Hi, everyone!

*sembunyi dulu* please jangan marahin Anne! Anne terlambat banget untuk update, ya. Lamaaaa banget. Kalau yang sudah lihat di akun IG Anne mungkin paham, ya. Minggu kemarin Anne lagi ada di Malang untuk lomba. Oh ya, ada yang ikut seleksi peksiminas (pekan seni mahasiswa nasional)? Yang juara 1 di tingkat regional (provinsi) bakal ikut di peksiminas nanti di Kendari. Nah, dilomba kemarin Anne akhirnya bisa mewakili Jatim untuk ke Kendari tahun ini. Apakah ada di antara readers sekalian yang juga ikut peksiminas 2016? Atau ada yang tinggal di Kendari? Kan, kita bisa ketemuan.. hehehehe.. oke lupakan.

Baiklah, karena sudah terlalu lama, Anne kayaknya akan say helo aja untuk yang sudah review sebelumnya ya, karena terlalu banyak dan biar cepat saja. Thanks untuk kalian yang review kemarin:

DrinnyLovers, ninismsafitri, NrHikmah20, Naomi Hime, AMAZING, aquadewi, Kiru Kirua, Uchiha Cullen738, Liuruna, AndienMay, ayusafitri132, Afadh, Mrs. X.

Untuk yang request pair lain, semoga kalo punya kesempatan bisa Anne buatkan, OK, misal Draco-Ginny, boleh juga. Kalau begitu, langsung saja, ya!

Happy reading!


Sendirian, Hermione mengamati pemandangan danau di samping rumahnya dengan perasaan tak menentu. Paket misterius itu menggerakkan Hermione untuk memikirkan siapa pelaku teror yang sangat mengganggunya. Pagi ini, untungnya Draco tidak tahu menahu dengan apa yang sedang terjadi. Dengan cepat ia menyembunyikannya bersama Scorpius di gudang belakang. Bangkai kelinci putih di dalamnya segera ia kubur sebelum Draco bangun. Scorpius benar-benar ketakutan.

"Mummy, apakah dia mati?" tanya Scorpius pada bungkusan bangkai di tangan Hermione tadi pagi.

"Em—" Hermione berpikir keras dengan jawabannya. "Iya, sayang. Kelinci ini sudah mati."

Sebuah lubang kecil seukuran badan kelinci dibuat Hermione dengan cara sihir, tentu saja—siap dipenuhi oleh bangkai kelinci yang telah tertutup dengan kain putih. Ia dan Scorpius memperlakukan bangkai kelinci itu dengan cara yang baik. Apapun itu, kelinci yang mati tetaplah makhuk hidup yang pernah merasakan dunia. Tidak tahu harus memikirkan apa lagi, Hermione dan Scorpius berusaha tenang. Di dalam pikiran mereka hanya ada harapan bahwa semua akan baik-baik saja.

"Hello!" Draco datang. Memeluk pinggul Hermione dan melingkarkannya di sana. Meraba lekuk tubuh ramping Hermione dari belakang dan merasakan beberapa tonjolan di sana, menekannya pelan. Draco menyeringai tepat di saat Hermione mengerang pelan.

Draco terkikik, "yes, sukses," bisiknya.

"Apanya yang sukses?" bisik Hermione.

"Jangan malu, biasanya seperti apa." Ujar Draco menggoda.

Badan Hermione diputar kasar. Kini mereka hanya saling berhadapan dan menatap satu sama lain. Tersenyum dan saling membalas ciuman. Satu persatu napas mereka habis. "Draco—lepas!" erang Hermione.

"What, kemarilah!"

Hermione terdiam di tempatnya. Hanya ada keduanya malam ini di dalam kamar. Scorpius, seingat Hermione sudah ia antar ke kamarnya untuk tidur. Memang masih belum cukup malam untuk biasa Scorpius tidur malam ini, tapi entah mengapa Hermione menginginkan putranya untuk tidur lebih awal. Ia ingin menghabiskan sisa malam ini bersama sang suami. Hanya berdua. Tidur atau pun ingin membicarakan sesuatu.

"Draco, ada yang ingin aku bicarakan padamu." Hermione sepakat untuk memulainya.

