagaimana benda itu berpijar dengan jilatan-jilatan api yang begitu liar untuk membuat udara tampak berhamburan menghindar menjauhinya, pilot biasa akan segera memutar otak mengambil langkah untuk bisa mengelak dari jalur tebasan Soul Phoenix, bagaimana pun caranya.

Bukan saja dia melemparkan diri pada mara bahaya yang mengambil sebuah wujud, namun masih bisa selamat adalah suatu bentuk keberuntungan paling mengejutkan terlepas dari beragam prediksi buruk yang bisa dibayangkan.

A Luck of a Devil.

Terima kasih kepada pedang kolosal yang bilahnya dibuat menggunakan logam cerdas bernama Memorial Alloy Metal, substansi buatan dengan karakterisasi mampu berubah bentuk dan mempertahankan bentuk tersebut setangguh mungkin, mecha dengan corak warna serupa Elemental Beast Suzaku itu sendiri hanya kehilangan sebelah lengan. Lebih dari itu, rangka depannya sudah meleleh sebagian. Beberapa bahkan melumer ke persendian. Dari usahanya untuk menangkis serangan maut barusan, hanya tersisa sepasang thruster di punggung saja yang membuat mesin tersebut masih bisa berdiri. Satu-satunya bagian yang tak tersentuh oleh hawa panas bersuhu tinggi.

Kaito tertegun dengan serentetan kejadian yang berlangsung begitu cepat di depan matanya. Pasukan elit Alexandria, dan juga para prajurit Limbum, kedua belah pihak memutuskan memilih untuk mengacuhkannya atau melenyapkannya sebagai ancaman. Namun, di antara setiap orang, hanya Ignis yang bersedia maju untuk mempercayai ucapan yang dia sampaikan sebelum kekacauan ini dimulai.

"M-Mustahil!" balas sang pilot Echidna. Teriakan gadis itu menggema mengisi jeda keheningan yang sempat membekukan suasana. Terdapat nada pertentangan dari satu kata tersebut. Antara keinginan untuk percaya dan fakta yang dia yakini, namun belum tentu terbukti kebenarannya. "Omong kosong! Kakak ku sudah mati di tangan musuh! Jangan pernah kau berani mencoba untuk menghalangiku membalas dendam!"

Tengkorak-tengkorak besi pun kembali berhamburan begitu Aoki menyatakan ketidakinginannya untuk percaya pada kata-kata Yohio. Segerombolan unit otomatis tersebut segera turun dari langit bagai kawanan serangga penebar wabah. Lebih gesit, lebih ganas, lebih liar. Seperti sekelompok binatang buas yang menyerang membabi buta sebagai bentuk pertahanan diri karena terpojok tak berdaya.

"Tch, lagi." Umpat Gumi di suatu sudut medan perang begitu dia dapati aktifitas unit-unit tersebut tertangkap oleh radarnya. "Semua pasukan bersiaga! Bersiap untuk melakukan serangan balasan!"

Tengkorak-tengkorak itu terus menyerang dengan sangat agresif dan brutal. Mereka tak akan lagi menghindar dari terjangan amunisi. Meski rangka luar mereka lebih keras, bukan berarti mereka kebal dengan segala bentuk perlawanan yang ada. Retakan, lekungan serta segala macam bekas goresan terus mereka terima. Namun, unit-unit tak berawak itu seakan kehilangan kemampuan mereka untuk merasa waspada.

"Pola pergerakan mereka berubah!?"

"Bentuk formasi! Mereka mungkin target yang mudah dikunci sekarang, tetapi jangan lengah!"

Pada dasarnya, mereka memang hanyalah sekedar mesin yang tak memiliki hati, akal atau pikiran. Apa yang tengah terjadi sekarang tak lain dan bukan adalah akibat campur tangan emosi sang pilot unit induk yang mengganggu proses komputerisasi di dalam sistim mereka.

"Yang mereka kenali hanyalah Jack Frost, sang iblis berhati es! Manusia paling biadab di muka bumi!" Racauan pilot Echidna berkumandang untuk ke sekian. "Bukan hal yang tidak mungkin jika kakak telah dibunuh dengan cara paling keji!"

