Namaku Hyuuga Hinata. Umurku 16 tahun. Saat ini, aku duduk di kelas 11 – 1 di Konoha High School. Sebelumnya, aku sekolah di kota Ame. Tapi karena pekerjaan ayah, aku harus ikut pindah ke Konoha. Aku punya sepupu bernama Hyuuga Neji. Dia sekolah di sekolah yang sama denganku. Hanya saja, kelasnya berbeda. Dia ada di kelas 11 – 3. Biasanya, aku akan ke kantin sekolah bersama teman – teman baruku untuk makan siang sekaligus bertemu dengan kak Neji.


Disclaimer : Naruto BUKAN punya Sasuke, apalagi punya Haru A-Fuadillah. Naruto milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanya meminjam beberapa chara-nya.

Pairing : SasuNaruHina

Rated : T

Warning : Out Of Character, Ngelantur, Alur –mungkin– kecepatan, Typo's bergentayangan, Mengandung unsur Yaoi atau BL. Yang tidak suka dengan BL, langsung klik tombol 'back' saja daripada kalian menambah dosa dengan memflame cerita kami.


My Kyuubi

Chapter 2

By : Haru A-Fuadillah


"Uso! Kau bohong kan?"

"Astaga. Kau tidak percaya sekali! Aku melihatnya dengan mataku sendiri!"

Kedua temanku ini... Yamanaka Ino dan Haruno Sakura. Kerjanya saat makan siang hanyalah bergosip. Tapi karena itu, aku jadi tahu info – info yang tidak terduga.

Seperti sekarang, Ino bilang kalau kemarin dia melihat Asuma – sensei dan Kurenai – sensei kencan di cafe yang ada di kota sebelah. Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Tapi, saat memikirkan kembali kedekatan kedua guru yang cukup populer itu, ku rasa mungkin saja.

"Hinata, kenapa kau diam saja?". Pertanyaan dari Sakura membuatku tersadar dari lamunanku.

"Ahahaha.. Gomen. Aku hanya memikirkan kata – kata Ino tadi"

"Sokka" . Dan kami kembali memakan makan siang kami.

"NARU!"

Teriakan cempreng tadi membuatku tersedak minuman yang sedang kuminum. Dengan segera, aku merasakan tepukan di punggungku serta suara panik teman – temanku.

"Kyaa! Hinata daijoubuka?!"

"Uhuk! Da-daijoubu"

Setelah merasa baikan, aku mengambil sapu tanganku dan melap mulutku yang belepotan. Kemudian, kualihkan pandanganku pada pemilik suara cempreng tadi.

Kulihat cowok dengan surai cokelat dengan tato segitiga merah terbalik di kedua pipinya berlari kecil sambil membawa 2 atau 3 buku di tangannya. Awalnya aku hanya memandangnya biasa. Tapi, melihat ke arah mana ia berlari membuatku membulatkan mataku.

Bagaimana tidak? Saat ini, ia berlari menuju ke arah cowok dengan surai pirang acak – acakan yang sedang menyantap semangkuk ramen, Namikaze Naruto – sama.

Seketika juga, ingatanku tentang pembicaraan 5 hari yang lalu dengan Ino muncul di pikiranku.

Flashback

"Ya. Dia tidak suka jika ada yang mengganggunya. Selain itu, dia selalu bersikap dingin pada semua orang. Dia.. berandalan paling di takuti di kota ini. Orang – orang memanggilnya 'Kyuubi'. Menurut rumor yang kudengar, dia adalah pecandu narkoba, selalu pergi ke diskotik saat malam hari, pernah memperkosa beberapa wanita bahkan membunuh orang" jelas siswi bersurai pirang pucat itu a.k.a Yamanaka Ino

"Ka-kalau dia seburuk itu, ke-kenapa dia masih bersekolah di sini?" tanya gadis bersurai lavender itu lagi a.k.a Hyuuga Hinata

"Dia itu berprestasi. Maksudku dia selalu mendapatkan peringkat setiap semester dan tidak pernah goyah dari peringkat 6. Tapi, banyak orang yang mengatakan kalau keluarga Naruto itu menyuap kepala sekolah di sini. Karena itu Naruto tidak keluar dari sekolah ini dan selalu ada di peringkat 6, walau hal itu tidak kupercaya karena menurutku Naruto benar – benar berprestasi"

"A-aku tidak mengerti"

"Hah.. aku juga tidak mengerti Hinata – chan". Dan untuk beberapa saat, kami terdiam sambil memandang pintu kelas.

