Title : The Wolf

Author : XiuMinSeok

Length : Chapter

Genre : YAOI/School Life/Drama/Romance/Friendship/Mystery(?)

Cast : Exotic (Yang belum tahu, baca cerita sebelumnya : Popular but Liars dan The Perfet)

Rate : T

Warning :

Yaoi, BL, Typo, No Siders

so don't like don't read!

XiuMinSeok

present

The Wolf

Chapter 2 : Kyungsoo yang Linglung

Terinspirasi dari Novel Karangan Sara Shepard

Pretty Little Liars

Author hanya mengambil part seperti;

Geng yang beranggotakan 4 orang dan Musuhnya

Tapi alur cerita murni dari otak author sendiri

So DO NOT COPY MY FF

.

.

.

.

.

DISCLAIMER

EXO Member bukan punya author, tapi punya sang Pencipta, Keluarga, Sment

Author Cuma pinjam mereka buat FF ini doang

Chapter yang ini kayaknya agak menguras energy. Tolong para readers untuk mencerna baik-baik kata-kata yang absurd ini -_- btw THANKS YG UDAH REVIEW AUTHOR CINTA KALIAN :D

HAPPY READING :3

Kemarin, saat Suho mengajak D.O untuk pergi bersama ke acara The Wolf ini, Suho sepertinya sangat senang. D.O juga senang. Suho memberi D.O sebuket bunga mawar—kebiasaan Suho—, ia mengecup pipinya D.O—yang menjurus ke bibir tipisnya D.O—, dan menjemput D.O dengan menggunakan sebuah Limo. Dan siapa yang tahu? Mungkin setelah ini—setelah D.O mendapatkan gelar The Wolf… mungkin—Suho akan mulai mengajak D.O berkencan lagi.

Tapi sekarang, D.O dan Suho sudah tiba di acara The Wolf—tiba di halaman sekolah EXO HS lebih tepatnya—dan D.O merasakan ada sesuatu yang… salah. Tubuh D.O terasa panas, lalu dingin, dan perutnya terasa tidak nyaman, sakit. Tangan Suho terasa terlalu kasar jika dibandingkan dengan Kai. Oh bahkan setelah apa yang Suho lakukan untuknya malam ini, D.O masih belum bisa melupakan Kai.

D.O merasa sangat gelisah sehingga saat mereka berdua berjalan ke arah belakang sekolah tempat berlangsungnya Bazaar, D.O dan Suho tidak mengucapkan satu kata apapun. Dari sini, semua tampak begitu kaku dan waspada. Kemeriahan di sini bahkan tidak membantu D.O sama sekali untuk mendapatkan ketenangan. D.O mencuri pandang ke arah wajah Suho yang sedang melihat-lihat stand yang ada di Bazaar itu. Menurut D.O, Suho tampak begitu… santai. Ia terlihat bahagia. Sangat terbalik dengan apa yang D.O rasakan sekarang. D.O mungkin masih menyayangi Suho, tapi itu hanya sebatas Hyung dan Saeng. Hati D.O sekarang penuh dengan rasa penyesalan karena hubungannya dengan Kai yang tidak kunjung… berhasil. Seolah-olah sedari awal hubungan D.O dan Kai akan berhasil saja.

Suho menuntun D.O ke sebuah stand boneka. D.O benar-benar tidak suka ini. Tidak. D.O suka boneka, hanya saja D.O sudah tahu kalau Suho akan membelikannya satu dari sekian banyak boneka yang dipajang. Itu yang D.O tidak suka. Semakin banyak Suho melakukan sesuatu untuknya, membelikan sesuatu untuknya, itu berarti semakin besar pula rasa bersalah D.O.

Suho melepas genggaman tangannya dengan D.O, ia berjalan ke stand itu dan membelikan D.O sebuah boneka Pororo ukuran sedang. D.O tidak tahu harus bagaimana menanggapi ini semua, tapi D.O tetap mengambil boneka Pororo itu. Tangan D.O penuh. Tangan kanan memegang Suvenir acara The Wolf ini, tangan kirinya memegang boneka Pororo pemberian Suho tadi.

