Title : The Wolf
Author : XiuMinSeok
Length : Chapter
Genre : YAOI/School Life/Drama/Romance/Friendship/Mystery(?)
Cast : Exotic (Yang belum tahu, baca cerita sebelumnya : Popular but Liars dan The Perfet)
Rate : T
Warning :
Yaoi, BL, Typo, No Siders
so don't like don't read!
XiuMinSeok
present
The Wolf
Chapter 1 : Pesta, Di MULAI!
Terinspirasi dari Novel Karangan Sara Shepard
Pretty Little Liars
Author hanya mengambil part seperti;
Geng yang beranggotakan 4 orang dan Musuhnya
Tapi alur cerita murni dari otak author sendiri
So DO NOT COPY MY FF
.
.
.
.
.
DISCLAIMER
EXO Member bukan punya author, tapi punya sang Pencipta, Keluarga, Sment
Author Cuma pinjam mereka buat FF ini doang
Akhirnya Chapter 1 kelar juga :D maaf atas keterlambatan posting ." Maklum sibuk kuliah -_-" jiaahh xD
Di prolog yang kemaren, iya itu adalah Flashback -_- maafkan author yang lupa menulis kata Flashback :( dan lagi IYA! Lay juga kena terror! WOO xD (Malah senang) -_-
Dan masalah lagu yang dinyanyiin Lay, itu translate dari lagu Digital Daggers – The Devil Within xD Lagunya nyeremin looh ~ "
Dan author rada sakit hati deh, beneran, waktu kalian nuduh Xiumin yang jadi Teman Lama T.T Dia itu forever bias aku, jadi dia gak mungkin jadi jahat! Gak mungkin! T.T
Ya udah lah, sekian dulu, tapi makasih yang udah REVIEW! Author cinta kalian!
HAPPY READING :3
The Wolf diadakan di Kingman Hall, sebutan untuk aula yang ada di EXO HS. Sebuah bangunan—dari pada disebut aula bangunan ini lebih pantas disebut 'Rumah Besar'—bergaya Inggris yang terletak di bagian sayap kiri EXO HS. Sekolahnya para Exotic ini telah disulap menjadi sebuah replika Pasar Malam layaknya di Pennsylvania. Lampu-lampu kelap-kelip digantungkan di setiap gedung sekolah. Kios-kios Bazaar dengan segala hiasannya yang mencolok tertata rapih di bagian belakang sekolah. EXO HS bahkan sengaja merubah taman sekolah mereka—yang terdapat di tengah-tengah sekolah—menjadi sebuah labirin. Para tamu disambut dengan Gargoyles—saluran air yang terbuat dari batu berukir, biasanya dalam bentuk hewan menakutkan—mengerling dari gapura megah di depan sekolah dengan spanduk selamat datang yang menggantung. Sungguh megah. Sungguh menarik. Mengingat 'The Wolf' sebelumnya adalah Tao, jadi suvenir—hadiah untuk para tamu yang telah dibungkus semenarik mungkin—tahun ini adalah Boxer dengan motif kepala panda di mana-mana.
Saat namja penerima tamu memeriksa daftar para tetamu yang datang—acara ini bisa dibilang semi tertutup, kecuali para kandidat The Wolf, guru-guru dari masing-masing sekolah, anggota osis, mereka harus membayar untuk bisa mengikuti acara ini—Luhan melemparkan pandangan ke sekeliling halaman sekolah di depannya. Aula tempat penobatan The Wolf nanti masih ditutup dan dijaga oleh dua orang berbadan besar di depan pintunya. Para siswa-siswa yang Luhan tidak bisa membedakan mereka dari sekolah mana, berkeliaran dengan para pasangan mereka. Ini masih jam 7, itu berarti masih harus menunggu satu jam lagi untuk acara yang sesungguhnya.
