copyright and disclaimer on chapter 1
...
A/N : keterbatasan pemilihan kata, penggunaan kalimat yang terkesan berulang, typo, abal, alur melewati batas kecepatan maksimal dalam penulisan cerita dan kecacatan lainnya adalah bentuk ketidak-sempurnaan saya sebagai Author biasa. Mohon dimaklumi dan author akan lebih berterima kasih jika review yang diberikan bisa membangun. (meski saya tidak yakin bisa sempurna 100% tapi tak ada salahnya untuk mencoba.)
Pendusta. Lelaki itu adalah seorang Pendusta. Seorang munafik yang mahir memutar-balik lidah. Sang pemeran yang handal memainkan tokoh dengan performa tanpa cela. Sama seperti sebagian besar para petinggi Alexandria, sekawanan kanibal yang tak segan menjilat daki di ujung sepatu jika itu memberi mereka kesempatan untuk mendongkrak posisi dan kedudukan lebih tinggi. Manusia-manusia laknat yang mungkin akan sangat kegirangan ketika saling menikamkan belati jika sang Raja menghendaki.
Dia pikir dengan berpura-pura terbebani oleh kepedihan yang sama, dia bisa mengelabuhi dirinya? Beranggapan dengan memberikan atensi lebih dari seharusnya, cukup untuk menebus harga kekecewaan, amarah, serta sekian hal yang mencabik kewarasan; sirna sekaligus tergantikan begitu saja? Tahu apa dirinya tentang serangkaian kekejaman yang menimpa keluarga kecil mereka hingga harus berakhir menjadi bidak catur permainan perebutan wilayah serta kekuasaan antar negara?
Sang pilot Echidna itu berani bertaruh, lelaki dengan sepasang bola mata memancarkan kilauan rubi itu hanya tahu sebatas fakta bahwa kakak beradik Shion adalah sekian dari ribuan atau bahkan ratusan ribu korban kegencaran perekrutan paksa yang digalang oleh pihak penguasa. Lepas dari itu semua, kasus perlakuan kasar tak manusiawi lainnya termasuk hal lumrah yang tak lagi tabu menjadi topik dalam bercengkrama. Jauh berbeda dari seorang bocah ingusan yang menjadikan kekuatan militer Alexandria sebagai pijakan impiannya.
Seumpama pilot mesin bobrok itu memang menginginkan untuk mati ditangannya, sungguh, gadis bersurai biru itu dengan senang hati akan mengabulkannya. Tidak akan ada lagi wajah sendu dari balik pintu kamar dengan nampan tergenggam di kedua tangan, berbicara basa-basi dengan dalih mengkhawatirkan kesehatan. Tidak akan lagi ada kata-kata membujuk agar tidak terlarut dalam kesedihan, seolah hal itu semudah menghirup udara. Terutama, tidak ada lagi pembual yang kerap berkata bahwa kakaknya pasti akan kembali, melalui dirinya sebagai perantara.
Jawab, bagaimana dia bisa menyadari bahwa di sini. Di tempat ini. Di detik ini. Di tengah kecamuk pertempuran dan hingar bingar kehancuran. Jack Frost hadir di hadapannya? Sejak kapan sosok kakak yang keberadaannya lenyap entah kemana, secara tiba-tiba muncul. Memeluk. Merengkuh. Menenggelamkan dirinya dalam selimut kehangatan yang bertahun-tahun dia dambakan?
Antara batas kenyataan dan dunia khayalan, hawa keberadaan figur itu begitu rapuh. Rentan. Aoki Shion hanya sanggup bergeming tanpa kata. Membiarkan butir-butir bening berjejalan keluar mengukir paras belia. Memberi tatapan penuh tanpa sekalipun berkedip; khawatir jikalau keajaiban yang pahit ini akan berakhir begitu saja ketika kelopak mata terpejam meski hanya untuk sementara.
"Kakak sudah mati." kalimat yang terbisik melalui celah bibir seranum ceri itu mengirim sensasi perih menghunjam ulu hati. Mengacau sistem transmisi antar unit di bawah kendali senjata tempur yang gadis itu kendarai. "Kau menipu ku, Yohio. Kakak sudah lama mati." Nyala sorot mata di dalam lubang-lubang tengkorak bersinar semakin terang sebagai reaksi. Prioritas target secara otomatis telah ter-reset dan perintah baru pun tereksekusi.
