Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih! Ada yang harap-harap Anne muncul lagi? Ah, semoga pada kangen Anne ya, kalau nggak kangen.. Anne nggak lanjutin, nih! *ngancem* Oke lupakan. Just kidding! Well, kali ini Anne coba kasih chapter 4 buat kalian semua. Panjangnya standart, kok, soalnya chapter ini Anne rasa nggak perlu panjang-panjang dulu, biar pada penasaran, hehehehe..
Sebelum kalian baca, Anne sempatkan balas review dulu, ya. Yang kemarin ngerasa review, monggo disimak balasan dari Anne!
ninismsafitri: Ron terlalu sakit hati, dia lihat Scorp kayak lihat Draco. Jadi ya.. aduhh tahu sendiri emosinya Ron kayak apa. Thanks ya :)
DoubleKlick: Wow, jawaban dari ada apa dengan 4 bulan itu sabar, ya... sabar... ada waktunya itu akan terjawab. Ikuti terus kisahnya! Thanks :)
Liuruna: Sedikit banyak, kehidupan dunia nyata masuk ke dunia fanfiction, hehehe.. boleh juga pendapatnya. Gimana nih, mau nggak Scorpie kalau punya adek? Hehehe thanks ya :)
alicia keynes: Thanks ya, seneng deh kamu suka. Untuk tahu semuanya kamu harus ikuti fic ini sampai ending! Oke! Thanks ya :)
Kiru Kirua: Owww maafkan aku.. terkadang author juga harus rela memperlakukan sesuatu yang buruk pada karakternya. Aku juga nggak rela sebenarnya! :( Thanks ya!
AndienMay: Ron terlalu emosi, dia hanya melihat Scorp dari sisi ia anak Draco. Oh poor juga buat Scorpie. Thanks :)
Naomi Hime: Pertahankan kepolosanmu, nak! *teriak sama Scorpius* Thanks ya :)
AMAZING: Simpatik sama aku aja, ya! Huhuhu.. *Anne maksa* Thanks ya :)
Friann: Ohhh manteramu nggak nyampe mereka. Btw, Scorpie kan mirip bapaknya, ya.. Ron jadi kebawa. Sementara ini flashback masih sekilas-sekilas aja. Nggak asik dong masak langsung di tunjukkin semua dari awal... Biar kamu penasaran. Thanks ya :).
aquadewi: Jawaban mengapa Ron jadi mandul, ada di chapter ini! Sabar, ya. Thanks :)
ayusyafitri132: *tepuk-tepuk punggung* jangan nangis ya :( nggak apa, kok. Thanks sudah baca! :)
Uchiha Cullen738: Jawaban kenapa Ron bisa mandul ada di chapter ini. Flasback ada kok buat memperjelas partnya. Thanks ya :)
Octaviadwins: horeee *tepuk tangan juga* Semua sudah aku bagi porsinya sesuai cerita, ya. Jadi mungkin untuk chapter kemarin banyak Ronnya karena memang aku pusatkan dulu dengan Ronnya. Kalau chapter ini.. dibaca sendiri, deh! Thanks ya!
Baiklah.. mungkin sudah penasaran sama kelanjutannya, mari langsung ke TKP.
Happy reading!
Bukannya tenang, sesampainya di rumah tangis Scorpius pecah kembali karena sebuah pertanyaan yang ia lontarkan pada sang ayah.
Apa itu anak haram?
Draco marah. Putranya sendiri menayakan tentang masalah itu padanya. Tidak lupa pula alasan mengapa ia disebut sebagai anak haram oleh pria yang tak sudi dipanggil Uncle olehnya. "Kenapa, Daddy?" Scorpius bersembunyi di balik pelukan sang ibu menangis ketakutan.
"Jangan bertanya masalah itu pada Daddy. Karena Daddy tidak akan pernah mau menjawab apapun tentang semua hal yang berkaitan dengan Ro—Uncle dari James dan Al itu," tubuh Draco bergetar, baru pertama kali ini ia membentak putra kesayangannya dengan amarah menguasai dirinya.