Perlu beberapa detik sampai namja penerima tamu itu men-checklist namanya Luhan. Ia kemudian tersenyum sambil memberikan suvenir—Boxer motif kepala panda—ke pada Luhan. Tidak lupa juga ia mengucapkan 'Good Luck'. Luhan mengambil suvenir tersebut sambil tersenyum—bukan ke pada namja penerima tamu itu, tetapi ke pada Boxer-motif-kepala-panda. Hanya saja namja itu salah sangka. Luhan menggelengkan kepalanya lucu lalu ia berlalu ke dalam sekolahnya.
Ia berjalan ke dalam gedung sekolahnya yang sekarang ini sedang dalam kondisi gemerlapan, menuju lokernya lalu menaruh suvenir itu ke dalam sana. Luhan sepertinya anggota Exotic yang datang pertama—Luhan benci menyadari dirinya terlampau semangat untuk acara ini jika dibandingkan dengan temannya yang lain. Para fans telah menyadari kedatangan Luhan. Mereka mulai mengambil gambarnya Luhan yang sedang mengenakan setelan Tuxedo berwarna merah dengan sepatu basket yang mencolok. Rada tidak sesuai memang tapi tetap saja hal itu terlihat sempurna di tubuh Luhan. Setelannya membuat rambut Luhan yang berwarna coklat tampak bercahaya dan menonjolkan warna matanya juga.
Luhan tersenyum ke arah para fansnya, sedikit berpose di depan lokernya, kemudian berlalu menuju Bazaar yang ada di belakang sekolah. Luhan berjalan dengan sangat anggun, membuat para fans yang membuntutinya tak henti-hentinya berdecak kagum. Mereka terus mengabadikan momen-momennya Luhan. Sepertinya tujuan mereka datang ke acara The Wolf ini semata-mata untuk melihat anak-anak populer dan mengabadikan momen anak populer itu di kamera resolusi tinggi mereka.
Luhan menatap kios-kios di depannya. Kios pakaian, kios permainan, kios makanan. Ya biasanya kios makanan menyediakan cupcake rasa coklat. Mereka juga pasti menyediakan soda. Luhan menepis gambaran itu, tersenyum tipis, dan berjalan ke sebuah kios ramalan. Namun langkahnya dihentikan oleh seseorang.
"Luhan…" Seorang namja perawakan super manis menarik lengan Luhan. "Xi Luhan?" Namja itu berusaha menarik perhatian Luhan.
Luhan mendesah pelan kemudian membalikkan badannya, menatap namja yang berdiri di hadapannya sekarang. Namja itu—seperti yang kubilang tadi—berperawakan super manis, mata hitam yang bulat, rambut coklat karamel terang, bibir yang sedikit penuh—yang Luhan jamin akan terlihat sangat sexy jika tersenyum. Detik berikutnya Luhan telah membelalakkan matanya.
#KECUP
D.O sedang berdiri di depan rumahnya. Ia sesekali mengeluarkan Smartphonenya, melihat apa ada SMS yang masuk. Sudah sepuluh menit D.O berdiri seperti sekarang ini, menunggu kedatangan seseorang. D.O mengenakan setelan Tuxedo pilihan Luhan kemarin, memadunya dengan pantopel Leii, dan ia juga melapisi tubuhnya dengan 'Mantel' agar tetap hangat. Ketika D.O memutuskan untuk menelpon saja, orang yang ditunggunya telah tiba di halaman rumahnya. Dan tidak main-main Suho mengendarai sebuah limo.
Suho turun dari kursi penumpang dengan sangat anggun. Ia memakai Tuxedo senada dengan yang D.O pakai. Ia juga memakai dasi kupu-kupu yang terlihat sangat cocok dengannya. Senyum malaikat itu terpatri di wajahnya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk mengajak D.O masuk ke dalam limo. D.O menerima uluran itu—sangat gentle, D.O pikir—sambil tersenyum ke arah Suho. D.O ikut saja saat Suho menuntunnya ke dalam limo mewah itu.
