Hi, everyone!

Anne muncul lagi! Chapter 3 ini agak panjang, ya.. Anne nggak sadar, sih. Keasikan nulisnya jadi lebih panjang dari sebelumnya. Oke, mumpung liburan, Anne ingin kalian puas baca chapter ini karena wordnya lebih banyak. Nah, thanks ya yang sudah menebak ada apa sebenarya dengan hubungan Ron, Hermione, dan Draco di masa lalu. Mungkin chapter ini kembali ada clue yang membuat alasan konflik mereka semakin jelas. Tapi, nggak akan asik kalau kalian nggak ikuti fic ini sampai selesai.

Yeeee.. sebelum baca, Anne sempatkan untuk balas review dulu!

AndienMay: wohhooo menebak dengan jenius.. *tepuk tangan buat kamu* untuk jawaban apakah Hermione suka sama Draco, baca terus sampai ending ya. Thanks :)

Deauliaas: wajar belum ngeh soalnya baru awal.. ikuti aja terus, ya! Maaf kalau EYD mungkin agak sulit ya untuk penulisan cerita. Tapi memang aku berusaha lebih baik di EYD dan sewajarnya dalam penulisan. Thanks ya, terus diikuti kisah mereka :)

Liuruna: wah, hasil karya yang tidak direncanakan. Hehehe bahasanya! Ikuti terus, ya. Thanks :)

Octaviadwins: ehem.. tebakan kamu coba dicocokan dengan chapter ini, deh.. apa bener? Hehehe thanks ya :)

Rie Katsu: walaupun nggak suka pairnya semoga kalau aku yang nulis kamu bisa suka, hehehe ikutilah jalan cerita aku.. siap-siap aku mainkan emosimu ya *maksa* thanks :)

AMAZING: Hi, kamu! Yang cerdas mulai menebak, coba ikuti terus apakah tebakan kamu bisa betul. Thanks ya :)

ninismsafitri: huhuhu.. Draco aku coba menjadi sosok yang rooooomantis, semoga bisa jatuh cinta selain dengan Daddy Harry! Heheheh thanks, ninis :)

Kiru Kirua: Horeeee.. semoga suka ya, aku wujudkan requestan kamu! So, ikuti terus chapter demi chapternya! Thanks :)

Friann: Hehehe.. mungkin chapter ini kamu bakal suka Scorp dengan Lily. Ada mere, loh! Sakuli? Di mana itu, ya? Merlin! Kamu yang punya akun Ultramarine? Ganti nama, sih! Jadi bingung! Hehehe btw thanks ya :)

Uchiha Cullen738: Ayooo tahan sabarnya.. langsung baca untuk mencari tahu tebakan kamu. Thanks ya :)

elucius: kecelakaan kayak apa, nih? *belaga sok polos* ikuti tiap chapternya, ya! Thanks :)

Baiklah, mungkin langsung saja, ya. Udah banyak yang nggak sabar, nih!

Happy reading!


"Berikan mainanku, Al!"

James marah melihat mobil-mobilannya diambil sang adik dari bawah tangga the Burrow. Seharian ia mencari mainan itu, tapi saat ia merelakan mainan itu hilang, Albus, adiknya menemukan itu dan memainkannya sendirian.

"Tidak mau, aku menemukannya!"

Al menyembunyikan mobil-mobilannya di bawah ketiak takut diambil paksa oleh kakaknya yang terpaut tidak sampai dua tahun. Ia memekik keras tatkala James perlahan mendekatinya dan coba menarik bagian depan mainannya. "Ini mainanku!" teriak James ingin mainannya kembali.

"No!" Albus tak mau kalah.

Dari lantai atas, dengan langkah tertatih, Ron menuruni tangga sambil berteriak berusaha melerai. "Woi, Potter! Ada apa pagi-pagi sudah bertengkar? Bagaimana Daddy kalian mengajarkan untuk berbagi?" Ron akhirnya sampai di hadapan kedua bocah itu. Berdiri menengahi. Ia juga berniat untuk mengambil mobil-mobilan dari tangan Albus.

"Albus!"

"No, Uncle!" tolak Al tak mau melepas mainannya.