Scorpius melihat wajah ibunya, meminta pertolongan. "Tapi, Uncle itu—"
"Dia bukan Unclemu, Scorpius!"
Draco bergegas naik ke lantai dua, masuk ke kamarnya dan membanting pintu seolah ingin menghancurkannya. Tubuh Scorpius terlonjak ketakutan. Hermione sigap memeluk tubuh kecil itu lagi dan membawanya duduk di sofa ruang tamu. Mereka berdua memilih menenangkan diri tanpa mau mengusik Draco terlebih dahulu.
Hermione mengamati putranya yang menangis. Bagian dada pakaian kerjanya basah karena air mata Scorpius. Bagaimana pun juga, Scorpius hanyalah anak tiga tahun yang tak mengerti mengenai apa dan bagaimana masalah itu terjadi dan membuat ayahnya marah-marah.
"Daddy marah, ya?" tanya Scorpius disela tangisnya.
Dari balik pelukan Hermione, Scorpius menunjukkan wajah ketakutannya dan berharap jawaban 'tidak' dari sang ibu. "Tidak, sayang," Hermione mencium keningnya, "Daddy tidak marah padamu. Daddy hanya tidak suka, kau tadi jatuh."
"Tapi, aku lihat Daddy marah pada Uncle—"
"Ron, namanya Uncle Ron, Scorp."
Scorpius mengangguk. "Daddy tak mau ada orang yang menyakitimu. Jadi.. Daddy sedikit membentak," Hermione berharap penjelasannya akan diterima oleh Scorpius.
"Uncle Ron orang jahat?"
"Tidak."
"Aku boleh memanggil Uncle Ron seperti James dan Al, Mummy?"
Sebelum Hermione sempat menjawabnya, tampak Draco menuruni tangga dan melihat Scorpius masih sibuk bergelayut di pangkuan Hermione. Semua itu terjadi begitu cepat sampai Scorpius tak sempat bersembunyi, Draco lebih dulu berlari dan memeluk tubuh Scorpius lantas menciumi wajah basah putranya. Membisikkan sesuatu. Draco meminta maaf.
"Maafkan Daddy, Scorp. Daddy tak bermaksud memarahimu. Daddy hanya—"
"Tidak mau ada orang yang menyakiti aku?" Scorpius melihat ibunya lagi. Hermione tersenyum simpul sambil mengangguk membenarkan kalimatnya diucapkan lagi, "Daddy tidak marah?"
Draco tersenyum. "Tidak akan, Daddy janji padamu, Daddy akan selalu menjagamu dari siapapun yang berniat jahat padamu, Scorpius. Siapapun. Daddy hanya ingin kau bahagia, itu saja." Draco menangis menyaksikan betapa ia bangga memiliki Scorpius dalam hidupnya.
Anak yang lahir karena cinta. Scorpius bukan kesalahan dalam hidupnya.
Tidak hanya Scorpius, Draco tahu cinta tidak ada yang salah. Ia mencintai Hermione. Jika Ron harus bernasib kehilangan Hermione dalam kehidupannya, semua itu pasti ada alasannya. Nasib cinta mereka harus berakhir. Draco tidak pernah mau menghalangi dirinya sendiri dalam mendapatkan apapun. Sejak kecil ia diperlakukan untuk hidup tanpa penolakan. Dirinya ditakdirkan memanah kebahagiaan. Ia tidak terlahir sebagai penjahat, hanya keadaan yang membuatnya lemah. Dan itulah mengapa.. ia tidak ingin mengulangnya kembali.
Munafik? Draco tahu dirinya seperti apa. Bersama Hermione ia paham betapa cinta harus mengedepankan ego. Tidak akan pernah ia dapatkan wanita itu tanpa ia berusaha saat itu.
"Aku salah, Hermione."
Draco bersama Hermione memasuki kamar mereka setelah makan malam. Scorpius terpaksa harus diberi mantera tidur untuk mengistirahatkannya lebih cepat. Mereka butuh waktu berdua lebih lama dan malam ini waktunya.