Di dalam hati dan pikiran Aoki sekarang, Kaito Shion tak lebih dari sekedar kenangan. Terlepas akan prestasi gelap dan segala bentuk keburukan yang dia torehkan pada segenap orang, di matanya, dia tetaplah seorang kakak yang tak pernah ada gantinya.

Hari-hari damai di mana padang rumput hijau adalah taman bermain mereka, mahkota bunga sebagai hiasan seorang putri, tongkat kayu pengganti pedang besi, serta sandiwara di mana dirinya selalu disanjung dan dilindungi, memang telah lama tercerai-berai. Namun, secuil hal itu tidak akan mengubah fakta bahwa Kaito Shion dulu hanyalah sekedar seorang bocah laki-laki.

Nasib buruklah yang membuatnya menjadi seperti apa dirinya sekarang. Putri kecil itu selalu percaya bahwa suatu saat akan ada cahaya yang akan meremukkan kutukan ksatria kegelapan dan mengembalikan ksatria tersebut kepadanya seperti sedia kala. Dia selalu sabar menunggu meski harus menderita dalam diam.

Dan, ketika dirinya dinyatakan menghilang serta desas-desus bahwa Kaito Shion telah terbunuh tak henti-hentinya bersimpang siur mengikis mimpi dan harapannya, lalu, untuk apa dia harus tetap menyiksa diri? Untuk apa dia menjalani misi? Untuk apa dia tetap bersama Alexandria?

"Jika memang kakak masih hidup, jelaskan pada ku alasan mengapa dia tidak kembali kepada Alexandria!?"

x-0-x

"Apa-apaan ini?" Gerutu seseorang di ruang komando Limbum. Tidak satu atau dua orang saja yang memiliki pendapat demikian. Hanya saja, dia adalah salah seorang yang mengatakan hal tersebut sementara setiap orang lebih memilih untuk diam.

Serangan Alexandria memang begitu mendadak. Tampak seakan tanpa persiapan apa pun selain murni mengandalkan kemampuan tempur teknologi mereka. Tapi, bukan Alexandria namanya jika mereka datang tanpa suatu siasat tak terduga.

Tiga unit melawan seluruh skuadron Limbum, satu unit asing yang ikut campur di tengah-tengah pertempuran, lalu sekarang, permasalahan pribadi yang diumbar-umbar. Jika semua rentetan kejadian ini adalah salah satu strategi mereka, negeri penjajah itu sungguh memilki selera yang buruk dalam menyusun sebuah drama sandiwara.

"Apa kalian yakin bahwa Jack Frost sebenarnya telah terbunuh?" Sahut yang lain.

"Jadi, kau percaya ucapan pilot itu?" Sergah salah satu pihak setelahnya. Beberapa saling beradu pandang, mengerut alis dan berpikir menimbang-nimbang.

"Thurdgelmir Alexandria memang diketemukan teronggok di dasar jurang yang mengelilingi Alvaros." Celetuk seseorang di antara mereka. Suasana HQ pun kembali ricuh untuk sejenak. Bagaimana bisa informasi semacam itu luput dari mereka? Orang tersebut pun menjelaskan bahwa kondisi mesin tempur yang dikendarai monster Alexandria itu berada dalam keadaan yang sulit dikenali akibat kerusakan fatal yang diterima. Bentuk Frame yang tampak sedikit mirip dengan Ingram produksi masal Alexandria serta sistem yang lumayan sukar untuk diretas, membuat penyelidikan berjalan lama.

"Sayangnya, tidak ada mayat siapa pun di dalam mesin itu. Tidak menutup kemungkinan Jack Frost masih hidup." Orang tersebut menambahkan. Oleh karena alasan itu pula, beberapa gugus pasukan pengintai disebar di beberapa tempat. Termasuk kota kecil di perbatasan di mana Miku dan Ayahnya menetap.

"Tetapi, dia tidak kembali ke Alexandria?" Seseorang kembali mengungkit permasalahan yang membuat situasi ini menjadi rumit sejak awal.