Ron tetap mengulurkan tangannya mengulang meminta dengan cara yang lebih lembut. "Berikan pada Uncle, nanti kalian berdua akan Uncle ajak untuk mencari mainan lama Uncle di gudang Grandpa Arthur. Banyak mainan Uncle dan juga Mummy kalian di sana. Mungkin masih ada. Mau?"

Mereka saling pandang, berunding. Tawaran Ron tidak diterima begitu saja oleh James maupun Albus. Sesekali ada anggukan di kepala Albus dan bisikan pelan dari James. Ron kembali bertanya meski tidak memberikan iming-iming lagi. "Uncle tidak memaksa, daripada nanti kalian berebut mobil itu, nanti rusak. Kalau sudah rusak, tidak ada satu pun dari kalian akan bermain. Daddy kalian juga akan marah."

Tangan Albus didorong James agar mau menyerahkan mobil-mobilannya pada Ron. Lantas James berbisik, "berikan, Al!"

Ada rasa tidak rela jika mainan di tangannya harus diberikan pada pamannya. Albus melihat kembali Ron dengan tatapan penuh pengharapan. "Jangan diambil—"

"Nanti akan Uncle kembalikan, Al. Uncle janji," kata Ron pengertian.

Albus bersedia menyerahkan mobil-mobilan itu. Ia dan James berharap Ron benar-benar tidak bohong dengan janjinya memberi mereka mainan. Tahu apa yang harus Ron lakukan, ia mengajak dua keponakan laki-lakinya langsung menuju gudang di the Burrow.

Rupanya, Arthur sedang berada di gudang. Dengan obeng dan kacamata, Arthur sibuk mengutak-atik sebuah jam beker kecil yang baru saja ia dapat dari Harry. Jam beker Muggle tentu saja. "Halo, boys!" panggil Arthur.

"Grandpa!" seru James dan Albus.

"Masih belum selesai, Dad? Harry mungkin benar, jam itu sudah benar-benar rusak," Ron menaikkan satu persatu keponakannya ke atas kursi di samping Arthur. James mengamati body jam beker yang terlepas dari jarum dan angka-angkanya. Ia mengenal jam itu.

James menunjukkan pada Al, "ini jam yang dilempar Lily, kan?"

Albus pun mengenal jam itu, "kata Daddy itu sudah rusak. Grandpa mau membenarkannya?" tanya Albus penasaran.

"Benar, Al. Grandpa ingin membenarkan ini. Semoga masih bisa agar kalian bisa membawanya pulang lagi," kata Arthur.

"Hem, tapi jangan diberikan Lily. Nanti dilempar lagi," ujar James diikuti tawa Arthur, Ron, dan Albus. "Oh, ya—" Ron teringat sesuatu. Alasan ia mengajak dua keponakannya datang ke gudang tentu saja.

"Dad, kau simpan di mana kotak mainan masa kecilku dulu. Seingatku beberapa hari lalu kau yang menemukannya, bukan?" tanya Ron pada Arthur. Minggu lalu, Ron dan Arthur sedang membersihkan kamar-kamar lama. Banyak mainan tua ditemukan di kamar George dan Fred, Percy, Ron dan juga Ginny. Semua dikumpulkan dalam satu box oleh Arthur dan entah disimpan di mana.

Arthur mengangguk dua kali sambil menunjuk ke arah sudut gudang. "Di tumpukan kardus sisi lemari perkakas itu, Ron. Coba kau lihat, eh—kau yakin bisa? Pinggangmu tak sakit?"

Ron hanya tersenyum sambil memukul pinggang kanannya sebagai jawaban. James dan Al bergantian diturunkan ke lantai untuk segera menuju beberapa box yang ditumpuk tinggi.

Ada sekitar lima buah box tersusun sedikit miring di dekat lemari tempat benda-benda Muggle bermantera hasil rakitan Arthur. Ron sendiri tak tahu isi box itu apa saja. Ia mendapat petunjuk dari Arthur yang berteriak jika mainan-mainan itu ada di box berwarna biru tua, dan itu terletak di bagian tengah.

"Mundur, kids. Uncle akan turunkan dua kotak di atasnya dulu."

