Hi, everyone!
Anne datang lagi. Ayo, yang pada kangen sama Anne mari merapat. Hehehe sebelumnya Anne berterima kasih banget masih banyak yang mau nunggu fic ini untuk dibaca kelanjutannya. Sip! Terima kasih, ya! Anne makin semangat! Nah, sebelum Anne lanjutkan kisah Draco sama Hermionenya, Anne balas review dulu, ya!
ninismsafitri: Astoria! Semoga bisa cepat updatenya! Thanks, kakak ninis! :D
Naomi Hime: Ow, sengsaranya Draco jadi makin hot! hehehe bisa saja kamu. Chapter kemarin memang agak pendek, semoga chapter ini agak panjang ya. Amin, terima kasih doanya.. semoga sebelum lomba bisa udah tamat *itu kelamaan deh kayaknya*. Oke terima kasih :)
Kiru: what? what? what? *niruin kamu* Thanks :)
Friann: baru baca, ya. Ihhh kamu terlambat. Tapi nggak apa deh, Astoria aku buat makin panas aja konfliknya. Jadi kompor. Hehehe aduh bikin adek (?) biar tahu Astoria kenapa, baca terus sampai end ya! Ya, rencananya akan ke Kendari soalnya udah lolos profinsi kemarin. Tuan rumah peksiminas tahun ini di univ halu oleo jadi ya di sana. kamu lolos snmptn? selamat ya! anak kuliahan! Kuliah di sana ya? semoga bisa ketemu, ya! Thanks :)
Liuruna: Ihhh sahabat! Hehehe hayo! Thanks ya :)
aquadewi: Semoga nggak lama-lama deh tamatnya, soalnya aku udah punya ide buat fic baru. Sabar, ya. Semoga betah bacanya. Thanks :)
JheinCyeon: yeee kamu di Kendari ya? acaranya di kampus UHO sekitar Oktober nanti. Thanks ya sudah baca! ikuti terus! :)
AndienMay: Astoria = menyebalkan.. emm, kasihan Astoria baru keluar udah bikin aura nggak enak. Hahahaha.. thanks ya :)
Mrs. X: sabar ya.. dibaca terus saja, dan ikuti sampai ending. Thanks ya :)
Uchiha Cullen738: aku aja ikut baper, hahaha.. hayo ditebak-tebak! Siapa pelakunya! Thanks ya :)
AMAZING: Yeyeyeye.. makasi ya. Rencananya setelah ini aku mau nulis fic Harry-Ginny lagi.. tunggu aja, ya! Thanks :)
Karena sudah semua (semoga, kalo ada yang kelewat maaf, ya!) langsung saja kalau begitu.
Happy reading!
Draco memesan satu meja dengan empat kursi di bagian sudut kedai Florean Fortescue's Ice Cream Parlour. Scorpius tak ingin cepat pulang setelah ia mendapat sapu terbang mainan barunya. Ia ingin langsung mencobanya melainkan mendapat larangan dari sang ibu. Hermione tak mau Scorpius mencoba sapu barunya di tempat yang ramai dengan penyihir. Sapu mainan itu belum jelas kadar sihirnya sebelum dicoba berkendara selama satu jam penuh sebagai permulaan.
Hermione hanya takut, Scorpius terjatuh atau bisa jadi lebih parah dari itu.
Adanya Astoria di tengah-tengah mereka membuat Scorpius ikut tak nyaman. Ia hanya ingin pulang sebelum Astoria menawarkan sesuatu padanya. "Makan es krim dulu, yuk. Auntie yang traktir." Ujar Astoria.
Scorpius sempat meminta pendapat ayah dan ibunya. Sama dengan dirinya, Draco dan Hermione sendiri tak nyaman dengan kedatangan Astoria. Wanita itu memiliki sejarah kelam tersendiri dalam hubungan mereka berdua. Khususnya untuk Draco.
"Enak, kan?" Astoria bertanya. "Berarti seleramu sama seperti Daddy, Scorp. Dulu Daddymu juga suka es krim strawberry and peanutt butter ketika muda."
