Title : The Wolf
Author : XiuMinSeok
Length : Chapter
Genre : YAOI/School Life/Drama/Romance/Friendship/Mystery(?)
Cast : Exotic (Yang belum tahu, baca cerita sebelumnya : Popular but Liars dan The Perfet)
Rate : T
Warning :
Yaoi, BL, Typo, No Siders
so don't like don't read!
XiuMinSeok
present
The Wolf
Chapter 6 : Iblis Merah
Terinspirasi dari Novel Karangan Sara Shepard
Pretty Little Liars
Author hanya mengambil part seperti;
Geng yang beranggotakan 4 orang dan Musuhnya
Tapi alur cerita murni dari otak author sendiri
So DO NOT COPY MY FF
.
.
.
.
.
DISCLAIMER
EXO Member bukan punya author, tapi punya sang Pencipta, Keluarga, Sment
Author Cuma pinjam mereka buat FF ini doang
Hampir dua tahun atau sudah dua tahun? T.T MAAFKAN AUTHOR YANG NISTA INI! Sekarang begini saja, silahkan add line saya untuk kelancaran postingan. Silahkan tagih dan ingatkan saya ne~ id line : sayandooo
HAPPY READING!
Baekhyun sesekali bersiul sambil memainkan Coat berbulunya. Ia tampak puas dengan hasil polesannya, pantulan dirinya di pintu lift begitu sempurna. Bola mata hitam dengan tarikan Eye Liner di sepanjang selaputnya. Bibir tipis yang dilapisi Lip Balm itu tambah merah saja, seolah-olah sang pemilik barusan memakan Jambu Air dalam jumlah banyak. Rambut hitam yang ditata rapih juga tidak ketinggalan.
"Kau tahu apa yang dikatakan orang-orang tentangmu Baekhyun? Kau adalah The Wolf selanjutnya." Kelewat semangat, Baekhyun bergumam terlampau kuat. Siapapun yang ada di dalam lift dengan pintu membuka, sesaat setelah Baekhyun membicarakan dirinya sendiri pastilah mendengar serangkaian angan-angan lelaki mungil itu. Baekhyun tidak begitu senang dengan kemunculan pria yang ada di dalam lift. Dari pada itu, ekspresi Baekhyun mungkin lebih ke arah terkejut. Terbukti dengan matanya yang melebar, napasnya yang menyesak, lalu kata-katanya seolah-olah hilang. Merasa Baekhyun tidak akan mengambil inisiatif untuk kembali menjadi manusia lagi bukannya mematung seperti sekarang ini, Pria dalam lift itupun menarik napas singkat. Ia tersenyum kelewat manis, seakan ini sudah menjadi rencananya sedari awal—mengejutkan Baekhyun, yang mana memang berhasil. Ia pun berkata;
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tentu saja Baekhyun, kau mungkin memiliki kesempatan yang lebih besar dibanding yang lain. Kau adalah serigalanya." Sehun menggerakkan tangannya, memberi isarat kalau pintu lift akan menutup kalau Baekhyun tetap bertahan pada posisinya yang sekarang lebih lama lagi. Bagai dihipnotis, Baekhyun melangkahkan kakinya masuk dan pintu lift menutup. Saat itu juga Baekhyun mengambil tindakan defensif, kuda-kudanya mantap dan matanya memicing tak suka ke arah Sehun.
"Astaga Baekhyun. Aku tidak terlihat seperti akan membakarmu hidup-hidup, iya kan?" Sehun terkekeh.
.
.
.
.
.
.
Membakarmu hidup-hidup?
.
.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan di sini Sehun?" Suara Baekhyun terdengar sangat lemah. Susah payah ia menjaganya agar tidak bergetar, namun sia-sia. Tetap saja, diujung sana suaranya pecah dan terdengar seperti tuduhan bukannya pertanyaan. Tentu saja Baekhyun sudah tahu kenapa Sehun di sini, untuk menerornya! Ya... mungkin.
"Apa maksudmu Baekhyun?" Sehun merasa digelitik dengan raut wajah Baekhyun yang tidak bisa ia artikan. "Apartemen ini punya keluargaku."