James mengandeng tangan Albus agar mundur sebelum Ron perlahan menurunkan box pertama ke lantai. Semuanya tertutup rapat sehingga James tak bisa melihat apa isi box itu tanpa membukanya terlebih dahulu. "Satu lagi, Uncle!" Teriak Al bersemangat. Penutup box rupanya menyembul keluar. Itu artinya box tidak terutup rapat.

James memekik keras ketika hampir saja Ron menjatuhkan box kedua. "Berat juga. Tolong hati-hati, ya!" pintanya.

Ron bersiap mengambil box ketiga. Box berwarna biru dengan isi mainan-mainan kayu dan boneka milik Ginny. Itulah yang dicari Ron. Namun, suara ribut James mengalihkan perhatiannya seketika. Bersama dengan Albus, James berdebat tentang sebuah pigura berukuran sedang dipenuhi oleh debu di tangannya.

"Pakaiannya seperti foto Mummy dan Daddy yang ada di kamar, Jamie!"

"Itu foto pernikahan, Al. Ini foto Uncle Ron saat menikah." Kata James lantas melihat Ron penuh pertanyaan, "foto Uncle kenapa di dalam kotak? Nanti kotor, loh. Kata Daddy, foto pernikahan itu banyak kenangannya. Nanti Aunty Mione marah!"

James menyerahkan bingkai foto itu tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. anak itu tidak tahu ada kenangan paling menyakitkan dalam foto itu. Badan Ron kaku, tangannya bergetar menerima bingkai foto dari James tanpa sempat melihat dua wajah yang tercetak di balik pigura itu. Dari jauh, Arthur ikut memandang Ron. Ia tak tahu harus ikut mendekat atau melakukan sesuatu dari tempatnya.

"Ron," lirih Arthur. Dadanya sesak mengingat foto berbingkai emas itu sengaja ia sembunyikan dari Ron. Namun, dari dirinyalah, foto pernikahan Ron dan Hermione kembali ditemukan. Menyesal.

James dan Albus tidak lagi memperhatikan Ron. Mereka lebih memilih berebut mainan dari box yang diserahkan Ron. Banyak mainan tua beraneka ragam menumpuk jadi satu di dalam box itu. James dan Albus menemukan surganya. Mainan.

Sedangkan Ron.. ia baru saja menemukan nerakanya.

Pernikahan itu. Pernikahan yang terjadi karena cinta. Berbalut gaun putih, Hermione berdiri di sisi Ron dengan tuksedo lengkap bersakukan bunga putih. Mereka tersenyum pada siapapun yang memandang potret itu. Ron, mengingatnya. Bagaimana janji pernikahan itu terucap.

Susah maupun senang.

Sakit maupun sehat.

Tapi itu hanya sebatas ucapan. "Maafkan aku, Mione. Maafkan aku."


Hermione meringis ikut merasakan kesakitan Lily. Bayi itu menjerit menolak Ginny memberinya ramuan dan rapalan mantera. Bibir Ginny menggumamkan sesuatu pada kepala Lily hingga cahaya terang terpancar di bagian kepala gadis kecil Potter itu. beberapa saat kemudian, sinarnya meredup dan menghilang bersamaan dengan berhentinya bibir Ginny bergerak.

Ibu muda itu menyunggingkan senyuman indahnya pada sang putri kecilnya. Senyuman itu semakin lama semakin mirip dengan senyuman Harry, menurut pengamatan Hermione. Lily akhirnya berhenti menangis. Isakan kecil tersisa dari energi yang terkuras karena menangis sejak malam. "Lalu bagaimana Harry bisa berangkat tadi?" tanya Hermione.

"Aku harus membawa Lily keluar dulu sampai Harry masuk perapian. Tapi ya.. wahh, tangisnya makin kencang. Harry sampai tak tega meninggalkannya."

Ginny dan Hermione tertawa sambil tetap memperhatikan Lily di gendongan Ginny. Sementara Scorpius, menyentuhkan jemarinya mengelus pipi Lily yang basah sambil berkata, "jangan menangis, ya, Lily. Nanti Uncle Harry juga akan pulang. Daddyku juga nanti pulang. Jangan takut, nanti aku temani."

"Oh—" Ginny merasa tersentuh dengan ucapan si Malfoy kecil, "kau manis sekali. Siapa yang mengajarkanmu seperti ini, sayang?"