"Oh iya. Kalau MISALnya kau memanggilnya, jangan panggil dia Namikaze atau Naruto"

"Heh? Lalu aku harus memanggilnya apa?"

"'Namikaze – sama'. Kalau kau tidak memanggilnya seperti itu, tidak ada yang tahu seperti apa jadinya"

"Setahuku, ada senpai yang pernah memanggil Namikaze – sama dengan nama kecilnya, dan besoknya dia tidak masuk sekolah karena masuk rumah sakit dengan keadaan babak belur". Suara asing yang ikut bergabung dengan pembicaraanku dengan Ino membuatku terperanjat.

"Astaga, Sakura! Jangan langsung nimbrung dong! Kau membuat jantungku copot!" keluh Ino kepada seorang gadis bersurai merah jambu yang di panggil 'Sakura'. "Tapi, apa kau serius dengan ucapanmu tadi?"

"100 persen yakin!". Dan jawaban dari gadis itu membuatku memikirkan si Namikaze – sama.

End Flashback

'Astaga! Apa orang itu tidak tahu kalau tidak boleh ada yang memanggilnya seperti itu? Apa dia anak baru? Kenapa tidak ada yang memberitahukannya? batinku terus bergejolak memikirkan beberapa kejanggalan yang ada.

'kenapa tidak ada yang menghentikan orang itu?'

"I-Ino.. ke-kenapa tidak ada yang menghentikan pemuda itu?" tanyaku akhirnya setelah aku menyerah untuk memikirkan jawabannya.

"Ah, maksudmu pemuda yang itu, kan?" jawabnya sambil menunjukkan tempat Namikaze – sama yang di datangi si pemuda dengan tato segitiga merah terbalik di kedua pipinya. "Aku lupa mengatakannya padamu. Di sekolah ini, hanya kepala sekolah dan pemuda itu saja yang bisa 'akrab' dengan Namikaze – sama" lanjutnya sambil membuat tanda kutip dengan kedua tangannya saat mengucapkan kata 'akrab'.

"Tidak ada yang tahu alasan Namikaze – sama mengizinkan Kiba memanggilnya dengan nama kecilnya" jawab Sakura yang ikut mengomentari.

Setelah pembicaraan itu berakhir, aku melanjutkan makan siangku sesekali melirik meja Namikaze – sama yang terlihat sedang...

...mengajar?

Dia.. mengajari pemuda itu?

Heh? Berguru?

.

.

.

TING TONG

Suara bell sekolah tanda pulang berbunyi dengan keras. Segera ku rapikan buku – bukuku dan bergegas pulang. Hari ini aku merasa lelah. Satu – satunya yang kuinginkan sekarang hanyalah tidur di kasurku yang empuk.

Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan Ino dan Sakura, aku berjalan menuju arah yang berlawanan dengan kedua sahabatku menuju rumahku. Baru berjalan 5 menit, secara tidak sengaja aku melihat seorang siswa yang berasal dari sekolah yang sama denganku dipukuli oleh orang – orang yang juga berasal dari sekolah yang sama denganku. Aku dengan cepat bersembunyi di belakang pohon yang cukup besar.

'Pembullyan?' batinku

"Kau berani melawan?"

"Serahkan saja uangmu, bodoh!"

Bug! Bag! Bats!

3 orang berandalan memukul cowok yang sudah babak belur itu. Aku menutup kedua telinga dan mataku karena tidak tahan melihat penyiksaan seperti itu. Aku ingin menghentikannya, tapi aku takut. Apa yang harus ku lakukan?

"O-OI!" samar – samar ku dengar suara salah satu dari berandalan itu dengan nada sedikit ketakutan. Karena penasaran, aku kembali mengintip sedikit keadaan si cowok itu.

Kulihat seorang cowok pirang berdiri di depan si cowok yang menjadi korban pemerasan tadi.

'Orang itu...'

Hembusan angin membuat surai pirangnya bergerak searah datangnya angin. Manik safirnya menatap tajam 3 orang berandalan itu. Atmosfer di sekitar pemuda itu sangat mencekam hingga membuatku merinding.

