Finally, aku bisa melanjutkan cerita ini dan Chapter depan kemungkinan akan segera berakhir. Aku sadar jika cerita yang kubuat tidak sebagus Author lain yang lebih berpengalaman. Aku juga tidak keberatan saat tidak ada seorangpun yang meninggalkan sepatah dua patah kata, karena aku juga sering melakukan hal itu. Membaca tanpa meninggalkan review, hehehehe.

Ucapan terima kasih selalu aku ucapkan kepada siapa saja yang telah meluangkan waktunya untuk sekedar membaca cerita yang sangat membosankan ini. Meski begitu aku akan tetap berusaha sebaik mungkin agar suatu saat bisa membuat cerita yang lebih baik dari ini.

Present

Happiness

Cast : Stefia Kim (OC), Kim Ryeowook (SJ), Cho Kyuhyun (SJ), Kim Hyesung (OC), and other.

Rate : T

Genre : Friendship

Warning : Typo, OOC, Death Chara, Alur yang membingungkan, Plot yang g jelas, dan kekurangan yang lain.

Disclaimer : They belong God, Themshelves, Their Parent

RnR

DLDR

Enjoy :)

Previous

"Cepat panggilkan Fia!" perintah Changmin tanpa peduli dengan penjelasan Jiyeon.

"Tapi…."

"Now !" perintah mutlak dari Kyuhyun dan glare yang tajam membuat Jiyeon mau tak mau harus memanggil Fia.

Sementara itu Fia yang saat itu sendirian tidak lagi mampu menahan rasa sakit yang akhir-akhir ini sering menderanya. Keringat bercucuran di wajah pucatnya. Nafas yang mulai sesak membuat Fia tidak mampu bergerak, bahkan untuk mengambil inhaler yang berada tak jauh dari jangkauannya. Pandangannya semakin kabur dan sebelum kegelapan memeluknya dapat dilihatnya Kibum dengan panic memanggil namanya.

Chapter 13

Pingsannya Fia membuat Ryeowook tak berhanti meneteskan airmata. Bahkan Kyuhyun yang ikut mengantar tidak bisa berbuat banyak agar namja manis itu berhenti menangis. Kibum sendiri bingung harus bagaimana lagi mambuat namja yang lebih tua beberapa bulan darinya itu berhenti meneteskan airmata. Sementara Hyesung hanya bisa memejamkan mata menunggu pemeriksaan yang kini tengah dijalani sang kekasih. Tanpa ada yang sadar jika namja chubby itu juga meneteskan airmata.

"Berhentilah menangis Wook-ah, jika Fia tahu kau menangis seperti itu dia akan semakin merasa bersalah padamu" akhirnya kata itu mampu diucapkan Hyesung setelah mencoba membuat hatinya tenang terlebih dahulu. Mendengar pernyataan Hyesung yang menurutnya benar, Ryeowook mencoba menghentikan tangisannya. Dan itu berhasil. Meski demikian sesekali airmata masih keluar dari manik coklatnya.

Cukup lama keempat namja tampan itu menunggu, akhirnya seorang uisa keluar dari tempat pemeriksaan. Wajahnya yang tampak serius membuat keempatnya was-was. Mereka takut jika yeoja yang berarti bagi beberapa dari mereka mengalami hal yang buruk.

"Kankernya telah menyebar. Bahkan operasi tidak dapat membuatnya bertahan lebih lama lagi. Hanya sebuah keajaiban yang bisa membuatnya bertahan selama ini" pernyataan sang dokter membuat keempat namja itu kembali meneteskan airmata. Mereka sadar jika waktu Fia tidak akan lama lagi, mereka hanya berharap masih diberikan waktu untuk membuat yeoja cantik itu tersenyum disaat-saat terakhirnya.

"Kita tidak boleh terlihat sedih. Aku rasa Fia telah memikirkan semua ini" kata Hyesung sebelum memasuki kamar dimana sang kekasih dirawat. Dia hanya mencoba menahan rasa sedihnya saat mendapati wajah pucat yeoja yang sangat dikasihinya itu.

"Hai" sapa Fia dengan suara yang tidak begitu jelas karena masker oksigen yang dipakainya.

"Hai"

"Mianhae,"

"Untuk apa? Tidak ada yang perlu dimaafkan" diusapnya helaian pirang Fia. Keheningan menemani keduanya hingga Kyuhyun, Kibum, dan Ryeowook juga masuk. Pandangan Fia tertuju pada Ryeowook, terlebih pada mata namja manis itu.