"Daddy, Aunty Ginny. Kata Daddy, sebagai anak laki-laki harus menjaga perempuan. Aku harus menjaga Mummy. Lily kan perempuan, jadi akan aku jaga juga," kata Scorpius bangga.

"Aunty Ginny juga perempuan loh, sayang," kata Hermione mengingatkan.

Scorpius mengangguk-angguk dengan gaya yang ia tiru dari sang ayah, "Aunty Ginny kan, punya Uncle Harry. Kata Daddy, Uncle Harry orang hebat. Jadi Aunty Ginny pasti aman dengan Uncle Harry."

Gelak tawa para ibu tak kuasa ditahan karena ulah Scorpius yang menggemaskan. Hermione sudah mengatakan jika ia ingin menitipkan Scorpius selama ia bekerja. Tapi ia sendiri merasa tak enak karena Lily pun sedang sakit. "Kau sendiri susah mengurus anak-anak, Ginny. Bagaimana—"

"Tak apa, Mione. James dan Al sedang di the Burrow. Mereka sementara waktu tinggal di sana, mereka senang sekali kalau sudah dijaga Ron—" Ginny langsung berhenti. Ia benar-benar tak sadar menyebut sang kakak di hadapan Hermione. Sesuatu yang sangat ia hindari jika berbicara dengan Hermione.

"Ow—" kata Hermione, "begitu, ya. Jadi, apa boleh aku menitipkan Scorpius di sini bersamamu?"

Ginny masih diam, takut ada kata-kata larangan yang tidak semestinya ia ucapkan. "B-boleh. Tak apa, Mione. Lily juga sudah baik. Pergilah kerja, nanti kau kesiangan."

Hermione lega, Ginny akhirnya mau menjaga Scorpius sementara ia bekerja. Ia berjanji akan menjemput Scorpius kembali ketika jam Kementerian usai. "Kalau pun aku terlambat, mungkin nanti Draco yang akan menjemputnya kalau urusannya lebih dulu selesai. Tak apa, ya?" tanya Hermione kembali meyakinkan Ginny. Istri dari pahlawan sihir Inggris itu mengangguk setuju. Ia mengandengn tangan Scorpius dan meminta anak itu memberi salam pada ibunya sebelum pergi bekerja.

Kini, hanya ada Ginny dan dua anak balita di rumah. Lily rupanya sudah terlelap dari efek mantera yang dirapalkannya tadi. Bersama Scorpius, Ginny membawa Lily ke ruang keluarga. Di sana Lily ditidurkan dalam sebuah ranjang bayi berbahan kayu lembut sementara Ginny bersiap untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Scorpius tiba-tiba memanggil Ginny pelan. "Aunty Ginny, seru tidak bersama Lily?"

Ginny tampak kebingungan dengan pertanyaan tiba-tiba Scorpius. Bersama Lily. Anak laki-laki Malfoy itu tampak mengusap-usap pelan jemari tangan Lily lantas beralih ke rambut merahnya, menyentuh secara bergantian. "Bermain dengan Lily?" ulang Ginny.

Senyuman Scorpius mengembang begitu saja. "Ow, seru sekali, Scorp. Aunty Ginny dan Uncle Harry suka bermain dengan Lily. James dan Al juga. Kami suka mendandani Lily dengan pita, baju-baju cantik, menggelitiki perutnya sampai tertawa. Kami semua sayang dengan Lily, Scorpius." Kata Ginny tanpa sedikitpun meninggalkan senyumannya.

"Wah, seru sekali. Aku juga sayang dengan Lily. Kemarin aku meminta Lily pada Daddy, Aunty. Tapi, kata Uncle Harry, itu namanya adik. Seperti James dan Al punya Lily."

Ginny terkesima dengan kepolosan Scorpius. "Lalu, kau meminta adik pada Mummy dan Daddy?"

Benar. Scorpius mengacungkan jempolnya. "Kata Daddy, aku akan punya adik. Tapi, tidak tahu kapan. Kenapa lama sekali, ya? Adik beli di mana? Lily dulu beli di mana, Aunty?"