"Kau suka?" Suho bertanya saat mereka sudah berjalan lagi. Ia tersenyum ke arah D.O.

"Suka." D.O mendadak jadi pendiam. "Hanya saja tangannku jadi penuh." D.O mengguncang-guncang ke dua barang yang dipegangnya sekarang.

"Ah, kau benar." Suho mengambil Suvenir yang dipegang D.O, memegangnya bersama dengan Suvenirnya. "Lebih baik kita ke loker." Suho mengajak D.O untuk kembali ke gedung sekolah mereka untuk meletakkan barang-barang ini di loker mereka.

"Ne hyung." D.O menunduk sepanjang perjalanan ke loker. Bahkan setelah mereka sampai di loker masing-masing, meletakkan barang bawaan mereka tadi di sana, D.O tidak tahu harus berbicara apa lagi.

"D.O apa kau gugup?" Tanya Suho ketika ia menghampiri D.O di depan lokernya. Suho melihat Sebuket Mawar yang ia kasih pada D.O kemarin masih tersimpan rapih di dalam lokernya D.O. Suho tersenyum melihatnya.

"Ahh aniya." D.O menutup lokernya pelan.

"Jadi, apa kau senang?" Suho berusaha mencari sesuatu di mata D.O saat pandangan mereka bertemu.

"Tentu saja hyung. Terima kasih atas semuanya." D.O memaksakan dirinya untuk tersenyum. Alhasil, senyumannya terlihat menyedihkan alih-alih terlihat manis.

"Kyungsoo…" Suho memegang bahu D.O. "Kau tahu kau tidak perlu berpura-pura bahagia di depanku. Kalau kau merasa tidak nyaman atas semua yang kulakukan, aku minta maaf." Suho berkata dengan sangat lembut. Dulu, mungkin suara selembut aliran sungai ini akan membuat hati D.O melompat-lompat tak karuan, tapi sekarang D.O sadar kalau suara berat Kai yang akan bisa dan mampu menggelitik semua indra perasanya.

"Bukan begitu hyung. Aku sangat senang atas apa yang hyung lakukan untukku malam ini. Hanya saja…" D.O menggantung kata-katanya. D.O melihat mata Suho yang tampak gelap dari pencahayaan di sini. D.O merasa mata hitam Suho tidak sama seperti mata hitamnya Kai. Mata hitamnya Kai lebih gelap, lebih hitam, lebih terang, dan mampu menenggelamkan D.O di dalamnya. Seperti sebuah sumur yang tidak berdasar.

"Kyungsoo, kau tidak perlu merasa harus membalas apa yang kulakukan malam ini untukmu. Aku melakukannya karena aku sayang padamu. Bagaimana kalau aku mengatakan ini, kau tidak perlu menjadi namjachinguku atas semua ini. apa itu membuatmu merasa lebih nyaman?" Suho tersenyum lagi, matanya menatap lurus ke arah mata bulat D.O, memberikan sedikit ketenangan melalui pandangannya.

"Terima kasih Hyung." D.O tersenyum, kali ini dengan tulus. Ia bahagia malam ini, atas apa yang telah dilakukan Suho untuknya. Tapi lebih dari itu, hal yang paling berharga yang Suho lakukan malam ini untuknya adalah Suho telah menyadarkan D.O siapa yang lebih ia cintai. Dan itu adalah Kai.

"Sama-sama Burung Hantu." Suho memeluk D.O dalam sebuah pelukan hangat. Pelukan sahabat.

