Cast : Stefia Kim ( OC ), Cho Kyuhyun ( Super Junior ), Kim Ryeowook ( Super Junior ), Kim Hyesung ( OC ), and other

Rate : T

Genre : Friendship

Disclaimer : They belong to God, Theirselves, and their parents

Warning : OOC,Typo, cerita yang membosankan, Death Chara, dan banyak kekurangan yang lain.

RnR

DLDR

Enjoy :)

Chapter 6

*Kyuhyun Pov*

Sepulang dari Bluerose aku memisahkan diri dengan Kris dan Changmin. Dapat kulihat kekecewaan di wajah Changmin karena gagal mengenalkanku dengan seorang yeoja yang dipanggilnya chagi. Bahkan aku yakin jika yeoja itu bukanlah kekasihnya, tapi entah mengapa aku merasa jika suatu saat nanti Tuhan akan mempertemukan kami. Sesampai di ruanganku aku langsung menyibukkan diri dengan beberapa dokumen yang harus aku selesaikan hari ini.

Jika boleh jujur aku sama sekali tidak ingin berada di posisiku saat ini. Bukan bermaksud menyombongkan kemampuanku yang diatas rata-rata, hanya saja setiap kali memasuki ruangan ini aku sadar jika seharusnya bukan aku yang duduk disini. Tetapi seseorang yang sangat kusayangi melebihi apapun di dunia ini. Meskipun telah banyak usaha yang kulakukan untuk menggantikan posisinya, keluarga besarku seolah tak menganggapnya. Sebenarnya aku sama sekali tidak peduli dengan itu semua, hanya saja sikap kedua orangtua dan noonakulah yang menggangguku.

Appa dan eomma memutuskan untuk mengurusi perusahaan yang berada di Jepang dan mempercayakan semua hal di sini kepadaku. Kalian pasti berpikir bukankah orangtuaku sangat percaya padaku? Sebenarnya aku juga ingin mempercayai hal itu, tapi aku sadar jika mereka menjauhiku dengan bersikap demikian. Sementara noona lebih memilih melanjutkan kuliahnya di Austria. Apa kesalahanku di masa lalu tidak bisa mereka maafkan hingga mereka menghukumku seperti ini?

'Hyung Bogoshippo' batinku seraya memandang foto seseorang yang sangat kurindukan. Seseorang yang dulu selalu membelaku meski dia tahu jika aku berbuat kesalahan. Seseorang yang dengan senyum malaikatnya dapat membuat siapa saja menyukainya. Seseorang yang selalu membuatku merasa nyaman. Hanya dengan memikirkannya saja air mata yang selama ini kusembunyikan dari orang lain menetes. Kuhapus buliran air mata yang menuruni pipiku. Bukan takut ketahuan oleh orang jika seorang evil sepertiku bisa menangis, hanya saja jika salah satu orang yang tidak menyukai keberadaanku melihatnya mereka akan berusaha mengusikku lagi. Dan aku sangat membencinya.

Waktu berlalu sangat lambat saat kau meratapi kesalahanmu. Seolah setiap detik yang berjalan turut serta menyalahkan dan mengingatkanmu akan dosa yang telah kau lakukan. Pengampunan adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan perasaan sesak ini. Tapi bagaimana aku bisa mendapat pengampunan itu jika yang bersangkutan tidak bisa ku raih. Sementara dilain pihak banyak orang yang turut menghakimiku. Memandangku seolah aku adalah seorang pendosa. Aku kadang menertawakan mereka dalam diam. Kalian tahu kenapa? Karena aku yakin jika mereka bukanlah manusia suci tanpa dosa.

Karena tidak mau terus larut dalam kesedihan dan mengabaikan tugas terakhirku, kuputuskan untuk kembali fokus kepada beberapa dokumen yang sejak tadi telah menungguku untuk kutuntaskan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan sebuah dokumen, tapi jika yang berada di hadapanmu adalah tumpukan dokumen yang bisa dikatakan cukup tebal waktu seharian tidaklah cukup. Tapi karena aku pikir jika tidak ada lagi waktu untukku besok pagi, maka semua ini harus kuselesaikan saat ini juga.

Waktu terus bergulir sesuai aturan yang ditetapkan Tuhan. Kehadiran mentari telah digantikan oleh saudaranya. Ada beberapa pegawai yang belum meninggalkan pekerjaannya. Mungkin mereka dikejar deadline. Beberapa waktu lalu Kris dan Changmin mengajakku pulang tapi aku menolaknya. Aku tidak ingin membuat kenangan yang semakin membuat mereka merasa kehilangan jika nanti aku pergi meninggalkan mereka. Dokumen yang kukerjakanpun telah tinggal beberapa. Dua jam kemudian semua pekerjaanku berhasil kuselesaikan.

