Hi, everyone!

Anne muncul lagi, nih! Maaf, ya. Anne lagi banyak kerjaan banget. Badan Anne juga lagi drop kecapekan. Sekali lagi maaf, ya! Dan untuk mengobati rasa penasaran kalian berhari-hari, Anne coba kasih chapter 5 sekarang. Mana suaranya.. semoga bisa terobati dan masih sabar mengikuti kisah ini sampai akhir. Oke, Anne balas dulu review kalian.

ninismsafitri: waaahh aku nggak bakalan bisa ngaku sekarang, coba tebak siapa pelakunya! hehehe thanks ya :)

ayusyafitri132: yang sabar, ya, Ron. Huhuhu. Thanks ya :(

Mrs. X: wah, mungkin memang tergantung selera, ya.. jadi kamu nggak suka. Tapi, aku terima kasih banget kamu sudah sudi membacanya. Thanks :)

Kiru Kirua: Fanfic memang kadang tidak adil, berarti salah authornya, dong. Huaaaa... hehehehe but, thanks ya :)

AMAZING: oke, pelan-pelan kamu ngerti dan semoga semakin penasaran.. thanks ya :)

DoubleKlickSilver12: Wow, sabar.. silakan menebak-nebak siapa pengirim paket itu? Benarkah Ron? Ikuti terus ya, thanks :)

AndienMay: kenapa?kamu?nulis?review?pakai?tanda?tanya?semua?sabar?ditunggu?siapa?pengirim?paket?itu?kamu?suka?kelinci? hahaha capek juga nulis kayak gini, thanks ya :)

Liuruna: adiknya Scorp nanti mintanya cowoknya? Em. iya kalau jadi punya adek lo ya, hehehe.. ditunggu aja. Yang buat kan Draco sama Mione, bukan Anne *digampar* hehehe thanks ya :)

KaptenYoo: wow.. sampai ngebut dari chapter 1 bacanya.. thanks ya.. thank you! :)

Uchiha Cullen738: uyeeee dukung dramione! semga mereka bisa tabah, ya.. namanya juga cobaan. Thanks ya :)

Arisu Nine: mungkin di chapter ini bisa tahu mengapa mereka bisa saling mencintai.. Thanks ya.. ikuti terus kisahnya :)

aquadewi: sabar, ya.. ikuti terus ceritanya supaya tahu itu paket siapa dan motifnya apa.. thanks ya :)

Baiklah.. mungkin sudah semua yang bisa Anne jawab, kalau masih ada review dan belum sempat Anne balas.. Anne mohon maaf. Oke, deh.. langsung saja!

Happy reading!


Empat tahun yang lalu...

"Ron pria yang kuat, Mione. Kakaku pasti kuat."

Ginny menjadi pihak keluarga Weasley yang berkunjung menemani Hermione pagi ini di St. Mungo. Harry memilih berdiri sedikit menjauh karena ia mengendong James, takut jika Potter kecil itu menganggu istirahat pamannya. Meskipun dalam radius cukup jauh, James masih saja sibuk bertanya ini itu pada sang ayah.

"Kenapa Uncle Ron tidak bangun-bangun, Daddy?"

"Uncle Ron sakit, James."

"Dulu aku sakit, tidur.. terus bangun lagi, terus tidur." James melirik wajah Harry, ia mengingat sesuatu, "ah, makan juga, Daddy. Tapi Uncle Ron tidak! Itu aneh!"

Harry menghembuskan napasnya berat menjawab semua pertanyaan James sejak mereka belum berangkat ke St. Mungo. Sebisanya, Harry harus sabar dan tetap menjawabnya dengan kalimat yang logis bagi anak berusia tak sampai tiga tahun itu.

Kondisi Ron yang tak kunjung memberikan indikasi untuk sadar dari koma, menyempitkan harapan Hermione untuk terus bersabar menanti suaminya itu kembali seperti dahulu. Terlebih lagi setelah pertemuannya dengan Draco beberapa hari yang lalu.

"Kau hancur, Hermione!"

Kalimat pertama Draco hari itu terus terngiang di telinganya. Berbeda dengan apa yang dikatakan Ginny tadi. Ron yang kuat. Demi Merlin, lihat seperti apa Ron kini, siapa yang setuju dengan kata-kata itu?