Menahan tawa yang hampir saja meledak, Ginny memilih membawa Scorpius dalam pelukannya. Mengusap rambut pirang platinanya dengan ciuman hangat mendarat di ubun-ubun bocah itu. "Adik tidak dibeli, sayang," jelas Ginny, "adikmu akan datang dari perut Mummymu. Ada sebuah sihir yang belum waktunya kau ketahui akan membuat adikmu ada di perut Mummy nanti. Dan itu butuh waktu yang lama, Scorp," Ginny mengulang kembali penjelasan tentang dari mana datangnya adik yang pernah ia terangkan pada James dan Albus.

"Lama? Kalau begitu—" Scorpius menoleh kembali pada Lily, "boleh tidak Lily juga menjadi adikku sampai aku punya adik sendiri, Aunty Ginny?"

"Tentu saja boleh, sayang! Kau akan jadi kakak yang hebat." Ginny menepuk pelan kedua pipi tembam Scorpius.


Ron memasukkan kembali foto pernikahannya bersama Hermione ke dalam kotak yang sama. Ia mengambil perekat dan menutup box tempat foto itu ditemukan lebih rapat dari sebelumnya. Ron mengambil alih box mainan lama dari tangan James dan Albus berniat untuk membawanya ke ruang keluarga.

"Kembalilah dulu, Uncle bawakan nanti untuk kalian, ya." Pinta Ron pada James dan Albus.

Arthur memperhatikan bahasa tubuh Ron. Ada rasa kasihan ketika dengan mata kepalanya sendiri, Ron melihat lagi foto lama yang menyimpan jutaan kenangan menyakitkan bersama sang mantan menantu. Arthur memang tak marah dengan keputusan yang telah diambil Ron dan Hermione dalam pernikahan mereka. Sebagai orang tua dan paham dengan pahit manisnya rumah tangga, keputusan itu memang keputusan yang tepat. Walaupun akan ada hati yang tersakiti, meski itu putranya sendiri.

Dengan keadaan Ron akibat kecelakaan itu, baik dari Ron maupun Hermione harus paham dan mau menerima semuanya. Arthur dan Molly, begitu juga orang tua Hermione tidak memiliki hak untuk memutuskan semuanya. Hubungan mereka sudah tidak sehat.

"Dad—" Arthur terlonjak mendapati Ron telah berdiri di sisinya. "Aku serahkan kotak itu padamu. Sembunyikan, terserah dimana. Aku—"

"I know, son! Kembalilah, kasihan James dan Al kalau lama kau tinggal."

Ron pergi tanpa kata. Dan Arthur berusaha memahami itu.

Hari ini James dan Albus harus kembali pulang. Ron memberikan kesepakatan pada keduanya untuk mau pulang dengan memberikan semua mainan tuanya pada James, Albus dan boneka-boneka Ginny untuk Lily. Tentu saja, James dan Albus tidak akan menyiakan tawaran itu. Mainan satu box penuh dibayar dengan pulang ke rumah. Mudah sekali. "Ayo, Uncle! Kita pulang!" teriak James dan Albus bersamaan. Ron sangat menyanyangi mereka. James adalah anak baptisnya, Albus pula adalah salah satu keponakan yang sangat ia sayangi, jadi.. bagi Ron, mereka tidak ubahnya darah dagingnya sendiri.

Ketiganya mendarat dengan selamat di lantai rumah keluarga Potter. James dan Albus berlari lebih dahulu mencari keberadaan ibunya di dapur. Ginny akhirnya menunjukkan batang hidungnya dan berteriak kegirangan melihat putra-putranya kembali pulang.

"Merlin! Mummy sampai rindu dengan kalian, boys!"

Ginny memeluk erat dua putranya penuh kerinduan. Tidak lama kemudian, Scorpius muncul sambil mendorong kereta bayi berisikan Lily. Ia menyapa James dan Albus sekaligus melambaikan tangan pada Ron.. yang belum pernah ia sapa sebelumnya.

"Scorpie!"

James dan Albus berhambur ke pelukan Scorpius penuh suka cita. Ketiga anak itu saling bergurau dan membicarakan keadaan Lily yang membaik. "Tadi Lily sudah bisa tertawa, loh! Kalian dari mana saja?" tanya Scorpius.

"Kami di the Burrow, Scorpie. Kami tidur dengan Uncle kami, itu—" tunjuk Albus pada Ron.