Penyegar kendaraan menyambut penciuman D.O ketika ia telah di dalam limo. Aroma buah, kesukaan D.O. Suho duduk tepat di samping D.O, menyebarkan wangi khas Aquanya ke pada D.O. Untuk sejenak D.O berpikir agar waktu tidak berjalan melainkan merangkak. Supaya ia bisa sedikit lebih lama menikmati suasana yang menenangkan ini. Limo melaju dengan tenang menyusuri jalanan kota Seoul yang sedang ramai-ramainya tapi tidak sampai menyebabkan macet. Suho tampaknya sengaja menyewa limo ini, sengaja menyewa supir limo profesional ini, sengaja untuk menggunakan penyegar aroma buah ini, untuk dirinya. Ya, hanya untuk D.O seorang Suho akan setotal ini.
D.O tersenyum menyadari betapa GR-nya ia sekarang. Suho yang melihat tingkah aneh D.O itu menyubit pipinya D.O gemas.
"Kau senang?" Suho bertanya dengan lembut. Seperti alunan musik. Tidak, suara Suho selalu seperti aliran air sungai bagi D.O
"Hyung, kau tau kau tidak perlu melakukan ini." D.O menatap Suho sambil tersenyum. Sepertinya D.O selalu tersenyum jika berada di dekat Suho. Selalu seperti itu.
"Aku ingin melakukannya. Perlakuan luar biasa sudah sepantasnya didapat oleh calon The Wolf selanjutnya." Suho menepuk-nepuk kepala D.O pelan.
"Gomawo hyung~" D.O mendekat ke arah Suho, mencium pipinya lembut. Kalau saja D.O tidak bertemu dengan Kai di EXO HS ini, D.O pasti akan berakhir masih dengan status namjachingu-nya Suho. D.O bertemu dengan Suho saat acara penerimaan siswa baru.
Suho yang memang sudah sangat populer di EXO HS, kala itu datang menemui D.O yang sedang duduk di deretan para siswa baru. Suho memegang sebuket bunga mawar merah dan menyerahkannya ke pada D.O dengan gentle-nya. Suho mengeluarkan senyuman malaikatnya. Lalu ia berkata "Be Mine?". Tentu saja D.O menerima buket mawar itu namun ia tidak langsung menerima Suho. Butuh seminggu buat D.O untuk memutuskan bahwa ia menerima Suho. Namun setelah satu semester belajar di EXO HS, Kai menggantikan guru biologi sebelumnya untuk mengajar di kelas XA. Dan poof, D.O jatuh cinta begitu saja dengan Kai. D.O jatuh cinta dengan senyuman Kai. D.O jatuh cinta dengan rambutnya Kai. D.O jatuh cinta dengan bibirnya Kai. D.O jatuh cinta ke pada semua yang ada di diri Kai. D.O kemudian memutuskan hubungan dengan Suho. Ia beralasan bahwa Suho harus fokus dengan kelulusannya sekarang, mengingat Suho telah kelas tiga. Dan seperti biasa, Suho yang selalu mementingkan D.O di atas segalanya menerima keputusan D.O saat itu juga.
D.O mengalihkan pandangannya ke luar kaca limo. Toko-toko di pinggir jalan yang masih buka terasa begitu menggoda. Pikirannya tentang hal tadi sungguh mengganggunya. Dia dan Kai tidak akan bersatu, D.O tahu itu. Sial! Semua orang juga tahu kalau D.O tidak akan bisa memiliki Kai seperti istrinya Kai yang memilikinya dengan sah. D.O kemudian menatap Suho sekali lagi, mungkin akan mudah baginya jika ia bersama Suho. Mungkin memang dari awal harus seperti itu.
"Mau melakukannya Kyungie?~" Suho menggelitik mata D.O dengan tatapannya yang dalam.
"Apa?" D.O tidak tahu maksud dari ucapan Suho. Ia melihat Suho menekan tombol di limo itu dan seketika atap limo ini terbuka. Suho meraih tangan D.O, membuatnya berdiri. Mereka berdua berdiri dengan bagian kepala sampai dada yang terkena terpaan angin karena atap limo yang terbuka.
"Yaaa! Hyung, rambutku jadi berantakan." D.O sedikit berteriak. Angin membawa teriakan D.O ke belakang, membuat Suho tidak terlalu bisa mendengarnya.
