Title : The Wolf
Author : XiuMinSeok
Length : Chapter
Genre : YAOI/School Life/Drama/Romance/Friendship/Mystery(?)
Cast : Exotic (Yang belum tahu, baca cerita sebelumnya : Popular but Liars dan The Perfet)
Rate : T
Warning :
Yaoi, BL, Typo, No Siders
so don't like don't read!
XiuMinSeok
present
The Wolf
Chapter 5 : Arloji
Terinspirasi dari Novel Karangan Sara Shepard
Pretty Little Liars
Author hanya mengambil part seperti;
Geng yang beranggotakan 4 orang dan Musuhnya
Tapi alur cerita murni dari otak author sendiri
So DO NOT COPY MY FF
.
.
.
.
.
DISCLAIMER
EXO Member bukan punya author, tapi punya sang Pencipta, Keluarga, Sment
Author Cuma pinjam mereka buat FF ini doang
Ada yang masih menunggu FF ini? Saya harap kalian tidak lelah menunggu T.T
"Lay selalu suka pesta." Pria tinggi yang memiliki wajah super duper imut itu tengah memainkan jemari telunjuknya di atas sebuah 'case' yang berisi banyak varian cupcakes. "Kau masih suka cupcakes kan, Luhan?" Pria itu berbalik, menatap Luhan yang tampak kebingungan dengan kehadirannya.
"Aku..." Luhan terbata. Mata rusanya membulat dan dadanya berdetak tidak karuan. 'Apa yang dilakukannya di sini?' Luhan membatin. Ia mengelap tangannya yang berkeringat di saku belakang celananya.
"Aku pesan yang ini..." Pria itu berkata ke pada seorang pramuniaga yang berdiri kikuk memandangi pesona dirinya. Tidak diragukan, pria ini benar-benar tampan. Ia mengenakan setelan McQueen-yang-hanya-ada-lima-potong-di-DUNIA, sepatu Boots ukuran 43—menjelaskan kenapa badannya terlihat seperti olahragawan, bahkan Belt berdiameter 5 cm itu sangat serasi dengan warna hitam Tuxedo sang Pria. "Yang ini juga..." Ia melanjutkan, menggigit jarinya sebentar. "Yang ini, dan yang ber-cream putih itu."
Luhan memperhatikan gerak-gerik sang Pria. Bahkan ia bisa sangat sempurna dalam memesan beberapa cupcakes. Tapi Luhan tahu sekali apa arti dari sempurna itu. Dan dalam kasus sang Pria, Luhan tidak ingin terlalu cepat menilai. Luhan mengambil ponselnya dan mengetik pesan singkat ke pada seluruh EXOTIC; "S.O.S".
"Luhan..." Pria itu menyodorkan sebuah cupcakes ke arah Luhan. "Rasa coklat." Pria itu tersenyum—kelewat manis—menampakkan sepasang dimple yang mengingatkan Luhan terhadap seseorang.
"Umh..." Luhan memasukkan Smartphone-nya kembali ke dalam saku. "Anda tahu..." Luhan melirik tidak suka pada si tidak bersalah cupcakes coklat. "Lay melarangku memakan cupcakes." Luhan tersenyum licik, ia tidak suka bagaimana Pria di depannya ini mengintimidasi dirinya. Luhan menarik napas dalam, matanya memicing menatap sang Pria—ia lebih tinggi beberapa inci dari Luhan, membuatnya harus menaikkan dagunya sedikit, membuka bibir tipisnya dan berbicara dengan nada yang anehnya terdengar 'menyenangkan'. "Jadi, apa keperluan anda di sini tuan Zhang?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau..." Sang Pria tergelak pelan. "Ada apa denganmu Luhan? Kalian berempat biasa memanggilku h-E-nry." Sang Pria a.k.a Henry a.k.a Appanya Lay menggigit cupcakes coklat yang dipegangnya sedari tadi. Dimple di ke dua belah pipi Henry tetap timbul ketika ia mengunyah cupcakes. Dan sialnya, itu mengingatkan Luhan dengan Lay.
.
.
.
.
.
#KECUP
.