'Jam 11.15' batinku setelah melirik sekilas jam tangan yang bertengger di lengan kiriku. Mungkin sedikit makan malam terakhir tidak ada salahnya. Jadi kuputuskan untuk menuju salah satu restoran cepat saji setelah membereskan meja kerjaku. Kupandangi ruangan yang telah menjadi bagian hidupku selama dua terakhir ini. 'Aku tidak akan merindukan tempat ini' batinku seraya beranjak meninggalkan bangunan Cho Corp.

Setelah menyantap makanan terakhirku malam ini, aku langsung pergi menuju tempat tujuanku. Hanya butuh beberapa menit untuk mencapai tempat yang kuinginkan. Dari tempatku berdiri saat ini dapat kurasakan hembusan angin malam yang menerbangkan helaian brunettku. Sangat damai. Dan sepertinya kali ini Tuhan seolah mendukung apa yang akan kulakukan. Kenapa aku bisa berkata demikian? Itu sangat mudah, biasanya tempatku untuk mengakhiri hidupku kali ini sangat ramai. Tapi malam ini Tuhan seolah menyuruh mereka untuk tetap tinggal di kediaman mereka.

Besok adalah hari yang sangat tidak kuinginkan. Seandainya aku bisa menghilangkan tanggal itu, maka dari dulu akan kulakukan. Tapi apa dayaku? Bahkan kepintaran yang kumiliki tidak akan pernah bisa menghilangkan sebuah tanggal dari kalender secara nyata. Besok, 3 Februari adalah hari ulang tahunku sekaligus hari dimana aku kehilangan semua kebahagiaanku. Hari yang akan selalu kulalui dengan rasa bersalah yang berkepanjangan. Dan juga hari dimana semua anggota keluarga Cho mengutuk keberadaanku.

Lima belas detik sebelum hari berganti. Dapat kulihat air yang akan menjadi tempat terakhirku di dunia ini seolah turut memanggilku untuk segera bergabung dan menjadi bagian dari mereka. Sepuluh detik sebelum hari berganti. Kumantapkan hati untuk segera menemui seseorang yang sangat kurindukan. 'Hyung aku berharap bisa bertemu denganmu meski sebentar' detik sebelum hari berganti. "Selamat tinggal semua, mianhae Song ahjuma, Jae hyung, Kris, Chwang, appa, eomma, noona. Saranghae "

"Saengil chukkae Cho Kyuhyun" kataku sebelum melompat ke sungai Han. Kupejamkan mataku seraya menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku. Dan tak lama kemudian dapat kurasakan dinginnya air sungai yang dapat membuatku beku seketika. Aku sama sekali tidak berusaha untuk berenang ketepian, karena inilah tujuanku. Mengakhiri hidup tepat disaat aku berulang tahun. Aku berharap kematianku bisa membuat mereka memaafkanku. Bukankah ini yang selalu mereka inginkan sejak kejadian itu?

Di dalam sini benar-benar sangat damai dan nyaman. Sejak saat itu aku tidak pernah merasakan kedamaian seperti sekarang. Mungkin inilah akhir dari seorang pecundang seperti Cho Kyuhyun. Akhir yang bisa membawaku menuju kedamaian yang abadi. Meski aku tahu apa yang aku lakukan sangat dibenci Tuhan. Tapi aku hanya berharap dengan kasih-Nya aku bisa bertemu dengan hyungku yang telah dipanggilnya lebih dulu.

Kesadaranku hampir habis ketika aku merasakan ada sesuatu yang menarikku. Mungkin salah satu malaikat maut yang menghampiriku. Kusunggingkan senyum yang selama ini tidak pernah kutunjukkan lagi. 'Sebentar lagi kita akan bertemu hyung' batinku senang. Tapi kenapa aku bisa merasakan udara lagi? Dan juga dingin yang sangat, mendera tubuh bagian atasku. Perlahan tapi pasti dapat kurasakan jika tubuhku berada diatas tanah sekarang.

'Sialan!' umpatku dalam hati. Siapa orang bodoh yang telah menggagalkan aksiku ini. Karena rasa marah yang mendera aku memutuskan untuk sedikit mengerjai pengganggu itu. Aku tetap memejamkan mata seolah aku masih pingsan. Aku ingin lihat apa yang akan dilakukannya untuk membuatku sadar lama dia tidak melakukan apa-apa untuk menyadarkanku, hingga dapat kurasakan tepukan pelan dan tekanan ringan di dadaku.