"Bukankah ini menyenangkan Kyungie?~" Suho berteriak, ia tertawa. D.O sudah lama tidak melihat hal itu. D.O sudah lama tidak merasakan saat-saat seperti ini. D.O lalu ikut berteriak bersama Suho. Mungkin memang sedari awal harus seperti ini. D.O dan Suho.
#KECUP
"Kau pulang jam berapa?" Chanyeol duduk di atas kasurnya, melihat Baekhyun yang sedang memoles dirinya di depan cermin.
"Aku tidak akan pulang larut Yeollie." Baekhyun menatap Chanyeol sekilas, lalu ia kembali fokus dengan BB Creamnya.
"Haruskah kau pergi Baekkie?~" Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun, memeluknya dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di pundak Baekhyun, menggelitik leher Baekhyun dengan deruhan napasnya.
"Tentu saja Yeollie!~" Baekhyun menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia harus pergi. Chanyeol ada-ada saja.
"Tapi… bagaimana kalau aku rindu padamu nanti? Aku harus apa?" Chanyeol mengerucutkan bibirnya.
"Kau tau harus apa Yeollie~" Baekhyun selesai dengan mukanya. Ia membalikkan badannya menghadap Chanyeol yang sepertinya sedang sangat membutuhkan perhatiannya.
Baekhyun menatap mata Chanyeol, ia sedikit mendongak mengingat Chanyeol itu adalah seekor jerapah—jangan diartikan secara harpiah. Ia memegang pipi Chanyeol dan menyubitnya ke kanan dan ke samping.
"Yaaa Baekkie~" Chanyeol memegang tangan Baekhyun, membuat Baekhyun berhenti menyubit pipinya. "Sakit." Chanyeol cemberut.
Baekhyun berjinjit, mengecup pipi kiri Chanyeol. "Masih sakit eum?"
"Yang sebelah kanan masih sakit~" Chanyeol berkata manja.
"Baiklah~" Baekhyun mengecup pipi kanannya Chanyeol.
"Yang ini belum 3" Chanyeol menunjuk bibirnya.
"Tidak boleh. Kau akan merusak pelembap bibirku." Baekhyun tersenyum, menjahili Chanyeol adalah kesukaannya.
"Tapiiiiiiiiii" Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan memohon. Seperti ia akan mati saja kalau Baekhyun tidak melumat bibirnya sekarang.
"Aku akan terlambat paman." Baekhyun melipat tangannya di dada. Ia memasang wajah datarnya. Chanyeol tau kalau Baekhyun sudah memanggilnya dengan sebutan 'paman' itu berarti Baekhyun tidak akan mau menciumnya untuk seminggu ke depan. Dari pada mengambil resiko 'berbahaya' itu, Chanyeol mencium pipinya Baekhyun alih-alih bibirnya Baekhyun.
"Sekarang kau sudah merusak fondation-ku, paman." Baekhyun menatap Chanyeol datar. Ia tidak marah dengan Chanyeol, ia tidak bisa. Setelah semua cinta yang telah diberikan dan belum diberikan oleh Chanyeol, Baekhyun tidak akan bisa memarahi Chanyeol hanya karena ia meminta sebuah ciuman.
"Mianhae." Chanyeol menunduk, mencoba agar Baekhyun dapat memahami dirinya yang butuh akan Baekhyun.
"Serius Yeollie, aku akan terlambat." Baekhyun merendahkan nada suaranya. "Aku mencintaimu Yeollie, kau tau itu. Hanya saja…" Baekhyun menggantungkan kata-katanya.
"Yaa, aku tau. Jangan pulang larut ya chagi." Chanyeol menatap Baekhyun sendu.
"Nanti saja setelah aku pulang ne~" Baekhyun tersenyum manis ke arah Chanyeol, mengedip centil, lalu berlalu meninggalkan Chanyeol di kamar mereka.
"Ehh?" Chanyeol bengong.
1 detik
2 detik
"Ehhhhhhhh…" Chanyeol menyeringai mesum.
