Hi, everyone!

Anne muncul lagi, nih! Sebenarnya kemarin Anne mau update, tapi.. Anne lagi banyak acara kemarin terus malamnya belajar buat UTS tadi pagi. Daripada nggak konsen, ya, Anne putuskan update sekarang aja. Oke.. nggak apa, ya! Mana nih yang nungguin!

Baiklah, sebelum lanjut. Anne balas review dulu!

DoubleKlick: Hi! Wah.. syukur deh kalau kamu suka. Aku sendiri nggak tahu sih kalau fic Indo nggak ada yang buat cerita Hermione cerai sama Ron sebelum sama Draco. Soalnya aku nggak begitu sering baca fic Dramione. Ikuti terus, ya! Thanks :)

Friann: Wohoho.. berarti inijuga termasuk requestan kamu.. :) Hehehe.. aku ini aja baru coba buat pair Dramione. Aku baru nyoba pertama ini dan semoga kamu suka, ya. Aku juga suka Scorpius kalau masih kecil, aku selalu negbayangin dia unyu banget sama rambut pirangnya itu. Hihihi :P Wow, thanks sudah mau baca bukuku (walaupun belum), lah kok bisa kesasar? Coba ditanya lagi deh, kalau nggak gitu beli di online bookshop lain. Em.. kamu siapa, ya? Hehehe.. Thanks ya :)

Deauliaas: buat chapter ini ada clue lagi walaupun belum aku tunjukan jelas. Kalau kamu baca chapter ini bisa sudah mulai tahu apa masalahnya. Mungkin di chapter mendatang aku bakal lebih perjelas. Biar makin penasaran! Hehehe Thanks koreksinya, ya.. ikuti terus! Thanks :)

ninismsafitri: yeeee.. baca terus, ya, kakak! Thanks :)

Silent Reader: Sebisa mungkin akan update cepat. Thanks :)

elucius: Yeeee.. aku jadi mulai suka pair Dramione gara-gara nulis ini.. hehehe.. semoga suka, ya! Thanks :)

Captain Peruzzi: Hi, boleh banget kamu panggil Anne :) Namanya cerita akan hidup jika ada karakter protagonis dan antagonisnya. Selain itu konsep dan teorinya, kenyataannya memang begitu. Tapi dalam cerita ini, sekiranya memang ada tapi aku buat dengan cara penulisan yang berbeda sesuai dengan aku. Terserah kamu mengimajinasikannya seperti apa.. bebas. Semoga kamu suka dan terhibur. Ikuti terus kisahnya! Thanks :)

AMAZING: Waaahhh semoga seru, deh. Biar kamu tahu seru enggaknya, baca sampai akhir, ya! Thanks :)

Uchiha Cullen738: ada sedikit clue lagi di sini, loh. Ayo baca dan ikuti terus kisahnya. Thanks ya :)

NabilahAnanda: Hehehe.. aku sendiri sebenarnya nggak terlalu sih baca Dramione. Kalau misal konsep ceritaku agak jarang semoga saja bisa menghibur kamu. Thanks ya :)

Kiru Kirua: I can hear you! Hehehe.. Kamu request kan? Ngaku deh! Hehehe.. semoga terhubur, ya! Thanks :)

Banyak juga yang respon positif, Anne seneng deh. Semoga fic Dramione pertama Anne ini bisa menghibur kalian semua para readers yang budmina! Hehehe.. langsung saja, yuk!

Happy reading!


Terbangun sendirian menyadari pasangan tak ada di sisinya, Hermione menggeliat malas sambil berusaha menyembunyikan tubuh telanjanganya dari balik selimut tebal. Napasnya terengah meski rasa kantuk dan lelah masih menguasai seluruh persendian tubuh kecilnya.

Bagian sisi ranjang Draco ditinggalkan dalam keadaan rapi. "Pria itu memang perfectionis." Batin Hermione sabil terus mengumpulkan kesadarannya.

Bermodal selimut tidur, Hermione bangkit dari ranjang. Dililit seadaannya dari bagian dada hingga menjuntai turun ke kaki, selimut putihnya bersama Draco lumayan menyembunyikan kemolekan tubuh Hermione meski pernah mengalami pembesaran hebat karena kehamilan hingga kelahiran putra tunggalnya, Scorpius.

Hermione membuka pintu kamar hingga terbuka sedikit celah dari dalam sana. Suara-suara panci beradu, gemericik minyak panas dan suara lemari pendingin di banting menandakan ada aktifitas di dapurnya. "Apakah itu Draco? Tidak biasanya ia bangun dan membuat sarapan," katanya pelan. Mereka memang tak menggunakan peri rumah. Jadi, seluruh urusan dapur biasanya memang Hermione yang mengatur.

Keputusan Hermione pagi ini adalah memilih untuk mandi terlebih dulu dan membersihkan sisa-sisa pergulatannya semalam bersama Draco sebelum turun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di lantai dasar. Ia berharap itu benar-benar Draco yang memasak. Pagi ini ia lapar sekali.