"Apa Nathan menangis?" tanyanya kepada Hyesung.

"Huumb, dia terlalu khawatir saat Kibumie bilang kau pingsan" jawabnya jujur. Dan respon yang didapatnya dari sang kekasih sama sekali tidak sama dengan apa yang telah diprediksinya.

"Aku benci Bryan" teriaknya dengan keras, dan tentu saja semua orang yang berada dalam ruangan itu bingung mendengar hal itu.

"Eh, wae?" tanya Kibum, dia benar-benar tidak bisa mengerti maksud yeoja yang selama ini telah banyak membantunya.

"Kau telah membuat Nathan menangis" jawabnya dengan mempoutkan bibirnya lagi. Seandainya tidak ada masker oksigen yang menghalangi maka bibir itu akan bertemu dengan milik Hyesung. Dan seperti yang keempat namja itu pikirkan jika Fia akan tetap bersikap seolah dia akan hidup selamanya.

Keadaan yang semakin memburuk membuat Fia tidak boleh keluar dari rumah sakit. Dia yang pada dasarnya tidak bisa diam disuatu tempat memutuskan untuk berkeliling rumah sakit. Sikapnya yang ramah dan bersahabat membuat semua dokter, perawat, dan pasien lain menyukainya. Bahkan dia kerap kali menghabiskan waktunya bersama para penderita kanker yang lain, terutama anak-anak kecil.

Dan yang paling marah atas sikap Fia yang suka keluyuran adalah Lee Sungmin, uisa yang bertanggung jawab atas dirinya. Dia selalu saja merasa jika Fia sangat berbeda dengan pasiennya yang lain. Jika kebanyakan orang akan putus asa dan terpuruk dengan keadaan seperti itu, Fia justru merasa jika dirinya tidak sakit. Dia selalu tertawa dan membagikan kebahagiaan kepada sekitarnya.

Suatu hari saat akan mengunjungi uisa favoritnya, Fia melihat sepasang suami istri yang saling berpelukan dan menangis. Tak jauh dari mereka seorang namja sebayanya juga tidak mampu menahan rasa sedihnya. Fia mendekati keluarga yang tengah bersedih itu dan hendak bertanya gerangan apa yang telah terjadi. Belum sempat bertanya, dia bisa melihat seorang ganosha yang keluar membawa ranjang yang diatasnya terdapat seseorang yang meninggal. Dan keluarga yang bersedih itu mengikuti kemana sang ganosha membawa keluarga mereka.

Tanpa sadar airmata keluar dari manik birunya. Dia tidak ingin kepergiannya nanti membuat orang-orang yang dikasihinya bersedih. Tujuannya untuk menemui uisa favoritnya, Lee Sungmin, tak terlaksana. Dilangkahkan kakinya menuju taman dan duduk disalah satu bangku yang tersedia. Disana dia merenung dan berpikir bagaimana caranya agar tidak ada yang bersedih atas kepergiannya nanti. Berpikir terlalu keras membuat Fia tidak menyadari jika langit telah berubah jingga. Hingga sebuah selimut dirasakan menyampir dibahunya dan memberikan kehangatan kepada tubuh kurusnya.

"Apa yang kau lakukan disini eoh?" tanya seorang namja yang tak lain adalah Sungmin.

"Oppa, Jika aku nanti meninggal apa kau akan sedih?" pertanyaan dari Sungmin dibalas dengan pertanyaan oleh Fia.

"Tentu"

"Wae?"

"Karena aku menyayangimu, dan kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri". Jawaban Sungmin membuat Fia kembali termenung. "Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Sungmin lagi.

"Jadi seharusnya aku tidak terlalu dekat dengan mereka, atau bahkan tidak perlu mengenal mereka" kata Fia mengacuhkan pertanyaan Sungmin lagi. Mendengar jawaban Fia yang tidak sesuai dengan pertanyaannya membuat Sungmin mengernyit bingung. Tidak biasanya yeoja disampingnya ini terlihat tak bersemangat.

"Setiap manusia pada akhirnya akan meninggal. Rasa kehilangan saat seseorang yang kita sayangi meninggalkan kita itu wajar. Dengan berlalunya waktu orang-orang yang ditinggal akan kembali melanjutkan hidup dan mereka akan mendapatkan kebahagiaan. Kepercayaan jika suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi akan membuat kita mencoba mencari kebahagiaan kita sebelum kita bertemu dengan mereka." penjelasan Sungmin membuat Fia akhirnya melihat kearah namja manis itu.