"Istirahat, Hermione. Kau bisa pulang sehari atau lebih. Aku dan—"

Tiba-tiba, Ginny sigap menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Ada sensasi mendesak di perutnya langsung menganggu Ginny berbicara dengan Hermione. Cepat-cepat, Ginny menoleh pada Harry sambil memberikan kode anggukan lantas.. berlari keluar.

"A-ada apa? Harry, Ginny sakit?"

"Ah—" Harry berjalan mendekat, James semakin mengeratkan tangannya di kemeja Harry. "Ginny hanya morning sickness—"

"Morning sickness? Ginny hamil?" tanya Hermione semakin tak percaya.

Susah menjelaskannya, Harry cukup mengangguk pelan. James tersenyum. "Oh, congratulation! Sudah berapa lama? Kenapa kau tak memberitahuku, Harry?"

"Ah—bukan maksud kami seperti itu, Mione. Usianya baru tujuh minggu. Sorry, kami rasa.. kami tidak bisa mengabarkan kabar ini di saat Ron—"

"Harry," Hermione bangkit dari bangkunya dan mengelus kepala James, "yang ada di dalam perut Ginny juga keponakanku. Jadi jangan merasa karena Ron sakit kemudian aku.. oh, God! Selamat sekali lagi untuk kalian. James, kau akan jadi kakak!"

Harry dan Ginny sengaja mengabarkan berita kehamilan itu dari keluarga mereka dan sahabat saja, itu pun tidak semua tahu. Hermione sendiri salah satu pihak yang tidak mendapatkan berita itu, sama halnya dengan para media sihir. Dalam hati kecil Hermione, ia sendiri merasa betapa bahagianya keluarga kecil Harry. Akan ada anggota keluarga baru di tengah-tengah mereka.

Melihat interaksi Harry dan James, apalagi ketika Ginny ikut bergabung kembali bersama mereka memunculkan sebuah rasa yang hangat di dada Hermione. Harry bergurau dengan James yang manja, menggoda Ginny yang lemas setelah muntah beberapa menit yang lalu. Indah, kebahagiaan keluarga, dan cinta.

"Kenapa tidak denganku?" batin Hermione menangis.

Istri putra termuda Weasley itu berbalik kembali melihat sang suami. Sihir hanya mampu mengendalikan energi dan asupan beberapa nutrisi yang dibutuhkan Ron selama koma. Pagi ini, ada dua orang healer yang menambahkan mantera baru untuk Ron. Ada sedikit perubahan ketika mantera penambahan suhu badan disalurkan masuk dari bagian ujung kepala hingga ujung kaki. Seharian badan Ron dingin, tidak tahu mengapa bisa seperti itu.

Untung saja, Hermione masih setia menjaga sepanjang malam. Akibatnya, badan Hermione lemas. Ia lelah, bahkan sempat demam.

"Kau juga harus meminum obatmu. Tidak lucu jika suami istri akhirnya tidur satu kamar di St. Mungo karena sama-sama sakit. Bukan untuk urusan kewajiban." Harry tertawa pelan sebelum Ginny mencubit pinggangnya membuat ia berhenti tertawa. Sayangnya, kini James yang tertawa.

Hermione memeluk tubuh lemas Ginny meluapkan kebahagiaannya. Di dunia ini ia sangat bersyukur memiliki keluarga besar yang sangat amat peduli padanya. Memiliki adik ipar seperti Ginny dan Harry yang sangat ia tahu bagaimana karakter keduanya, adalah salah satunya. "Thank you, Ginny. Aku tak tahu bagaimana jadinya aku dan Ron jika tidak ada kalian dan keluarga yang lain. Kami—"

"Itulah namanya keluarga, Hermione. Aku pun bersyukur, jika di usiaku saat ini, akhirnya aku merasakan bagaimana yang semua orang katakan tentang keluarga. Aku memiliki keluarga. Memiliki Ginny, James, kau, Ron, keluarga Weasley yang lain, Teddy—kalian hebat." Harry tak kuasa untuk tidak menangis kini. Air matanya yang lolos dari kelopak matanya di bersihkan James dengan jemari kecilnya. Lucu sekali jika melihat sang anaklah yang menghibur orang tuanya.

Hermione ingin seperti itu.