"Kau ayah yang baik, Draco. Kau—"
"Bukan itu," Draco menoleh cepat menghentikan Hermione membersihkan riasannya di depan cermin. "Scorpius," lanjutnya. Ia menunduk tak kuasa mengingat masa-masa itu kembali.
"Bicaralah, Draco."
Draco bangkit dari atas ranjang, berjalan pelan mendekati Hermione di depan meja rias dan mengecup bibirnya. Lama, keduanya menikmati aroma napas masing-masing sebelum akhirnya memisahkan diri. Kedua pasang mata itu beradu. "Aku mencintaimu, Hermione." Ucap Draco tanpa ragu.
"Aku juga mencintaimu, Draco. Scorpius juga mencintaimu. Kami sangat mencintaimu! Dan itu benar. Kami selalu bersamamu, Darco, mengapa kau masih saja meragukan kami?"
"Aku tak pernah meragukanmu, Hermione. Kau, Scorpius.. adalah milikku." Draco semakin tak kuat menahan isakannya. Inilah sisi lain Draco yang sebenarnya. Ia tak ubahnya pria yang dapat mati karena cinta. "Ki-kita—" Draco tak tahan. Air matanya jatuh juga.
"Scorpius. Laki-laki itu menyebutnya anak ha—"
Hermione membungkan bibir Draco kembali dengan ciumannya. Mereka menikmati pagutan itu hingga asupan tenaga dan oksigen terkuras hebat karenanya. Kedua tangan Draco membimbing tubuh Hermione untuk berdiri, tidak jauh jarak meja rias menuju ranjang mereka. Bertahun-tahun bersama dalam kamar yang sama, Draco sangat hapal bagaimana ia membawa sang istri menuju kenyamanan yang luar biasa di tempat itu.
"Aku tak mau orang lain menjelek-jelekkan putraku dengan kata-kata paling jahat yang pernah diucapkan untuk seorang anak. Dia tidak sedikit pun memiliki dosa orang tuanya, Hermione."
"I know!" Hermione merebahkan tubuhnya miring di atas ranjang. Draco mengimbangi di sisi yang berbeda. "Aku pun tak ingin orang lain menyebut putraku sebagai sebuah kesalahan hanya karena ia lahir dari ibu yang belum dimiliki oleh ayahnya."
"Itu memang benar." Draco meraih telap tangan Hermione, mengecupnya perlahan dan mendaratkan tepat di atas kulit pipinya yang pucat.
Draco paling suka jika Hermione mengusap pipinya sampai ia terlelap.
"Tapi Scorpius adalah buah cinta kita. Kau pernah bilang, lebih baik menyadari semuanya dengan nyata. Cinta kita nyata, Draco. Dan cinta kita tulus. Scorpius lahir dari cinta kita yang suci. Itu yang aku rasakan padamu. Dulu.. hingga sekarang. Jauh tersimpan di dalam lubuk hatiku yang terdalam."
Kecelakaan empat tahun lalu, menghancurkan semua harapan Hermione dalam berumahtangga. Ron divonis koma dan lebih parahnya lagi.. pria itu mandul. Bagian tulang rusuknya patah dan tulang ekornya hancur. Pinggangnya mengalami dislokasi, berada diposisi tak selayaknya akibat hantaman badan mobil yang datang bak cahaya ke arah tubuh Ron. Itu berakibat fatal pada bagian organ vitalnya. Tidak hanya mampu untuk membuahkan keturunan, fisik Ron pun tak mampu jika mereka akan bersatu. Ron akan disiksa dengan rasa sakit yang tertahankan.
Hermione harus memahami jika ia tak akan pernah memiliki kesempatan melahirkan nyawa dari tubuhnya. Kini, Ron tak ubahnya boneka yang hanya mampu ia peluk tanpa merespon apapun. Ia butuh seseorang yang jauh lebih baik. "Aku tak bisa seperti ini, Ron. Kau selalu membuat hidupku kacau. Kau membuatku gila karena cintamu, tapi kini semuanya.. kau merusak hidupku, Ronald." Maki Hermione tepat di bulan ke lima Ron koma.