"I-itu Namikaze – sama bos..." cicit salah satu berandalan itu dengan ekspresi ketakutan yang tercetak jelas di wajahnya. Mendengar perkataan dari temannya itu, orang yang dipanggil 'bos' tadi langsung menegang.

"Omaera... orang yang kau pukuli itu sekarang menjadi anjingku! Jangan ganggu dia lagi, karena dia peliharaanku!" ucap Namikaze – sama dengan nada datarnya. Ketiga berandalan itu langsung berlari pontang – panting, meninggalkan orang yang dipukulinya tadi.

"A-anu..." suara orang yang dipukuli oleh berandalan tadi terdengar di telingaku. Tapi belum selesai orang itu berbicara, Namikaze – sama memotong pembicaraannya.

"Datang ke atap sekolah besok siang saat istirahat kedua. Bawakan aku jus jeruk kaleng ketika kau pergi ke sana" . Pemuda itu hanya diam mendengar perintah Namikaze – sama. "Jangan kabur. Karena sekarang kau hanyalah peliharaanku. Karena itu menurutlah pada majikanmu" lanjut Namikaze – sama, membuat darahku mendidih.

Bagaimana tidak? Dengan seenak jidatnya dia mengatakan bahwa orang yang baru di tindas itu adalah peliharaannya. Sangat tidak berperikemanusiaan! Baru saja aku akan mengubah pikiranku. Ternyata semua gossip – gossip itu benar adanya.

"HEY!" teriakku setelah keluar dari tempat persembunyianku. Kedua orang itu sontak saja menoleh ke arahku. "Jangan mengatakan kalau orang lain adalah peliharaanmu!" tambahku. "Itu sangat tidak berperikemanusiaan! Aku tidak peduli kau orang apa! Dari keluarga apa! Aku tidak peduli bahwa kau adalah Namikaze Naruto! Tapi aku tidak akan tinggal dia kalau kau memperlakukan orang lain seperti itu!"

Suasana menjadi hening seketika. Hanya suara hembusan angin yang menerbangkan beberapa helai rambutku yang terdengar. Suara daun yang bergesekan dengan tanah karena terbawa anginpun ikut menemani.

Tiba – tiba saja, atmosfer di sekitarku mulai terasa berat. Ku pandangi sepasang manik safirnya yang menatapku tajam dan dingin. Membuatku meneguk ludahku sendiri.

"Ma-maksudku.. Na-Namikaze – sama tidak boleh.. pe-perlakukan manusia seperti he-hewan.." kataku lagi dengan sangat terbata – bata.

Apa dia kesal? Apa dia marah karena aku membentaknya? Ta-tapi dia yang salah! Apa aku tidak boleh memarahinya jika dia sudah kelewatan batas? Tap.. Ino dan Sakura sudah memperingatkanku untuk tidak berurusan dengan Namikaze itu sih. Tapi tetap saja! Dia mengatakan kalau seseoran g itu peliharaannya. Apa itu tidak kejam? Wajar saja aku marahkan?

"Kau…" suara dari Namikaze – sama menyadarkanku dari batinku. Kembali ku beranikan diri untuk menatap wajahnya. Tatapan tajam dan dingin itu masih ada. Tapi..

Rasanya agak berbeda dengan yang sebelumnya. Ada apa ini? Ke-kenapa jantungku berdebar – debar seperti ini?

"… Pergilah!" lanjut Namikaze – sama, membuatku terkejut.

Dia.. mengusirku? Yang benar saja?!

"A-ANO-"

"Pergi dari sini sekarang, atau ku jadikan orang ini peliharaan ku?"

Dan dengan segera, aku segera pergi dari tempat itu. Meninggalkan Namikaze – sama itu bersama teman seangkatanku yang tadi di peras. Ku harap saja dengan pergiku dari tempat itu, dia benar – benar tidak menjadikan orang yang tadi di peras itu peliharaannya.

Semoga saja…

.

.

.

.

.

Semenjak hari itu, aku selalu memperhatikan Namikaze – sama itu. Sejak pertemuanku dengannya waktu itu, aku merasakan hal yang aneh. Sangat aneh. Aku merasa, bahwa seseorang di waktu itu bukanlah Namikaze – sama. Dia... berbeda. Rasanya seperti dia memiliki kepribadian ganda. Jangan tanya kenapa aku merasa seperti itu. Akupun tidak tahu kenapa.

Mulai dari dia masuk ke dalam kelas, menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan atau di atap sekolah, hingga ia berjalan pulang, aku selalu mengikutinya.