Sialan! Baekhyun sesaat kemudian merutuki kebodohannya.
.
.
.
.
.
#KECUP
.
.
.
.
.
Ketika sudah memasuki area Basement, Baekhyun melangkahkan kakinya agak terlalu terburu-buru. Meskipun tidak tampak, tapi keningnya mulai berpeluh dan Coat bulunya tidak lagi terasa nyaman membungkus tubuh kecilnya. Di belakangnya ada Sehun; lelaki misterius yang akhir-akhir ini dicurigai oleh para Exotic sebagai dalang dari semua teror yang mereka terima. Seperti kucing hitam, Sehun sepertinya selalu dapat secara diam-diam berjalan ke arah kakimu, membuat bulu-bulunya yang halus bersentuhan dengan kulitmu, lalu mengejutkanmu.
"Baekhyun!" Sehun terengah-engah mengikuti Baekhyun yang seperti dikejar anjing. "Kita satu arah kan?"
Baekhyun hanya berdeham. Ia berharap itu cukup untuk menjawab Sehun, setidaknya sampai sepuluh mobil di depan lagi. Selanjutnya ia akan membuka mobil Toyota miliknya—milik Chanyeol, mengendarainya dengan cepat sehingga ia bisa terlepas dari jeratan senyum—seringaian Sehun yang teramat mengerikan untuk ditanggungnya sendiri. Ini seperti Sehun akan membongkar seluruh rahasia kelam Baekhyun, jika ia berani barang lima menit saja bersama Sehun untuk sekedar bicara basa-basi.
"Tunggu aku Baekhyun!" Sehun mempercepat langkahnya, tidak begitu susah untuk menyaingi langkah kaki Baekhyun yang kecil-kecil itu. Sepersekian detik saja Sehun sudah bisa menggapai tangan kanan Baekhyun, menariknya sehingga mereka sekarang berhadapan. "Ada apa denganmu?" Sehun benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah lelaki di depannya ini.
"Astaga! Apa yang kau lakukan?!" Baekhyun berteriak. "Lepaskan aku!" Tangannya sedikit sakit melawan genggaman Sehun, ia mengguncang-guncangnya berharap itu akan terlepas dan ia akan berlari sekuat tenaga.
Tersadar tindakannya itu terlampau berlebihan, Sehun kemudian merendahkan suaranya. "Aku akan melepaskanmu, oke? Tapi kau harus tenang dulu." Tidak seperti suara Chanyeol yang menggerakan kupu-kupu di dalam perutnya, suara berat Sehun seakan-akan membuat kupu-kupu itu terbang tidak beraturan. Kemudian saling menabrak, melukai satu sama lain. Baekhyun tidak suka dengan sensasi ini. Ia muak.
"Lepaskan aku Sehun! Sekarang!" Baekhyun melotot, menampakan ketakutan dan ketidak berdayaan.
"Apa yang kulakukan sehingga membuatmu ketakutan seperti ini?" Sehun mulai melemaskan genggamannya, tapi tetap mantap menahan agar Baekhyun tidak lari. Ia hanya ingin semuanya jelas. Baekhyun melihat sorot mata Sehun, tampak gelap dari pencahayaan Basement yang kurang. Hanya saja, Baekhyun tidak menemukan bola mata pembunuh di sana, tetapi ratapan seseorang yang penasaran. Sekali lagi, ia merutuki kebodohannya sendiri. Astaga Byun Baekhyun! Kau berlebihan! Siapa saja pasti akan penasaran, ketika ada dua orang yang tengah berjalan menuju arah yang sama namun salah satunya memilih untuk berlari.
"Aku..." Mata Baekhyun berkedip berkali-kali. Ia mulai sedikit tenang, tidak lagi berontak. "Hanya saja kau mengejutkanku. Itu..." Baekhyun memilih kata-katanya, namun tidak ada satupun yang muncul. "Kau membuatku takut."