Kemarin, saat Suho mengajak D.O untuk pergi bersama ke acara The Wolf ini, Suho sepertinya sangat senang. D.O juga senang. Suho memberi D.O sebuket bunga mawar—kebiasaan Suho—, ia mengecup pipinya D.O—yang menjurus ke bibir tipisnya D.O—, dan menjemput D.O dengan menggunakan sebuah Limo. Dan siapa yang tahu? Mungkin setelah ini—setelah D.O mendapatkan gelar The Wolf… mungkin—Suho akan menjadi sahabat D.O yang terbaik.

#KECUP

D.O berusaha mencari-cari sahabatnya di sekitar gedung Kingman Hall—aula tempat berlangsungnya acara The Wolf yang akan dimulai sekitar setengah jam lagi. D.O sudah berpisah dari Suho setelah mereka melepas pelukan antar sahabat tadi. Sebenarnya D.O sudah menyadari ada banyak sekali fans-fans yang entah dari sekolah mana yang secara diam-diam mengabadikan momen SuDo mulai dari saat mereka memasuki gerbang EXO HS ini. sekarang, para fans itu secara terang-terangan mengambil gambar D.O yang sedang berdiri di depan sebuah layar LCD super besar—layar yang akan kau temui di konser-konser Band Rock. Layar LCD ini berfungsi untuk menayangkan kejadian apa saja yang akan terjadi di dalam Kingman Hall nanti.

Ya, untuk bisa masuk ke dalam Kingman Hall dan menyaksikan acara The Wolf secara lebih langsung, mereka yang tidak terpilih sebagai tamu undangan harus membayar lagi. Semakin banyak uang yang masuk untuk acara ini, semakin besar hadiahnya nanti. Bukankah begitu?

"Aishh. Mereka di mana hmm?" D.O beberapa kali mencoba untuk menghubungi sahabat-sahabatnya. Tapi nihil, tak satupun dari mereka yang menjawab panggilan D.O.

D.O melihat sekeliling, siapa tahu ia akan melihat sosok yang ia kenali sebagai sahabatnya. D.O mengigit bibir bawahnya frustasi. Teman-temannya benar-benar tidak tampak di manapun. D.O menimbang-nimbang apa ia harus menghubungi Suho untuk menemaninya lagi, tapi D.O menepis keinginan yang menurut D.O sangat egois itu. D.O mengedarkan pandangannya sekali lagi dan ia merasa aneh. Tubuhnya mendadak menegang. Seperti ada yang sedang mengawasi D.O sekarang. Well, D.O memang sedang diawasi oleh para fanboynya yang seakan-akan semakin bertambah saja, tapi bukan diawasi seperti itu. Ini perasaan yang lebih intim, maksud D.O adalah D.O merasa kalau ia sedang ditelanjangi oleh pandangan seseorang diujung sana. Seperti Teman Lama.

Teman Lama, semenjak ide Tao untuk memblokir semua nomor yang tidak ada di kontak Smartphone mereka—Exotic—, pesan-pesan mengancam tidak lagi mereka terima. Hanya saja D.O merasa kalau semua ini belum selesai. Lebih dari itu, D.O masih penasaran dengan sosok misterius itu. Mungkin bukan penasaran, tapi takut. Yeah, D.O memang takut dengan Teman Lama itu. Seharusnya akan lebih baik kalau Teman Lama itu masih mengirimkan pesan-pesan mengancam yang terdengar menggertak itu ke pada para Exotic. Dengan begitu D.O dan para sahabatnya akan tahu kalau rahasia mereka masih aman dan belum bocor ke mana-mana. Kalau sudah seperti ini, D.O jadi tidak tahu apakah Teman Lama itu telah memnyebarkan rahasianya atau belum. Namun, ia juga berterima kasih ke pada idenya Tao. Setidaknya, D.O bisa merasa sedikit lebih tenang dibandingkan beberapa minggu terakhir ini. Tapi memang bukannya seperti itu ya? Tenang sebelum Badai.

D.O mengamati wajah setiap namja yang tampan nan bersih yang menyandang status sebagai fansnya di depan ia berdiri sekarang. D.O bertanya-tanya dalam hati, Apakah kau Teman Lama?