Scorpius duduk tenang ditemani boneka Basilisk hijau favoritnya. Draco jadi tenang meninggalkan Scorpius sendiri di atas kursi tingginya bersama boneka itu sementara ia berusaha membuat sarapan untuk dirinya dan juga Hermione. Untuk Scorpius, anak itu sudah kenyang dengan sereal gandum coklat dan susu dingin favoritnya.

"Daddy—" panggil Scorpius, "Mummy mana?"

"Mummy di sini, sayang." Hermione menuruni tangga sambil asik mengikat rambut mengembangnya tinggi-tinggi. "Morning, handsome!" ia mengecup sisi kiri pipi Scorpius.

"Morning, Mummy," jawab Scorpius.

Draco berhasil menyelesaikan satu mangkuk adonan pancake hingga habis. Ada beberapa lembang yang matang, sebagian hancur karena gosong dan encer pada awal penggorengan. Hermione tersenyum melihat kue hasil buatan Draco. Tidak bulat sempurna, namun lumayan baik jika sebatas dilihat saja. Mengembang sempurna dan kecoklatan. Pas namun entah rasanya.

"Cobalah, aku sedikit berimprov dengan resep yang kau tempelkan di lemari pendingin," ujar Draco dengan bangga menyajikan satu tangkup pancake dan saus madu.

Bukannya mengicipi, Hermione sibuk melihat piringnya dari berbagai sisi. "Cantik, baunya juga enak. Tapi—"

"Tapi apa?"

"Aku tak yakin rasanya enak."

Draco berubah cemberut. Scorpius langsung tertawa lantas menyendokkan sereal dari mangkuknya ke mulut sang ayah kasihan. "Coba dulu, baru komentar rasanya," kata Draco dengan mulut penuh susu vanila.

Satu potongan kecil pancake ala Draco masuk ke mulut Hermione. Tiga kali mengunyah, Hermione tiba-tiba berhenti. "Seperti ada rasa.. jahe?"

"Yeahh—" wajah Draco berbinar.

"Enak!"

Draco memekik senang diikuti teriakan Scorpius dari atas kursi tingginya. Ia bertepuk tangan girang ikut merayakan pujian ibunya untuk masakan sang ayah. Hermione menikmati sarapannya hingga habis dengan diiringi ucapan terima kasih Draco dan riuh tepukan dari Scorpius.

"Oh, ya, setelah ini kau ke Kementerian?" tanya Draco ikut menikmati pancake buatannya.

"Iya, aku ada rapat dengan pihak departemen. Jadi hari ini aku harus pergi. Kau juga, ya?"

Draco mengangguk lesu. Ia menyerahkan surat pada Hermione agar istrinya memahami sendiri apa urusan yang akan dikerjakannya hari ini. "Kau juga ada rapat? Waktunya.. bersamaan pula. Di kantor siapa?"

"Perusahaan rekan Dad dulu. Mereka ingin membicarakan kontrak kerja yang pernah disepakati Dad sebelum ia meninggal. Ada beberapa desain sapu keluaran terbaru yang ingin ditawarkan mereka untuk diproduksi di pabrik kita. Ternyata Dad belum memberikan keputusan. Itu sudah bertahun-tahun lalu. Aku saja lupa jika kontrak itu belum gugur sampai sekarang."

Draco memiliki perusahaan produksi sapu terbang terbaik di Inggris. Perusahaannya memiliki kekuasaan penuh dalam proses pembuatan sapu terbang hingga pemasaran. Beberapa agen dan desain sapu karya beberapa penyihir sering kali diajukan pada perusahaan Draco. Mereka akan menyeleksi untuk akhirnya hak paten desain sapu dibeli oleh perusahaan Draco untuk segera diproduksi hingga sampai ke toko-toko penjualan sapu terbang di seluruh Inggris bahkan di luar Inggris.

Semenjak kematian Lucius, Dracolah pemegang jabatan tertinggi dalam perusahaan itu. sebagai gantinya, ia benar-benar mengemban tugas untuk tetap mempertahankan pabrik sapu miliknya agar nantinya, suatu saat dapat ia turunkan kembali pada putranya.

"Jadi begitu.. yang aku bingungkan, nanti Scorp akan ikut siapa? Melly akan ikut rapat denganku nanti, ia sekarang bagian tim keratif jadi tidak bisa menjaga Scorp di kantor. Orang tua kita juga sedang tidak ada di Inggris." Draco melihat Scorpius tak tega harus meniggalkan anak itu sendirian di rumah.

Hermione coba berpikir tentang nama-nama teman yang sekiranya mau dititipi Scorpius untuk sehari ini. "Teman kita bagaimana? Ginny?" saran Hermione.

"Ginny? Kau akan menitipkan Scorp di the Burrow? Kau gila, Mione, di sana pasti ada—"

"Di rumahnya, Draco. Rumahnya dengan Harry. Mereka sudah lama punya rumah sendiri, kan?"