.
.
.
.
Damn you boys! Where are you guys? We're in trouble!—Luhan mengetik pesan yang sama untuk ke tiga kalinya dalam lima menit terakhir. Hell! Ini merupakan menit-menit menyiksa Luhan. Menunggu teman-teman populermu bersama Appa teman populermu yang lain—yang telah mati, Luhan benar-benar akan membunuh kelinci jika ia harus menghabiskan waktunya lebih lama lagi dengan Henry di gedung C yang terletak di sayap kiri Kingman Hall—tempat mereka menyimpan semua wardrobe para kontestan.
"Luhan, aku janji hanya meminjam waktumu sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan— ugh! Pria gendut itu benar-benar lamban. Sekarang kau mengerti kan Luhan? Lemak itu tidak baik!" Henry kembali melihat arloji yang ia kaitkan di sela kancing Tuxedonya. Ia tampak frustasi, ketika ia menggigit bibir bawahnya sebal, sang pria gen—jarang olahraga itu masuk ke dalam ruangan wardrobe khusus siswa EXO HS ini, dengan tangan penuh Paper Bag dan sebuah kereta gantungan baju—semua Hangernya tergantung benda-benda designer—yang ia dorong dengan kakinya.
'Apa itu tadi?' Pikir Luhan. 'Duh. Like father like son'. Dari tempat Luhan berdiri sekarang, ia bisa mendengar sang pria jarang olahraga itu mengucapkan kata maaf sebanyak dua kali setiap Henry bersikap sarkatis. 'Dia bahkan terdengar seperti Lay.' Luhan tergelak dalam hatinya.
"Kau bisa membawa sisanya kemari. Dan kalau itu terlalu banyak untukmu, kau setidaknya masih punya mulut untuk berkata tolong pada rekanmu." Henry meneliti semua Hanger di kereta itu, tangannya mengisyaratkan ke pada sang pria untuk menaruh Paper Bag—yang Luhan yakin berisi aksesoris—di atas sofa di belakang Luhan.
"Maafkan aku Henry. Maafkan aku." Sang Pria itu bergegas ke manapun itu untuk mengambil sisa Branded yang belum diantarkannya kemari.
"Jadi..." Luhan menghampiri Henry yang tengah sibuk dengan dunianya, melihat betapa mewahnya malam penobatan 'The Wolf' dengan semua Branded yang tergantung di sana. Keuntungan lainnya yang bisa kau dapat dari acara ini adalah; kau bisa memilih apa pun untuk tiga sesi 'The Wolf' dari ruangan wardrobe ini, dan... kau BISA membawanya pulang. YA! Itu semua menjadi milikmu. Dan Luhan tahu kalau ia akan mau sekali mengenakan sepatu manapun yang ada di bagian bawah kereta itu—asal—bermerek Louis Voiton. "Kau mengatur semua yang akan kami kenakan malam ini?" Luhan tersenyum, ia membantu Henry mengurutkan 'Leather', 'Sintetik', 'Vintage', dan 'Gross' pada tempatnya.
"Kau tahu aku tidak akan mengecewakan kalian." Henry sedikit tersinggung dengan ucapan Luhan barusan, tapi ia tidak marah. "Kau tidak meragukanku kan?" Henry menepuk pucuk kepala Luhan pelan.
"Tentu saja tidak, Henry!" Luhan tertawa. Ia tidak bisa berbohong kalau—meskipun agak sedikit takut kenapa Appanya Lay tiba-tiba muncul seperti ini—ia merindukan Paman Henry sama seperti ia merindukan Lay. "Lay bilang ia punya penasehat fashion terbaik. Jadi, bodoh sekali kalau aku meragukanmu."
Henry terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. "Lay berkata seperti itu?" Matanya mendadak sendu, dan Henry berkedip beberapa kali.
"Iya..." Luhan melunak, ia pasti menggores luka lama. "Setiap ia mengenakan pakaian baru dan kami bertanya dari mana ia mendapatkan semua itu, Lay akan menjawab 'Penasehat fashionku yang memberikannya'". Luhan bisa melihat bahu Henry bergetar, namun detik berikutnya kembali menegang, seperti punggung kucing yang secara mengejutkan bersentuhan dengan air.