"Tuan bangunlah… Tuan" katanya dengan masih melanjutkan menepuk pipiku. Ternyata yeoja. Lagipula apa yang tengah dilakukan seorang yeoja tengah malam sepert ini? Cih mungkin seorang pekerja malam yang berusaha menjadi lebih baik.

'Tidak akan' balasku dalam hati. Sepertinya dia cukup keras kepala, karena tidak menyerah dan terus menepuki pipiku. Meski pelan jika terus-terusan ditepuk seperti ini akupun merasakan sakit. Seandainya aku dalam keadaan sadar, maka tidak mungkin tidak yeoja itu akan menyesal telah menamparku.

"Tuan aku mohon jangan mati disini, aku bisa masuk penjara jika kau mati sekarang" katanya memelas seraya kembali menekan-nekan dadaku. Jika saja aku sedang tidak berpura-pura pingsan maka aku akan tertawa keras mendengar keluhannya barusan. 'Nona atau siapapun kau, jika tidak mau berurusan dengan polisi seharusnya kau tidak menolongku tadi' ejekku. Mati-matian kusembunyikan evil smirk kebanggaanku. Dan sepertinya yeoja itu telah menyerah untuk membuatku sadar, hingga sesuatu yang hangat menyapa bibirku.

Huaaa dia menciumku, apa-apan ini? aku benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dilakukan yeoja aneh itu. Tapi aku sadar jika dia tidak menciumku melainkan memberikan bantuan pernafasan. Mungkin gelap menyamarkan wajahku, sehingga dia tidak tahu jika seseorang yang tengah ditolongnya adalah seorang Cho. Dan aku mensyukurinya. Tapi bagaimana dia sengaja melakukannya dan suatu saat nanti malah memerasku. Cih benar-benar merepotkan.

Karena tidak mau mendapat ciuman dari yeoja yang tidak jelas asal usulnya ini aku memutuskan untuk mengakhiri permainanku sendiri. "Ngghh…" lenguhku pelan. Aku sengaja melakukannya hanya untuk memberitahu yeoja itu jika aku telah sadar.

"Oh Thank's God" ujarnya penuh kelegaan. Sepertinya dia bersyukur karena tidak akan menjadi tersangga pembunuhanku dan berurusan dengan pihak kepolisisan. Hanya kesunyian yang menemaniku saat ini. Mungkin yeoja itu langsung beranjak saat tahu aku telah sadar.

"Brukk…" terdengar suara benda jatuh tak jauh dari tempatku terbaring saat ini. Karena masih enggan membuka mata kuacuhkan semua hal yang tengah terjadi disekitarku. Mungkin hanya yeoja itu yang terjatuh karena terlalu terburu-buru. Cukup lama aku memejamkan mata, hingga hampir saja aku tertidur jika tidak mendengar erang kesakitan disebelahku.

Jujur aku takut untuk membuka mata sekarang. Bagaimana jika yang mengeluarkan suara kesakitan itu adalah penunggu sungai ? Hei jangan melihatku seperti itu! Kalianpun akan merasakan ketakutanku sekarang jika kalian ada pada saat itu juga. Saat dimana hyung dan noonaku sengaja menakut-nakutiku dengan suara-suara aneh mereka. Mereka sengaja melakukannya karena kenakalanku yang membuat pusing appa dan eomma. Dan mereka mengajakku ke sungai Han lalu meninggalkanku seorang diri disini. Sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh meninggalkanku, hanya saja ketakutanku pada kegelapan membuatku semakin ketakutan. Dan itu saat aku masih lima tahun.

Setelah memastikan jika suara itu tidak lagi terdengar kuputuskan untuk membuka mata. Pemandangan yang pertama kali kulihat adalah keindahan langit Seoul yang dipenuhi dengan jutaan bintang. "Indah" kataku tanpa sadar. Aku jadi ingat kata-kata hyungku yang bilang jika bintang adalah jiwa manusia yang telah meninggal. Dulu aku mempercayai perkataannya, tapi sekarang tidak lagi. Karena sebenarnya bintang adalah kumpulan gas yang dapat memancarkan sinar. Tapi bolehkah saat ini aku percaya jika jiwa hyungku ada diantara bintang-bintang itu?

Cukup lama memandangi salah satu kebesaran Tuhan, kuputuskan untuk segera beranjak dari sisi. Lagipula baju yang basah kuyup membuatku sedikit kedinginan. Tak jauh dari tempatku sekarang terlihat sesuatu yang tampak seperti manusia. Sebenarnya aku ingin mengacuhkannya tapi entah mengapa hati kecilku memaksaku untuk menghampiri sosok itu.