Setiap pagi, aku selalu menunggunya di gerbang. Kemudian, ketika ia sudah datang, aku diam – diam mengikutinya yang pergi masuk ke kelas bersama dengan orang bernama Inuzuka Kiba. Selama yang ku perhatikan, Namikaze – sama lebih aktif berbicara dengan orang itu. Bahkan tanpa sengaja, aku pernah melihatnya tersenyum walaupun sangat tipis hingga membuatku ragu tentang kebenaran senyuman itu.

Saat di dalam kelas, tidak ada yang menarik. Ia benar – benar mengikuti pelajaran dengan tenang. Dia bahkan mencatat semua penjelasan penting dengan rapi di buku catatannya. Aku tahu hal itu ketika secara tidak sengaja buku catatannya terjatuh.

Ketika istirahat makan siang, aku selalu melihat Kiba datang dengan beberapa buku pelajaran ke dalam kantin sambil mencari – cari keberadaan Namikaze – sama. Ketika ia telah mendapatkan tempat si Namikaze – sama, ia akan berteriak dengan tidak elitnya dan berlari ke meja Namikaze – sama yang besar dan hanya di isi oleh Namikaze – sama seorang. Tidak perlu tanya kenapa. Aku yakin kalian semua juga sudah tahu alasannya. Setelah Kiba bergabung dengan Namikaze – sama di meja makannya, terlihat mereka membuka buku pelajaran yang di bawa oleh Kiba, kemudian Namikaze – sama terlihat seperti sedang menjelaskan sesuatu pada Kiba.

Di istirahat kedua, aku jarang melihat Namikaze – sama beranjak dari tempat duduknya pada saat itu. Begitu bell tanda istirahat kedua berbunyi, ia akan menyumpal telinganya dengan headset yang tersambung dengan smartphone-nya. Sepertinya ia sedang mendengar lagu. Tak jarang juga, ia menutup telinganya itu dengan headset sambil membaca novel. Namun terkadang, aku sering menangkapnya sedang menerima telepon dari seseorang. Yang membuatku curiga, ia sering menerima telepon itu di tempat yang sunyi, kemudian dia akan berbicara dengan berbisik – bisik. Pikiranku mengingat kata – kata Ino yang mengatakan ia adalah pecandu narkoba. Mungkin saja ia mendapatkan telepon dari pengedar narkoba langganannya.

Dan ketika pulang. Waktu ini yang paling membuatku curiga. Sudah berkali – kali aku alami. Aku selalu menunggunya di gerbang ketika pulang. Dan ketika ia melewatiku, aku mulai mengikutinya diam – diam. Tapi, setiap ia sampai di pertigaan di dekat taman, ia menghilang. Lenyap layaknya di telan bumi. Dia seperti hantu yang bisa menghilang. Tidak pernah kudapati jejaknya.

Tapi, aku tidak akan menyerah! Aku akan menyelidikinya hingga aku tahu jawaban yang pasti. Peraaanku selalu bilang Namikaze – sama yang selalu ku lihat dan ku ikuti itu, bukanlah yang asli. Dan karena itu, aku akan membuktikannya, karena perasaanku itu, tidak pernah salah!

.

.

.

.

.

TBC

.

Makasih untuk kalian yang stay tune untuk membaca cerita buatan Haru. Maaf, Haru selalu kelamaan buat update karena Haru super sibuk #ceileh. Lain kali Haru usahain untuk update dengan cepat. Tapi nggak janji loh ya? :v

Spesial Thanks for :

Hunkailovers, Uchiha Yureiko, Naru, Miyu Mayada, Retnoelf, Neko-chan, Arashilovesn, Kuro SNL, Johan Kim, Aiko Vallery, Uzumakinamikazehaki, Michhazz, Saniwa satutigapuluh, AySNfc3, RuNaruChan, Classical Violin, Nananaruto, Secrella, Miya – chan, Arifacandlelight, Kazekageashainuzukaasharoyani, Grey378, AERODACTLY 21, dan semua orang yang mau singgah dan membaca ff buatan Haru. Makasih juga karena mau ninggalin jejak.

Yosh, semoga kalian tetap sabar buat nungguin cerita buatan Haru. Lebih baik lama update daripada discontinue, kan? :v

Anyway, Mind to Review?

HARU A-FUADILLAH OUT!