3 detik
4 detik
"EHHHHHHHHH" Chanyeol tertawa melihat punggung Baekhyun yang meninggalkan kamar apartemen mereka.
"Dasar orang mesum." Baekhyun berdesis, menertawai betapa dirinya selalu luluh dengan Chanyeol yang sedang cemberut. Seakan-akan Baekhyun telah melukai perasaan Chanyeol. Dan Baekhyun sangat tidak ingin melukai perasaan Chanyeol.
Baekhyun berjalan ke arah lift, menekan tombol 'BAS'-Basement, tempat mobilnya di parkir. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Baekhyun melihat pantulan dirinya di depan pintu lift. Setelan Tuxedo dengan sepatu yang senada sangat pas buat Baekhyun. Terima kasih untuk Luhan yang telah memilihkan setelan ini untuknya. Sentuhan terakhir adalah sebuah mantel bulu berwarna hitam yang membungkus tubuh mungil Baekhyun. Semuanya membuat mata ber-eyeliner Baekhyun tampak berkilau layaknya mutiara hitam. Pintu lift terbuka, dan sosok namja itu tampak oleh Baekhyun. Sial!
#KECUP
Tao menyetir mobilnya ke arah rumah sakit tempat Kris dirawat. Masih sejam lagi sebelum acara The Wolf dimulai dan Tao ingin menjenguk Kris terlebih dahulu. Ia ingin agar Kris menjadi orang pertama yang melihat dirinya dengan setelan Tuxedo emas ini. Tao ingin mendengar pujian dari Kris. Tao ingin Kris memandangnya dengan rasa kagum. Tao ingin Kris memeluknya dan memberikan sebuah nasehat siapa yang akan dipilihnya malam ini sebagai The Wolf. Tao… ingin Kris menciumnya.
Tao membelokkan mobilnya ke halaman parkir rumah sakit. Ia membawa buah-buahan segar untuk Kris. Seperti biasa Tao akan mengisi daftar pengunjung dan seorang perawat akan mengantarkannya ke kamar Kris. Tao mengetuk pintu kamar Kris sekali kemudian ia membuka pintu itu.
"Kris ge~" Tao menutup pintu kamar Kris, lalu meletakkan buah-buahan segar itu di meja nakas .
"Panda~" Kris yang tadi sedang tiduran, bangkit dan duduk di atas kasurnya dengan kaki menyilang. "Kau cantik.~" Kris berkata kemudian.
Cantik. Itu adalah kata pujian dari Kris untuk Tao atas penampilannya malam ini. Tao merona mendengar pujian dari Kris, walaupun pujian itu seharusnya untuk seorang yeoja, tapi Tao merasa ia pantas mendapatkannya.
"Xie Xie ge~" Tao memberikan sebuah apel untuk Kris.
"Kau mau ke mana?" Kris menggigit apel itu dengan sebuah gigitan besar.
"Ada pesta di sekolah ge." Tao duduk di atas kasur Kris.
"Ajak gege~" Kris menggigit apel itu lagi.
"Eum, pestanya akan membosankan ge." Tao tersenyum.
"Asal ada panda, gege pasti senang." Kris menaruh apel yang belum habis itu di meja nakasnya. Ia menatap Tao dengan pandangan memohon yang Tao bersumpah ia pasti akan memakan Kris kalau saja ia tidak ada acara malam ini.
"Eum, gege kan tidak punya jas. Gege tidak boleh ikut." Tao mengeluarkan lidahnya, menggoda Kris.
"Pelit." Kris membuang mukanya ke arah jendela kamarnya, melihat pemandang kota di luar sana yang sudah sangat ia rindukan.
Tao yang melihat arti dari pandangan Kris itu langsung berkata. "Setelah gege keluar dari sini, Tao akan mengajak gege jalan-jalan." Tao tersenyum penuh arti.
Kris memandang Tao, ia kemudian memeluk Tao. Berhasil. Kris memeluk Tao sekarang.
