Chapter 8

"Mavis! Tunggu, Mavis!"

"Sudah cukup Zeref!"

"Mavis - "

"Lepaskan aku Zeref!"

"Iyak.. sebenernya aku enggak megangin kamu - "

"Udah! Kamu banyak ngomong banget sih!"

"Iyak.. sebenernya yang ngomel melulu dari kemarin itu kamu - "

"Diem ah!" Tap tap tap tap. Suara tapak kaki Mavis yang kecil menjauhi koridor.

Gue matung depan kamar sambil ngeliatin Kak Zer yang buang angin. Eh maksudnya menghela napas. Lah, menghela napas itu buang angin kan?

"Kak.. Kak Zer?" gue berbisik dramatis. Udah siap-siapin muka simpatik kayak anjing laut melas biar Kak Zer jatuh ke pelukan gue.

"Lucy?" Kak Zer melirik ke arah gue dengan wajah sedih. Awww, tetep ganteng kok.

Heh, itu pacar orang! Diem lu, Lucy!

Kak Zer kemudian ngedeketin gue sambil masukin tangannya ke saku jeans. Gue doki-doki. Kak Zer jalan nunduk, dan pas di depan gue, gue ngedongak.

Mungkin.. mungkin yang seperti di satu shoujo manga yang gue pernah baca, Kak Zer bakal nyenderin palanya ke bahu gue?!

Be..Bedanya, tangan gue diraih dan digenggam sekarang! Gue...

merasakan...

sesuatu diantara tangan kita.

"Nih, uang jajan seminggu. Jangan bilang ke Natsu kalo aku dan Mavis bertengkar."

Terus, Kak Zer pergi gitu aja.

Gue teriak ke angin, "JADI DIA MASUKIN TANGAN KE SAKU GEGARA NGAMBIL DUIT SUAP?!"

Dih, angin aja ga ngerespon gue. Songong lu, Ngin.

"Paan si ribut-ribut?" Natsu tiba-tiba nongol buka pintu apartemennya. Gue noleh, sambil kibas-kibas duit.

"Ehehhe, enggak." Gue nyengir. Gue dapet ide, gegara hari ini hari libur Festival Sakura Pelangi, gue otomatis libur. Masa sih.

Dan biasanya, libur begini banyak pasangan yang liat Pohon Sakura itu. Semenjak gue di Magnolia, gue seumur-umur belum pernah ke situ. Yah.. nungguin supaya ke sana bareng orang yang enak diajakin. Jadinya berkesan gitu deh.

Ga tau kenapa, gue baru nemuin orang itu tahun ini, yaitu Natsu.

Ya..YAUDAH! KALO GUE MAU BELANJA KAN DIA YANG BAWAIN BELANJAAN GUE YAHAHAHAHAHA!

Lagian bentar lagi Musim Dingin dan Semester baru... ah, dan bentar lagi gue kelas 3 SMA. Waw.

Gue udah niat ngajakin Natsu nih. Suwer. Tapi tiba-tiba gue malu. Banget. KENAPA?! Alhasil gue mangap terus mingkem terus mangap kayak ikan sapu-sapu.

Apa gegara gue cuma make tanktop pink sama celana jeans pendek?! Kaga! Emang udah style gue!

Rambut gue yang udeh sepinggang lebih belom dipotong?! Kaga! Pas kelas 1 SMA gue sebahu! Bosen oi!

Kenapa gue jadi mikirin penampilan gue? Dan disitu Natsu cuma make jaket merah sama jeans item. Nyantai aja dia.

"Lucy, ke Pohon Sakura bareng yok."

DUARRRRR.

xxx

DUARRRRR.

Kalian tahu? Itu dari tadi backsound hati gue yang meledak ga berenti berenti sejak jalan di samping Natsu dari apartemen kita.

Pertama kalinya ada seseorang yang ngajakin gue ke Pohon Sakura... :")

"Lucy.. lu lemes amat si.." Natsu komentar. Gue cuma mandangin dia dengan agak malu.

"Ga lemes.. gue ngerasa lemah.."

"Perbedaan yang sama."

"Apaan itu maksudnya?"

"Betewe, sambil jalan ke taman Pohon Sakura, roleplaying yuk."

"Roleplaying siapa?" Minat gue naik.