"Namanya Uncle Ron, asik loh.. Uncle Ron punya banyak mainan dan pandai bercerita! Bukan begitu, Uncle?" James menoleh mencari perhatian Ron.

Ginny segera berdiri dan menengahi anak-anak itu dengan memberikan perintah, "kalian nonton TV dulu, ya, bukankah kartun favoritmu sudah tayang, kan, James? Ayo, ajak Al, Lily, dan Scorpius nonton bersama," pinta Ginny. Ia menarik kereta bayi Lily membantu anak-anak itu ke ruang keluarga.

"Aunty, aku saja yang bawa Lily. Aku bisa—"

Tanpa mereka semua sadari, roda kereta Lily tersangkut karpet di bagian lantai ketika Scorpius mendorong kuat-kuat stang pendorongnya. Penuh kesigapan, Ron menarik paksa tangan Scorpius dari kereta dan bergegas menangkap tubuh Lily yang terlempar keluar dari kereta.

Sontak, Lily menangis karena terkejut di pelukan Ron.

"Oh, Merlin. Thank you, Ron!" teriak Ginny di dekat Scorpius. Hampir sama seperti Lily, akibat Ron menarik paksa tangan Scorpius dari kereta, tubuh kecilnya terlempar jatuh di dekat Ginny.

"Maafkan aku, Lily!" Scorpius berusaha menyentuh Lily yang menangis kencang di pelukan Ron, namun dengan rasa kesal melihat sosok Draco dari diri Scorpius ia menggenggam erat pergelangan tangan Scorpius lantas berkata, "jauhkan tangan kotormu dari Lily—"

"Ronald!"

Harry muncul bersama Hermione dari halaman belakang setelah berapparate dari Kementerian. Penuh dengan keterkejutan, Ron mendapati rumah Harry telah penuh dengan makhluk-makhluk paling keji dalam hidupnya. Ya, Draco pun tampak muncul di halaman belakang.

"Ma-maafkan aku, Uncle—"

"Jangan pernah sebut aku seperti James dan Al memanggilku. Aku bukan pamanmu!"

Harry mengambil Lily yang menangis kencang dari gendongan Ron sambil kembali berbisik, "jangan bertingkah konyol, Ron, di sini banyak anak-anak." Harry mengancam

"Kau yang bertingkah konyol, Harry! Mudah sekali kau memasukkan mereka ke rumahmu? Membiarkan anak-anakmu bergaul dengan—" Ron melirik ke arah Scorpius dari pelukan Hermione. Anak itu menangis ketakutan. "Anak haram itu!"

"Busuk sekali mulutmu, Weasley!"

Draco muncul dengan amarah memuncak. Mungkin jika Harry tak segera menengahi keduanya, adu jotos bisa saja terjadi tepat di depan mata anak-anak itu. Ginny berinisiatif mengambil alih Lily dari Harry dan membawanya ke ruang keluarga bersama James dan Albus.

"Harusnya kau pikir dahulu sebelum mengatakan busuk di hadapanku, Malfoy! Lebih busuk mana dari seorang pecundang yang merebut istri orang lain dengan cara paling kotor di muka bumi ini—"

"STOP!" Pekik Harry menahan pergerangan tangan Draco yang siap memukul wajah Ron.

Meski Harry kalah tinggi dengan Ron maupun Draco, Harry memiliki kekuatan fisik paling kuat di antara keduanya. Tangan kiri Harry menggenggam pergelangan tangan Draco yang terangkat sedangkan tangan kanannya menekan dada Ron agar tidak mendekat.

"Kalian pikir dengan cara ini kalian bisa lebih baik? Di depan anak-anak? Pikir! Kalian sama-sama dewasa!"

Harry menghampiri Ron dan mendorongnya menjauh, "sebaiknya kau pulang, Ron. Terima kasih telah menjaga James dan Al. So, sekarang pulanglah dan istirahat—"

"Aku tak mau, Harry. Aku tak rela membiarkan anak-anakmu berdekatan dengan anak kotor itu! Kau lihat, anak itu sama liciknya seperti ayahnya, Mendekati Lily—" Ron memaksa.

"Oh, Weasley!" Draco masih tak tahan untuk tidak membalas cercaan Ron pada Scorpius, "seharusnya kau beruntung, putraku mau berdekatan denganmu. Ingat, kau bahkan ditakdirkan untuk tidak pernah menyebut seorang anak seperti Scorpius Hyperion Malfoy dengan sebutan.. son!"