"Aku pikir, tepat sekali kau memilih keluar dibandingkan bersama keluarga besarmu di kamar itu, Granger! Kau muak?"

Suara teriakan itu kembali. Draco muncul di balik lorong yang sama seperti awal mereka bertemu. Oh, sungguh Hermione menyesal memilih tempat yang sama untuk keluar dari kamar rawat Ron kali ini.

Hermione coba memberanikan diri mendekati Draco. Tak gentar ia balik bertanya, "apa pedulimu denganku, Malfoy? Oh, ya, aku hanya mengingatkan, aku Weasley sekarang. Camkan itu."

Draco tertawa mengejek. Diperhatikannya tubuh Hermione dari atas ke bawah hingga naik ke atas kembali. "Lihatlah dirimu sekarang! Kurus, memprihatinkan!"

"Kau peduli padaku?"

Draco tiba-tiba diam. Sejak kedatangannya beberapa hari yang lalu menemui Hermine menangis di tempat yang sama, Draco sendiri tidak menyangka akan seperti ini. Ia hanya ingin sendiri setelah menjaga ibunya yang sedang dirawat di salah satu kamar tak jauh dari tempat Ron. Ia tak tahu jika Hermione saat itu menyendiri tepat di belakang gedung St. Mungo juga.

"Jika ya?" tanya Draco kembali.

"Kenapa?" Hermione berbalik memunggungi Draco. Takut jika pria itu tahu ia menangis kembali. "Itu aneh sekali jika kau benar-benar peduli padaku. Dengan kata-kata kasarmu itu."

Belum sedikit pun baik Draco maupun Hermione yang berbicara kata-kata lembut nan menenangkan dalam situasi yang serba tidak kondusif seperti itu. Draco sedang berduka karena sang ibu sakit, begitu juga Hermione dengan keadaan suaminya yang koma. Tapi masing-masing dari mereka hanya bisa menyalahkan dan mengolok-olok.

"Itu bukan kata-kata kasar. Itu kenyataan dan kau tak bisa membohongi itu, Granger."

"Weasley!"

"Yeah," Draco mendesah, terkadang ia malas juga menanggapi keras kepala Hermione, "kau pikir dengan kata-kata penyemangat seperti, kau pasti kuat, suamimu akan baik-baik saja dan bla bla bla yang lainnya akan membuat hidupmu benar-benar tegar? Tidakkah kau sadar itu hanya omong kosong?"

Sekuat tenaga Hermione menahan rasa kesal untuk tidak melawan Draco dengan pukulannya. Draco terus saja berbicara tentang hal-hal buruk yang kemungkinan besar akan terjadi pada kehidupannya. Tanpa sedikitpun merasa iba apalagi tak enak mengatakannya.

"Bayangkan saja jika sampai kau tua kau tak pernah dipanggil Mummy. Rahimmu tak berguna, Granger! Kau pasti mau, kan, seperti istri si Potter itu? Aku melihatnya tadi ia muntah di toilet dekat kamar rawat Mum. Morning sickenss, bukan begitu sebutannya? Harry memang hebat memanfaatkan kesuburan wanita rambut merah itu—"

"Cukup, Malfoy!"

Draco berbeda. Ia datang dengan sisi lain yang kuat. Hermione terpana, ia merinding. Draco memberikan kenyamanan dalam kata-kata kasarnya. Apa yang dirasakan saat ini murni bersumber dari energi Draco. Optimis dan realistis.

"Pikirkan kehidupanmu, Granger. Lihat siapa yang tulus peduli padamu."

Berhari-hari kemudian, hidup Hermione sepenuhnya dihiasi oleh Draco yang datang rutin di belakang gedung St. Mungo. Mereka saling bertukar keluh kesah. Tidak sedikit mereka saling melempar cemoohan tentang nasib.

"Sebelum orang tuaku mati, aku ingin membuat status mereka berubah. Tidak hanya jadi orang tua, tapi menjadi kakek-nenek. Aku juga sama sepertimu. Memiliki anak.. menikah—"

"Menikahlah! Itu akan membuat hidupmu nyaman." Hermione menunduk tak yakin.

"Hah, aku tak percaya, Granger."

Hermione langsung mendelik, toh sebenarnya apa yang ditakutkannya benar dirasakan oleh Draco. "Weasley—ah, terserah kau, lah!"