"Mungkin itu hanya bualan mereka saja. Jack Frost adalah penyusup handal." Terdengar suara gerutuan, "Apakah kalian meragukan kebenaran ucapan Jendral Daisuke dan Putri Megurine?"

Opini demi opini. Teori demi teori. Dugaan demi dugaan. Setiap orang satu persatu menyuarakan pikiran. Hanya Yuuma yang masih mencermati bagaimana kelangsungan kondisi pertempuran tanpa menggumam satu pun ucapan. Segala yang didengar dari sekelilingnya memang tak menutup suatu kemungkinan.

"Yang terpenting sekarang adalah mengusir setiap unit musuh dari wilayah kita. Apa pun caranya." Sela sang Raja. "Pertahankan kondisi pasukan kita. Sebisa mungkin mengambil langkah untuk meminimalkan jatuhnya korban." Monitor utama menampilkan beberapa gambar yang diambil dari beberapa sudut, salah satunya terfokus pada sebuah mesin berbentuk harimau yang kini berubah bentuk ke mode Humanoid. "Biarkan mereka saling menghancurkan satu sama lain."

"Maksud anda, membiarkan unit asing itu untuk menyelesaikan urusannya dengan pasukan Alexandria?" Salah seorang petinggi militer di ruangan itu terdengar ragu. Sepak terjang Death Liger sejak semula sudah memancing perasaan janggal. Apa yang diucapkan sang pilot, orang yang mengaku bernama Kaito Shion, terdengar begitu konyol. Tetapi sejauh pengamatan mereka, unit yang dikendarainya tak sekalipun menjatuhkan mesin para prajurit Limbum, selain untuk melumpuhkan mereka.

Siapa pun dirinya, keahlian orang tersebut dalam mengendarai mecha tidak bisa disepelekan begitu saja, "Bagaimana seumpama," lelaki itu kembali mengutarakan sesuatu, "jika dia berhasil?"

"Dan dia memang Jack Frost?" Kutip yang lain.

Yuuma menghela napas sejenak. Berusaha menata kembali isi kepalanya. Intuisinya berkata bahwa pertempuran ini diselimuti oleh suatu hal yang mungkin luput dari perhatian setiap orang. Hal yang mungkin mustahil, tetapi tetap tak menutup peluang bahwa semuanya memanglah demikian.

Pasukan Alexandria adalah pasukan keji dan penuh strategi licik sekaligus agresif, sebuah ciri khas tersendiri JIKA kepemimpinan pasukan tersebut diberikan kepada seseorang bernama samaran Jack Frost. Tetapi, keberadaan orang nomer satu di medan laga tersebut kini tak bisa diketemukan. Mengingat yang mereka serang adalah ibu kota, sudah sewajarnya Jack Frost seharusnya diikutsertakan. Mungkinkah semua ini dilakukan untuk mengalihkan perhatian sekaligus mengulur waktu untuk mempersiapkan sebuah jebakan?

"Kita akan memutuskannya setelah semuanya benar-benar usai."

x-0-0-x

Dari balik tempurung kokpit Liger yang kokoh, gadis bernuansa hijau aqua itu mencermati bagaimana segala hal buruk berlangsung silih berganti satu sama lain di sekitarnya. Mesin-mesin berukuran besar yang saling baku hantam, korban jiwa yang masih akan terus berjatuhan, sekaligus berbagai macam kerusakan lain yang bertebaran sejauh mata memandang, kesemuanya itu dipicu hanya oleh satu orang.

Ya, hanya oleh satu orang.

Sepasang bulatan berwarna keemasan itu menatap langit yang tanpa terasa perlahan mulai dirambati warna jingga. Tepat di mana sesosok bayang-bayang gelap bagaikan jelmaan mimpi buruk singgah dan menebar hawa ngeri melalui keberadaannya, dengan pandangan iba.

Lolong jeritan sebuah mesin raksasa yang dikendarai oleh adik kandung sang pilot Liger saat ini, kini tak lagi terdengar seperti tawa keji tanpa belas kasih seperti saat awal perjumpaan mereka. Di balik lengking memekakkan telinga tersebut terselip raungan putus asa bercampur tangisan seseorang yang telah terpuruk kehilangan arah.