Tampilan gambar yang diperbesar beberapa kali menghilang dari layar visualisasi. Aoki hanya perlu memberikan isyarat melalui gestur tubuh sederhana, dan proses penjatuhan hukuman mati pun berjalan dengan sendirinya. Bagai sekumpulan serangga penebar mala petaka, mereka segera melaju berkejaran. Berebut satu sama lain demi mendapat secuil bagian.
Selebihnya, dia sudah tidak lagi peduli bagaimana nasib Ignis beserta pengendaranya kemudian. Seluruh perhatian terlanjur tercurah penuh pada sosok semu yang dia rindukan kehadirannya. Dia abaikan keganjilan gerak-gerik dinding kokpit di sekelilingnya. Alarm yang menjerit lantang untuk memperingatkan akan adanya keabnormalan di dalam sistem. Serta lantai yang perlahan-lahan meleleh, menenggelamkan kaki, merambati sekujur tubuh, menghisap seluruh jiwa serta kesadaran ke dalam kegelapan tak bertepi.
Bagi Aoki sekarang, selama sosok menyerupai Kaito tersebut bersamanya, semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Mereka tidak akan kembali terpisah. Takkan pernah. Selamanya.
x-0-x
"M-Mesin macam apa yang dia gunakan?!"
"Unit sebanyak itu musnah begitu saja?!"
Kilatan cahaya di langit membutakan mata. Disusul raungan keras binatang penguasa rimba belantara bergemuruh ke delapan penjuru arah. Serta ledakan beruntun, di mana matahari seolah-olah berpindah tepat beberapa jengkal saja dari tanah Limbum di atas sana, tak pelak menjadi pemandangan langka yang membuat segenap prajurit Limbum gemetaran karena takjub dan terhanyut oleh kedahsyatannya.
Terlebih lagi, selain bersikeras menghindar dari konflik dengan setiap kendaraan tempur mereka, sang pilot unit tak teridentifikasi itu justru menyumbangkan jasa. Hal itu semakin membuat mereka merasa bimbang jika orang itu benar-benar Jack Frost seperti yang HQ sampaikan lewat pesan berantai. Benarkah, semua rentetan kejadian ini hanya sandiwara?
"Sebaiknya kita dahulukan unit-unit musuh yang kini kehilangan kemampuan koordinasi mereka."
"Ya, jika dia memang Jack Frost, kita akan melenyapkannya bersama-sama."
"Dasar licik."
"Kita lihat saja bagaimana kelanjutan konflik di atas sana. Lagi pula, Soul Phoenix milik tuan Putri sendirilah yang sekarang menghadapinya."
"Kau benar! Tuan Putri Megurine mempiloti mesin pusaka yang diwariskan turun-temurun di kerajaan kita. Kita masih belum melihat semua kemampuan legendaris yang konon pernah melenyapkan tiga ratus kapal induk dalam sekali ayunan pedang saja."
Selain itu, lawan mereka bukan saja Echidna beserta mesin-mesin tak berawak yang lahir dari bagian tubuhnya. Sebuah unit berkemampuan stealth juga turut serta mengambil bagian di sela-sela pertempuran. Bersenjatakan sabit plasma, cara dia bertarung tidak jauh merepotkan dari sekerumunan tengkorak besi yang berhamburan sejauh jangkauan sensor pendeteksi di radar mereka.
Siapa pun sang pengendara mesin berwarna ungu gelap tersebut, dia sanggup meloloskan diri dari kepungan funnel Jade Artemis yang tak lebih dari sekali menebak keberadaannya. Melakukan gerakan acak secepat kedipan mata; menyulut Thruster untuk sekedar melontarkan diri sekaligus mengubah inertia secara tiba-tiba, menghilang dari tampilan visual menggunakan teknologi stealth coating, serta mengulang serangkaian proses tak berpola tersebut berkali-kali untuk mengecoh lawan. Terutama di dalam pertarungan jarak jauh, di mana sulit bagi para penembak jitu untuk mengunci gerakan target yang susah untuk diam.
Beruntung, masih tersisa seseorang berkeahlian tempur cukup mumpuni di pihak Limbum untuk menghadapinya. Maid pribadi dari adik kandung sang raja bukan sekedar tipikal maid yang hanya bisa melayani dan merawat majikan saja. Gadis itu cukup jeli menghadapi lawan yang hanya bisa menghindar dan berlari. Dia mendeteksi residu energi setiap kali mecha incarannya melesat, memperhitungkan titik lokasi kemungkinan target akan terlihat, sekaligus mengatur serta memposisikan pergerakan sekumpulan senjata terbang yang dimiliki Jade Artemis tersebut membentuk formasi perangkap untuk menyergap.
