Cast : Stefia Kim ( OC ), Cho Kyuhyun (Super Junior), Kim Ryeowook (Super Junior), Kim Hyesung ( OC ), and other
Rate : T
Genre : Friendship
Disclaimer : Their belong to God, Their parents, and themselves
Warning : OOC, Typo, Alur berantakan, Death Chara, dan kekurangan yang lainnya.
RnR
DLDR
Enjoy :)
Chapter 7
*Fia Pov*
Saat pertama kubuka mata, hanya putih yang mendominasi pandanganku. Apakah aku telah berada di surga? Jika benar, bagaimana dengan Nathan? Aku harap Hyesung dan yang lainnya mau menjaga Nathan. Tapi jika aku memang telah menghadap Sang Pencipta, kenapa aku bisa merasakan hembusan nafas seseorang disampingku. Mungkinkah malaikat maut yang menjemputku kelelahan dan sekarang tertidur disampingku?
Pikiran-pikiran aneh terus berputar di kepalaku. Karena tidak mau larut dalam spekulasi anehku, kuputuskan untuk melihat sosok yang sepertinya tertidur disampingku. Aku benar-benar tidak menyangka jika sosok itu adalah namja yang tadi sempat kuselamatkan.
Apakah tadi aku gagal menyelamatkan nyawanya dan sekarang kami berdua telah meninggal? Ommo apa yang sebenarnya kupikirkan? Kenapa dari tadi beranggapan jika aku telah meninggal? Setelah sadar akan kebodohanku, aku mulai melihat aku sadar jika aku masih hidup.
Ada kebahagiaan tersendiri saat tahu aku masih diberi waktu oleh Tuhan untuk menjaga Nathan. Dan ngomong-ngomong soal Nathan, sepertinya ada yang kulupakan. Aigooo, aku lupa jika semalaman aku tidak pulang. Seandainya Nathan tidak menemukanku saat dia bangun nanti pasti dia akan sangat cemas.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaiannku yang terletak di sofa tak jauh dari pintu masuk. Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih kepada namja yang telah membawaku kemari, tapi niat itu kuurungkan saat melihat wajah damainya saat tertidur.
Aku berusaha bergerak sepelan mungkin agar tidak menggangu tidurnya, dan menyelinap keluar dari ruangan. Sekarang aku harus segera pulang sebelum Nathan sadar jika aku pergi dari rumah. Tapi aku lupa jika kemarin aku sama sekali tidak membawa uang maupun ponsel. Aishhh…benar-benar bodoh.
Mungkin inilah cara Tuhan menunjukkan kasih-Nya kepadaku. Melihatku tampak gusar seorang perawat meghampiriku dan menanyakan apakah aku memerlukan bantuan. Dan tanpa pikir panjang aku langsung menceritakan masalahku dengan beberapa kebohongan yang sangat meyakinkan.
Akhirnya perawat malang itu mau membantuku. Dia juga meminjamiku uang sebesar 100000 won guna biaya pulangku. Bahkan tanpa tahu malu aku malah menyuruhnya meminta kepada namja penolongku agar mengembalikan uangnya yang kupinjam. Tak lupa pula kutitipkan surat yang tadi sempat kutulis untuk namja tampan itu.
Setelahnya aku langsung beranjak dan mencari kendaraan umum. Cukup sulit memang, mengingat saat ini masih pukul 5 pagi. Tapi aku yakin jika kali inipun aku akan mendapat keberuntungan lagi. Dan hal itu terbukti dengan munculnya sebuah taksi dari arah yang berlawanan denganku.
Tak lama kemudian aku telah sampai di depan rumah yang beberapa minggu ini aku tempati bersama Nathan. Kubuka pintu sepelan mungkin dan berharap jika Nathan belum terbangun dari tidur. Setelah memastikan jika anak itu masih tidur, langsung kuambil pesan singkat yang kemarin malam sempat kubuat. Dan aku langsung memasuki kamar serta berpura-pura tidur.
Pukul 06.15 aku bisa mendengar suara pintu kamar Nathan dibuka. Dan aku yakin jika dia akan langsung menuju tempat dimana aku sangat dilarang memasukinya kecuali setelah dia selesai bekerja, yakni dapur. Aku sendiri tidak keberatan dengan larangannya memasuki dapur, toh selama ini memang Nathanlah yang memasak untuk kami berdua.