"Haaah~" Henry mengambil sebuah Belt Hermes yang dipegang Luhan dan meletakkannya ke golongan 'Vintage'. "Anak itu bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih secara langsung padaku." Henry mengedipkan matanya lagi sampai beberapa kali dan ia menelan ludahnya kasar.
"Henry..." Luhan mendekat. "Paman, maafkan aku." Luhan menatap Henry lekat, ia tidak bermaksud membuat Pria tampan yang sebenarnya tengah dalam masa 40-an ini bersedih.
"Ahh~ Kau tidak... kau tidak perlu minta maaf Luhan." Henry mengelus pipi Luhan lembut, seperti ia mengelus anaknya sendiri. Ia benar-benar merindukan Lay. "Kau tahu, dari ke empat namja lainnya, kau adalah kesukaan Lay." Benar-benar 'Like father Like son'. Henry berubah kembali menjadi Henry yang sebelumnya. Ia tenang dan... kembali mengintimidasi. Bagaimanapun, Henry sangat sayang dengan Lay. Ia bekerja mati-matian hanya untuk kebahagiaan Lay. Ia menaruh impian-impian masa mudanya pada Lay. Dan tidak mengenali jasad anakmu sendiri karena hangus terbakar api, Henry tidak percaya begitu saja kalau Lay—anaknya yang manis, tapi pembohong itu—sudah mati. Ia bahkan menuntut pihak kepolisian agar menggunakan tim forensik terbaik yang mereka punya untuk mengidentifikasi mayat yang ada di rumah pohon itu. Butuh waktu 2 bulan penuh penderitaan, tangisan, alkohol, dan mimpi buruk, bagi Henry untuk mendengar kabar dari kepolisian kalau itu adalah jasadnya Lay.
Tidak berhenti sampai di situ, Henry mulai berspekulasi kalau Lay itu dibunuh. Menurutnya—menurut para EXOTIC juga begitu—Lay terlalu pintar untuk mengakhiri hidupnya dengan cara yang konyol; DENGAN kembang api? Henry bahkan meninju polisi yang memberitahunya tentang penyebab kematian Lay. Ia menyewa detektif, dan para EXOTIC mengakhiri sisa-sisa musim panasnya dan 2 bulan awal tahun senior mereka di Junior HS, dengan diintrogasi. Untung bagi EXOTIC, setidaknya mereka dilindungi UU tentang anak di bawah umur, wali mereka dan surat-surat penyelidikan polisi, serta kebohongan manis; para EXOTIC ini bisa lolos dari kecurigaan Henry mengenai Lay yang mati dibunuh.
Well, mungkin bukan dibunuh. Luhan dan Tao hanya melakukan tugas mereka malam itu, begitu juga D.O dan Baekhyun, mereka sedang membuat film tema Love Action, yang mana pada malam itu mereka sedang merekam adegan Luhan dan Tao; memainkan kembang api di sekitar rumah pohon dan berteriak seperti remaja mabuk, saat api memakan cairan bensin yang mereka siram di sekitar rumah pohon—dan ini atas persetujuan Lay, dengan bodohnya Lay tidak melompat ke bagian belakang rumah pohon, dan ia—singkatnya—mati konyol dengan kondisi jasad yang mengenaskan.
Tidak mendapatkan apa-apa, Henry meninggalkan kota. Ia tidak pamit, bagai angin, ia pergi begitu saja. Tidak ada yang peduli, tepatnya, Lay tidak pernah benar-benar punya teman. Ia hanya memiliki pengikut (baca = EXOTIC) dan banyak pemuja. Faktanya adalah Lay memiliki lebih banyak musuh, dan sepertinya hal yang sama terjadi pada Appanya. Ini kota kecil, berisi orang-orang kaya dan menengah yang lahir dan mengakhiri hidupnya di tempat yang sama, sekalipun ada yang meninggalkan kota, pasti akan ada yang kembali. Seperti Henry. Dan mereka yang kembali, pasti punya tujuan. Itu lah alasannya kenapa Henry tidak pernah menjual rumahnya sesaat setelah ia pergi. Sejak awal ia memang berniat untuk kembali. Entah itu untuk musuhnya sendiri. Atau... musuh anaknya.