Sebelum seluruh perhatian tersita penuh oleh fenomena luar biasa di atas langit Kota Limbum, panggung peraduan di mana cahaya pijar pelebur baja berkelebat merajut jala-jala warna, serta desis hidrolik dan pekikan thruster kedua mecha saling memadukan irama, adalah sebuah pertunjukkan dansa di mana kedua belah pihak mengerahkan segenap keahlian mereka dalam seni kecekatan membaca gerak-gerik lawan, sekaligus mementahkannya.
x-0-0-x
Pola pergerakan unit-unit otomatis yang menyerbu pasukan Limbum kali ini tidaklah sekedar kehilangan kemampuan koordinasi. Lebih tepat disebut bahwa mereka secara tiba-tiba mengamuk lepas kendali. Bahkan lebih mencengangkan lagi, beberapa bertransformasi dan berkombinasi. Menyusun badan dari sekian rongsokan mesin yang terhampar di medan laga. Berubah wujud menjadi mesin kolosal berukuran berkali-kali lipat lebih besar dari semua yang ada di sana.
"Ini Gila! Sejauh mana perkembangan teknologi perang Alexandria sekarang?! Bagaimana mereka mampu menciptakan mesin pemusnah massal semacam itu?! Ini absurd! Mustahil!"
"Mereka tidak hanya membunuh rekan-rekan kita. Tetapi secara tidak langsung memaksa kita semua untuk saling membunuh satu sama lain!"
Sementara suasana semakin keruh di bawah sana, Kaito sekarang telah berdiri bertatap muka dengan Echidna. Seluruh permukaan rangka luar mecha menyerupai monster tersebut kini tampak semakin nyata menyesuaikan wujudnya, sekaligus lebih menjijikkan dari sebelumnya. Kabel-kabel aneh serta gumpalan-gumpalan besi menggeliat seperti belatung, menyisakan bagian wajah berbentuk patung wanita yang tengah menyeringai mengamati gerak-geriknya.
Sayang sekali, andai saja sosok yang pemuda itu dapati hanya sekedar wajah asing yang tidak sedikit pun pernah singgah di ingatannya, serta sambutan yang diterima kemudian adalah serangan bertubi-tubi, pertarungan sengit mungkin sudah terjadi.
Tetapi, tidak bisa lagi dipungkiri, netra sewarna safir yang terpantul di sana. Surai bernuansa senada yang membingkai paras cantiknya. Cara dia merapatkan gigi untuk menggambarkan amarah. Serta cairan kental berwarna gelap yang mengukir jejak menuruni lekuk pipinya,
Jangankan pemuda yang masih berbagi jalinan darah dengannya, gadis berkuncir dua di balik bangku kendali utama kucing besi itu pun mampu merasakan guncangan tak kasat mata yang jauh lebih hebat dari yang pernah dia rasakan seumur hidupnya; menghempas dinding hati yang begitu rapuh dan peka.
Sepasang berlian sewarna zamrud cakrawala itu turut memburam, sementara kedua tangan bergerak dengan sendirinya untuk membungkam bibir; meredam tangis histeria yang bisa pecah kapan saja.
"Aoki..." bahkan untuk memanggil nama gadis itu sekarang cukup untuk membuat sekujur lidah mati rasa; apa yang akan dilakukannya sekarang tidak akan pernah sanggup lagi mengubah alur takdir yang mempertemukan mereka. Gadis itu terlanjur terasimilasi dengan mesin yang dipilotinya akibat fragmen Orochi yang dijadikan sebagai komponen penunjang sumber daya Quantum Wave Black Hole Motion Engine, mengalami ketidakstabilan.
"Penipu. Kau bukanlah kakakku!" kalimat yang kemudian terlontar dari mulut monster itu terdengar begitu dalam. Kental oleh hawa kebencian. Menyudutkan Kaito bahwa dirinya telah gagal untuk melindungi adik tunggalnya. "Temui ajalmu sebagai hukuman karena telah lancang mempermainkanku!"
Diiringi jeritan pilu yang seakan berkumandang dari tempat yang jauh, serta dering alarm pertanda bahwa musuh tengah menguncinya sebagai sasaran, dia gerakkan Liger sesuai insting yang bergejolak, memberontak menentang kenyataan. Kaito Shion memutuskan tidak akan pernah mundur barang satu jengkal pun tanpa mencoba segala cara untuk mengembalikan sang adik seperti sedia kala.