Sosok yang ternyata seorang yeoja tengah terkapar tak berdaya dengan sesekali meringis menahan sakit yang aku sendiri tak tahu apa. Meski dalam kegelapan aku dapat melihat jika yeoja itu lumayan cantik. Wajah pucatnya sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. 'Mungkin dia adalah yeoja yang baru saja mencoba menggagalkan aksi bunuh diriku malam ini' batinku. Mengingat hal tersebut membuatku seolah malas untuk ganti menolongnya.

Tapi aku kembali teringat dengan perkataan hyungku yang menyuruhku selalu menolong siapapun dan dimanapun. Karena itu setelah mengambil mantel yang kuyakin milik yeoja itu, aku langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Jalan yang lengang membuat perjalanan kami semakin cepat.

Pandangan beberapa perawat dan orang-orang yang masih terjaga sama sekali tidak menggangguku. Wajar jika kami jadi pusat perhatan, baju yang basah kuyup dan penampilan yang acak-acakanlah sebabnya.

Setelah memastikan jika gadis itu mendapat perawatan yang layak, kembali aku menghampirinya. Dokter yang baru saja memeriksanya menyatakan jika ada masalah dengan paru-parunya. Aku tidak tahu bagaimana seseorang yang memiliki masalah seperti itu masih bisa mencemaskan orang lain yang bahkan tidak dikenalnya. Kupandangi wajah damainya saat tertidur, hingga tanpa sadar aku ikut terlelap disampingnya.

Entah berapa lama aku tertidur dengan posisi seperti ini. Tapi aku akui jika tidurku kali ini sangat lelap. Jika biasanya mimpi buruk selalu menemani tidurku, kali ini sungguh berbeda. Aku bertemu dengan hyungku dalam mimpi. Disana dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku dan juga mengingatkan agar mulai sekarang aku menjalani hidupku dengan bahagia tanpa harus selalu merasa bersalah. Tidak hanya itu, dimimpiku appa, eomma, dan noona juga tampak telah memaafkanku. Mengingat itu semua membuat senyumku yang mati kembali. Dan aku berharap suatu saat nanti mimpiku bisa menjadi kenyataan.

"Aku akan mencoba mengikuti nasehatmu hyung" kataku entah kepada siapa. Menyadari jika aku hanya sendiri di ruangan berbau obat ini aku sadar jika yeoja yang kemarin malam kutolong tidak ada. 'Mungkin dia sedang ke kamar kecil' pikirku. Tapi sepertinya dia memang telah meninggalkan tempat ini ketika aku menemukan sepasang pakaian rumah sakit yang terlipat sedikit berantakan di sofa.

Karena tidak mau terlalu lama berada di tempat yang tidak begitu kusuka, aku memutuskan untuk beranjak. Belum juga beranjak pintu ruangan terbuka. Ada seorang perawat muda yang menghampiriku.

"Maaf Tuan, gadis yang kemarin bersama anda telah pergi beberapa waktu yang lalu" katanya menjelaskan kebingunganku tadi.

"Hn" balasku singkat. Dan saat hendak melangkah perawat itu kembali mengatakan sesuatu.

"Emm,,,dia juga meminjam 100.000 won kepadaku. Dia bilang jika namja yang bersamanya akan mengganti uangku." Katanya sedikit takut. Cih, dasar yeoja tak tahu diri. Bagaimana dia bisa menyuruhku membayar hutangnya pada perawat ini? Tidak sadarkah dia jika aku juga yang membayar perawatannya kemarin. Tanpa pikir panjang kuberikan lembaran 100.000 won kepada perawat di depanku.

"Terima kasih Tuan. Yeoja itu juga menitipkan ini kepada saya. Silahkan " jawabnya seraya mengambil kembali uangnya dan menyerahkan secarik kertas yang kemungkinan besar adalah surat dari yeoja gila tadi. Setelah mengambil kertas yang diberikan yeoja itu melalui perawat, aku langsung meninggalkan ruangan ini tanpa mengucapkan sepatah katapun pada si perawat.

Untuk Tuan tampan yang baik hati

Anyyeong,

Tuan maaf aku jika aku telah menyusahkanmu. Sebenarnya jika aku punya waktu aku ingin sekali mengucapkan secara langsung terima kasih kepadamu. Tapi karena suatu keadaan aku tidak bisa. Bukan berarti aku akan melupakan semua kebaikanmu, aku hanya tidak ingin membuat Nathan cemas jika dia tahu aku masuk rumah sakit. Tidak hanya itu, aku tadi juga meminjam 100.000 won kepada salah satu perawat dan mengatakan jika anda yang akan menggantinya. Aku benar-benar minta maaf Tuan karena telah merepotkanmu.