"Hmm.. Gue Narto dan lu Hinatha!"

"A-ah.. b-baiklah, Narto-kun.." gue blushing sambil nutupin mulut gue.

Natsu mengernyitkan alis. "Hinatha, kau sakit ya?" dia pun megang jidat gue.

"E-enggak, Narto-kun. A-aku kedinginan,"

"Hn." Natsu lalu berjalan mendahului gue.

"WOE, Narto kaga cuek begitu!" gue kejer tu anak.

Natsu menoleh dengan ekspresi dingin. "Apa yang kau katakan, Sakra? Aku Saske."

"SEJAK KAPAN GUE JADI SAKRA?!"

"Poof!" Natsu kemudian lari ke belakang gue sambil ketawa-tawa. "Kau kena, Inoe! Tadi adalah kagebunshinku, dattebane!"

"TADI GUE SAKRA, KOK INOE?! Tunggu, dattebane itu kan emaknya Narto?!"

"Kalian ini," dua tangan nepuk pundak gue. Natsu udah make cadar. "Selalu ribut-ribut saja."

"Elu siapa pula?"

"Kakash sensei."

"KOK TIBA-TIBA?!"

"Ada musuh." Natsu pun ngegendong gue secara bridal style. Gue blushing beneran kali ini, gegara kemaren. Af kourse. Pas gue pulang kemaren, dari sekolah sampe depan pintu apartemen digendong Natsu dengan gaya ini. Siapa yang bakal lupa?!

"N-Natsu?!" gue teriak. "Hush! Banyak orang ngeliatin!"

"Siap, Namy?! Gomu Gomu no - "

"BEDA FANDOM!"

Natsu kemudian berlari, menghindari orang-orang yang berlalu lalang. Gue jejeritan tiap dia lompat-lompat. "Ada hollow! Kita harus menghentikannya, Rukya!"

"FANDOMNYA KONSISTEN DONG!"

Kemudian, gue dan Natsu hampir nubruk seseorang yang gue kenal. Gray...?

ITU GRAAAAAAY PADAHAL GUE MASIH AWKWARD GEGARA DIA SUKA SAMA GUE!

"Lu..Lucy?" tanya Gray dengan muka ga suka pas liat posisi gue sama Natsu. Gue lirik muka Natsu yang gue nyadar... cuma beberapa centi dari muka gue untuk kedua kalinya. Anjrit. Déja vu banget.

Anehnya, kayak ada sengatan listrik di antara mata Natsu sama Gray. Apa Natsu lagi mendalami roleplay jadi Kakash sensei?

Akhirnya Natsu angkat bicara.

"Siapa itu Lucy? Menyingkir dariku, Drako Malfoi."

"..."

MASIH AJA ROLEPLAYING DIA?! FANDOMNYA BEDA LAGI PULA!

"Hoo," Gray mengernyitkan alis. Pasti dia mikir Natsu kayak orang gila yang lagi nyulik gue! "Berani sekali kau, Potther?"

GRAY IKUTAN ROLEPLAYING?!

"...Wingardion leviosa!" gue teriakin salah satu mantra Hermyone dengan jengkel.

"Terima kasih, Marijuana! Dia lengah! Ayo kita pergi!" seru Natsu akhirnya. Gray syok pas Natsu nubrukin bahunya sama dia. Gue sendiri salah syok,

"Kenapa nama gue Marijuana?! Lu kira gue ganja?!"

"Tenanglah, Salmonella."

"SEKARANG GUE BAKTERI?!"

"Wush!" Natsu, sambil nyengir, lompat ke atas bangku trotoar yang kosong dengan dramatis, lalu duduk bersila di situ. "Untuk malam ini, kita istirahat dulu sebelum melanjutkan misi menangkap Kyuubi."

"Jadi kita Akatsukii?" gue menghela napas, sadar gak sadar kalo gue duduk di paha Natsu. "Lagian, apa itu wush?"

"Backsound," jawab Natsu dengan suara ngebass. "Ah maaf. Maksudku itu adalah kode pergerakan."

"Apanya?!"

"Pokoknya, target kita sudah semakin dekat. Kyuubi pelangi ada di sebelah sana."

"..."

Gue celingak-celinguk nyari mesin minuman. Rada jauh dari bangku ini sih. Udah Natsu lewatin pas lari sih. Tapi rasa haus gue udah maximal banget.