"Apa itu, Love? Ah, bicara saja langsung kenapa harus rulis surat cinta segala—"

Hermione diam. Ia menggenggam secarik kertas yang menyertai dengan paket terornya hari ini. "Jangan terkejut dan biarkan aku menjelaskannya terlebih dahulu." Tangannya bergetar. Pelan-pelan, Hermione mengeluarkan surat terornya pada Draco.

"Apa ini, sayang?"

"Bacalah!"

Tidak ada suara dari mulut Draco ketika satu baris kalimat menyambut indera penglihatannya. Wajah Draco kembali tegak, memandang wajah ketakutan Hermione. Sementara, di luar rumah mereka tiba-tiba turun hujan, Hermione dan Draco tak berkutik meskipun hujan menjadi suasana paling romantis jika mereka sedang berdua. Hanya karena surat itu, baik Draco maupun Hermione tidak merasakan apapun yang romantis detik itu juga.

Draco mengembalikan surat itu pada Hermione lantas berkata, "walk away! It's over! Apa maksudnya?"

"Kau tak paham?" tanya Hermione. "Menurutmu? Ini apa, Drac—"

Draco hanya membungkam mulut istrinya lebih lembut dari sebelumnya. Lama, ia menikmati lumatan itu dengan rintik hujan yang terus terdengar semakin kencang dari celah jendela kamar. Ada panggilan dari Hermione menyebutkan namanya di sela erangannya namun Draco tak menghiraukan sama sekali. "Diamlah, Mione. Kau tak lihat di luar sedang apa?"

Mata Hermione melirik singkat dari sisi pelipis kanan Draco. Ia menatap tajam mata suaminya dan tetap menjaga keseimbangannya melawan tekanan dari tubuh Draco. "Kau tahu, kan, apa yang biasa kita lakukan jika hujan turun—kau tahu maksudnya, kan?"

"Astaga, Draco.. kemarin, kan, sudah—"

"Kau tak mau menuruti permintaan Scorpius? Kapan dia bisa dipanggil kakak kalau kita malas?"

Sebelum Hermione menjawab pertanyaan itu, Draco tak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya. Surat itu terlepas dari tangan Hermione. Ia lebih nyaman tanpa membawa apapun dan mengalungkan kedua tangannya di leher Draco. Menikmati semua yang Draco mulai dan melupakan sejenak sesuatu yang sangat mengganjal pikirannya seharian.

Tanpa diketahui Hermione, Draco pun berusaha menyembunyikan sesuatu dari balik saku celananya. Secari kertas yang sama namun dengan isi yang berbeda ia dapatkan di atas meja kerjanya.

"Apapun yang terjadi.. aku sangat mencintaimu, Hermione. Selamanya kau milikku."

"I love you, Draco."

Ketakutan itu memang ada.


Draco, Hermione, dan Scorpius, menghabiskan akhir pekan mereka hari ini di Diagon Alley. Scorpius ingin memiliki sapu terbang mainan keluaran terbaru. Anak itu sendiri yang meminta pada ayahnya. Scorpius iri dengan Albus dan James yang mendapatkan sapu terbang mainan baru dari ayah mereka, Harry. Tidak ditanggapi oleh sang ibu, ayahnya jadi sasaran.

"Belikan satu ya, Daddy. Satu saja. Aku ingin seperti punya James dan Al. Bagus! Tempat duduknya enak, ada dua," rayu Scorpius pada Draco.

Draco hanya bisa diam sambil melirik ke arah Hermione. Di gendongannya, Scorpius siap memasang wajah permohonan. "Punyamu di rumah, kan, masih bagus, Scorp. Kamu mau naik sama siapa? James dan Al dibelikan Uncle Harry supaya mereka bisa naik berdua." Hermione masih tak setuju jika Draco benar-benar akan membelikan sapu terbang mainan itu untuk Scorpius. Tidak hanya karena putranya masih memiliki sapu terbang mainan yang aman dipakai, permintaan itu bisa membuat Scorpius tumbuh sebagai anak yang manja. Semua permintaan dituruti tanpa memikirkan penting tidaknya itu dituruti.