Draco menurunkan sendok es krimnya. Menunduk tak ingin menata siapapun. Astoria terus bercerita tentang dirinya tanpa mengingat kisah itu sama saja mengulik masa lalunya dan Astoria di hadapan Hermione. "Bukan begitu, Draco? Kau bahkan sempat memakan milikku juga." Astoria kini tertawa diikuti Scorpius.
"Kau dulu rakus juga ternyata," bisik Hermione dengan senyuman dipaksa. Hatinya perih.
Tanpa rasa tak enak, Astoria tertawa. "Benar, Hermione. Dulu Draco suka sekali makan es krim. Aku sampai hafal apa saja es krim yang ia makan setiap harinya. Beda hari beda rasa, tapi yang wajib, ya, strawberry peanutt butter. Apa masih sama sampai sekarang, Hermione?"
Hermione memandang Draco mencari jawaban. Ia sendiri tahu di wajah suaminya itu tak ada jawaban yang bisa membantunya. Sepanjang ia mengenal Draco, sama sekali suaminya tidak begitu menggilai es krim. Draco lebih memilih minum teh hangat daripada es krim sekarang, dan mungkin sejak ia belum bersama Draco.
Pada tempatnya duduk, Draco masih diam. "Ah, mungkin kita harus pulang sekarang. Sayang, sudah selesai makannya?" tanya Draco pada Scorpius. Draco tak lagi tahan dengan suasana santai keluarganya. Ia mengharapkan hari ini akan bahagia dengan mengajak Scorpius dan Hermione untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Tapi apa daya Draco jika Astoria, tanpa ia harapankan, datang dan ikut bergabung dengan ia dan anak istrinya.
Scorpius menunjukkan es krim di mangkuknya. Tinggal sedikit itu pun hanya tersisa biskuit lembek yang hancur. Scorpius mengangguk. "Baiklah," ujar Draco memutuskan untuk langsung bangkit. Merogoh saku celananya bersiap membayar.
"Scorp, kau langsung bersama Mummy, ya, Daddy mau bayar dulu di—"
"Tak perlu, Draco. Aku sudah membayar semuanya tadi. Ah—" tanpa melihat Hermione yang masih duduk di bangkunya, Astoria cepat-cepat menghampiri Draco dan mencium pipi kanannya.
Deg! Hermione melihat pipi suaminya dikecup oleh bibir wanita lain. Pipi yang rutin setiap pagi, setiap siang, sore, malam.. setiap hari ia kecup dan merasa itu hanya miliknya, kini sentuh oleh wanita lain. Baiklah jika wanita itu Hermione kenal sebagai wanita yang baik dan tidak memiliki sejarah khusus dengan Draco, tapi itu adalah Astoria.
Mantan kekasih bahkan tunangan dari Draco.
"Aku harus pergi," dengan berbisik, kepala Astoria masih berada di dekat pipi Draco. Ia kembali menjelaskan tentang kedatangannya di Diagon Alley, "aku sebenarnya ada pemotretan di kantor Daily Prophet. Mangkanya aku mengirimimu pesan kemarin." Ujar Astoria lantas menjauhkan tubuhnya dari Draco.
Sambil mengandeng tangan Scorpius, Hermione hanya bisa menunggu Astoria selesai berbicara dengan Draco tanpa ingin mengganggunya. Takut, ia akan jauh lebih sakit hati jika berdekatan dengan keduanya. "Mungin karierku di Perancis bisa berlanjut di sini sebagai model. Katamu, bukankah mimpi bisa didapatkan di mana saja? Begitu, kan, Draco?" lanjut Astoria kini mampu didengar oleh Hermione.
"Model. Pantas saja dia cantik, tinggi, dan.. sexy," batin Hermione di sela-sela mengamati lekuk tubuh Astoria yang begitu serasi jika berdiri di dekat Draco yang gagah dalam postur tubuhnya yang tinggi ideal.