Pernah suatu hari aku ingin membantunya memasak. Tapi bukannya semakin cepat selesai, pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan oleh Nathan selama beberapa menit menjadi beberap jam karena aku mengacaukan semuanya. Dan sejak saat itu dia melarangku memasuki dapur selama dia memasak.
Cukup lama aku terdiam di kamar tanpa melakukan apapun. Bukan karena tidak ada yang dapat kulakukan, hanya saja aku tidak mau membuat Nathan mencurigaiku dengan bangun sepagi ini. Karena bosan menunggu akhirnya kuputuskan untuk keluar kamar dan menghampirinya.
"Hoooaaammm, morning" kataku pura-pura masih mengantuk.
"Eh… morning" balas Nathan seraya menatap aneh kepadaku.
"Wae?" tanyaku malas
"Hanya heran saja kau sudah bangun tanpa aku membangunkanku" jawabnya dan kembali sibuk dengan masakannya.
"Aku tidak mau merepotkanmu terus" balasku.
"Jinjjayo? Bukan karena ada alasan lain eoh?" tanya Nathan dengan mengedipkan sebelah matanya. Jujur aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang baru saja dilontarkan namja manis di hadapanku ini.
"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.
"Cih, kau pikir kau bisa membohongiki eoh?" katanya angkuh. Tapi melihat aku benar- benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksudkannya dia kembali berkata,
"Tentang kau dan Hyesung". Mendengar nama namja yang beberapa waktu lalu resmi menjadi kekasihku disebut aku lamgsung menatap Nathan dengan pendangan tak percaya. Sementara dapat kulihat kemenangan dari matanya saat pandangan kami bertemu.
"Kau tahu?" tanyaku. Pertanyaan bodoh memang. Tapi aku hanya kaget dan heran darimana Nathan mengetahui hal itu. Bukankah aku dan Hyesung sama-sama berjanji tidak akan memberitahu yang lain tentang hubungan kami. Dan aku mempercayai namjachingguku.
"Tentu" balasnya tenang seraya meletakkan nasi goreng kimchi dihadapan kami berdua.
*Flasback*
Pesta yang sederhana tapi meriah. Itulah kata yang akan aku katakan jika ada yang bertanya tentang pesta perayaan satu bulan dibukanya Bluerose. Selain kehadiran Kim Yesung yang diundang oleh Heechul oppa, keberanian Lu Han dan Joon Ha oppa saat menyatakan perasaan kepada yeoja yang disukainya semakin membuat acara meriah. Dan hasil menggembirakan dirasakan keduanya saat sang pujaan hati menerima perasaan mereka.
Memang pada awalnya aku, Onew, dan Hyesung yang memaksa Lu Han untuk menyatakan perasaannya kepana Minji sebelum ada namja lain yang melakukannya. Dengan sebuah ancaman dari kami yang dikenal sebagai trio evil, Lu Han melakukannya. Saat itu kami hanya berharap jika Sena eonni tidak akan mencincang sang namja China. Dan sepertinya keberuntungan memihak kepada Lu Han.
Tidak hanya itu, keberhasilan Lu Han juga membuat keberanian seorang Park Joon Ha muncul. Dengan penuh percaya diri, Joon Ha oppa mengambil alih panggung. Dia juga melakukan hal yang sama dengan yang baru saja dilakukan oleh Lu Han. Tapi sebelum mendengar kelanjutan kisah Joon Ha oppa, dapat kurasakan tangan seseorang menarikku dari kerumunan.
Orang yang menarikku itu langsung membawaku ke loker dan mendudukkanku di kursi yang telah disediakan. Setelahnya dia kembali keluar meninggalkanku sendirian di tempat ini. Sebenarnya aku ingin memarahinya karena membuatku penasaran dengan kelanjutan kisah Joon Ha oppa, dan juga meninggalkanku.
Tapi belum ada satu kata umpatan yang sempat kulontarkan orang itu kembali masuk dengan membawa sepiring kue dan dua gelas teh hijau hangat.
"Minumlah, kau tampak sangat kelelahan" ujarnya seraya memberikan secangkir the kepadaku dan duduk disampingku.