Sejak mereka menikah, Hermione dan Draco sepakat jika mereka akan berusaha untuk membuat kehidupan mereka penuh dengan kebahagiaan. Memiliki materi yang lebih dari cukup, Draco selalu yakin jika dengan uang ia bisa mewujudkan semua kebahagiaannya. Namun bersama Hermione, ia paham jika setidaknya pemikiran itu tidak semuanya benar. Salah satunya seperti masalah Scorpius kali ini.

"Jangan ikut-ikutan seperti Harry, sayang," pinta Hermione.

"Untungnya aku bisa mengimbangi si Potter," Draco tak peduli. "Rupanya dia tak jauh beda denganku. Memanjakan anak-anaknya." Kata Draco ketika tahu permintaan Scorpius bersumber dari Harry.

Apapun alasannya, ujung-ujungnya Scorpiuslah yang diuntungkan. Draco tak pernah lama untuk menuruti permintaan putra kebanggaannya itu. "Love, biarkanlah," kata Draco. Ia langsung beradu pandang dengan Scorpius lantas tersenyum bersama. "Nanti Scorpius bisa naik dengan adiknya, bukan begitu, buddy?" Draco menunjukkan cengiran khas Malfoynya.

Mata Hermione terbelalak ketika dengan senang hati Scorpius menyetujui pendapat sang ayah. "Tapi—" Hermione terbata.

"Seperti perjanjian, akhir pekan sebelum jam 6 sore, Scorpius adalah milikku," bisik Draco pada telinga kanan Hermione. Draco sempat mencium pipi Hermione dengan gemas sebelum berlari bersama Scorpius menuju salah satu toko yang ramai menjual sapu terbang untuk berbagai usia.

"Kok, aku ditinggal? Hey, kalian! Tunggu—"

Tiba-tiba tangan Hermione terasa ditarik pelan ke belakang. Hermione tersentak di tengah penuhnya para penyihir di sepanjang jalan Diagon Alley. Ia berbalik dan dilihatnya seorang wanita berparas cantik dan anggun tersenyum kepadanya.

"Putramu menjatuhkan ini dari sakunya," kata wanita itu sambil menyerahkan gantungan kunci berbentuk boneka kecil hippogriff berwajah lucu. Hermione memperhatikan baik-baik wajah yang ternyata benar ia kenal.

Raut wajah Hermione datar tanpa berkata apa pun. Ia gugup. "Hermione—" panggil si wanita.

"Kau—"

"Sayang, ayo.. aku ingin meminta pendapatmu tentang sapu mana yang harus kita ambil untuk Scorp—kau—"

Draco datang sambil mengandeng tangan Scorpius keluar dari dalam toko. Mereka tak percaya dengan siapa yang sedang bersama Hermione. Wanita itu datang lagi, Draco mengenalnya. "Astoria." Panggilnya pelan.

"Hai, Draco. Dan kau.. pasti Scorpius. Aku menemukan mainanmu dan sudah kuserahkan pada Mummymu."

Scorpius menengadahkan kepalanya melihat sang ayah susah payah, tubuhnya terlalu pendek untuk melihat ekspresi apa yang ditunjukkan ayahnya ketika wanita yang tidak ia kenal itu datang di hadapan mereka. "Dad, siapa dia?" Scorpius menarik-narik pinggiran celana Draco meminta penjelasan.

"Dia—" Draco tak tahu harus menjawab apa. Tentang wanita yang ia kenal jauh sebelum Hermione memiliki hatinya saat ini. Dialah Astoria Greengrass.

"Aku... sahabat ayahmu, Scorpius." Jawab Astoria dengan senyuman terindahnya.

- TBC -


#

Ehem.. Nggak seru kalau orang lain di hidup Draco nggak dimunculkan dalam cerita ini, bener nggak? *sulutin korek api ke hati Hermione*

Yeahaha.. sekali lagi Anne ucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya, ya, atas keterlambatan cerita ini. Hanya Anne mau pertegas lagi kalau cerita apapun yang Anne tulis, sebisa mungkin akan Anne usahakan untuk selesai. Walaupun lama update, Anne akan usahakan mencapai ending. Karena banyaknya kegiatan di hari-hari Anne, semoga para reader sekalian bisa memakluminya. Maaf jika masih ada typo, Anne tunggu reviewnya dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.. :)

Thanks,

Anne xoxo