Astoria Greengrass, sepengetahuan Hermione adalah mantan tunangan Draco dan juga cinta pertama Draco sejak bersekolah di Hogwarts. Astoria adalah satu angkatan di bawah dirinya dan Draco. Adik dari sahabat Draco itu memang tidak terlalu dekat dengan keluarga Malfoy sebelumnya, tapi secara hubungan, Astoria mulai memiliki kedekatan dengan Draco karena keluarga mereka masing-masing.
Ayah Astoria adalah rekan kerja Lucius sekaligus sahabat satu asrama dengan Narcissa saat di Hogwarts dulu. Ada unsur pertemanan dan balas budi di balik hubungan Astoria dan Draco. Tidak ada yang tahu jelas apa itu selain orang tua Draco dan mendiang ayah Astoria. Draco mengakui sendiri hubungan itu pada Hermione. Ia sempat terbuka tentang masalah cintanya dengan Astoria jauh sebelum Hermione bisa mencuri hatinya.
"Kami memang sempat sama-sama jatuh cinta. Tapi lama kelamaan, kami tahu bahwa.. kami tidak bisa berlanjut. Kami memiliki prinsip masing-masing," cerita Draco dulu satu bulan sebelum pernikahan mereka, " kami tidak bisa bersatu karena.. kami memiliki mimpi yang berbeda. Dan itu harus diwujudkan tanpa bisa kami bersatu. Kami tidak mau membohongi diri kami, Mione. Astoria ingin mengejar mimpinya ke Perancis sebagai model dan mempertaruhkan semuanya. Aku tak bisa mengekangnya begitu saja, akupun tahu rasanya jika keinginanku tak bisa terwujud. Aku akan mengejarnya, sama dengan Astoria."
"Lantas, kalian memilih berpisah?" tanya Hermione untuk meyakinkan dirinya jika Draco tak lagi memiliki hubungan dengan Astoria. Memang harus begitu sebelum ia serius menjalani hubungan berumahtangga.
Draco mengangguk jujur. "Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan itu."
"Begitu juga dengan perasaan kalian?"
Dan saat itulah Draco berhenti menjawab.
Sesampainya di rumah, Scorpius bergegas ingin mencoba sapunya di halaman belakang rumah. Namun sebelumnya, Draco dengan inisiatifnya sendiri mengayunkan tongkatnya memberikan mantra perlindungan di sekitar rumahnya. Untuk antisipasi jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Cukup mencobanya sekali, Scorpius sudah mampu mengendalikan sapu terbang mainannya. Jika dibandingan dengan sapu terbang mainan biasa, sapu terbang dengan ekstra boncengan itu sedikit lebih berat bagi Scorpius dan untuk mengendarainya butuh tenaga ekstra. Kaki-kaki kecil Scorpius masih sesekali jatuh menapak rerumputan ketika membawa tubuhnya melayang dengan sapu itu. Wajah Scorpius tampak begitu menikmati mainan barunya. Sama seperti sang ayah, Scorpius pernah mengutarakan cita-citanya untuk menjadi seeker seperti ayahnya dulu. Sungguh bahagia hati Draco ketika Scorpius mengatakan itu.
Dalam bayangan Draco, bisa saja nanti ketika Scorpius bersekolah di Hogwarts akan semakin mirip dengannya. "Bisa jadi Scorp akan selalu berselisih dengan anak-anak Potter. Akan ada Draco dan Harry edisi dua jika si kecil Albus benar-benar rival Scorpius. Potter kecil itu semakin besar semakin mirip ayahnya. Sama sepertiku dan Scorpius. Bukan begitu, Love?"
Sayangnya, Hermione yang duduk di sisi kanannya hanya terdiam sambil mengamati tubuh Scorpius yang melayang-layang dengan sapunya. "Love? Sayang, benar begitu, kan, kataku tadi?" tanya Draco sekali lagi.
"Rupanya kau masih seperti dulu. Sudah mau cari musuh untuk anak sendiri. Mungkin Astoria benar, kau diam-diam masih suka es krim seperti yang dimakan Scorpius tadi ya?"