Butuh beberapa saat bagi Sehun untuk mencerna semuanya. Sejurus kemudian, ia terkekeh renyah. "Kau ada-ada saja Baekhyun." Ia memegang tangan Baekhyun alih-alih melepas cengkramannya. "Tadi itu aku ingin menawarimu tumpangan. Walau rival sekalipun, kita tetap lah teman satu sekolah." Seperti alir yang mengalir, suara Sehun seketika menenangkan Baekhyun. Bagai suangai yang sangat tenang, seolah-olah bisa menenggelamkan siapa saja. Kalau dipikir-pikir, hanya karena Sehun pernah menjadi teman lamanya Luhan dan Kris, bukan berarti ia adalah Teman Lama; si brengsek tukang teror itu. Tidak berarti juga ia punya motif tersendiri untuk meneror para Exotic; Sehun tidak terlihat seperti ia mengenal Lay dengan baik. Sekalipun Sehun katakanlah orang yang paling dekat dengan Lay, ia tidak seharusnya melakukan teror. Balas dendam? Ayolah! Lay mati karena ulahnya SENDIRI! Exotic hanya berada di waktu dan tempat yang salah. Hal seperti itu seringkali terjadi.
"Kalau itu, kurasa tidak perlu Sehun." Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, berusaha mengembalikan fokusnya. "Aku bawa mobil sendiri." Baekhyun menekan tombol, dan di kejauhan sana mobilnya berbunyi.
"Sayang sekali... aku sudah memesan Limo. Terlalu sepi kalau hanya aku sendiri." Sehun memainkan bola matanya, nada suaranya terdengar lebih ramah dari sebelum-sebelumnya.
.
.
.
.
.
.
Limo? Well, siapa yang tidak akan tergiur? Semua mata pasti akan mengarah padamu kalau kau turun dari sebuah Limosin. Tapi, meski tidak setakut tadi, Baekhyun tetap merasa waspada. "Tidak Sehun. Tapi terima kasih. Dan maaf atas sikapku yang tadi." Baekhyun memutar bola matanya. Ia kembali menjadi Baekhyun yang menggemaskan. "Akhir-akhir ini benar-benar membingungkan."
Sehun mengantarnya sampai ia masuk ke dalam Toyotanya. Baekhyun menekan kuncinya, menyalakan mesin yang begitu nyaman didengar. "Sampai ketemu Sehun." Baekhyun melambai, lalu ia menutup kaca mobilnya.
"Sampai ketemu Baekhyun." Sehun tersenyum. Ia mengambil Smartphone dari dalam saku Tuxedonya. Ia terlihat seperti membuat panggilan ke pada Limo pesanannya untuk segera mengantarkannya. Dari dalam mobil, Baekhyun yang tadi mulai tenang harus kembali mengalami serangan jantung. Tidak ada yang aneh dari Sehun, hanya saja Smartphone yang ia gunakan... well, tidak ada yang aneh juga dengan itu. Namun, gantungan yang ia gunakan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Baekhyun pernah memberikan Lay sepasang yang seperti itu. Seminggu sebelum Lay membakar dirinya sendiri hidup-hidup. Atau mungkin tidak sendiri. Seminggu sebelum Lay terbakar hidup-hidup dengan Exotic yang berada di sana tanpa melakukan apa-apa.
.
.
.
.
.
#KECUP
.
.
.
.
.
#FLASHBACK ON
.
.
.
.
.
Garasi rumah Lay selalu menyenangkan bagi para Exotic untuk dijadikan tempat santai. Di sana ada kulkas kecil tempat mereka menyimpan soda dan cemilan. Meskipun begitu, mereka tidak bebas memakan dan meminum makanan sampah itu—begitu Lay menyebutnya. Gula tidak bagus untuk tubuh remaja, itu yang Lay katakan. Selain kulkas, ada juga seperangkat sofa tempat mereka membaringkan tubuh. Pemandangan orang yang lalu lalang dari garasi ini juga memberikan efek relaksasi tersendiri bagi Lay dan Exotic. Lay selalu bertanya-tanya, kenapa orang-orang begitu unik? Sebenarnya itu ungkapan Lay untuk menyatakan rasa penasaran akan rahasia apa yang orang-orang itu bawa. Bagaikan ia bisa menggunakan salah satu dari mereka untuk kepentingannya. Seperti yang ia lakukan terhadap Exotic, sahabat-sahabatnya.