Jika Tuhan mempertemukan kita lagi, saat itu aku akan mengembalikan uang yang kupinjam dan aku akan mengucapkan secara langsung terima kasihku. Tuhan sangat menyayangiku dengan mengirim anda guna menyelamatkan nyawaku. Aku sangat berhutang kepada anda. Sekali lagi terima kasih telah bersedia menolongku, padahal kita tidak saling kenal bukan? Mungkin ini adalah cara Tuhan mempertemukan kita. Bukankah awalnya aku yang berniat menolong anda? Tapi pada akhirnya andalah yang justru menolongku.

Dan kejadian malam itu, aku akan menganggap jika anda tidak sengaja terjatuh dari atas jembatan. Aku tidak akan berpikir jika anda berniat bunuh diri. Aku benar bukan? Lagipula orang sebaik dan setampan anda tidak akan melakukan hal mengerikan seperti itu bukan? Aigoo…apa yang telah kukatakan. Maaf Tuan jika aku terlalu banyak bicara. Aku rasa hanya itu yang dapat kusampaikan saat ini. Suatu saat nanti jika kita bertemu aku sangat ingin bisa menjadi seseorang yang berguna bagi anda.

Seseorang yang akan selalu mengingat kebaikan anda,

Fia.

Entah mengapa membaca surat yeoja itu membuatku seresa memilik sedikit harapan untuk melanjutkan hidupku yang membosankan. Jika suatu hari nanti kami kembali dipertemukan, aku akan menagih janjinya yang bersedia melakukan sesuatu yang berguna bagiku. Sekarang aku harus segera pulang serta kembali melakukan rutinitasku seperti biasa. Lagipula tugasku juga tidak terlalu banyak hari ini, mengingat kemarin aku telah menyelesaikan semuanya. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, aku tidak akan mendapat ucapan selamat atas hari lahirku dari keluargaku.

Tapi tunggu, namanya Fia bukan? Apa mungkin dia yeoja yang ingin dikenalkan Changmin padaku kemarin siang atau mereka hanya kebetulan memilik nama yang sama? Aish… entahlah, suatu saat nanti aku akan mengetahuinya sendiri.

*Kyuhyun Pov end*

Di salah satu rumah yang berada di pusat Tokyo terlihat sepasang suami istri yang sejak tadi hanya memandangi telepon yang berada disamping mereka. Tidak ada satu diantaranya yang mengalah untuk mengambilnya terlebih dahulu.

"Angkat teleponnya dan segera hubungi putramu" kata sang suami.

"Dia juga putramu, kenapa bukan kau saja yang menghubunginya" balas sang istri.

"Hhhh…aku takut jika dia masih marah kepadaku atas apa yang telah kulakukan di masa lalu" ujar sang suami penuh penyesalan.

"Semuanya telah terjadi, kenapa kita tidak bisa memaafkan satu sama lain? Lagipula Kyuhyun pasti mengerti. Dia namja yang sangat pintar" nada sesal juga terdengar dari sang istri. Sepertinya kedua orang itu merasa sangat bersalah kepada putra bungsu mereka. Itu juga yang menyebabkan mereka memilih menjauhi putranya. Tanpa mereka sadari jika tindakan mereka justru semakin membuat putra bungsu mereka merasa diabaikan dan tidak dicintai lagi.

"Happy birthday Captain Cho" kata seorang yeoja cantik kepada salah satu sosok yang tengah dipandanginya. Sosok adik kecilnya yang beberapa tahun ini sengaja diabaikannya. Bukan karena tidak lagi menyayanginya, hanya saja rasa bersalah masih belum bisa dilupakannya sejak kejadian itu. Dia pikir jika apa yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu adalah kesalahannya. Tapi malangnya sang adiklah yang harus menanggung semuanya. Itu sebabnya dia memilih menjauhi adik kebanggaannya saat ini, karena dia masih belum siap menghadapi jika sang adik membencinya.

TBC

Akhirnya punya waktu buat pindah cerita ini ke Ffn, semoga tidak mengecewakan. Terima kasih untuk semuanya yang telah meluangkan waktunya membaca cerita ini, Meski aku tahu masih banyak kekurangan yang dilakukan. Kritik dan saran sangat diharapkan guna memperbaiki bagaimana cara menulis cerita yang menarik dan baik. Sekali lagi terima kasih :)