Kata-kata Hermione sama sekali tidak terdengar bergurau di telinga Draco. Sangat tegas dan serius. "Maksudmu apa, Love?" ulang Draco mencoba mencari penjelasan.
Hermione memalingkan mukanya menjauh dari Draco. Ia tak mau menunjukkan wajahnya yang sedang dikuasai oleh rasa cemburu dan ketakutan besar. "Apa jadinya jika benar Draco masih mencintai Astoria?" batin Hermione.
"Hermione Malfoy!" panggil Draco meninggikan suaranya. Untung tidak sampai terdengar dari arah Scorpius terbang.
"Ada apa? Ceritakan padaku? Hermione!"
"Tidak. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku hanya sedikit sensitif jika melihat.. ada wanita lain yang mencium suami orang di depan istrinya sendiri." Hermione langsung bangkit dari posisi duduknya dan memilih masuk kembali ke dalam rumah. Tinggallah sendirian Draco berada di teras belakang untuk menjaga Scorpius bermain.
Hermione semakin menjauh Draco yang mencoba memanggilnya untuk kembali duduk. "Aku mau masuk, Draco. Aku harus mencuci pakaian kotor. Lagi pula aku tak suka melihat Scorpius terbang." Kata Hermione lantas pergi menjauh.
Di tempat mencuci pakaian, Hermione hanya bisa terdiam sambil mengamati tumpukan pakaian kotornya. Hermione menangis. Ia masih terbayang dengan semua tingkah laku Astoria yang menurutnya tidak menghargai dirinya sama sekali sebagai istri Draco. Bagaimana tidak, istri mana yang mau melihat suaminya sendiri dicium oleh wanita mantan tunangan suaminya sendiri. Jika dahulu benar-benar ada cinta, sisa-sisa cinta itu bisa saja masih ada meskipun sedikit. "Kalau terus ditambah bisa jadi benar-benar cinta. Kenapa Draco tak pernah cerita sejauh itu. aku jadi istri yang benar-benar bodoh di depan wanita lain." Rutuk Hermione menyesali pengetahuannya tentang suaminya sendiri. Ada wanita lain yang jauh mengenal Draco dibanding dirinya, dan itu sangat menyakitkan karena wanita itu adalah Astoria.
"Astoria." Nama itu diucap lagi. Draco muncul dibelakang Hermione dari jarah dua meter.
"Hermione—"
"Maafkan aku Draco jika.. aku merusak semuanya." Potong Hermione cepat-cepat. Ia tak bisa menyembunyikan isak tangisnya dari Draco.
Langkah kaki Draco terdengar semakin dekat, kini jarak keduanya tak lebih dari tiga puluh senti. "Merusak apa? Kau bahkan yang menghidupkanku di saat aku merasa semua orang hanya bisa menghakimiku. Merusak apa?"
"Cinta. Kau seharusnya.. Astoria." Hermione menangis tak kuasa menahan rasa cemburunya.
Draco berusaha meraih tangan Hermione namun ditolak keras. Hermione memilih melesakkan tangannya di dalam tumpukan pakaian kotor dan meremasnya kuat-kuat. Meluapkan semua emosinya pada kain-kain itu. "Hermione, aku mohon maafkan aku. Aku bersumpah jika Astoria tidak ada lagi dikehidupanku. Kami sudah selesai."
"Aku takut, Draco!"
"Hermione—"
Mereka tak tahu harus berbuat apa lagi. Untungnya Scorpius lebih dulu dititipkan pada Narcissa yang sedang berada di rumah saudara keluarga mendiang Lucius. Draco tahu jika ia harus membicarakan masalah di kedai es krim siang lalu. Tentang Astoria.
"Astoria masih begitu mengenalmu. Kau tahu, Draco.. itu membuatku merasa gagal menjadi istrimu. Aku tak tahu jika kau menyukai es krim—"
"Strawberry peanutt butter, aku lebih suka ditambah madu di atasnya jika hari Jumat karena membuatku tenang setelah seharian memeras otak. Aku suka kue jahe beraroma kayu manis. Aku tak suka melihat melihat serbet makan bercorak merah jika di restoran. Aku suka terbang dengan memboncengkan seseorang di bagian depan sapuku agar aku bisa memeluknya dan," Draco tiba-tiba diam sejenak. Menelan ludahnya lantas berkata, "aku suka kelinci berwarna putih. Hanya Astoria yang tahu itu dan kini kau pun tahu jika aku suka hewan berbulu itu."