"Ne, Tetsuu-kun, bagaimana kalau aku membelikanmu minuman sekarang?" gue nunjuk mesin minuman dengan gaya Momoy Satsuky.

Natsu, yang seharusnya jadi Kuuroko Tetsuuya, langsung bermuka datar dan berbicara formal. "Aku paham, Momoy-san. Terima kasih."

Gue senyum, kemudian jogging ke mesin minuman.

Dan di antara jogging gue, muka gue tiba-tiba panas. Di fandom itu, Momoy menyukai Kuuroko kan?! Dan Kuuroko hanya terlalu polos untuk menyukai Momoy juga.

Bentar.. kan bukan berarti gue suka sama Natsu juga. Dan bukan berarti Natsu terlalu polos soal suka-sukaan.

Cih. Kenapa gue kepikiran begituan.

Kemudian gue tiba di mesin minuman. Pas tangan gue mau masukin uang kertas (dari Kak Zer hohoho) ke mesinnya, ada tangan laen yang mau masukin juga. Gue noleh.

"G..Gray?!" gue syok kembali. Perasaan ni anak udah kita tinggalin tadi. Kenapa cepet banget sampe sini?

"Ah, Lucy," Gray senyum. "Lu duluan."

"Mm..Mmn!" gue ngangguk. "Makasih."

Setelah gue ngambil dua buah botol jus jeruk, Gray heran. "Lu suka banget jus jeruk sampe ngambil dua...?"

"Oh! Ini buat - "

"Natsu," potong Gray sambil senyum pahit. Gue ngernyitin alis.

"Gray..."

"Oi, Lucy.. Michelle ngomong sesuatu ke lu, nggak?"

"Michelle?" gue miringin kepala. "Gue belum ketemu sama dia lagi. Emang ngomongin apaan?"

Gray ngebungkuk bentar buat ngambil sebotol teh dari mesin, terus menghela napas sambil senyum ke gue. "Baguslah. Emang belum waktunya."

"Eh?" gue miringin pala lagi.

"Btw, hari ini lu cantik," Gray mengelus-elus pala gue. Muka gue merah. Tuh kan. Awkward. Gue ga pernah diginiin Gray sebelumnya. Kalaupun pernah, pasti pikiran gue ga kemana-mana. Gegara Misel ngasi tau rahasia Gray... cih.

Kalo Misel ngeliat, mungkin gue ditabok.

"G-Gray... Natsu nungguin. Gue harus balik." Gue nunduk kemudian buru-buru ke bangku tempat Natsu nungguin.

Dan gue bisa merasakan Gray memandang gue dari kejauhan sambil bisik...

"Beruntung banget dia..."

xxx

"Natsu~! Lu suka jus jeruk, ka...n?"

Dateng-dateng, adegan depan gue bukan yang gue harapkan.

Cewek berambut putih pendek, lagi nutup mata dengan muka yang deketnya ekstrim ke muka Natsu...

Apa... mereka ciuman?

Shit. Shit. Shit. Pasti itu pacarnya, bukan?!

Terus... terus kenapa Natsu ngajakin gue seakan-akan kencan ke Pohon Sakura sementara dia punya pacar?!

Gue.. cuma pelarian? Apa dia mau selingkuh?

"U-uh.."

"Oi, Lisanna, jangan di sini..."

Gue ngedip biar fokus, dan gue sih gak tau ekspresi Natsu-nya gimana. Semenjak tuh anak ngebelakangin gue.

Alhasil, ngeliat langit yang mulai sore, gue sadar kalo Pohon Sakura bakalan rame. Gue ngedip lagi, dan sesuatu yang basah ngalir di pipi.

Sebelum lari pergi ke pohon, gue cuma bisa bisikin "maaf menganggu" sambil ngeletakin jus jeruk punya Natsu di deket kakinya.

Natsu nyadar enggak ya? Semoga enggak dah.

xxx

Untungnya, Pohon Sakura belum terlalu ramai dan gue duduk sendirian di bawahnya.

Kelopak-kelopaknya terlihat warna-warni, walaupun samar, karena langit belum segelap malam. Gue gak tau udah berapa lama gue di sini karena sekarang udah sore.