"Gege~" Tao benar-benar senang. Ia membalas pelukan Kris dengan sebuah pelukan yang mendesak dan erat. Tidak bisa dipungkiri Tao benar-benar merindukan Kris yang sekarang. Kris yang… normal.
"Panda… aku tidak bisa bernapas." Kris menggeliat, pertanda ia mulai sesak karena Tao yang terlampau erat memeluknya.
"Ehh,, mian mian." Tao melepas pelukannya dan mengeluarkan cengiran innocentnya.
"Tidak apa-apa panda." Kris tersenyum, terlihat sangat menggoda bagi Tao.
"Ge~ … cium" Tao mengeluarkan aegyo bbuing bbuing nya.
Kris terpesona dengan tingkah Tao. Ia benar-benar cantik, menurut Kris. Benar-benar lucu. Kris tidak bisa menolak permohonan Tao, jadi ia mendekatkan dirinya ke Tao. Kris menghapus jaraknya dengan Tao, menangkup bibirnya Tao dengan bibirnya, mengecup bibir atas Tao dengan bibirnya, menggigit bibir bawah Tao dengan giginya, menjilat bibir Tao dengan lidahnya, kemudian ia mengecup bibir itu lagi dengan bibirnya. Merasa tidak cukup, Kris mengecup pipi Tao. Ia menatap mata Tao seolah berkata 'Sudah~'.
"Lagi~" Tao baru akan mengeluarkan bbuing bbuingnya saat Kris menatapnya dengan tajam seolah berkata 'Mesum.'
"Arraseo~ Gege Tao pergi dulu ne~" Tao bangkit dan mengecup kening Kris.
"Yaaaa, cepat sekali. Panda baru saja datang kan?~" Kris memegang tangan kanan Tao, menahannya agar tidak pergi.
"Tao akan terlambat ge~" Tao berkata. "Besok Tao akan datang lagi.~"
"Janji?" Kris terdengar memohon.
"Janji." Tao tersenyum dan Kris melepaskan genggamannya.
"Tao…" Kris membuat Tao harus membalikkan badannya lagi.
"Apa ge?" Tao tersenyum lembut, ia benar-benar akan terlambat.
"Kau tau… dulu… ada satu titik di mana aku benar-benar menatapmu. Kau benar-benar cantik waktu itu—bukan berarti kau tidak cantik sekarang…" Kris mengambil apel itu lagi, menggigitnya. "Waktu SMP-mu dulu mengadakan pentas kesenian dan kau memerankan salah satu dari tiga bersaudara itu… aku benar-benar kagum."
Tao hanya diam, ia bahagia. Sungguh. Jadi Kris sudah lama memerhatikannya? Hanya saja ia tidak mengerti kenapa Kris menceritakannya sekarang. Maksud Tao, mungkinkah Kris tidak pernah benar-benar mencintai Lay?
"Ada suatu saat di mana kau bernyanyi dengan—siapa nama namja itu?" Kris menunduk, tersenyum.
"Kyungsoo. Do Kyungsoo." Jawab Tao cepat.
"Ahh…" Kris melanjutkan. "Ya, namja bermata bulat itu. Suarumu benar-benar bagus. Walaupun suaranya D.O lebih bagus~" Kris terkekeh.
"Gege…" Tao ingin sekali mendengar lebih banyak tapi ia akan terlambat ke acara The Wolf.
"Tunggu… sebentar lagi." Kris menatap lurus ke arah Tao—matanya Tao. "Hubunganku dengan Lay… tidak seperti yang kau pikir."
Apa? Apa Tao salah dengar?
"Dia… maksudku Lay… suatu malam di bulan Maret, ia datang ke rumahku. Kondisinya benar-benar kacau…" Kris meringis, ia seakan mengingat betul detail kejadian itu. Napas Kris terasa memburu, menceritakan semua ini seperti membuka luka lamanya. Kris melihat sekeliling ruangan seolah-olah Lay akan muncul saat itu juga entah dari mana kalau Kris berani bercerita lebih jauh lagi.