Tentu saja D.O tidak mendapatkan jawaban apa-apa. D.O melirik jam di Smartphonenya, sudah pukul 7:35 PM. D.O mencoba menghubungi Baekhyun sekarang. Butuh beberapa detik sampai nada sambungan di ujung sana terputus dan digantikan oleh suara seseorang. Suara operator yang mengatakan untuk meninggalkan pesan suara. Sialan! Apa para Exotic mulai saling mendiami satu sama lain hanya karena acara pemilihan The Wolf ini? D.O memekik dalam hatinya. Sepertinya D.O akan menunggu sedikit lebih lama lagi agar ia bisa berkumpul dengan sahabatnya.

#KECUP

D.O melangkahkan kakinya menuju sebuah tempat di mana ia bisa mendapatkan menit-menit terakhir ketenangan sebelum acara The Wolf di mulai nanti. D.O berhasil meloloskan diri dari para fansnya setelah ia tersenyum dengan sangaaat manis sambil bergumam 'Mian'. Hal itu selalu berhasil untuk menghindar dari kerumunan para fans. Hal itu adalah satu dari sekian banyak hal yang Lay ajarkan ke pada para Exotic. Terkadang D.O berpikir, Lay telah lama mati tapi kenapa ia seperti ada di mana-mana. Di setiap pilihan baju yang para Exotic itu kenakan, di setiap tindakan yang Exotic itu ambil, di setiap gaya bicara, semuanya mengandung unsur Lay. Semuanya berhubungan dengan Lay.

D.O berada di kelasnya sekarang. Kelas XA. Gedung ini benar-benar sepi, namun cukup penerangan. Keadaan kelas ini tampak rapih dan bersih. Pengharum ruangan yang menggantung di sekitar A.C, menyapa indra penciuman D.O. Hal ini sedikit menenangkan D.O.

D.O duduk di bangku guru, menyamankan posisinya dengan memutar bangku itu sesekali. D.O mengeluarkan Smartphonenya dari saku celananya, berharap ada sebuah pesan dari salah satu sahabatnya yang memberitahukan tentang posisi mereka sekarang. Tapi tidak ada satupun pesan dari mereka. D.O memandang Smartphonenya sekali lagi, memainkan jempolnya di layar sentuh itu, melihat-lihat kontak yang ada. Daftar kontak yang ada di layar sentuh itu berhenti di nama Chagiya. Sial! D.O tersenyum kecut. Ia belum menghapus kontak orang itu. Orang yang pernah dan sampai sekarang masih memenuhi hati dan pikirannya. D.O menimbang-nimbang apakah ia harus menghubungi Kai sekarang karena D.O tahu Kai pasti sedang berada di sini entah di mana atau D.O harus menghapus saja kontaknya Kai. D.O memilih untuk tidak melakukan ke duanya.

Jemari D.O mengganti tampilan Touch Screen Smartphonenya menjadi sebuah galeri foto. D.O menatap foto-foto kenangannya bersama Kai. Mulai dari foto D.O yang menggengam tangan Kai sambil tersenyum, foto D.O yang sedang mencium pipinya Kai, dan foto Kai yang sedang memegang papan selancar. Di foto itu Kai hanya mengenakan celana boxer, menampakkan ABS dan kulit tan eksotisnya, tersenyum ke arah Kamera dengan tangan kanannya yang memegang papan selancar. Waktu itu Kai mengajak D.O ke pantai. Ia berniat untuk mengajarkan D.O teknik bermain ombak dengan papan selancar itu. Namun yang terjadi adalah D.O yang hanya menonton Kai yang sedang berselancar dari tepi pantai. D.O ingat betul kala itu ia sangat bahagia. Bisa menggenggam tangan Kai tanpa harus takut orang-orang mengenali mereka sebagai murid dan guru. D.O bisa mencium pipi Kai sebanyak yang ia mau. D.O bisa melakukan pelukan posesif saat beberapa yeoja di pantai itu mengedip centil ke arah Kai. Dan lagi D.O bisa membalas ciuman Kai di bibirnya tanpa harus takut… dilabrak oleh istrinya Kai.