"HHAaaaaaaah!"
x-0-0-0-x
Duduk seperti bocah penurut di dalam kokpit kendali kendaraan tempurnya sendiri, anak laki-laki berambut pirang itu bersungut menggembungkan pipi. Dia sisihkan anak rambut yang tumbuh sedikit menjulur menutupi mata kanannya, tanpa berpaling sedikit pun dari monitor yang menampilkan jalannya pertempuran antara Echidna dan orang asing yang mengaku sebagai Kaito Shion; atau lebih dikenal sebagai Jack Frost dari Alexandria.
Tiga bulan silam, keberadaan orang paling disegani di kesatuan kemiliteran negri penjajah tersebut menghilang secara tiba-tiba setelah dikonfirmasi bahwa Thurdgelmir benar-benar berhasil dijatuhkan dalam operasi Armageddon untuk mengikis kekuatan Limbum di Kota Alvaros. Sayangnya, bangkai kendaraan tempur yang dipergunakan berhasil dicuri di tengah perjalanan setelah diketemukan. Sedikit memalukan, namun hal itu menjadi bukti bahwa nasib Jack Frost tidaklah berakhir sebagai tawanan perang.
Justru, yang menjadi pertanyaan adalah, di mana orang itu sekarang? Sepuluh hari berlalu semenjak insiden tersebut namun belum ada informasi apa-apa. Kemudian tersiar kabar beberapa hari sebelumnya, bahwa mesin berbentuk kucing hitam raksasa; unit sama yang sekarang turut ikut campur di dalam misi mereka; berhasil memukul telak satu gugus pasukan kecil yang diutus untuk menyeret pulang Kiyoteru Hiyama. Seorang ilmuwan jenius yang berhasil kabur dari cengkeraman tirani kampung halamannya dan diduga selama ini bersembunyi di balik naungan negara lain.
Tidak berhenti sampai di situ saja, tanpa disangka-sangka pilot dari mesin yang rupanya baru diketahui keberadaannya oleh Limbum tersebut mengaku-ngaku sebagai Kaito Shion! Nama asing bagi siapa pun yang tak tahu bagaimana asal mula julukan Jack Frost mengambil alih identitasnya.
Rencana mereka untuk merangsek maju hingga wilayah istana serta mengalihkan semua perhatian lawan ke barisan belakang, seketika melenceng dari semula. Bukan hanya itu saja, mesin termutakhir sebagai ujung tombak operasi ini mulai menunjukkan tanda-tanda keganjilan; begitu pula dengan sang pilot yang bisa dibilang mulai kehilangan akal sehatnya.
Situasi semakin tak terkendali dan kini, di sinilah Oliver mendapati dirinya tengah duduk terpangku oleh seorang senior yang sempat ditolongnya setelah Ignis hampir menjadi kaleng bakar tingkat sempurna. Sungguh ironi pikirnya. Sebuah mesin tempur yang namanya diambil dari sosok dewa api dalam suatu keyakinan, harus bernasib meleleh seperti model plastik berkualitas murahan.
Terlepas dari itu semua, bocah dengan perban penutup melilit lubang mata kiri yang menganga itu hanya bisa pasrah tanpa bisa berkomentar apa-apa di bawah hawa intimidasi seseorang yang akrab dia sapa Yohio Nii. Pemuda berambut pirang seperti dirinya yang sekarang tengah mengutak-atik program unit yang mereka tumpangi.
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
ALEXANDRIA MOBILE INGRAM SYSTEM
ZX BLITZCHEN
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
ENTER PASSWORD AND IDENTIFY PILOT :
TOP CODE 44KL90
=[TOP SECURITY CODE]=
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
NEW REGISTRASION PILOT
ENTER YOUR ID
YOHIO LUCAS
=[DONE]=
;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;-;
ALEXANDRIA MOBILE INGRAM SYSTEM
ZX BLITZCHEN
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
POWER ================================= ONLINE
GPS =================================== ONLINE
GPRS ================================== ONLINE
BATTLE WAR DATA ======================= ONLINE
CORE ================================= ONLINE
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
EQUIPMENT SYSTEM
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
HYPER PLASMA SCYTHE ================== READY
ELECTRIC DISCHARGE METAL WIRE ========= READY
VARIABLE PHASE SHIFT ARMOR =============== ON
STEALTH COAT MODULE ================== READY
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
SYSTEM
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
WORD MAP ================ DONE
SYSTEM BATTLE =========== DONE
C: reinstal program Alexandria
wipe all program of Alexsandria HQ
wipe all communication of Alexsandria HQ
wipe data base info ingram to Alexsandria HQ
wipe data base info ingram ally
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
THE INGRAM HAS BEEN UNREGISTERED FROM ALEXANDRIA
DATA BASE HAS BEEN CHANGED TO MANAGE TO PILOT
ALL SYSTEM HAS BEEN HANDLE FOR PILOT
ALL SYSTEM READY
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Maaf, Oliver," jawaban dari bocah itu hanya satu hembusan napas panjang. Dia tidak terkejut atau bertingkah berlebihan seperti para prajurit teladan yang tidak akan berpikir dua kali untuk melakukan perlawanan ketika mendapati upaya pemberontakan. "Setelah misi ini selesai, pergilah dari Alexandria." ujung jari telunjuk bergerak malas mengorek lubang telinga.