"Saat itu… malam itu hujan deras. Lay basah kuyup. Ia… ia kedinginan. Aku menyuruhnya masuk, aku mempersilahkan dia untuk mandi. Setelah itu ia memintaku untuk membuatkannya makanan. Ia kelihatan kelaparan. Maksudku aneh… dia itu Lay. Namja populer di sekolahmu Tao, tapi kenapa ia bisa menjadi seperti itu?" Kris memberikan jeda. Tao menegang di tempatnya berdiri sekarang. Otaknya berpikir keras. Lay memang pernah sesekali bertingkah aneh, tapi hujan-hujanan di tengah malam di bulan maret? Kelaparan? Ini semakin membuktikan kalau Tao tidak pernah benar-benar mengenal sosok Lay. Sahabatnya. Mungkin mantan sahabatnya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Kris, Tao hanya diam.
"Waktu itu aku hanya membuatkannya Mie Instan dan ia memakannya. Ia… memakannya dengan sangat lahap." Kris menunduk, memejamkan matanya, seperti menghapus jejak air mata yang hampir lolos. "Aku tidak bisa mengantarnya pulang, hujan sangat deras waktu itu."
Ini saatnya, pikir Tao. Ia tidak yakin apakah ia mampu mendengar semuanya. Tao tidak yakin apakah ia masih bisa berdiri tegak setelah Kris menceritakan ini semua. Tapi, kenyataan memang pahit. Keluarkan semuanya Kris!
"Aku menyuruhnya untuk menginap di rumahku. Kebetulan orang tua ku tidak ada di rumah—well mereka memang jarang berada di rumah…"
Tao dalam hati bisa menangkap arah pembicaraan Kris selanjutnya.
"Aku menyuruhnya untuk tidur di kamarku, dan aku akan tidur di sofa." Kris tidak bisa menahannya lagi. Air matanya lolos begitu saja. Tao sangat ingin duduk di sana, di samping Kris. Memeluknya, ikut menangis, menenangkannya. Tapi Tao tahan niatan itu. Ia tidak ingin Make Up nya luntur. Terlebih lagi ia sangat ingin terlihat baik-baik saja. Ia MEMANG baik-baik saja.
"Tapi Lay menahanku. Ia bilang kalau ia takut. Ia ingin aku menemaninya tidur. Hanya menemani saja… saat itu aku pikir tidak apa-apa. Aku memeluknya saat ia tertidur. Napasnya waktu itu teratur, aku tidak tau apakah ia mimpi buruk atau mimpi indah. Yang pasti ia terlihat sangat… menggairahkan malam itu. Kemejaku yang kebesaran di tubuhnya, celana pendekku yang ia kenakan… hal itu membuatku gila Tao." Kris menatap Tao nanar. Pandangannya kabur karna air mata. Napasnya tersumbat.
"Keesokan paginya… dia… aku…"
"Cukup." Tao bersuara sekarang. Suaranya pecah. Air matanya tumpah. Tapi.. sejak kapan? Sejak kapan Tao menangis? Bodoh! Untuk apa kau menangisi semua ini Tao? Apa Tao menangis sedari awal? Tao tidak tahu. Tao tidak peduli.
"Tao…" Nada Kris mendengar memohon, sepertinya masih banyak yang ingin ia utarakan. Sepertinya… tapi Tao tidak ingin mendengar lebih banyak lagi. Dada Tao terasa sesak, sudah cukup kenyataan kalau Lay yang pertama menjadi namjachingu Kris. Sudah cukup kenyataan kalau Lay namja yang pertama kali Kris cium. Sudah cukup kenyataan kalau Lay orang yang beruntung yang bisa ditembak oleh Kris di halte bus itu.
"Sudah cukup Ge." Tao mengelap air matanya dengan tangannya.
"Mianhae Tao. Saat itu aku masih muda dan… bingung." Kris menunduk. "Ia merekam semua itu… dan mengancamku dengan hal itu. Ia… memaksaku menjadi namjachingunya setelah itu." Kris menidurkan dirinya.