"Nah, benar, kan. Kau sendiri sudah pasrah dengan nama Weasley itu. Kau sudah tak betah dengannya? Kau tidak mencintainya?"

Langit sore menunjukkan eksistensinya. St. Mungo memang tak banyak memiliki pohon di belakang bangunannya. Hanya sebuah pohon willow besar tua yang tak terurus. Pohon itu tidak cukup menutupi sebagian besar langit dari posisi Hermione dan Draco duduk. Keduanya masih bisa menikmati bagaimana sekawanan burung terbang beberapa meter di atas kepala mereka. seolah menyatu dengan langit. Tinggi sekali.

Seulas senyuman Ron tiba-tiba muncul ketika Hermione menengadah ke langit. Gumpalan awan itu menciptakan lekukan aneh seperti bibir Ron. Bibir yang hampir setengah tahun tidak merespon ketika ia berikan ciuman mesra. Dada Hermione bergetar, takut. "Apa bisa?" Hermione memperhatikan wajah pucat Draco dari sisi kirinya.

"Cinta hilang karena tak terbalas?"

Pertanyaan pertama Hermione memulai segalanya. Bulu-bulu halus di tubuhnya meremang mendengar pertanyaan itu. Ia tak berani membalas tatapan Hermione dan memilih memperhatikan gerakan-gerakan lembut yang diperbuat angin pada dahan pohon willow.

"Kau belajar berkhianat?"

"Maksudmu?"

Draco tiba-tiba berapparate ke depan pohon. Ia meraih dahan paling rendah dan naik ke atasnya. Ia bergumam sendiri sambil menatap Hermione. Tidak jelas dengan apa yang didengarnya Hermione mengikuti Draco untuk langsung berapparate dan naik ke dahan yang sama. Draco tersenyum padanya.

"Kau diuji, Granger. Kau diuji apakah cintamu benar-benar untuk si Weasley. Kau tidak bisa membohongi semuanya dari hati kecilmu—"

"Cinta." Potong Hermione.

Mereka saling berpandangan. Tatapan itu saling beradu untuk pertama kalinya sangat amat dekat. Tidak mereka temui kilat-kilat permusuhan di kedua pasang mata itu. "Menyadari sesuatu yang ada di dalam hati, kau pernah berkata seperti itu." Ujar Hermione.

"Benar, kau memang pintar mengingat pelajaran." Draco memuji.

"Ya, aku memang pintar. Dan aku juga pintar melihat jauh ke dalam pikiran apa yang diinginan seseorang.. sepertimu. Katakan.. Draco."

Draco. Mulut Hermione dengan lugasnya menyebut nama itu. ia mengamati perubahan ekspresi wajah Draco. Benar, ada sesuatu yang disimpan oleh Draco dari dirinya. "Katakan apa yang kau inginkan," pinta Hermione sekali lagi.

"Aku—" Draco menggeser posisi duduknya lebih mendekati Hermione. Sedikit kesusahan karena posisinya lebih tinggi dari Hermione duduk. "Aku hanya—aku hanya ingin kau membutuhkanku. Saat ini.. dan selamanya."

Didorong oleh angin yang kencang menerpa keduanya, bibir mereka saling bertemu. Berpagut tak ingin melepas satu sama lain. Hermione menginginkan itu. Ciuman yang ingin Hermione rasakan, ia mendapatkannya kembali.

"Draco—" panggil Hermione di sela mereka memisahkan diri, "please.. jangan lepas! Aku membutuhkanmu!"

Semua berjalan begitu saja.. jauh.. berlanjut pada malam-malam yang indah. Hanya berdua, dengan cinta yang keluar dari lubuh hati paling dalam.

- TBC -


#

Karena rate ini Anne buat T, jadi di ending chapter ini Anne agak hati-hati, tapi semoga kalian paham.

Sekilas masa lalu mereka. Mungkin di beberapa chapter mendatang akan ada kisah masa lalu mereka lagi. Readers, maaf ya kalau masih banyak banget typonya. Anne belum sempat edit untuk chapter ini. Kepala Anne masih pusing banget. Anne tunggu review kalian semua. Terima kasih ya, Anne sayang kalian! :)

Thanks,

Anne xoxo