Yang ada di pikiran gue, bukannya itu adeknya Mirajane? Dia satu sekolah sama Natsu kah? Apakah dia beneran... pacar Natsu?

Parahnya lagi, gue nangisin sesuatu yang bahkan gue ga ngerti kenapa gue tangisin.

Jus jeruk gua gak tersentuh sama sekali. Bodo amat. Seharusnya gua kasih ke pacarnya Natsu aja sebagai bonus ya. Ha.

UDAH AH, LUCY! APUS AIR MATA LU, NJIR.

Gue angkat pala gue yang dari tadi gue benamkan diantara lipatan tangan gue, dan ... oh my gowd. Di sebelah gue selama ini Kak Zer.

Pandangannya menerawang, kayaknya mikirin Kak Mavis.

"Kak Zer...?" gue coba panggil. Kak Zer noleh, agak kaget.

"Ah, Lucy ya," dia senyum kecil, kemudian panik. "Kamu nangis?" tanya dia.

Gue jujurnya sih gak mau Kak Zer merhatiin kondisi gue, sedangkan Kak Zer lagi ada konflik sama Kak Mavis.

"Kelilipan kak." gue pasang fake smile. Ashooo! Sok sinetron banget sih gue! Bentar lagi ibu tiri gue dateng jangan-jangan? Atau apakah gue anak yang ketuker? Atau mungkin gue Tukang Haji Naek Bubur? Mampus deh imajinasi gue.

"Oh.. gitu ya. Hati-hati dong.." oh, peran Kak Zer di sini cowo polos baik hati yang gampang percaya dan dimanipulasi.

"Jadi, Kak Zer sama Kak Mavis udah baikan?" gue tanya sambil ngeliat ke sekeliling taman. Ada cewek rambut biru pendek sama cowok ber pirceng. Hm. Familiar. Pas gue mau nyipitin mata buat liatin lebih jelas, Kak Zer jawab.

"Nggak... belum. Padahal aku salah apa ya?" tanya Kak Zer. Gue noleh simpatik. Asik. Keliatan banyak gaya gak sih?

"Kak Zer cerita aja ke aku..." gue bilang.

"Hmm..." Kak Zer ngangguk-ngangguk. "Yaudah deh."

Tuh kan, anak polos yang rajin dan berbakti.

Gue liat lagi nyariin couple (kaple) familiar tadi, eh ilang. Malahan cowoknya yang rambut biru sama cewek rambut merah panjang. Loh, kayak kenal?

"Kemarin, Mavis sama aku ciuman."

"BHUUUUUHHH!" Gue semprot ludah. Minat hidup gua ilang!

"Terus pas aku ungkit-ungkit kalo Mavis pernah pingsan pas pertama kali ciuman sama aku, dia mulai marah."

"Eh? Kak Mavis sensitif ya?" gue tanya ragu-ragu. Abisnya! Ujug-ujug bahas kissu! Maddog bener!

Kissu juga ngingetin gue ke... Natsu.

Ashoo. Mata gue burem lagi.

Gue ngeliat sekeliling lagi, tapi kaple kali ini cewe rambut putih poni diiket sama cowok pirang make headpun.

Eh..? itu kan..?

"Nggak nggak. Mavis kak sensitif kok. Aku sering godain dia, dia gak marah."

Pikiran gue teralih. "Kak Mavis PMS ya?"

"..."

"..."

"..."

"..."

"Bisa juga. Apa aku harus beli softek?"

"Nanti kamu dibunuh, Kak..." gue hela napas. "Kasih bunga dari bagian Pohon Sakura aja kak. Minta maaf."

Ujug-ujug Kak Zer lompat dengan semangat dan lari. "Makasih ya deeek! Utang budi deh ya!"

Firasat gue ga enak pas denger utang budi, tapi biarin.

Ga nyadar, langit udah gelap!

Gue dongak ke atas, dan kelopak-kelopak pelangi semakin terlihat kali ini. Lampu-lampu taman kerlap kerlip mulai nyala, walaupun redup supaya Pohonnya ga kalah terang.

"Wa..waw.." gue sempet tahan napas.

Ini sih, gue tetep aja ngeliatin pohonnya sendirian. Takdir gue emang ya.

xxx

Gue buka mata, pandangan rada burem karena bokeh-bokeh lampu. Kelopak sakura masih berguguran. Tapi ada tangan yang ngelingkarin badan gue. Dan itu hangat. Sama syal kotak-kotak.