"Tapi, aku hanya mencintaimu Tao. Selalu. Saranghae." Kris mengelap air matanya. Ia mengambil posisi tidur menghadap ke jendela, memunggungi Tao.
Tao tidak membalas ucapan cinta Kris. Kau mencintaiku, dan KAU meniduri namja pelacur itu? Hanya saja ada satu pertanyaan yang pasti terlintas di pikiran semua orang—Exotic. Dan ini kesempatan bagus. Jadi, keluarkan semua TAO!
"Kris ge, kenapa kau jadi gila sesaat setelah Lay… meninggal?" Tao bertanya, suaranya putus-putus, ia terisak.
Tanpa membalikkan badannya, Kris menjawab. "Lay menyimpan video itu entah di mana, ia menyembunyikannya. Sampai sekarang, aku tidak tau di mana ia menyembunyikannya. Aku takut rekaman itu jatuh ke tangan orang lain yang tidak bertanggung jawab. Aku takut nama baikku hancur. Nama baik keluargaku hancur. Aku takut… orang tuaku akan mengusirku dan membuatku hidup di jalanan. Aku tidak mau itu terjadi. Aku TIDAK mau!"
"Aku terus memikirkan bagaimana cara agar aku bisa mendapatkan rekaman itu kembali dan menghancurkannya. Aku terus memikirkannya sampai-sampai otakku hanya penuh dengan hal itu saja. Tapi, Lay lebih pintar. Ia pintar manipulasi. Dan ia tahu betul bagaimana cara memperdaya orang. Kau pasti yang paling tau tentang hal itu, iya kan Tao?" Kris berkata, nadanya terdengar marah. Mungkin ia marah terhadap dirinya sendiri.
Tentu saja Tao—Exotic yang paling tau semanipulatif apa Lay itu. Tapi… bagaimana Kris bisa tau kalau Lay juga mengancam kami dengan rahasia yang kami punya—para Exotic?
"Selain rekaman itu… aku… kita semua punya rahasia Tao." Kris berhenti, ia memejamkan matanya.
DEG.
Tao meringis mendengar kata Rahasia. Tentu saja semua orang punya Rahasia. Lay—pelacur yang sudah mati itu sangat mengetahui apa makna dari kata itu.
Rahasia, membuat sahabat tetap bersama.
"Dan… Lay mengetahui rahasiaku yang lain. . Dan namja sialan itu mati di saat aku masih belum yakin apakah rahasiaku aman bersamanya di dalam kuburan atau tidak. Itu yang membuatku menjadi gila. LAY yang membuatku menjadi gila." Kris melanjutkan.
Rahasia Kris? Memangnya apa yang lebih buruk selain rekaman porno itu? Satu lagi yang membuktikan bahwa Tao tidak pernah mengenal Kris dengan baik.
"Aku tidak akan datang menjengukmu lagi Kris ge. Tidak besok. Tidak juga lusa. Aku… membencimu." Tao berlari, ia membanting pintu kamar Kris saat ia melewatinya. Ia sangat kecewa. Baru beberapa menit ia merasakan cintanya Kris. Setelah itu, ia malah ditampar dengan semua pengakuan Kris.
Tanpa bisa di dengar oleh Tao lagi, Kris mendesis dalam tidurnya. "Kau akan menemuiku lagi Panda. Suka atau tidak." Kris lalu tersenyum dalam mimpi-mimpi buruknya.
#KECUP
AKHIRNYA THE WOLF CHAPTER 1 BISA DIPUBLISH JUGA :3
TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SETIA MENUNGGU KELANJUTANNYA.
AUTHOR TIDAK TAHU BAGAIMANA NASIP FF INI TANPA REVIEW DARI KALIAN YANG MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT WKWKWK :P
JANGAN LUPA MAMPIR DI FF AUTHOR YANG BARU. JUDULNYA : (STARS) sama (CRISIS)
Itu dua judul yang berbeda loh -_-
#PROMOSI
AND MY LAST WORDS
THANKS FOR READING :)
AND REVIEW PLEASE
#AEGYO BARENG XIUMIN