"Terserah Yohio nii sajalah." terdapat jeda sejenak sebelum lawan bicara bocah itu tertawa menerima jawabannya. Oliver mendengus, menjentikkan lidah tak suka. Apanya yang lucu, coba? "Yohio nii, sehat?" pungkasnya kemudian. Gurauan itu segera dihadiahi gerakan gulat mengunci leher serta bonus sekepal tinju bergerak berputar melubangi ubun-ubun.
Bukan hanya itu, dia bahkan sengaja membiarkan Blitzchen kehilangan pijakannya di udara. "Siapa yang mengajarimu, hah?!" bocah itu semakin yakin bahwa seniornya ini mulai tertular penyakit gila.
"Nii San! Tuasnya! Tuasnya!"
Oliver memang hanya memiliki satu mata, tapi bukan berarti pengelihatan yang dia miliki tersebut jauh dari kata sempurna. Jika Yohio tahu bahwa bocah ini mengoleksi video pribadi di mana dia terpergok memasang wajah seperti bayi yang ditelantarkan orang tuanya di depan kamar Aoki, mungkin sekarang dia sudah ditendang keluar dari kokpit dan dibiarkan jatuh bebas menyambut bumi.
Bocah itu menyadari, perlahan tapi pasti, pasukan elit Alexandria tempatnya bernaung ini mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa keberadaan mereka mulai dikesampingkan oleh gugus pasukan lainnya. Alasannya sederhana, mereka adalah sekumpulan prajurit muda yang melaksanakan tugas hanya untuk memenuhi kuota predikat "pasukan paling keji di dunia.".
Kesampingkan rekor kehancuran dan korban jiwa yang dia sumbangkan, Oliver tidak habis pikir bagaimana bisa terdapat satu anggota yang masih tetap bertahan di dalam kelompok mereka meski tidak satu atau dua saksi mata berkata bahwa sosok itu terlalu mengasihani lawannya.
Apalagi semenjak figur pemimpin mereka hilang begitu saja, bukti bahwa pasukan elit tersebut hanya sekelompok remaja munafik semakin tampak ke permukaan. Gadis cantik yang dia kenal paling normal di antara sekian prajurit Alexandria, mengalami tanda-tanda goncangan jiwa. Sosok yang dijuluki sebagai tangan kanan Jack Frost sendiri turut menunjukkan gerak-gerik pendirian yang telah goyah. Keduanya saling berkesinambungan, yang mana tidak luput dari sorotan pihak lain yang mengincar momen paling tepat untuk melengserkan mereka dari posisi pasukan istimewa.
Bukan hanya itu, tersebar rumor bahwa Alexandria tengah menjalankan program penciptaan prajurit super menggunakan artefak magis dari jaman purbakala sebagai media. Melihat bagaimana performa Echidna di medan laga, kabar burung itu hanya akan menunggu waktu saja. Sekarang, esok atau lusa, pasukan elit ini pasti akan bernasib seperti pasukan lainnya yang ditugaskan untuk bertempur sampai hancur lebur, kemudian dilupakan begitu saja.
Memberontak dan dihukum mati, atau gugur ditelantarkan? Jawabannya sudah pasti, bukan? Usulan dari kakak seniornya itu tentu jauh lebih menjanjikan.
.
.
.
Thanks for read. n_n
Mind to review?
A/N : Tanpa basa-basi. Pemilik akun ini mengakui sedang menderita penyakit miskin diksi sekaligus komplikasi tuna-emosi. Jikalau update kali ini meleset dari ekspetasi, mohon dimaklumi, atau mungkin, tidak perlu lah cerita ini diikuti lagi. Tidak menutup kemungkinan jika update ke depan akan jauh lebih buruk dan mengecewakan. Sudah lihat, bukan? Bagaimana tulisan yang diramu sangat kentara dipaksakan? /duduk jongkok. mojok. hadap tembok./ "orz