Jempol D.O menggeser foto yang tadi dan layar sentuh Smartphonenya D.O menampilkan foto Kai dan D.O yang sedang tersenyum dengan seekor anak anjing di tengah-tengah mereka. Anak anjing itu berbulu coklat terang. D.O membelikan anak anjing itu sebagai hadiah untuk Kai. Namun umur anak anjing itu tidak lama. Hal itu membuat Kai terpukul karena ia merasa ia tidak sanggup menjaga anak anjing itu. Kai merasa kalau ia juga tidak bisa menjaga D.O.

D.O masih ingat apa yang ia katakan untuk menenangkan Kai. "Sudahlah. Kita semua juga akan pergi suatu hari nanti dan tidak ada yang perlu disalahkan atas itu semua. Dengan kau berada di sini bersamaku, memelukku, menggenggam tanganku, menciumku, mencintaiku sepenuh hatimu. Itu sudah cukup Kai. Sudah lebih dari cukup malah. Kau hanya perlu berada di sisiku dan aku juga akan berada di sisimu. Selama-lamanya." Kata D.O sambil memeluk Kai, menenangkannya.

Saat itu D.O tidak tahu kalau arti dari selama-lamanya itu hanya berlangsung satu semester saja. D.O lagi-lagi tersenyum kecut. Logika dan hatinya berjalan berlainan arah. Perasaan dan pikirannya tidak berteman dengan baik sekarang. D.O masih mencintai Kai. D.O harus meninggalkan Kai. D.O masih menginginkan Kai. D.O tidak boleh merusak rumah tangga Kai. Air mata D.O tidak bisa ditahan lebih lama lagi setelah foto dilayar berganti dengan foto Kai yang sedang memegang papan tulis kecil. Di papan tulis kecil yang sedang dipegang Kai waktu itu tertulis satu kata yang ditulis dengan huruf besar 'SARANGHAE.'. D.O mengelap air matanya kasar. Bodoh. Do Kyungsoo bodoh. Kau merusak riasanmu.

D.O menatap foto itu dalam sebuah kesunyian yang menyakitkan. Sambil terisak D.O berkata "Nado saranghae Kim Jong In. Jeongmal Saranghaeyo." D.O melihat layar Smartphonenya menampilkan sebuah image amplop surat yang berarti ada sebuah SMS masuk. Mungkin dari salah satu sahabatnya. Atau mungkin… tidak. Sepertinya para Exotic ini tidak dibiarkan merasakan apapun kecuali ketakutan. Bahkan—dalam kasus D.O sekarang—mereka tidak dibiarkan untuk merasakan sedikit kenangan manis. Sama sekali tidak boleh. Dan yang tidak membolehkan hal itu terjadi adalah Teman Lama.

Jangan bilang aku tidak menyayangimu Kyungsoo. Kecup— Teman Lama

D.O membulatkan matanya sempurna sekarang. Si brengsek ini masih bias menerornya. Tapi bagaimana bisa? Semua nomor yang tidak ada di kontak sudah D.O blokir kemarin. Pesan ini memiliki attach file gambar. D.O melihat gambar itu… sebuah kertas. Sebuah surat lebih tepatnya. D.O tidak tahu ia harus merasa senang atau sebaliknya melihat foto surat ini. Bisa dibilang ia senang, karena Kai sudah menceraikan istrinya. Setidaknya, itu yang dikatakan sang surat ke pada D.O.