Mata Hermione terbelalak tanpa sedikitpun melihat Draco di belakangnya. Rasa hangat langsung merambat naik hingga ke ubun-ubun Hermione. Hewan yang sama disebutkan oleh Draco sama seperti teror yang diterimanya tempo hari.
"Aku telah menyebutkan semuanya, Hermione." Tangan Draco menyusup lembut di pinggang Hermione dan memeluknya erat. Menenggelamkan sebagian wajahnya di rambut Hermione yang terurai sambil puas menikmati aroma tubuh istrinya itu. "Aku mohon padamu, Hermione, aku percaya padamu dan aku harap aku memiliki kepercayaanmu untukku. Aku mencintaimu, Hermione. Sangat sangat sangat mencintaimu. Maafkan aku jika kau terluka, aku janji aku tak akan pernah membuat air matamu jatuh karenaku."
Ketulusan cinta Draco perlahan menyadarkan Hermione jika hubungannya dengan Draco tidaklah sebuah kesalahan. Hermione ikut merasakan itu. Tubuh Draco terasa berguncang menahan luapan rasa bersalah karena kehadiran Astoria. Dari semua penjelasan Draco, Hermione berusaha memahami jika Draco kini telah berubah.
Draco akan menjadi pria terbaik dalam hidupnya kini. Suami dan ayah yang baik bagi buah hatinya. "Berjanjilah padaku, Draco."
"Aku janji. Aku janji akan menjaga kepercayaanmu padaku." Draco mengecup pipi kanan Hermione dari belakang. Hermione mengangguk.
Draco meminta ijin untuk menyusul Scorpius sementara Hermione akan mencuci pakaian di rumah. kata Draco, ia akan kembali sebelum makan malam. "Mungkin lebih cepat, kalau Scorpius sudah lelah dengan sapunya." Canda Draco sebelum akhirnya menghilang di perapian.
Hati Hermione perlahan tenang saat Draco benar-benar menunjukkan keseriusannya untuk menjaga hubungan rumah tangga mereka. Semangat untuk mencuci pakaian hari ini sempurna Hermione rasakan karena Draco, namun rasa semangat itu tak berlangsung lama sampai sesuatu yang ditemukan oleh tangan Hermione di balik salah satu pakaian.
Hermione biasa memeriksa isi saku semua pakaian sebelum mencucinya. Pada saat tangannya masuk ke dalam saku celana Draco untuk memeriksa isinya, Hermione merasakan sesuatu yang menyentuh permukaan kulut jemarinya. Secari kertas ia temukan di sana dan.. terlihatlah jelas ketika ia melihatnya semakin dekat bahwa itu adalah sebuah surat. Sebuah pesan.
Untuk, Draco.
Aku akan kembali ke Inggris. Minggu nanti aku ada urusan pekerjaan, mungkin kita bisa bertemu sebelumnya. Banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu. Aku merindukanmu, Draco. Aku sangat berharap kita dapat berjumpa.
Astoria G.
Setetes air mata Hermione jatuh tepat di atas tinta hasil goresan tangan Astoria.
- TBC -
#
Ehem.. namanya rumah tangga ada aja masalahnya.. kalau kalian jadi Hermione, cemburu nggak sih? Hehehe!
Terima kasih yang masih setia dengan fic ini. Semoga terhibur,ya! Maaf kalau masih banyak typo soalnya Anne belum sempat edit. Nanti kalau ada waktu bisa ANne perbaiki, tulis di review pendapat dan apapun yang ingin kalian utarakan pada Anne. Anne siap baca dan review. Sekali lagi thank you! Anne sayang kalian!
Thanks,
Anne xoxo