Draco mendesah lega. Ia takut jika the Burrow adalah tempat yang dipilih Hermione untuk menitipkan putranya. Tentusaja Draco takut. Selain tempat tinggal Arthur dan Molly Weasley, di sana juga tinggal Ron, mantan suami istrinya. "Aku tak mungkin menitipkan Scorpius bersama Mr. dan Mrs. Weasley sementara Ron juga ada di sana. Kata Harry, Ron diberikan waktu istirahat untuk tidak masuk kerja. Jadi beberapa hari ini Ron pasti mudah ditemui di the Burrow."

"Kau tahu sekali tentang si rambut merah itu," kata Draco dengan nada sarkastik.

"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku tak sengaja bertemu dengan Harry ketika ia membopong Ron keluar dari departemen Auror."

Draco terkesima, membopong keluar? "Ron sakit?"

"Pinggangnya kembali nyeri. Kau tahu sendiri itu tidak mudah sembuh sejak kejadian itu—"

Empat tahun yang lalu, sebuah tragedi terberat dalam hidup Ron terjadi. Ia sedang berusaha belajar untuk menyetir mobil Muggle demi mendapatkan lisensi berkendaranya. Hermione sangat ingin jika suaminya itu mampu membawa mobil dengan baik disertai dengan pengesahan sebuah kartu lisensi mengemudi. Menikah selama hampir dua tahun, Ron dan Hermione sangat ingin memiliki mobil keluarga mengingat mereka tinggal di kawasan Muggle seperti Harry dan Ginny. Mumpung belum memiliki anak, Ron bertekat jika ia ingin segera mampu menyetir sebelum ia dan Hermione memiliki keturunan. Sebagai suami yang baik, ia ingin sekali membahagiakan Hermione.

Namun sungguh malang, Ron tak sengaja melakukan kesalahan pada saat belajar menyetir ditengah padatnya jalanan Muggle. Tak tahu mengendalikan mobil yang tiba-tiba mogok di tengah jalan, Ron takut. Ia bergegas keluar dari mobil untuk mengecek apa yang terjadi dengan mobilnya. Ia hanya sendiri bersama salah satu Muggle, guru mengemudinya. Tanpa melihat posisi mobil mereka yang berhenti tepat di tengah jalanan ramai, sebuah mobil berkecepatan tinggi melintas tepat di sisi Ron yang baru saja keluar dari mobil. Tubuhnya terpelanting jatuh, mendarat sempurna pada bagian pantat terlebih dahulu.

Ron jatuh dalam posisi terduduk.

Belum selesai di sana, sebuah mobil lain yang melintas ikut melindas bagian pinggul Ron yang baru terkapar demi menahan sakit di pinggangnya

Hingga hampir satu tahun, Ron koma. Keluarga sepakat membawa pulang Ron dari rumah sakit Muggle dengan alasan perawatan rumah, namun.. mereka sebenarnya memindahkan Ron ke St. Mungo. Ron segera ditangani dengan pertolongan sihir.

Draco memandang Hermione dengan penuh tanda tanya. Wajah Hermione berubah sendu. "Kau merasa bersalah dengan kejadian itu?" tanya Draco.

"Menurutmu.. aku harus bagaimana?"

"Kau tak salah, Mione." Draco mengangkat Scorpius dari kursi tingginya menuju tempat bermain di depan televisi. "Itu kecelakaan. Tidak ada yang tahu," tambah Draco.

"Ta-tapi.. sorry—bukan maksudku—"

"Aku mencintaimu, Hermione. Kita bukan kesalahan, begitu juga Scorpius. Ini takdir kita. Begitu juga Ron."

Hermione menundukkan kepalanya. Ia memukul-mukul keras bagian belakang kepalanya hingga mengerang marah. Ia kembali mendongak, memperhatikan Scorpius dari sofa panjang. Anak itu selalu tenang jika melihat acara kartun favoritnya di pagi hari. Lucu dan polos, khas anak-anak.

"Kalaupun kita tidak memiliki Scorpius saat itu, Ron pun juga akan merasa tertekan. Hidup kalian tidak akan bahagia. Mione.. lihat aku—" Draco memutar tubuh Hermione lebih tegap, "jangan menyesali apa yang telah terjadi sekarang, sayang. Aku akan selalu membahagiakanmu, memberikan apa yang selama ini kau inginkan. Aku akan berusaha lebih baik. Semua yang pernah Ron lakukan padamu.. pada kehidupanmu. Aku berjanji, Hermione. Aku janji!"

Draco memeluk tubuh Hermione begitu hangat. mereka kini telah bersama. Kesalahan apapun yang pernah mereka lakukan harus mereka terima. Apapun yang terjadi, mereka telah sepakat memulainya. Walaupun harus menghancurkan yang lain.

- TBC -


#

Apa yang sebenarnya terjadi beberapa tahun lalu? Ada pendapat, mungkin sudah banyak yang menebak-nebak, nih! Tulis di review dan tunggu chapter selanjutnya. Mungkin besok. Hehehe.. semoga saja. Maaf kalau masih ada typo dan semoga hari kalian bahagia, readers. Sampai jumpa!

Thanks

Anne xoxo