Dan Luhan punya firasat buruk tentang hal ini, karena itu lah ia bertanya. "Kenapa aku yang menjadi favoritenya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Henry menggaruk pipi dengan telunjuknya, dan ia mencondongkan badannya ke depan, membisikkan sebuah kalimat yang terdengar bajingan untuk Luhan. "Lay pernah bilang, ia takut sekali pada rusa."
.
.
.
.
.
#KECUP
.
.
.
.
.
Luhan, aku sedang bersama Teman Lamaku. Aku akan terlambat—Baekhyun. Setidaknya Baekhyun memberi Luhan sinyal kalau ia benar-benar akan menghabiskan waktunya di ruangan wardrobe ini bersama Henry.
"Luhan bisa kau taruh ini di sana?" Dagu Henry mengarah ke sebuah lemari yang ada di pojokan. Seingat Luhan, ia telah mengisi 'semuanya' di lemari itu. Maksud dari 'semuanya' adalah tidak akan ada tempat buat Paper Bag berisi Jam Tangan XXs itu. Tapi, Luhan tetap saja mengambil Paper Bag itu dan melakukan instruksi dari Henry. "Maafkan aku membuatmu berkeringat, padahal setengah jam lagi acara akan dimulai." Luhan bisa merasakan tatapan iba Henry dari balik punggungnya.
"Tidak apa-apa kok. Aku juga tidak mau berada di luar sana dengan lautan remaja laki-laki yang menatap lapar ke arahku tanpa EXOTIC di sampingku." Luhan berbalik ketika ia telah selesai menyiksa si Paper Bag agar muat dalam lemari yang telah sesak itu. "Lebih baik di sini, membantumu." Luhan mengedikkan bahunya, menjatuhkan pantatnya di atas sofa.
Henry menghampiri Luhan, duduk di sebelahnya, kemudian memberikan sebuah handuk padanya. "Kau bisa mandi di Rest Room sebelah ruangan ini, tidak akan ada yang merekammu. Aku jamin itu." Henry mengacak rambut Luhan.
"Yaaaa! Henry apa yang kau lakukan?" Luhan mengerucutkan bibirnya. Ia paling tidak suka tatanan rambutnya dihancurkan, ditambah badannya yang berkeringat, ia memang akan mandi (lagi). Hanya saja, Luhan harus mencari informasi lebih banyak terlebih dahulu. Jadi, ia hanya mengambil handuk itu, dan mengangguk singkat.
"Kalian menamakannya EXOTIC? Apa kau pemimpinnya?" Henry bertanya, nadanya pelan. Setenang angin malam.
"Yaa begitulah. Tapi, tidak ada pemimpin. Tidak aka kapten." Luhan bersikap naif.
"Lay akan senang melakukannya di EXOTIC... menjadi kapten." Henry tergelak. Ia pasti lah terdengar depresi.
"Tentu saja. Kau tahu, kapten harus lah seseorang yang bisa memainkan seluruh peran dalam tim. Ia harus bisa menjadi siapa pun dalam tim. Sampai kau tidak lagi mengenali siapa sebenarnya dia." Luhan menekankan kata terakhirnya. Henry hanya terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Tapi, ia tetap diam sampai detik berikutnya.
Luhan melanjutkan. "Kenapa kau yang mengatur semua benda-benda Branded malam ini Henry? Maksudku, kau... kembali secara tiba-tiba dan... yah, setidaknya kau tampak sehat. Itu yang terpenting." Luhan tidak terlalu peduli dengan kondisi Henry, hanya saja, butuh lebih dari sekedar cacing untuk menangkap ikan yang besar.
"Aku mengajukan diri sebulan yang lalu." Henry berkata, kepalanya mengangguk beberapa kali.
"Sebulan yang lalu? Kenapa tidak menghubungi kami?" Sial Luhan! Santai saja. "Maksudku, kami kan bisa berkunjung."