#KECUP

Setelah keluar dari kamar mandi, D.O merasa kalau dirinya sudah cukup kembali seperti sedia kala. D.O yang populer. Bukannya D.O yang menangisi hubungan terlarangnya dengan seorang gurunya yang telah memiliki istri. D.O berjalan dengan anggun menuju Kingman Hall. Fansnya D.O setia mengekor dibelakangnya. Terakhir kali D.O mengecheck waktu di Smartphonenya, sekarang sudah pukul 7:50 PM. Seharusnya Kingman Hall sudah dibuka sekarang dan para hadirin sudah bisa masuk. D.O sedikit mempercepat langkahnya, berharap para sahabatnya sedang menunggunya di depan pintu masuk.

Dugaan D.O benar. Luhan, Baekhyun, dan Tao sedang menunggunya di depan pintu masuk. D.O tersenyum bahagia. Ia tidak pernah sebahagia ini melihat para sahabatnya. Mungkin setelah kata apapun yang keluar dari mulut sahabatnya, D.O akan merasa lebih baik. D.O membenarkan mantelnya yang membungkus setelan Tuxedonya.

"Kalian darimana saja? Kenapa tak mengangkat telephoneku eoh?" D.O bertanya entah ke pada siapa. Ke semua sahabatnya, mungkin?

"Telephonemu?" Baekhyun membeo.

"Iya. Aku menelponmu tadi Baekkie. Kau juga Luhan. Tentu saja aku juga menelponmu panda." D.O mempoutkan bibirnya. Ia merasa kalau temannya sedang mempermainkan dirinya.

"Kau bercanda?" Nada Luhan terdengar menggantung. Luhan sepertinya tidak yakin apa kata-katanya barusan adalah pertanyaan atau pernyataan.

"Tidak Lulu. Aku serius." D.O mengeluarkan ekspresi datarnya. Mata bulat D.O tampak lebih besar sekarang. Apapun yang ke tiga sahabatnya sedang berusaha lakukan sekarang untuk mempermainkannya sudah tidak lucu lagi bagi D.O.

"Aku tidak menerima panggilan darimu Kyungie." Tao mengeluarkan Smartphonenya dan memperlihatkan riwayat panggilannya ke pada D.O.

"Kau kan bisa saja menghapusnya." Kata D.O setelah ia melihat riwayat panggilan di Smartphone Tao. "Lagian aku punya bukti." D.O mengambil Smartphonenya dari saku celananya, memperlihatkan riwayat panggilannya.

Luhan, Baekhyun, dan Tao mengernyit serentak ketika mereka melihat riwayat panggilan di Smartphone D.O. Di sana memang menunjukkan kalau D.O beberapa kali berusaha untuk menghubungi mereka, tapi seperti yang mereka bertiga bilang tadi. Mereka tidak menerima panggilan apapun dari D.O. Bahkan tidak juga dengan Missed Call.

"Aneh." Gumam Luhan.

"Serius D.O, kami benar-benar tidak menerima panggilan apapun darimu." Baekhyun menatap D.O. Sepertinya Baekhyun sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam Kingman Hall.

"Apa Smartphoneku rusak ya?" D.O bergumam untuk dirinya sendiri. Ia kemudian mencoba menghubungi Tao, mengecheck apakah memang benar kalau Smartphonenya rusak.

"Aku menghubungimu sekarang Tao." D.O mendekatkan Smartphonenya ke telinga kanannya, mendengar nada sambungan di ujung sana.

"Aku tidak menerima panggilanmu Kyungie sayang." Tao menunjukkan Smartphonenya malas. Layar Smartphone Tao tidak menunjukkan apa-apa.

D.O memutuskan sambungannya. "Apa kalian memblokir nomorku?" D.O bertanya yang lagi-lagi entah ke pada siapa. Well, itu terdengar seperti tuduhan mengingat D.O menghela napasnya berat.

"Memblokir nomormu?" Baekhyun membeo. Lagi.

"Kau bercanda?" Luhan sekali lagi tidak yakin apakah ia bertanya satau mengutarakan pernyataan. Sepertinya para Exotic malam ini sedang menyukai gaya pengulangan nada bicara.