"Lay, aku punya sesuatu." Sore itu hanya ada Baekhyun dan Lay. Ke dua remaja itu menggunakan kaos Slaveless dan celana pendek rumahan. "Chanyeol-ssi baru saja pulang dari Jepang, dan ia memberikanku berbagai macam gantungan kunci. Kau bisa menggunakannya di Smartphonemu kalau kau mau. Aku juga akan memberikan Luhan, Tao, dan D.O besok." Baekhyun mencari-cari sesuatu dalam tasnya, sebelum akhirnya ia memberikan sepasang gantungan kunci; itu seperti Malaikat, mengingat ke dua gantungan kunci itu memiliki sayap. Yang satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna merah.
"Chanyeol-ssi? Serius deh Baekhyun. Kau tidak perlu seformal itu padaku. Ini bukan berati aku tidak tau semuanya." Lay mengambil gantungan kunci itu. Ia tersenyum, Lay menyukainya. "Terima kasih Baekhyun." Lay memeluk Baekhyun erat.
"Sama-sama Lay. Aku senang kau menyukainya." Sebenarnya, Baekhyun sedikit tenang karena rahasia kecil tentang hubungan spesialnya dengan Chanyeol masih tersimpan aman di kotak rahasia Lay.
"Kau tau Baekhyun..." Lay melepas pelukannya. Ia menatap Baekhyun serius. "Yang merah bukanlah Malaikat, tapi ia adalah Iblis. Aku akan memberikannya kepada orang yang sangat kutakuti. Apa bila kau melihat orang itu memakai gantungan kunci Iblis merah ini, kau harus membantuku melenyapkannya, ya?!" Lay terkekeh, lalu ia menyubit pipi Baekhyun.
"Serius Lay? Kau punya orang yang kau takuti?" Setahu Baekhyun, orang-orang yang takut dengan Lay.
"Hmm Baekkie~ Tentu saja." Lay menggantung perkataannya.
.
.
.
.
.
"Ada satu orang..."
.
.
.
.
.
#FLASHBACK OFF
.
.
.
.
.
Baekhyun mengenggam kemudinya kasar. Tangannya berkeringat, kontras sekali dengan kondisi mobil yang dingin. Bahu Baekhyun menegang, seperti kucing yang terkena percikan air. Matanya tak berhenti melotot ke arah Sehun, untung saja kaca mobilnya tidak tembus pandang. Tidak salah lagi, itu adalah gantungan Iblis Merah yang pernah Baekhyun berikan kepada Lay.
Melihat Baekhyun yang tak kunjung melajukan mobilnya, Sehun kemudian melirik ke arah jendela Baekhyun yang anehnya tepat menatap lurus ke arah bola mata Baekhyun yang membelalak. Ia melambai menggunakan tangan yang masih memegang Smartphonenya, Iblis Merah itu pun menari-nari di sana. Senyuman Sehun tampak penuh arti, hanya saja sulit bagi Baekhyun untuk mengartikannya. Sedetik kemudian, Baekhyun menginjak pedal gas pelan, melajukan mobilnya menuju ke luar gedung apartemen ini. Ya, seperti sungai yang tenang, kapan saja Sehun bisa menenggelamkan siapa pun. Termasuk Baekhyun dan segenap rahasia-rahasia kotornya.
UDAH JELAS BANGET LOH BAGI KALIAN YANG UDAH NGIKUTIN CERITA INI... HEHEHE CLUE DARI AUTHOR : JANGAN PERNAH ABAIKAN HAL-HAL KECIL, MESKIPUN ITU JUDUL ATAU KATA-KATA TERAKHIR SEKALIPUN :P
AND MY LAST WORDS
THANKS FOR READING :)
AND REVIEW PLEASE
#AEGYO BARENG XIUMIN