"Yah, aku tahu Lay sangat ingin menjadi seorang 'The Wolf', mungkin karena secara mengejutkan..." Henry menggantung nadanya, ia melihat reaksi di bola mata Luhan yang berkilau karena cahaya lampu. Mata rusa. "Aku juga dulunya adalah seorang 'The Wolf..."
"APA?! Serius?" Luhan melompat dari sofa itu, mengganti posisinya. "Bagaimana bisa?" Luhan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa, tapi ia kemudian menunduk sesaat, tentu saja bisa. Henry pasti mudah mendapatkan gelar itu.
"Ya begitu lah. Seperti 'The Wolf' itu sendiri yang memilihku. Jadi, aku hanya melakukan apa yang Lay inginkan. Setidaknya jika ia melihatku sekarang, ia akan tersenyum bahagia." Henry kembali menjadi Henry yang murung.
"Lay pasti bangga punya Appa seperti mu, Henry." Luhan mengambil telapak tangan Henry, menggenggamnya hangat.
"Aku harap begitu." Secepat kilat, secepat itu pula perubahan sikap Henry. Ia kembali tenang. Hidup pasti lah mengajarkan banyak hal padanya. Termasuk cara memakai topeng-topeng itu.
"Kau tahu Luhan..." Henry melepaskan genggaman Luhan. "Aku tidak pernah meninggalkan kota."
.
.
.
.
.
Mata Luhan membulat, ia berusaha dengan kuat agar mulutnya tidak menganga.
.
.
.
.
.
"Apa maksudmu tidak pernah meninggalkan kota?" Luhan bertanya. Suranya pelan, dan kesunyian membuatnya merinding. Mendadak perutnya mulas, dan ia seperti mencium aroma belerang kembang api.
"Kau mengingat kabinku di dekat danau itu?" Henry menatap Luhan, seakan mengunci pria di depannya dalam sebuah delusi.
"Ya..."
"Aku berada di sana selama ini. Kau tahu, rumah begitu banyak meninggalkan memori, dan aku memilih kabur darinya dan berlindung di kabin. Lagi pula, udara di sana menyegarkan. Membuatmu bisa berpikir jernih." Kata Henry. Ia menyunggingkan senyum itu. Senyum yang penuh tanda tanya.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Terlambat Luhan. Kau sudah terjebak.
"Kau tahu, aku tetap berangkat kerja, sisanya aku berpikir. Jauh di dalam hatiku, aku tidak pernah menerima kenyataan ini, Luhan..." Nada Henry meninggi, ia hampir terdengar seperti memekik. "Lay tidak mungkin bunuh diri."
"Henry..." Luhan berpikir, ia harus membela dirinya. Maksudnya, ia harus mengisyaratkan ke pada Henry kalau itu semua bukan salah dan tidak ada sangkut pautnya dengan para EXOTIC.
"Lay tidak mungkin sebodoh itu." Luhan bisa melihat sesuatu yang beda dari Henry. Sejujurnya, Henry itu terlalu aneh untuk menjadi appa. Semua orang juga berpikir begitu.
Bingo! Luhan sadar, dan ia tahu bagaimana melawan Henry. Arloji sialan itu semakin berkilau saja.
"Aku setuju denganmu..." Nada Luhan melemah. Ia mulai memakai topengnya. Topeng pembohong.
"Selalu ada penjelasan Luhan. Terkadang seseorang melakukan sesuatu dan mereka tidak sadar kalau itu bisa saja melukai seseorang." Henry menarik napas panjang.
"Yaa, Lay punya semuanya. Nilai sekolahnya bagus, ia populer, tampan, ia punya pacar yang sempurna, semuanya sempurna. Tidak ada alasan untuknya mengakhiri hidup seperti itu." Luhan menyampaikan semua itu seperti ular yang berdesis. Ia memainkan perannya dengan sangat baik.
"Akhirnya kau mengerti Luhan..."