"Kenapa kau menyeretku kesini huh?" tanyaku masih kesal dengan sikapnya tadi. Tak lupa kuhirup sedikit teh yang berada ditanganku.
"Bukankah tadi aku sudah bilang jika kau tampak kelelahan. Aku hanya tidak ingin kau tiba-tiba pingsan" balasnya dengan meminum cairan hijau yang baru saja dibuatnya.
"Tapi…"
"Hanna noona menerima pernyataan cinta Joon Ha hyung jika kau ingin tahu"
"Jinjjayo?"tanyaku antusias, tapi hanya sebuah gumaman tak jelas yang kudapat dari namja disebelahku. Setelahnya hanya ada keheningan diantara kami.
"Ada yang ingin kutanyakan kepadamu, boleh?" tanyanya memecah kebisuan diantara kami. Karena pada dasarnya kami memang bukan orang yang pandai merangkai kata. Hanya saja keberadaan Nathan dan Onew seolah membantu kami beradaptasi dengan yang lain.
"Tentu" jawabku menatap kearahnya.
"Aku tengah menyukai seorang yeoja, dan aku akan segera menyatakan perasaanku padanya. Bagaimana menurutmu?" tanyanya dengan balas menatap kedalam mataku. Entah mengapa mengetahui dia menyukai seorang yeoja membuat hatiku sangat sakit.
"Itu terserah kepadamu, lagipula yang menjalaninya adalah kau bukan aku" jawabku seraya mengalihkan pandangan. Aku yakin jika aku tetap memandangnya maka airmataku akan keluar.
"Tapi dia sangat menyebalkan. Dia lebih peduli dengan orang lain daripada dirinya sendiri. Tidak hanya itu dia juga sangat keras kepala dan juga cengeng. Tapi dia sangat cantik, apalagi saat dia kesal dan mempoutkan bibirnya. Saat dia berpose seperti itu, aku benar-benar ingin menciumnya" terang namja yang duduk disampingku dengan kebahagiaan yang terlihat jelas saat menceritakan tentang yeojanya.
"Jika kau memang menyukainya, kenapa tidak segera menyatakan perasaanmu? " tanyaku dengan suara agak parau. Aku sadar jika sebentar lagi aku akan menangis. Tapi aku tidak mau jika namja yang tengah tersenyum lembut kearahku mengkhawatirkanku.
"Apa menurutmu dia akan menerimaku? Karena dari cerita orang yang dekat dengannya, yeoja itu tidak mau menjalin suatu hubungan khusus dengan namja karena takut menyakiti mereka" ada nada kesedihan yang terdengar dari penjelasannya barusan.
"Berarti kau harus meyakinkannya jika kau tidak akan tersakiti olehnya" hiburku.
"Begitukah?" tanyanya lagi.
"Hmmm…." Balasku dengan anggukan.
"Aku akan melakukannya segera. Aku benar-benar ingin menjadikannya sebagai bagian dari kisah hidupku" katanya dengan semangat yang kembali seperti awal tadi.
"Good luck" kataku pelan.
"Yakkk… kenapa kau tampak tidak suka mengatakan hal itu eoh? Atau jangan-jangan kau cemburu ya aku menyukai seorang yeoja? hehehe" katanya dengan kekehan menyebalkan.
"Aishhh…untuk apa aku cemburu huh? Sama sekali tidak ada gunanya" bohongku dengan lancer. Karena aku sadar jika sikapnya selama ini kepadaku telah membuatku terjatuh sangat dalam kepada namja chubby ini. Tapi aku juga sadar jika aku tidak akan bisa memberinya kebahagiaan karena hidupku yang akan segera berakhir.
"Begitu ya, padahal aku sangat berharapa kalau kau cemburu." Lirihnya. Meski dikatakan cukup lirh, tapi aku mampu menangkap apa yang baru saja terlontar dari bibirnya.
"Mwo?" tanyaku spontan.
"Aku sangat berharap kalau kau cemburu Fia, tapi sepertinya apa yang kulakukan sama sekali tidak berhasil."
"Apa maksudmu Hyesung? Lagipula kenapa kau ingin membuatku cemburu eoh?"
"Karena aku mencintaimu. Naneun saranghamnida" kata Hyesung mantap dengan pandangan lurus ke mataku.
"Tidak, kau tidak boleh mencintaiku. Kau tidak boleh melakukannya" kataku seraya menggeleng kuat. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh.