"Tentu saja tidak Kyungsoo. Itu tidak mungkin." Tao menghentakkan kakinya kecil. Ia kemudian mengambil langkah pertama memasuki Kingman Hall yang kemudian diikuti oleh Luhan dan Baekhyun.

D.O masih terpaku di depan pintu masuk Kingman Hall. Ia menatap Smartphonenya. Benda kotak itu tidak rusak. Hanya saja keanehan Smartphone D.O itu menunjukkan tanda-tanda kalau nomornya diblokir oleh para Exotic. Tapi apa keuntungan Exotic memblokir nomornya D.O? Lagi pula pemikiran itu tidak masuk akal.

D.O kemudian melihat kontak-kontak di Smartphone itu. Saat mata D.O melihat kontak bernama Chagiya, ia langsung menelponnya. Nada sambungan terdengar beberapa detik sebelum akhirnya terputus dan digantikan oleh suara beratnya Kai.

"Yeoboseo?" Kai berkata di seberang.

D.O diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Satu hal yang pasti, Smartphone D.O tidak rusak. Buktinya ia bisa menghubungi Kai. Dan lagi. Entah apa alasannya nomor D.O memang diblokir oleh para Exotic itu.

"Hallo?" Kai berkata sekali lagi. "Ini nomor siapa?"

Ha? D.O membulatkan matanya. Ia segera memutuskan sambungan panggilannya dengan Kai. Apa Kai sudah menghapus kontakku? Itu lah yang D.O pikir. Tapi sepertinya itu tidak mungkin. D.O sangat yakin kalau Kai masih menyimpan kontaknya. Lalu kenapa Kai bertanya seolah-olah yang menelponnya tadi tidak ada di daftar kontaknya? D.O benar-benar tidak tahu jawaban atas keanehan ini. Kalau Baekhyun mungkin akan langsung bisa menebak apa yang terjadi sekarang. Tapi D.O membutuhkan sehari atau dua hari untuk bisa mencerna ini semua.

D.O melihat Smartphone yang tengah digenggamnya sekali lagi. Daftar kontak yang ada di Smartphone itu sama seperti Smartphone yang biasa ia gunakan. Galeri yang ada di Smartphone itu sama seperti Smartphone yang biasa ia gunakan. Hanya saja ada yang aneh. Butuh beberapa detik untuk D.O agar bisa menyadarinya. Smartphone D.O seharusnya berwarna Hitam, bukannya Silver seperti yang ia pegang sekarang. Bahkan D.O baru sadar kalau Smartphonenya ditukar. Jadi, karena itu lah Teman Lama bisa mengirimi D.O SMS itu.

Mengingat nomor Smartphone yang dipegang D.O sekarang tidak ada di kontak Kai. Mengingat nomor Smartphone yang dipegang D.O sekarang diblokir oleh Exotic. Berarti kemungkinannya hanya satu. Smartphone D.O telah ditukar oleh seseorang dan siapapun orang yang menukar Smartphone D.O itu menduplikasi isi-isi dan konten-konten yang sama persis dengan yang ada di Smartphone D.O yang asli. Dan lagi-lagi, kemungkinannya hanya satu. Orang yang sanggup melakukan ini semua adalah dia. Teman Lama.

Tao membalikkan badannya, sedikit berteriak ke arah D.O yang masih berada di luar Kingman Hall. "Kyungsoo acaranya di dalam sini."

D.O mendengar panggilan Tao dan tersadar dari lamunannya. Berarti benda kotak yang ada di tangannya sekarang adalah benda kotak yang sama yang dijadikan alat untuk menerornya. Meneror Exotic. D.O menatap ke kerumunan yang ada di hadapannya sekarang. Salah satu di antara mereka pastilah si brengsek itu. D.O menggenggam Smartphone palsu miliknya itu dengan kuat. Ingin sekali ia membanting benda itu sekarang. Tapi itu akan menarik banyak perhatian jadi D.O lebih memilih menyusul ke tiga sahabatnya di dalam Kingman Hall.