"Maksudku, seperti yang kau bilang tadi, selalu ada penjelasan. Kalau bukan kehidupan di 'luar rumahnya' Lay yang membuatnya melakukan hal bodoh ini atau pun ia celaka karenanya..." Luhan menyeringai. "Aku tidak bermaksud, tapi, sejujurnya aku dan yang lainnya tidak terlalu mengenal Lay yang ada 'di dalam rumah'..." Luhan menggantungnya.
Tentu saja bukan Henry yang membunuh Lay. LAY MATI KARENA KEBODOHANNYA. Tapi, EXOTIC, tidak pernah tahu kenapa Lay mau mengakhiri hidupnya. Mungkin saja memang benar, ini semua ada hubungannya dengan arloji itu.
"Apa maksudmu, rusa kecil?" Henry sudah kalah, ia memperlihatkan wujud aslinya. Pria tua yang sangat depresi karena kehilangan putra kesayangannya. Atau mungkin, ia tidak benar-benar depresi. Kilauan emas arloji itu menandakan kalau Henry bisa membeli puluhan botol Wine tahun 78. Kalian tahu, alkohol bisa membuat kenyataan dan halusinasi menjadi berbanding lurus, membuatmu hidup dalam ketakutan terbesarmu atau kebahagian yang kau idamkan. Apa yang membuat Luhan yakin tentang ini, adalah Henry tidak mungkin hidup dalam bayang-bayang kebahagiaan. Hal itu telah direnggut darinya 2 tahun yang lalu.
"Aku tidak bilang apa-apa." Luhan terkejut melihat reaksi Henry. Astaga! Kalau memang ini benar, maka sudah jelas. EXOTIC bisa terbebas dari ini semua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Henry = Lay = Dalam Rumah = Tidak Bahagia = Arloji = Lay Mati = Henry Penjara.
.
.
.
.
.
#KECUP
.
.
.
.
.
"Ini mau ditaruh di mana?" Pria jarang olahraga itu memasuki ruangan, dan ia mendorong kereta lainnya. Luhan bisa melihat beberapa setelan yang tidak asing lagi baginya di sana.
Luhan bangkit dari duduknya, ia menunjuk semua baju, celana, sepatu, bahkan aksesoris yang sama, kemudian ia berbalik dan melebarkan pandangannya terhadap Henry. "Apa maksudnya semua ini Henry?!" Luhan memekik.
"Lay pernah bilang kalau kalian sangat menginginkan ini semua..." Henry tersenyum lembut, ia berjalan ke arah kereta. "Kau boleh pergi sekarang." Henry mengusir pria itu.
"Aku..." Luhan menahan amarahnya. "KAMI tidak akan mengenakan barang-barangnya Lay!" Luhan menggigit bibirnya, ia tidak menyangka Henry menghukum para EXOTIC seperti ini. Dulu, pakaian-pakian itu, sepatu dan aksesorisnya memang tampak keren, sekarang semua itu hanyalah barang-barang temanmu yang suka mengancam dengan rahasia-rahasia kecilmu yang sudah mati. Tidak ada harganya. Seperti sampah.
"Luhan, apa kau tidak sayang dengan Lay? Ini adalah impiannya." Henry menjadi murung, dan ia terlihat akan menangis. Pria tua sialan!
"Bukan seperti itu, hanya saja, ini akan menjadi aneh." Luhan menggelengkan kepalanya.
"Kau tahu Luhan, Lay tidak pernah merasa aneh ketika ia harus merubah rusa gendut berpantat besar, menjadi rusa yang bermata indah." Henry menyipitkan matanya, ia kembali membelai sampah-sampah itu seperti Lay akan bangkit dari kuburnya saja dan mengenakan salah satu dari Sarah itu.
"A-apa?" Luhan berkedip beberapa kali, dadanya sesak, napasnya menjadi berat.
"Kau..." Perintah Henry jelas, dan Luhan tidak bisa menolak. Sudah lama sekali semenjak orang memanggilnya dengan sebutan seperti itu, Luhan tidak terima, hatinya sakit, ia akan membunuh Henry. Luhan akan membunuhnya!
.
.
.
.
.