"Wae? Apa hakmu melarangku mencintaimu eoh?" tanyanya dengan mencengkeran kedua lenganku.
"Karena aku hanya akan menyusahkanmu dan membuatmu bersedih" jawabku sedikit berteriak.
"Jika yang kau maksud aku akan sedih saat nanti kau mati, ya kau benar. Tapi aku tidak akan melakukan hal yang tidak kau suka agar bisa bersamamu. Aku akan tetap melanjutkan hidup dan mencari yeoja lain. Aku berjanji" balas Hyesung dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi…" kata-kataku terputus saat Hyesung menyatukan bibir kami. Singkat memang, hanya sebagai bukti jika dia serius dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Jebal, beri aku kesempatan untuk menjadi bagian dalam hidupmu" katanya lembut. Dan seolah terhipnotis denga kata-katanya aku menganggukkan kepala. Sontak dia memelukku dengan erat dengan sesekali menciumi kepalaku.
"Gomawo, jeongmal gomawo. Saranghae" katanya.
"Nado saranghae" balasku seraya mempererat pelukan kami. Tapi ketika sadar dengan apa yang tadi dikatakannya aku langsung melepas pelukan itu.
"Jadi aku sangat menyebalkan eoh? Juga cengeng dan keras kepala?" kataku dengan amarah yang tiba-tiba menguar, sementara dapat kulihat wajah ketakutan Hyesung.
"Tapi kau sangat cantik, sumpah" katanya seraya bergerak mundur.
"Yakkk… Kim Hyesung kemari kau" teriakku. Dan kamipun berlarian seperti anak kecil di loker yang tidak terlalu luas ini. Tanpa peduli dengan pesta yang masih berlangsung diluar sana.
*Flashback end*
"Ekhm…" deheman Nathan membuatku sadar jika masakannya telah dihidangkan. Uap nasi goreng yang mengepul membuatku ingin segera melahapnya. Tapi hal itu tertuda saat ada keberadaan sesuatu berwarna hijau di piringku.
"Kenapa kau menambahkan sayur pada makananku Nath?" tanyaku tak suka. Padahal dia sangat tahu jika aku tidak suka dengan makan berwarna hijau tersebut.
"Agar kau selalu sehat" jawabnya dengan melahap nasi goreng miliknya.
"Tapi…"
"Selama aku yang memasak, akan kupastikan kau akan selalu makan makanan yang bergizi. Dan aku tidak mau tahu segera habiskan nasi goreng serta sayurnya atau aku akan membongkar rahasiamu dengan Hyesung" katanya dengan smirk yang pertama kali kulihat di wajah manis Nathan.
"Yakkk…awas saja kalau kau melakukannya. Kau akan menyesal" teriakku tak terima. Sementara Nathan hanya berlalu menuju kamar mandi.
"Aishh menyebalkan"kataku seraya mencoba menelan sayuran-sayuran menjijikkan itu dengan bantuan air. Setelah berhasil menghabiskan sepiring nasi goreng dan bantuan tiga gelas air, aku membereskan semua peralatan makanku. Tak lama kemudian seseorang menghubungiku.
"Ne, akan kuusahakan. Annyeong " kataku seraya menutup sambungan telepon. Dapat kulihat tatapan bertanya dari Nathan.
"Max meminta bantuan kepada kita untuk membuat sebuah birthday party untuk sahabatnya" kataku menjelaskan kepada Nathan. Dan dia hanya ber oh ria.
"Fia, sebaiknya mulai sekarang kau mejaga jarak dengan Changmin-ssi. Takutnya nanti jika kau akan menyakiiti Hyesung tanpa kau sadari" kata Nathan seraya berjalan menuju pintu.
"Ne, tapi tidak janji" kataku seraya mengikutinya pergi keluar untuk bekerja.
*Fia Pov End*
TBC
Akhirnya punya waktu buat pindah cerita ini ke Ffn, semoga tidak mengecewakan. Terima kasih untuk semuanya yang telah meluangkan waktunya membaca cerita ini, Meski aku tahu masih banyak kekurangan yang dilakukan. Kritik dan saran sangat diharapkan guna memperbaiki bagaimana cara menulis cerita yang menarik dan baik. Sekali lagi terima kasih :)