Seluruh keluarga Weasley dan Granger tidak memahami betapa hancurnya Hermione saat itu. Semua kata-kata penyemangat, harapan yang ia tahu itu palsu, bayangan tentang masa depan semuanya bohong. "Dammit!" ia menggerang tak kuat.
"Kau hancur, Hermione!"
Draco datang dari belakang gedung St. Mungo dengan kata-kata kasar mengawalinya. Hermione terhenyak syok, rupanya ia tak sendiri di halaman kosong itu.
"Jika aku jadi kau, aku lebih memilih mati atau membunuh suami tidak bergunamu itu dan pergi ke pelukan pria lain. Untuk apa tidur dengan pria infertile itu tanpa membuahkan tangis bayi sembilan bulan kemudian? Lama kelamaan, aku tak tahu apakah kau bisa bertahan.. sesuatu yang mudah sekali membuat hidupmu hancur."
Di saat semua orang datang, mendekat, memasang wajah iba padanya, Draco hadir dan memberikan kenyataan yang tidak bisa Hermione pungkiri lagi.. itu semua memang benar. "Aku tak mau membuatmu dibahagiaakan dengan sesuatu yang.. bullshit."
"Kenapa?" Hermione mengerang tak paham.
Draco semakin mendekat. Ia melompat dari balik pembatas gedung sambil berapparate di udara. Gerakannya sangat halus. Ia muncul tepat di hadapan Hermione lantas mengatakan, "lebih baik kau sadari semuanya dengan nyata, Granger. Sadari apa yang sebenarnya ada di dalam hatimu! Jauh di dalam lubuk hatimu!"
Hermione terdiam. Kecerdasannya menelan perlahan semua ucapan itu hingga terlahir sebuh pertanyaan baru. "Menyadari sesuatu yang ada di dalam hati? Apa itu?"
Garis lengkung tercipta dari bibirnya. Untuk pertama kalinya, Draco tersenyum penuh kelembutan pada seorang wanita. Perlahan namun pasti, Draco mengucapkan satu kata paling sakral sepanjang hidup manusia. "Cinta sejati."
Suara pintu terketuk hebat membangunkan Hermione kasar. Terburu-buru ia bangun meninggalkan Draco yang masih terlelap di sisinya. "Mummy!" teriak sebuah suara dari balik pintu. Suara Scorpius panik.
"Ada apa, sayang? Oh, maafkan Mummy terlambat bangun. Tapi ini masih sangat pagi—"
"Itu Mummy! Itu—"
Ketakutan Scorpius berbeda dari semalam. Badan anak laki-laki itu bergetar hebat sambil memeluk kaki Hermione. Ia bersembunyi tak mau melihat sesuatu yang tergeletak tepat di tengah lantai menuju tangga.
Sebuah kotak berukuran lima belas kali lima belas senti dengan tinggi tak lebih dari sepuluh senti tergeletak dengan penutup sedikit terbuka. Bau bangkai seketika tersedot masuk ke indra penciuman Hermione ketika mendekatinya.
"Ada darah," bisik Scorpius sangat pelan.
Dan benar saja, sebuah bangkai kelinci putih dengan leher hampir putus mengisi kotak itu. Darah segar di sekitarnya menandakan hewan lucu itu baru saja dibunuh dan dikirim ke rumahnya pagi ini juga. Hermione berniat menutup lagi kotak itu dan membawanya keluar, namun ia tidak sengaja menemukan secarik kertas menempel di bawah kotak itu.
Sebuah surat ikut menyertai paket bangkai itu yang bertuliskan..
Walk away! It's over!
- TBC -
#
Hufttt! Anne nggak tahu mau tanya apa? Apa yang ada dipikian kalian sekarang, readres? Tulis di review agar Anne tahu jalan imajinasi kalian! Maaf kalau masih ada typo! Kita ketemu lagi di chapter 5! Penasaran? Sabar. Sampai jumpa!
Thanks,
Anne xoxo