"Baiklah..." Setelah beberapa detik, Luhan kembali memakai topengnya. Mereka bilang jangan cari masalah dengan rusa yang mengamuk. "Lagi pula semua itu mengingatkanku akan salah satu sosok Lay yang ada di rumah..."
Henry memejamkan matanya, ia mencium Sweaternya Lay yang sedang di pegangnya. Entah ia masih mendengar Luhan atau tidak, yang jelas ketika Luhan selesai bicara, Henry membanting kereta itu. Ia melempar semua baju-baju itu ke udara, ia bahkan merusak Boots Army Built-nya Lay.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Arloji itu semakin berkilau. Aku yakin itu dari emas mulia." Luhan berkata, ia langsung menuju Rest Room untuk mandi, ia tampak kacau.
.
.
.
.
.
#KECUP
.
.
.
.
.
FLASHBACK ON
"Aku ingin kalian merahasiakan ini." Lay mengajak teman-teman populernya itu ke kamarnya.
"Kenapa berantakan sekali Lay?" Luhan bertanya, ia memungut baju-baju Lay yang ada di lantai dan meletakkannya di atas kasur.
"Aku akan menjualnya di e-bay." Lay berkata, nadanya bergetar, ia akan menangis.
"Semuanya? Astaga." Baekhyun langsung menghampiri Lay dan memeluknya, mengguncang bahunya sayang.
"Apa yang terjadi?" D.O berkata, ia ikut membantu Luhan merapikan semua benda-benda Branded itu.
"Henry bangkrut." Lay terisak dalam pelukan Baekhyun.
"Ya ampun, Lay." Tao menghambur ke dalam pelukan itu, dan memeluk ke dua nya. Sampai Lay cukup tenang untuk bercerita, mereka tetap bertahan dengan posisi itu.
"Henry bangkrut. Rekan kerjanya menipunya habis-habisan, dan Henry bertaruh banyak pada proyek ini. Tabungannya pun hanya bisa untuk sampai tiga bulan ke depan saja. Aku rasa semua barang-barang ini bisa membantu." Lay berkata, dan teman-temannya mendengarkan dengan baik di atas kasur.
"Kau tahu, kami bisa membantumu. Kau tidak perlu menjual apa pun." Tao mengelus pipinya Lay, menyeka sisa air mata di sana.
"Tidak perlu, oke? Aku tidak butuh bantuan kalian. Tapi terima kasih. Kalau Henry berhasil mendapatkan pinjaman dari Bank, kami akan baik-baik saja." Lay menghapus air matanya, senyum dimplenya muncul kembali, dan Lay menjadi dirinya yang biasanya.
"Tapi Lay..." Baekhyun bernada iba.
"Kau lebih membutuhkannya Baekhyun. Paman Chanyeol tidak bisa bekerja untuk dua orang remaja." Lay kembali menjadi seorang yang brengsek.
"Akan sayang sekali Lay, aku suka baju-bajumu." Luhan mengambil Tuxedo warna coklat merek Hermes itu, ia berdiri dan melihat pantulannya di depan cermin.
"Aku juga suka Sepatu ini." D.O memakai sneakers biru itu dan berjalan di depan Lay, membuat Lay tersenyum manis.
"Kau kelihatan tampan dengan Tuxedo itu Luhan. Kau boleh mengambilnya." Lay berjalan mendekati Luhan, merangkul bahu Luhan dari belakang. "Aku akan menyimpannya, sampai kau turun 7 kilo lagi."
"Baiklah Lay." Luhan tersenyum, semua yang dikatakan Lay adalah untuk kebaikannya.
"Kau yakin akan baik-baik saja Lay?" Baekhyun bertanya lagi, ia benar-benar khawatir. Meskipun jawaban Lay yang tadi benar-benar menjengkelkan, tapi ia tetaplah teman Baekhyun.
"Henry sudah menjual arlojinya yang super duper mahal itu, setidaknya aku tetap bisa menjalani kehidupan populerku sampai tamat dari Junior HS ini." Lay berkata, ada rasa percaya diri di dalamnya. "Lagi pula kami punya asuransi."