"Ku mohon, percayalah, Aoki!" Sang pengendara unit Ignis sekali lagi mencuri perhatian Miku. Lelaki yang menggunakan mesinnya sendiri untuk mentamengi Liger itu masih enggan untuk melangkah mundur dari medan laga, terlepas dari keadaannya yang sekarang tak ubahnya seperti seekor tikus tak berdaya terperangkap di balik dinding rongsokan besi tak berguna.

Di saat bersamaan, Kaito beserta mesin yang mereka kendarai bermanuver mempertahankan diri dari terjangan amukan unit-unit berwujud kerangka kepala manusia yang berdatangan hampir dari segala arah. Begitu pula Soul Phoenix milik sang tuan putri kerajaan Limbum yang kini tampak bagai seutas benang tipis merah menyala yang menari-nari menguntai manik-manik cahaya seiring jarak yang terpisah semakin jauh antara mereka berdua.

"Pembohong!" Lagi, pekikan itu Miku dengar sebelum jeritan Echidna mengusik pendengarannya. "yang selama ini kau ucapkan, semuanya adalah bohong!" Bersamaan dengan itu, beberapa mesin otomatis yang dia ciptakan pun kembali berkerumun membentuk segumpal bayang-bayang.

"Jika semua yang ku lakukan ini berujung pada kebohongan lain untuk mengelabuhimu," terdapat jeda sejenak dari si pemilik unit yang warna merah baju besinya telah pudar ditelan arang hitam akibat terjilat api yang bukan sembarangan.

Terdapat suatu isyarat di dalam kata-kata singkat tersebut yang membuat bulu kuduk gadis polos itu seketika bergidik entah untuk yang ke berapa kalinya. Sebuah pertanda awal dari satu sandiwara hitam yang mulai dipentaskan di tengah-tengah sekian sandiwara yang Miku jumpai sejak keterlibatan mereka berdua dalam kekacauan yang terjadi di tanah ini.

"Bunuh saja aku."

Dan dengan diucapkannya kalimat akhir tersebut, kepedihan pun merayap naik hingga terpantul jernih di kedua bola matanya. Membekukan waktu. Membuatnya melihat ilusi gerak lambat di mana segenap musuh yang bertaburan di angkasa mulai mengalihkan perhatikan mereka. Menjadikan mesin sekarat tersebut menjadi satu-satunya mangsa.

Mecha itu akan diremuk hingga kepingan terkecil bersama sang pilot yang mengendarainya, sedangkan dirinya hanya bisa melihat tanpa berbuat apa-apa.

"Kaito, orang itu... dia akan..."

"Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja, Yohio!?" Dalam sekejab Mata, gadis itu telah mendapati Liger yang dia tumpangi berpaling arah. Mereka menerobos setiap penghalang sekaligus berlomba dengan gumpalan hitam yang mulai merayap turun menghampiri mesin yang telah berjasa melindungi mereka beberapa saat sebelumnya. Sekujur tubuh kucing besi tersebut berkilau dan menyisakan debu-debu bintang di udara. Membentuk seutas benang yang tampak meliuk-liuk di kejauhan.

Tepat sebelum sekawanan unit tak berawak tersebut melebarkan rahang mereka untuk melumat sasaran, Kaito telah berdiri di antara mereka. Rahang Liger yang bertengger di dada mesin itu terbuka, di mana energi fusi Elemental Beast Core termampat di sana.

Hanya cukup satu sapuan cahaya putih menyilaukan yang sesaat tampak mendaki langit dan membelah cakrawala, sekerumunan kendaraan tempur tanpa awak di hadapan mereka pun satu-persatu terhempas. Saling bertumbukan satu sama lain sebelum remuk tanpa sebab dan hancur berkeping-keping.

x-0-0-0-x

"E-Emisi yang dilepaskan barusan..." Gumi tak sanggup melanjutkan kalimat yang ingin diutarakannya. Energi yang melumat lusinan unit musuh di atas sana sebanding, atau bahkan lebih merusak dari perwujudan pedang api Amano Habakiri. Jika mesin tersebut sanggup untuk menghambur-hamburkannya, tidak dipungkiri pertempuran ini akan bisa dimenangkannya seorang diri saja.