"Brengsek!"

Draco menarik Hermione dan Scorpius untuk segera berpamitan pada Ginny dan ijin pulang. Draco menyempatkan mengangguk singkat pada Harry sebelum mereka menghilang di perapian rumah. Tubuh Ron lemas. Ia selalu seperti itu jika berhadapan dengan keluarga kecil Malfoy. Melihat Draco, Hermione.. ditambah lagi dengan si kecil Scorpius yang tak tahu apa-apa.

Sepulangnya Draco dan keluarganya, Ginny mendekati Harry dan Ron setelah memastikan James, Albus, dan Lily tenang di ruang keluarga. Anak-anak tidak selayaknya tahu dengan masalah para orang tua. "Ron, kau harus tenang! Kau butuh istirahat—" bisik Ginny tak ingin anak-anak mendengarnya.

"Bloody hell, aku—sungguh tidak paham dengan jalan pikiran kalian berdua. Harry, Ginny, kalian tahu mereka siapa?" Ron menguasai tubuhnya yang bergetar hebat menahan luapan emosinya. Pinggannya kembali sakit.

Harry menuntun Ron agar duduk di atas sofa. Ron bisa saja drop jika terus seperti ini. "Merlin, Ron.. jangan melihat semua dari sisi buruknya, berlatihlah untuk—"

"Menerima? Oh.. sungguh aku menyesal, Harry. Dulu aku pernah menganggap makhluk itu adalah anakku. Tapi apa? Aku benar-benar bodoh, Harry!"

James berteriak memanggil Ginny dari arah ruang keluarga. Lily terbangun kembali. Ginny memasrahkan urusan Ron pada Harry karena merasa semua urusan itu tidak akan selesai jika terus berdebat. Harry jauh lebih ahli mencari ketenangan. "Itu masa lalu, Ron. Kita melihat Scorpius, dia hanya anak-anak. Dia tidak tahu apa-apa dengan masalahmu dengan orang tuanya di masa lalu—"

"Dia menjadi sumber kebodohanku dengan hubungan ini, Harry—" Ron sama sekali tidak mendengar semua nasihat Harry dan memilih mencurahkan semua rasa sakitnya dengan terbuka. "Mempercayai wanita dapat hamil empat bulan disaat suaminya sadar dari koma setelah setahun lamanya? Lalu.. saat makhluk itu lahir, dan ia memiliki warna rambut yang berbeda dari warna rambut ibu atau ayahnya? Itu yang dikatakan bodoh? Tentu saja!"

Ron memukul sofa tempatnya duduk. Harry tak mampu berkata apa-apa.

"Hanya orang bodoh yang bisa percaya dengan semua keanehan itu. Tetap berpikir positif padahal semua itu tidak mungkin. Kau ingat, Harry? Itu semua tidak mungkin. Aku tak mungkin menghamili Hermione di saat aku koma! Hanya ada kemungkinan kecil anak yang lahir memiliki rambut pirang dari orang tua berambut merah sepertiku dan coklat seperti Hermione! Dan—"

Cepat-cepat, Harry memeluk tubuh Ron dan mendesis pelan, meredam semua amarah itu. Ron menangis terisak di pelukan Harry. Ia menangisi dirinya.

"Aku tak mungkin memiliki anak itu." Suara Ron akhirnya melemah. Tergantikan dengan isakan pilu yang keluar, lepas dari mulutnya. "Aku mandul, Harry. Aku tak akan pernah bisa seperti pria itu untuk Hermione. Aku hanya bermodalkan cinta dan aku tahu itu tidak cukup. Hidupku hancur, Harry! Hancur!"

Ron sadar meskipun harus merasakan sakit. Hermione memang layak memilih Draco.

- TBC -


#

Waduhh! Bagaimana menurut kalian dengan keadaan Ron? Mau simpatik sama siapa, nih! Ikuti terus chapter demi chapternya dan jangan lupa beri review untuk sharing pendapat dengan Anne. Maaf kalau masih ada typo dan Anne akan tunggu review kalian semua! Nantikan Anne datang lagi.

Thanks,

Anne xoxo