DRAMAtical Murder/ドラマティカル マーダー fanfiction

"Seragaki's Big Family" by Zelvaren Yuvrezla

Disclaimer : Nitro+CHiRAL

Rating : K-T+ (rating bisa berganti-ganti sesuai kebutuhan)

Warning : AU/Shounen-ai

Main Cast ; Big Brother : Ren - Twins : Sei-Sly(Other Aoba) - Youngest Child : Aoba

Happy Reading all,

With Love

Zelvaren a.k.a renchanz


Chapter 2 : Seragaki's Morning Habit

[Ren's POV]

Menjadi sosok kakak bagi 3 orang adik bukanlah hal yang mudah, meskipun selisih umurku dengan Sei&Sly—si kembar yang tidak bisa terpisahkan—hanya berselisih 2 tahun dan jangka umurku dengan Aoba 4 tahun. Fakta bahwa Ayah dan Ibu kami seringkali berpergian, bahkan semenjak aku masih menginjakkan kaki di dunia SD, kedua orangtua kami memang sudah sering berpergian meninggalkanku, Sei-Sly dan Aoba bersama dengan nenek kami. Hal ini membuat kami sudah terbiasa hidup secara mandiri.

Kegiatan utamaku keseharian tidak berbeda jauh, karena setiap pagi pasti selalu diawali dengan—

"Aaaaaaaa! Terlambat!" Suara Aoba dapat terdengar dari lantai 2. Anak ke-4 dalam keluarga Seragaki. Aoba yang selalu sulit untuk bangun di pagi hari kurasa mulai panik ketika melihat arah jarum jam.

Suara langkahnya terdengar begitu tergesah-gesah dari lantai atas, beberapa bunyi barang jatuh terdengar dari kamarnya, ditambah dengan bunyi jam weker yang tidak ia matikan itu seolah menjadi tanda awal kegiatan di keluarga ini.

"Aoba, berisik!" suara lain terdengar dari atas, tepatnya suara tersebut berasal dari seberang kamar milik Aoba. Kamar Sei dan Sly. Sly selalu mengamuk bila ia terbangunkan oleh suara Aoba yang selalu berisik di pagi hari. Sebenarnya memang salahnya sendiri yang memiliki hobi menyubuh hingga dini hari, sehingga ketika Aoba mulai dengan rutinitasnya, Sly tentu merasa amat terganggu.

"Apa boleh buat, aku sudah telat, Sly!" Jam weker kini berhenti berdering seiring dengan langkah lebar Aoba yang mulai menuruni tangga.

Sei yang membantu membuatkan bento untuk Aoba hanya tertawa kecil sambil meletakkan 3 potong sosis berbentuk Octopus mini, kemudian ia mengikat bento tersebut dan menyerahkannya pada Aoba.

"Sankyuu, Sei."sambar Aoba pada bekalnya. "Ohayou, Nii-san!" ucap Aoba kemudian sambil tersenyum lebar. Ini adalah sebuah kebiasaan, baik Aoba, Sei maupun Sly yang berselisih umur 2 tahun biasa menyebut langsung nama, begitu pula dengan Sei-Sly padaku, tetapi berbeda dengan Aoba, karena selisih umur kami terpaut 4 tahun, Aoba memanggilku dengan sebutan 'Nii-san'.

"Ohayou, Aoba." Ucapku sambil memberikan Roti panggang padanya yang bersiap untuk pergi keluar.

"Aku pergi dulu, Nii-san, Sei!" Aoba bergegas pergi menuju pintu depan, ketika ia membuka pintu, sosok pemuda berhelai Blonde tengah terdiam sambil melihat jam tangannya. Aku dan Sei mengantar kepergiannya sambil melambaikan tangan pada Noiz, salah satu teman dekat Aoba yang selalu datang menjemputnya dengan menaiki sepeda dipagi hari. Mereka selalu berboncengan setiap harinya. Entah mulai sejak kapan, kami semua mulai terbiasa dengan Noiz yang selalu menunggunya, meskipun kami memaksa Noiz untuk menunggu didalam, ia tetap bersikeras untuk menunggu diluar.

"Anak itu—Noiz, ia sengaja menunggu Aoba, huh?" suara Sly kini terdengar dari belakang, dengan segera ia langsung memeluk Sei dari belakang. Rutinitas yang selalu dilakukan oleh Sly sehabis ia terbangun dipagi hari oleh keributan yang diciptakan Aoba.

Seperti biasa, Sei hanya tersenyum penuh arti, kurasa meski Sei tidak banyak berbicara, dalam hatinya ia berbicara begitu banyak. "Ren, kau ada kuliah pagi, bukan? Lebih baik kau bersiap-siap." Balas Sei sambil berbalik kebelakang untuk memeluk Sly.

Aku mengangguk kecil. Sei adalah satu-satunya adik yang selalu memperhatikan hal-hal kecil, dan hanya dia yang mengingat seluruh jadwal sekolah, kuliah maupun jam kerja dalam keluarga ini. Meskipun orangtua kami selalu mengirimkan uang untuk keseharian kami, tetapi aku lebih memilih untuk mulai mencari pengalaman dalam bekerja, makannya aku mengambil kuliah pagi sebagai prioritas utamaku karena jadwal malam adalah jam dimana aku bekerja.

"Oh ya, Ren," kini Sly melepas pelukannya dan menatap iris Dark Amber milikku. "Clear akan ikut makan malam disini, dia bilang ingin membicarakan beberapa hal penting mengenai Rhyme."

Aku menghela nafas kecil, memang hari ini aku tidak ada Shift untuk bekerja, lagipula bukannya aku tidak senang Clear—pemuda ceria yang selalu dekat dengan Sly—berada disini, hanya saja.. Rhyme? Grup berandal yang diketuai oleh salah satu adikku ini cukup membuat kepalaku pening. "Tidakkah kau berpikir untuk pensiun dari grup itu, Sly?"

Mendapati jawaban dariku, senyum Sly malah mencuat dari wajahnya. "Bicara apa kau, Ren? Hukum dunia ini berlaku bagi siapapun yang kuat, semua orang lemah akan termakan oleh orang-orang kuat. Lalu—"

Belum sempat Sly melanjutkan kembali pembicaraannya, tangan dingin Sei kini menyentuh sebelah pipinya. "Sly, bila kau meneruskan opinimu, Ren akan terlambat pergi." Senyum Sei pada adik kembarnya. Untuk sesaat iris Light Amber milik Sly menatap iris Raven milik Sei, meskipun tidak lama ia membuang muka kearah lain.

Sekuat-kuatnya Sly maupun semengerikan dirinya di Rhyme, ternyata hanya seorang Sei yang dapat membuatnya diam. Bahkan diriku sekalipun tidak bisa membuat anak ke-3 di keluarga Seragaki ini diam.

Senyum kecil muncul di rona wajahku, aku segera mengambil tas kecil yang sudah kusiapkan di dekat meja kemudian mengambilnya. "Kalau begitu aku pergi dulu, Sei, Sly."

Sly seperti biasa hanya melambaikan tangannya padaku sambil berbalik arah menuju dapur, sedangkan Sei masih tetap di spot yang sama untuk mengantar kepergianku.

"Hati-hati dijalan, Ren." Senyum Sei dengan wajah pucatnya. Sei memang terlahir berbeda dengan kami semua, kondisi fisiknya begitu lemah dan kulitnya tampak begitu pucat dibandingkan dengan Sly.

Meskipun setiap hari rutinitas pagi yang kami lakukan hampir sama, tetapi aku merasa bahwa kehidupan kami saat ini sudah lebih dari cukup.

_TBC_