Namun kenyataan tersebut hanyalah kekhawatiran tanpa beralasan.

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

Warning

Charged Diffuse Particle Liger Cannon has been exhausted completely.

;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;

"Ternyata memang benar-benar kau, Kaito." terdengar suara lelaki disela-sela gemerisik statis ketika komunikasi kedua mesin telah terhubung. Wajah pilot tersebut tak bisa dikenali akibat kerusakan sistem visualisasi Ignis. Sehingga yang muncul di layar Liger hanyalah sekerumun warna hitam dan putih. "Maaf, aku tidak bisa menjaga Aoki selama kau pergi."

"Tidak, Yohio," jawab Kaito singkat. Lirih. Apa yang dia mimpikan benar-benar terbukti. Gadis itu bukan sekedar melampiaskan kekecewaannya di medan perang. Aoki sungguh-sungguh mengubur dirinya sendiri, mengabaikan semua hal yang bertentangan dengan segala hal yang tanpa sadar telah dia yakini. Jack Frost benar-benar telah merebut adik semata wayangnya.

"Sebagian dari apa yang menimpa Aoki adalah kesalahanku." imbuhnya. "kau sudah melakukan hal yang terbaik. Sekarang biarkan aku yang mengambil alih semuanya dari sini."

"Kaito, tolong selamatkan Aoki." Pinta sang pilot dari Negri Alexandria tersebut, sesaat sebelum Liger berlalu meninggalkannya. "Di dalam mesin tersebut terdapat komponen-komponen asing tersembunyi yang kini mulai lepas kendali." sambungnya.

"Apa maksudmu?" pertanyaan lelaki itu dijawab oleh sebuah kiriman cetak biru dari Echidna. Tampilan tiga dimensi seperti yang dia peroleh dari Liger, tetapi telah ditandai dengan garis-garis merah yang saling terhubung di beberapa tempat yang sebelumnya tidak ada keterangan apapun di sana. Serta di saat bersamaan, perubahan bentuk rangka unit mengerikan tersebut mulai menampakkan tanda-tanda.

Tempurung besi yang menyusun sekujur badan mesin itu berubah tekstur. Berdenyut-denyut seperti makhluk hidup. Membentuk urat-urat bercabang dan menjalar di setiap bagian.

"Kaito, di dalam mesin itu!" sahut Miku dari balik punggungnya. Apa yang tertangkap oleh pengelihatan gadis berkuncir Dua tersebut adalah aura-aura hitam pekat yang merembes keluar mengotori udara di sekitarnya. "Di dalam mesin itu tertanam bagian tubuh Orochi!"

"Jika Aoki tetap mengamuk..." Lelaki bersurai biru itu tidak membuang lebih banyak waktu untuk mendengar kelanjutannya. Harimau perang yang dia kendarai dengan sergap memenuhi keinginan pengendaranya dan Kaito pun kembali melanjutkan urusannya yang tertunda. "tidak menutup kemungkinan dia akan menggadaikan nyawanya."

"Kurang ajar kalian, Alexandria!"

.

.

.


Thanks for read. n_n

Mind to review?


A/N : Umm, apa kabar semuanya? Terima kasih atas waktu yang diberikan untuk menyempatkan diri membaca sekumpulan file lapuk yang sedang dalam proses pembersihan dan daur ulang. Maaf jikalau cerita ini amat sangat keterlaluan ngaret hingga generasi author seangkatan sebagian banyak telah menghilang. Sekaligus, permohonan maaf atas segenap pembaca baru dan lama, sebab cerita ini kemungkinan besar akan kembali berhibernasi untuk waktu yang tidak bisa ditetapkan. Bahkan janji yang dulu sempat ditulis bisa jadi mustahil untuk bisa dilaksanakan.

Singkat kata, WB dan kondisi IRL adalah sepaket kombo sakti mandraguna.

Sampai jumpa.

n_n v