"Na...Natsu...?"

Natsu gerak-gerak bentar, matanya yang ketutup terus kebuka, ngeliatin gue. Matanya langsung fresh.

"Lucy!" dia cenderung teriak. Gue jengit sedikit.. dan gue siap ceramahin dia. Tetapi dia duluan. "Lu kenapa balik-balik malah naro jusnya deket kaki gue?! Terus malah pergi gitu aja! Gue kan kudu ngurus Lisanna dulu, masa gue tinggalin?! Gue nunggu sampe kakaknya dateng, tau!"

"Makanya jangan selingkuh!" seru gue emosi. "Punya pacar malah pergi ke Pohon Sakura bareng gue. Ini kan kayak kencan!"

Muka Natsu berubah jadi bingung. "Lisanna bukan pacar gue."

Gue cuma mendelik.

"Suwer!" Natsu buru-buru menegaskan. "Tadi dia ketemu gue kebetulan gitu. Yaudeh dia duduk di samping gue. Terus katanya dia nungguin kakaknya. Tapi lupa bawa jaket... akhirnya dia rada pusing. Pas gue cek jidatnya pake tangan gue, dia demam mau pingsan. Nah NICE TIMING lu malah ninggalin gue! Bantuin kita kek!" dia ngomel-ngomel. "Lu ketiduran pula. Kalo ada yang nyulik gimana?!"

Wuush.

Bunyi angin malam yang nerbangin kelopak-kelopak Sakura yang lagi proses gugur ataupun yang udah di tanah.

Njir... gue malu. Gue salah paham ya.

Bukan kissu, begooooow. Natsu lagi ngecek suhu tubuh Lisanna. Pas dia bilang "Jangan di sini", Lisanna-nya mau pingsan! Artinya ya, jangan pingsan di sini!

"Lu... LU GA NGOMONG!" Gue tereak frustasi. "Gue kira gue udah PHO pas dari belakang liat kalian kayak sedot muka!"

Natsu agak sweatdrop... tapi dia ketawa.

"Konyol lu, Luce." kata dia. "Gue ga pernah nyium orang dan ga berniat buat ngelakuin."

Wush.

Apa lu Angin laknat?! wash wush wash wush... kode pergerakan Akatsukii hah?!

Untuk kesekian kalinya hari ini... gue blushing. Frustasi! Lagian kenapa gue harus peduli kalo Natsu kissu sama orang laen?!

Ngerasain udara malem makin dingin, gue peluk Natsu makin erat. Da..Dasar heater alami. Udah mah suhu tubuh normalnya emang hangat, dia make syal pula.

"Jangan pulang dulu yuk." bisik gue, masih enjoy ngeliatin kelopak pelangi Sakura.

Natsu nyengir, dan ngebales pelukan gue. "Kayaknya belakangan ini lu suka meluk gue deh."

Alaah, gue tau itu. Ngegodain gue aja mulu.

Tapi... asal lu tau, dalam keadaan gue yang masih agak ngantuk sekarang, kali-kali jujur juga gapapa kali.

"Iya... gue suka."

Gue cuma bisik lagian. Cih. Natsu, mukanya gak usah kaget begitu dong. Kan.. gue malu.

Yaudah gue langsung meremin mata. Pokoknya, kalo gue ketiduran, Natsu lagi yang gotong sampe apartemen.

Dan... samar samar... sebelum ke dunia mimpi, Natsu ngomong.

"Gue juga suka."

Tbc~

A/n: Hellaw mah fren! Gomenne! Jadi author kalian ini lagi sibuk sama sekolah dan Try Out laknat but wish me luck eaaak! Supaya bisa lanjutin ini fic XD

A/n2: Bales review chapter depan! Ayo berikan review yang membuat saya bahagia(?) kalo mau saya bales MUAHAHAHAHA! /siapelu

A/n3: Btw saya menobatkan reviewer Tsuki sebagai reviewer tergokil. Bonus spoiler next chap: Ujian menjelang libur musim dingin! TABEL PERIODIK WHOHOO! XD

A/n4: Btw ini tolongin Yama tengah malem ada kecoak depan kamar HUEEEEE A /oi. Okeilah see u next chap~