"Kau benar, Henry bisa mengklaim asuransi itu Lay, dan kalian akan kaya lagi." Kata D.O bersemangat.
"Ahh D.O sayang, aku takut Henry tidak bisa melakukannya." Lay tersenyum. Ia bahkan terlihat santai ketika mengucapkan kalimat setelahnya.
"Kenapa tidak bisa Lay?" Tanya Tao.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Itu karena, asuransi hanya bisa diklaim kalau salah satu di antara aku dan Henry, ada yang mati."
.
.
.
.
.
#KECUP
.
.
.
.
.
FLASHBACK OFF
Sekarang, para EXOTIC sudah berada dalam Kingman HS. Acara 'The Wolf' akan segera dimulai. Di antara mereka berempat, Luhan tampak yang paling aneh. Ia tampak tegang dan mukanya pucat. Kalau kalian mengenal Luhan seperti para EXOTIC, kalian akan tahu kalau penampilan Luhan malam itu tidak maksimal. Ia berantakan. Tapi, para fans tidak akan bisa membedakannya.
"Tersenyumlah Luhan." Tao memberi nasehat. "Semua orang melihat kita sekarang."
"Aku tidak bisa tersenyum Tao. Tidak dengan Henry yang sekarang ada di sini dan semua teror sialan 'Teman Lama' itu!" Luhan tampak panik.
"Apa maksudmu? Henry ada di sini?" D.O berkata, ia tampak kaget.
"Dia ada di sini. Aku setidaknya telah ribuan kali mengirimi kalian SMS." Luhan melotot pada teman-temannya. Moodnya rusak sudah. "Henry juga memaksa kita memakai pakian-pakaiannya Lay."
"Aku tidak akan melakukannya." Baekhyun mendesis, ia seperti dipaksa memakai kotoran.
"Well, dia akan menemukan cara agar kau mau memakainya Baekhyun. Dia sama brengseknya dengan anaknya." Luhan menatap Baekhyun tajam.
"Dia tidak bisa melakukan itu!" Tao tidak habis pikir. Acara 'The Wolf' sudah rusak bahkan sebelum ia bisa menyampaikan pidato.
"Dia bisa. Percayalah." Luhan melipat tangannya, dan wajahnya semakin pucat mengingat ancaman yang baru saja ia dapatkan di Rest Room tadi.
"Kau bilang, kau mendapatkan teror? Kita sudah memblokir si brengsek itu!" Tao mengepalkan tangannya. D.O diam tak bergeming, mengingat ia juga baru saja mendapat teror.
"Tidak melalui SMS. Dia menuliskannya dengan Lipbalm NR No. 7 di cermin Rest Room tempat aku mandi tadi. Dia di sini Tao. Si brengsek itu ada di sini mengawasi kita. Maksudku, bagaimana jika ia melukaiku di Rest Room tadi?" Luhan memekik, untung saja suaranya teredam oleh keriuhan di Kingman Hall.
"Kau baik-baik saja Lu. Kau baik-baik saja sekarang." Baekhyun memeluk Luhan erat, menenangkannya.
"OMOOOOOOOO LUBAEK MOMENT!"
"AIISSSHH LUHAN BE MINE. BAEKHYUN BE MINE!"
"EXOTIC JJANG!"
"MARRY ME TAO!"
Bahkan suara-suara menggelikan dari para fanboy EXOTIC itu tidak bisa mengalihkan pikiran Luhan dari ancaman 'Teman Lama'.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini malam terakhirmu sebagai rusa cantik—Teman Lama
.
.
.
.
.
.
.
.
"Luhan kau tadi bilang Lipbalm..." Mata D.O membulat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dalam pelukan Baekhyun, Luhan menjawab. "Aku tahu D.O." Luhan melepaskan pelukannya. Ia menatap D.O. Tentu saja ia sama terkejutnya dengan temannya yang bermata bulat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Lipbalm kesukaan Lay."
#KECUP
Kalian sekarang mengerti kan? Teman Lama tidak semudah itu untuk ditebak.
AND MY LAST WORDS
THANKS FOR READING :)
AND REVIEW PLEASE
#AEGYO BARENG XIUMIN