"Itu kalung yang bagus oppa, boleh aku melihatnya?" katanya menunjuk kalung yang melingkar di leher sang uisa.

"Ini sangat berarti untukku. Didalamnya ada seseorang yang sangat kusayngangi melebihi apapun. Tapi aku tidak tahu keberadaannya saat ini"

"Apa ini adalah foto yeojachinggumu?"

"Buka saja," setelah mendapat izin dari sang pemilik Fia langsung melihat foto yang tersimpan di liontin kalung itu. Meski buram, Fia dapat mengenali jika foto yang sebelah kanan adalah foto namja yang kini berada di dekatnya. Dan yang membuatnya bingung adalah foto disebelah kiri. Dia sangat mengenal orang yang berada di foto itu.

"Dia…"

"Adikku, tapi dia hilang saat dia berusia lima tahun. Keluargaku telah mencoba mencarinya, tapi hasilnya nihil. Semua pikir jika dia telah meninggal, tapi aku yakin jika dia ada di suatu tempat saat ini"

'Kau benar oppa. Aku akan membantumu bertemu dengan adikmu, aku janji' batinnya, dan sebuah senyum akhirnya terukir setelah hampir seharian menghilang. Dalam hatinya dia bersyukur mengikuti saran Hechul untuk dirawat di rumah sakit.

"Baiklah, sekarang ayo kembali ke kamarmu" keduanya pun meninggalkan bangku taman. Tak lama setelah kepergian Sungmin, Kyuhyun datang dengan sebuah game console ditangannya.

"Apa itu untukku?" tanya Fia dengan mata berbinar melihat game yang sangat ingin dimainkannya itu. Karena tidak mau menghancurkan kebahagiaan Fia, diberikannya game itu dengan sangat tidak ikhlas. Sebenarnya Fia tahu jika Kyuhyun menyerahkan game itu tanpa kerelaan, tapi dia tidak peduli.

"Kyu, kenapa dulu kau sering mencoba untuk bunuh diri?" tanya Fia memecahkan keheningan tanpa melepas pandangan dari game yang tengah dimainkannya.

"Karena suatu alasan" jawab Kyuhyun yang masih fokus dengan psp ditangannya. Karena kesal dengan jawaban Kyuhyun yang tidak sesuai dengan perkiraannya, Fia meletakkan gamenya dan mengambil psp dari tangan Kyuhyun.

"Yakkk…"

"Wae?" tanyanya lagi. Bukannya menjawab Kyuhyun mengeluarkan dompet dan memberikan selembar Foto kepada Fia. Foto itu sama dengan foto yang pernah dilihat Ryeowook saat berkunjung ke rumah Kyuhyun.

"Dia tampan" kata Fia menunjuk namja yang lebih tua.

"Aku jauh lebih tampan" narsis Kyuhyun.

"Tidak, yang paling tampan itu adalah Hyesung" kata Fia dengan warna merah di wajahnya. Melihat hal itu entah kenapa membuat Kyuhyun merasa sedih. Karena suatu saat nanti dia tidak akan bisa lagi melihat warna merah di wajah Fia.

"Dia hyungku, Siwon hyung" Fia tahu jika Kyuhyun akan menceritakan masa lalunya, itu sebabnya dia tidak merespon pernyataan kyuhyun.

"Dia meninggal karena menyelamatku dari kecelakaan. Saat itu aku masih berumur sepuluh tahun."

*Flashback*

Kemarahan Kyuhyun pada keluarga besarnya membuat dia mengacuhkan panggilan sang kakak. Ini adalah pertama kalinya dia mengacuhkan kakak tersayangnya itu. Tidak peduli kemana kakinya melangkah, dia hanya berusaha menjauh dari sepupu-sepupunya yang selalu saja membuat masalah. Dia sama sekali tidak mengindahkan teriakan beberapa orang yang ditujukan kepadanya saat akan melintasi jalan raya. Hingga sebuah dorongan membuatnya tersungkur dan menyebabkan tangan dan kakinya terluka.

Sebuah suara yang sangat dikenalnya membawa kesadarannya kembali. Dan pada saat itu dia berharap jika waktu bisa diputar kembali. Tak jauh darinya terlihat seorang namja dengan darah memenuhi seluruh tubuhnya. Tanpa peduli dengan rasa sakit yang menderanya, Kyuhyun kecil berlari menuju namja yang tengah terkapar di tengah jalan.

"Hyung…"

"Kyu…gwaenchanayo?" seolah tak peduli dengan kondisinya sendiri, namja tampan itu lebih mengkhawatirkan keadaan sang adik.