Smartphone palsu milik D.O berbunyi tanda e-mail masuk. Bahkan si brengsek itu menyamakan nadanya. Tidak perlu terkejut. SMS itu memang dari Teman Lama:

Baru sadar? Smartphone itu memang punyaku. Kecup— Teman Lama.

D.O membulatkan matanya lebar. Tao yang melihat keanehan D.O saat membaca apapun yang ada di Smartphonenya sekarang berjalan mendekati D.O.

"Dari siapa Kyungsoo?" Tao terlihat khawatir. Separuh dirinya yakin kalau yang mengirim apapun itu ke pada D.O adalah Teman Lama. Separuh diri Tao juga yakin kalau itu bukanlah dari Teman Lama, mereka telah memblokir semua nomor yang tak dikenal. Iya kan?

"Ini dari orang tuaku." D.O berbohong.

"Kenapa kau terkejut kalau begitu?" Tao sedikit lega karena itu bukan dari Teman Lama. Berarti rencana mereka berhasil.

"Mereka akan pulang cepat. Karena itulah aku terkejut." D.O berjalan kemudian, menyusul Luhan dan Baekhyun.

"Yaaaa! Do Kyungsoo tunggu aku!" Tao sedikit berlari karenanya.

#KECUP

FLASHBACK ON

Teman Lama POV

Seharusnya sebagian orang sudah menghabiskan malamnya di rumah dan bukannya mengendap-ngendap di ruang loker di sekolahan seperti sekarang ini. Tapi sayangnya aku masih harus melakukan sesuatu di sekolah sialan yang penuh dengan para pembohong manis ini. Tepatnya, aku harus mencuri Smartphonenya D.O.

Kebiasaan orang-orang kaya berotak lemah seperti D.O adalah mereka selalu meninggalkan benda-benda berharga mereka di dalam loker sekolah. Pikir mereka, kalau benda itu hilang mereka bisa membeli lagi yang baru. Tentu saja mereka bisa membeli lagi yang baru!

Kebiasaan lama D.O ternyata tidak berubah. Sekarang aku sudah mengenggam Smartphonenya dan menukarnya dengan punyaku. Well, aku tidak bodoh. Aku sudah melakukan aksi penyerupaan yang luar biasa mirip terhadap Smartphone yang aku tukarkan. Ya, kecuali warna Smartphone itu. Tapi percayalah padaku, D.O tak akan menyadarinya kecuali aku membantunya.

Aku melangkahkan kakiku keluar sekolah. Sesaat setelah aku membanting Smartphonenya D.O dan membuang bangkainya di dalam tempat sampah non organik, aku menuju sebuah mobil yang terpakir tak jauh dari gerbang EXO HS ini.

"Sudah kulakukan." Aku berkata ke padaNYA.

DIA hanya mengangguk. Hal yang menyebalkan. Aku telah menghabiskan energiku malam-malam begini untuk melakukan perintahNYA, dan DIA hanya mengangguk? Well, aku sudah tidak terkejut lagi. Itu memang sudah sifat si brengsek itu.

#KECUP

AKHIRNYA THE WOLF CHAPTER 2 BISA DIPUBLISH JUGA :3

TERIMA KASIH BUAT KALIAN YANG SETIA MENUNGGU KELANJUTANNYA.

AUTHOR TIDAK TAHU BAGAIMANA NASIP FF INI TANPA REVIEW DARI KALIAN YANG MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT WKWKWK :P

JANGAN LUPA MAMPIR DI FF AUTHOR YANG BARU. JUDULNYA : (STARS) sama (CRISIS)

Itu dua judul yang berbeda loh -_-

#PROMOSI

AND MY LAST WORDS

THANKS FOR READING :)

AND REVIEW PLEASE

#AEGYO BARENG XIUMIN