"Siwon hyung…." Airmata membanjiri wajah tampan Kyuhyun. Dia tidak lagi peduli jika akan di cap sebagai anak yang cengeng.

"Ini semua salahmu. Jika saja kau tidak mengabaikan panggilan Siwon oppa dia tidak akan seperti ini" marah seorang yeoja kecil sambil berusaha menjauhkan Kyuhyuhn dari sang kakak.

"Ahra noona…." Tampak keterkejutan saat sang noona menjauhkannya dari sang hyung. Rasa bersalah kembali dirasakannya ketika menyadari kebenaran dari apa yang dikatakan noonanya.

"Oppa, bertahanlah" airmata terus mengalir dari manik dark brownnya. Tak lama setelah itu ambulans datang dan membawa tubuh berdarah Siwon ke rumah sakit.

Suara isakan namja berumur sepuluh tahun adalah satu-satunya suara yang mendominasi ruangan berbau obat itu. Dia dan keluarganya tengah menunggu hasil dari operasi putra sulung mereka. tak lama kemudian keluarga Cho yang lain berdatangan.

'Plakkk…' sebuah tamparan tepat mendarat di salah satu sisi wajah Kyuhyun. Terlihat kemarahan dari seorang namja paruh baya yang telah menamparnya.

"Kakek…"

"Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Siwonie, kau akan tahu akibatnya bocah setan"

"Appa, tenanglah" seorang yeoja cantik berusaha meredam kemarahan kepala keluarga Cho. Meski demikian tatapan kemarahan juga dilayangkannya kepada Kyuhyun. Tidak ada seorangpun yang membelanya. Bahkan kedua orangtuanya juga memberikan tatapan yang serupa.

Kebencian keluarga terhadap dirinya semakin bertambah saat nyawa Siwon tak terselamatkan. Jiwanya kembali kepada sang pencipta tepat saat Kyuhyun berulang tahun ke sebelas. Baginya itu adalah ulang tahun terburuk yang dialaminya. Seharian dia berada di makan Siwon tanpa melakukan apapun kecuali menangis. Hingga akhirnya dia pingsan dan dibawa pulang oleh pengasuhnya.

Seminggu kemudian sang noona, Cho Ahra, lebih memilih ikut dengan bibinya ke Austria. Dia merasa tidak akan sanggup bertahan tanpa ada kakaknya yang akan melindunginya lagi. Sedangkan orang tua Kyuhyun memilih untuk menjalankan perusahaan Cho yang berada di Tokyo. Dan sejak saat itu seorang Cho Kyuhyun tinggal sendiri di Korea hanya dengan Song ahjuma dan para pelayan.

Kesedihan atas kematian kakak sulungnya membuat Kyuhyun berubah. Tidak ada lagi tawa dalam hidupnya. Baginya hidupnya saat ini hanya untuk mencari maaf keluarga besarnya. Dia akan melakukan apa saja agar membuat mereka mau memaafkannya. Suatu ketika sang kakek sempat mengatakan jika kelahirannya adalah kutukan bagi keluarga Cho. Dan saat itulah seorang Cho Kyuhyun mencoba bunuh diri untuk pertama kalinya.

*Flashback end*

"Tapi sepertinya usahaku untuk menyusul Siwon hyung tidak pernah berhasil." Airmata kembali menetes saat Kyuhyun menceritakan penyebab dirinya sering mencoba untuk bunuh diri. Dengan mata yang terpejam dicobanya lagi mengingat kenangan buruk yang pernah menimpanya dan yang merubah hidupnya. Sebuah pelukan dapat dirasakannya beberapa saat kemudian. Tidak hanya itu bahunya yang basah menandakan jika seseorang yang tengah memeluknya juga menangis bersamanya.

"Uljima" kata Fia seraya mengelus punggung Kyuhyun.

"Tsk, kau menyuruhku untuk tidak menangis sementara kau sendiri juga menangis" katanya seraya memegangi wajah Fia dan menghapus airmata yang mengalir di wajah yeoja cantik itu. Dan Fia pun melakukan hal yang sama.

"Berjanjilah jika suatu saat nanti aku meninggal kau tidak akan bersikap seperti ketika Siwon oppa meninggalkanmu" ditatapnya wajah tampan namja di hadapannya dengan mimic serius.

"Apa maksudmu?"

T

B

C

Fuih akhirnya bisa update juga. Saran dan Kritik selalu diterima dengan senang hati. Sekali lagi kuucapkan

HONTOU NI ARIGATOU

Opie ^^